KEHANCURAN ORANG-ORANG TAK BERSALAH I
Malam yang panas, pangkal-pangkal kaki langit terbuka dari awan-awan keperakan yang hilang. Rembulan menjulurkan sinar-sinarnya sepanjang mungkin mengulas bumi.
Di sela-sela lembah Oni no Kuni yang terapit dua lereng tinggi, tampak ribuan pasukan batu milik iblis Mōryō melakukan parade dengan barisan-barisan yang mengerikan.
Pasukan batu milik iblis Mōryō bergerak menuju Numa no Kuni dengan lambat menggunakan hentakan-hentakan mereka yang menikam bumi. Pasukan yang dipenuhi oleh roh iblis Mōryō itu berniat untuk menyusuri dunia dan menghancurkannya untuk membuktikan kekuasaan Yomi.
Anbu Meijin; Naruto, Naori, serta Itachi dan Shisui memperhatikan dengan keresahan penuh barisan-barisan menakutkan pasukan Mōryō itu dari puncak lereng. Mereka gelisah dengan kemampuan mereka yang tidak mampu untuk menghentikan gerakan-gerakan kokoh dari pasukan itu.
Pasukan Mōryō tidak bisa mati. Mereka hanya memiliki tubuh, dan meminjam jiwa dari iblis Mōryō untuk bergerak. Oleh sebab itu, ninjutsu-ninjutsu kelas tinggi yang sebelumnya dilancarkan oleh anbu Meijin sama sekali tak memberikan kerusakan apapun pada mereka.
Terlebih lagi, parade yang anbu Meijin lihat saat ini masihlah gelombang pertama. Masih tersisa jutaan pasukan lagi yang keluar silih berganti dari gerbang Yomi yang terbuka lebar di dalam gunung Dōōm. Masing-masing dari mereka saling merobek-robek lembaran ingatan mereka untuk mencari pemecahan dari masalah ini. Dan wajah mereka yang tertutup topeng, menyembunyikan emosi mereka yang meraut cemas.
"Apa rencanamu, Naruto?" tanya Shisui yang berdiri tegang di sebelah kiri lelaki yang ia tanyai. Kedua mata sharingan menyala tajam di balik topeng yang ia kenakan—menatap sosok Naruto kalut.
Naruto belum menjawab selama beberapa saat. Ia hanya menunduk untuk menatap parade pasukan batu di bawah sana dengan kedua matanya yang merelap buncah.
Shisui masih menunggu jawaban dari Naruto, dan Itachi serta Naori pun juga memandangi Naruto, ikut menunggu jawaban dari lelaki itu yang mungkin akan menjadi jalan lepas untuk menghadapi musuh puaka mereka ini.
Kemudian Naruto menghela napas panjang, dan berdirinya menjadi lunglai.
"Aku tak tahu," jawab Naruto lirih.
Sontak saja mendengar jawaban Naruto kedua mata Shisui membelalak tajam, "Yang benar saja! Kau berdiam lama, dan hanya itu jawabanmu." Sentak Shisui kisruh.
"Shisui!" tegur Naori tepat setelah mendengar sentakan Shisui pada Naruto.
Shisui mengabaikan teguran itu, dan mengalihkan pandangannya kembali ke lembah tempat pasukan Mōryō berada.
"Yang benar saja," geram Shisui lirih, sehingga hanya terdengar oleh Naruto. Kedua tangannya mencengkram kuat. Ia tak bermaksud marah kepada Naruto, ataupun Naori yang menegurnya barusan. Ia marah kepada dirinya sendiri, yang tak mengerti harus melakukan apa.
Naruto memandang datar kepada sosok Shisui. Ia mengerti apa yang dirasakan oleh lelaki di sebelahnya itu, sebab hal yang serupa juga dialami oleh Naruto.
Setelah mengalihkan pandangannya dari Shisui, tiba-tiba saja Naruto langsung melesat dan melompat terjun ke lembah berisi ratusan pasukan Mōryō.
"Naruto!" pekik Naori kaget melihat aksi yang dilakukan Naruto. Ia yang sedari tadi tak melepaskan pandangannya dari Naruto, menjadi yang pertama sadar akan hal yang baru saja dilakukan Naruto.
Setelah itu, Itachi dan Shisui pun juga ikut mendapati aksi yang ditunjukkan Naruto. kedua mata Mereka yang sama-sama mengaktifkan sharingan melotot lebar melihatnya.
Shisui seketika mengeraskan rahangnya, "Jangan bercanda! Naruto!" teriaknya seraya melompat menyusul Naruto.
Berselang kemudian Naori menyusul mereka, meninggalkan Itachi yang masih berdiri kaku menyaksikan mereka yang melompat silih berganti ke bawah lembah sana.
"yang benar saja, mereka itu …" Itachi tercengang. Saat melihat tindakan rekan-rekannya itu, ia pun mengacak-acak rambutnya gusar. Dan karena tak memiliki pilihan, Itachi berdecak, kemudian langsung menyusul mereka.
Shisui menatap tajam sosok Naruto yang melambung jatuh di depannya, "WOI NARUTO! APA YANG MAU KAU LAKUKAN?!" teriaknya kencang agar suaranya mampu menembus jangka-jangka udara untuk sampai pada pendengaran Naruto.
Namun, meskipun suara Shisui mencapainya, Naruto hanya diam mengabaikan pertanyaan itu. Ia fokus meruncingkan tatapannya pada sekumpulan awak-awak Mōryō di dasar lembah tempat raganya tergiring.
Shisui menggeram melihat Naruto yang mengabaikannya begitu saja, "WOI SIALAN!" teriaknya lagi.
Naruto tetap saja mengabaikan itu. Saat dirinya sudah sangat dekat dengan keberadaan pasukan Mōryō di sana, ia membentuk sebuah segel tangan.
Muncul beberapa kepulan asap putih yang sekilas saja tersapu angin yang sangat kencang ketika itu, dan dari asap-asap yang menghilang itu muncul beberapa klon Naruto yang saling menjulurkan kedua tangan mereka. Masing-masing dari klon Naruto beserta ia sendiri membuat rasengan pada tangan-tangan mereka.
"BERHENTILAH MENGOMEL! DAN BANTU AKU!" teriak Naruto baru menjawab Shisui.
Tepat setelah jawaban yang ia jeritkan itu, Naruto beserta para klonnya langsung menghujam satu-satu pasukan Mōryō dengan rasengan. Menuntungkan semua frustasinya yang bisu, mengenyahkan kekalutan dalam pikirannya yang ia tawar menggunakan rangka dirinya, beserta teman-temannya.
Naruto tak berkeinginan untuk mencari kepuasan. Ia hanya menginginkan sebuah keberuntungan, yang bisa menghancurkan rasa malunya karena menjadi orang yang tak berguna. Tak berguna karena tak mampu untuk menyelematkan diri dari kerusakan pikirannya sendiri.
Naruto yang asli masih melayang jatuh di udara setelah para klonnya telah masing-masing menyerang target mereka. Ia menarik kedua tangannya dari depan setelah berhasil memproduksi rasengan, kemudian menyerongkan tubuh dan menempatkan tangannya yang diisi bola cakhra itu di titik terbelakang.
Sebelum menyerang salah satu pasukan batu yang berada tepat di bawahnya, Naruto menoleh ke arah teman-temannya. Ia melihat teman-temannya yang saling bersiap melakukan serangan melalui bentukan segel-segel tangan mereka yang kusut.
Saat itupun kedua mata Naruto melotot tajam. Pupilnya membulat penuh, dan putih-putih matanya disasaki urat-urat yang kepanasan. Sontak ia langsung mengalihkan pandanganya ke depan, dan matanya semakin membelalak tajam.
Wajah Naruto yang tertutup topeng berjarak sangat dekat sekali dengan kepala prajurit batu yang tak memerdulikannya.
Naruto mengeraskan rahangnya, 'Kalian semua, sungguh …' kemudian dengan sekuat mungkin ia menghantamkan rasengan ke kepala prajurit batu itu. '… MENYUSAHKAN!' teriak Naruto dalam batinnya.
Suara yang meledak karena serangan Naruto terdengar begitu besar. Dilanjutkan setelah itu, Shisui, Naori, serta Itachi ikut melakukan penyerang kepada pasukan Mōryō dengan jutsu-jutsu yang mampu mereka lakukan.
Akhirnya, anbu Meijin saling mendongkrak kesadaran mereka masing-masing, untuk semakin melampaui batas-batas kemampuan mereka agar bertahan dari rasa putus asa, dengan terus-terusan menyerang pasukan Mōryō yang sama sekali tak peduli akan serangan mereka itu.
Di sisi Naruto, ia yang baru saja menghantamkan rasengan ke salah satu pasukan Mōryō, langsung berbalik seraya memproduksi rasengan lagi di tangan kanannya. Tanpa jeda setelah rasengan telah penuh di telapak tangannya, ia langsung menghantamkannya ke pasukan Mōryō yang ada di hadapannya.
Prajurit batu itu terlempar hingga menabrak dinding ngarai, dan bersarang di sana. Naruto melihat itu langsung melompat ke sana, kemudian mengepalkan tangan kanannya sekukuh mungkin serta melapisinya dengan cakhra yang cukup banyak.
Naruto menghantamkan tinjunya ke celah antara kepala dan tubuh prajuti batu itu. Ia menggertakkan gigi-giginya ketika merasakan betapa kerasnya yang sedang ia pukul, dan dengan mata yang melotot tajam serta kerongkongannya yang mulai menjerit, ia mendorong lebih kuat lagi tangannya sehingga mampu menembus celah itu.
Tepat setelah itu, Naruto tersentak karena merasakan corak energi yang sangat ganjil, dan juga memiliki afinitas akan energi lain yang pernah ia rasakan. 'Ini …' batin lelaki itu terkejut.
Dan karena Naruto masih memberikan kesadarannya pada hal itu, ia tak menyadari bahwa prajurit batu yang sedang ia tujah ini akan melakukan serangan kepadanya.
Naori terbelalak melihat Naruto yang akan diserang itu, "NARUTO! AWAS!" teriaknya kencang.
Naruto terperanjat karena teriakan Naori, dan saat sadar ekor matanya mendapati sebuah tangan besar dari prajurit batu itu akan menghantam kepalanya. Ia tak sempat menghindari itu, akibatnya ia pun terlempar karena dihantam tangan super keras itu dan menabrak sisi lain dinding ngarai hingga tubuhnya tertanam ke dalam.
Rekan-rekan yang kemudian sadar Naruto terkena serangan kontan saja terkejut. Padahal pasukan Mōryō sebelumnya sama sekali tak memerdulikan mereka, dan tak membalas serangan mereka meski mereka terus-terusan melakukan serangan kepada pasukan Mōryō itu.
Lalu, kenapa hanya Naruto yang diserang?
Naori langsung saja melesat ke tempat Naruto berada sekarang. Ketika sampai di sana, Naori langsung mengibas-ngibaskan kedua tangannya untuk mengusir debu-debu yang menutupi pandangannya dari tempat Naruto bersarang. Dan setelah debu-debu itu menghilang, gadis itu tak menemukan Naruto ada di sana. Yang ia lihat hanya sebuah genangan kecil dari darah, yang sepertinya itu adalah darahnya Naruto.
Naori tiba-tiba terkejut karena merasakan getaran aneh pada tanah yang ia pijaki. Ia kemudian berbalik, dan terbelalak ketika mendapati Naruto yang melompat keluar dari dalam tanah.
"Naruto!" Naori mensejajarkan dirinya dengan Naruto, kemudian memandang kepada wajahnya Naruto yang sudah tak tertutupi oleh topeng. Ia lagi-lagi terbelalak karena melihat sisi wajah Naruto yang sobek dan mengucurkan darah yang cukup banyak, "K-kau tak apa?" tanyanya khawatir.
Naruto kemudian menoleh ke arah Naori di sebelahnya dengan nafas terengah-engah, "Tidak apa-apa," jawabnya, kemudian menoleh ke arah depan, dan melihat pasukan-pasukan Mōryō itu masih tetap bergerak kokoh beserta Shisui dan Itachi yang masih terus berusaha menahannya.
Naruto meneguk ludah dengan susah payah, "Kita bantu Shisui dan Itachi." Ujarnya kepada Naori dan langsung melesat.
Naori yang ditinggalkan oleh Naruto merasa heran. Entah mengapa, ia berpikir Naruto tampak sedikit mencurigakan dari caranya berbicara yang spontan barusan.
Naori menggelengkan kepalanya sedikit, mengeyahkan pikiran anehnya tentang sikap Naruto barusan. Setelah itu ia pun langsung juga melesat dari tempatnya berdiri, menyusul teman-temannya yang lain menghadapi pasukan Mōryō.
.
.
Dari permukaan tanah yang retak, kemudian hancur, Naruto melompat keluar. Rupa tubuhnya lusuh, dengan keringat yang mengucur di mukanya beraduk dengan darah dari sisi kepalanya yang robek.
Ia membungkuk, dengan kedua tangan yang bertopang pada lututnya. Dadanya yang kembang-kempis menjadi bagian dari nafasnya yang terenga-engah. Mulutnya terbuka untuk membantu pernapasannya supaya lebih baik.
Kemudian Naruto menegakkan tubuhnya dan berjalan ke sisi jurang. Ia melihat ke bawah sana, dan mendapati pasukan-pasukan Mōryō, serta dengan samar sosok rekan-rekannya bersama chi-bunshin dirinya yang menghadapi mereka.
'Tolong bertahanlah. Akan kubereskan semua ini.' Batin Naruto.
Lelaki itu kemudian berbalik dari sana dan langsung berlari meninggalkan tempat itu.
Kuil Miko, Negeri Iblis.
Bulan semakin naik menjauhi wajah bumi, dengan tangan-tangan sinarnya yang menyiut gamang dari hadapan permukaan bumi. Ada raut keresahan dari reaksi bulan itu dengan menarik sinarnya dari bumi.
Bulan menunjukkan kewaspadaannya terhadap bumi, tentang kekacauan yang terjadi di beberapa potong planet manusia itu. Tentang banyaknya pasukan iblis yang aneh, dengan mengerikannya bergerak serentak hendak memperdaya dataran.
Melihat ke dalam sebuah bangunan tradisional, terdapat beberapa orang berada di dalam sana dengan sama-sama memiliki ekspresi yang risau. Penyebab dari bertekuknya ruas-ruas wajah mereka adalah teror kehancuran yang didemonstrasikan oleh iblis Mōryō menggunakan prajurit-prajurit batunya.
Kemudian, satu hal lagi, Miroku, seorang pemimpin dan sosok ibu. Wanita itu dilanda dua kekhawatiran yang masing-masing mengacam kehancuran akal sehatnya. Yang pertama adalah, gejolak dari iblis Mōryō, dan anaknya yang diculik oleh pelaku yang sama pula. Karena kedua polemik luar biasa itu, membuat Miroku hampir kehilangan ekspresinya.
"Miroku-sama?"
Miroku tersentak setelah mendengar panggilan itu. Ia menegakkan kepalanya dari tertunduk untuk melihat seseorang yang memanggil dirinya tersebut yang berada di depannya.
Dari kedua bola matanya yang gemetar lemah, Miroku mendapati seorang pria paruh baya yang sedang duduk bersimpuh di depannya itu.
"Ada apa?" tanya Miroku dengan nada sayu.
Pria paruh baya yang ditanya itu menurunkan kedua alisnya kebingungan. "Tidak. Saya hanya merasa khawatir dengan anda yang hanya berdiam diri barusan setelah kita menerima keadaan seperti ini." Jawabnya.
Miroku diam selama beberapa saat setelah mendengar perkataan pria itu. Yang dikatakan oleh pria itu tidaklah salah, ia memang bergeming karena keadaan yang sedang ia alami saat ini. Bagaimana tidak, saat ini Miroku mengalami saat-saat paling krisis sepenjang umurnya saat ini. Tanpa kemampuan yang cukup dari sisinya untuk mengatasi masalah yang sedang ia hadapi, mematikan kesadarannya selama beberapa saat sebelum ini.
Di saat Miroku yang kembali bergeming dengan kecamuk pikirinnya sendiri, dan seorang pria paruh baya itu yang dengan sabar menunggu respon selanjutnya dari wanita itu, Naruto dengan tiba-tiba muncul tanpa disadari oleh mereka tepat di belakang si pria paruh baya.
Tanpa aba-aba apapun, Naruto langsung memukul tengkuk pria paruh baya itu dengan cukup keras sehingga membuat pria paruh baya kehilangan kesadaran tanpa memiliki kesempatan untuk memikirkan penyebabnya.
Karena suara yang dihasilkan oleh jatuhnya pria paruh baya ke lantai kayu, membuat Miroku terkejut dan langsung memandangnya, dan mendapati pria itu yang terbaring telungkup tak sadarkan diri serta Naruto yang berdiri sembari menatap datar kepadanya.
Sontak saja Miroku terperanjat hingga membuatnya memundurkan dirinya sedikit. "N-Naruto-san, apa yang terjadi?" tanya wanita itu tak mengerti dengan kejadian barusan yang terjadi begitu cepat.
Naruto tak langsung menjawab. Ia berjalan menuju ke arah Miroku dengan langkah berat dengan pandangan tajam kepada Miroku.
Setelah tiba tepat di hadapan Miroku, Naruto langsung berlutut dan menundukkan kepalanya tak memandang kepada Miroku. "Aku minta maaf untuk ini, dan setelahnya, Miroku-san."
Naruto mengepalkan tangan kanan dengan kuat yang bertumpu pada lutut kanannya. "Dan aku ingin menyampaikan sebuah permintaan,"
"A-Apa itu ..?" tanya Miroku spontan masih dalam keadaan yang tak mengerti.
Naruto meneguk ludahnya. "Korbankan lah dirimu," ujar Naruto sayu.
"Eh?" respon Miroku kecil.
Dengan tiba-tiba Naruto langsung mendongak menatap wajah Miroku. Kedua bola mata hijau Naruto yang bergetar menyimpan selarik kebingungan dan keputusasaan. "Selamatkan lah dunia ini dengan jiwa dan jantungmu," setelah mengatakan ini, Naruto kembali menunduk, kali ini dengan lebih rendah. "Aku mohon, kalahkan lah iblis Mōryō."
Naruto melambung di sebuah distorsi sempit dan menyerupai lorong yang didominasi warna hitam keunguan sebagai dinding-dindingnya. Sebuah celah dimensi yang tercipta melalui kemampuan Mangekyou Sharigan Naori, yang membuat Naruto mampu menembus jarak ruang dan waktu.
Dari kedua Mangekyou yang berpendar kuat pada suasana remang celah dimensi itu, Naruto menangkap sebuah portal keluar di hadapannya. Spontan pandangan Naruto menjadi sangat menajam. Rahangnya mengeras, dan barisan gigi-giginya bergemeletuk.
Naruto mengutuk apa yang ia lakukan sekarang juga setelahnya. Hal-hal menyimpang untuk sebuah jaminan keamanan yang ingin ia wujudkan untuk Konoha. Ia telah banyak melakukan hal yang serupa di masa lalu. Hal-hal egois berkedok untuk kebaikan dunia, tetapi nyatanya hanya untuk menyembuhkan keputusasaannya sendiri.
Seperti di masa lalu Naruto pernah membunuh Putra Mahkota Negeri Batu sebagai tumbal untuk menghentikan propaganda yang menggerogoti dinding kebijakan Konoha, memanuver penyeludupan obat-obatan terlarang dari Negeri Gelombang hingga membuat Kawagakure menderita vandalisme untuk menghentikan peperangan yang akan terjadi di perempatan Tanzaku, mengorbankan Miko Negeri Iblis untuk menghentikan pawai iblis Mōryō yang akan mengobrak-abrik dunia dengan meleburkan jiwa Miko itu untuk menyegel sang iblis serta menggunakan jantung wanita malang tersebut sebagai penganjal gerbang Yomi, sehingga membuat anak perempuan Miko itu membenci Naruto seumur hidup karena secara utuh melihat bagaimana Naruto merusak sosok Ibunya tersebut.
Dan ada banyak lagi tindakan-tindakan kapital Naruto seperti itu yang terjadi di masa lalu. Yang membuat lelaki itu menerima banyak sumpah-sumpah kemalangan serta hujatan kebencian, tak kurang, Naruto pun juga banyak mendapati kekecewaan yang terulang dari rekan-rekannya di masa lalu.
Namun, semua bentuk-bentuk emosi negatif yang ditujukan kepadanya itu, tak pernah membuat Naruto berhenti dalam memilih kebijakan yang menyimpang di saat-saat keputusasaannya. Lelaki itu tetap membunuh, membinasakan, menghancurkan orang-orang yang tak bersalah demi sebuah pencapaian yang ia inginkan. Terlepas bagaimana pencapaian itu juga untuk keberlangsungan dan kebahagiaan orang-orang yang lain.
Naruto menanggung semuanya sendiri; ia menelan kekecawaan-kekecewaan yang disampaikan kepadanya, mengonsumsi semua kebencian-kebencian yang dilontarkan kepadanya.
Sehingga lambat laun, akibat dari segala macam emosi-emosi tidak baik itu yang menerkamnya, menjadi karma yang menggerogoti hingga merusak jiwa dan tubuh Naruto.
Naruto hanya mampu semakin mengeraskan rahangnya setelah mendapati sedikit kilas balik tentang masa lalunya itu. Dan dengan sekali ayunan pada tubuhnya, ia keluar dari celah dimensi melalui lingkaran portal yang terpampang di sana.
.
Naruto menjejaki kedua kakinya di sebuah lahan datar yang cukup lapang. Di belakang lelaki itu terdapat pepohonan dari hutan yang berjejer rapat, dan di depannya ada Roshi, yang terduduk merintih bertopang pada dua tangannya.
Di sisi Roshi, setelah pria tua itu beberapa kali merintih, ia kemudian menatap ke depan di mana Naruto berada.
"Apa yang kau lakukan, sialan?!" bentak Roshi.
Naruto yang mendengar bentakan Roshi tersebut mengeratkan genggaman pada gagang pedang di tangan kanannya.
"Seperti yang ku katakan sebelumnya, aku yang akan memberikan kematian yang kau inginkan." Ujar Naruto dingin seraya menyiapkan dirinya untuk melesat menuju Roshi.
Spontan saja respon Naruto itu membuat Roshi langsung sigap menegakkan dirinya dan bersiaga. Memasang posisi bertarung, dan menyiapkan beberapa bagian tubuhnya untuk melawan serangan Naruto yang mungkin akan datang padanya saat itu juga.
Namun, saat Naruto hendak melesatkan dirinya menuju Roshi, tubuhnya tersentak. Ia gemetaran hebat, disusul dengan Naruto yang langsung memuntahkan banyak darah dari mulut dan hidungnya.
Telapak tangan kanannya Naruto dengan kuat menghantam dadanya yang kemudian ia cengkram, di balik itu, jantung Naruto berdegup tak waras. Organ itu mendobrak-dobrak gila seperti hendak keluar memisahkan diri dari Naruto.
Pada sekujur tubuhnya, Naruto merasakan nyeri yang teramat sangat. "Si-sial … k-kenapa di saat begini …" lirihnya.
Roshi yang melihat apa yang terjadi pada Naruto itu terkejut. Kebingungan bagaimana hal yang tampak menyakitkan seperti itu bisa terjadi secara tiba-tiba pada Naruto.
"Apa—"
"JANGAN PEDULIKAN AKU!"
Roshi tersentak karena ucapannya langsung terpotong dengan teriakan nyilu Naruto.
Naruto yang tertunduk dengan terengah-engah sembari masih mencengkram dadanya kemudian mendongak, dan memandang sayu ke arah Roshi.
"T-tak masalah, a-ayo maju dan bertarung habis-habisan …" ucap Naruto cukup lemah.
Namun, hal itu masih dapat Roshi dengar. Ia tertegun dengan bagaimana emosi serta ekspresi Naruto yang ia dapati saat ini. Hingga kemudian, hal itu membuat Roshi melemaskan tubuhnya dan memandang datar kepada Naruto.
"Baiklah. Akan ku lakukan seperti yang kau minta."
Setelah mengatakan itu, Roshi memejamkan kedua matanya. ' Yonbi, aku akan melakukannya.'
' Kau sungguh pria tua yang menyedihkan, Roshi. Kau tak berlaku adil, baik itu ke orang lain, ataupun dirimu sendiri. '
Roshi hanya mengabaikan Bijuu itu, dan memfokuskan diri terutama kesadarannya kepada sesuatu.
' Tapi … itu terserah padamu. Aku mengizinkan hal ini karena apa yang saling kita janjikan. '
Tepat setelah sang Bijuu berkata seperti itu pada pikiran Roshi, pria itu langsung menyentak lebar-lebar kedua matanya.
Kedua mata yang terbelalak itu kosong, hanya terlihat seperti rongganya saja dan berwarna putih. Dalam sekejap tubuh Roshi dibungkus penuh oleh cakhra merah kehitaman. Cakhra itu kemudian melonjak, hingga menyebar ke segala arah.
Suhu di area itu meninggi. Panas, mencengkam, dari Roshi yang secara bertahap berubah wujud. Tubuh Roshi yang terbungkus energi itu secara bertahap tertutup, tertelan oleh energi itu yang semakin membesar.
Energi itu kemudian membentuk sebuah bola yang kemudian melayang dan membawa Roshi di dalamnya. Setelah melayang di atas tujuh kaki dari permukaan bumi, energi yang menyerupai bola itu tiba-tiba membesar secara spontan dengan ukuran di luar akal sehat.
Ledakan besar terjadi …
Naruto spontan melompat kuat ke belakang, hingga mendaratkan dirinya di sebuah dahan pohon yang tinggi. Ia terbatuk-batuk dengan masih mengeluarkan darah. Debu berterbangan di sekitarnya karena ledakan yang terjadi barusan.
" Sekarang … ayo kita mulai, pertarungan habis-habisan ini."
Pendengaran Naruto menangkap suara yang menggema begitu besar itu. suara tersebut bukanlah kemampuan yang dimiliki seorang manusia seharusnya. Karena itu, Naruto pun mendongak, melihat ke arah dari mana suara itu berasal.
Dan Naruto spontan terbelalak, sangat lebar dengan kedua bola mata Mangekyou yang bergetar ketika menangkap siluet raksasa menyerupai monster di balik debu yang masih bertebaran.
Kemudian secara tiba-tiba, ada angin yang kuat menyapu semua debu di sana, hingga terpampang sosok asli dari monster itu, yang dilakukan oleh monster itu sendiri dengan mengibaskan sebelah tangan titannya.
Naruto menyeringai setelah mendapati sosok asli monster itu. Wajah lelaki itu tampak menyedihkan dengan darah yang mengalir dari hidung dan mulutnya, terlepas dari seringai ambigu yang ia perlihatkan.
"Yonbi …"
.
.
.
So is good to be back, here …
Saya selalu berharap dapat kembali lagi ke situs yang selalu saya bangga 'kan ini lebih cepat. Akan tetapi, hanya pada saat ini lah saya mampu melakukannya.
Tidak apa-apa, hal ini masih saya syukuri,
Sungguh emosi yang luarbiasa, saat ini, saya dapat kembali. Ini merupakan sebuah perjalanan yang panjang. Begitu pun dengan kapal ini, syukurlah masih memiliki kesempatannya untuk tetap berlayar hingga pada momen ini.
Saya sangat berterimakasih untuk banyaknya salam-salam baik pada chapter sebelumnya. Dan semoga, chapter ini dapat menjadi oleh-oleh yang nyaman untuk kalian dari kepergian saya selama ini.
Baiklah, saya pikir cukup pada bagian ini …
Sampai jumpa jika masih ada kesempatan …
[schwarzhaarige, out]
