MERPATI YANG MELIHAT MASA DEPAN


.

Otogakure no sato, secara harfiah berarti "Desa tersembunyi oleh suara." Adalah desa tersembunyi pribadi Orochimaru, yang didirikan dengan tujuan mengumpulkan ninja untuk eksperimen dan usahanya untuk mempelajari semua teknik.

Awalnya, Orochimaru mengklaim bahwa ia membangun desa ini agar ninja terampil akan menemukan tujuan hidup mereka tanpa terikat dengan prioritas berubah-ubah dan hasutan perang dari lima negara besar shinobi.

Pada kenyataannya, Otogakure tidak benar-benar sebuah desa, tetapi laboratorium raksasa yang terdiri dari berbagai tempat persembunyian dan basis yang tersebar di seluruh tanah Suara dan berbagai negara lainnya.

Shinobi Otogakure menggunakan sejumlah teknik yang beragam, yang sebagian besar berpusat di sekitar modifikasi yang dihasilkan dari eksperimen manusia oleh Orochimaru.

Orochimaru mendirikan banyak pangkalan di seluruh dunia selama perjalanannya. Basis ini berkisar dari tempat persembunyian bawah tanah, yang biasanya mencolok dengan lubang untuk pintu masuk ke tempat yang lebih besar tersembunyi di suatu tempat. Semua tempat persembunyian tersebut dilengkapi dengan laboratorium di mana ia dan Kabuto Yakushi akan melakukan eksperimen.

Ketika Orochimaru memutuskan diri untuk pergi dan membelot kepada Konoha, Jiraya merasa bertanggung jawab akan hal itu. Karena bagaimanapun, Orochimaru sudah Jiraya anggap sebagai sahabat yang menjelma laiknya saudara sendiri.

Mereka berdua juga Tsunade adalah rekan tim yang dulunya sangat akrab di bawah bimbingan Hiruzen. Tim itu dibentuk ketika mereka masih berumur 6 tahun, sedangkan Hiruzen telah menjadi Hokage.

Pada masa mereka, merupakan masa perang besar ninja kedua. Ketiganya bekerja sama selama perang besar ninja kedua tersebut.

Selama perang itu mereka bertemu dengan Hanzo the Salamander pemimpin Amegakure. Hanzo terkesan dengan kemampuan mereka bertiga karena telah bertahan sampai sejauh itu di medan pertempuran. Sebagai pertukaran hidup mereka, Hanzo menyuruh mereka bertiga memberitahu nama mereka, dan mereka pun menyebutkan nama mereka masing-masing.

Setelah itu, mereka bertiga dibiarkan hidup oleh Hanzo serta Hanzo menjuluki mereka sebagai "Sannin Konoha." Hingga waktu berlalu, masing-masing dari mereka saling bertumbuh kuat mencapai ninja yang selevel dengan Kage, dan menjadi legenda dengan julukan Densetsu no Sannin.

Karena itu semua, mengingat semua kebersamaan serta kekompakkan mereka hingga titik terjauh mereka melangkah bersama, Jiraya merasa kecewa sekaligus sedih ketika mendapati Orochimaru mengkhianati Konoha.

Dengan segala yang ia punya, Jiraya pun bertekad apapun yang terjadi, untuk pergi mencari dan mengejar Orochimaru ke manapun orang itu pergi, untuk menghajarnya, atau setidaknya menanyai alasan Orochimaru pergi dari desa.

Bertahun-tahun Jiraya melakukan pengejaran kepada Orochimaru, ia melakukan banyak cara untuk melakukan itu. Salah satunya, ia menanam banyak informan di setiap tempat yang ia datangi, yang ia rasa tercium bau dari teman lamanya itu.

Selama bertahun-tahun lamanya Jiraya mengejar Orochimaru, terjadi beberapakali kontak yang didapatinya dengan Orochimaru, namun masih belum mampu Jiraya untuk menguak apa alasan di balik semua tindakan Orochimaru selama ini.

Namun, meskipun begitu, ia tidak menyerah. Jiraya tetap saja terus mengejar Orochimaru ke manapun. Sebenarnya Jiraya ingin meminta tolong kepada Naruto untuk membantunya menangani kasus Orochimaru itu. Namun, ia urungkan. Karena ia sadar, Naruto sudah terlalu banyak menanggung beban untuk bisa ia mintai tolong.

Jiraya berniat meminta tolong kepada Naruto karena ia tahu, Naruto adalah salah satu orang yang dulunya cukup dekat dengan Orochimaru di Konoha, karena dulunya Naruto bisa dikatakan adalah murid dari teman lamanya itu.

Dan memang benar, Naruto adalah muridnya Orochimaru. Satu-satunya murid dari Orochimaru yang mengetahui hampir semua seluk-beluk dari orang itu. Bahkan, Naruto adalah satu dari dua orang yang mengetahui alasan kepergian Orochimaru.

Tentu saja satu orang lagi yang mengetahui alasan kepergian Orochimaru dari Konoha adalah gurunya sendiri, Hiruzen Sarutobi. Karena gurunya itulah yang menjadi penyebab ia pergi. Karena gurunya itu, mengetahui apa yang ia lakukan.

.

Orochimaru masih tidak bisa menggerakkan tubuhnya dari kekakuan setelah beberapa saat. Ia masih berdiri diam dengan tubuh yang gemetar dan matanya yang terkejut takut.

Naruto yang beberapa meter di hadapan Orochimaru hanya menangkap diam bayang-bayang ketakutan Orochimaru dari balik kedua mata sharingan-nya.

"Sudahlah … aku tidak akan menunjukkan dendamku kepadamu tentang masa lalu."

Naruto menutup kedua matanya untuk sesaat, dan kemudian ia buka lagi. Tampak sharingan telah berganti menjadi dua bola mata onyx di masing-masing mata Naruto.

Kemudian Naruto berjalan mendekati bangku kayu yang ada di dekat Orochimaru. Setelah ia sampai di sana, ia pun langsung mendudukkan dirinya di bangku itu.

Orochimaru dengan gerakkan patah-patah menoleh untuk melihat Naruto yang telah duduk di bangku di sebelahnya.

"J-jadi … maksudmu?"

Naruto menoleh ke arah Orochimaru, kemudian memandang datar kepada orang itu.

"Sebelumnya katakan dulu … apa alasanmu menyerang Konoha dua tahun lalu? Aku sudah berjanji tidak akan memberitahu semua alasan kepergianmu dari Konoha ataupun alasanmu menjadi seperti sekarang ini. Tapi …"

Naruto mendelik tajam kepada Orochimaru. Sontak hal itupun membuat Orochimaru tersentak.

"… kau mengkhianati apa yang kau janjikan. Kau bilang kau tidak akan melibatkan Konoha ataupun melakukan sesuatu yang buruk kepada Konoha dengan semua obsesimu itu. Sekarang …"

"… katakan apa alasanmu!"

Orochimaru yang ditatap sedemikian tajam oleh Naruto, meneguk ludahnya dengan sulit. Kemudian ia sedikit mengambil napas, dan menghembuskannya dengan terputus-putus seraya mendudukkan dirinya di kursi tempat yang sebelumnya ia duduki.

Kedua mata ular Orochimaru memandang sayu ke arah perapian di depannya.

"Maafkan aku, Naruto. Saat itu … aku kelepasan. Aku kehilangan kendali akan diriku sendiri karena obsesi yang kumiliki."

"Aku frustasi karena aku tidak bisa mendapati tubuh Itachi."

Naruto mengerutkan dahinya mendengar nama sahabatnya disebut oleh Orochimaru.

"Bahkan kau mengincar Itachi …?"

Orochimaru hanya diam dengan kepala yang tertunduk menanggapi pertanyaan Naruto. Naruto yang meihat itupun hanya mendesahkan napasnya.

"Mah … itu sudah pasti. Itachi takkan bisa dikalahkan oleh orang sepertimu."

Orochimaru tidak menanggapi perkataan Naruto yang seakan meledeknya itu. Ia kembali menatap ke arah perapian di depannya.

"Akhirnya aku menemukan alternatifnya, yaitu Sasuke Uchiha … adik Itachi. Karena aku tahu apapun yang terjadi pada Sasuke-kun, Itachi akan mencoba mencari perlindungan untuknya … dan saat itu kudengar Hiruzen-sensei menjadi pelindung Sasuke-kun di Konoha setelah kepergiannya. Sehingga, karena aku kalap waktu itu …"

"… aku menyerang Konoha dengan tujuan hanya untuk membunuh Hiruzen-sensei. Sungguh, aku benar-benar kehilangan kendali waktu itu, Naruto. Aku benar-benar dikuasai oleh obsesiku sendiri."

Naruto diam dengan pikiran berkecamuk di tempat duduknya. Kedua matanya memandang datar kepada Orochimaru.

Terjadi keheningan beberapa saat, setelah itu terdengar hembusan napas lelah yang berasal dari Naruto. Hal itupun jadi menarik perhatian Orochimaru untuk menoleh ke arah Naruto.

"Mau bagaimana lagi … kinjutsu, orang tuamu, kedua hal itu telah menhancurkanmu hingga menjadi seperti ini. Juga obsesi konyolmu terhadap keabadian."

"Apa kau tidak dendam kepadaku? Aku telah membunuh Hiruzen-sensei."

Naruto menatap Orochimaru untuk sesaat, setelah itu ia tutup kedua matanya. Ia meluruskan posisi duduknya, kemudian ia menyandarkan punggungnya di kursi kayu tempat dirinya duduk.

"Tentu saja aku dendam. Kau tahu sendiri'kan bagaimana sosok Hiruzen-sama bagiku …?"

Orochimaru hanya menundukkan kepalanya mendengar pertanyaan Naruto kepadanya.

"Maafkan aku."

Naruto membuka sebelah matanya untuk melirik ke arah Orochimaru.

"Tapi aku tak akan membalaskan dendam itu padamu. Apapun yang terjadi di masa lalu, sudah menjadi jalan yang tidak bisa kita ubah."

Kemudian Naruto membuka kedua matanya untuk memandang ke arah perapian di depannya.

"Aku tahu perasaanmu kepada Hiruzen-sama, perasaan yang sama seperti yang aku miliki. Karena itu …"

"… aku memaafkanmu."

Mendadak Orochimaru merasakan dirinya terkerubungi sebuah perasaan yang telah begitu lama tidak menyapa dirinya. Perasaan seseorang yang memahaminya, dan menerima dirinya.

Tubuh Orochimaru bereaksi perlahan menegakkan dirinya, yang kemudian ia menoleh pelan kepada Naruto dan menatap orang itu dengan kedua mata yang terbelalak terkejut, mulutnya sedikit terbuka di balik perban yang membalutinya.

"Aku tahu rasanya kehilangan. Tidak ada suara dari kepergian selain sisa-sisa sepi yang tak berkesudahan."

Naruto memandang sendu ke arah perapian di hadapannya. Matanya tampak menunjukkan beberapa bayangan kilas balik tentang masa lalunya.

"Perbaikilah sisa hidupmu. Kau masih memiliki kesempatan untuk kembali menjadi baik, sensei."

Orochimaru tersentak mendengar apa yang dikatakan oleh Naruto, lebih tepatnya panggilan Naruto untuknya. Kedua mata Orochimaru tampak sedikit menggenangkan air yang perlahan merambat ke sudut matanya.

'Kurasa, ini sudah cuku—'

"Tapi aku tidak akan memaafkanmu begitu saja!"

Orochimaru tersentak dan kemudian dengan terkejut memandang Naruto yang telah berdiri dari kursi sembari menatap ke arahnya.

"Aku ingin sesuatu darimu, dan aku butuh itu secepatnya!"

Setelah mendengar permintaan Naruto, Orochimaru memandang bingung sosok yang pernah menjadi muridnya dulu.

"Apa yang kau inginkan?"


Konohagakure no Sato.

Di dalam salah satu ruangan rumah sakit Konoha, terdapat beberapa orang yang sedang mengisi di sana. Mereka adalah Menma, Sakura, Jiraya, Sai, Yamato dan Kakashi.

Kakashi saat ini sedang terduduk lemah di atas ranjang rumah sakit. Ia terkapar tak berdaya setelah menggunakan mangekyou sharingan secara beruntun.

Sebelumnya, anggota tim 7 diikuti Sai yang menggantikan Sasuke, melakukan misi pencarian Sasuke. Mereka pergi ke Tenchikyo setelah mendapat kabar burung. Di sana mereka akhirnya bertemu dengan Sasuke, Orochimaru beserta Kabuto.

Terjadilah pertentangan hasrat antara Menma dan Sasuke. Tentang Menma yang menginginkan Sasuke untuk kembali ke Konoha, dan Sasuke yang menolak kemudian memilih tetap ikut Orochimaru.

Akhirnya, Sasuke pergi entah kemana. Tim 7 yang melihat itupun, mencoba mengejar Sasuke, namun dihalang oleh Orochimaru dan Kabuto. Pertarungan antara tim 7 melawan Orochimaru dan Kabuto pun tak terelakkan.

Menma yang tak terkendali lalu melepaskan chakra Kyuubi dalam jumlah besar, sehingga ia berubah ke bentuk Kyuubi ekor 4. Kemudian sebelum itu terjadi, Kakashi juga banyak menggunakan mangekyou sharingan, hingga membuatnya hamper kehabisan chakra.

Setelah Menma berubah menjadi ekor 4, ia mengamuk dan mulai menghancurkan wilayah sekitarnya, dengan serangan-serangan dahsyat tanpa membedakan kawan ataupun lawan. Untungnya, Orochimaru tetap lolos dan melarikan diri.

Ketika di tengah mengamuknya Menma, Yamato tiba-tiba datang, kemudian menggunakan chakra kayu menyegel dan mengembalikan tubuh Menma ke bentuk semula.

Menma pun merasa kecewa karena masih tidak dapat membuat Sasuke pulang ke Konoha, dan merasa bersalah karena sedikit melukai Sakura sewaktu ia mengamuk menjadi ekor 4.

Saat ini, di ruangan tempat Kakashi dirawat. Terjadi percakapan antara mereka berenam yang berada di dalam ruangan itu.

"Menma, sebaiknya kau lupakan dulu tentang Sasuke. Kau harus fokus dulu soal dirimu yang menjadi incaran Akatsuki." Ujar Jiraya.

Menma berwajah kesal mendengarkan nasehat dari Jiraya, ia pun mendelik ke arah Jiraya sedikit.

"Mana bisa aku melupakannya. Aku tidak akan berhenti sampai Sasuke benar-benar kembali ke Konoha."

Jiraya menghela napas panjang ketika nasehatnya ditentang oleh Menma.

"Saat ini situasimu sedang berbahaya, kita tidak mungkin melimpahkan semuanya kepada Naruto untuk urusan Akatsuki ini. Mengertilah Menma."

Ketika mendengar itu, Menma mendecih. Ia sebenarnya paham bahwa sejenak ia harus berhenti mengejar Sasuke terlebih dahulu. Setidaknya sampai Akatsuki benar-benar habis sampai ke akar-akarnya.

Ia pun juga berpikir, jika ia terus-menerus mengikuti egonya, ada orang yang terberati olehnya. Namun Menma tetap keras kepala.

"Tapi tetap saja—"

"Sudahlah Menma! Benar yang dikatakan oleh Jiraya-sama, setidaknya untuk saat ini kau harus berhenti mengejar Sasuke dulu." Sanggah Yamato.

"Kita juga sudah menerima jawaban dari Sasuke, bahwa dia masih tetap bersikeras untuk ikut Orochimaru." Timpal Sai.

Menma yang mendengar Yamato dan Sai mendukung Jiraya, kembali mendecih.

"Baiklah."

Jiraya berwajah legah ketika mendengar jawaban itu.

"Begitu lebih baik."

Menma membuang muka setelah itu, sedangkan Kakashi dan Sakura hanya diam-diam memperhatikan.

"Jiraya-sama, apakah yang memberikan kabar tentang persembunyian Orochimaru, adalah anda?" Tanya Kakashi dengan nada lemah.

"Nah itulah yang ingin kutanyakan padamu, darimana kalian mengetahui salah satu persembunyian Orochimaru. Tapi jika kalian malah bertanya kepadaku, aku malah jadi bingung."

Semua orang yang mendengar jawaban dari Jiraya menjadi mengerut bingung. Jiraya pun menjadi diam sebentar memikirkan sesuatu.

"Hmm … mungkinkah Naruto yang memberitahu kalian? Kalian bilang mendapat kabar itu dari burung merpati yang membawa surat ke Tsunade kan?"

Kakashi, Menma serta Sakura hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Jiraya.

"Tidak salah lagi itu dari Naruto. Mungkin, karena aku sempat membicarakan tentang Orochimaru dengan Naruto sebelum aku dan Menma sampai di Konoha. Dia jadi mengirim kabar itu ke Konoha."

"Anoo … bagaimana Naruto-san bisa mengetahui persembunyian Orochimaru itu?" Tanya Sakura.

Jiraya berdehem sejenak sebelum menjawab pertanyaan Sakura.

"Setelah terbunuhnya Hiruzen-sensei, Naruto mungkin mulai mencari Orochimaru. Karena Naruto memiliki hubungan dekat dengan Hiruzen-sensei, bahkan dia juga dulunya berhubungan dekat dengan Orochimaru. Setidaknya, Naruto mencari Orochimaru untuk menanyakan alasannya menyerang Konoha dua tahun lalu." Terang Jiraya.

"Lalu, kenapa Naruto-san sampai memberitahu persembunyian Orochimaru kepada kami?" tanya Sakura lagi.

"Mungkin … karena waktu itu aku bilang Sasuke sedang ikut dengan Orochimaru, dan aku memberitahunya alasanku pergi berlatih dengan ero-sannin karena aku ingin membawa pulang Sasuke."

Bukan Jiraya yang menjawab, melainkan Menma. Sakura pun segara menoleh ke arah Menma, yang saat ini sedang memandang lantai rumah sakit dengan bayangan mata yang menerawang.

"Naruto-san sengaja memberitahuku tentang persembunyian Orochimaru. Tapi, aku bingung … jika Naruto-san telah mengetahui persembunyiannya, kenapa dia tidak dia sendiri yang menemui Orochimaru, atau mereka telah bertemu dan Naruto-san membiarkan Orochimaru hidup?" lanjut Menma.

5 orang yang lain mendengar asumsi dari Menma tentang tindakan Naruto, sama-sama jadi mempertanyakan alasan Naruto di kepala mereka masing-masing.

"Ada beberapa kemungkinan alasan Naruto mengenai hal itu. Yang pertama, dia belum bertemu dengan Orochimaru karena banyak persembunyian yang dimilikinya, Naruto mengirim secara acak salah satu persembunyian yang dimiliki Orochimaru kepada kalian. Atau mungkin dia sedang dalam urusan lain, yang membuatnya harus menunda terlebih dulu untuk menemui Orochimaru. Atau bisa juga, mungkin … saja dia memang sudah bertemu dengan Orochimaru, namun tetap membiarkannya hidup. Tapi aku juga tidak tahu …"

Jiraya menunda penjelasannya sejenak untuk berpikir sedikit.

"… apa alasan Naruto jika tetap membiarkan Orochimaru hidup? Orochimaru telah membunuh Hiruzen-sensei. Meskipun Naruto pernah memiliki hubungan dekat dengan Orochimaru, dia tetap saja lebih dekat dengan Hiruzen-sensei. Ditambah, Orochimaru telah membelot pada Konoha. Aku yakin Naruto mempunyai dendam pada Orochimaru."

Semua yang mendengar penjelasan Jiraya pun lebih diam, mereka semakin berpikir tentang Naruto. Terutama Menma dan Sakura, semenjak mereka mendengar beberapa cerita singkat mengenai Naruto, mereka semakin sering memikirkan orang itu. Mendadak Naruto menjadi sosok yang sangat mereka kagumi karena cerita-cerita tentangnya.

"Naruto memang terkadang melakukan tindakan yang di luar dugaan. Beberapakali aku terlibat misi dengannya dulu, aku sering dibuat tidak mengerti mengenai alasan-alasannya yang membiarkan musuh melarikan diri, atau membunuh orang tanpa alasan yang jelas." Timpal Kakashi.

"Yah … begitulah, Naruto-san adalah orang yang sangat misterius. Aku juga punya beberapa pengalaman dengannya, yang sampai sekarang membuat ku heran sekaligus kagum padanya." Ujar Yamato.

Menma setelah mendengar perkataan Yamato,menghela napas lesu. Ia menggerutu.

"Haah … enak ya jika pernah punya pengalaman dengan Naruto-san, aku jadi ingin punya juga."

Sontak, mendengar ucapan Menma membuat ekspresi Kakashi dan Yamato berubah sewot.

"Enak dengkulmu! Jika menjalankan misi dengan Naruto-san itu taruhannya nyawa, karena bukan misi biasa yang dijalani." Cibir Yamato.

Kemudian Yamato pun menghela napas, setelahnya ia tersenyum kecil.

"Tapi ya … tetap saja, akan selalu ada hal menarik jika menjalani misi bersama Naruto-san. Dia itu keren, dan yang paling keren darinya adalah … kau akan mendapat hal tak terduga darinya yang akan menjadi pembelajaran untukmu."

Ketika Yamato memandang ke arah Menma, wajah langsung kembali sewot.

"Aku bukan homo!"

Baru saja Menma ingin mengatai Yamato homo, buru-buru disentak oleh orang itu. Bagaimana tidak, Yamato mengatakan bahwa Naruto itu keren, sambil senyum-senyum sendiri.

"Hebat yah … bahkan Yamato-taicho saja bisa jatuh cinta kepada Naruto-san. Nee … apa Naruto-san itu juga tampan?"

Sakura dengan kedua mata yang berbinar-binar sembari menangkup kedua tangannya, memandang ke arah Yamato. Orang yang dipandang, menjadi bertambah kesal dengan perempatan yang membengkak di pelipisnya.

"MANA MUNGKIN AKU JATUH CINTA PADANYA! Oh kami-sama …"

Yamato pundung dan badannya meletoi, disertai awan-awan kegelisahan yang menyorak-nyorakinya "homo, menjijikan, tak bermoral, penghuni neraka, orang jahanam, dan … BNP?"

"Oh … kau tahu Sakura-chan? Bahkan Naruto-san jauh lebih tampan dari Sasuke loh …" timpal Menma.

"Eh, Benarkah? Enaknya …"

"… aku jadi ingin secepatnya bertemu dengan Naruto-san. Tapi …"

Sakura menundukkan kepalanya, dan menunjukkan dengan jelas lesu yang tercetak di ekspresinya.

"… aku rasa, aku sendiri yang belum pernah bertemu dengan Naruto-san di sini."

"Tenang saja, Sakura-san. Kau punya partner masalah itu."

Sakura menengadah melihat ke arah Sai yang baru saja berbicara, dan mendapati orang itu tersenyum pulas sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Tapi jangan mencoba-coba merayunya, Sakura." Ujar Kakashi.

Sakura menoleh ke arah Kakashi dengan raut bertanya.

"Karena Naruto tidak akan pernah memandang wanita lain."

Sakura semakin mengerutkan wajahnya mendengar perkataan gurunya itu.

"Wanita lain?"

Kakashi menutup matanya, kemudian mendorong tubuhnya ke belakang untuk bersandar di kepala ranjang yang ia tempati.

"Naruto tidak memiliki mata lagi. Naori tidak akan membiarkan Naruto berbuat yang macam-macam dengan mata yang dia titipkan padanya."

"Naruto-san … buta?"

"Lebih tepatnya buta untuk jatuh cinta kepada wanita lain. Sekalipun ada wanita tercantik di dunia ini datang padanya, tetap tidak akan dia lihat."

Jiraya menimpali perkataan Kakashi dengan wajah tenang dan kedua mata tertutup. Ia menyandarkan diri pada dinding ruangan sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

Sedangkan Sakura yang mendengar perkataan Jiraya, menggeram bingung. Bibirnya berbelok dengan kedua mata yang membawa pandangan tak mengerti.


Amegakure no Sato, markas Akatsuki.

Beralih ke Amegakure, markas Akatsuki. Ada beberapa orang sedang mengisi di dalam ruangan markas itu. Mereka adalah Pain, Konan, Hidan, dan Kakuzu. Sedangkan anggota yang lain berada dalam misi masing-masing.

Setelah terbunuh Sasori dan Deidara, serta gagal untuk mendapatkan Ichibi, Pain langsung mengeluarkan resolusi untuk mempercepat penangkapan Jinchuuriki. Hampir semua anggota diperintahkannya untuk mencari lokasi Jinchuuriki yang belum diketahui.

Pain merasa cukup gelisah dengan beberapa hal yang menimpa Akatsuki. Ia sedikit mempersalahkan keputusannya untuk lebih memulai pergerakan kelompoknya. Meski hanya beberapa langkah, tetap saja ia tidak menyangka akan ada orang yang mencium pergerakan mereka.

Pain pun semakin gelisah saat orang yang mengetahui tentang kelompoknya belum ia ketahui sama sekali. Sebenarnya sudah cukup lama Zetsu memberitahu kepadanya tentang adanya beberapa pergerakan aneh yang terjadi di Amegakure, namun karena waktu itu Pain lebih memfokuskan Akatsuki untuk mengurus perkara finansial, hal itu menjadi terabaikan.

Sehingga sekarang, Akatsuki dikejutkan dengan terbunuh Sasori dan Deidara secara tiba-tiba, setelah mereka berdua Pain kirim untuk menangkap Jinchuuriki Ichibi. Alih-alih dua anggota Akatsuki yang dikirim Pain berhasil mengantongi misi mereka, mereka malah menjadi orang mati yang dikantongi serta dibawa ke hadapan Pain oleh Zetsu.

Karena itulah Pain membuat Akatsuki bergerak lebih intens, dengan memberi misi beberapa anggota Akatsuki untuk mencari lokasi Jinchuuriki yang belum diketahui, serta Zetsu yang dikhususkannya untuk mengurus pengacau Akatsuki yang belum diketahui itu setelah diberikan beberapa petunjuk oleh Itachi, yang tidak lain orang itu adalah Naruto.

Konan karena posisinya sebagai tangan kanan Pain, tetap berada di markas bersama Pain menunggu konfirmasi misi dari anggota Akatsuki yang pergi. Hidan serta Kakuzu yang tersisa pun, segera akan diberikan misi oleh Pain.

"Jadi … karena kalian berdua yang tersisa, kalian berdua pergilah ke Konoha untuk mengecek situasi di sekitar Jinchuuriki Kyuubi. Tidak perlu menangkapnya, cukup lakukan pengintaian dari jauh. Karena entah kenapa saat ini Konoha menjadi sangat tertutup, dan sangat sulit disusupi."

Pain tanpa basa-basi langsung memberikan perintah kepada Hidan dan Kakuzu, setelah baru saja mereka memasuki markas Akatsuki.

"Hah … menyusahkan. Bahkan ketika Itachi dan Kisame dikirim ke sana dua tahun lalu sudah kesulitan memasuki desa itu, dan sekarang, desa itu telah menjadi sangat ketat." Ujar Hidan dengan ekspresi sebal.

"Setahuku Konoha tidak seperti ini dulu, desa itu biasanya terbuka meski lokasinya yang cukup strategis. Konoha terbiasa membiarkan siapapun masuk dengan verifikasi yang mudah." Timpal Kakuzu datar.

Mereka berempat pun terdiam beberapa saat setelah penimpalan Kakuzu tentang Konoha yang beberapa tahun belakangan menjadi semakin tertutup rapat.

Anehnya, Konoha tetap membiarkan klien asing yang menawarkan misi untuk tetap masuk. Seakan-seakan, Konoha hanya menjaga diri dari sesuatu yang diperkirakan membahayakan desa itu.

"Konoha seperti telah mengetahui sebelum terjadi, siapa-siapa saja yang memiliki potensi berbahaya untuk desa itu yang akan mencoba menyusup."

Konan yang berdiri di sebelah Pain pun ikut mengeluarkan tanggapannya mengenai kecakapan Konoha sekarang.

"Hmm … apakah ada jutsu yang berfungsi sebagai radar yang mencakup luas, bahkan, hingga ke luar desa itu? Mungkin saja mereka menguasainya."

Pain memandang kepada Hidan yang baru saja melayangkan pertanyaan untuk mereka semua yang berada di dalam ruangan.

"Itu tidak mungkin. Andaipun ada, jutsu seperti itu tidak akan bisa dilakukan hanya oleh satu orang, bahkan sampai-sampai terus aktif dalam waktu bertahun-tahun tanpa henti." Ujar Pain.

"Itu benar. Sekalipun itu shodaime Hokage, Hashirama senju yang terkenal akan chakra monsternya, mustahil bisa melakukannya dalam waktu berhari-hari." Timpal Kakuzu.

"Lantas bagaimana desa itu bisa menjadi sangat menyebalkan seperti sekarang? Memangnya mereka punya doujutsu baru begitu? Yang bisa melihat ke beberapa tahun di masa depan."

Hidan menjadi semakin sebal dengan Konoha, padahal sebelumnya ia tidak pernah memiliki ketidaksukaan apapun terhadap desa itu. Ia bahkan baru sedikit mengenal tentang Konoha setelah bergabung dengan Akatsuki.

"Kita tidak akan bisa menguaknya dengan sedikit informasi yang kita punya mengenai desa itu."

Mendengar ujaran dari Konan, Hidan menggerutu sebal, Kakuzu hanya diam dengan ekspresi datar di balik cadarnya. Sedangkan Pain memperhatikan satu-persatu anggotanya.

"Kita kesampingkan saja masalah itu. Sebaiknya kalian segera pergi ke Konoha sekarang, untuk menghemat waktu."

"Dasar ketua kampret! Padahal terakhir kali kau mengabaikan sesuatu, jadi mengacaukan kondisi Akatsuki sekarang."

Hidan menyeletuk perkataan Pain dengan ekspresi jijik tanpa takut kepada ketua dari kelompok Akatsuki itu.

"Itu dulu, sebelum situasi Akatsuki menjadi seperti sekarang." Balas Pain datar.

"Baik, baik …"

Hidan menanggapi dengan malas pembelaan yang ditunjukkan Pain untuk dirinya sendiri. Ia bahkan tak segan-segan berkecak pinggang sambil mematah-matahkan lehernya ke kiri-kanan.

Kemudian Hidan dan Kakuzu hendak berbalik untuk pergi meninggalkan markas Akatsuki, ditahan oleh instrupsi Pain.

"Sebelum kalian pergi, ada anggota baru yang akan aku kenalkan kepada kalian."

Pain mengalihkan direksinya ke arah belakang Hidan dan Kakuzu.

"Sepertinya dia baru saja datang."

Serentak Kakuzu dan Hidan mengikuti arah pandangan Pain, dan mereka mendapati orang asing bagi mereka yang baru saja memasuki ruangan tempat mereka berada.

Orang yang baru memasuki ruangan tempat 4 orang anggota Akatsuki berada itu, mengenakan jubah yang sama seperti semua anggota Akatsuki, jubah panjang dengan aksen awan merah yang menjadi lambang Akatsuki. Namun, wajahnya tak dapat dikenali karena tertutup oleh topeng oren berbentuk spiral, yang goresan spiral itu berpusat pada satu lubang yang membuka matanya.

"Perkenalkan! Tobi si anak baik yang bijaksana, karena itu nanti belikan dango ya …"

Orang itu memperkenalkan diri sebagai Tobi dengan suara riang laiknya anak-anak, setelah mendekat ke arah 4 orang anggota Akatsuki di sana.

"Atau …"

Tobi sedikit memeringkan kepalanya ke kanan, menatap ke arah Kakuzu beserta Hidan dari satu-satunya bolongan di topeng yang ia kenakan.

"… lolipop juga boleh."

Hidan dan Kakuzu serentak dengan tiba-tiba menegangkan mata mereka. Mereka merasakan rambut-rambut di balik tengkuk mereka menegak gelisah. Yang menyebabkan mereka bereaksi seperti itu, adalah Tobi sendiri.

Tobi yang awalnya memperkenalkan diri dengan suara khas bocah cilik 6 tahun, tiba-tiba merubah suaranya menjadi berat, yang juga mencekam.

Kedua mata Hidan dan Kakuzu bertambah tegang, bahkan Hidan sampai-sampai menggertakkan giginya. Ketika melihat ke lubang di topeng Tobi, tergambar oleh netra mereka sebuah mata sharingan, yang sharingan itu lebih gelap dari seorang Uchiha yang mereka kenal.


"Apa kau yakin, Naruto? Aku tidak bisa menjamin keberhasilan pencangkokannya, karena klan ini masih belum aku ketahui secara pasti tentang identitas mereka. Dari satu-satunya anggota klan ini yang ku punya, memiliki tubuh yang aneh sekaligus berbahaya."

Orochimaru memandang getir ke arah Naruto yang baru saja melepas jubah mantel hitamnya, yang kemudian dia sampirkan ke kepala kursi kayu di sebelah ranjang besi.

"Aku sudah tidak memiliki keraguan lagi sekarang."

Naruto duduk di atas ranjang besi yang dingin, kemudian menggunakan kedua tangannya untuk melepas beberapa tali pengait di bawah lingkaran leher, tepat di bagian yang menutupi dada atas kaos putih lengan panjangnya.

Setelah melepas tali-tali pengait itu, Naruto menanggalkan kaos itu dari badannya. Kemudian kaosnya yang ia lepas itu, ia sampirkan di kursi yang tadi ia gunakan untuk menyampirkan jubah mantelnya.

Tubuh Orochimaru menengang, dan kedua matanya membelalak lebar memperhatikan tubuh Naruto yang tidak lagi tertutupi oleh kaosnya tadi.

"Tubuhmu … a-apa yang terjadi?"

Naruto tidak langsung menjawab pertanyaan dari Orochimaru, ia terlebih dahulu membaringkan dirinya di ranjang besi. Naruto mengatup rahangnya menahan diri dari menggigil, setelah kulitnya bersentuhan langsung dengan besi ranjang yang dingin.

"Ceritanya panjang, kau takkan tertarik mendengarnya."

Setelah Naruto berbaring, Orochimaru dapat melihat lebih jelas keanehan pada tubuh Naruto. Ia melihat tubuh Naruto seperti dililit oleh aksara-aksara fuinjutsu berwarna hitam. Aksara-aksara fuinjutsu itu, tertoreh secara diagonal dan horizontal di hampir seluruh tubuh bagian atas Naruto. Bahkan, hingga meliuk-liuk sepanjang kedua lengannya.

"T-tapi ini … bagaimana bisa …?"

Orochimaru melangkah pelan dengan patah-patah ke sisi ranjang besi yang dibaringi Naruto. Matanya yang masih membelalak lebar, tak bisa lepas dari memperhatikan tubuh Naruto itu.

Naruto memejamkan matanya sesaat. Ada beberapakali hesapan hidung untuk membawa udara mengisi paru-paru yang cukup terdengar.

"Aku tidak berminat untuk menceritakannya."

Orochimaru menegukkan ludahnya yang sempat tercekat beberapa saat lalu.

"B-baiklah."

Kemudian ada helaan napas panjang dari Orochimaru, membuat Naruto membuka matanya untuk memandang orang itu.

"Apa aku perlu mengikat tubuhmu?" tanya Orochimaru.

"Kurasa perlu." Jawab Naruto.

Orochimaru mengangguk mendengar jawaban Naruto. Ia membawa dirinya ke rak penyimpanan di dekat ranjang, kemudian mengambil beberapa sabuk kulit berwarna hitam.

Orochimaru mengait semua sabuk itu di sisi-sisi ranjang, kemudian ia ikat kencang untuk mengunci tubuh Naruto, dari dada hingga kaki. Naruto merintih sedikit karena ikatan yang digunakan Orochimaru padanya.

Setelah itu,Orochimaru mengambil beberapa pisau bedah beserta gunting dari dalam lemari kecil di sebelah ranjang, tepat di sisi kepala Naruto. Pisau-pisau bedah beserta gunting yang ia ambil, ia taruh di atas lemari kecil itu, yang juga sudah ada sebuah tabung seukuran genggaman tangan orang dewasa.

Tabung yang ada di atas lemari di sisi ranjang itu, berisi penuh cairan hijau, serta segumpal sel daging berwarna hitam kecoklatan yang mengambang di dalamnya.

Orochimaru setelah meletakan peralatan bedah tadi di atas lemari kecil, mengalihkan penglihatannya ke arah Naruto. Ia memandang wajah Naruto dengan kedua mata yang meredup sayu.

Pandangan Orochimaru kemudian menurun, dan kembali memperhatikan tubuh Naruto.

"Kau seperti ingin mengakhiri hidupmu, dengan membuat tubuhmu menjadi seperti ini, Naruto."

Naruto yang sebelumnya melihat Orochimaru, beralih menatap atap ruangan yang remang tempat ia dan Orochimaru berada. Kedua mata onyx menerawang dengan rapuh, ketika memandang ke arah atap ruangan.

"Masih belum, setidaknya sampai aku berhasil menghentikan Akatsuki, jika suatu saat mereka akan menyerang Konoha."

.