Gagak yang Kehilangan Sayapnya

Haikyuu FurudateHaruichi, aku menulis cerita ini hanya karena aku mencintai Libero Mungil yang bernama Nishinoya Yuu.

Pairing : OikawaxNishinoya (You can hit me later)

Warn : OOC AF, dan siluman mereka AU. Gimana jelasinnya? -Well ... baca saja lah.

Jadi di sini mereka berwujud manusia tapi memiliki bagian binatang mereka. Kayak Karasuno, mereka punya sayap Gagak, sama kaki cakar. Shiratorizawa sama mereka punya sayap, sama cakar.

Summary :

Malam itu, seorang gagak terjatuh di bawah pohon yang Oikawa Toru huni. Gagak itu terluka parah, kalah dalam pertempuran, dan kehilangan sayapnya. Meski awalnya Oikawa menolak keberadaan gagak itu, dia tetap tak bisa menolak senyum ceria penuh kepercayaan diri gagak yang memperkenalkan diri sebagai Nishinoya Yu itu.

Happy Reading (Meski kalian kayaknya nggak akan Happy)

Petir menggelegar di atas sana, dibarengi dengan angin yang mengacaukan tempat tinggalnya. Oikawa Toru tidak pernah menyukai badai. Dia takut petir akan menyambar dan membunuh pohon yang ditinggalinya, yang otomatis membunuh keberadaannya. Roh pohon itu mendengus, berharap badai akan segera pergi dan dia bisa kembali melakukan apa pun yang dia mau. Termasuk menggoda roh pohon bernama Iwaizumi yang akan selalu meladeninya dengan amarah.

Oikawa tidak tahu berapa lama dia hidup, bahkan, lupa sejak kapan dia ada. Roh pohon selalu begitu, mereka akan terbangun dan terikat pada pohon tua yang cukup memiliki energi spiritual untuk membentuknya. Pohon ini sudah hidup seratus tahun, cukup tua, dan begitu besar. Cabang-cabangnya melebar dengan kayu-kayu yang kuat. Daunnya hijau dengan lembar-lembar lebar. Energi spiritualnya begitu kuat hingga memungkinkan Oikawa pergi dari pohonnya lebih jauh daripada Roh pohon lain yang dia kenal.

Sebagai Roh pohon mereka menyukai kedamaian. Tak jarang Roh pohon memberikan sebagian tubuh pohon mereka untuk manusia malang yang mencari kayu bakar, tetapi Oikawa terlalu jauh di dalam hutan untuk bertemu salah satu dari mereka. Oikawa lebih sering memberikan ranting-ranting keringnya untuk para siluman.

Meskipun begitu, Oikawa tidak begitu menyukai siluman. Terutama mereka yang menghabiskan seluruh hidupnya dengan bertarung satu sama lain. Akan tetapi, ketika di bawah hujan badai itu, seseorang terjatuh dari langit, dan menghantam salah satu dahan, kemudian terjatuh di semak-semak di bawah pohonnya, Oikawa segera turun.

Siluman—karena hanya siluman yang terbang di tengah badai—itu jatuh tak sadarkan diri. Ada tombak di sampingnya. Terjatuh begitu saja. Tubuhnya dipenuhi luka. Baju di bahunya terkoyak, dan menunjukkan luka menganga yang mengerikan. Darah terus mengucur, meski air hujan membilasnya pergi. Lukanya pasti parah.

Dia siluman burung. Kaki bercakar, dan bulu-bulu htam di sekitarnya mengkonfirmasi burung jenis apa dia. Gagak. Melihat bagaimana dia membawa tombak, Oikawa berasumsi dia adalah petarung. Para Gagak hidup berkelompok, sebagian besar dari mereka tidak mampu bertarung sendirian, tetapi mereka siap mempertahankan sarang mereka sebagai kawanan. Bukan hanya karena tubuh mereka lebih kecil dari para siluman burung lain, Gagak adalah siluman misterius yang begitu dekat dengan kematian. Mereka adalah pembawa pesan.

Gagak ini lebih kecil dari semua siluman gagak yang pernah dia temui, tetapi tubuhnya dipenuhi bekas-bekas pertarungan yang telah mengering. Dia hidup dengan bertarung, dan sendirian. Oikawa mendongak, tidak ada burung lain yang turun mencari gagak ini. Meski Oikawa ingin meninggalkannya begitu saja, ada sesuatu di wajah Gagak ini yang membuatnya tak bisa meninggalkannya.

Oikawa mendekati si gagak, dan mengobati luka-lukanya. Beruntung sekali para Roh pohon memiliki energi spiritual yang cukup untuk mengobati. Kehangatan melingkupi tangannya seperti sarung tangan, dia menyentuh bahu yang terluka, dan luka itu menutup perlahan. Dia tidak menemukan luka lain di sisi depan tubuhnya, tetapi masih ada darah yang terus mengalir.

Dengan perlahan dia mengangkat tubuhnya, dan betapa terkejutnya dia ketika sayap yang seharusnya berada di punggung si gagak hanya sisa-sisa menyedihkan. Awalnya dia pikir sayap Gagak ini hanya terbenam di semak-semaknya, tetapi Oikawa tak pernah menyangka mereka benar-benar terpotong. Satu sayap itu terpotong dekat sekali dengan pangkal tulangnya, dan daging merah berdenyut-denyut bersama darah yang terus terbasuh air. Sebelah sayapnya yang lain hanya tersisa setengah. Terpotong menyakitkan, dan menekuk kikuk. Lukanya parah, tetapi bagi para siluman burung kehilangan sayap adalah kondisi terburuk yang pernah mereka alami.

"Oh tidak!" gumamnya ngeri. "Sayapnya."

Oikawa menggigit bibirnya, lantas segera menyembuhkan luka si Gagak. Luka yang sembuh itu menumbuhkan kulit baru, dan membungkus daging-daging merah berdenyut. Ketika pengobatannya selesai, burung Gagak yang malang ini tidak akan pernah bisa menemukan sayap di belakang tubuhnya.

Sebenarnya dia tak tahu kenapa dia menolong Gagak ini. Roh Pohon menyukai kedamaian, dan siluman ini jelas kebalikan darinya. Dia juga tidak tahu makhluk apa yang menyerangnya, dan mengingat luka-luka gila yang dia terima, apa pun makhluk itu pasti cukup kuat. Mungkin makhluk itu akan kembali, sehingga dia segera mengangkat tubuh yang ringan itu di bawah leher dan lututnya. Kecil sekali, seperti anak-anak. Seberapa tinggi dia? Seberapa lama dia hidup?

Berapa lama lagi dia hidup?

Oikawa hanya tidak bisa membiarkan gagak kecil ini mati di sebelah pohonnya. Dia berlari di bawah pohonnya. Di antara tanah, dan pohonnya yang berlubang. Pohonnya cukup besar untuk membuat ruang kosong di antara akar-akarnya sehingga melidungi mereka dari air hujan. Oikawa mengangkat tangannya, dia meminta sulur-sulur baru keluar dari batang pohonnya, guna memberi tempat untuk gagak itu. Dia meletakkan Gagak itu hati-hati di atas tumpukan sulur baru.

Roh itu mengeringkan dirinya, salah satu keuntungan seorang roh pohon, tetapi dia tak bisa melakukan apa pun pada gagak yang basah kuyup. Dia mengacak rambutnya. Oikawa bukan siluman yang memerlukan baju-baju. Roh pohon hidup bersama pakaiannya ketika terbangun. Mereka tidak perlu membersihkan diri, tidak perlu mengganti pakaian, dan tidak perlu tumbuh.

Dia mengusap pipi yang berbekas luka itu. Bekas luka ini terlihat cukup lama ada di sana, dan nampaknya luka itu pasti dalam. Wajahnya kecil sekali, bibirnya ranum tetapi pucat. Hidungnya mungil, lehernya juga. Dia tidak tahu mata apa yang akan ditampilkannya ketika kelopak itu terbuka. Atau ekspresi semacam apa yang akan muncul ketika terbangun nanti. Apakah dia akan menunjukkan kesedihan? Apakah dia akan marah?

Hal yang membuatnya geli adalah sejumput pirang di dahinya, sementara seluruh rambut itu berwarna hitam kecoklatan. Oikawa tertawa kecil. Apa yang dia lakukan pada rambutnya hingga memiliki warna itu?

"Tidurlah untuk sekarang," gumamnya. "Ketika terbangun nanti, kau mungkin ..."

Oikawa terdiam. Tidak tahu kata apa yang tepat untuk menggambarkannya.

Hujan pergi setelah tengah malam, ketika pagi menjelang embun masih memenuhi setiap helai daunnya, dan titik-titik air masih sesekali terjatuh ke tanah. Oikawa duduk di salah satu dahannya, cukup tinggi di atas pohon-pohon lain untuk melihat matahari yang keluar malu-malu dari sisa-sisa mendung.

Dia tidak menunggu gagak itu bangun. Setelah memastikan lukanya sembuh, Oikawa hanya menenggelamkan dirinya di dalam batang pohon, dan duduk merenung di dahan tertinggi. Sebagian dari dirinya tidak cukup siap untuk melihat apa pun ekspresi yang akan ditunjukkan gagak itu, dan berharap dia akan segera pergi ketika menemukan tidak ada siapa pun di sekitarnya.

Di sisi lain, Gagak itu, mulai mendapatkan kesadarannya. Kepalanya berat oleh rasa sakit, dan dia terlalu sering berada dalam kondisi ini sehingga secara reflek mempersiap diri untuk datangnya rasa sakit lain. Akan tetapi, rasa sakit itu tidak kunjung muncul. Sebaliknya, selain kepalanya yang berdenyut, dan hawa dingin yang menusuk kulitnya, rasa sakit dan pedih yang biasa dia rasakan setelah pertarungan sama sekali tidak muncul. Bahkan dia merasa luka-lukanya yang lama sudah sembuh.

Padahal dia yakin kemarin Shirabu—elang putih sialan itu—mengalahkannya dengan brutal, menusuk bahunya, dan ... Gagak itu terbangun dengan tergesa-gesa, hanya untuk menemukan tidak ada apa pun selain setengah sayap kirinya yang menekuk kikuk. Gagak itu mengusap wajahnya, dan mencengkram rambutnya frustasi.

"Sayapku terpotong," gumamnya kering.

Gagak itu mengedarkan pandangannya. Kulit pohon, bau tanah basah, sisa-sisa air yang menggenang di tanah, dan sulur-sulur baru yang dengan aneh membentuk tempat yang cukup untuknya. Gagak itu sudah terlalu sering bertarung sehingga dia mampu mengendalikan dirinya dari jatuh dan meraung-raung karena kehilangan sayapnya, dan memilih untuk mengobservasi sekelilingnya. Lagipula dia tidak tahu apa yang terjadi di sekitarnya ketika tak sadarkan diri, bisa saja tempat ini adalah penjara para elang untuknya. Akan tetapi dia menghela napas, ada sisi terbuka, dan tidak ada penjaga.

Dilihat dari lukanya yang sembuh, dan keberadaannya sekarang, dia pasti ditolong oleh Roh pohon. Gagak itu menatap tangannya, dia tidak tahu apakah harus berterimakasih karena ditolong, atau lebih baik menyelesaikan kematian yang seharusnya terima? Semalam, dia ingat betul bagaimana serangan mematikan Shirabu membuatnya berpikir dia akan mati. Sial, dia bahkan bisa mencium bau kematian dari dirinya sendiri, dan seluruh tubuhnya mati rasa. Dia terjatuh dari langit, di tengah hujan lebar, menabrak dahan pohon yang membuatnya tak sadarkan diri, lantas dia tak ingat lagi.

Gagak itu menggenggam tangannya erat. Dia tidak boleh menyerah sekarang, tanpa sayap dia masih bisa berjalan. Dia menghela napasnya, lantas mencoba bangkit. Rasa sakit berdenyut-denyut di kepalanya, dan dia tidak bisa merasakan kekuatan di kakinya.

"Jangan bangun dulu!" kata seseorang. Gagak itu mendongak hanya untuk menemukan satu Roh Pohon bersadar di mulut gua, dan menatapnya cemberut. Dia tinggi, dan memiliki energi spiritual yang besar. Bajunya yang kehijauan tampak mempesona membalut tubuhnya. Bahkan untuk ukuran dirinya yang merupakan pejantan, dia mengakui bahwa Roh Pohon ini tampan. Mempesona lebih tepatnya. Seperti pohon sakura di musim semi. "Aku menunggumu ... entahlah menangis? Meraung? Marah?"

Gagak itu mengerjap. Sehingga membuat alis Oikawa menyerngit bingung. "Kenapa aku harus?"

"Kau kehilangan sayapmu."

"Oh," kata Gagak itu tenang. "Kau benar. Terimakasih sudah mengobatinya, tanpamu aku akan mati karena kehabisan darah."

Oikawa menggeram. Kenapa Gagak ini bisa setenang ini? Kenapa dia bisa tersenyum lebar ketika mengatakan terimakasih? Kenapa dia tidak merasa putus asa seperti yang dirinya dulu? Kenapa gagak yang kecil dan lemah ini tidak merasa hancur?

"Kau kehilangan sayapmu," ulang Oikawa setengah menggeram. "Kau kehilangan bagian tubuhmu. Bagian yang amat berharga untuk kaummu."

Gagak itu menerawang, dan dia hanya menjawab, "Yeah. Sangat disayangkan aku tidak bisa terbang lagi."

Oikawa mengepalkan tangannya. "Kenapa kau begitu tenang?"

"Panik, dan putus asa tidak menyelesaikan apa pun," kata Gagak itu lamat-lamat. Saat Oikawa menyadari bagaimana Gagak itu bernapas pelan-pelan di mulutnya, dia sadar bahwa siluman kecil itu tidak setenang yang dia perlihatkan. "Aku hidup cukup lama di medan perang untuk mengetahuinya. Aku juga sudah kehilangan lebih banyak hal yang berharga daripada sepasang sayap."

"Cukup lama," dengkus Oikawa. "Kau membicarakan umur dengan Roh Pohon."

"Itu menggelikan memang. Bagi semua gagak, terus bertarung selama lima tahun penuh adalah waktu yang panjang," jelasnya. "Oh namaku Nishinoya Yu. Kau?"

"Oikawa," balasnya dengan gigi terkatup rapat. "Kau bilang lima tahun, berapa usiamu?"

"Delapan? Sembilan?" gumamnya menerawang. "Kelahiranku terasa begitu lama, aku tidak ingat."

Oikawa memutar bola matanya. Siluman lain tidak memiliki usia sepanjang Roh Pohon. Sembilan atau sepuluh tahun hanya terasa seperti beberapa hari lalu bagi Oikawa. Sedangkan Nishinoya mengatakannya seolah dia sudah begitu lama ada di dunia.

Nishinoya menyeringai. "Nah, kau menekuk wajahmu. Aku tahu ucapanku tadi membuatmu kesal. Aku sengaja melakukannya."

"Kau menyebalkan," gerutu Oikawa. Dia berbalik, pakaian yang membalut tubuhnya berkibar bersama gerakannya. "Pergilah! Aku tidak menyukai petarung di pohonku."

Roh pohon itu kemudian menghilang, dan meninggalkan Nishinoya di tengah kebingungannya. Dia mengacak rambutnya bingung. Kemana dia harus pergi? Sarangnya telah porak poranda sejak kawanan Elang memutuskan untuk menghancurkan mereka. Pertarungan mereka bertahan cukup lama, hingga kawanannya hanya tersisa sedikit. Dia kehilangan dua teman terakhirnya, dan membawa tombak mereka, dikejar oleh Elang sialan bernama Shirabu. Kehilangan sayapnya, dan praktis kehilangan seluruh kawanannya.

"Kehilangan bagian yang amat berharga bagi kaumku, huh," gumam Nishinoya. "Aku sudah terlalu banyak kehilangan untuk memikirkan dua sayap terakhir yang saat ini tidak berguna."

Nishinoya menyingkirkan pikiran-pikiran itu, lantas turun dari sulur-sulur muda yang menjadi tempat tidurnya. Betapa menyenangkannya menjadi roh pohon. Memiliki usia panjang, disegani siluman-siluman lain, dan memiliki energi spiritual yang tinggi untuk menyembuhkan luka-luka fatal di tubuhnya. Hidup damai tanpa gangguan dari kawanan siluman lain, dan ... Nishinoya menggelengkan kepalanya.

Dia segera berlari, terkadang tanpa sengaja menggerakkan sisa-sisa sayapnya, dan kemudian menutup matanya frustasi. Dia tidak bisa terbang. tidak ada lagi sayap yang akan membawanya mengarungi langit, tidak ada rumah untuknya kembali. Menjadi gagak yang tak memiliki sayap berarti dia akan kesulitan mencari makan, dia tidak bisa membangun sarang di atas pohon, dan dia tidak tahu apakah Shirabu masih akan mengejarnya dan memastikannya mati.

Sekarang yang terpenting adalah dia harus mencari tombak itu. Tombak emas milik ketua kawanan. Tombak yang diberikan pimpinannya sebelum sarang mereka porak-poranda. Di mana dia jatuh semalam? Sialan. Dia mendongak guna mencari-cari keberadaan Oikawa di atas pohonnya yang besar. Sekilas Nishinoya tertegun. Pantas saja Oikawa memiliki energi spiritual yang tinggi. Pohon ini terasa begitu tua, dan besar. Kalau saja sarang mereka ada di salah satu dahan pohon ini, apakah mereka akan selamat? Nishinoya menggelengkan kepalanya. Roh pohon tidak menyukai pertempuran.

"Oikawa!" teriaknya. Matahari pagi mengintip dari sela-sela dedaunan. "Hei, Oikawa!"

"Apa yang kau perlukan dari Oikawa?" Nishinoya berbalik cepat. Di belakangnya, sosok roh pohon menatapnya sengit. Beberapa detik kemudian dia terbelalak. "Kau? Sayapmu? Apa yang terjadi?"

"Terpotong."

Roh Pohon itu memicingkan matanya. "Aku merasakan energi spiritual Oikawa memenuhi hutan. Kau? Apakah kau yang dia obati semalam?"

"Ya," kata Nishinoya mengangkat bahunya. "Aku merasa berterimakasih untuk itu, tetapi Oikawa memintaku pergi. Aku perlu mencari tombakku, sebelum pergi. Oikawa tidak memberitahu di mana aku jatuh. Ngomong-ngomong, siapa namamu? Aku Nishinoya Yu."

"Iwaizumi Hajime," jawabnya. Iwaizumi bergumam untuk dirinya sendiri. Nishinoya berpikir lelaki itu takkan mengatakan apa pun. Sehingga dia memilih pergi. Akan tetapi suara Iwaizumi menghentikannya. "Si bodoh itu, jangan dengarkan dia!"

"Hajime," ulang Nishinoya. Iwaizumi mengerutkan alisnya tak nyaman. "Okay ... Iwaizumi, apa maksudnya jangan dengarkan Oikawa?"

"Jangan turuti apa maunya!"

"Dengar! Kalian para Roh Pohon tidak menyukai pertempuran. Sementara aku praktis hidup untuk itu ... dulu. Jadi, kalau pergi bisa membuat kalian lebih baik, aku akan pergi."

"Kemana? Kau burung yang tidak lagi memiliki sayap, kemana kau akan pergi? Kau akan mati cepat atau lambat." Nishinoya bergumam tidak jelas, dan hal itu membuat Iwaizumi semakin geram. "Tetap disini!"

"Ha?"

"Tetap di sini!" ulang Iwazumi tidak mau dibantah. "Kalau Oikawa tidak mau menampungmu di pohonmu, pergi ke pohonku."

Nishinoya terdiam. Dia tidak pernah melihat Iwaizumi seumur hidupnya, dan dia tidak mengerti kenapa Roh Pohon ini memintanya tinggal di pohonnya, sementara mungkin saja para Shirabu akan kembali padanya. Kenapa roh ini begitu baik dan menawarinya tempat tinggal? Kemudian Nishinoya mengingat kembali keadaannya sekarang.

Aku pasti terlihat sangat menyedihkan, pikirnya.

Gagak itu hampir menolak ketika seseorang berbicara di belakang mereka.

"Kenapa kau memutuskan seenaknya sendiri, Iwa?"

"Iwa?" Nishinoya berbalik, dan menemukan Oikawa berdiri di belakangnya dengan wajah penuh keberatan. Ada tombak emas miliknya di tangan Oikawa. Bersih dari darah, seolah benda itu tak pernah digunakan untuk membunuh siapa pun sebelumnya. "Tombakku!"

Kedua Roh Pohon itu mengabaikan Nishinoya. Sibuk berdebat tentang Gagak yang hanya menatap mereka bergantian.

"Kau bodoh, ya? Dia bisa mati kalau kau mengusirnya sekarang. Dia akan tinggal di sini, tidak peduli apakah kau menolak atau tidak."

"Dia petarung, Iwa!" bentak Oikawa. "Dia bisa membawa bahaya kemari."

Nishinoya mencatat dalam hati untuk tidak membuat masalah dengan Iwaizumi ketika Roh Pohon itu berjalan ke Oikawa dan memukul kepalanya tanpa ragu.

"Kalau kau berniat membiarkannya mati, jangan tolong dia sebelumnya!"

Oikawa terdiam. Hanya meninggalkan Iwaizumi dengan napasnya yang terengah-engah. Nishinoya tidak tahu kenapa mereka mau bertengkar sampai demikian hanya untuk satu gagak yang baru mereka temui. Di depan gagak itu, dan bertindak seolah makhluk itu tidak memiliki pilihan.

Nishinoya menghela napasnya, lantas berjalan pada mereka berdua yang tak memperhatikan Nishinoya. "Seperti yang dikatakan Oikawa, aku ini petarung. Aku tidak akan mati semudah itu."

"Tetap di situ, Nak!" geram Iwaizumi. Nishinoya memutar bola matanya. Bagus, sekarang dia jadi peliharaan mereka. Dengan kesal Iwaizumi menyambar tombak Nishinoya dari tangan Oikawa. "Dia akan tetap di sini. Tak peduli kau menerimanya atau tidak. Dan kau, Nak!"

Nishinoya berjengit. "Ada apa?"

Iwazumi mengangkat dagunya, dan memamerkan tombak emas miliknya. "Kalau kau masih mau tombak ini, ikut denganku sampai aku bilang kau boleh pergi."

"Hei!" gerutu Nishinoya. "Itu kan tidak adil."

"Beradaptasilah, Nak! Hidup memang tidak adil."

"Aku bukan anak-anak, Iwaizumi!"

Nishinoya mengejar Iwaizumi dengan kepayahan. Dia sering menggerakkan sisa-sisa sayapnya, tetapi tidak membawanya pergi dari tanah. Cakarnya terasa aneh ketika menginjak tanah basah, sehingga dia berlari dengan sedikit lompatan-lompatan kecil, tetapi dia bisa mengejar Iwaizumi setelah menatap Oikawa dan mengangguk sekali.

Roh pohon yang ditinggalkan hanya terdiam. Kenapa Iwaizumi bersikeras meminta Gagak itu tinggal? Dia tidak pernah melakukannya sebelum ini. Iwaizumi orang yang lebih tegas tentang keselamatan dan kedamaian pohon. Meskipun secara teknis dialah penjaga hutan ini. Akan tetapi, daripada ketegasan dan kewasapaan Oikawa lebih kepada ... takut? Dia takut hal itu terjadi lagi, dan Iwaizumi seharusnya tahu tentang hal itu lebih baik daripada dirinya.

Lantas kenapa dia meminta Nishinoya Yu, gagak petarung yang mungkin membawa bahaya ke dalam hutannya? Lebih sederhana lagi, kenapa Oikawa mau menolong Gagak itu tadi malam? Kenapa dia tidak membiarkan gagak itu mati? Kenapa dia merasa tidak mampu meninggalkan wajah tak berdaya gagak itu ketika sekarat?

Oikawa mengacak rambutnya frustasi, lantas berbalik kembali pada pohonnya, dan berusaha menyingkirkan gagak tak bersayap yang saat ini bersama Iwaizumi dari kepalanya.

To Be Continued

Ini seri Gagak sebenernya, pengen kubikin Oneshoot kayak seri Gagak yang Tak bisa terbang, tapi kayaknya lebih seru kalau dipost dulu aja. Aku nggak tahu kapan upload lanjutannya. Tangan Kecil juga belum lanjut. Tapi ini udah ngendep lama sekali.

Anyway, cerita ini nggak akan panjang. Paling 10 chap, atau 15 paling panjang. I hope you enjoying this Story.

Thank for Read.

Sampai jumpa di chap depan.