Original Story by schwarzhaarige

Disclaimer: Not own anything


PERSELISIHAN KEMAUAN


.

Berbagai mimpi mengaduk-aduk benak Naruto, berkembang dan hidup berdasarkan hukum-hukum mereka sendiri. Ia menyaksikan anak-anak akademi ninja Konoha berlari-larian saling kejar beramai-ramai di pinggir sungai kecil bagian barat desa Konoha, matahari senja menerpa wajah-wajah bahagia mereka menjadi hangat dengan tawa. Ibu-ibu mereka menunggu di atas dataran tanah yang lebih tinggi dari tempat mereka bermain,saling berbicara satu sama lain dengan sama hangatnya. Ketika matahari akan tergantikan perannya dengan sang rembulan, ibu-ibu itu menyuruh anak-anak mereka pulang, dan bersama-sama kembali dengan raut pengharapan; mereka menginginkan semua ini akan terulang lagi besok.

Naruto benar-benar menyadari kekurangannya; ia tidak memiliki masa-masa seperti itu, baik itu dalam sadarnya, ataupun mimpi-mimpinya. Ia menghembuskan napas-napas lelah melihat garis-garis lembayung di cakrawala, semua terlihat sangat jauh berbeda, penduduk Konoha berstatus warga biasa hidup tenang dalam kehangatan keluarga mereka, dirinya ketika sadar hanya merasakan kekosongan, Naruto bertanya-tanya, kenapa yang namanya kekosongan ternyata malah membuat sesak? Hatinya tidak pernah lagi menyentuh perasaan-perasaan yang nyaman ketika matanya terbangun.

Menghembuskan napas yang lelah untuk yang kesekian kali, ia pun menegakkan tubuhnya dengan tertatih. Tubuh lelahnya kemudian berjalan meninggalkan tempat ia menyaksikan anak-anak tadi bermain, ingatan-ingatan manis dan juga pahit yang tidak pernah berhenti menjadi bagian isi kepalanya, menemani perjalanan singkat dalam menuju persinggahan, sebelum besoknya dia akan menjalankan kembali misi seumur hidup yang ia emban.

Karena terlalu sering berpergian, ia menjadi bingung perihal kepulangan, yang manakah rumah dan yang manakah persinggahan? Tapi setelah kejadian yang telah cukup lama berlalu, ia merasa tidak pernah lagi pulang ke rumah, yang tersisa dari rumah bagi Naruto, mungkin hanya tidur dan ketidaksadarannya.

Bertahun-tahun hidup hanya untuk menjalani misi yang ia emban sendiri, tanpa pernah berpikir kapan misi ini akan berakhir untuknya, ia pun berkali-kali telah merasa lelah menjadi bagian dari dunia ini. Sepertinya Naruto hanya butuh tempat pulang, rumah untuknya menumpaskan segala kesayuan.

Hatinya selalu menangis ketika ia mulai bermimpi, asanya tak pernah berhenti memohon untuk tetap tinggal, di dalam mimpi yang menjadi tempat ia merasa benar-benar ditemani. Karena ketika ia bermimpi, ia bertemu seseorang yang selalu ia rindukan dalam sadarnya, sosok itu selalu menjadi bagian paling harap dalam tidurnya, seseorang yang menjadi penyebab dia masih bisa melihat dunia.

Kesadarannya terketuk oleh tujuannya berjalan, di depannya berdiri kokoh sebuah apartemen sederhana dengan segala keterbatasannya, sebuah persinggahan yang sangat baik karena memberinya ruang, untuk sekali lagi kembali ke rumah.

Perasaan legah sedikit menghinggapi hatinya ketika ia telah memasuki apartemen itu, ia rasa sudah waktunya untuk kembali bertemu dengan(N)ya. Naruto tidak menyentuh kegiatan lain setelah ia memasuki apartemen. Memasuki kamar tidur dan langsung menutup mata untuk kembali, dalam sebuah kehangatan.


Rona putih dihamparkan pada kedua bola mata hitam yang telah menjadi bagian dari Naruto, tidak ada benda-benda, hanya bidang-bidang putih kosong yang tertangkap netranya. Suara yang memberi penuh kenyamanan membalikkan tubuhnya.

"Kau sudah pulang Naruto, aku pikir akan lebih lama,"

Sebuah senyum hangat terpoles di wajah Naruto. Di depannya berdiri seorang wanita cantik, surai ungu yang membingkai wajahnya terlihat sangat cocok, wajahnya menjadi lebih indah karena senyum manis yang diukir dengan sangat sempurna.

"Lebih cepat menemuimu kurasa lebih baik, Naori,"

"Mou..." Naori berjalan mendekati Naruto dengan tangan yang direntangkan kedepan layaknya meraba-raba. Naruto yang melihat itu buru-buru mendekati Naori dan memegang tangannya, Naori yang merasakan tangannya digenggam oleh tangan yang sedikit lebih besar dari tangannya, menjatuhkan kepalanya ke depan hingga tersandar di dada Naruto. "Kurasa kau hanya sudah merindukanku lagi Naruto,"

Naruto tersenyum mendengarnya, ia membelai surai ungu Naori. "Lagi-lagi kau benar,"

Bibir Naori kembali mempoles senyum manis, kedua kelopak matanya menutup rapat. Naruto menatap kelopak mata Naori yang tertutup, wajahnya berubah sendu.

"Jangan memasang wajah seperti itu, sangat tidak cocok untukmu,"

Naruto tersentak. Naori, dia memang tidak bisa melihat raut sedih pada wajah Naruto, namun nalurinya memberitahu.

"Kurasa cukup sulit melakukannya, Naori,"

Naori menengadah, dan tersenyum kepada Naruto. "Aku disini Naruto, dalam pelukanmu,"

Naruto membalas senyum itu dengan hangat. "Kau benar, kau memang disini."


Matahari terbit pada pagi miliknya diiringi dengan semburat merah muda kekuningan yang megah. Udara terasa segar, manis, dan menghangat. Naruto membuka matanya karena terpaan sinar matahari, kelopak matanya mengerjap beberapa kali, ia mendudukkan tubuhnya, iris hijau kusamnya melirik-lirik di sekitaran tempatnya beristirahat, hanya pohon-pohon yang berbaris sejajar yang tertangkap netranya.

Matahari telah memulai pekerjaannya, Naruto sudah harus kembali ke Konoha untuk melaporkan misi yang telah ia selesaikan dari Hokage. Hanya sebuah misi A-Rank untuk seorang Jounin seperti dirinya, ia diberi waktu sampai hari ini untuk segera melaporkan hasil misi kepada Hokage, karena itu ia harus bergegas kembali ke Konoha sebelum matahari terbenam.

Naruto tidak sendirian menjalani misi ini, ia ditemani oleh Naori yang saat ini masih tertidur di bawah rindang pohon. Naruto memandang wajah tidur Naori dengan raut penasaran, "Apakah aku baru sadar? Naori terlihat cantik ketika tidur." Ada layung yang karam di pelupuk pipinya setelah mengatakan itu, dia menggeleng-gelengkan kepalanya menyadari apa yang dia ucapkan.

"Naori, bangunlah, kita harus kembali ke Konoha sekarang," ungkap Naruto, dia juga menggoyang pelan bahu Naori membuat sang empunya membuka mata perlahan menampilkan iris hitamnya.

"Emm... apakah sudah pagi?" balas Naori dengan sedikit menggeliatkan tubuhnya.

"Hn, dilihat dari matahari, sepertinya ini jam tujuh pagi,"

Naori mengucek-ucek kelopak matanya untuk memberikan kesadaran, "Sepertinya kita harus bergegas, jika ingin sampai di Konoha sebelum matahari terbenam," Naori sedikit menguap setelah mengucapkan itu, dia kemudian berdiri menyusul Naruto yang sudah lebih dulu berdiri.

"Lebih baik kita mencari air terlebih dahulu, wajah kusutmu terlihat jelek,"

Naori mendelik kearah Naruto, dia melayangkan pukulan kearah ubun-ubun Naruto. "ITTAI!"

"Dasar tidak sopan,"

Naruto mengelus-elus puncak kepalanya. "Kau benar-benar wanita yang kejam, Naori,"

"Mau ku pukul lagi?" Naori mengangkat kepalan tangannya.

"Ti-tidak terima kasih, itu tadi sudah cukup,"

"Baguslah." Naori berbalik arah, dan beranjak untuk mencari sumber air.

Naruto melebarkan matanya, apa ia tadi sempat melihat Naori tersenyum? Itu sebuah senyum kecil yang manis. Dengan sendirinya, telah tersimpan rapih di dalam ingatan Naruto.


Naruto memejamkan matanya menikmati belaian telapak tangan Naori pada rambutnya, tangan Naori begitu lembut menyentuhnya, mungkin karena ada cinta dalam tindakan itu.

Naori membawa wajahnya menghadap wajah Naruto yang terlihat damai dalam pangkuannya. "Kau sepertinya sangat kelelahan Naruto, aku bisa merasakannya,"

"Kau selalu mengetahui aku, Naori,"

"Fufufu... Jangan membuatku terlihat seperti seorang paranormal, Naruto,"

"Hey, itu memang benar, bahkan tanpa mata, kau—" mulut Naruto terkatup, matanya menyendu menatap wajah Naori.

Naori menyadari perubahan air muka Naruto, "Sudah kubilang, jangan memasang ekspresi seperti itu," Naori meraba pipi Naruto, kemudian membelainya. "jika aku bisa melihatnya, pasti akan ku ejek,"

Naruto hanya diam. Ia membawa tangannya menggenggam tangan Naori yang membelai pipinya, "Aku selalu bertanya-tanya, kenapa waktu itu kau tidak pergi meninggalkan aku, dengan begitu seharusnya kau masih hidup," Naruto membawa tangan yang satunya menyentuh kelopak mata Naori. "Kau pun masih bisa melihat Konoha yang kau cintai,"

Naori mengeluarkan senyum teduhnya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Naruto tadi, "Aku tidak memiliki alasan untuk meninggalkanmu saat itu, Naruto," Naori kemudian menggenggam tangan Naruto yang menyentuh kelopak matanya dengan tangan yang tadi membelai surai kuning pucat Naruto, "Dan kau harus tahu kenapa aku mencintai Konoha," Naori membawa tangan Naruto yang ia genggam dan menaruh tangan itu ke pipinya. "Itu karena Konoha menjadi tempatku bertemu denganmu,"

Mata Naruto memerah mendengarkan segala yang diucapkan Naori kepadanya, ia mengeraskan rahang menahan likuid bening agar tidak jatuh dari ujung matanya.

"Maafkan aku, Naruto, kau semakin menjalani hari-hari yang berat karena aku," wajah dari Naori mulai menampakkan raut-raut sendu, "Maafkan aku, karena keegoisanku yang memilih kau untuk tetap hidup," suara Naori mulai terdengar parau di telinga Naruto. "A-aku, hanya tidak mampu untuk melihat Konoha, yang tanpa kehadiranmu,"

Naruto semakin mengeraskan rahangnya, ia menahan napas, "Apa kau pikir hal itu tidak berlaku untukku, Naori," Naruto mendadak merasa menjadi pria yang lemah, atau mungkin semenjak sepeninggalan Naori, hatinya telah menjadi bagian paling lemah dari dirinya. "Kau bahkan meninggalkan beban yang sangat sulit, untuk kujalani sendiri,"

Naori tak kuasa untuk menahan sesenggukkannya, wajahnya sangat terlihat jelas menangis, walaupun tidak ada air mata yang keluar dari kelopak matanya yang tertutup. Naruto menatap Naori dengan iba.

"Aku terus berjuang melindungi Konoha seperti yang kau inginkan," mata hitam pada Naruto tak berhenti memasati raut-raut wajah Naori, yang tampak semakin menangis. "Aku menderita, kau tidak lagi seperti dulu yang terus menemaniku ketika berjuang."


Ledakan-ledakan bersuara menghempaskan malam, burung-burung berterbangan dari sangkarnya yang berada di pohon yang telah tumbang. Cahaya bulan bersinar sangat terang, sebuah fenomena yang indah, tapi tidak merefleksikan keindahannya tersebut kepada seluruh bumi.

"Naruto, kita terjebak, musuh tahu kita akan datang," Itachi dengan wajah risau yang tertutup topeng anbu mengeluh kepada Naruto.

Naruto hanya diam, ia menatap tajam tiga orang yang berdiri di hadapannya, dia terkejut rencana penyergapannya bersama Itachi dan Naori dapat disadari oleh musuh, membuatnya mencengkram erat tanto yang berada di genggaman tangan kanannya.

"Kita harus secepatnya menyelamatkan Michiru-Dono sebelum terlambat," Naruto menolah kearah Naori yang berada di sisi kirinya. "Naori, aku dan Itachi akan menahan mereka disini, kau pergi dan selamatkan Michiru-Dono,"

"Tidak, aku akan disini bersamamu,"

"Jangan membantah, Naori! Jika kita tidak cepat, maka—"

"Apapun yang kau katakan, aku akan tetap disini untuk menemanimu." Naori pun menyiapkan kuda-kudanya untuk bertarung.

Naruto menggeram, ia pun mengalihkan pandangannya kepada tiga orang yang di hadapannya, "Itachi, kau yang pergi menyelamatkan Michiru-Dono." Naruto berbicara tanpa menoleh kepada Itachi, Itachi yang mendengarkan itu mengangguk dan melesat pergi dengan secepatnya dari sana.

"Tidak akan kubiarkan itu terjadi." Kongo, pria besar yang menjadi musuh mereka melesat kearah Itachi yang melompati dahan-dahan pohon untuk menghentikannya.

Itachi berhenti di salah satu dahan pohon, dia melihat Kongo yang tidak jauh di depannya dengan mata Sharingan yang menyala di balik topengnya. Itachi mulai bersiap ketika dia melihat Kongo yang melompat kearahnya.

Kongo melayangkan tinju besarnya setelah berada tepat di hadapan Itachi, sebelum Itachi sempat menghindar dan tinju Kongo belum mengenainya, Naruto muncul di samping Kongo, ia menendang tangan Kongo yang berniat memukul Itachi itu, akibatnya Kongo kehilangan daya serangnya dan tubuh yang terhuyung.

Naruto mencengkram kerah belakang pakaian Kongo dengan kedua tangannya, kemudian dengan sekuat tenaga ia mengangkat tubuh Kongo dan melemparkan kearah kedua rekannya itu. Tubuh Kongo yang meluncur bebas ditahan oleh rekannya yang seorang pria.

"Itachi, aku mengandalkanmu." Itachi yang mendengar Naruto, hanya mengangguk dan kembali melesat pergi.

Ishidate, pria jangkung yang tadi menahan tubuh Kongo menggeram melihat itu. "Sepertinya kau cukup yakin, bisa menghentikan kami hanya dengan dua orang,"

Naruto tidak menjawab, ia berpindah tempat menggunakan Shunshin no jutsu ke sebelah Naori yang sedari tadi hanya diam memperhatikan. Naruto kemudian menatap ketiga musuh mereka dengan dingin. "Naori, aku akan melawan dua pria disana, kau hadapilah wanita yang satu itu."

Naori hanya menganggukkan kepalanya mendengar itu, Sharingan mulai aktif di balik topeng anbunya, dia mengeratkan tanto dalam genggamannya bersiap untuk menyerang atau jika ada serangan.

"Hey-hey, apa kau terlalu sombong ingin melawan dua dari kami sendirian?" Ishidate mengubah ekspresinya menjadi kesal, dia melepas sarung tangan yang ia kenakan, sehingga terlihat bentuk dari kedua tangannya yang aneh dan ada satu bola mata di masing-masing punggung tangannya.

Naruto hanya diam, wajahnya mengeras di balik topeng anbu yang ia kenakan. Ia memang mengetahui bahaya pada kedua tangan Ishidate berkat pertempuran yang sebelumnya mereka lakukan di pasisir pantai, namun tetap saja menyulitkan melawan dua orang yang salah satunya memiliki kemampuan berbahaya itu.

"Kau benar-benar akan kubunuh." Ishidate langsung melesat kearah Naruto diikuti oleh Kongo. Ishidate yang sampai terlebih dahulu di hadapan Naruto merentangkan tangannya ingin mencengkram kepala Naruto, Naruto menghindar dengan melompat sedikit ke samping, namun ia dikejutkan oleh Kongo yang berada di sampingnya dengan pukulan yang siap menghantam kepalanya.

Naruto menunduk menghindari pukulan Kongo, ia kemudian menggerakkan siku kanannya menyerang perut Kongo. Kongo tersentak dan memuntahkan ludah, Naruto terus menyerang dengan melayangkan tendangan keras menyarang ke rusuk kanan Kongo, membuatnya terlempar menabrak batang pohon.

Naruto kemudian memutar tubuhnya merasakan seseorang menyerangnya dari belakang, ia melihat tangan Ishidate yang melewati tubuhnya, kemudian tangan Ishidate itu ia cengkram, setelahnya, ia langsung menendang perut Ishidate membuat si empunya memuntahkan ludah.

Naruto menarik tangan Ishidate untuk membawa tubuhnya terbanting ke tanah. Ishidate tertohok karena tubuhnya menghantam tanah, lewat matanya yang melebar, ia melihat Naruto sudah siap menusuknya dengan tanto, Ishidate tidak membiarkan hal itu, ia menangkap bilah pedang Naruto dengan tangannya yang tidak dicengkram tangan Naruto dan merubahnya menjadi batu.

Naruto menggeram melihat tantonya diubah menjadi batu oleh Ishidate, ia melepas cengkramannya pada tangan Ishidate, dan buru-buru menghindari tangan Ishidate yang tadi ia cengkram mengarah padanya.

Ishidate berdiri dengan wajah yang menampakkan kemurkaan, tanto Naruto yang telah menjadi batu dalam genggaman tangannya, ia buang ke sembarang arah.

Naruto menatap nyalang kepada Ishidate, dia memikirkan berbagai macam cara bagaimana untuk mengalahkan Ishidate tanpa tersentuh telapak tangannya yang berbahaya itu. Tiba-tiba Naruto terpikir akan Naori, dirinya mengawasi kawasan di dekatnya mencari Naori, sebelum dia sempat menemukan keberadaan Naori, ia dikejutkan dengan Kongo yang telah berdiri di sampingnya melayangkan pukulan, Naruto secepat mungkin memposisikan kedua tangannya membentuk X di sisi wajahnya untuk menahan pukulan Kongo.

Naruto terhempas karena pukulan dari Kongo, meski ia telah menahannya, namun kuatnya pukulan Kongo tetap memberinya daya dorong sehingga membuat dirinya terlempar beberapa meter sebelum menabrak pohon.

Naruto mendecih, dia menahan perih pada permukaan tangan kanannya yang tadi melakukan kontak dengan pukulan Kongo. Suara-suara dentingan logam mengusik telinga Naruto, ia mengalihkan pandangnya kearah suara itu, dan menemukan Naori sedang bertarung sengit dengan seorang wanita rekan musuhnya.

Naruto setelah melihat itu merasa cukup yakin Naori dapat mengatasinya sendiri, ia kembali menatap dua orang musuh di depannya yang saling berdiri dibatasi jarak. Ia berharap dapat menyelesaikan ini dengan cepat.

.

Naruto menghembuskan napas yang menderu, wajah yang tersembunyi di balik topengnya yang kini tampak retak mengeluarkan peluh-peluh kelelahan. Bertarung dengan menggunakan kecepatannya secara terus-menerus karena melawan dua orang musuh, dan membalas serangan-serangan dari kedua orang yang berbahaya itu dengan jutsu-jutsu miliknya yang tak sedikit memakan chakra, cukup membuatnya kelelahan.

Naruto melihat Kongo yang terbujur kaku di atas tanah dengan lubang menganga di dada kirinya, jantung dari pria besar itu sepertinya telah hancur, membuatnya mati terlebih dahulu daripada rekannya, Ishidate.

Ishidate terbaring tidak jauh dari Kongo, dengan mata yang telah tertutup dan terlihat seperti tidak lagi bernapas, ada darah yang mengalir keluar dari lubang hidung dan sudut bibirnya, sepertinya tulang-tulang rusuk dari Ishidate telah hancur dan patah sehingga menusuk organ dalamnya.

Naruto sembari mengatur napas, ia mengalihkan pandangan dari musuh-musuhnya yang telah mati itu. Ia sudah selesai disini, dan matanya yang menangkap Naori yang berjalan kearahnya, tampaknya ia pun juga telah menyelesaikan bagiannya.

Tiba-tiba Ishidate bangkit dengan tertatih dari perbaringannya, ia mengambil pisau dengan bilah yang cukup panjang dari balik pinggangnya dan melesat kearah Naruto. Naruto tidak menyadari Ishidate yang akan menhunuskan pisau kepadanya, karena saat itu dia tengah menghadap kearah Naori.

Naori melihat tindakan buruk yang dilakukan oleh Ishidate, ia menggenggam tantonya kemudian melesat dengan cepat kearah Naruto. Naruto terkejut melihat Naori yang tiba-tiba melesat cepat dan melewati tubuhnya, setelah mendengar teriakan sakit dari seseorang di belakangnya membuat ia menyadari apa yang terjadi.

Naruto mengeluarkan pedang chakra yang tersemat di paha kirinya, ia segera membalikkan tubuhnya dan melihat Ishidate dengan wajah penuh kesakitan karena tangannya yang terputus dengan darah yang mengucur deras.

Naruto memadati bilah pedang chakra-nya dengan chakra elemen angin, kemudian dengan cepat menghunuskannya tepat menembus jantung Ishidate. Ishidate memuntahkan darah yang banyak dari mulutnya, ia langsung mati tanpa memiliki sedikit kesempatan hanya untuk memaki Naruto barang satu kata pun.

Naruto mendorong tangannya menjatuhkan tubuh Ishidate untuk melepaskan pedang chakra-nya yang terhunus di jantung Ishidate, Naruto melepaskan topengnya dan memandang kearah Naori sembari menghembuskan napas legah dan mengukir seulas senyum kecil. "Arigatou, Naori,"

Naori pun ikut melepas topengnya dan membalas senyum Naruto dengan senyum hangat. "Dou itashimasthe."

.