WARISAN UNTUK MELINDUNGI


.

Saat pagi, berkas cahaya matahari menerobos masuk melalui jendela, menghangatkan wajah Naruto. Sambil menggosok-gosok mata, ia duduk di tepi ranjang. Lantai kayu pinus terasa dingin di permukaan kakinya, dia merenggangkan jari-jari kaki untuk lebih meresapi rasa dingin itu.

Tubuhnya masih merasakan perasaan lelah yang menjalar ke sekujur tubuh, istirahat semalam tidak terlalu cukup untuk dirinya. Naruto merenggangkan tubuhnya untuk sedikit menghilangkan rasa-rasa pegal yang menggerogotinya, pandangannya masih mengabur karena belum terlalu mengumpulkan kekuatan untuk digunakan. Pagi sudah tidak pernah lagi nyaman untuknya.

Napasnya selalu terhembus dengan berat setiap kali ia terjaga dari peristirahatan, entah kenapa itu dapat terjadi, mungkin karena ketika ia tertidur, ia tidak benar-benar mengistirahatkan tubuhnya. Hari masih cukup pagi untuk orang-orang melakukan semacam aktivitas, Naruto pun juga seharusnya berpikir seperti itu. Namun, dirinya yang sekarang tidak bisa sesantai seperti waktu ia dulu. Memang tidak perlu terburu-buru, tapi setidaknya ia harus mulai menyiapkan dirinya sekarang.

Menggerakkan tubuh untuk membawa dirinya pergi ke kamar kecil, melakukan persiapan awal untuk mulai melakukan persiapannya yang lain. Setelah membersihkan tubuhnya dengan guyuran air kamar mandi, dia menatap refleksi dirinya pada cermin yang terletak di kamar kecil—Tubuhnya terlalu kurus, wajah yang pucat dihiasi berkas hitam samar yang tercetak di bawah matanya seperti panda.

Mata hitam yang menampilkan kesayuan melihat refleksi Naruto pada cermin. "Hari ini sama seperti kemarin, ya?" Tanya Naruto entah kepada siapa, napasnya belum lama ini mulai berhembus normal, dia menyentuh cermin yang menampilkan replika mata hitamnya; seperti menutup sebelahnya. Sebenarnya ia tidak sanggup untuk menjalani tugas hari ini, tapi dia memaksakan diri, ia yakin mampu melakukannya, karena ini selalu terjadi setiap harinya.

Selesai dari membersihkan diri, Naruto langsung menyiapkan tubuhnya dengan pakaian yang biasa ia kenakan; kaos putih lengan panjang seperti kemeja yang tipis ditutupi jubah hitam, celana hitam panjang yang dilengkapi sepatu standar ninja berwarna sama membungkus kakinya.

Naruto memandangi matahari yang telah sepenuhnya terbit dari balik kaca jendela. Pagi selalu terasa sangat singkat bagi dirinya, meskipun yang ia lakukan hanya sekedar mengemas diri. Matahari itu bersinar terang, bias-bias cahayanya menembus kaca jendela menyilaukan mata Naruto. Hari yang begitu cerah untuk dia menjalani misinya lagi, tapi sebelum itu, ia terlebih dahulu harus melaporkan sesuatu kepada Hokage.


"Jadi begitu, Akatsuki sudah mulai benar-benar bergerak untuk menangkap Bijuu," Tsunade Senju, sang Godaime Hokage, cucu dari Shodaime Hokage—Hashirama Senju, berucap dengan raut wajah dan nada suara yang keberatan menanggapi laporan dari Naruto.

"Benar, Hokage-sama, mereka mungkin akan memulai dari ekor satu, kedatangan Itachi dan Hoshigaki Kisame ke Konoha dua setengah tahun lalu hanyalah tanda pengenal dari mereka," terang Naruto kepada Tsunade dengan bahasa yang hormat. "Aku masih belum bisa untuk bergerak leluasa saat di Amegakure, karena itu jumlah dan profil anggota dari Akatsuki belum dapat aku ketahui semuanya,"

"Apa kau tidak bertemu dengan Itachi?" tanya Tsunade.

Naruto menggeleng, "Sangat sulit untuk bertemu dengan Itachi," raut wajahya menampilkan kegelisihan. "Akatsuki memiliki mata-mata yang sangat ahli, aku tidak tahu dia siapa, keberadaanku di sekitar mereka selalu hampir diketahuinya, aku jadi tidak bisa bertindak lebih jauh,"

Tsunade menggeram, wajahnya menampilkan ekspresi yang sama dengan Naruto. "Apa kau perlu bantuan untuk menjalani misi ini? Aku tidak bisa membebani misi ini seorang kepadamu," tawaran Tsunade kepada Naruto terdengar seperti sebuah ironi, Konoha belum memiliki ninja selain Naruto yang mampu mengemban misi ini.

"Itu tidak perlu Hokage-sama, Naori telah mempercayai sebagian dari dirinya kepadaku untuk melindungi Konoha," Naruto tidak bermaksud untuk meremehkan ninja Konoha yang lain dengan menolak tawaran dari Tsunade, "Akatsuki akan membawa bahaya yang sangat besar untuk dunia, Konoha pun pasti akan terlibat, memburu para Jinchuriki adalah langkah awal mereka," ia tidak bisa membiarkan Konoha mengorbankan orang lain, para ninja Konoha yang lain harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan lain yang bisa terjadi.

Tsunade menatap iba kepada Naruto, dia mengerti apa yang sebenarnya Naruto emban, kewajibannya untuk melindungi Konoha sebagai ninja Konoha bukanlah alasan utamanya, wasiat dan warisan dari Naori lah yang menutut Naruto untuk memikul beban ini. Ini bukan tentang menepati janji atau melindunginya, sesuatu yang lebih menyedihkan, karena beban inilah satu-satunya yang tersisa, dan menjadi alasan Naruto untuk terus hidup.

Naruto hanya tersenyum lemah menerima tatapan belas kasih dari Tsunade, ia menyadari dirinya sekarang tidak lebih dari sekedar alat untuk melindungi Konoha, dan ia pun tidak mempermasalahkan hal itu. "Aku tidak masalah untuk menjalani misi ini sendirian, Hokage-sama,"

Tsunade hanya bisa meringis mendengar penuturan Naruto, bukan karena ia adalah Hokage yang tidak mampu memberikan pilihan yang terbaik, tapi kenyataan pada Naruto lah yang membuat ia lebih dari tidak tega untuk membiarkan Naruto menjalani semua ini sendirian.

"Jika memang begitu, aku hanya bisa menyerahkan semua ini padamu, kau akan tetap menjalani misi ini sendirian," Tsunade pasrah, ia dengan berat hati mengambil keputusan ini, "tapi, apa kau tidak bisa beristirahat? Hanya untuk hari ini," yang diucapkan Tsunade bukan seperti sebuah pertanyaan, lebih seperti sebuah permohonan.

Naruto tersenyum mendengar apa yang diucapkan Tsunade, "Sebelumnya terimakasih atas keputusan yang telah anda ambil ini, Hokage-sama," Naruto membungkukkan tubuhnya sesaat kepada Tsunade. "Aku sudah cukup beristirahat tadi malam, selain itu, Konoha harus memberi tahu tentang Akatsuki ini kepada desa yang lain, untuk menjalin kerjasama, dan membuat Konoha tetap baik-baik saja,"

"Apa kau bermaksud untuk menjadi utusan yang menyampaikan informasi ini kepada desa lain?" tanya Tsunade, nada suaranya berubah dingin dan memberat.

"Karena hanya aku—"

"JANGAN BERCANDA!" Tsunade menggebrak meja kerjanya, dia menatap tajam kepada Naruto. "Dan hentikan omong kosong soal hanya kau yang pantas melakukan hal ini,"

"Tapi, Hokage-sama, selain Sunagakure, desa lain tidak akan membiarkan ninja Konoha masuk dengan mudah," Naruto membungkuk sekali lagi kepada Tsunade dalam waktu yang lebih lama. "Biarkan aku yang melakukannya, aku punya cara untuk masuk dan mendapat kesepakatan dari desa lain,"

Tsunade mengepalkan kedua tangannya erat-erat, sehingga terlihat buku-buku tangannya yang memucat, "Kenapa kau tidak mau mengerti Naruto? Untuk sekali saja," lirih Tsunade.

Naruto menegakkan tubuhnya, dia menatap Tsunade yang sedang menundukkan wajah, "Aku sudah cukup untuk mengerti, Hokage-sama, sedari awal Konoha memang tidak membutuhkan orang lain selain aku, untuk melakukan ini," ungkap Naruto.

Tsunade berdecak, semua ini sudah keterlaluan, apakah Konoha memang kejam menyiksa Naruto seperti ini? Atau, Naruto lah yang sebenarnya menyiksa dirinya sendiri? Prasangka-prasangka itu membuat Tsunade semakin menggeram.

"Lakukan sesukamu," balas dingin Tsunade.

Naruto hanya tersenyum mendengarkan itu, kemudian menghembuskan napas kelelahan. Naruto pun teringat akan satu hal lagi yang harus ia sampaikan kepada Tsunade. "Aku hampir lupa menyampaikan ini, Hokage-sama," ucap Naruto menarik perhatian Tsunade. "Menma dan Jiraya-san telah kembali, mereka mengatakan akan tiba hari ini di Konoha, ketika kemarin aku bertemu mereka di perbatasan Hi no Kuni,"

"Begitukah?" tanggap malas Tsunade, dia sudah kehilangan mood-nya untuk berbicara dengan Naruto, padahal yang disampaikan Naruto adalah sebuah berita besar baginya, karena akan bertemu lagi dengan Menma yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.

Naruto tidak memperdulikan nada bicara Tsunade, "Konoha akan sangat bergantung kepada Menma setelah ini, karena Kyuubi yang tersegel dalam tubuhnya itulah, yang paling diinginkan Akatsuki," Naruto menatap Tsunade dan kemudian untuk sekali lagi membungkuk sesaat, "Aku akan kembali menjalani misi Hokage-sama, tolong sampaikan salamku kepada Hatake-san, karena aku tidak sempat untuk menemuinya." Dan setelah mengucapkan itu Naruto menghilang, menyisahkan angin-angin yang mengitari tempat ia berdiri tadi sebelum menghilang.

Dan Tsunade disana hanya memandangi kepergian Naruto dengan raut wajah yang sulit diartikan ...


Saat mereka sampai di Konoha pagi harinya, Menma dan Jiraya merasakan perasaan mereka lebih baik, perjalanan panjang yang mereka tempuh memang melelahkan, tapi semua itu seakan terbayar dengan mereka yang telah sampai di Konoha.

Penjaga gerbang Konoha—Izumo dan Kotetsu, melihat mereka berjalan melewati gerbang memasang ekspresi gembira, ini adalah suatu berita besar yang ditunggu-tunggu sebagian kecil penduduk Konoha.

Sebelum Izumo dan Kotetsu sempat menyapa mereka berdua, Menma terlebih dahulu bergerak melepas tas sandangnya dan berlari menuju tiang penyangga listrik kemudian menapakinya hingga berdiri di pangkal tiang itu.

Menma tersenyum lebar menatap keseluruhan Konoha dari tempatnya berdiri, dia merentangkan kedua tangannya, "KONOHA, OMATASE, 'TTEBAYOU!" Teriak Menma.

Jiraya yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Yare-yare." Gumam Jiraya, dia kemudian mengalihkan pandangan kearah pondok kecil di dekat gerbang. "Woo… Izumo dan Kotetsu, kah?"

Izumo dan Kotetsu melihat Jiraya, "Domo, Jiraya-sama, kami harap perjalanan anda lancar-lancar saja," ucap Izumo, kemudian mereka berdua membungkuk sebentar kepada Jiraya.

"Yaah! kalian berdua sama sekali tidak berubah ternyata," senyum nostalgia mengembang di wajah Jiraya setelah mengucapkan itu.

"Aah iya, anda pun tidak begitu mengalami perubahan, Jiraya-sama," balas Kotetsu.

"Hokage-sama dan yang lainnya akan merasa senang mengetahui kedatangan kalian, Jiraya-sama," terang Izumo.

"Hmm.. hmm.. sepertinya begitu, dua tahun lebih tidak bertemu, Tsunade sudah pasti merindukan aku," ujar Jiraya dengan ekspresi puas, dia berkecak pinggang dan mengangguk-anggukan kepalanya.

"Kuharap akan seperti itu, Jiraya-sama/kuharap akan seperti itu, Jiraya-sama," Izumo dan Kotetsu dengan wajah yang berseri-seri serempak mengatakan itu kepada Jiraya.

Jiraya dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya, matanya menatap suram kepada dua penjaga gerbang itu, "Apa barusan kalian bermaksud mengejekku?"

Izumo dan Kotetsu berkeringat dingin merasakan nada suram di balik pertanyaan Jiraya, "Ah, tidak-tidak Jiraya-sama, kami bukan bermaksud. Eh, untuk—" Kotetsu sudah tidak tahu ingin mengatakan apa. Sedangkan Izumo, tenggorokannya tercekat merasakan hawa dingin dari Jiraya.

"Akan kuajari kalian tentang tatakrama, Gaki!" Jiraya dengan wajah mengerikan mengangkat tangan kanannya yang terkepal, matanya bersinar merah, bak seorang iblis.

"Ochitsuke, Jiraya-sama! Kami tidak—" Kotetsu semakin panik, matanya melotot melihat Jiraya yang melompat kearahnya. Si Izumo, dia mengap-mengap seperti lupa cara bernapas.

"Iku ze omae—" belum selesai mengatakannya, Jiraya merasakan ada kaki yang menghantam wajah kanannya, "NANII GOTO?!" Teriak Jiraya disaat dirinya melayang, kemudian menghantam dinding sebelah gerbang.

Tsunade menapaki kakinya di tanah setelah melayangkan tendangan yang membuat terlempar Jiraya tadi.

"BAA-CHAN! AITAKATT—" Tsunade dengan cepat membalikkan tubuhnya untuk melempar Menma pakai kaki, karena tiba-tiba datang dengan ingin memeluknya.

"GAAHHH!" Menma tersedak karena tendangan Tsunade, dan membuat tubuhnya menghantam pagar kayu hingga hancur berantakan.

Izumo dan Kotetsu yang melihat semua kejadian itu, wajah mereka menegang dan memucat, ada banyak bulir-bulir keringat sebesar biji jagung mengalir deras dari belakang kepala mereka, 'Abunee!' batin mereka serempak.

"Kalian berdua masih saja bodoh," ujar Tsunade menatap tempat mendarat Menma, "Hahh… aku jadi khawatir mendengar hasil latihanmu, Menma," lanjutnya, kemudian berjalan ingin menuju gedung Hokage.

"Kalian berdua, cepat ikut aku!" Perintah Tsunade tanpa menoleh.

"HA'I!" Menma dan Jiraya berdiri terseok-seok untuk cepat-cepat menyusul Tsunade.

"Yokatta ne, Izumo," ucap Kotetsu kepada teman penyaksinya.

"Aah, hounto ni." Pungkas Izumo. Wajah mereka berdua melegah.


Setiap lima desa ninja besar selalu memiliki ciri-cirinya tersendiri. Konoha disebut desa ninja tersembunyi karena letak geografisnya yang menjorok jauh kedalam hutan. Tepat di tengah-tengah hutan dan tidak terlihat, dan benar-benar tertutupi.

Sedangkan Sunagakure. Desa ini, sangat kering dan berhembus. Semua bumi Sunagakure hanya diisi dengan pasir, dan angin yang selalu kuat berlari. Tidak heran, jika para ninja Sunagakure adalah spesialis elemen angin.

Bahkan luasnya pasir yang menjadi bumi Sunagakure sangat terbentang. Namun, itu tidak menjadi sebuah masalah bagi ninja-ninja yang memang handal akan kondisi tanah Sunagakure.

Seperti halnya dua orang yang eksentrik dengan pakaiannya—jubah yang panjang nan lebar berwarna hitam, serta aksen awan merah. Dua orang itu menggunakan topi caping yang menaungi kepala mereka, membuat wajah mereka tersembunyi dan tak dikenali.

"Sasori-dana, ini lebih mudah dari yang dikatakan oleh ketua, ya," salah satu dari dua orang itu membuka suara. Tubuhnya lebih seperti manusia biasa ketimbang yang satunya.

"Kita tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, Deidara. Tetaplah waspada!" balas rekannya. Dan yang berbicara ini, tidak sama sekali menunjukkan rupa fisiknya, seperti laiknya orang biasa. Dia lebih mirip seperti robot, yang tua. Dan, hanya dapat bergerak lambat.

"Ya, akan ku lakukan itu jika memang mengalami bahaya." Pungkas Deidara. Mereka berdua sebenarnya adalah anggota kelompok Akatsuki yang sedang dalam keadan misi. Yaitu, menangkap Kazekage pemimpin Sunagakure saat ini. Yang saat ini, ada di sebelah Deidara. Terbaring kaku diatas makhluk berbentuk burung besar buatan, berwarna putih.

Selama beberapa saat mereka berdua terus berjalan. Hingga sampai di titik, dimana mereka berdua melihat bayang-bayang seseorang yang di balik kabut pasir di depan mereka.

Bayang-bayang seseorang itu adalah Naruto, yang kebetulan dia ingin pergi ke desa Sunagakure, untuk bertemu Kazekage dan membuat kesepakatan. Namun, setelah memasuki wilayah pasir Negara angin, dia merasakan dua cakhra yang hanya cukup asing. Sebelum dia menyadari siapa mereka yang ia kenali, adalah dua orang anggota Akatsuki.

"Sepertinya, kalian hampir berhasil menyelesaikan perburuan kalian, Akatsuki," Naruto memulai kontak dengan Deidara dan Sasori, setelah memastikan wujudnya dapat dilihat oleh mereka berdua.

Deidara dan Sasori berhenti berjalan. Orang yang di depan mereka berdua ini, asing bagi mereka. Mereka berdua tidak pernah sekalipun berjumpa dengannya. Namun, insting mereka seperti memperingatkan, bahwa orang yang ada di depan mereka ini, berbahaya.

"Siapa kau?" tanya Sasori dengan suara dingin.

"Aku hanyalah seorang ninja yang melindungi Konoha," jawab Naruto.

"Ninja Konoha? Kenapa kau bisa di sini?" kali ini Deidara yang bertanya. Tidak hanya bertanya, ia pun mulai memasang kesiapan untuk bertarung. Karena dia merasa, setelah ini mereka pasti akan bertarung.

"Tentu saja, untuk merebut Kazekage dari tangan kalian," ujar Naruto dengan nada serius. Ia mulai menguarkan tekanan cakhra-nya, untuk mengimbangi cakhra Deidara yang terlebih dahulu menguar.

Sasori langsung ingin membalas, tapi ia urungkan. Dia menaruh curiga kepada Naruto, untuk apa seorang ninja Konoha terlihat ingin menyelamatkan Kazekage? Karena yang ia tahu, Konoha dan Sunagakure belum memperbaiki hubungan antar mereka pasca invasi di Konoha dua tahun lebih yang lalu. Kemudian, ia menyadari sesuatu.

"Ternyata, kau orang yang selama ini diresahkan oleh Zetsu," ujar Sasori. Dia menatap tajam kepada Naruto yang hanya menampilkan raut datar. "Kau sudah tahu tentang tujuan kami, bukan?"

"Ya, mungkin saja," jawab ambigu Naruto. Ia menyelipkan tangan kanannya di balik jubahnya, kemudian menggenggam gagang katana yang tersemat di pinggang belakangnya.

"Kau yakin dapat menghentikan kami?" Sasori menegakkan tubuh bungkuknya setelah mengatakan itu. Deidara telah bersiap dengan mulut di telapak tangan yang mengunyah tanah liat putih yang baru saja ia ambil dari kantongnya.

"Kalian tidak hanya harus dihentikan," setelah mengatakan itu, Naruto telah berada di hadapan Sasori yang membelalakkan matanya. "Tapi dibunuh!" Naruto menebas kepala Sasori hingga terpisah dari badannya. Kemudian, tubuh Sasori ia tendang kuat hingga terlempar.

Naruto beralih kepada Deidara, dan menatap tajam kepadanya.

Deidara menatap syok kepada Naruto 'Masaka!' batinnya. Kemudian, dia mengeraskan wajahnya dan melayangkan tangan kirinya berniat memukul Naruto. Tapi sebelum itu, ia tidak dapat merasakan tangan kirinya lagi. Tangannya putus, karena Naruto memotongnya dengan katana.

Sebelum Deidara sempat berteriak sakit karena tangannya yang putus, perutnya di sarangi kaki Naruto, dan membuat tubuhnya terlempar dari hadapan Naruto.

Naruto yang ingin bergegas melesat kearah Deidara, terhenti. Tubuhnya menegang dan mata terbelalak. Sasori hadir di belakangnya dengan tubuh yang berbeda dari yang sebelumnya, tubuhnya laiknya manusia biasa—tubuh aslinya.

Sasori memukul tubuh belakang Naruto sekuat-kuatnya. Naruto yang baru menyadari kehadiran Sasori dibuat tidak bisa apa-apa selain menerima pukulan itu.

Naruto terlempar dan berputar menghadap langit. Dia tersedak-sedak kala tubuhnya melayang. Naruto pun mencoba menguatkan dirinya yang menahan sakit di bagian punggungnya. Sebelum ia mencoba untuk berbuat sesuatu untuk membuat dirinya kembali berdiri, dia dikejutkan oleh Sasori yang sudah ada di hadapannya.

Sasori menghantamkan lagi tinjunya dengan sangat keras kearah Naruto. Tapi, Naruto dengan sigap menahannya. Dia menyilangkan kedua tangan melindungi dadanya dari pukulan Sasori.

Pertahanan Naruto tak cukup untuk menahan kekuatan dari pukulan Sasori. Oleh karena itu, pukulan Sasori tetap mendorong tubuh Naruto menghantam tanah. Membuat tanah itu hancur melubang.

Naruto tersedak setelah dirinya menghantam tanah. Tapi, Naruto langsung mengendalikan dirinya. Dia membalik tangannya mencengkram tangan Sasori yang memukulnya, kemudian mengayun tubuh Sasori untuk dihantam menuju tanah di atas kepalanya.

Sasori hanya bisa menerima tubuhnya yang menghantam tanah dibuat Naruto. Dia tersedak dan tak bisa melakukan banyak hal karena salah satu tangannya di tahan Naruto.

Naruto menegakkan kedua kaki untuk melompat menghadap Sasori. Setelah tiba di hadapan Sasori, dia melepas kedua tangannya yang mencengkram tangan Sasori, dan melayangkan tangan kanannya untuk memukul Sasori. Namun, hal itu digagalkan oleh Deidara yang sudah ada di sisinya dengan raut murka. Deidara pun menerjang tubuh Naruto.

Tidak sampai diri situ, dari tangan kanannya. Deidara mengeluarkan burung-burung kecil berwarna putih dari tanah liat, yang terbang dengan cepat kearah Naruto yang masih melayang.

Naruto menegangkan tubuhnya melihat burung-burung hasil jutsu Deidara mengelilingnya. Burung-burung itu tubuhnya mengembung. Naruto melebarkan matanya mengetahui apa yang akan terjadi. Dengan cepat, dia mengubah tubuhnya menjadi sebatang kayu yang menggantikan dirinya untuk diledakkan oleh burung-burung itu.

Deidara menggeram mengetahui Naruto tidak terkena jutsu-nya. Dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Naruto, dan mendapati Naruto yang berdiri agak jauh darinya dengan napas yang tak teratur.

Naruto berdecak. Ada beberapa bagian tubuhnya yang berdenyut nyeri karena terkena serangan musuh. Dia menyelipkan tangan kanannya ke belakang pinggang, kemudian tersadar. Katananya terjatuh entah sejak kapan dari dirinya. Membuatnya menggeram.

Sasori memutuskan mengeluarkan kugutsu terkuatnya—boneka Kazekage ketiga melihat kondisi yang semakin berbahaya. "Deidara, aku akan mendesaknya. Kau serang dia dengan cara apapun!"

Deidara yang mendengar itu hanya mengangguk, wajahnya masih tampak jelas akan kemarahan. Tangannya yang putus masih menjalarkan rasa sakit yang teramat baginya.

Naruto membelalakkan matanya melihat sesuatu yang baru saja Sasori keluarkan. Sesuatu yang benar-benar membuat Naruto semakin dalam keadaan terdesak. Dia mengetahuinya, kugutsu yang baru saja dikeluarkan Sasori itu. Dari rupanya Naruto dapat mengenali bahwa itu adalah Kazekage ketiga, yang dikatakan adalah Kazekage terkuat desa Suna.

'Ini benar-benar di luar dugaanku. Akasuna Sasori. Sudah dipastikan bahwa Akatsuki memang memiliki anggota-anggota yang tidak waras.' Geram batin Naruto.

"Satetsu Kaiho!" Sasori dari kugutsu Kazekage ketiga itu membuat objek dua pasir besi dengan medan magnet berbeda dan menggabungkannnya; menyebabkan peningkatan kekuatan magnet dan daya tolak hingga memecah objek pasir menjadi duri-duri panjang dan besar ke segala arah.

"Mati!" Desis Sasori. Setelah itu, duri-duri panjang itupun bergerak dengan cepat menuju Naruto.

Tubuh serta mata Naruto menegang kuat melihat duri-duri panjang yang menjalar cepat menujunya. Saat duri-duri yang hampir sampai mengenai Naruto. Naruto menutup kedua matanya, dan waktu seakan-akan melambat. 'Naori, pinjamkan aku kekuatanmu.' Bisik Naruto dalam hati. Dan, dengan sigap ia membuka matanya.

"Mangekyou Sharingan!"


Naruto tidak bisa merasakan penglihatannya. Semuanya hanya gelap, pekat. Tidak ada yang bisa ia tangkap dalam pandangannya. Pun, ia tak bisa untuk merasakan apa-apa.

"Naori?"

"Aku disini, Naruto," jawab Naori. Dia yang tepat ada di depan Naruto meraih salah satu tangan Naruto dengan kedua tangannya, dan menggenggam dengan lembut; menangkup.

Naruto tersenyum lembut. Dia dapat merasakan kedua telapak tangan halus yang menyentuh kulit tangannya. Dan, sisipan nada khawatir dari suara yang menyapa pendengarannya. Itu membuat hatinya dapat merasa lebih baik.

"Aku tidak apa-apa, Naori. Aku akan menyelesaikan ini," ujar Naruto dengan nada yang lembut untuk menenangkan Naori.

Naori hanya memandang Naruto dengan pendar khawatir. Matanya yang terlihat tidak biasa—pupilnya yang hitam, ditimpa sesuatu seperti kelopak bunga berjumlah tiga yang berjejer melingkar berwarna merah, mata itu memandang Naruto dengan bias-bias yang beragam.

"Siapa yang kau lawan? Sampai-sampai kau menggunakan Mangekyou," tanya Naori masih dengan nada khawatirnya.

Naruto tersenyum menenangkan sekali lagi. Dia balas mengenggam satu tangan Naori.

"Akatsuki,.."

.