KEBIJAKSANAAN YANG MENYIMPANG


.

Sejumlah lipatan-lipatan rasa sakit mulai menggerogoti kesadarannya. Naruto sekuat mungkin mengerahkan seluruh kemampuannya untuk bertahan hidup dalam keadaan yang ia alami saat ini.

Bobot yang begitu besar dari banyaknya air yang menekan seluruh tubuh, menghabiskan secara tangkas pasokan oksigen yang tersimpan dalam paru-paru Naruto.

Tanpa ampun dan kebebasan sepotong kecil pun, cairan-cairan yang menenggelamkan Naruto itu menajam di setiap bilahnya, menghujam tanpa belas kasih ke seluruh permukaan tubuh Naruto, baik yang terlindungi oleh pakaian yang ia pakai, maupun tidak.

Permukaan wajah Naruto yang menghitam, menunjukkan emosi bahwa si empunya berusaha menahan rasa sakit yang luar biasa. Kehabisan oksigen yang membuat paru-parunya mogok kerja, dan nyeri yang teramat begitu erat mencengkram tubuhnya, sedang mencoba memerintah mulut Naruto untuk berteriak.

Naruto menahan sekuat yang ia mampu untuk tidak berteriak agar keadaannya tidak lebih buruk lagi. Sejumlah air sudah cukup banyak masuk ke dalam tubuhnya, maka akan semakin berbahaya jika membiarkan mulutnya terbuka pada saat ini.

Kedua kelopak matanya menutup rapat, bentuk dari ekspresi rasa sakit yang bercampur dengan usahanya untuk menahan prilaku-prilaku alami air yang dapat merusak matanya.

Arus air yang sangat deras dan terkesan buru-buru, terus membawa Naruto ke arah yang ia inginkan. Begitu pesat, tanpa memperhatikan bentuk kesakitan yang dialami oleh Naruto, arus itu tetap membawanya.

Di tengah-tengah giringan air, Naruto berusaha keras membuka mata kanannya sedikit secara perlahan. Matanya itu yang telah berubah menjadi mangekyou, mencoba menelisik dari belakang jumlah-jumlah cairan.

Naruto memaksimalkan kemampuannya pada mata itu untuk mengetahui keberadaan permukaan yang ia tuju. Ketika usaha yang ia kerahkan belum memberikan hasil yang ia inginkan, ia semakin mengeraskan rahangnya. Ekspresinya bercampur antara kesakitan dan kekesalan.

Kemudian, tiba-tiba pukulan kuat kepada kesadarannya, memaksa Naruto untuk berusaha semakin keras untuk mempertahankan kesadarannya itu.

Namun, karena semakin kuat pukulan yang ia terima dari padatnya volume-volume air yang melingkupinya, Naruto sudah tidak sanggup untuk tetap bertahan.

Setelah itu, mata kanannya yang masih menyipit, perlahan-lahan menutup gagap. Naruto pingsan dengan tubuhnya yang masih diserat kuat oleh arus, mengikuti kanal yang membawanya pada satu tujuan.

.

Roshi duduk di atas batu yang berukuran cukup. Kedua matanya menatap lelah ke arah perapian di hadapannya yang sedang membakar beberapa ikan yang ia tangkap.

Api pembakaran itu, menjadi salah satu penerangan yang membentuk sosok Roshi di waktu-waktu malam gelap begini. cahaya bulan mengulas daerah-daerah di sekitarnya yang diisi oleh tanah dan bebatu-batuan keras.

Roshi merasa letih dengan umurnya yang kian menua. Meski dengan bentuk tubuhnya yang masih terlihat kokoh, keadaan mentalnya sudah tidak memiliki kemampuan yang cukup lagi untuk membantu menjalani hidupnya dengan baik.

Terlepas dari fisiknya yang telah terbiasa dengan banyak bentuk kekerasan, kesadarannya semakin tumpul akan bentuk-bentuk kehidupan yang berat. Bahkan untuk menjalani kesehariannya saja, Roshi selalu merasa lelah dalam setiap keadaan.

Kemudian juga dengan kondisi hidupnya yang sudah lama menanggung berat mantel Jinchuuriki, berbagai bahaya sering meneror dirinya karena apa yang dimiliki oleh bijuu di dalam dirinya ini.

Diistimewakan oleh desanya karena apa yang bukan miliknya, kemudian diberikan tanggung jawab yang sangat membebani dan membuatnya begitu tertekan. Berkali-kali ia berharap, supaya kematian menjemputnya lebih cepat. Ia merasa tidak sanggup lagi dengan semua yang telah ia lalui, dan akan ia jalani.

Roshi menengadahkan kepalanya menatap bulan yang terbuka dengan jelas. Ia menghembuskan nafas panjang, nafas yang tersirat sangat lelah.

Lelahnya …

'Jangan begitu, manusia. Dasar, kenapa kalian para manusia lemah sekali untuk menerima takdir kalian.'

Roshi sedikit tersentak ketika mendengar perkataan berat yang bergema di dalam kepalanya, sebelum ia kembali menghela nafas lelah.

'Jangan ikut campur. Aku sudah tua, dan sudah cukup menjalani peranku selama ini.'

'Dari mataku, kau sama sekali belum menyelesaikan peranmu sejauh ini. Yang kau lakukan selama ini hanyalah terus-terusan mengeluh akan keadilan-keadilan yang tak pernah memihakmu.'

Roshi menghela nafasnya lagi. 'Yonbi, kau tak pantas mengatakan itu padaku. Aku mengeluh pada diriku sendiri, dan seharusnya itu bukan masalahmu. Sebaliknya, kau malah mengeluhkan masalahku seakan-akan itu menjadi masalahmu juga.'

Yonbi yang berada di dalam diri Roshi mendecih. 'Aku mengeluh katamu? Jangan bercanda. Kau pikir sudah selama apa aku hidup di dunia ini? Jangan sombong hanya karena kau menjadi inangku.'

Mendengar perkataan Yonbi, Roshi sontak menggenggam erat kedua tangan yang bertumpu di atas pahanya.

'Yang sombong itu kau. Memamerkan umur tuamu untuk menyudutkanku, kemudian melempiaskan kesialanmu kepadaku. Kau memang telah hidup sangat lama, tapi itu sama sekali tidak membuatmu berpikir lebih baik dariku.'

'Haahh—'

'Sudah, cukup!'

Yonbi tersentak, mata besarnya bergetar ketika emosi-emosi buruk tersampaikan padanya lewat sentakan Roshi barusan. Bentuk-bentuk kegelisahan dan keluh kesah dari Roshi yang dulu pernah ia alami, membebaninya, membuatnya membenci penciptaan atas dirinya, sehingga ia putuskan untuk membunuh perasaan itu.

Roshi seakan menyadarkan Yonbi akan batasan manusia dalam menanggung hidup yang berat. Manusia tidak memiliki kemampuan yang terlalu kuat, untuk menanggung nasib nahas yang ditumpahkan sepanjang hidupnya.

Namun, Yonbi tetap tidak ingin menerimanya. Bijuu itu tetap berpikir manusia terlalu lemah menyikapi hidup mereka. Selalu mengeluh, kemudian mengharapkan kematian sebagai bentuk penyalamatan atas penderitaan mereka. Membuat kehidupan sama sekali tidak memiliki harganya di mata mereka.

'Cih.'

Roshi mengabaikan decihan dari Yonbi. Kedua matanya menatap kosong ke arah perapian yang kian meredup di hadapannya. Ia bahkan tak memperdulikan ikan-ikan yang dibakarnya gosong, meski ia telah bersusah payah untuk menangkapnya. Napsu makannya hilang.

Ketika Roshi sedang menoleh ke arah kanan untuk membuang nafas, ia dikejutkan dengan jasad seseorang yang hanyut, mengapung di atas kanal kecil di sebelahnya itu.

Roshi tanpa pikir panjang segera bergerak cepat untuk menyelamatkan orang itu. Ia begitu saja menceburkan dirinya ke dalam air, melupakan dirinya yang sebenarnya tidak terlalu peduli akan orang lain. Gerakan emosi wajahnya tampak berubah.

'Heh..? seperti prilaku yang bukan dirimu saja, ya.'

Roshi hanya mendecih tanpa berniat membalas ucapan mengejek dari Yonbi yang menggema di dalam kepalanya, ia hanya terus memanggul orang yang baru diselamatkannya, dan membawanya ke tepian tanah.

Setelah menepi, Roshi lansung saja membaringkan orang itu di atas permukaan tanah. Karena tidak memiliki pengalaman ilmu medis, Roshi tidak bisa memastikan bagaimana kondisi orang itu.

Seorang pria bersurai pirang pucat yang kurus, dan wajahnya yang tampak pucat. Tapi, Roshi dapat memastikan pria itu masih hidup lewat gerakan nafasnya yang menguar lemah.

'Hmm … dia tidak terlihat seperti orang biasa. Terlepas dari penampilannya yang memang terlihat seperti shinobi, aura tidak biasa yang tercemar dari dalam tubuhnya membuatku merasa aneh.'

Roshi mengerutkan dahinya setelah memeriksa denyut nadi pria itu, yang adalah Naruto, kemudian menatapnya heran.

"Apa yang membuatnya sampai hanyut ke sini?"

Yonbi mencoba menyelidiki Naruto melalui mata Roshi. 'Entahlah, mungkin dia terlibat pertarungan dan kemudian kabur. Atau frustasi sepertimu sehingga mencoba bunuh diri, tapi gagal. Apapun itu, manusia lemah tetaplah lemah dan menjengkelkan.'

Emosi Roshi meluap gusar setelah mendengar perkataan Yonbi. Rahangnya mengeras, serta barisan giginya menggeletuk.

'Kenapa? Apa kau marah karena aku menghinanya? Jadi kau sudah berubah menjadi orang yang perhatian, ya.'

'Jangan sok tahu.' Roshi begitu saja menentang. Ia peduli akan kehidupan orang lain? Jangan bercanda. Seorang pria tua yang mencaci nyawanya sendiri mana mungkin memikirkan perasaan orang lain.

'Aku akan menolongnya.'

Roshi membawa kedua tangannya untuk membopong tubuh pingsan Naruto, untuk membawanya ke tempat ia tinggal.

'Bukankah kau tidak peduli padanya?'

Roshi hanya diam sembari melangkah pergi membawa tubuh Naruto di pundaknya. Meski begitu, Yonbi sama sekali tidak merasa penasaran dengan alasan Roshi, dan memilih menutup mata.

'Huh, terserah.'


Di dalam sebuah ruangan dengan pencahayaan yang minim, terlihat Naruto terbaring di atas ranjang kayu tanpa alas berukuran kecil. Kira-kira sedikit lebih panjang dari ukuran tubuhnya.

Kelopak mata Naruto yang bergerak, menandakan bahwa ia akan segera terbangun dari pingsannya. Beberapa saat kelopak mata Naruto yang masih tertutup bergerak karena tarikan urat kesadarannya, kelopak itupun mulai terbuka, dan memperlihatkan dua bola mata mangekyou sharingan yang meredup.

Dari matanya, Naruto melihat atap-atap ruangan tempatnya berada yang terlihat rendah. 'Di mana ini?'

Untuk beberapa waktu, Naruto masih belum mengingat bahwa ia sebelumnya sengaja menjatuhkan dirinya dari balik air terjun. Kedua kelopak matanya berkedip-kedip lemah, saat dirinya mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padanya sebelum ini.

Selang kemudian, ia akhirnya mengingat apa yang terjadi. Naruto mendudukkan dirinya di atas ranjang, setelah itu menghela nafas kecil.

Naruto menggerakkan tangan kanannya ke hadapan wajahnya, kemudian memperhatikan sedikit telapak tangannya yang tampak memucat.

"Jika bukan karena perubahan kontraksi kulit dari klan itu, pasti sekarang tubuhku rasanya sakit sekali."

Sehabis ia berbicara sendiri, tiba-tiba arus sekelebat bayangan menghampiri isi kepalanya lewat getaran halus pada mangekyou sharingan-nya. Naruto tersentak. 'Ada yang memasuki perbatasan Hi no Kuni? Jubah hitam dengan awan merah? Akatsuki, 'kah? Dan lagi … dua orang.'

Ekspresi wajah Naruto mengerut. Ia memikirkan bagaimana caranya bertindak untuk Akatsuki yang akan menuju Konoha, sedangkan dirinya sedang berada jauh dari desanya itu.

Terlalu memakan waktu jika ia harus bertolak ke Konoha sekarang. Dan juga, ia sudah sejauh ini untuk menerobos paksa ke dalam Iwagakure. Seketika Naruto tersentak, dan kedua matanya melebar.

Naruto dengan cepat menoleh ke arah kanan, dan mendapati sebuah pintu kayu yang tertutup dalam ruangan tempatnya berada.

"Ada seseorang yang menyelamatkanku, 'kah?"

Naruto pun mengembangkan jalur cakhra lewat sirkulasi darahnya untuk menyensor sekitar. Setelah itu, Naruto mendecih kecil.

"Sial, aku salah saluran."

Naruto yang seharusnya ingin menghanyutkan dirinya ke Utara dari desa Iwa ini agar lebih dekat dari gedung Tsuchikage, ternyata dibawa aliran air tadi ke tempat yang lebih jauh.

Naruto tertunduk, kemudian mencengkram kedua tangannya ketika memikirkan kenyataan yang ada sekarang. Selama beberapa saat ia masih memikirkan apa yang selanjutnya akan ia lakukan, sebelum telinganya menangkap derap langkah yang terdengar berat menuju ruangan ini.

Naruto kembali menoleh ke arah pintu dengan cepat, dan wajahnya menjadi kusut. 'Setidaknya aku harus mengaktifkan kekkai di batas Konoha terlebih dahulu. Sisanya, anbu mungkin bisa menghambat Akatsuki ini. Terlebih, Jiraya-san mungkin sedang bersama Menma sekarang.'

Naruto mengubah mangekyou-nya menjadi dua iris hitam biasanya, dan kemudian langsung membentuk segel dengan tangan kanannya. Hanya selisih sedikit waktu dari seseorang yang datang dan membuka pintu, kemudian memasuki ruangan ini.

Roshi yang memasuki ruangan langsung berjalan mendekati Naruto. "Kau sudah sadar, ya?"

Naruto melihat orang yang datang kepadanya itu. Awalnya Naruto belum bisa melihat dengan jelas wajah dari orang itu, dan setelah ia dapat mengulas dengan jelas, ia kontan terkejut dengan kedua matanya yang membelalak lebar.

Roshi yang telah berada dalam posisi dekat dengan Naruto, memandang heran ke arah Naruto yang terkejut melihatnya.

"Ada apa?"

Naruto tersentak karena pertanyaan Roshi itu. Ia buru-buru mengembalikan kesadarannya, kemudian tersenyum kecil.

"A-ah tak apa. Apakah anda yang menyelamatkanku, tuan?"

Naruto tadinya berpikir bahwa ia tertiban sial karena terlempar ke tempat yang salah, ternyata dirinya malah dibawa oleh kekuasaan aliran air tadi kepada kemungkinan terbaik untuk mencapai tujuannya berada di sini.

Roshi menggeser bangku berbahan kayu di samping ranjang yang ditempati oleh Naruto, kemudian mendudukkan dirinya di sana.

"Iya. Aku menemukanmu hanyut di sungai, kemudian membawamu ke sini."

Naruto tersenyum kecil setelah mendengar itu. Ia menyerongkan badannya ke arah Roshi, setelah itu menundukkan kepalanya sedikit.

"Terima kasih, tuan. Anda telah menyelamatkan hidupku."

Roshi yang disodorkan perasaan sederhana itu, hanya menatap Naruto yang masih menundukkan kepala tanpa ekspresi penerimaan sama sekali.

"Itu bukan sesuatu yang besar. Aku menyelamatkanmu bukan karena aku ingin melakukannya, kau tidak perlu berterima kasih."

Naruto sedikit tersentak setelah mendengar pernyataan Roshi. Ia menegakkan kepalanya, kemudian menatap Roshi dengan kedua mata yang setengah melebar.

Naruto mencoba mencari keanehan Roshi dari raut wajah rapuh pria itu setelah pernyataan tanpa alasan yang diberikan padanya barusan. Ia menemukan kedua mata yang telah lama layu, menatap dirinya tanpa kepedulian sama sekali.

Naruto membawa turun sorot matanya, dan tersenyum lemah kepada Roshi. "Meski begitu, aku tetap berterima kasih. Nyawa yang masih berguna ini, telah anda selamatkan. Aku …" Naruto menundukkan kepalanya sekali lagi. "… sungguh berterima kasih kepada anda."

Kedua mata Roshi bergerak terkejut. Naruto mengetuk pintu kesadarannya lewat ungkapan polos, dan perbuatan bersahaja itu. Roshi tidak mengerti, kenapa sesuatu yang diungkapkan dan prilaku yang ditunjukkan oleh Naruto, bisa begitu saja membuka perhatiannya.

Dengan sebenar-benarnya perhatian yang pertama kali ia tunjukkan kepada Naruto, Roshi menatap laki-laki yang ia tolong itu dengan sorot yang berminat. Tanpa sadar, dirinya hanya diam sembari terus memandangi Naruto yang masih menundukkan kepala.

Naruto yang tak mendapatkan balasan apapun dari Roshi, memutuskan untuk menegakkan kembali kepalanya. Ia menatap lurus ke arah Roshi yang juga memandang dirinya dalam diam.

"Tuan?"

Roshi tersentak ketika mendapat teguran dari Naruto. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, setelah itu kembali memandang Naruto. "Hm, baiklah. Aku terima rasa terima kasihmu itu."

Naruto tersenyum mendengarnya. Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa berterima kasih kepada seseorang yang telah berjasa kepadanya, bisa menjadi cukup aneh seperti ini.

Hanya sedikit dari orang-orang yang sudah hadir dalam kehidupannya hingga saat ini, pernah menerima ungkapan sederhana itu darinya.

Sejak dulu, Naruto selalu mencoba untuk menanggung semua perasaan dan keadaan yang ia alami seorang diri. Bahkan setelah ia bersahabat dengan Itachi dan Shisui, kemudian juga saling bertakur hidup bersama-sama Naori, ia tetap berusaha untuk tak melibatkan mereka ke dalam masalah yang mengikat dirinya.

Lebih-lebih lagi, setelah kehancuran kelompoknya, Naruto tak pernah lagi melibatkan perasaannya dengan kehidupan orang lain. Sekarang, waktu-waktu yang masih tersisa untuknya, hanya ia gunakan untuk memenuhi janjinya pada Naori. Janji yang sebenarnya disalah artikan oleh Naruto.

Roshi berkerut heran karena Naruto yang hanya diam sedikit menunduk, dengan sorot mata sedu. Ia seperti melihat kesedihan milik orang lain di mata Naruto, yang seakan terpengaruh oleh keadaan dan reaksi lemah dari daya hidup Naruto di hadapannya.

Roshi kemudian membawa tangan kirinya untuk memegang bahu Naruto, sesudah itu, ia sedikit mengguncang bahu itu dengan tangannya. "Kau baik-baik saja?"

Naruto pun kembali sadar. Ia melihat Roshi yang memegang bahu kanannya, dan menatap pria itu ragu. "Ah, iya. Aku baik-baik saja. Maaf, aku sedikit melamun tadi."

Setelah mendengar jawaban Naruto, Roshi melepaskan pegangannya pada bahu Naruto, kemudian mengangguk.

"Ngomong-ngomong, siapa namamu?"

Naruto sedikit terperanjat. "Maafkan aku yang telat memperkenalkan diri," ia menundukkan kepala sebentar, setelah itu menegakkannya lagi. "Namaku Naruto, dan sekali lagi aku ucapkan terima kasih karena telah menyelamatkanku."

Roshi mengangguk. "Maaf tiba-tiba bertanya begini, tapi, kenapa kau bisa berada di Iwagakure? Kau bukanlah shinobi Iwa, bukan? Dari mana kau berasal?"

Naruto terdiam selama beberapa saat ketika diberikan rentetan pertanyaan oleh Roshi. Ia kebingungan untuk mulai berbicara dari mana menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Naruto meneguk ludah dan menunduk untuk melihat kedua tangannya yang pucat. Sedangkan Roshi, hanya memperhatikan gelagat Naruto itu dengan ekspresi datar. Akhirnya, Naruto pun mengambil keputusan. Ia mencengkram kedua tangannya, kemudian beralih menatap serius ke arah Roshi.

"Begini, Roshi-san …" Naruto melihat Roshi yang kedua matanya membelalak terkejut karena ia memanggil namanya. Tapi, ia tak menghiraukan hal itu "… sebelumnya, aku ingin meminta pertolongan anda."

Roshi menatap tajam ke arah Naruto. Ia tak menyangka, bagaimana mungkin laki-laki ini bisa mengetahui namanya, padahal mereka baru saja bertemu kali ini.

Naruto balas menatap serius kepada Roshi yang memandangnya tak bersahabat. "Aku tahu anda akan sulit untuk menerima ini, tapi … tolong dengarkan aku terlebih dahulu."


Rona silam menyelimuti hutan perbatasan Hi no Kuni dengan cukup pekat. Dari arah mata angin barat menuju Konoha, di tengah-tengah hutan yang cukup rapat, Hidan dan Kakuzu terlihat berjalan seiringan.

Raut mereka yang coba diulas oleh cahaya bulan yang menyelip dari sela-sela dahan, tampak dongkol juga lelah. Niatnya, mereka ingin menginvasi Konoha pelan-pelan. Tapi, entah apa alasannya yang tak mereka tahu, Hidan dan Kakuzu sejak beberapa jam lalu tidak menemukan jalan yang bisa membawa mereka melihat Konoha.

Sedari mereka masuk ke dalam hutan wilayah barat negara Api, mereka merasa hanya terus-terusan melewati jalan yang sama. Entah bagaimana hal itu dapat terjadi, meski mereka yakin telah menempu jalan yang tepat untuk menuju Konoha, kenyataan yang ada malah membuat mereka kewelahan dan kebingungan.

"Bajingan! Apa-apaan ini?! Apa yang salah dengan tempat ini?!"

Hidan mencak-mencak dengan ekspresi geram bukan main. Ia berhenti melangkah dan mencengkram sekuat mungkin kedua tangannya, sebelum kemudian tangan kanan itu dilayangkannya untuk memukul pohon besar di sebelah kirinya.

Suara yang dihasilkan cukup keras, juga getaran yang kuat terjadi karena tindakan yang dilakukan oleh Hidan itu. Sekolompok burung beterbangan menjauh karena merasakan ancaman yang menguar dari Hidan.

Namun, ada seekor Merpati putih yang tetap bertengger di pohon sana, diam dan memperhatikan setiap gerak-gerik Hidan dan Kakuzu dari matanya yang pekat. Merpati itu berada dekat dengan Hidan dan Kakuzu, tapi mereka sama sekali tidak menyadari keberadaan dari si Merpati. Meski dengan warna bulu yang sangat mencolok saat malam begini.

"Aneh sekali. Seharusnya ini benar-benar jalan yang pernah dilalui oleh Itachi dan Kisame ketika menuju Konoha, tapi kenapa …"

Kakuzu ikut menyerukan kebingungannya, sembari kedua matanya berdelik memperhatikan sekeliling tempat mereka berada. Tapi, tetap saja ia tak menemukan keanehan yang lain, selain keanehan bahwa dirinya dan Hidan terus mengulang melewati tempat yang sama.

Hidan yang berdiri di sebelah Kakuzu memperlihatkan raut wajah yang sangat kesal. Kepalan tangan kanannya masih memepet batang pohon di hadapannya yang tampak rusak karena pukulannya tadi.

Hidan kemudian menempelkan keningnya pada batang pohon itu. "Ada apa dengan keadaan ini?"

"Ternyata kita telah salah memperhitungkan Konoha, kita benar-benar dipermainkan dalam keadaan ini." Ujar Kakuzu. Kedua tangannya mencengkram erat, dengan kedua mata yang menatap tajam ke hadapannya.

Hidan melirik sedikit Kakuzu dari ekor matanya, kemudian menghela nafas panjang setelah menerima perkataan rekannya itu. Ia menjauhkan kepalanya dari batang pohon, dan berbalik menghadap Kakuzu.

"Jadi, apa yang harus kita lakukan?"

Kakuzu menoleh ke arah Hidan. "Lebih baik kita kembali dulu ke markas. Kita beritahu ini kepada yang lain, jika ada Itachi di sana, mungkin saja dia mengetahui rahasia di balik keganjilan ini."

Kedua mata Hidan sontak melotot tajam ke arah Kakuzu setelah mendengar itu. "Haahh?! Jangan main-main kau! Hampir tiga hari kita menempuh perjalanan ke sini, kau pikir kita sedang bertamasya?!"

Kakuzu yang dibentak begitu oleh Hidan, membalas tajam tanpa takut tatapan Hidan. "Bicara apa kau?"

Hidan tersentak mendapati balasan dingin dari Kakuzu. Kedua matanya terbelalak, dan tenggorokkan terasa tercekat.

"Jika kau pikir bisa melewati situasi ini, maka lakukan itu dengan benar." Lanjut Kakuzu.

Kedua bola mata Hidan yang melebar itu bergetar melihat Kakuzu yang tampak mengejutkan di hadapannya. Ia dapat melihat sesuatu yang berat menekan Kakuzu, sehingga menampakkan kegusaran yang mencekam di balik sorot mata orang itu.

Hidan meneguk ludah pelan. "Baiklah, kita kembali."

Selang beberapa saat, Kakuzu masih belum melepaskan tatapan tajamnya kepada Hidan. Hingga kemudian ia menghela nafas berat, dan segera berbalik meninggalkan tempat itu tanpa sepatah katapun lagi.

Hidan memperhatikan gerak-gerik Kakuzu itu dengan raut yang tak menunjukkan emosi apapun. Setelah ia lihat, Kakuzu telah meninggalkan dirinya beberapa langkah, ia berniat menyusul sebelum telinganya menangkap suara yang asing.

"Sungguh … aku benar-benar tak mengerti ada apa ini sebenarnya."

Kedua anggota Akatsuki itu tersentak, kemudian bersamaan menoleh ke arah asal suara itu. Dari tanah yang samar-samar terlihat, muncul 4 orang berjalan menuju mereka.

Setelah beberapa saat, identitas 4 orang itupun mulai terlihat jelas. Mereka adalah Asuma beserta ketiga murid didiknya, Shikamaru, Choji dan Ino.

Hidan yang melihat mereka, dan menyadari mereka adalah shinobi Konoha lewat hitai-ate Konoha yang mereka kenakan, mendadak menyeringai serta kedua matanya yang kembali melotot tajam.

"Oi, oi … sepertinya aku mendapat pelempiasan kekesalanku."

Asuma dan ketiga muridnya tersentak, dan kontan berhenti berjalan. Mereka serentak melihat ke arah asal suara yang mereka dengar, kemudian terbelalak bukan main. Spontan mereka mengambil langkah mundur, dan langsung menyebet kunai dengan tangan mereka masing-masing.

Asuma mengeraskan rahangnya ketika mendapati dua orang pria asing berdiri tak jauh di hadapannya. Dan ketika ia melihat jubah yang mereka kenakan, kedua matanya semakin membelalak terkejut. Ia mengetahui jubah itu. Hokage kelima pernah memberi tahunya sebelum ini.

"Akatsuki …" terdengar suara hentakan yang cukup keras dari peraduan antar gigi-gigi milik Asuma. "… apa yang kalian lakukan di sini?"

Hidan semakin melebarkan seringai ketika mendengar pertanyaan itu. Ia kemudian merendahkan tubuhnya, sembari tangan kanannya menyebet gagang senjata sabit bermata 3 yang tersemat di balik punggungnya.

"Maaf saja, suasana hatiku sangat buruk sekarang. Aku akan membunuh kalian untuk memperbaikinya."

Setelah mengatakan itu, Hidan langsung saja melepas sabit besarnya, dan melesat cepat ke arah Asuma.

Keempat orang yang akan diserang oleh Hidan itu, serentak menegangkan mata mereka kuat-kuat. Rahang-rahang mereka mengerat bukan main, dan sama-sama memaki hal yang sama dalam hati mereka.

'Sial, kenapa di saat begini …'


Kedua kelopak mata Naruto yang tipis beberapa kali berkedip tak percaya. Bola-bola matanya bergetar menerima sosok Roshi yang tampak acuh di hadapannya.

Mulutnya mencengang kecil, seolah-olah telinganya masih belum menyerap jelas apa yang dikatakan Roshi kepadanya.

"T-tadi … apa yang kau katakan?"

Roshi menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan Naruto itu. Ia merasa telah mengatakan jawabannya dengan jelas mengenai permintaan Naruto.

"Aku bilang … aku tidak peduli dengan tujuanmu yang ingin menyatukan seluruh desa shinobi untuk melawan Akatsuki. Itu keinginan yang sangat naif. Tak peduli kau sekuat apa, menyatukan seluruh desa shinobi hanyalah mimpi yang teramat bodoh."

Roshi memperhatikan dengan dingin setiap reaksi-reaksi yang ditunjukkan oleh Naruto. Ia menghela nafas kecil, kemudian melipat kedua tangannya di depan dada seraya menyandarkan punggungnya ke kepala kursi kayu yang ia duduki.

"Dan meski aku menjadi incaran mereka karena Yonbi yang berada di dalam tubuhku, aku tidak peduli. Aku tahu jika bijuu dikeluarkan secara paksa dari tubuh inangnya, akan menyebabkan kematian bagi si inang itu sendiri. Tapi …"

Roshi tiba-tiba berdiri dari duduknya, kemudian menunduk untuk menatap tajam ke arah Naruto yang terduduk kaku di atas ranjang kayu polos tanpa alas.

"… justru itulah yang aku cari. Jadi, aku tidak akan membantumu."

Setelah mengucapkan itu Roshi beralih dari menatap Naruto, dan bersiap untuk pergi. "Pembicaraan kita selesai. Pergilah, aku tak peduli lagi denganmu. Bahkan sejak awal, aku memang tidak memperdulikanmu sama sekali."

Roshi berbalik untuk pergi meninggalkan Naruto, akan tetapi, baru saja ia menggerakkan kedua kakinya beberapa langkah, suara rendah Naruto menghentikannya.

"Tunggu,"

Roshi setengah berbalik untuk melihat Naruto. Ia lihat Naruto menunduk, sehingga rambut pirang pucatnya itu menutupi ekspresi yang dikeluarkan Naruto.

"Apa lag—"

"Kau bilang tak masalah jika nantinya Akatsuki membunuhmu, bukan? Tapi aku tak akan membiarkan itu. Sebagai gantinya …"

Naruto mendongakkan kepalanya menghadap Roshi. Ia melotot tajam ke arah Roshi dengan kedua bola matanya yang telah berganti menjadi mangekyou sharingan.

"… aku yang akan memberikan kematian yang kau inginkan."

Roshi tersentak bukan main merasakan aura yang begitu menusuk dari Naruto. Lebih tepatnya, dari bagaimana Naruto menggunakan mata itu untuk menatapnya. Dan ketika Naruto menutup mata kirinya, semua terasa menjadi lebih berat bagi Roshi.

Mendadak Roshi merasakan sambaran energi aneh dari balik pundak kanannya, yang lantas membuatnya reflek menoleh ke sana.

Kedua matanya membola besar ketika menangkap sebuah portal aneh berwarna hitam keunguan. Roshi secepatnya balik menghadap ke arah Naruto, tapi yang ia dapati, Naruto tak lagi berada di tempat sebelumnya dia berada. Bersamaan pula ketika itu, ia merasakan sakit yang sangat kuat bersarang tepat di tengah-tengah perutnya.

Naruto tiba-tiba telah berada tepat di hadapan Roshi, dan langsung menyarangkan kepalan tangan kanannya di perut Roshi. Perbuatan Naruto kontan saja membuat Roshi tersedak keras, dan memuntahkan liur yang cukup banyak.

Saat mereka masih berada dalam posisi yang sama, Naruto melakukan dorongan yang semakin kuat pada pukulannya dengan emosi di wajahnya menampakkan kemarahan yang sangat jelas.

Roshi berteriak ketika dirinya terlempar ke portal di belakangnya dan tertelan ke dalam sana. Naruto berdiri tegap menyaksikan hal itu dengan kedua mangekyou-nya yang menyala pekat.

Naruto menyentakkan tangan kanannya, membuat sebuah gulungan berukuran sangat kecil keluar dari balik lengan baju yang ia kenakan. Ia langsung saja mengenggam benda itu, kemudian membentuk sebuah segel tangan di sana.

"Tidak peduli siapapun …"

Muncul kepulan asap putih yang memanjang dari tangan kanan Naruto yang seakan menyelimuti sesuatu. Ketika asap itu memudar, terlihat sebuah pedang dengan bilah yang cukup panjang berwarna perak mengkilap. Pedang milik Orochimaru yang beberapa waktu lalu diserahkan kepada Naruto. Kusanagi no tsurugi.

"… mau dewa, atau iblis sekalipun. Jika dia menghalangi jalanku, akan ku musnahkan."

Setelah berujar dingin seperti itu, Naruto langsung melompatkan dirinya ke dalam portal yang barusan menelan Roshi. Portal distorsi yang berasal dari kemampuan khusus milik mangekyou sharingan Naori, yang saat ini ada padanya.


Dari kedua mangekyou-nya yang berpendar-pendar lemah, Naori dapat melihat dengan sangat jelas aura buruk yang menguar dari Naruto yang berdiri tertunduk di hadapannya. Aura yang tak pernah sekalipun sampai saat ini ia sukai dari Naruto.

Naori melangkahkan kedua kakinya untuk mendekati Naruto. Ia merentangkan tangan kanannya berniat menggapai wajah Naruto, tapi ia urungkan ketika melihat Naruto yang mulai menegakkan kepalanya.

"Apa kau di sana, Naori?"

Naori tersentak mundur. Naruto bertanya dengan nada suara yang tak ingin ia dengar. Nada suara itu, adalah nada yang selalu Naruto keluarkan setiap dia akan melakukan tindakan yang tak pernah ia sukai dulu.

Tanpa sadar Naori menarik kembali tangan kanannya, kemudian ia cengkram dengan tangan kiri di depan dadanya. Ia menggigit bibir bawahnya dengan keras. Ada selipat ketakutan di balik kedua matanya yang mulai pecah, ketika menatap air muka Naruto.

Naruto tersenyum lemah. Meski ia tak bisa melihatnya, ia masih dapat menyadari penolakan yang ditunjukkan oleh Naori saat ini. Naruto kembali menunduk untuk menyembunyikan ekspresinya yang mulai rusak.

"Maafkan aku." Ujar Naruto lirih.

Naruto segera berbalik dari hadapan Naori. Kedua tangan Naruto menjuntai, tampak mati. Meski Naori tak menyukai apa yang akan dilakukannya, ia tetap harus melanjutkannya. Karena sejak dulu memang selalu seperti itu.

Tidak pernah ada yang mengakui dirinya ketika menyelesaikan permasalahan menggunakan cara yang cacat, yang pada akhirnya membusukkan dirinya sendiri.

Namun, hal ini memang harus dilakukan. Naruto akan mengambil semua tanggung jawab yang akan muncul. Demi membuat dunia menjadi tanduknya untuk melindungi Konoha di mana perhatian murni Naori tinggal, ia pasti akan mewujudkannya. Meski itu menjadikan dirinya seperti Akatsuki itu sendiri.

Naruto mulai melangkahkan kedua kakinya pelan. Seiring jaraknya yang sedikit demi sedikit menjauhi Naori, tubuh Naruto mulai memudar.

Naori yang melihat dirinya akan ditinggalkan, mencoba mengeluarkan suaranya. Akan tetapi, suara itu tertahan oleh kebimbangannya.

Naori pun mencoba juga menggerakkan tubuhnya untuk menggapai Naruto, dan hal yang sama kembali terulang. Tubuhnya menolak perintah kekhawatirannya akan Naruto, karena keragu-raguan yang menggelayuti hatinya.

Oleh sebab itu, Naori hanya memperhatikan Naruto yang semakin menjauh dan tubuhnya yang mulai menghilang. Setelah Naruto benar-benar menghilang dari pandangannya, ia membungkukkan tubuhnya. Kedua tangannya yang bercengkraman, ia himpitkan ke tengah-tengah dadanya.

Kelopak mata Naori menutup, mencoba meredam ketakutan dan kesedihannya yang runtuh. Membendung agar penolakannya kepada Naruto tidak benar-benar ia akui.

Namun, ia tak sanggup. Air mata tanda dirinya yang tidak mampu menerima tindakan yang akan dilakukan oleh Naruto, benar-benar memecahkan pertahanan yang ia kerahkan. Meski telah sering terjadi sejak dulu, ia sungguh tak pernah sanggup menerimanya.

"Naruto … kenapa selalu kau …"

.

.

Ulalaa... gak nyangka ternyata saya masih memiliki kesempatan untuk berjuang sampai ke sini. Beberapa waktu lalu, saya merasa fiksi ini tak memiliki hal menarik lagi untuk dilanjutkan, tapi berkat dorongan magis dari seseorang yang sangat rendah hati, saya akhirnya sanggup untuk tetap melautkan fiksi sederhana ini.

Terima yang teramat kasih untuk mbak stillewolfie, telah mencurahkan dukungan yang sangat lembut kepada saya. Berkat itu, saya yang hampir karam dalam pelayaran yang saya mulai sendiri, terselamatkan. Dan saya dapat melanjutkan kembali hasrat saya untuk merawat kapal-kapal yang saya rakit, agar tetap membawa imajinasi-imajinasi saya terus berlayar.

Baiklah, bagaimana tanggapan kalian mengenai chapter kali ini? Silakan berikan tanggapan kalian di kolom review, ya.

Ohya, saya mengganti penname saya, dari Alter Youko menjadi schwarzhaarige. Mohon bantuannya ...

Sampai jumpa jika masih ada kesempatan ...

... and Happy Birthday, Uzumaki Naruto.

[schwarzhaarige, out.]