MEMBURU JAWABAN


.

Cuaca telah gelap sewaktu Naruto bangun di ranjang, terengah-engah. Ruangan tempat perbaringannya terasa dingin; bulu-bulu di lengan dan bahunya meremang. Saat itu beberapa jam sebelum fajar—waktu ketika tidak ada yang bergerak dan kehidupan menunggu sentuhan pertama matahari.

Jantungnya berdebar-debar kencang saat firasat mengerikan mencengkram dirinya. Rasanya seperti ada selimut yang dibentangkan menutupi dunia, dan sudut-sudut tergelapnya menutupi ruangan itu. Namun, sudut-sudut tergelap yang ia maksud bukanlah yang ada di ruangan itu, tetapi dari matanya sendiri kegelapan-kegelapan itu dihamparkan. Meski ia masih dapat mampu merasakan penglihatannya.

Naruto dengan gelisah mencoba meraba-raba matanya, dan ia pun merasakan sesuatu yang menutupi matanya; lilitan perban. Ia mengerut kebingunan setelah menyadari sesuatu yang menutupi matanya itu adalah lilitan perban.

Kebingunan bercampur kegelisahan yang menyelubunginya tanpa sadar mendorong ia menarik dan mengoyak paksa lilitan perban pada matanya.

Pertama-tama ia merasakan penglihatannya sangat buram, kemudian perlahan-lahan mulai membaik dan kembali kepada kemampuan melihat dirinya sebelum ini, hingga kian lama kemampuan melihatnya bertambah jauh sangat kuat. Dan ia pun semakin gelisah, karena dari ingatan terakhirnya, matanya tidaklah memiliki daya untuk melihat lagi.

"Naruto!"

Naruto tersentak mendengar panggilan untuknya. Ia buru-buru membawa penglihatannya ke arah asal suara itu, dan mendapati Shisui dan Itachi yang berdiri risau di ambang pintu yang terbuka, bahkan suara terbuka dan bergesernya pintu itu tak ia sadari.

Shisui dan Itachi pun tergesa-gesa setengah berlari menghampiri Naruto. Namun, dari yang Naruto tangkap, matanya melihat gerakan-gerakan mereka sangat lambat, ia merasa seperti waktunya melompat-lompat mundur melawan waktu-waktu yang seharusnya dari Shisui dan Itachi.


Naruto melihat duri-duri panjang dan besar itu yang mengarah kepadanya bergerak dengan sangat lambat. Mangekyou pada mata kirinya berputar-putar gila, dan mata itu bergerak cepat mengalihkan direksinya ke arah Deidara yang berdiri diam di samping Sasori. Dengan duri-duri itu yang telah berjarak seperseratus meter dan hampir menujah habis dirinya, wujud Naruto menghilang dan digantikan dengan wujud Deidara yang berdiri membatu di sana.

Setelah berkedip, Deidara merasakan sakit yang teramat sangat memenuhi semua raganya. Lewat matanya yang membelalak lebar, penglihatannya menangkap sesuatu yang bukan ia lihat sebelumnya; hamparan padang pasir luas, ini berbeda sebab yang ia lihat dari detik-detik sebelumnya adalah Naruto yang tubuhnya hampir tercabik-cabik oleh jutsu Sasori.

Sasori beranggapan jutsu-nya telah mengenai target, secepatnya ia langsung menambah intensitas racun yang ia kerahkan lewat duri-duri itu untuk melumpuhkan sekaligus langsung membunuh targetnya, yang belum ia sadari bahwa itu adalah Deidara. Sasori menyeringai, ia menggeser sedikit kepalanya dari balik punggung Kugutsu Kazekage ketiganya, detik itu juga pun ia terbelalak.

Deidara merasakan tubuhnya mati rasa, sakit yang sangat luar biasa tadi ia rasakan dalam sekejap menghilang, digantikan dengan ia yang tidak bisa merasakan apa-apa lagi pada tubuhnya. Napasnya tercekat, matanya melihat duri-duri itu menembus, mengoyak dada serta tubuh bagian lainnya.

Sasori karena kaget yang menghantamnya, tanpa sadar melepas jutsu-nya secara langsung yang membuat duri-duri yang menusuk Deidara tertarik paksa dari tubuh rekannya itu. Akibatnya, darah menembak deras keluar dari tubuh berantakan Deidara sehingga membuat Deidara bermandikan darahnya sendiri.

Tubuh Deidara lunglai dan terjatuh kehilangan dayanya, sehingga dapat dipastikan bahwa ia telah mati. Sasori yang melihat itu, tubuhnya melemas tanpa sadar. Namun, sedetik kemudian tubuhnya terlonjak. Ada sesuatu yang menusuk dirinya hingga menembus jantungnya.

Naruto dengan kunai chakra-nya yang telah ia lapisi dengan elemen angin menujah jantung Sasori dari balik punggungnya. Mangekyou sharinggan masih aktif di kedua bola matanya, dengan mengekyou sebelah kiri yang masih berputar perlahan.

Sasori langsung menoleh kebelakang, dan mendapati Naruto yang sedikit berbeda dari sebelumnya yang ia lihat."Matamu?! bagaimana bi—"

Naruto tidak membiarkan Sasori melanjutkan perkataannya, ia menambah intensitas elemen angin pada kunai chakra-nya sehingga membuat suara Sasori tercekat.

"Waktu kalian telah habis!" ujar Naruto sedingin es.

Bukan rasa sakit yang diterima Sasori, emosinya malah diselimuti tebal akan kemarahan. Ia berusaha melakukan sesuatu untuk menghajar Naruto, namun tak sanggup ia lakukan karena lagi-lagi gelombang chakra mengaduk-aduk bagian dalam jantungnya, dan kali ini lebih besar dan lebih kuat.

Ketika Sasori menyadari dirinya akan mati, dia sekali lagi berusaha menoleh untuk memandang Naruto di balik punggungnya. Hanya sepersekian detik melihat raut wajah Naruto yang menyiratkan sesuatu yang belum sempat ia pahami, jantungnya keburu meledak dan hancur, membuatnya mati seketika karena kehilangan jantung yang selama ini menjadi pemasok chakra untuk ia hidup dalam tubuh bonekanya ini.

Naruto mendorong menjatuhkan tubuh Sasori yang telah mati dari tangan kanannya; melepaskan pedang chakra-nya. Naruto memandang tubuh Sasori yang tergeletak di depannya dengan pasif, kemudian beralih kepada tubuh Deidara yang juga tergeletak sedikit jauh dari tempatnya berdiri, ia pun menonaktifkan Mangekyou sharinggan sembari menghembuskan napas berat.

Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali sebab merasa perih di bagian sebelah kiri. Kemudian ia mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Kazekage Suna, dan ia menemukan tak begitu jauh dari dirinya, Gaara berbaring mendiami hamparan pasir.


Tusukan-tusukan samar rasa nyeri membangunkan Naruto. Setiap denyut aliran darah ke kepalanya membawa arus rasa sakit yang kentara. Ia membuka matanya dengan susah payah dan mengernyit; rasa pusing yang menyerang seperti mengaduk-aduk isi kepalanya. Ia pun mencoba untuk duduk meskipun tertatih.

"Naruto!"

Naruto menoleh ke arah sebelah kirinya dan mendapati Shisui sedang duduk di kursi tepat di sebelah ranjangnya, Shisui menampilkan ekspresi legah pada wajahnya.

"Syukurlah kau sudah sadar, Naruto," ucap Shisui.

Naruto mengernyit bingung."Apa yang terjadi padaku?"

Shisui yang mendengar pertanyaan Naruto seketika menahan napas. Ia dilanda kebimbangan antara memberikan jawaban atau menahan suaranya untuk keluar. Ia teringat akan bagaimana reaksi Naruto ketika mendengar apa yang terjadi sebelumnya, mengingat hal itu, ia menjadi tidak tega untuk membawa ingatan itu lagi kepada Naruto.

"Shisui, Ada apa sebenarnya?!" Naruto kembali bertanya dengan nada memaksa.

Shisui gelagapan mendengar pertanyaan lagi dari Naruto, ia bergegas memandang wajah Naruto tepat di matanya yang kini telah berbeda dari milik aslinya—dua buah bola mata berwarna hitam kelam. Mata yang sama seperti yang ia miliki.

"Naruto, maafkan aku." Ucap Shisui lirih.

"Apa maksudmu?" Naruto semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

Shisui hanya mampu tertunduk, mulutnya tak memiliki daya untuk bergerak menjawab Naruto.

Rasa geram mulai menyelimuti Naruto melihat Shisui yang hanya diam tak menjawab pertanyaannya, ia mencoba untuk menuding Shisui lebih lanjut sebelum rasa sakit dengan tiba-tiba menyerang kepalanya, membuatnya merintih.

Shisui terkesiap mendengar rintihan Naruto, matanya menangkap Naruto yang laiknya orang kesakitan dan mencengkram sisi kepalanya dengan kedua tangan.

Seketika, semua bayangan tentang semua pertanyaan berputar dalam kepala Naruto. Semua ingatan berebut sedang ingin dikenang. Tentang kemarahan yang melingkupinya, tentang kesepian yang menaunginya, tentang ketakutan yang mendekapnya, tentang kerapuhan yang menggerogotinya, kemudian pengorbanan dan kematian Naori.

Semua ingatan berputar berulang kali hingga membuatnya menangis. Kini kenangan itu semakin membeludak. Terbangun dirinya di dalam ruangan rumah sakit, dengan rasa gelisah tak beralasan. Pembenaran-pembenaran yang disampaikan Shisui dan Itachi. Penolakan-penolakan yang coba ia utarakan. Hingga penerimaan yang tak bisa untuk ia tapik. Semua menjelaskan kebingungannya yang sedari tadi berputar.

Shisui memandang sendu ke arah Naruto. Karsanya mendongkrak dirinya untuk mencoba melakukan sesuatu untuk menghibur Naruto, namun tubuhnya sama sekali tidak memiliki daya untuk mewujudkan itu.

Naruto hanya menangis keras yang tak bersuara, degup jantungnya sekencang aliran air matanya. Tangan yang tadi mencengkram sisi kepalanya berganti tugas untuk menangkup wajahnya.

Di ambang pintu, berdiri diam Itachi yang kehadirannya tak disadari oleh kedua sahabatnya yang diliputi kesedihan yang mendalam, atau yang lebih kronis adalah Naruto. Dengan berat hati pun ia melangkah mendekati mereka berdua, hingga sampailah ia tepat di sebelah Shisui yang berdiri tertunduk.

Dari tempatnya berdiri, lewat matanya Itachi seakan-akan merasakan sebagian kecil dari kesedihan yang dialami Naruto. Air mata mengenang di pelupuk matanya tanpa ia sadari. Ia mengeraskan rahangnya dan mencengkram kuat kedua telapak tangannya.

"Naruto." Itachi berucap dengan nada yang amat lirih, namun karena kesunyian yang menjadi nada ruangan itu membuat kedua sahabatnya dapat mendengar.

Itachi yang telah mendapatkan perhatian dari kedua sahabatnya, menguatkan niatnya untuk menyampaikan sesuatu, yang sama sekali bukan sebuah penghiburan untuk mereka berdua.

"Pemakaman Naori, akan dilakukan besok." Pungkas Itachi selirih-lirihnya. Dan di sana, Naruto hanya memandangnya dengan ekspresi kosong. Namun, kedua bola mata hitam yang ada pada Naruto seakan menyiratkan sesuatu, seperti setengahnya dari sebuah kehadiran.


Saat sore, Naruto telah sampai di tengah-tengah gerbang desa Sunagakure. Ia membopong Gaara tepat di punggungnya, dengan Gaara yang masih tak sadarkan diri, dan secara kasat, kondisi Gaara terlihat belumlah benar-benar stabil, namun Naruto telah sedikit melakukan yang ia mampu untuk pemulihan kondisi Gaara sebelumnya.

Tepat di depan gerbang itu, telah berdiri beberapa orang ninja Sunagakure, yang tiga darinya dapat dikenali sebagai Baki, Kankuro dan Temari. Secara bersamaan mereka saling memandang, antara Naruto kepada beberapa ninja Suna, pun sebaliknya.

Para ninja Sunagakure terkejut bukan kepalang, melihat Gaara yang sedang dibopong oleh seseorang. Sebagian besar dari mereka sama sekali tidak mengenali orang itu. Melawan kekagetannya, Baki terlebih dahulu bergegas menghampiri Naruto beserta Gaara, dan serentak diikuti oleh ninja Suna yang lain.

Sesampainya Baki kemudian ninja Suna yang menyusulnya tepat di hadapan Naruto yang membopong Gaara, Baki hendak langsung menuding Naruto berbagai rentetan pertanyaan yang menggerogotinya, namun langsung ditahan Naruto.

"Aku tahu kalian semua memiliki banyak pertanyaan mengenai apa yang terjadi, tapi sebelum itu, kita harus membawa Kazekage kepada ninja medis untuk mengobatinya, aku hanya melakukan sedikit yang aku mampu untuk meminimalisir keadaannya tadi." Jelas Naruto.

Ninja-ninja Suna yang mendengarnya serentak tanpa membantah menuruti perkataan Naruto. Kemudian, mereka semua pun termasuk Naruto bergegas untuk membawa Gaara ke rumah sakit ninja desa Sunagakure, agar sang Kazekage mendapatkan perawatan lebih lanjut.


Di rumah sakit ninja desa Sunagakure, dalam ruangan terbaiknya, duduklah lima orang dengan berdekatan, dan satu orang yang terbaring lemah tak sadarkan diri di atas ranjang dengan beberapa peralatan medis yang tersemat pada tubuhnya.

Seseorang yang tak sadarkan diri itu adalah Gaara, sedangkan lima orang yang terjaga lainnya itu adalah Naruto, Chiyo, Temari, Baki dan Kankuro. Chiyo yang mendengar Kazekage yang sempat diculik telah diselamatkan dan dibawa ke rumah sakit, langsung bergegas pergi ke sana tempat Kazekage diantar dan akan dirawat.

Sehingga, berkumpul di sini sebagian kecil dari ninja Suna untuk mewakili yang lain mengutarakan kebingungan-kebingungan yang menuntut jawaban dari sang penyelamat Kazekage mereka.

"Sebelumnya, bisa anda perkenalkan diri? Saya memang samar-samar mengingat wajah anda, namun kami di sini tidak begitu mengenal anda," Baki menggunakan nada ramah terlebih dahulu dan mulai bertanya kepada Naruto.

Naruto hendak menjawab pertanyaan itu, namun terlebih dahulu dipotong oleh Chiyo yang duluan angkat suara.

"Aku sangat mengenalnya! Sudah cukup lama kita tidak bertemu, Naruto," ujar Chiyo dengan seulas senyum hangat di wajah rapuhnya.

Naruto membalasnya dengan memandang wajah Chiyo ramah, "Ha'I, Chiyo-baasama. Sungguh senang dapat bertemu lagi dengan anda," jawab Naruto disertai seulas senyum penuh makna.

Ketika melihat senyum Naruto yang disampaikan untuknya, Chiyo merasa emosinya tergugah, matanya berlinang menyampirkan haru-haru yang pecah. Ia tanpa sadar bergerak membawa tubuhnya kepada Naruto, untuk mendekap pemuda itu dalam ombak rindu yang menggulung-gulung isi dirinya.

Naruto yang melihat Chiyo bergerak ke arahnya, sontak berdiri sebelum mendapatkan surat rindu yang disampaikan secara langsung oleh Chiyo itu. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memudahkan Chiyo memeluknya, pun ia juga mengelus-elus punggung renta Chiyo dengan santun.

Chiyo sedikit menangis, namun penuh akan keharuan ketika membawa Naruto dalam dekapannya. "Oh Kami-sama, syukurlah. Aku masih bertemu lagi denganmu, Naruto."

Senyum ramah masih tidak luntur dari wajah Naruto, ia pun membalas dengan hangat pelukan Chiyo untuk menyampaikan juga rindu-rindunya yang membucah kepada sosok itu. Namun, ia hanya diam tak menjawab Chiyo.

Chiyo melepaskan pelukannya akan Naruto, ia mendongak melihat Naruto yang lebih tinggi dari dirinya. Seraya menyampirkan kedua tangannya di pundak Naruto, emosi wajahnya masih jelas menyiratkan haru biru kerinduan. Namun, selain itu binar matanya juga menunjukkan kekhawatiran.

"Kau benar-benar sudah berjuang keras, Naruto," ujar Chiyo. Tak perlu ia mengungkapkan maksudnya mengatakan itu, cukup dirinya dan pemuda ini yang tahu, tanpa perlu melibatkan semua orang selain mereka di dalam ruangan ini untuk tahu.

Kedua bola mata hitam Naruto meredup, ia hanya tersenyum lemah membalas perkataan dari Chiyo. Chiyo balas memandangnya dengan senyum duka, ia seperti merasakan, meski hanya serpihan kecil dari semua bentuk kehilangan dan kesepian Naruto.

"Arigatou, Chiyo-baasama, aku bersyukur dapat bertemu lagi dengan anda, dan anda terlihat sehat." Ujar Naruto.

Chiyo kembali tersenyum hangat, dan sekali lagi ia mendekap tubuh kuat namun rapuh di dalam itu untuk sesaat, "Aku juga berharap kau juga sehat, Naruto," balas Chiyo dengan keprihatinan.

Hanya seulas senyum simpul yang dapat Naruto utarakan sebagai jawaban. Ia pun membalas pelukan itu kembali tanpa meninggalkan kesantunannya.

Setelah mereka sama-sama saling menyampaikan rindu yang menggigiti sanubari masing-masing, mereka kemudian sama-sama kembali duduk di tempat sebelumnya.

Sedangkan ketiga orang yang menjadi penonton semua adegan perihal hati yang ditunjukkan dengan kehati-hatian itu, belum mau untuk angkat bicara. Mereka merasa cangung, mereka merasa belum saatnya untuk mereka berada di sini.

Chiyo yang menyadari kecangungan yang dialami ketiga saudara sedesanya mencoba mengganti suasana mereka. "Maaf untuk kejadian yang seharusnya tidak pada tempatnya tadi," ucapnya.

Kankuro yang duluan tersentak mendengar penuturan Chiyo, segera mengalikan pandangannya dengan gelagapan ke arah Chiyo. "A-ah, tidak, Chiyo-sama, kami mengerti," balas Kankuro dengan cepat.

"Benar, Chiyo-sama, kami yang meminta maaf karena mungkin telah mengganggu nostalgia kalian," Temari ikut memberikan balasan dengan hati-hati.

Chiyo hanya tersenyum, Naruto pun ikut tersenyum ketika melihat kegamangan yang melanda orang-orang itu.

Chiyo pun mengembalikan direksinya kepada Naruto, sembari tetap tersenyum. "Naruto adalah ninja Konoha yang sangat luar biasa, dan sudah ku anggap cucuku sendiri, beserta sahabat-sahabatnya, terutama dia." Jelas Chiyo.

Ketiga orang itu, Temari, Kankuro dan Baki kebingungan dengan 'dia' yang dimaksud oleh Chiyo. Namun, ketika hendak bertanya, mereka melihat senyum simpul Naruto yang menunjukkan makna lain, dan mereka seakan paham dengan makna itu. Karena itu, mereka mengubur dalam-dalam rasa ingin tahu mereka.

Naruto sadar menjadi pusat perhatian dari empat orang teman bicaranya itu. Tanpa mengakhiri senyum simpulnya, matanya memandang ramah kepada mereka. "Chiyo-baasama terlalu melebih-lebihkan, aku hanya ninja Konoha yang biasa-biasa saja," ucap Naruto membumi.

Namun empat orang di sana menyangkal keras pengakuan Naruto sebagai ninja Konoha yang biasa saja. Naruto telah menyelamatkan Kazekage mereka dari Akatsuki yang sangat berbahaya, mana mungkin ninja yang seperti itu hanya memiliki kemampuan yang biasa-biasa saja. Terlebih bagi Chiyo, dia yang sangat menyangkal bahwa Naruto hanyalah ninja biasa. Karena dari mereka semua, Chiyo yang paling mengerti akan kekuatan Naruto.

"Maaf sebelum ini, tapi ada suatu hal penting yang ingin aku sampaikan kepada kalian. Sebenarnya aku ingin menyampaikan ini kepada Kazekage terlebih dahulu, namun kurasa, tidak ada salahnya menyampaikan ini lebih dulu kepada kalian." Ujar Naruto mengambil perhatian mereka lagi.

Dan setelah perhatian dari empat orang itu ia dapatkan lagi, Naruto mulai menerangkan maksud sebenarnya ia berniat datang ke Sunagakure yang terlepas dari ia yang telah menyelamatkan Gaara dari Akatsuki.

Mereka berempat sebagai yang mewakili Kazekage berserta semua ninja Suna yang lain, mendengar niat-niat Naruto dengan membawa nama Konoha untuk menyatukan kekuatan antara desa mereka. Bahkan, Naruto juga menyampaikan, bahwa ia pun akan mencoba untuk mengambil kesepakatan dari desa besar ninja yang lain. Untuk sama-sama menghadapi bahaya Akatsuki atau kejahatan-kejahatan yang lain, yang dapat menghancurkan keselamatan dunia ninja.

Empat ninja Sunagakure yang mendengar keinginan yang sangat kasat dari Naruto, mana mungkin mereka dapat menolak. "Mana mungkin kami menolak keinginan yang mulia dari pahlawan kami." Ujar Chiyo dengan senyum lembut di wajah tuanya.

Naruto yang mendengar jawaban dari Chiyo mengulas senyum syukur pada wajahnya. Dan, ketika ia melihat satu persatu antara Baki, Kankuro dan Temari, yang raut mereka memberikan sebuah penerimaan yang sepenuhnya, wajahnya tak bisa untuk tidak menunjukkan ekspresi kelegaan yang tidak berlebihan.


Pagi kelabu dan mendung diiringi suhu yang sangat dingin. Hutan sunyi. Angin selain menuturkan nada yang berisik, juga mengirim hawa yang tidak membuat nyaman sehingga membuat Naruto tersentak dari tak sadarkan dirinya, napasnya memburu berat.

Naruto mendudukkan dirinya di atas ranjang dengan gelisah. Tiba-tiba, rasa sakit menyengat-nyengat pundak kanan yang langsung ia cengkram dengan tangan kirinya seraya merintih.

Naori yang sedang tertidur, dengan kepalanya memapah pada kedua tangannya yang berlipat dan bertumpu di sisi ranjang yang ditempati Naruto, sontak terlonjak karena merasakan pergerakan yang menganggunya sekaligus mendengar suara rintihan Naruto.

Matanya masih mengerjap-ngerjap; cahaya remang-remang dari lampu kamar di sebelah ranjang membuat penglihatannya seperti diitari kunang-kunang. Kemudian, dengan mata yang kembali baik, Naori melihat Naruto yang mencengkram pundak kanannya dengan raut wajah kesakitan.

"Naruto!" Seraya menyebut nama itu dengan penuh kekhawatiran, Naori juga dengan sigap berpindah duduk di tepi ranjang, dan menyentuh punggung tangan Naruto yang mencengkram pundak kanannya itu.

Naruto mendengar namanya disebut oleh suara yang sangat dikenalinya, menoleh ke arah asal suara itu. Dengan masih menahan rasa sakit pada pundak kanannya, Naruto memandang raut khawatir yang terpatri pada wajah Naori.

"Naori, ada dimana kita? Apa yang terjadi?" dua pertanyaan Naruto menghambur kepada pendengaran Naori.

Naori yang mendengarnya dengan prihatin mengelus punggung tangan Naruto yang ia sentuh, "Kita sedang di gubuk. Ada ninja Suna yang menyelamatkan kita pada waktu itu." jawab Naori dengan lembut.

"Ninja Suna, siapa?" tanya Naruto lagi. Namun, belum sempat dijawab oleh Naori. Dua orang masuk ke dalam kamar itu.

Chiyo dan Ebizo tanpa mengetuk pintu, langsung masuk ke dalam kamar yang menaungi Naruto dan Naori. Meski hanya gubuk, tempat ini lebih dari mampu memuat dua kamar untuk ditempati.

Setelah berada di dalam kamar itu, Chiyo serta Ebizo mendapati Naruto yang akhirnya siuman dengan Naori yang duduk di sisinya.

"Akhirnya kau sadar, nak." Ucap Ebizo, seraya berjalan mendekati Naruto dan Naori diikuti oleh Chiyo.

Naruto memandang bingung dua orang yang tampak lanjut usia berjalan mendekatinya. Sebelum ia ingin bertanya kepada mereka, Naori lebih dulu mengambil alih untuk menjawab.

"Mereka orang yang menyelamatkan kita, Naruto. Ebizo-san dan Chiyo-san."

Naruto mengangguk mengerti mendengarnya. Sebisa mungkin, ia menunjukkan wajah ramah kepada dua orang itu di tengah-tengah sakit yang menderanya.

"Terimakasih banyak atas pertolongannya, tuan, nyonya." Naruto menuturkan rasa terima kasihnya dengan suara lemah.

"Mah, tidak perlu dipikirkan, nak. Kami hanya kebetulan menemukan kalian waktu itu." ujar Ebizo.

Sedangkan Chiyo dahinya mengernyit gemas. "Apa benar aku terlihat tua." Gumamnya, namun tidak ada yang memedulikan, sehingga ia pun hanya menghela napas.

Naruto yang tidak sabar, langsung menuturkan pertanyaan ingin mengetahui semua yang sudah terjadi, setelah pertarungannya dan Naori melawan dua orang ninja Iwagakure.

"Bisa anda jelaskan, apa yang setelah itu terjadi kepada saya?"

Sebelum Naruto mendapatkan jawaban yang menjelaskan dari Ebizo, dengan tiba-tiba rasa sakit kembali menyerangnya secara lebih kuat, bahkan menjalar ke sekujur tubuh hingga mendobrak-dobrak ke permukaannya. Membuat ia membungkukkan tubuhnya dan kedua tangannya memeluk erat tubuhnya sendiri.

"Naruto!" Naori kembali terlonjak penuh kekhawatiran. Rintihan Naruto semakin kasat.

Ebizo dan Chiyo sama terkejutnya dengan Naori, Chiyo buru-buru mendekat dan menghampiri Naruto untuk melakukan pengecekan pada kondisinya.

"Nak, istirahatlah terlebih dahulu. Kondisi tubuhmu masih belum terlalu baik untuk dibiarkan bergerak yang berlebihan." Chiyo menasehati Naruto setelah mendekat dan mengecek sedikit keadaannya.

"Benar, kau masih memerlukan istirahat yang banyak untuk memulihkan tubuhmu. menetaplah lebih lama di sini, kami akan mencoba untuk membantumu." Ebizo ikut menasehati Naruto.

Naruto yang menerima nasehat-nasehat itu hanya meringis menahan sakit yang kian kentara. Ia pun menuruti saja tubuhnya yang dituntun untuk berbaring oleh Naori.

Sedangkan Chiyo pergi mengambil ramuan obat yang bisa untuk diberikan kepada Naruto, ramuan untuk menetralisir rasa sakit Naruto dan membuatnya tertidur.

"Kau menerima luka bakar dan luka dalam yang parah setelah kami menemukanmu nak. Itu sangat berbahaya jika kau paksakan untuk bergerak." Ebizo menerangkan kondisi Naruto sepenuhnya. Terbukti dengan tubuh bagian atas Naruto semua dililiti oleh perban, sedangkan di kepala, hanya bagian dahinya yang dililit melingkar dengan perban.

Kemudian Chiyo kembali, membawa serta mortar keramik berwarna putih yang di dalamnya terdapat ramuan obat. Chiyo langsung menghampiri Naruto untuk memberikan ramuan itu untuk diminum olehnya.

Naori membantu Naruto menegakkan tubuhnya sedikit untuk meminum ramuan itu, dan Chiyo yang membantu meminumkannya kepada Naruto.

Setelah semua ramuan habis ditenggak oleh Naruto, Naori kembali membaringkan tubuhnya. Berangsur-angsur meski perlahan, sakit yang menderanya mulai menyusut.

Wajah Naruto yang tampak lemah, memandang Chiyo yang berdiri di sisi ranjang. Ia memaksakan bibirnya untuk tersenyum. "Terimakasih."

Chiyo tersenyum membalasnya. "Istirahatlah, ramuan itu akan membantumu tertidur."

Naruto menuruti perkataan Chiyo, ia memejamkan matanya. Meski rasa sakit masih sangat terasa di beberapa bagian tubuhnya, namun karena rasa kantuk yang menyerang memiliki daya yang lebih kuat, lambat laun pun ia kembali tertidur.

Setelah memastikan Naruto telah tertidur, ketiga orang yang terjaga di sana sama-sama mengulas sebuah senyum simpul.

"Kau jagalah dia nak. Tunggu sampai dia sadar kembali." ujar Ebizo kepada Naori.

Naori mengangguk dan tersenyum. "Pasti, Naruto tidak akan aku tinggalkan."

Mendengarnya, Ebizo dan Chiyo hanya kembali tersenyum. Setelah rasa-rasanya keberadaan mereka sudah cukup di sini, Ebizo dan Chiyo beranjak meninggalkan kamar itu meninggalkan Naori yang seutuhnya menemani serta menunggui Naruto.

Di dalam kamar, hanya tinggal Naori sendirian memandang Naruto yang tampak cukup pulas tertidur. Ia tersenyum lemah lembut, matanya membendung kasih sayang yang menumpuk ketika melihat wajah Naruto.

.