KEGIGIHAN


.

Di Sunagakure, malam sedang ramah-ramahnya. Penduduk desa itu sedang dalam penghayatan rasa syukur yang sangat berterima kasih akan keselamatan mereka dan pemimpin desa mereka.

Sebelumnya, mereka tidaklah benar-benar merasa tenang. Karena yang mereka dapati hanyalah keselamatan mereka sendiri, sedangkan Gaara, Kazekage mereka dibawa pergi oleh Akatsuki dalam keadaan kritis setelah menyelamatkan mereka.

Kemudian di penghujung sore lalu, mereka mendapati seorang ninja yang tak mereka kenali. Ninja bersurai pirang yang tak menunjukkan daripada dirinya tanda pengenal bahwa ninja itu berasal dari desa mana.

Namun, melihat Gaara, Kazekage mereka dibopong dengan baik-baik oleh ninja itu membuat mereka berprasangka baik.

Rasa syukur para penduduk desa Sunagakure pun benar-benar diulas dengan sangat jelas dari bias-bias wajah mereka yang merekah, bak kelopak bunga yang bangun kembali dikarenakan matahari.

Harapan yang begitu hangat diwujudkan, membusanai kesejukkan malam dengan khidmat. Naruto yang seharusnya menjadi sosok yang paling dielu-elukan karena menyelamatkan Kazekage mereka, menolak untuk menunjukkan diri kepada peduduk desa Sunagakure. Karena Naruto menyelamatkan Kazekage tidak lebih dari sekedar untuk melancarkan rencananya, bukan untuk menerima penghormatan dari rasa terima kasih penduduk-penduduk Sunagakure.

Sunagakure memang sedang merasa bahagia, namun juga merasa tidak memiliki kerendahan hati karena tidak ada kesempatan berterima kasih secara langsung kepada Naruto. Namun, mereka menerima hal itu. Melalui para Elder desa, mereka harap Naruto akan menerima dengan baik rasa syukur mereka.

Ketika pada saat itu, malam-malam di mana para penduduk Sunagakure sedang mengadakan beberapa perayaaan, ada yang hanya bersama keluarga masing-masing, dan ada juga yang bersama rekan-rekannya. Yang pasti, mereka benar-benar merasa senang mala mini.

Dan saat beralih kepada sebuah ruangan, lebih tepatnya seperti kantor. Beberapa orang sedang berkumpul di dalam ruang itu. Orang-orang itu antara lain, adalah Naruto, Chiyo, Baki, Kankuro dan beberapa Elder desa Sunagakure.

Mereka semua duduk berdekatan dengan ruang sela hanya sebuah meja bundar yang cukup besar, yang berada di tengah-tengah ruangan kantor itu.

Naruto dibawa dengan sedikit paksaan oleh Chiyo ke kantor desa, untuk sama-sama melakukan diskusi dengan para Elder desa Sunagakure. Selain daripada itu, Chiyo juga ingin mempertemukan Naruto dengan seseorang.

Dan setelah sampai di sana, ternyata benar Naruto ini bertemu dengan Ebizo, kakek angkatnya yang dia adalah salah satu Elder desa sekarang.

Hampir sama seperti Chiyo waktu itu, Ebizo tampak begitu bahagia karena bertemu lagi dengan Naruto. Meski Ebizo sendiri tidak terlalu sentimentil seperti ketika Chiyo bertemu kembali dengan Naruto.

Setelah beberapa lama Ebizo dan Naruto saling bercengkrama membius kerinduan, dan Naruto memperkenalkan diri kepada Elder-elder desa yang lain, mereka pun pada akhirnya duduk bersama untuk sekedar berbicara dan berdiskusi ringan.

"Jadi, bagaimana keadaan Konoha sekarang, Naruto?" Ebizo bertanya kepada Naruto mendahului yang lain.

Perlu diketahui, bahwa Ebizo beserta Chiyo memiliki lebih lama hubungan yang baik dengan Konoha, melalui cucu-cucunya, terutama Naruto. Oleh karena itu, kejadian invasi Konoha dua tahun lalu yang di mana Sunagakure terlibat, membuat Ebizo dan Chiyo marah dan bersedih.

"Aku rasa cukup baik, Ebizo-jiisama. Aku sudah tidak pernah menetap lebih lama ketika di Konoha selama lebih dari lima tahun. Semenjak sandaime Hokage, Hiruzen-sama memberikan hak tokubetsu ninja kepadaku." Jawab Naruto.

Elder desa yang beserta Chiyo, Kankuro dan Baki hanya mendengarkan. Dan Ebizo yang mendengarkan jawaban Naruto menjadi terkesan.

"Tokubetsu ninja? Itu luar biasa Naruto. Itu adalah sesuatu yang hanya diberikan kepada Sannin ninja."

Naruto tersenyum mendapati pujian dari Ebizo. "Aku rasa, aku bukanlah ninja yang seperti itu, Ebizo-jiisama. Hak itu diberikan kepadaku hanya karena sebuah perjanjian. Dan dengan hak itu pula aku menggunakannya untuk memenuhi perjanjian tersebut."

Kening Ebizo mengkerut mendengar penuturan Naruto. "Perjanjian? Perjanjian apa yang kau maksud, Naruto?"

"Ebizo!" Chiyo yang semula hanya diam mendengarkan, tiba-tiba sedikit membentak kepada Ebizo.

Ebizo dan yang lain pun sedikit tersentak mendengar suara Chiyo.

"Ada apa, aneue?" Ebizo heran kepada kakaknya. Ketika ia melihat Chiyo, ia mendapati kakaknya itu sedang mendelik tajam kepadanya. Kemudian ia beralih melihat Naruto yang hanya diam menunduk.

Semula Ebizo hanya membiaskan kebingungan di wajahnya, hingga akhirnya Ebizo sadar akan kesalahannya. Sesaat setelah melihat reaksi Naruto, Ebizo merasakan tubuhnya diguyur oleh kekhawatiran.

"Maafkan aku, Naruto"

Naruto menegakkan kepalanya dan tersenyum kepada Ebizo. "Tak apa, jiisama."

Baki dan kankuro lagi-lagi keheranan, ditambah Elder yang lain pun ikut tidak mengerti dengan maksud interaksi antara Naruto dengan Ebizo dan Chiyo.

Seketika suasana menjadi cangung. Semua orang yang ada di ruangan itu bermain dengan pikiran mereka sendiri-sendiri. Kotak suara mereka laiknya terpenjara oleh ego mereka masing-masing, membuat ruangan mendadak sunyi.

Keheningan yang terjadi membuat Chiyo gemas, tenggorokannya serasa digelitiki oleh sesuatu yang tak tampak, membuatnya tak tahan untuk tidak membuka suara.

"Baiklah, Naruto," Hingga Chiyo mengeluarkan suara sehabis hening beberapa saat, membuat yang lain dikembalikan kesadarannya.

"Sebelumnya maafkan kami, Naruto. Kami belum berterima kasih secara resmi kepadamu berkat jasamu yang telah menyelamatkan pemimpin desa kami."

Chiyo setelah mengatakan itu, kemudian menundukkan kepalanya menghadap Naruto, dan itu diikuti yang lain melakukan hal yang sama kepada Naruto.

"Terimakasih, telah menyelamatkan Kazekage kami." Ujar Chiyo.

Naruto yang melihat hal itu, satu-persatu ia memerhatikan ninja-ninja Sunagakure yang menundukkan kepala kepadanya dengan niat yang masing-masing sama, membuatnya tersenyum. "Angkatlah kepala kalian semua, tuan-tuan. Aku tidak cocok untuk menerima penghormatan kalian yang seperti itu."

Kemudian semua ninja Sunagakure itu mengangkat kepalanya, dan memandang kepada Naruto dengan emosi mata yang rendah hati.

Naruto pun membalas pandangan mereka kepadanya dengan senyuman kerendahan. "Aku hanya waktu itu kebetulan bertemu mereka yang membawa Kazekage. Dan jika tidak aku coba selamatkan, maka akan berakibat buruk untuk keseimbangan dunia ninja."

Salah satu Elder desa Sunagakure pun membalas. "Tapi tetap saja, anda telah menyelamatkan pemimpin desa kami. Dan kami memang harus berterima kasih akan hal itu."

Naruto tersenyum. "Sejujurnya, niatku yang sebenarnya menyelamatkan Kazekage hanyalah untuk memperlancar rencanaku."

Para Elder desa Sunagakure mengernyit heran mendengar perkataan Naruto.

Chiyo yang melihat keheranan yang terjadi kepada para Elder desanya itu, kemudian menjelaskan apa yang direncanakan oleh Naruto.

Yang lain pun mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Chiyo tentang rencana Naruto itu. Dan akhirnya para Elder pun mengerti mengenai rencana Naruto, dan mereka merasa senang dengan apa yang direncanakan oleh Naruto.

"Itu sebuah rencana yang sangat bagus, Naruto-san." Ujar salah satu Elder. "Tapi, bukankah itu akan sangat berat jika anda melakukannya sendirian? Apakah anda tidak ingin menerima bantuan dari kami?"

"Itu tidak perlu, tuan. Aku tidak ingin terlalu merepotkan kalian dengan apa yang aku rencanakan. Lagi pula, kalian sudah menyetujui rencanaku saja, aku sudah sangat berterima kasih kepada kalian." Balas Naruto.

Kankuro yang sedari tadi diam, mencoba untuk memprotes Naruto. "Bukankah anda akan sangat kesulitan melakukan semua itu sendiri? Bagaimana jika akan ada banyak orang yang akan mencoba mengagalkan rencana anda?"

Naruto diam sesaat mendengarkan penuturan Kankuro. "Akan ku atasi dengan sendiri soal itu."

Kankuro membelalak mendengar jawaban Naruto, itu sama sekali tidak memberinya jawaban. "Tapi—"

"Kankuro! Tidak apa-apa, kita juga tidak bisa berbuat banyak jika ingin menolong Naruto." Potong Ebizo.

Kankuro yang perkataannya disanggah seperti itu oleh Ebizo, hanya diam dan menunduk. Ia mencengkram kedua telapak tangannya di bawah permukaan meja.

Chiyo yang melihat reaksi Kankuro yang kegundahan menerima ketidakberdayaannya, tersenyum lemah. "Tenang saja, Kankuro. Aku mengerti itu akan sangat berat jika dijalani untuk seorang diri. Meski begitu, aku sangat yakin kepada Naruto," Chiyo mengalihkan pandangannya kepada Naruto. "Dia pasti mampu melakukan itu."

Ebizo ikut tersenyum mendengar perkataan dari kakaknya. "Itu benar, percayalah kepada Naruto. Karena selain dirinya, kami belum pernah bertemu dengan ninja yang begitu gigih melebihinya." Ujar Ebizo sembari tersenyum kepada Naruto.


Benak Naruto berputar kencang saat ia bergegas menembus udara kosong. Ia melompati dahan-dahan pohon secepat mungkin, menolak berhenti bahkan sewaktu napasnya terengah-engah. Kedua kakinya berhenti melompat di dahan pohon terakhir sebelum tanah gundul yang bersebelahan dengan sungai kecil di hadapannya.

'Kuso.' Batin Naruto.

Ia menoleh kebelakang untuk memastikan dua orang ninja Iwagakure yang mengejarnya, dan matanya tidak mendapati mereka. Namun, ia dapat merasakan cakhra mereka yang dengan cepat mendekatinya.

Pandangan Naruto kembali beralih ke tanah lapang yang ada di hadapannya. 'Ck, tidak ada pilihan lain.' Batinnya.

Naruto pun melompat dari dahan pohon, dan menggerakkan tubuhnya secepat mungkin untuk bersembunyi di balik salah satu pohon.

Tak lama kemudian, di dahan pohon yang tadi Naruto injaki. Dua orang ninja Iwagakure datang menapaki dahan pohon itu.

"Ke mana orang itu?" ujar Ittan. Salah satu dari ninja Iwagakure yang mengejar Naruto.

"Dia pasti masih berada di dekat sini. Jika ia melalui sungai yang alirannya deras seperti itu pasti ia terkejar oleh kita." Tanggap rekannya, Gari.

Ittan yang mendengar tanggapan dari rekannya itu hanya diam. Ia melompat dari dahan pohon itu, kemudian menapaki tanah. Setelah kakinya menapaki tanah, ia membungkukkan tubuhnya dan menyentuh tanah dengan telapak tangan kanannya untuk mencari keberadaan Naruto.

Hanya butuh waktu beberapa saat, kemudian ia mendapati kehadiran seseorang di balik pohon yang berjarak beberapa meter dari sebelah kanannya.

"Di sana!" Ittan setelahnya langsung mengambil kunai dari kantung di balik pinggangnya, kemudian melemparkan ke arah balik pohon itu.

Kunia itupun menancap di tanah di balik pohon itu, dan kunai itu telah dilengkapi dengan kertas peledak. Sehingga sesaat setelah kunai itu menancap di tanah langsung meledak dengan daya yang lumayan kuat.

Pohon di sana terkena daya ledakan dari kunai itu, dan membuatnya tumbang. Sehingga membuat kepulan debu yang berterbangan bercampur dengan asap putih.

Ittan memasati penglihatannya, ia mengernyitkan dahi melihat asap putih yang bercampur dengan debu yang berterbangan di sana. Sebelum akhirnya ia sadar dan membelalak.

Gari pun juga memperhatikan hal itu, dan heran dengan ada asap putih di sana. Seketika ia merasakan hawa kehadiran dari balik punggungnya. Ia terkejut, dan mencoba menghindar secepat mungkin.

Belum sempat untuk menghindar sepenuhnya, ketika Gari baru menggeser sedikit tubuhnya, Naruto dari belakang Gari datang dengan menghunuskan tantonya.

Perut sisi kiri Gari pun terbeset tanto Naruto karena terlambat menghindar. Ia merintih dan tubuhnya sedikit terhuyung. Kemudian matanya terbelalak mendapati Naruto berada tepat di sebelahnya.

Naruto yang menapaki dahan tepat di sebelah Gari, langsung memutar tubuhnya. Dengan memanfaatkan keterkejutan yang dialami Gari, ia menendang kuat sisi kiri wajah dengan tumit kaki kirinya. Membuat Gari terlempar ke arah sungai.

Setelah mengembalikan keseimbangannya, Naruto menatap Ittan di bawahnya yang balas menatapnya dengan terkejut. Naruto mendelikkan matanya, kemudian menggunakan shunshin dan muncul di hadapan Ittan.

Ittan belum sadar jika Naruto sudah berada tepat di hadapannya. Ia masih mendongak memandangi dahan tadi, kemudian tiba-tiba ia tersedak dan memuntahkan ludah.

Naruto menyarangkan lutut kanannya di perut Ittan, membuat Ittan membungkukkan tubuhnya. Kemudian ia melanjutkan dengan menghunuskan tanto di bahu kiri Ittan.

Ittan terkejut, dan berteriak kesakitan dikarenakan tanto Naruto yang menusuk bahu kirinya, hingga ujung tanto itu menabrak belikatnya.

Ittan pun menggeram. Ia menyentakkan tubuhnya ke atas, sehingga membuat Naruto terhuyung melepaskan tantonya. Ittan tanpa aba-aba langsung memukul sisi wajah Naruto, membuatnya terlempar ke sisi kiri Ittan.

Naruto dalam keadaan melayang dikejutkan dengan tantonya yang melesat cepat ke arah. Iapun bersalto untuk menghindari itu, namun karena tidak terlalu cepat lengan kiri atasnya terbeset tanto itu. Naruto merintih.

Baru saja menginjaki tanah, Naruto terkejut ada yang menyekal pundak kanannya. Ketika ia melihat ke sana, ternyata Gari orangnya. Naruto membelalakkan matanya, ia sontak menepis tangan Gari yang menyekal pundaknya. Sedetik kemudian keluar ledakan dari telapak tangan Gari.

Naruto sedikit termundur karena ledakan itu. Belum sempat untuk menarik napas, Ittan datang dari sisi Naruto, dan melayangkan pukulan ke arahnya.

Kedua tangan Naruto menyilang untuk menahan pukulan Ittan, pukulan itu tertahan. Namun Ittan dengan menggeram menambah kekuatan pukulannya, membuat Naruto terlempar karena beban yang diberikan.

Dalam waktu yang sama, Gari menyusul Naruto yang terlempar. Sesaat setelah berada di atas Naruto, ia langsung menendangnya, sehingga membuat tubuh Naruto menghantam keras ke tanah.

Naruto tersedak-sedak saat tubuhnya menghantam tanah. Selagi ia merintih, lewat matanya yang menyipit, ia melihat Gari akan kembali melakukan serangan kepadanya.

Ketika melihat itu, Naruto dengan sigap berguling ke kanan, kemudian berjongkok dan langsung melakukan shunshin. Tepat setelah Gari meledakkan permukaan tanah tempat Naruto terjatuh tadi.

Debu-debu hasil dari kepingan tanah yang hancur berterbangan di sekitar Gari. Iapun mendecih di dalam kepulan debu itu karena serangannya tak mengenai Naruto.

Ittan yang berdiri tidak jauh dari sana, memicingkan matanya untuk melihat dengan jelas keadaan di dalam kepulan debu itu. Ketika ia mendapati di dalam sana hanya ada Gari sendirian, ia terkejut.

Setelah debu-debu itu menipis dan menghilang, Gari mengedarkan penglihatannya untuk mencari keberadaan Naruto. Hal serupa dilakukan oleh Ittan.

Ittan selain mengedarkan penglihatannya, ia juga menyalurkan cakhra-nya kepada dua telapak kakinya yang menginjaki tanah. Ia mencoba mendeteksi keberadaan Naruto.

Beberapa saat Ittan mencoba mencari keberadaan Naruto, ia menggeram karena tak kunjung mendapati keberadaannya. "Kuso." Umpatnya.

Gari mendengar umpatan yang keluar dari mulut Ittan, mengalihkan penglihatannya kepada rekannya itu. Sesaat setelah ia melihat kepada Ittan, matanya terbelalak, dan iapun segera melesat cepat ke arah Ittan. "Ittan, di belakangmu!" pekik Gari.

Ittan terkejut dengan pekikan Gari. Ia dengan cepat menoleh ke belakang, dan matanya menangkap kaki yang mengarah ke wajahnya. Karena tak menyadari sebelumnya, kaki itu tak dapat dihindari sehingga menghantam dengan keras wajah Ittan, sehingga membuatnya terlempar.

Naruto menapaki kakinya di tanah setelah menendang wajah Ittan. Setelah itu, ia memutar tubuhnya seraya mengayunkan kaki kanannya, dan menyarangkan telapak kakinya di perut Gari yang ingin menyerangnya.

Gari terlempar karena terkena tendangan NNaruto. Naruto sedetik setelah menendang Gari, ia mengumpulkan cakhra-nya di telapak tangan kanannya, kemudian terbentuk bola cakhra berwarna hijau yang memenuhi telapak tangannya itu.

Setelah membuat rasengan, Naruto langsung bergerak menuju Gari. Namun, baru setengah jalan ia bergerak, Naruto menegangkan matanya. Ketika menoleh ke kiri sedikit ia melihat Ittan yang mengarahkan tangan kanannya yang membesar dilapisi tanah.

Tangan Ittan yang dilapisi tanah itu mengenai bahu kiri Naruto. Naruto menahan tubuhnya sekuat mungkin, untuk membalas Ittan dengan mengarahkan rasengan-nya ke sisi wajah Ittan.

Ittan yang melihat rasengan-nya Naruto yang mengarah kepadanya, menggunakan tangan kirinya yang juga membengkak dilapisi tanah untuk menjadi tameng. Setelah rasengan itu menghantam tangannya, ia terlempar. Pun Naruto yang ikut terlempar karena pukulan Ittan.

Naruto terlempar dan menabrak pohon di belakangnya, dan kepalanya ikut terhentak ke batang pohon, membuat topeng anbu-nya melompat lepas dari wajahnya. Sedangkan Ittan terlempar lebih jauh dan setengah lengan bawahnya hancur karena terkena rasengan.

Tubuh Naruto merosot dan terduduk di tanah bersandarkan pohon. Ia menggerakan tangan kanannya mencengkram bahu kirinya yang terkena pukulan Ittan, kemudian merintih kecil.

Setelah melakukan penarikan napas beberapa kali, mata Naruto menegang. Ia menunduk menghindari telapak tangan yang mengarah kepadanya.

Gari yang telapak tangannya itu dihindari Naruto, menjadi menabrak batang pohon di belakang Naruto. Karena ia sudah terlebih dulu melakukan jurus bakuton-nya, ledakannya malah jadi menyerang batang pohon itu.

Naruto sehabis menghindari serangan Gari, ia melayangkan tangan kanannya untuk memukul rusuk kanan Gari, sehingga membuat Gari terlempar dari arah Naruto.

Kemudian Naruto mendengar suara pohon tumbang dari belakangnya. Ia menjongkokkan dirinya, kemudian melompat menghindar.

Dikarenakan kekuatan yang ia gunakan tidak terlalu kuat ketika melompat, Naruto tidak menghindari terlalu jauh pohon tumbang yang cukup besar itu.

Sehingga ketika pohon itu menghempas ke tanah, Naruto terdorong karena angin dari hempasan pohon itu. Ia berguling-guling beberapa kali di tanah dan langsung menyeret dirinya seraya berjongkok.

Sesaat setelah Naruto berjongkok, ia menegakkan tubuhnya dengan tertatih. Belum sepenuhnya berdiri, ia dikejutkan oleh Ittan yang tiba-tiba muncul di depannya.

Ittan dengan kemarahan yang memuncak, mengarahkan tangan kanannya yang membengkak dilapisi tanah itu ke dada Naruto. Sehingga terdengar beberapa kali bunyi patah tulang.

Wajah Naruto mengeras ketika pukulan Ittan bersarang di dadanya. Giginya bergemeletuk dan mata membelalak lebar. Ia terlempar kuat dari Ittan kemudian memuntahkan darah yang cukup banyak dari mulutnya.

Naruto terlempar ke arah sungai, dan terjebur ke dalam sana. Melihat itu, Ittan bergerak secepatnya menuju tepi sungai.

Gari yang juga melihat Naruto terlempar ke sungai karena serangan Ittan, menegangkan otot kakinya kuat-kuat kemudian melompat kuat hingga mencapai tinggi di atas tengah-tengah sungai.

Tangan kiri Gari mencengkram pergelangan tangan kanannya, kemudian ia mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah sungai di bawahnya.

"DOKE! ITTAN!" Teriak Gari.

Ittan melompat jauh dari pinggir sungai setelah diperingati Gari.

Setelah mengumpulkan cakhra yang banyak menuju telapak tangan kanannya, Gari menghirup napas dalam-dalam.

"BAKUTON: JIRAIKEN!" Seru Gari.

Gari dari telapak tangan kanannya mengeluarkan ledakan potensial berskala besar. Ledakan besar itu menembak sungai yang kemudian membuat sungai itu pecah, sehingga memperlihatkan permukaan dasarnya.

Ittan memperhatikan ledakan itu dari jarak yang cukup jauh, sembari ia menimang-nimang apakah Naruto benar-benar terkena serangan itu. Disaat ia sedang menimbangi keadaan Naruto, sebongkah kayu melayang ke arah.

Ketika melihat bongkahan kayu yang mengarah kepadanya, Ittan merentangan tangan kanan bengkaknya untuk menahan bongkahan kayu itu.

Sebongkah kayu itu jatuh di permukaan tanah di hadapan Ittan. Ittan memperhatikan bongkahan kayu itu dengan mengernyit. Sampai ketika ia sadar, matanya melotot.

'Kawarimi?!' batin Ittan.

Ittan yang menyadari bahwa Naruto tidak terkena serangan dari Gari, segera mengalihkan pandangannya kepada Gari yang saat ini tengah berdiri di atas batu besar sebelah sungai, yang sungai itu masih bergelombang kuat dikarenakan jutsu Gari. Ia pun melesat cepat ke sana.

"Kiotsukero, Gari. Dia masih hidup." Ujar Ittan setelah setelah sampai di dekatnya.

Gari yang mendengar perkataan Ittan terkejut. Ia menoleh ke arah Ittan di sebelahnya. Ia hendak menyangkal, namun ketika melihat emosi serius dari wajah rekannya itu membuat ia terdiam.

"Dia benar-benar lawan yang kuat." Keluh Ittan.

Gari yang mendengar keluhan Ittan menggeram, ia mencengkram kedua tangannya kuat.

Beralih kepada Naruto. Saat ini ia sedang duduk di permukaan tanah bersandarkan pohon, yang jaraknya cukup jauh dari Gari dan Ittan.

Tangan kanan mencengkram dadanya di bagian armor anbu-nya yang hancur karena pukulan Ittan tadi, sedangkan tangan kirinya membekap mulutnya untuk menyamarkan suara batuknya.

Cengkraman tangan Naruto di kaos hitam di balik armornya menguat, sakit di bagian dadanya bertambah kuat, rintihan yang keluar tertahan tangan kirinya. Sepertinya beberapa tulang rusuk Naruto patah. Ittan benar-benar memukulnya dengan sangat kuat.

Tiba-tiba suara hentakan memasuki pendegaran Naruto, suara itu berasal dari sisi lain batang pohon yang ia sandari. Dan suara selanjutnya yang mengetuk gendang telinganya membuat matanya terbelalak lebar.

"Bakuton: Jiraiken!" Gari meledakan batang pohon yang ada di hadapannya dengan tangan kanannya.

Naruto terlempar karena punggungnya terkena ledakan yang menghancurkan batang pohon yang ia sandari. Ia terlempar cukup jauh dan kembali memuntahkan darah.

Kala tubuhnya melayang, Naruto memaksa tubuh untuk berputar untuk menapaki kakinya di permukaan tanah. Setelah kedua kakinya menginjaki permukaan tanah, tubuhnya terhuyung ke belakang membuatnya jatuh terduduk.

Baru saja tubuh Naruto terduduk di tanah, Ittan dari atasnya meluncur dengan pukulan yang ingin meremukan dirinya.

Naruto ketika melihat itu, segera mendorong kuat tubuhnya ke sebelah kanan, setelahnya pukulan Ittan menghantam kuat permukaan tanah yang ia duduki tadi.

Pukulan Ittan yang terhantam begitu kuat, membuat permukaan tanah pecah menjadi puing-puing disertai dorongan angin yang kuat. Sehingga membuat Naruto yang berjarak sangat dekat dari situ terhempas, kemudian punggungnya menghantam batang pohon.

Naruto tersedak, juga memuntahkan darah yang lebih sedikit. Tapi, ia cepat-cepat menyadarkan dirinya, kemudian mengayunkan tangan kanannya melempar beberapa jarum petir ke arah Ittan.

Ittan ketika menoleh ke arah terlemparnya Naruto, seketika membelalakan mata. Ia melihat debu-debu yang berterbangan di depannya tersapu oleh beberapa chidori senbon Naruto. Dikarena ia tak mengira akan hal itu, senbon-senbon itu mengenai lengan kanan atasnya, dan menusuk otot bisepsnya.

Ittan merintih ketika otot bisepsnya ditusuk-tusuk chidori senbon Naruto. Ia mengalami mati rasa pada lengan kanannya, membuat ia menyentuh otot biseps lengan kanannya dengan lengan kirinya yang puntung.

Mengabaikan mati rasa yang dialami tangannya, Ittan langsung mengalihkan pandangannya ke depan, arah dari Naruto menyerangnya. Namun, ia tidak mendapati Naruto berada di sana. Iapun mendecih.

Gari menghampiri Ittan tepat di sebelah rekannya itu berdiri. Ia melihat Ittan menyentuh lengan kanan atasnya yang terkulai, yang tidak dibungkusi lagi oleh elemen doton-nya dengan langan kirinya yang puntung.

"Apa yang terjadi padamu?"

Ittan menggeram ketika ditanya rekannya. "Aku terkena serangannya. Untuk sementara aku tidak bisa menggunakan tangan kananku." Ucapnya.

Gari mengerutkan keningnya mendengar ucapan Ittan. "Lalu, di mana di—" Gari menghentikan ucapannya ketika merasakan hawa panas dari balik ubun-ubun kepala mereka.

Ketika menoleh, Gari melihat ada bola api berukuran cukup besar mengarah kepadanya dan Ittan. Matanya melebar terkejut, sama halnya yang dilakukan Ittan. Merekapun sama-sama melompat ke sisi yang berbeda menghindari bola api itu.

Bola api itupun melaju menabrak tanah, dan membuat ledakan yang cukup besar. Pohon-pohon di sekitarnya bergetar-getar karena ledakan yang terjadi.

Naruto tersimpuh dan memuntahkan darah di atas dahan pohon, setelah barusan ia menggunakan jutsu katon untuk menyerang Gari dan Ittan.

Naruto merintih merasakan tubuh seperti remuk redam, ditambah ketika ia menyadari Gari dan Ittan tidak terkena serangannya. Rasa sakit yang menderanya membuat tubuhnya seperti akan menjauhi batas sadarnya.

Napas-napas Naruto tampak menderu-deru berat, ia masih merintih sembari mencengkram dadanya. Kelopak matanya perlahan sayu ingin menutupi bola mata hijaunya dengan pelan-pelan.

Belum benar-benar tertutup, matanya sontak melebar dengan bola mata hijau yang menegang merespon rasa sakit yang diterima perutnya. Sesaat sebelum terlempar, matanya menangkap Ittan yang menendang perutnya.

Setelah terlempar, Naruto terseret-seret di permukaan tanah lapang yang tidak ada pohon-pohon. Iapun hanya bisa tersedak-sedak lagi.

Ketika Naruto sedang berusaha mendudukkan dirinya, ia mendengar bunyi tapak kaki yang berinjak cukup dekat di hadapannya. Dan ia mendapati Gari yang berdiri di sana kemudian disusul Ittan yang baru tiba di sebelahnya.

"Souka, ternyata kau Naruto. Salah satu anbu Meijin Konoha yang rahasia itu." Tanggap Gari setelah dapat melihat jelas wajah Naruto.

Naruto mendengar klarifikasi Gari tentang dirinya yang tepat itu terkejut. Eksistensial timnya itu sangatlah dirahasiakan, apalagi Gari dapat mengetahui bahwa dirinya salah satu dari anggota tim itu.

"Kau terkejut? Hahaha…" Gari tampak tertawa senang ketika mendapati wajah terkejut Naruto.

Ittan di sebelah Gari menautkan ekspresi heran menanggapi Gari. Ia bingung bagaimana rekannya itu mengenali musuh yang sedari tadi mereka hadapi itu. Dan lagi, ia tadi juga mendengar Gari menyebutkan semacam skuad anbu khusus milik Konoha yang membuatnya bertanya-tanya.

Setelah Gari menyelesaikan tawanya, ia memandang tertarik kepada Naruto yang masih terduduk.

"Yah, kalian benar-benar shinobi yang luar biasa. Dan aku yakin kau masih bisa melawan kami meski keadaanmu seperti itu. Atau mungkin," Gari menjeda ucapannya, kemudian menyeringai. "Sampai membunuh kami?"

Ittan terkejut dengan apa yang dikatakan oleh rekannya, kemudian ia melihat ke Naruto yang keadaannya Nampak babak belur sekali. Membuatnya tersenyum remeh.

"Heh, dengan keadaan seperti itu, membunuh kita? Yang benar saja."

Naruto yang tadinya duduk diam saja mendengarkan, mulai berdiri dengan tergopoh. Ketika sudah berdiri lunglai dengan tangan kirinya yang menopang di lutut kirinya, Naruto memandang tajam kepada Ittan dengan mata hijau kusamnya yang sebelah kanan dengan dingin, sebelah matanya lagi tertutupi bayangan rambutnya.

Jari-jari tangan kanannya ia katup rapat, kemudian Naruto menyalurkan cakhra berelemen petir ke sana. Dan tangan kanannya itupun dibaluti cakhra berwarna ungu, disertai listrik-listrik yang memercik cukup panjang berwarna antara gradasi ungu-biru.

Naruto memandang lebih tajam Ittan dari mata kanannya, seraya menyalurkan cakhra kepada dua telapak kakinya, iapun menghilang.

Gari menoleh ke arah Ittan, dan memandang rekannya itu dengan ekspresi malas. "Kau tida—" ucapannya terputus, matanya membelalak terkejut.

Wajah Ittan menegang. Baik mata serta mulutnya sama-sama membuka lebar, iapun memuntahkan darah dalam jumlah banyak dari mulutnya. Ketika ia melirik sedikit ke bawah, ia mendapati Naruto yang memandangnya tajam dengan tangan kanan yang menembus dada kirinya, dan menghancurkan jantungnya.

"Ore wo namen-na!" ujar Naruto dingin kepada Ittan yang matanya mulai memutih.

Gari yang menyaksikan Naruto membunuh rekannya, mengeraskan wajahnya. Gigi bergemeletuk dan mata menajam ke arah Naruto. Ia merentangkan tangan kanannya mencengkram bahu kanan Naruto.

"NARUTO!"

Ketika Naruto merasakan tangan Gari yang mencengkram bahu kanannya, ia terkaget. Naruto menggunakan tangan kirinya untuk mendorong tubuh Ittan yang telah mati, dan melepaskan tangan kanannya yang bersarang dari dada kiri Ittan.

Gari menguatkan cengkraman tangannya di bahu Naruto. "ORE GA OMAE WO KOROS—" ucapannya putus dikarenakan lengan kanannya terputus.

Naruto menggunakan jutsu raiton: shiden-nya yang masih aktif untuk memotong lengan Gari. Tapi lengan Gari yang putus itu, masih menempel di bahunya. Kemudian lengan itu membengkak disertai bersinar-sinar merah, setelahnya kemudian meledak.

Naruto terlempar jauh karena ledakannya yang kuat itu. Tubuhnya kemudian menghantam keras di batu besar, diikuti pelipis kirinya. Darah pun mengucur deras dari pelipis Naruto yang menghantam batu.

Kesadaran Naruto masih tersisa sedikit meski tubuhnya terasa benar-benar hancur setelah menghantam batu. Dan ia tidak bisa merasakan lengan kanannya terkulai di atas tanah. Ada sisa-sisa api kecil yang terlihat membakar bahu kanannya itu.

Naruto melirikan matanya sedikit dengan lemah, dan mendapati Gari dengan wajah murkanya melesat cepat ke arahnya.

Ketika Gari yang melesat hampir sampai kepada Naruto yang tampak sudah tak berdaya, tiba-tiba sisi wajah terasa terhantam sesuatu dengan sangat keras. Iapun terlempar sehingga menabrak pohon yang cukup jauh dari sana.

Naori menapaki kakinya di tanah setelah menendang keras wajah Gari tadi. Iapun berbalik, dan matanya melihat Naruto yang bersandar lemah di batu besar.

"Naruto!"

Naori dengan cepat menghampiri Naruto. Ia bersimpuh di hadapan Naruto dan menyentuh bahu kanan Naruto yang terbakar itu dengan tangan kirinya.

Naruto merintih ketika bahu kanannya dipengang Naori, membuat Naori pun terkesiap dan melepaskan pegangannya. Matanya meredup, dan wajahnya jelas-jelas menunjukkan ekspresi yang sangat khawatir di balik topeng anbu-nya.

Melalui matanya yang sayu, Naruto memandang lemah ke Naori. "N-naori, d-di mana Itac-hi dan S-hisui?" tanya Naruto ketika menyadari wajah di balik topeng itu Naori.

"Mereka masih di pegunungan Tsuchi. Kita harus pergi, mereka akan menyusul." Ketika Naori ingin memapah Naruto, dia menahannya.

"T-tunggu, d-di—" Naruto tercekat ketika melihat Gari yang berdiri di belakang Naori.

Naori yang melihat ekspresi Naruto diam, sedetik kemudian ia terlempar setelah perut kirinya ditendang.

Ketika melihat Naori yang terlempar, Naruto kembali melihat Gari yang ada di hadapannya yang sudah bersiap menghantamkan telapak kaki kepadanya. Mata Naruto melotot, ia menghindar ke sebelah kiri dengan terseok-seok.

Naruto berbalik setelah menghindari tendangan Gari, ia dikejutkan lagi dengan Gari yang telah mengarahkan tangan kiri yang menuju padanya. Kemudian, dari matanya yang melebar, Naruto melihat Naori yang tiba-tiba muncul dan memotong lengan kiri Gari yang mengarah padanya itu dengan tanto.

Gari berteriak keras ketika kehilangan lengan kirinya. Ia membawa kedua lengan puntungnya ke hadapan wajah, kemudian semakin histeris saat menyaksikan itu.

Naruto mengubah ekspresinya dari terkejut, dengan cakhra-nya yang tersisa ia membentuk lagi jutsu raiton: shiden di tangan kirinya. Setelah itu ia melesat dan menghunuskan tangan kirinya tepat di antara dua tulang rusuk Gari.

Tenggerokan Gari tercekat, dan itu membuat ia berhenti berteriak. Gari tubuhnya terhuyung ke depan kemudian tersandar di bahu kiri Naruto.

Gari tersenyum lemah, "H-hora, k-kau b-bnar-benar membunuh kami." Bisik Gari lemah.

Naruto hanya diam mendengarnya. Namun, kalimat terakhir yang dibisikan Gari kepadanya membuat keningnya mengkerut. Ia ingin menanyai Gari, tapi terlambat. Gari sudah tiada.

Naruto yang merasakan beban berat tubuh Gari yang menyandar padanya, dengan tenaga terakhirnya ia mendorong tubuh Gari. Dan iapun ikut terhuyung ke depan, kemudian terjatuh menyamping ke tanah menghadap Gari.

Napasnya putus-putus, Naruto lagi-lagi memuntahkan darah. Dan ini lebih banyak, sehingga sedikit mengenai dada Gari.

"Naruto!" pekik Naori kecil. Ia bersimpuh di balik tubuh Naruto, kemudian ia menggenggam tangan kanan Naruto.

"Bertahanlah, Naruto." Ujar Naori khawatir.

Sedangkan Naruto tak mampu untuk membalas. Kesadaran terakhirnya hanya mampu ia tahan untuk mendengar seruan kekhawatiran Naori untuknya.

Naori ketika melihat Naruto tak sadarkan diri semakin membuatnya dirudung kecemasan. "Naruto!" panggilnya lagi.

Dan tidak ada jawaban sama sekali dari Naruto. Ketika Naori sedang kecemasan memperhatikan Naruto, ia merasakan segerombol cakhra asing mengarah ke sini.

Mata Naori sedikit melebar. Ia secepatnya memapah tubuh Naruto, kemudian membopong tubuhnya di punggung. Setelah itu ia melesat meninggalkan jasad Gari sendiri di sana.

Naori bersembunyi di balik pepohonan yang lebat, suasana malam membantu persembunyian yang ia lakukan. Tepat setelah itu, segerombolan ninja dengan pakaian khas ninja Iwagakure datang di tempat tadi.

Naori menahan napas melihat mereka. Iapun berbalik seraya menutup kedua mata beberapa saat, kemudian membukanya lagi.

Tampakla mangekyou sharingan yang bersinar terang dari balik topengnya. Naori menutup mata kirinya dan memfokuskan cakhra-nya pada mangekyou sebelah kanannya.

Dari udara kosong di hadapannya, tercipta portal distorsi berwarna hitam keunguan, berbentuk lingkaran. Setelah itu, Naori beserta Naruto yang ia bopong melompat ke dalam portal itu.

.

Di tengah-tengah hutan belantara yang tidak diketahui, tercipta portal distorsi. Kemudian dari portal itu melompat keluar Naori beserta Naruto.

Naori tersungkur dan jatuh ke tanah, dengan tubuh Naruto yang menghimpitnya. Topeng anbu-nya lepas, napasnya pun tersengal-sengal. Dari dalam kelopak mata kanannya yang tertutup, mengalir darah dari ujung matanya.

Ebizo dan Chiyo yang sedang berjalan di tengah-tengah hutan, dengan Chiyo yang membawa keranjang berisikan obat-obatan herbal, dikejutkan dengan suara benda jatuh dari arah belakang mereka.

Ketika Ebizo dan Chiyo serentak menoleh ke belakang, mata mereka melebar terkejut melihat Naori yang terbaring telungkup serta Naruto yang menindihnya.

Chiyo dengan sigap tersadar dari terkejutnya, dan langsung menghampiri Naori dan Naruto. Iapun bersimpuh di sebelah mereka, seketika melihat keadaan Naruto matanya kembali melebar. Kemudian ia beralih melihat Naori, yang balas menatap dengan pandangan sayu dari mata kirinya.

"Apa yang terjadi?" tanya Chiyo kepada Naori.

Naori yang ketika ditanya tidak langsung menjawab, ia menyeret tubuhnya ke dekat Chiyo, setelah itu menegakkan tubuhnya sedikit untuk menggenggam tangan kanan Chiyo dengan kedua tangannya.

"Aku mohon! Tolong Naruto!" lirih Naori. Wajahnya diolesi penuh kecemasan.

Bahkan lewat matanya yang kecil, Chiyo dapat melihat jelas karena terpaan cahaya bulan yang menerobos sela-sela dahan pohon. Genangan air mata yang siap terjun dari mata kiri Naori, dan linangan air mata yang menurun dari kelopak mata kanannya yang tertutup, yang disertai dengan darah.


Matahari yang hampir terbit, sinarnya sudah lebih dulu menyeruak dari ujung cakrawala dari hadapan gerbang masuk desa Sunagakure.

Naruto, ditemani oleh Ebizo dan Chiyo berdiri di depan gerbang itu. Ia sebenarnya berancana berangkat diam-diam pagi-pagi sekali untuk pergi dari desa ini.

Namun, dikarenakan malam tadi ia beristirahat sebentar di rumah kakek dan nenek angkatnya itu, Naruto dikejutkan oleh Chiyo sedang berdiri di depan pintu rumah, tampak memang seperti telah menunggunya.

Sehingga di waktu itu, jam-jam yang mendekati ke pagi hari. Naruto bersama Chiyo dan Ebizo menyusuri jalanan Sunagakure yang sepi.

"Kau yakin setelah ini akan ke Iwagakure, Naruto?" tanya Ebizo.

Naruto tersenyum kepada Ebizo, "Aku yakin, Ebizo-jiisama." Jawabnya.

Chiyo ketika mendengar jawaban Naruto, menampilkan raut cemas. "Bukankah akan lebih berbahaya jika kau pergi ke sana terlebih dahulu, Naruto? Kau bisa terlibat pertarungan lagi dengan ninja desa itu." Ujarnya.

Naruto mengalihkan pandangannya kepada Chiyo sembari tetap tersenyum. "Tenang saja, Chiyo-baasama. Sepertinya di sana akan ada seseorang yang dapat membantuku untuk bertemu langsung dengan Tsuchikage."

Ebizo dan Chiyo mengkerut bingung mendengar Naruto berkata begitu.

"Dan bagaimana caramu untuk menemukan orang yang kau maksud?" tanya Ebizo.

"Aku telah beberapa kali melintasi perbatasan Iwagakure, dan tak jarang menelusuri daerah sana. Setidaknya untuk menyusup ke dalam desa itu, aku cukup yakin mampu melakukannya." Jelas Naruto.

Ketika mendengar penjelasan dari Naruto, dua kakek neneknya itu hanya membuang napas lelah. Mereka memandang sayu kepada cucu angkat yang tersisa dari yang paling mereka sayangi.

"Kau tetap akan pergi sendirian, Naruto?" tanya Chiyo.

Naruto hanya tersenyum saja menjawab pertanyaan Chiyo. Chiyo yang melihat Naruto hanya tersenyum kepadanya, dan tak menjawab pertanyaannya, berjalan mendekati Naruto, kemudian mendekap raga cucunya itu.

"Jaga dirimu baik-baik, Naruto."

Naruto hanya tetap tersenyum, dan mengelus-elus dengan santun punggung neneknya. Kemudian mereka saling melepaskan pelukannya, Chiyo mundur beberapa langkah.

Ebizo maju mendekati Naruto, ia menggerakkan tangan kanannya dan menaruhnya di puncak kepala Naruto.

"Kau akan menjadi pahlawan dunia shinobi, Naruto."

Naruto tersenyum mendengarnya, ia menikmati elusan kasih sayang kakeknya itu di puncak kepalanya.

"Aku melakukan semua ini untuk Naori, jiisama. Bukan untuk menjadi pahlawan."

"Tetap saja bagi kami kau adalah pahlawan yang sesungguhnya. Tetaplah hidup sampai kau mendapat pengakuan itu dari semua orang." Balas Ebizo.

Naruto hanya tersenyum sedih mendengar perkataan Ebizo. Chiyo yang melihat senyuman itu memandang sedih kepada Naruto melalui mata sipitnya.

"Penuhilah harapan Naori, Naruto." Ujar Chiyo.

Naruto menundukkan kepala sedikit kepada Chiyo. Tangan Ebizo sudah tidak mengelus puncak kepalanya. Iapun memundurkan langkahnya sedikit, sembari memandang lembut kakek dan neneknya.

"Jaa, ittekimasu. Obaasama, jiisama." Pamit Naruto. Kedua kakek nenek itu hanya mengangguk lemah merelakan kepergian cucunya.

Naruto berbalik arah dari hadapan Ebizo dan Chiyo, kemudian mulai berjalan meninggalkan mereka di depan gerbang Sunagakure.

Gari tersenyum lemah, "H-hora, k-kau b-bnar-benar membunuh kami." Bisik Gari lemah. Ia terbatuk-batuk mengelurkan darah dari mulutnya.

Ketika Gari merasakan ia akan segera meregangkan nyawa, iapun mengatakan pesan terakhirnya kepada Naruto.

"Ket-tika kau,.. mengunj-jungi Iwa-hh lagi, temuilah Ro-shi. K-kau akan co-cok ddng-annya." Setelah mengucapkan itu, Gari menghembuskan napas terakhir.

Naruto mengernyit bingung mendengarnya, 'Roshi? Jinchuuriki Yonbi?' ketika Naruto hendak bertanya kepada Gari mengenai itu, ia malah merasakan beban yang semakin memberat dari tubuh Gari.

Dan Naruto pun sadar, Gari sudah mati dengan tubuhnya yang menopang pada tubuh Naruto. Wajah Naruto berubah datar ketika ditinggalkan pesan aneh dari Gari, yang ia tak tahu tujuannya untuk apa.

.