SENYUM REKAH YANG BERBOHONG
.
Sewaktu Naruto terjaga, matanya terasa gelap, tubuhnya terasa kehilangan kehidupan. Ia masih setengah sadar untuk mencari tahu di mana ia berada sekarang.
Ia pun mencoba mengendus-enduskan indera penciumannya. Tatkala, hanya ada bau-bau ketenangan dan kesunyian yang mengitari tempatnya berada.
Lambat laun, penglihatannya berangsur membaik. Bidang-bidang putih yang ditabiri embun mewarnai penglihatan Naruto. Menjadi yang pertama untuk ia dapat melihat kembali, setelah beberapa saat tidak bisa memfungsikan matanya.
Selanjutnya, ia juga kembali bisa merasakan anggota tubuhnya yang lain. Naruto mencoba menggerakkan kedua tangannya, kemudian ia bawa bagian telapaknya menghadap ke arah wajahnya.
Setelah itu, matanya yang melihat ke arah telapak tangannya mulai kembali normal. Ia pun memperhatikan dengan cermat kedua telapak tangannya itu.
Beberapa saat kemudian, hembusan sejuk menghempas tubuh Naruto. Ia merasakan darahnya berdesir tenang karena itu, dan ia menutup kedua kelopak matanya.
Naruto menikmati belaian-belaian syahdu itu yang menerpa dirinya. Sampai ketika hembusan itu mulai mereda, ia kembali membuka kedua kelopak matanya. Dan ia sedikit menaikan sebelah alisnya.
Ia yang awalnya hanya mendapati bidang-bidang putih kosong dari penglihatannya, kini di sekitarnya diisi penuh elemen-elemen bumi dari bagian keindahannya.
Dari matanya, hingga batas pandangannya, Naruto melihat hamparan padang bunga. Padang bunga itu diisi oleh berbagai jenis bunga, yang tidak semuanya ia ketahui jenis-jenis dari bunga-bunga itu.
Kemudian, sinar putih mengguyuri dirinya. Naruto mendongak, dan melihat ada matahari putih yang mendiami langit tenang bertengger jauh dari atas kepalanya.
"Hajime kara sou datta~
Bokura wa dare kato kuraberare ikite kite~
Waraou to shita~
… "
Kepala Naruto dituntun lembut dari mendongak, menuju asal dari suara yang ditangkap oleh indera pendengarannya. Tatkala direksinya telah terkunci ke sana, matanya terpaku. Darahnya berdesir hangat.
Di sana, di sisi padang bunga yang terdapat danau kecil, Naori duduk membelakangi Naruto dengan kedua kakinya yang tenggelam ke dalam air.
Kelopak matanya tertutup rapat, mulutnya bergerak nyaman mengalirkan nada-nada baik. Mengudang ketenangan bagi tekanan di sekitarnya, sekaligus bagi kehidupan Naruto.
Tanpa perintah, sudut-sudut bibir Naruto menarik senyum. Senyum yang dalam. Tanpa tabir, Naruto dapat dengan bebas menikmati pandangan di hadapannya.
Di mana Naori yang duduk membelakanginya, tidak menyadari keberadaannya, dengan hembusan-hembusan yang menerbangkan pelan surai ungu panjangnya. Menyejukkan sekali.
Naori menhentikan senandungannya ketika hidungnya mengendus aroma khas kesukaannya. Ia menoleh ke arah belakang.
"Naruto?"
Ketika dipanggil dengan penasaran seperti itu oleh Naori, Naruto meneduhkan senyumnya. Ia pun berjalan mendekati Naori, setelah itu duduk dengan tenang di sisi gadis dewasa itu.
Sejenak Naruto memandang lembut ke arah danau kecil di hadapannya, sebelum beralih ke arah Naori di sebelahnya yang menghadap ke arahnya dengan raut penasaran.
"Kau mulai belajar menyambut kepulanganku, Naori?"
Naori pun tersenyum mendengarnya. Ia menjatuhkan dirinya ke sisi kiri, dan kepalanya bersandar di bahu Naruto.
"Kau selalu kelelahan ketika kembali ke sini, aku hanya berpikir bagaimana bisa membuatmu menjadi nyaman."
Naruto tersenyum teduh. Ia kembali memandang danau kecil di hadapannya.
"Tanpa semua inipun, kau sudah membuatku nyaman, kok."
Naruto merasakan gesekan di pundak kanannya, Naori tampaknya menggelengkan kepalanya dengan halus di sana.
"Itu memang benar, cukup denganmu saja sudah cukup."
Naruto mendengar tarikan napas panjang dari Naori setelah ia mengucapkan itu. Ia menoleh ke arah Naori yang masih bersandar kepadanya, dan memperjelas senyumnya.
"Naori, aku tidak pernah mempertanyakan kenyamanan tubuhku. Kau sudah cukup baik membuatku rendah diri. Bahkan lebih jauh dari itu."
Sontak, Naori menegakkan kepalanya. Membuat puncak kepalanya membentur dagu Naruto.
"Itte—"
Naruto merasa pipi kanannya dicubit, dari matanya yang menyipit ia melihat pelakunya adalah Naori. Meski dari kedua kelopak mata yang tertutup, Naruto tahu, Naori sedang memandang tajam ke arahnya.
"Kapan kau akan berhenti berbohong, Naruto."
Naruto memaksakan bibirnya tersenyum di tengah-tengah rintihannya.
"Setelah kau melepas cubitan ini. Sakit tahu!"
Naori pun melepaskan dengan kasar tangannya yang mencubit pipi Naruto itu. Ia mengalihkan wajahnya dengan ngambek dari Naruto.
"Terserah!"
Naruto tertawa pelan sembari mengelus-elus pipinya yang dicubit Naori tadi.
"Jangan seperti itu, kau bisa membuatku tertawa nantinya."
Naori hanya menggembungkan pipinya ketika mendengar itu dari Naruto. Dan akhirnya, Naruto benar-benar tertawa karenanya.
"Hentikan saja. Kau tidak benar-benar tertawa, Naruto. Aku tahu itu."
Sontak Naruto menghentikan tawanya. Ia memandang heran ke arah Naori.
"Kenapa kau berbicara seperti itu?"
Naori menoleh pada Naruto. "Karena aku tahu, kau berbohong."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Naori, membuat Naruto menyentakkan alis-alis matanya. Namun, sedetik kemudian ia kembali tersenyum.
"Itu tidak sepenuhnya benar …"
Naruto kembali membawa pandangannnya ke arah danau di depannya, kemudian memahat senyum teduh.
"… aku benar-benar tertawa ketika bersamamu."
Naori menaikan sebelah alisnya. "Aku akan bertanya sekali lagi …"
"… kapan kau akan benar-benar berhenti berbohong?"
Naruto diam beberapa saat dalam keteduhan senyumnya.
"Mungkin …"
Naruto menoleh ke arah Naori yang menghadap kepadanya, seperti mencoba menelisik ekspresinya dari balik kelopak mata yang tertutup itu.
"… saat aku benar-benar bertemu denganmu lagi."
Napas Naori tertahan mendengar perkataan Naruto itu. Beberapa saat kemudian ia menghembuskan napasnya itu dengan pelan, kemudian menundukkan kepalanya.
"Apakah itu, mungkin?"
Naruto menyunggingkan senyum halus mendengar pertanyaan Naori.
"Mungkin saja."
Naori semula diam. Ia tak berniat membantah Naruto, dan hanya menghembuskan napas berat. Setelah itu, ia kembali menyandarkan kepalanya ke bahu Naruto.
"Aku akan menunggu, bukan soal kedatanganmu. Tapi …"
Naori menyamankan kepalanya yang bersandar pada bahu Naruto. Ia seperti hendak tidur.
"… kebiasaanmu yang berbohong itu berhenti."
Naori sedikit mengencangkan otot-otot kedua kakinya, untuk membuat mereka membawanya melompati satu dahan ke dahan yang lainnya. Napas-napas udara menghembus kepada lapisan wajahnya yang belum dewasa.
Barisan-barisan pohon yang berantakan, ia singgahi satu-persatu secara acak. Dengan ketinggian yang beragam, namun nyaris sama semuanya, pohon-pohon di sana meski memiliki ukuran terlampaui tinggi, tidak menjadi masalah bagi tubuh kecil Naori untuk menjejaki dahan-dahannya.
Shi no mori, hutan terlarang Konoha memang dipenuhi oleh pepohonan yang besar, pun sangat tinggi. Dan juga, daerah itu menjadi habitat dari banyaknya hewan-hewan buas yang membahayakan bagi manusia biasa. Namun, bagi Naori tidak. Ia juga sudah sering menyusuri pedalaman hutan berbahaya ini untuk latihan.
Walau dirinya masih tergolong anak kecil, ia sudah menjadi ninja. Berpangkat genin. Ninja dilarang takut terhadap siapapun, apapun. Dengan pemikiran itu, Naori tidak memiliki alasan untuk gentar berkeliaran di hutan terlarang ini. Meski dirinya hanyalah anak kecil.
Selain itu, Naori adalah ninja yang jenius. Ia memperoleh pangkat genin saat umurnya ini masihlah 9 tahun. Di Konoha, umumnya seorang anak yang mencoba mengambil profesi sebagai shinobi, akan lulus menjadi genin pada umur 12 atau 13 tahun. Namun, Naori berbeda. Ia anak yang jenius, di antara beberapa anak jenius yang lainnya.
Naori juga seorang Uchiha, yang membuatnya memiliki beberapa keistimewaan daripada anak-anak yang lain. Dan di Konoha, adalah hal lumrah jika seorang Uchiha itu jenius. Di umurnya yang masih sangat muda ini, bahkan Naori telah membangkitkan kekkei genkai kebanggaan klannya; sharingan. Meskipun masih prematur.
Di setiap dahan yang ia tapaki, Naori secara bertahap menambah intensitas kecepatannya. Gerak tubuhnya yang menantang napas kehidupan, begitu luwes ia kukuhkan. Kedua bola mata sharigan satu tomoe-nya, mengamati dengan sungguh-sungguh letak-letak potongan hal di sekitarannya.
Pemancaran masih cukup minim meski di siang hari, karena Naori masih berada di tengah-tengah rerimbunan pohon. Tidak remang, suasana yang berpadanan dengan ruang seorang shinobi berada.
Tidak lama kemudian, di antara celah-celah dahan di hadapan lorong matanya, menunjukkan cahaya putih yang terang. Pada jarak cukup jauh, ketika kaki kanannya menginjaki salah satu dahan, Naori menambahkan cukup banyak cakhra ke sana, untuk membuatnya mampu melopat jauh, hingga dahan pohon terakhir sebelum tanah gundul di depannya.
Kedua mata sharigan-nya melihat dengan cermat area yang cukup lapang di depannya itu. Dari atas dahan pohon yang tinggi, Naori berdiri diam, namun siaga. Ia melihat tanah di sana, dibelah oleh aliran air kecil.
Di tepi aliran air kecil itu, terdapat batu besar yang tertanam. Dan tepat di atas batu itu, duduk seorang anak kecil yang tampak seumuran dengan dirinya, bersurai pirang pucat.
Kedua mata Naori terbelalak, tubuhnya menengang kuat, kemudian bergetar. Karena menyaksikan apa yang dilakukan oleh anak yang tampak seumuran dengan dirinya itu.
Anak itu, yang adalah Naruto kecil, sedang duduk letih di atas batu dengan tangan kanannya memegang kunai, yang ia tusuk-tusukkan sepanjang lengan kirinya. Tanpa nyaringan rasa sakit, tanpa tanggapan menanggung, tanpa ekspresi yang berarti. Ia menyanggupi menerima semua kegiatan menyakiti dirinya sendiri.
Kunai itu yang telah seenaknya menghujami sekujur lengan kiri Naruto, sehingga dari bagian lengan atasnya hingga ke bawah, tidak lagi menampakkan warna kulit, bak lengannya itu yang dicat pekat. Oleh darahnya sendiri.
Bahkan, penampilannya tampak compang-camping. Lusuh, bagai nyawa yang diolesi tinta kemiskinan. Kehancuran. Celana biru pendek yang Naruto kenakan, kumuh serta sobek di beberapa bagian. Di kedua kaki kecil Naruto, melingkar-lingkar goresan-goresan rasa sakit. Yang seperti tak ia pedulikan, atau mungkin, tak ia sadari.
Kaos putih tipis yang dikenakannya, terlihat sobek di mana-mana. Ada rupa laiknya cakaran-cakaran yang menghias tubuh kurus kecilnya, yang tak bisa disembunyikan oleh kaos putih itu. Kaos berwarna putih, yang tak lagi putih seperti yang seharusnya.
Naruto mencabut kunainya dari otot lengan kirinya. Darah memercik-mercik keluar dari tempat itu, sebagian jatuh ke atas permukaan tanah, sebagian pada bidang terjal batu yang ia duduki, dan sebagian lagi bergabung mengkamuflase lengan kirinya dengan darahnya yang lain. Mata Naruto kosong.
Ketika ia mencoba untuk menusukkan kunainya lagi, ke arah pundak yang dekat dengan lehernya, tangan kanannya itu dicekal oleh seseorang. Kedua mata Naruto tersentak sedikit. Ia mengalihkan pandangannya kepada orang yang menahan tangannya itu, dan mendapati Naori yang berdiri di kemiringan batu yang ia duduki, dan menatapnya dengan datar.
"Kau … kenapa?"
Naruto bisu. Kedua matanya yang kosong mengunci ekspresi datar Naori, yang tampak mencoba menyembunyikan ketakutan. Tangannya yang meski ditahan oleh Naori, tetap coba ia gerakkan untuk bisa digunakannya menusukkan kunai itu ke bahunya.
Naori mengerutkan ekspresinya. Tangan kanannya yang ia gunakan untuk menyekal tangan Naruto itu bergetar, karena ia gunakan sekuat mungkin untuk menahan tangan Naruto itu. Ia pun sudah tidak tahan lagi. Dengan tangannya itu, Naori memelintir pergelangan tangan Naruto. Membuat kunai itu terlepas dari genggaman Naruto, kemudian jatuh ke permukaan tanah.
Naruto tersentak ketika kunainya lepas dari genggaman tangannya. Ia menunduk ke bawah, untuk melihat kunainya yang telah tergeletak di permukaan tanah itu. Naruto hanya menaikkan sedikit sebelah alisnya. Kemudian ia kembali menoleh ke arah Naori yang masih menyekal tangannya.
Pandangan Naruto kembali mengunci ekspresi wajah Naori tidak jauh berbeda dari yang tadi ia lihat. Kedua bola matanya yang semula kehilangan warnanya, pelan-pelan memperlihatkan corak hijau kusam.
Naruto terperanjat. Seolah-olah baru menyadari ada seseorang di hadapannya yang sedang menyekal tangan kanannya. Bola matanya bergerak naik-turun, bolak-balik memperhatikan wajah Naori, serta tangannya yang dicekal itu.
"Kenapa …"
Pandangan Naruto berhenti di ekspresi Naori yang menatapnya lemah, dengan kedua matanya yang terbelalak lebar.
"… kau menyakiti dirimu sendiri?"
Setelah mendengar pertanyaan Naori kepadanya, Naruto mengerutkan dahinya.
"Menyakiti diri sendiri?"
Suara khas anak-anak Naruto yang parau, bak terdengar bagai bilah-bilah belati yang menyayat pendengaran Naori. Sontak ekspresinya semakin menyendu.
"Lenganmu, ada apa?"
Naruto semakin mengerutkan dahinya. Ia beralih menatap tangannya yang masih dicekal oleh Naori. Kemudian kembali memandang ke arah Naori.
"Tidak ada apa-apa."
Naori menghembuskan napas yang sayup-sayup. Ia melepas cengkramannya pada tangan Naruto, kemudian duduk melipat kedua kakinya di sisi Naruto.
"L-lengan kirimu."
Naruto membawa pandangan dengan penasaran menuju tangan kirinya yang terkulai lemas di sisi tubuhnya. Setelah melihat ada apa dengan tangan kirinya, ia hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Ooh …"
Ia kembali mengalihkan direksinya ke arah Naori. Wajahnya mendadak riang, senyumnya merekah. Tidak menunjukkan penderitaan dari sari-sari ekspresi yang ia utarakan.
"… ini tidak aneh, kok."
Naori tersentak mendengar pernyataan Naruto, yang dikatakanya dengan raut ceria seperti itu. 'tidak … aneh?'
"Aa—"
Baru hendak memerotes, suaranya langsung tercekat karena melihat perubahan ekspresi yang ditunjukkan oleh Naruto; kesakitan. Naruto tiba-tiba merintih-rintih, dengan tangan kanan yang mencoba menyemat lengan kirinya itu.
Ketika baru sedikit saja telapak tangan kanannya menyentuh lengan kiri atasnya itu, Naruto lansung terlonjak dan dengan sekejap menjauhi tangan kanannya.
Naori sontak kembali menunjukkan keterkejutannya. Ia baru saja sedikit mencodongkan dirinya ke arah Naruto, ketika mulutnya yang terbuka hendak bertanya, ditahan oleh telapak tangan Naruto yang berlumur darah, yang menghadap wajahnya.
"Tidak apa-apa,"
Naori menaikan sedikit kepalanya, untuk melihat wajah Naruto yang menampilkan senyum rekah, dengan kedua kelopak yang tertutup bergetar, serta wajah yang pucat pasi. Naori memandang datar ke arah Naruto. Ia mulai tak mempercayai senyum itu.
"Ini tidak sakit."
Naori mencengkram kedua tangannya yang berada di atas masing-masing pahanya sekuat yang ia bisa. Pandangannya menajam ke arah Naruto.
"Tidak mungkin."
"Hm?" Naruto membuka matanya untuk memandang Naori, yang sedang mendelik kepadanya.
"Kau pasti bohong. Aku tahu, itu …"
Naori menurunkan pandangannya ke arah tangan kiri Naruto yang terkulai, dan kelopak matanya menurun, sharingan-nya meredup. Ia merasa seperti ada beberapa jarum tak kasat mata, yang menghujam indra penglihatannya ketika melihat lengan kiri Naruto yang berlumuran darah.
"… pasti sangat sakit."
Iwagakure, secara harfiah berarti "Desa tersembunyi di bebatuan" adalah desa tersembunyi di negara tanah. Sebagai salah satu dari lima negara besar shinobi, Iwagakure memiliki seorang kage sebagai pemimpinnya yang dikenal sebagai Tsuchikage, yang saat ini menjabat adalah Onoki.
Iwagakure terkenal dengan prilaku shinobi-shinobinya yang sekeras batu. Sekali saja pemimpin mereka memberikan perintah, maka akan mereka laksanakan, bahkan jika itu berimbaskan kematian. Tanpa ragu.
Pegunungan berbatu yang mengelilingi desa dan negara memberikan sebuah benteng alami. Keuntungan desa dari posisi yang menguntungkan ini dan sebagai kebanggaan mereka sebagai pertahanan mereka yang kuat.
Iwagakure berada di antara pegunungan yang terdiri dari beberapa air terjun kecil yang sempit, dan bangunan-bangunan yang terdiri dari bebatuan besar dan kecil; terbentuk dari yang paling besar, formasi batu ditinggikan hingga menjadi struktur seperti menara. Banyak bangunan-bangunan berada di tebing yang terhubungan dengan jaringan jembatan.
Iwagakure didirikan oleh Tsuchikage pertama. Pada suatu saat, Hokage pertama, Hashirama, membagikan bijuu ke lima negara besar shinobi sebagai penawaran damai untuk memastikan keseimbangan desa. Ketika Uchiha Madara masih seorang shinobi Konoha, ia mendekati Mu dan Onoki. Di mana ia memberitahu bahwa walaupun aliansi Iwa telah terjalin dengan Konoha, desanya tetaplah memiliki kekuatan dominan. Dan dari hal itu, mereka harus mematuhi Konoha. Setelah itu, Madara bertarung dan mengalahkan mereka.
Suatu saat di masa lalu, karena permusuhan besar Mizukage kedua dengan Tsuchikage kedua, kedua orang ini akhirnya saling membunuh di konfrontasi terakhir.
Iwagakure memiliki 2 ekor bijuu, yaitu Yonbi dan Gobi. jinchuuriki dari kedua ekor bijuu ini adalah, Roshi dan Han. Ketika perang dunia shinobi kedua, Iwagakure memainkan peran kecil, yang nantinya akan menjadi perkembangan mereka dalam mengguyuri konfrontasi perang dunia shinobi yang ketiga.
Beberapa tahun lalu, Tsuchikage dikenal sebagai pengguna taktik licik untuk memenangkan perlawanan mereka terhadap musuh mereka. Hal ini termasuk mempertahankan kekuatan militer yang kuat di masa damai, dengan sering mempekerjakan Akatsuki secara diam-diam untuk bertarung ketika ada perselisihan yang mereka hadapi. Taktik lainnya termasuk mengkhianati sekutu mereka, saat tujuan mereka telah tercapai untuk mendapat harta rampasan dari sekutu mereka itu.
Iwagakure diketahui juga telah mencoba menghancurkan Konoha berkali-kali di masa lalu. Mereka menggunakan berbagai macam aset seperti klan-klan sohoran mereka, atau yang lainnya, untuk menyerang Konoha. Sayangnya, mereka tidak pernah berhasil untuk menyetuh, barang sejengkal pun ke wilayah Konoha.
Anbu meijin, adalah kelompok anbu khusus yang dimiliki Konoha, yang memegang peranan penting dalam semua kegagalan-kegagalan Iwa yang mencoba menghancurkan Konoha. Semenjak anbu meijin dibentuk, Naruto, Naori, Shisui serta Itachi tidak pernah berhenti berkeliaran di sepanjang dunia shinobi untuk membuat piasan yang dapat melindungi desa mereka.
Karena mereka tahu, setelah perang dunia shinobi ketiga berakhir, Konoha adalah desa ninja yang paling banyak memiliki musuh, yang ingin membalaskan dendam kepada desa itu. Tidak hanya kapasitas desa ninja dalam negara-negara bagian, wilayah independen yang memiliki kemampuan khusus pun, juga mencoba meruap kesempatan untuk menyelisihi Konoha.
Oleh karena itu, bahkan kadang tanpa surat perintah khusus dari Hokage, anbu meijin beredar di seantero dunia shinobi, untuk membentengi Konoha. Semua negara telah mereka jejaki, bahkan yang tak mereka ketahui wilayahnya. Namun, meski banyak sekali wilayah yang mereka datangi, pengaruh yang mereka lakukan, tidak ada yang mengetahui tentang mereka, sekecil apapun. Hanya petinggi-petinggi Konoha, dan orang-orang khusus lah yang mengetahui sesuatu tentang mereka.
Anbu meijin laiknya tangan-tangan tersendiri bagi Konoha, untuk menjamahi macam-macam daerah di muka bumi shinobi. Tidak ada yang benar-benar mengetahui secara utuh tentang mereka, selain mereka itu sendiri. Merekalah sayap-sayap pelindung, yang bahkan tidak diketahui oleh yang dilindungi mereka.
Namun, setelah banyak tahun berlalu, akhirnya Konoha kehilangan tangan-tangan penangkup itu, hingga tersisa hanya sepasang tangan dari tangan-tangan penangkup mereka. Naruto sebagai satu-satunya yang tersisa, yang masih memiliki kesempatan untuk menjadi tangan penangkup Konoha, menjalankan tugasnya sebagai benteng khusus Konoha seorang diri.
Tanpa sadar, membuat dirinya kehilangan naungannya sendiri. Atau bahkan, sejak dulu Naruto memang tidak memiliki naungan. Seseorang yang tak mengetahui tentang dirinya sendiri, memangnya pantas untuk mendapatkan naungan?
Alasan Naruto melindungi Konoha itu sederhana saja. Hanya karena sahabat-sahabatnya, demi menyelematkan harapan-harapan para rekannya yang telah gugur, terutama, untuk Naori. Meski tidak memiliki keuntungan sedikitpun, Naruto merelakan kemampuannya untuk melindungi kehidupan-kehidupan yang dicintai oleh rekan-rekannya terdahulu. Ia yang tak memiliki keinginan, memang sepantasnya begitu, kan?
Naruto mengalirkan cakhra-nya yang cukup banyak, menuju kedua matanya. Membuat kedua bola mata sharingan-nya menyala terang dan berputar pelan, di balik suasana petang di sekitarannya.
Ia menatap dengan intens sejumlah besar air deras yang jatuh tepat di hadapannya. Dari mata biasa, di balik air yang terjun itu tidak akan terlihat apa-apa selain air yang jatuh dengan deras itu sendiri. Namun, dari mata Naruto tidak. Dengan sharingan, penglihatan Naruto dapat menembus dengan cukup jelas kepada apa yang di balik air terjun di hadapannya itu.
Bola mata sharingan itu bergerak ke berbagai sisi secara bergantian dengan cermat. Naruto tampak sedang mencari-cari, atau menerka-nerka dari pandangannya kepada sesuatu di seberang air terjun itu.
Setelah beberapa saat seperti mengamati, Naruto meluruskan pandangannya ke arah medio air terjun di hadapannya. Ekspresinya datar. Kemudian, ia melangkah lari ke air terjun itu sedikit, setelah itu melompat. Sebelum dirinya tertampar air terjun yang akan membawanya jatuh itu, ada akar-akar api yang menjalar di lehernya, yang muncul dari balik pakaiannya.
Tubuh Naruto terhempas keras oleh air terjun itu, yang membuatnya tenggelam mengikuti arus jatuh dari air itu. volume-volume yang hingga terkecil dari air terjun yang menenggelamkan Naruto, bak mencabik-cabik tubuh Naruto tanpa ampun dengan terjangannya.
.
