Disclaimer : Jean, Eren, dan semua tokoh AOT bukan milik saya. Mereka milik Hajime Isayama. Kalo cerita ini sih, saya yang buat :)

"Christa, kudengar Reiner mengerjaimu lagi ya?" suara Sasha sang gadis kentang terdengar nyaring di kelas yang masih cukup sepi itu. Hanya ada Jean, Sasha, Christa, dan Ymir di sana.

"Huft.." Christa menghela nafas.

"Benarkah?" Ymir melotot, "kalau dia berani mendekatimu lagi, beritahu aku, Christa!"

"Aku tidak tahu salahku dimana. Kenapa dia menggangguku terus ya?" tanya Christa kesal.

"Kudengar laki-laki memang begitu," kata Sasha, wajahnya berubah serius, "well, tidak semua sih. Tapi ada beberapa yang menunjukkan rasa sukanya dengan membullymu."

Ymir dan Christa mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Apakah maksudmu... Reiner sialan itu menyukai Christa?" tanya Ymir dengan ekspresi wajah yang mengeras.

"Bisa jadi," Sasha mengangguk.

"Itu cara menunjukkan rasa suka yang paling buruk," tegas Christa, "orang manapun tak akan terima kalau diperlakukan seperti itu."

"Iya sih..." Sasha menggigit rotinya, "membully malah membuatmu jadi tidak menarik."

Yang mereka tidak tahu, Jean sedari tadi menguping pembicaraan mereka.

Ia mendapatkan berkali-kali "jleb" di hatinya.

Kalian tahu kan kenapa?

Ya, karena dia sering membully Eren, crush nya.

Jangan tanya sejak kapan Jean mulai suka pada Eren. Mungkin sejak memerhatikan ambisi anak itu yang membara, Jean jadi selalu ingin menggodanya dan meremehkannya. Lama-lama mengganggu Eren merupakan kegiatan favorit Jean. Ia kecanduan melihat ekspresi sebal yang lucu itu.

Banyak yang mengira bahwa Ia tertarik pada Mikasa. Mungkin karena Jean sering memilih tempat duduk, ruang, ataupun tim yang sama dengan Mikasa. Padahal, mereka salah besar. Jean tak menyukai Mikasa.

Jean melakukan itu demi bisa selalu dekat dengan Eren. Karena, di mana ada Mikasa, pasti ada Eren juga.

Kadang Jean bertanya-tanya, kapan ia bisa sedekat itu dengan Eren. Mungkin karena terlalu takut mencoba, cara yang ia paling berani lakukan hanyalah mengganggu Eren.

Tapi hari ini ia mau berhenti. Ia mau Eren mulai menyukainya juga.

Matanya memandang ke sekeliling kafeteria, tangannya memegang sebuah nampan berisi makan siangnya.

'Ah, di sana mereka!'

Jean mendatangi meja Eren (dan Mikasa). Dapat dilihatnya ekspresi jengah Eren.

Seakan berkata 'mau apa lagi kau?'

Jean duduk di situ dengan sok pede. Padahal aslinya canggung.

"Mau apa kau?" tanya Mikasa singkat.

"Baru duduk, sudah diketusin," katanya nyinyir.

Mikasa pergi sejenak untuk mengembalikan nampan.

Sementara Mikasa jauh, Ia melirik Eren yang terlihat sibuk dengan makanannya.

Anak itu lahap juga. Jean jadi asik mengamati.

"Eren, kau suka bacon ya?" tanya Jean, melihat banyaknya bacon di piring Eren.

Eren mengangguk singkat.

Sekarang. Jean. Lakukan.

"Nih," Jean menuangkan semua bacon nya ke piring Eren.

Eren melongo.

"Habiskan ya," Jean tersenyum.

"Jean... Kau..."

'Heroik? Tampan? Baik hati? Jelas donggg' pikir Jean.

"...mau meracuniku ya?"

Percuma berharap. Salah sendiri.

Jean menarik nafas jengkel.

Ia mengambil salah satu bacon itu.

"Nih liat. Kumakan," ketusnya.

Wajah Eren yang sempat curiga langsung berubah kembali jadi melongo.

"Tapi... Kenapa diberi padaku? Bukannya kau juga suka?" tanya anak itu.

"Aku..." Jean kebingungan mencari alasan. Wajahnya berubah jadi sedikit merah.

"Makan saja, cerewet!" ketusnya pada Eren, sambil mempercepat makannya karena gugup.

"Baiklah."

"Kau mau ke lab biologi yang lama?" tanya Mikasa pada Eren. Wajahnya tak yakin.

"Iya.. Ada alat peraga tua yang masih berfungsi dengan baik di sana. Aku membutuhkannya untuk presentasi biologiku," ujar Eren.

"Istirahat kedua saja, Eren. Aku belum bisa mendampingimu di istirahat pertama, karena ada urusan organisasi," kata Mikasa khawatir.

"Tapi jam biologi sehabis istirahat pertama, Mikasaaa," sahut Eren gemas, "dan aku tak butuh pendampinganmu. Kau bukan ibuku."

"Tidak boleh! Setidaknya harus ada yang menemanimu.. di sana banyak serpihan kaca tajam, dan debu, dan-"

"Sini biar aku yang temani," potong seseorang.

Eren dan Mikasa menoleh.

"Jean?" suara mereka berdua kompakan.

"Hiiiy, lab ini sepertinya agak angker!" kata Eren.

Atmosfer ruangan itu memang sedikit berbeda. Mungkin karena sudah tua dan tak pernah dibersihkan.

"Hati-hati Jean... bisa-bisa kau ditangkap sama makhluk putih di belakangmu loh.." Eren menakut-nakutinya.

Jean berusaha menahan ekspresi. Susah untuk tidak gemas. Dan kesal.

"Sekarang makhluknya di sampingmu! Hehehehehe... hihihi..."

Eren masih berusaha menakuti.

Sia-sia. Jean malah ingin tertawa. Tertawa sarkas.

"BAAAA!" Eren berseru kencang sambil mendekatkan wajah secara tiba-tiba pada Jean.

"Kau sedang apa sih, bodoh?" mulut kejam Jean berulah.

"...tidak kaget ya?" Eren merengut.

Ia pun berbalik.

Matanya tiba-tiba berbinar.

"Nah, itu dia alat peraganya!"

Saat Eren hendak berlari ke arah benda itu, kaki Eren sepertinya tersangkut sesuatu.

Kabel, sepertinya.

"HUWAAAA!"

Eren berteriak kencang dengan mata tertutup.

Tapi sepertinya teriakan kencang nan heboh itu sia-sia adanya. Karena sekarang ini ia tak sedang jatuh tergeletak di lantai.

Melainkan, berada pada pelukan seorang... Jean.

"Eh?" Eren membuka matanya.

Menyadari lengan kekar Jean, dari belakang melingkupi tubuhnya yang sempat goyah.

Ini terlihat seperti sinetron-sinetron Indonesia. Minus bagian tatap-tatapannya, karena Jean bukan orang yang alay.

"Perhatikan langkahmu, idiot," bisik Jean di telinga Eren.

Merinding. Itulah sensasi yang dirasakan Eren saat suara dan udara dari mulut Jean mengenai telinganya.

Eren blank sesaat. Rasanya tubuh Jean kekar dan kokoh.

"Ah.. iya," katanya setelah kesadarannya kembali pulih.

Tapi... Jean kok... masih...

Eren bergelayut canggung.

"Uh... Jean? Anu, tanganmu..." ujarnya.

Jean merona. Sial, ia keterusan! Lagian kenapa jadi memeluk sih? Padahal ia hanya ingin menahan Eren saja tadi!

Jean sama sekali tak tahu harus apa. Kalau ia melepaskan Eren, pasti Eren akan melihat seberapa merah wajahnya saat ini.

"J-Jean?" Eren mulai gugup karena Jean tak kunjung melepasnya, "jangan bilang kau sengaja menemaniku berdua di sini karena mau meng-itu-ku..."

Sial. Wajah Jean semakin merona. Ditambah lagi jantungnya semakin berdegup kencang. Eren sialaaaan!

"Tentu tidak!" tukas Jean, "bisa-bisa ditangkap polisi aku karena meng-itu anak kecil."

"Hehh! Aku bukan anak kecil!" sergah Eren.

Jean menahan tawa. Kerjai sedikit ah. Tak ada salahnya.

"Kau mendebatku barusan seakan-akan minta di-itu," kata Jean menggodanya.

"B-bukan begitu..." suara Eren mengecil.

Smirk Jean muncul. Oke, sisi nakalnya telah kembali!

"Um.. Jean, bisakah kita ambil benda itu sekarang?" Eren mengalihkan topik.

"Baiklah," Jean melepasnya.

Ia dapat mendengar helaan napas lega Eren yang pelan.

Anak itu lucu sekali. Memang menyenangkan untuk diganggu.

Jean memandanginya diam-diam.

Tunggu... kenapa wajah dan telinga Eren merah padam?

Siang itu, daerah mereka hujan deras. Selain deras, hujannya cukup lama. Jadilah Eren menunggu di kelas karena ia belum bisa pulang. Oh iya, ada Jean juga yang sedang sketching.

"Eren, pinjam penghapusmu dong," seru Jean yang duduk di kursi di depan Eren.

"Nih. Segera kembalikan ya," Eren memberikan benda putih berbentuk balok itu.

Jean menerimanya.

Selama sepersekian detik, kulit tangan mereka bersentuhan.

'Dingin sekali tangannya!' seru Jean dalam benaknya.

Ia menoleh ke belakang. Dilihatnya anak Shiganshina itu sedang gemetar kedinginan. Anak itu lupa membawa jaket rupanya.

Kasihan.

Jean mengambil jaketnya yang tebal, kemudian memberikannya pada Eren.

"Hah? Aku tak membutuhkannya kok. Pakai saja, Jean," kata Eren berbohong. Jelas-jelas ia kedinginan.

Setelah beberapa kali penolakan, Jean menghela nafas gusar.

Ia pun berdiri dan melangkah ke belakang. Eren diselimutinya dengan jaket hangat itu.

Wajah Eren merona.

"S-sungguh, kau tak perlu melakukannya!" kata Eren cemberut, "aku sama sekali tak kedi-"

"Bohong," potong Jean, meraup kedua tangan Eren dengan genggamannya yang jauh lebih hangat.

"Ah? Eh- apa... ini?" Eren salah tingkah tangannya digenggam seperti itu. Hangat...

"Tanganmu dingin, makanya kuhangatkan," tegas Jean.

Perasaan apa ini? Kenapa jantung Eren terasa aneh? Ini memalukan!

Jean menahan senyum melihat semburat merah muda di wajah Eren yang manis. Yang ia tak tahu, otak Eren jadi sulit berfungsi karena tatapan itu.

"K-k-kenapa kau tidak hadap depan?!" omel Eren malu, "K-k-kau tidak memperhatikan Levi sensei ya?!"

"Bodoh, ini jam pulang! Mana ada Levi sensei di depan!" gelak Jean.

Mata Eren membulat. Ia baru sadar!

Wajah Eren pun semakin memanas.

"Fine! Aku bodoh! Terserah!" rajuk Eren, melepaskan tangannya dari genggaman Jean, menepisnya.

"Hey..." panggil Jean lembut, "aku kan cuma bercanda."

Jean menarik kedua tangan di hadapannya dengan pelan, dan kembali menggenggamnya.

"Kau tak takut orang lain salah paham?" tanya Eren gelisah. Sungguh, ia malu mengatakan ini, tapi, "k-kita kayak orang p-p-pacaran."

Jean mengangkat bahu.

"Cuma ada kita berdua."

"Baiklah."

"Kecuali... kau mau pacaran betulan," Jean menunjukkan smirknya.

"E-EEHH?!" Eren menjauhkan dirinya saat menyadari wajah Jean hanya berjarak 10 cm darinya.

DEG DEG DEG DEG DEG*

Suara detak jantung Eren bersahutan tak terkendali. Menggila. Wajah Jean... terlalu dekat!

PLAK*

"Adaw!" Jean mengaduh saat tamparan Eren mengenai pipi kirinya.

Eren benar-benar tak terduga!

"Sakit tau!"

Jean baru saja hendak mengomel, saat ia melihat Eren menelungkupkan wajahnya di meja.

"Kau kenapa?" tanya Jean heran.

"Kau tak boleh sembarang bicara seperti itu. Bisa-bisa ada yang menganggapnya serius... Kau akan menyakiti hatinya kalau kau cuma main-main," ujar Eren lirih.

Hening.

Ada seribu pertanyaan muncul di benak Jean karena perkataan Eren itu. Tapi ia memutuskan untuk mengurungkannya.

Masih terlalu dini untuk menanyakannya.

Ia mengulurkan tangannya mengelus rambut Eren yang halus.

"Kau benar."

Eren tak menunjukkan reaksi apapun.

Apa anak itu tertidur? Tak mungkin. Masa baru habis bicara langsung tidur?

"Zzz..."

WAH. Beneran tidur.

Jean tertawa kecil. Anak ini hebat, bisa tidur kapan saja dimana saja.

Ia pun beranjak dari tempat itu dan pulang.

Niatnya sih mau menemani Eren pulang, tapi ia belum sedekat itu dengan Eren. Jadi... yah begitulah.

Toh hujan sudah berhenti. Eren sudah bisa pulang.

Eren iseng mengenakan jaket itu di depan cermin kamarnya.

Agak kebesaran, jelas saja. Jean memang lebih besar darinya. Lebih tinggi. Lebih tampan. Lebih...

Eren menghela nafas. Ia tak dapat mengusir Jean dari pikirannya. Semakin diusir semakin datang.

Aroma tubuh Jean menguar dari jaket denim itu.

Wajah Eren memerah. Ia malu mengakuinya, tapi... ia suka aroma itu.

Aroma yang mengingatkannya dengan pelukan Jean padanya di lab tua itu.

Kalau boleh, ia menginginkannya lagi... Ia kedinginan.

"Aaaahhh bodoh! Bodoh!" Eren memukuli kepalanya sendiri. Memaki-maki diri sendiri.

"DIA ITU KUDA GILA, EREN. KUDA SINTING!" seru Eren, meyakinkan dirinya sendiri di depan cermin.

"Tapi kenapa belakangan dia baik ya?" Eren bermonolog ria di depan cermin.

"Apakah... Jean suka padaku?"

Senyum idiot itu terpampang di cermin di hadapan Eren. Membuat Eren ingin menamparnya saja. Tapi itu kan bayangannya sendiri

"MEMANGNYA KENAPA HAH. KENAPA AKU SENANG?"

Dan malam itu dihabiskan dengan Eren yang berguling-guling di lantai kamarnya karena galau.

"Lihat majalah yang kubawa... hot loh!" Reiner mengeluarkan majalah Playground yang dicurinya dari sepupunya.

"Wahh!"

Connie dan berthold mengelilingi meja Reiner dengan penasaran.

Eren, dengan polosnya mendekat, ingin ikut melihat juga.

Tiba-tiba tangan seseorang menutup matanya kuat.

"Tak boleh!" tukas suara dari belakang Eren.

"HEY! Jean lepaskan! Aku cuma penasaran!!" rengek Eren.

"Tidak."

"Kau kenapa sih?!"

"Tidak boleh."

Eren terus merengek, hingga Jean menariknya ke mejanya.

"Dengar. Itu majalah tak pantas." tegas Jean.

Eren melotot.

"WHAT?!? Baiklah, aku tak akan membacanya," kata Eren, entah mengapa ia patuh.

"Oh iya, ngomong-ngomong..." Eren membuka-buka tasnya.

"Nih," anak itu menunjukkan jaket Jean yang terlipat rapi.

"Dan sudah kucuci juga" kata Eren bangga.

Jean tersenyum, menerima jaket itu.

"Terima kasih," kata Jean singkat.

"Aku yang terima kasih, bye!" Eren kabur ke kantin.

Jean tak dapat menahan senyumnya. Anak menggemaskan itu terus menerus, dan tak pernah berhenti mewarnai harinya dengan tingkah lakunya yang manis.

Jean ingin memilikinya. Jean benar-benar menginginkannya. Jean terobsesi. Jean mabuk. Mabuk cinta.

"Ugh, akhirnya!"

Jean dan Eren berbaring kelelahan di kamar Jean. Eits, mereka bukan habis melakukan yang aneh-aneh yaa.

"Katanya tugas kelompok, tapi kok cuma kita berdua yang mengerjakan," keluh Eren bersungut.

"Sudahlah. Memang tak ada yang bisa diharapkan dari Sasha dan Annie! Sasha akan selalu makan dan Annie akan selalu sibuk dengan dirinya sendiri."

"Ya benar!" Eren beranjak dari tempatnya dan duduk di pinggir ranjang.

"Ngomong-ngomong kau belum ganti baju?" tanya Eren keheranan.

"Kau sendiri belum," balas Jean seadanya.

"Ya tapi kan itu karena aku tak membawa baju ganti. Kalau kau... ini kan jelas-jelas rumahmu. Masa tak ada baju ganti?" tanya Eren.

"Aku malas dan pegal," ujar Jean.

Eren menatap Jean lama.

Ia menarik dasi Jean dengan kasar, hingga Jean terkejut. Ia bangun dari posisinya yang semula berbaring.

'Hm? Ada apa ini?' Jean bertanya-tanya dalam hati.

Dasinya terasa melonggar. Tentu saja Eren yang melonggarkan, kemudian melepaskannya.

"Mau kubukakan?" tanya Eren sambil menatap mata Jean nakal. Jemarinya meraba kancing teratas Jean.

Jean terkejut. Eren yang polos, sudah berubah jadi seorang penggoda?

Tawa Eren meledak.

"Kau ini gampang dikerjai ya!" Eren terbahak.

'Oh, jadi begitu ya...' Jean menahan seringainya. Ia merencanakan sesuatu.

BRAK*

'E-eh?!'

Jean mencengkeram kedua tangan Eren dan mendorongnya ke dinding terdekat. Meletakkan kedua kaki Eren di bawah pahanya sehingga anak itu tak bisa lari.

GLEK*

Eren menelan ludah takut.

"Kau mempermainkanku ya, bocah?" tanya Jean dengan smirk andalannya.

"M-maaf Jean, aku hanya bercanda. Hehehe," Eren tertawa nervous.

"Itulah masalahnya. Kenapa bercandamu seperti itu, hm?" Jean mendekatkan wajahnya ke wajah Eren.

Eren memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Entahlah... M-mungkin penasaran dengan reaksimu," jawab Eren takut-takut.

"Mau kuhukum ya?" Jean menggunakan satu tangannya untuk menahan kedua tangan Eren, kemudian tangan yang lainnya dipakainya untuk membelai pipi mulus Eren.

Eren berjengit. Sentuhan ringan Jean di pipinya membuat perasaannya campur aduk.

"Lepaskan, kuda!" Eren meronta. Tapi tentu saja Jean lebih kuat darinya. Semua usahanya aka sia-sia. Terutama karena Jean menumpukan beban tubuhnya di atas paha Eren dan mengunci pergerakan kaki dan tangannya.

"Kau sendiri yang bilang tak boleh mempermainkan perasaan orang. Tapi kenapa kau melakukannya?" Sinis Jean.

Cengkeramannya menguat, membuat pergelangan Eren terasa ngilu.

"A-akh! S-sakit, Jean..." lirih Eren. Ia menunduk ketakutan.

Hening. Lama.

Eren masih menunggu apa hal selanjutnya yang akan dilakukan Jean. Ia pasrah.

Tapi kok lama sekali heningnya?

Eren perlahan mengangkat wajahnya.

"M-masih marah?" lirihnya pada Jean.

Jean terpana. Eren kalau pasrah begini kenapa jadi imut sekali sih? Padahal aslinya saja memang sudah sangat imut.

Eren minta dipeluk ya? Atau dicium? Atau dimakan?

Tatapan berkaca-kaca dari mata yang lugu itu membuat perasaan Jean melunak.

Jean menghela napas.

"Kau tahu kan kalau aku menyukaimu, kenapa kau mempermainkan perasaanku seperti ini?!" Tanya Jean lagi.

Mata Eren membulat.

"M-menyukaiku?" Eren memastikan kupingnya tak salah dengar.

Jean juga terkejut.

"K-kau tak tahu?"

Eren menggeleng kencang. Wajahnya seketika merona parah.

"M-masa sih?" tanyanya pelan.

"Iya!"

"Kukira... cuma di dalam mimpiku," kata Eren pelan.

"Ha? Kau memimpikanku?" Jean tak kuasa menahan rasa berbunga-bunganya.

"Entahlah!" Eren membuang muka, malu.

Jean tersenyum. Ia menarik dagu Eren dengan lembut, hingga menengadah menghadap wajahnya.

Eren kembali membuang muka, berusaha menghindari tatapan Jean. Wajahnya sudah semerah kepiting rebus.

"Jean, k-kau mau apa?" Lirihnya gugup.

"...menciummu," tanya Jean.

Mata Eren melebar. Ia segera menjauhkan dirinya.

"Kau gila?!" tangan Eren menahan dada Jean agar lelaki yang lebih tinggi darinya itu tak mendekat. Wajah Eren terlihat takut.

"Kenapa?" tanya Jean.

"A-apa kau... tak merasa terlalu dini?" tanya lelaki yang sedang terpojok itu.

"Kau malu?" goda Jean.

"T-tidak!" tukas Eren.

"Kalau gitu, ayo," tandas Jean, kembali mendorong Eren di dinding.

"E-eh?! Ehhhhh-" Eren mundur, panik.

"Maksudku... anu.. i-itu..." Eren gelagapan. Terutama saat menyadari nafas Jean menderu wajahnya, mereka sedekat itu.

"Hm?" Jean menunggu.

"Pokoknya tidak boleh!" sergah Eren dengan wajah cemberut.

"Kenapa?" tanya Jean.

Otak Eren ngeblank. Jean memang tampan sekali dari jarak sedekat ini.

Ciee Eren salting.

Matanya memandang ke arah apapun, KECUALI Jean.

"Wih, tembokmu keren sekali, Jean! Warnanya putih bersih, s-sepertinya kau... rajin... mengelapnya ya? Eh-" Eren berusaha mengalihkan perhatian Jean, tapi malah jadi konyol.

Jean terkekeh. Eren lucu sekali.

'Sialan.' Eren pun menunduk, kesal dan malu.

"Kalau malu, coba kau tutup mata," ujar Jean lembut.

"Aku sudah bilang aku tidak mau!" sergah Eren.

Ia memberontak, berusaha menarik kedua tangannya dari genggaman Jean, yang sama sekali tak berpengaruh.

"Jangan memaksaku, kuda!" Eren merengut, "geli tau!"

"Geli?" tanya Jean, "seperti ini?"

"A-ah!" Eren tersentak saat Jean tiba-tiba sudah menggesekkan hidungnya di perpotongan lehernya.

"Ahhnnn- h-hentikan!" dengan wajah merona parah ia berusaha menjauhkan dirinya dari Jean. Apa-apaan anak itu! Lancang sekali menyentuh-nyentuh dirinya seperti itu.

"Wajahmu merah, Eren. Kau menyukainya, kan?" ledek Jean, wajahnya penuh rasa puas.

Eren benci dengan ekspresi itu.

Ia memang tak bisa bergerak, tapi bukan berarti mulutnya tak bisa bersuara, bukan?

"IDIOT KAU. DUNGU. KUDA SINTING." Maki Eren bertubi-tubi.

"KUDA BE- mmph!" hinaan itu terpotong.

Terpotong oleh bibir Jean yang membungkam bibir mungilnya.

Mata Eren membulat.

Pandangannya kabur saking shocknya.

'Jean benar-benar mencium bibirku?!?!'

Tubuh Eren seketika lemas. Rasanya seperti Jean telah menguasainya. Baiklah, ia kalah sekarang.

Ia tak lagi melawan.

Jean tersenyum nakal.

"Kaget, eh?" tanyanya, "apakah itu ciuman pertamamu?"

BLUSH*

Wajah Eren yang sudah merah jadi berkali-kali lipat lebih merah.

Ia benar-benar ingin memukul muka kuda liar di hadapannya ini karena telah merebut ciuman pertamanya. Menyebalkan.

"Sepertinya benar, ya," Jean terkekeh.

Eren merutuki wajahnya sendiri yang gampang memerah. Ini benar-benar memalukan!

"Kau menyebalkan!" tukas Eren cemberut.

"Oh ya?" Jean menggodanya, "bukankah kau menyukainya?"

"A-aku ingin pulang, lepaskan!" rengek Eren, salah tingkah karena pertanyaan itu. Jujur, ia agak... menyukai ciuman itu. Entahlah.

Jean memandang anak itu. Sebenarnya Eren mungil sekali kalau dibandingkan dirinya. Dari tenaga saja sudah ketahuan siapa yang akan menang. Anehnya Eren selalu berlagak seakan-akan ia bisa menyaingi Jean di sekolah. Padahal kenyataannya... ANAK ITU SANGAT UKE-ABLE.

"Apa kau liat-liat?!" Eren mulai galak.

Jean melepaskan Eren. Dapat dilihatnya anak itu bernapas lega. Rasanya Jean ingin tertawa.

Eren segera menjauh dari Jean merapikan tasnya.

Jean tak dapat berhenti memandang anak itu. Oke, mungkin ia sudah terobsesi pada Eren.

"Jadilah pacarku," katanya santai.

WHAT?

"Bodoh," jawab Eren, sebelum beranjak pulang.

.

to be continued