MERPATI KONOHA
.
Amegakure no sato, adalah sebuah desa tersembunyi dan industri sangat kecil yang terletak di negara yang tidak begitu diketahui namanya. Arsitekturnya terdiri dari beberapa gedung pencakar langit logam dengan pipa saluran terhubung ke desa itu dan banyak kabel listrik di sekitarnya.
Seperti namanya, hujan hampir terus-menerus turun karena badai di atas desa Amegakure. Semua air tampaknya berakhir di sebuah danau besar yang mengelilingi desa. Sejumlah desa kecil pun juga terlihat mengelilingi Amegakure.
Ketika waktu Amegakure dipimpin oleh Hanzo, yang dimulai dari ketika dunia shinobi mengalami perang yang kedua. Tanah Amegakure menjadi tempat pelayanan medan perang, dikarenakan lokasi dari desa ini yang berada di tengah-tengah tiga dari lima negara besar shinobi.
Amegakure mengadopsi kebijakan isolasionis berat karena kondisi ini, menyebabkan pertahanan desa sulit ditembus. Untuk diterima ke desa pun, pengunjung atau bahkan peserta ujian chunin yang diadakan di Amegakure, haruslah melalui sejumlah pemeriksaan keamanan dan berada dalam pengawasan konstan selama mereka tinggal.
Selama perang dunia shinobi ketiga, sebuah kelompok dari Amegakure memulai advokasi perdamaian, mereka menamai dirinya sebagai Akatsuki. Waktu itu pemimpinnya adalah Yahiko.
Hanzo ketika melihat Akatsuki mulai berbahaya untuk tapuk kepemimpinannya, mulai menjalin kerjasama dengan Danzo Shimura, dengan tujuan untuk memusnahkan kelompok itu.
Kemudian terjadilah pertempuran antara pasukan aliansi Hanzo-Danzo, yang membuat terbunuhnya ketua dari Akatsuki, Yahiko. Nagato mencoba balas dendam kepada Hanzo, tetapi hanya berhasil membunuh ninja pasukannya serta semua personil Akar Danzo.
Setelah itu, Nagato mengambil mayat Yahiko untuk menjadi perwakilannya, dan memulai perang saudara dengan Hanzo. Pasukan yang memihak kepada Nagato menggunakan ikat kepala Amegakure yang digarisi horizontal. Yang menunjukkan penolakan mereka terhadap prinsip-prinsip mantan pemimpin Amegakure itu.
Di luar dugaan, Pain atau perwakilan dari Nagato ini, membunuh Hanzo seorang diri, bahkan yang berafiliasi dengannya. Pain juga membunuh sisa-sisa orang yang masih mendukung Hanzo.
Ketika melihat apa yang dilakukan Pain, penduduk desa Amegakure menanggap dirinya sebagai dewa. Orang-orang Amegakure mulai menyebut Pain dengan sebutan "Pain no Kami," dan Konan yang membantunya sebagai "Megami Tenshi."
Selama pemerintahan Nagato, ia menggunakan teknik yang membuat hujan. Hujan khusus yang menghubungkan langsung dengan pikirannya, yang memungkinkannya untuk merasakan penyusup yang mencoba masuk desa.
Teknik Nagato itulah yang membuat Naruto mengalami kesulitan ketika beberapa kali mencoba menyusup ke Amegakure. Naruto mencoba mencari banyak cara untuk melakukan invasi ke sana, sehingga iapun akhirnya menemukan cara di mana ia bisa menyusup ke desa itu tanpa terdeteksi oleh Nagato.
Naruto mendapati bahwa Nagato menggunakan tekniknya itu hanya pada hari-hari tertentu. Setelah mengetahui itu, Naruto akhirnya dapat menyusup ke Amegakure.
Ketika berada di dalam Amegakure, Naruto mulai mencari banyak informasi yang dapat ia peroleh menggunakan penyamaran. Pada saat itu pulalah Naruto mengetahui tentang Akatsuki.
Naruto melakukan banyak penyelidikan tentang Akatsuki yang ia anggap berpotensi mengganggu keseimbangan dunia ninja. Namun, karena ada Zetsu membuat Naruto kesulitan untuk mendapat informasi yang lebih jelas tentang Akatsuki.
Selama masa penyelidikannya itupun, Naruto hampir beberapa kali melakukan kontak dengan kelompok itu dikarenakan Zetsu. Oleh karena itu, Naruto memilih untuk menunggu Akatsuki keluar setelah ia mendapati secara buram tujuan yang dimiliki mereka.
Beralih di suatu tempat di Amegakure, sebuah ruangan yang minim pencahayaan. Terdapat beberapa orang yang sedang berkumpul di dalam sana.
Mereka yang berkumpul di dalam ruangan itu tidak lain adalah anggota-anggota dari Akatsuki. Ada sekitar kurang dari sepuluh orang yang sedang berkumpul.
Sedangkan di dekat mereka, ada dua mayat yang terbujur kaku di atas permukaan lantai ruangan. Mayat-mayat itu ketika dipasati dapat dikenali sebagai Sasori dan Deidara.
"Siapa yang membunuh mereka?" tanya Pain saat ia melihat kedua mayat anggotanya itu.
"Zetsu?!" lanjut Pain.
Setelah Pain memanggilnya, tampak dari permukaan lantai tiba-tiba Zetsu muncul dengan perlahan.
"Aku tidak tahu siapa yang mengalahkan mereka. Semua terasa terjadi begitu cepat." Jawab Zetsu setelah ia benar-benar memperlihat wujudnya kepada semua orang di sana.
Pain memandang Zetsu dengan alis yang bertaut. "Apa kau yakin tidak mendapati petunjuk?"
Zetsu tak lansung menjawab, ia diam untuk sesaat. "Kurasa, orang itu harus dicurigai mengenai hal ini." Ujar Zetsu seperti kepada dirinya sendiri, namun dapat terdengar oleh semua orang di sana.
Kemudian Zetsu melihat kepada salah satu anggota, yaitu Kisame.
"Kisame! Bukankah kau bilang kau dan Itachi bertemu dengan seseorang yang mencurigakan saat di perbatasan desa?"
Kisame yang ditanya pun melihat ke arah Zetsu. "Ya … begitulah." Jawabnya.
"Apa yang kau lihat dari orang itu?" tanya Zetsu lagi.
Kisame diam sebentar sebelum menjawab, "Hmm ... entahlah, aku tidak melihatnya begitu jelas waktu itu," ia mengalihkan pandangannya kepada Itachi di sebelahnya. "Bagaimana denganmu, Itachi?"
Itachi yang awalnya menutup mata, ia buka ketika ditanya. Ia menunduk. "Aku rasa dia hanya orang biasa dari negara ini. Dia tidak terlihat seperti ninja atau semacamnya."
Pain mengkerut ketika mendengar jawaban dari Itachi. "Kenapa Kisame mengatakan dia mencurigakan, jika kau bilang dia terlihat seperti orang biasa, Itachi?" tanyanya.
Itachi hanya diam ketika ditanya oleh Pain. Hal itu malah membuat yang lain ikut-ikut bingung dikarenakan diamnya Itachi.
Kisame yang melihat rekannya itu seperti enggan menjawab, menaikan sebelah alisnya. Ia beralih melihat Pain.
"Aku tidak terlalu yakin dia benar-benar orang yang mencurigakan atau tidak. Tapi, apa hubungan orang itu dengan kasus Deidara dan Sasori?"
Pain beserta anggota yang lain pun terdiam tidak bisa menjawab. Sedangkan Zetsu, ia terlihat berpikir terlebih dahulu, kemudian memandang ke arah Kisame.
"Ini memang terlalu awal untuk menuduhnya terlibat. Tapi, aku rasa dia satu-satunya petunjuk kita."
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Zetsu itu, semua anggota Akatsuki tampak diam satu-persatu menimang. Mereka dalam pikiran masing-masing dengan sadar menyetujui yang disampaikan oleh Zetsu.
"Kurasa kita memang harus menyelidiki tentang orang itu terlebih dahulu. Kita harus cepat-cepat mengetahui orang yang terlibat mengenai kasus Deidara dan Sasori, atau tidak ini akan menjadi masalah besar untuk kita nanti." Terang Pain setelah menimang-nimang.
Anggota Akatsuki yang lain hanya diam-diam menyetujui dengan apa yang dijelaskan oleh ketua mereka.
"Zetsu!" Orang yang dipanggil oleh Pain menoleh padanya. "Kau yang akan mencari tahu tentang orang itu."
Pain kemudian mengalihkan pandangannya kepada Itachi. "Dan Itachi! Jelaskan bagaimana ciri-ciri orang itu."
Itachi yang ditanya memandang pasif kepada Pain yang menanyainya. Sedangkan anggota Akatsuki yang lain memandang bertanya kepadanya. Itachi masih diam untuk waktu yang cukup lama, meski semua orang di sana memandang hanya kepada dirinya seorang.
Sedangkan di Konoha saat ini, masih dalam keadaan seperti yang lalu-lalu dalam 2 tahun terakhir. Semenjak agresi yang terjadi di Konoha yang dilakukan Orochimaru 2 tahun lalu, saat ini Konoha telah selesai merenovasi kerusakan dan menjadi lebih baik dan lebih aman.
Semua berkat ninja-ninja Konoha beserta para penduduknya bekerjasama membangun kembali desa menjadi lebih baik dan lebih nyaman untuk mereka bertempat tinggal.
2 tahun lalu menjadi kesempatan-kesempatan menunjukkan usaha-usaha bersedih para penduduk Konoha. Penyerangan yang dialami mereka menyematkan luka yang begitu kuat menarik tunduk kepala mereka dari menengadah.
Hokage ketiga, Hiruzen Sarutobi yang wafat setelah mengalami pertarungan dengan muridnya sendiri, Orochimaru, menanam duka yang begitu subur di hati setiap penduduk Konoha.
Hiruzen adalah pemimpin yang sangat dikenal kebijaksanaannya oleh penduduk Konoha. Senyum terakhir di wajah rapuhnya selalu menyamankan sekaligus menyakiti setiap penduduknya ketika disaksikan mereka.
Semua dedikasi yang dihaturkan Hiruzen kepada Konoha sudah sangat berjasa. Konoha terus melangkah menjadi lebih baik di bawah kepemimpinannya.
Oleh karena itu, kematian Hiruzen menjadi pukulan yang begitu menyakiti penduduk Konoha. Tidak ada yang bisa mereka lakukan mengenai takdir Hiruzen, beberapa dari ninja Konoha yang menyaksikan pertarungan berat sebelah yang dilalui Hiruzen. Dan berakhir dengan mereka yang menjadi saksi mata menutupnya buku kehidupan Hiruzen.
Naruto yang saat itu berada jauh dari Konoha, mendengar kabar tentang penyerangan yang terjadi serta kematian dari Hiruzen, tidak menunjukkan ekspresi apapun selain kekosongan.
Ia mendadak kehilangan kemampuannya untuk bersedih, setelah semua apa dan siapa yang pernah menjadi bagian dari kehidupannya direngut satu-persatu.
Hiruzen bagi Naruto sendiri adalah sosok kakek yang begitu ia hormati. Selain Hokage itu adalah pemimpin desa, dia telah banyak mengajarkan kepada Naruto banyak hal untuk membentuk keteguhannya.
Kedekatan yang dibangun dari pengalaman antara Hiruzen dan Naruto, membuat Naruto menjadi sangat menyayangi sosok Hokage ketiga itu.
Nasehat-nasehat serta cerita Hiruzen yang menjadi tali untuk mengikat dirinya dengan sosok itu, tiba-tiba seperti mencekiknya setelah kematian Hiruzen.
Naruto dituntun untuk kembali ke Konoha secepatnya oleh tali itu, untuk menghadiri pemakaman Hokege ketiga. Dan sedikit jauh dari tempat pemakaman pahlawan Konoha, Naruto menyaksikan bagaimana sosok kakek baginya itu dikebumikan, serta kesedihan-kesedihan yang ditunjukkan oleh para penduduk.
Tali itu kemudian seperti tidak mampu untuk menarik Naruto lebih lagi, untuknya menggabungkan kesedihan lebih dekat dengan orang-orang yang menghadiri langsung pemakaman Hiruzen. Tangan Naruto hanya terkulai tidak memiliki kekuatan untuk ikut menyodorkan bunga doa ke sisi peti mati Hiruzen, seperti yang dilakukan orang lain.
Kemudian kaki Naruto kembali membawanya untuk pergi meninggalkan Konoha setelah pemakaman Hiruzen selesai. Daripada keinginan untuk lebih lama berada di sana, Naruto lebih memilih untuk melanjutkan harapan Hiruzen yang dititipkan kepadanya.
Tentang Hiruzen yang menginginkan Naruto dapat untuk melindungi semua penduduk Konoha yang Hokage ketiga itu cintai. Oleh karena itu, demi rasa hormatnya kepada Hiruzen, ia tidak akan menyia-nyiakan satu-satunya harapan Hiruzen yang masih dikenangkan kepadanya.
Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah, terus dan terus pergi dari satu tempat ke tempat yang lain, mencari dan terus mencari, menanam serta terus menanam, hal-hal yang dapat membantunya bekerja untuk Konoha. Sesuatu yang bisa ia manfaatkan demi Konoha yang lebih baik.
Naruto laiknya orang yang tak memiliki tempat tinggal di manapun, ia sudah tidak memiliki lagi kepulangan yang bisa ia tuju. Atau mungkin, pulangnya yang sekarang bukan lagi sebuah rumah, mungkin pergi ke banyak singgah?
.
Di dalam gedung yang sebagai pusat pemerintahan Konoha, yaitu gedung Hokage. Tampak beberapa orang sedang mengisi di dalam ruangan kerja Hokage.
Tsunade duduk di meja kerjanya sambil bersandar di punggung kursinya. Kedua mata coklatnya memandang sayu kepada beberapa orang yang ada di depannya.
"Jadi begitulah, Kazekage yang sempat dikalahkan dan dibawa pergi oleh Akatsuki, diselamatkan oleh Naruto."
Setelah mengucapkan itu, Tsunade menghembuskan napas lelah yang terasa jelas. Kedua kelopak matanya memejam sejenak.
Di satu sisi, beberapa orang yang ada di depan Hokage kelima itu, Kakashi, Menma, Sakura serta Jiraya lebih jelas menunjukkan ekspresi-ekspresi legah setelah mendengarkan perihal-perihal yang disampaikan oleh Tsunade.
Masing-masing mereka saling memiliki hubungan dekat dengan Sunagakure, meski setelah kesalahan yang melibatkan desa itu pernah memberikan kejahatan kepada Konoha.
Terlebih Menma, ia dan Gaara memiliki hubungan yang sangat akrab. Dan jika ia mendengar Gaara tidak benar-benar selamat, mungkin ia akan kalap pada saat itu juga.
"Nah Ero-sennin, sebenarnya Naruto-san itu orang yang seperti apa?"
Menma bertanya kepada Jiraya yang berada tepat di sebelahnya, dan memandang gurunya itu dengan raut keingintahuan.
Jiraya mengalihkan pandangannya ke arah Menma, kemudian menatap jeli sejenak kepada murid serta anak dari muridnya itu.
"Hmm ... Naruto yah?" Jiraya menengadahkan pandangannya. Matanya terlihat menerawang jauh. "Aku tidak bisa menjelaskan dengan baik tentang orang itu. Tapi, yang harus kau tahu, dia seperti sayap Konoha. Dia laiknya merpati, ah tidak! Bahkan dia lebih dari itu. Setelah semua yang dia dapatkan, dia membuat Konoha menjadi lebih tenang sekarang."
Menma mengerut kebingungan dengan yang ia dengar. Otaknya mendadak konslet menerima penjelasan dari Jiraya yang tidak ia pahami.
"Aku tidak mengerti,—ttebayou! Tapi, sepertinya dia shinobi yang sangat hebat. Bahkan mengalahkan dua orang anggota Akatsuki yang kau bilang mereka sangat berbahaya."
"Tentu saja dia sangat hebat, sangat kuat malahan. Aku pun mengetahui Akatsuki sangatlah berbahaya, terutama bagi dirimu itu, dialah yang mengatakannya kepadaku."
Jiraya menjeda perkataannya sesaat. Menma yang mengetahui Jiraya masih akan melanjutkan perkataannya, tetap memandang orang itu dengan penasaran.
"Naruto adalah ninja Konoha yang terlampau kuat untuk dapat menanggung semua beban yang diberikan kepadanya seorang diri."
Jiraya menundukkan kepalanya. Sedangkan yang lain hanya diam, mereka hanya ingin mendengarkan semua yang akan dikatakan oleh Jiraya.
"Terlepas dari aku yang tidak tahu dari mana dia berasal serta apapun mengenai orang tua atau keluarganya, waktu dulu ketika pertama kali aku bertemu dengannya, aku tidak mengerti bagaimana tubuh kecilnya itu mampu melakukan berbagai hal yang mustahil untuk usianya menurutku. Matanya yang kehilangan arah, tapi keinginan untuk terus hidup dapat begitu jelas aku lihat. Namun, matanya tampak lebih hidup setelah dia menjadi jounin di usia yang sangat muda, setelah itu ia menjadi anbu dalam waktu yang tidak lama. Setelah beberapa tahun kemudian dia menjadi anbu khusus, diangkat oleh Yondaime bersama tiga orang rekannya. Tiga orang itu, mereka adalah Uchiha, dan menurutku merekalah yang membuat Naruto terlihat lebih menunjukkan keinginannya."
Jiraya berhenti sejenak dengan semua perkataannya. Ia membawa tangan kanannya menggaruk-garuk belakang kepalanya sesaat sebelum ia turunkan kembali.
"Beberapa tahun mereka menjadi anbu khusus, serta banyaknya misi-misi berbahaya yang mereka jalani, Konoha kurasa belum pernah mendapat ninja yang begitu solid seperti mereka. Mereka adalah sebagian kecil dari ninja Konoha, atau bahkan di dunia yang pernah berhadapan dengan Kyuubi secara langsung. Dan yang ku dengar, merekalah yang masih hidup di antara beberapa ninja Konoha yang waktu itu melawan Kyuubi."
Jiraya teringat akan sesuatu, dan ia mengalihkan pandangannya kepada Kakashi yang berada di dekatnya.
"Ohya Kakashi, ketika penyerangan Kyuubi, apa kau waktu itu termasuk salah satu yang menahan bijuu itu?"
Kakashi terkesiap mendengar pertanyaan Jiraya kepadanya.
"Ah, tidak Jiraya-sama. Aku saat itu mengevakuasi penduduk."
Jiraya mengangguk setelah mendengar jawaban Kakashi. Ia kembali menggaruk belakang kepalanya sembari menunduk.
"Dan benar apa yang ku dengar. Tidak ada yang bisa keluar hidup-hidup dari melawan Kyuubi selain mereka, dan Shodaime Hokage juga Madara Uchiha, mungkin. Memang setelah melawan Kyuubi mereka tampak babak belur, terutama Naruto. Namun itu tetaplah suatu hal yang sangat luar biasa, yang tidak mungkin bisa dilakukan semua orang."
Jiraya menurunkan tangannya sesudah ia gunakan untuk menggaruk-garuk belakang kepalanya barusan.
"Kemudian mereka tetap menjalankan peran mereka sebagai anbu khusus, yang beralih di bawah perintah Hiruzen-sensei yang menggantikan Yondaime yang gugur setelah menyegel Kyuubi. Namun, kelompok mereka akhirnya pecah setelah pembantaian klan Uchiha. Berawal dari Naori Uchiha, satu-satunya kunoichi di kelompok mereka, yang ku dengar gugur dalam sebuah misi, kemudian Shisui Uchiha yang dikatakan bunuh diri, juga Itachi Uchiha yang pergi dari desa setelah membantai klannya sendiri, anbu khusus itu, yang dinamai anbu meijin sudah tidak lagi beroperasi untuk Konoha. Sekarang yang tersisa dari mereka, hanyalah Naruto dan Itachi."
Menma semakin mengerutkan ekspresinya, dan ia tampak akan melayang sebuah protes.
"Anoo ... si Itachi Uchiha itu, kakaknya Sasuke-teme bukan? Jika dia dulunya adalah salah satu anbu yang sangat penting bagi Konoha, kenapa dia malah akhirnya berkhianat kepada Konoha bahkan sampai membantai klannya sendiri?"
Jiraya hanya diam tidak menjawab pertanyaan Menma, membuat Menma menunjukkan ekspresi kesal.
"Ooyy, ero-sennin!"
"Tenanglah Menma! Ketika saatnya tiba, kau akan mengetahuinya sendiri. Masing-masing beban yang sebenarnya ditanggung oleh Itachi dan Naruto." Tsunade tiba-tiba menginstrupsi untuk memendam keingintahuan Menma.
Menma yang mendengar jawaban yang tidak jelas dari Tsunade, mengalihkan pandangannya kepada sosok Hokage masa sekarang Konoha itu.
"Tetapi baachan, menurutku itu sangat keterlaluan. Bahkan Itachi dengan tega membiarkan Sasuke sendirian yang tersisa dari klannya, dan juga dia 'kan yang membunuh orang tuanya sendiri? Sekaligus orang tua Sasuke. Dia adalah kakak yang buruk, tidak! Bahkan dia manusia paling buruk yang pernah kutahu."
Tsunade memandang sayu kepada Menma. Kedua tangannya yang berada di atas meja mencengkram erat.
"Kau tidak mengetahui yang sebenarnya."
"Kalau begitu beritahu aku!"
"DIAMM MENMA!"
Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Mereka tersentak mendengar nada suara Tsunade yang meninggi beserta suara gebrakan meja yang begitu kuat.
Tsunade berdiri dari kursinya dengan wajah tertunduk, ekspresinya tertutup bayang-bayang rambutnya. Kedua tangannya terkepal di atas permukaan meja yang sedikit retak setelah terhantam kepalan tangan kanannya.
"Ini bukan sesuatu yang dapat kau pahami, Menma. Kau tidak akan mengerti jika kuberitahu sekarang." Lirih Tsunade.
Menma merasa tenggorokannya tercekat mendengar nada lirih dari sosok neneknya itu. Sedangkan Sakura yang sedari awal tidak mengerti, sekarang tertunduk takut melihat kemarahan gurunya itu.
Tsunade akhirnya menengadah untuk memandang Menma melalui kedua bola matanya yang menunjukkan sinar-sinar prihatin yang terlihat jelas.
"Kau pasti akan mengetahuinya sendiri, mungkin dari mereka sendiri yang menunjukkannya. Karena siapapun tidak akan mengerti tentang mereka jika tidak mendengar atau melihat langsung dari mereka sendiri."
Setelah mengucapkan itu, Tsunade membawa tubuhnya untuk kembali duduk di kursi dengan lesu.
Menma pun setelah menerima pernyataan itu dari Tsunade hanya menunduk diam.
Kakashi melihat kepada masing-masing muridnya, dan mendapati gestur yang sama yang mereka utarakan. Iapun hanya memahat senyum sedih di balik masker yang menutupi setengah wajahnya.
"Menma, Sakura."
Kedua orang yang dipanggil serentak melihat kepada yang memanggil, yaitu Kakashi. Mereka sama-sama menoleh dengan pelan ke arah guru mereka itu.
"Kalian memang tidak mengetahui tentang mereka, Naruto dan Itachi, atau juga Shisui dan Naori. Tapi percayalah, mereka semua adalah orang yang baik. Jasa-jasa mereka terhadap Konoha, secara tidak langsung telah melindungi kalian, melindungi kita semua penduduk Konoha. Karena itu aku harap, kalian jadilah seperti mereka. Pahlawan-pahlawan yang tanpa pamrih, yang semua jasa mereka itu, bahkan sama sekali tidak diketahui oleh penduduk desa."
Kakashi memandang dengan pandangan yang sangat memohon dari satu matanya yang terbuka kepada dua muridnya itu. Sedangkan Menma dan Sakura, nurani mereka tergerak secara sendiri menerima pemahaman-pemahaman serta permohonan dari sang guru itu.
Mata mereka, Menma dan Sakura, tampak menyalakan api tekad yang kuat. Yang memberikan jawaban kepada Kakashi, mengenai penerimaan mereka, yang akan berusaha mereka sanggupi untuk memenuhi permohonan sang guru.
Matahari akan terbenam dalam waktu yang tidak lama lagi di ufuk barat. Bidang-bidang lembayung tampak menghiasi wajah langit yang mulai meredup. Namun, sinar lembayung dari matahari terbenam masih berani menerobos sela-sela hutan belantara.
Daerah hutan belantara itu yang hanya mendapati pencahayaan minim dikarenakan hari yang kian gelap, jauh menjorok ke tengah-tengah hutan sana, terdapat sebuah bangunan berarsitektur rendah. Bangunan itu lebih tampak seperti sebuah pintu terowongan yang menghubungkan dengan bagian dalamnya.
Kemudian di depan bangunan itu, berdiri Naruto dengan pandangannya mengarah ke bawah, di mana terdapat sebuah terowongan tanpa penutup. Dari permulaan hingga kian ke dalam hanya kegelapan yang ditangkap kedua matanya.
Setelah memandangi beberapa saat terowongan itu, Naruto kemudian mulai berjalan menuruni tangga dan meneruskan langkahnya memasuki terowongan yang gelap tanpa pencahayaan itu.
Ia mengaktif sharinggan di kedua matanya ketika mulai memasuki terowongan itu, membuatnya dapat melihat dengan baik meski keadaan yang sangat gelap di dalam sana.
Naruto hanya diam tanpa melakukan apapun selain terus melangkah menyusuri satu-satunya jalan yang ada di dalam terowongan. Langkahnya terkesan tidak terburu-buru ataupun siaga ketika menapaki jalanan itu.
Setelah beberapa saat ia berjalan, hingga sampai ke bagian yang lebih dalam, Naruto melihat ada cahaya-cahaya temaram yang tertangkap di ujung netranya. Iapun tetap meneruskan langkahnya menuju cahaya itu.
Hingga sampai Naruto di depan pintu yang menghubungkannya dengan ruangan lain, iapun memegang gagang pintu itu dengan tangan kirinya, kemudian ia buka dan langsung masuk ke dalam.
"Kau sudah kembali, Kabuto."
Ketika Naruto baru saja memasuki ruangan itu, pendengarannya langsung disambut oleh suara yang terdengar serak.
Naruto memandang ke arah suara itu, yang berada di depan. Di sana ia mendapati seseorang yang sedang duduk di kursi yang membelakanginya, menghadap ke arah perapian di depan orang itu.
"Sayang sekali yang datang bukanlah orang yang kau tunggu-tunggu, Orochimaru."
Tampak gelegat terkejut yang ditunjukkan oleh orang yang sedang duduk itu. Lantas, orang itu yang adalah Orochimaru menoleh dengan pelan ke belakang. Tampaklah wajahnya yang ditutup penuh oleh perban, dan hanya menyisakan kedua mata ularnya. Namun, jika dilihat lebih pasat, tubuh itu bukanlah seperti tubuh Orochimaru yang sebenarnya.
Orochimaru membelalakkan kedua matanya terkejut, melihat siapa yang ada di bayangan matanya itu.
"Naruto?! Bagaimana kau bisa ada di sini? A-apa kau … datang untuk membunuhku?"
Orochimaru dengan gerakan patah-patah mencoba berdiri dari kursi menyelesaikan kalimatnya.
Naruto hanya memandang tanpa ekspresi Orochimaru yang terlihat sangat resah di kedua mata sharinggannya.
"Daripada nyawamu, ada sesuatu yang lebih berharga untuk kau tebus kepadaku …"
Kemudian pandangan Naruto menajam kepada Orochimaru. 3 tomoe di masing-masing sharinggannya berputar seirama dengan lambat.
"… setelah pengkhianatanmu pada perjanjian kita."
Orochimaru tidak bisa bertahan untuk lebih pucat, serta tubuh rusaknya yang mendadak lemas sekali laiknya kehilangan daya. Matanya menegang diguyuri ketakukan mendapati kedua bola mata sharinggan yang menusuki pandangannya.
.
