Gagak yang Kehilangan Sayapnya

Haikyuu FurudateHaruichi, aku menulis cerita ini hanya karena aku mencintai Libero Mungil yang bernama Nishinoya Yuu.

Pairing : OikawaxNishinoya (You can hit me later)

Warn : OOC AF, dan siluman mereka AU. Gimana jelasinnya? -Well ... baca saja lah.

Jadi di sini mereka berwujud manusia tapi memiliki bagian binatang mereka. Kayak Karasuno, mereka punya sayap Gagak, sama kaki cakar. Shiratorizawa sama mereka punya sayap, sama cakar.

Summary :

Malam itu, seorang gagak terjatuh di bawah pohon yang Oikawa Toru huni. Gagak itu terluka parah, kalah dalam pertempuran, dan kehilangan sayapnya. Meski awalnya Oikawa menolak keberadaan gagak itu, dia tetap tak bisa menolak senyum ceria penuh kepercayaan diri gagak yang memperkenalkan diri sebagai Nishinoya Yu itu.

Happy Reading (Meski kalian kayaknya nggak akan Happy)

"Jadi," tanya Iwaizumi pada gagak kecil yang hanya mengikutinya dari belakang. "Apa yang terjadi? Dilihat dari energi spiritual yang Oikawa keluarkan, dan sayapmu yang terpotong, kau tidak hanya mengalami 'aku jatuh dari langit'. Lagipula, sarang gagak jauh dari sini, satu-satunya yang pernah kudengar hanya ada di Gunung Petir. Kau dari sana?"

Nishinoya menggerutu, "Bagaimana kalau kau memutuskan pertanyaan mana yang harus kujawab lebih dulu?"

Kemudian perutnya berbunyi. Sial, kapan terakhir kali dia makan?

Iwaizumi tertawa. "Bagaimana kalau dimulai dengan, apa makananmu?"

"Apa pun," jawab Nishinoya. "Aku memakan apa pun. Biji-bijian, binatang-binatang kecil, buah-buahan, telur burung lain, serangga, dan bangkai. Aku tidak pilih-pilih makanan."

"Bangkai?" ulang Iwaizumi terkejut. "Kau benar-benar mau makan itu?"

"Aku memerlukan lebih dari air dan cahaya matahari untuk bertahan hidup," gerutunya.

Iwaizumi berhenti di pohon besar dan menyentuh batangnya dengan kebanggaan. Akar-akarnya keluar dari tanah, sehingga memberi rongga-rongga. Pohon Iwaizumi tidak setinggi milik Oikawa. Hanya saja batangnya sangat besar dan berwarna coklat. Nishinoya tidak bisa memastikan pohon jenis apa itu, tetapi dia bisa merasakan pohon ini tidak lebih muda daripada milik Oikawa.

Dan agung, pikir Nishinoya. "Ini pohonmu?"

Iwaizumi mengangguk sebagai jawaban, lantas merentangkan tangannya ke atas. Salah satu ranting pohon bergerak kikuk menerima rentangan tangan Iwaizumi yang membawa tombak Nishinoya. Ranting pohon itu melingkari tombak dan membawanya naik. Nishinoya terbelalak. Secara reflek dia merentangkan sayapnya yang tersisa, dan mencoba terbang.

Akan tetapi, sisa sayapnya tidak akan pernah membawanya terbang, sehingga dia segera berlari menjangkau Iwaizumi. Sayangnya, dia sudah terlambat, ranting itu membawa tombak Nishinoya di balik dedaunan. Jauh dari jangkauan Nishinoya yang kali ini hanya bisa menatap nanar.

"Apa yang kau lakukan?" bentaknya. "Kembalikan tombakku!"

"Sudah kukatakan benda itu ada padaku sampai kubilang kau boleh pergi."

Nishinoya menggeram. Roh Pohon ini tidak terlihat licik, tetapi apa yang baru saja dia lakukan? Iwaizumi menggunakan tombak peninggalan terakhir kawanannya sebagai jaminan agar dia tetap ada di sini?

"Kembalikan!" geramnya, dan meraih kimono hijau tua Iwaizumi yang tak gentar. "Kembalikan tombakku, Iwaizumi!"

"Kau boleh mengambilnya sendiri di atas sana," katanya tenang. "Sampai saat itu, tetap di sini dan coba saja."

"Aku tidak bisa terbang untuk mengambilnya," geramnya kesal.

"Aku tahu," kata Iwaizumi puas. Dia bahkan menyeringai melihat kekesalan Nishinoya. "Itu adalah syarat untukmu pergi dari sini. Kalau kau mengambilnya, artinya kau cukup mampu bertahan hidup tanpa sayap. Setelah itu, terserah padamu."

"Kenapa kau bersikeras menahanku?" tanya Nishinoya kesal sembari mendorong Iwaizumi menjauh.

"Kenapa kau bersikeras pergi?" Nishinoya hanya mendengkus ketika Iwaizumi mengembalikan kata-katanya. Sehingga Iwaizumi terkekeh. "Jadi, kenapa kau sangat ingin pergi?"

"Pertama, karena Oikawa menyelamatkanku."

"Aku tidak melihat hubungan antara dia menyelamatkanmu, dan kau ingin ingin pergi."

"Karena dia memintaku," bentak Nishinoya sebal. "Permintaannya adalah aku pergi, hutangku padanya adalah dengan mengabulkan permintaannya."

Iwaizumi bersidekap. "Kau terlalu banyak berpikir. Jangan dengarkan permintaannya! Dia itu bodoh."

Nishinoya membuang mukanya. Tidak ingin menatap Iwazumi ketika mengatakan alasan berikutnya.

"Aku mencium bau kematian yang amat pekat."

Tubuh Iwaizumi menegang. Matanya menatap tajam pada Nishinoya yang menunduk. Gagak adalah burung pembawa pesan kematian. Mereka bisa mencium bau kematian di sekitarnya, yang berarti seseorang akan mati di sini.

"Kau bercanda, kan?"

"Aku tidak bercanda," katanya. "Sekarang kembalikan tongkatku, dan biarkan aku pergi. Mungkin para elang itu akan kembali padaku dan membahayakan kalian, jadi sebaiknya aku membawa bahaya jauh-jauh dari kalian."

Iwaizumi menatap Nishinoya lamat-lamat. Dia mencari tanda-tanda kebohongan, dan rencana licik dari gagak ini. Siapa tahu dia mengatakannya hanya untuk mengancam, dan pergi dari sini. Namun Nishinoya terlalu jujur untuk rencana licik. Kalau begitu seseorang akan mati di sini? Bila penyebabnya adalah para elang maka satu-satunya makhluk yang mungkin akan mati adalah Nishinoya itu sendiri. Entah Gagak ini menyadarinya atau tidak, tetapi Roh Pohon tidak bisa dibunuh kecuali ketika mereka melepaskan ikatannya dengan pohon mereka, atau pohon mereka mati.

Elang tidak cukup kuat untuk membunuh mereka, tetapi bukan berarti mereka tidak bisa. Iwaizumi telah dua kali melihat rekannya menghilang. Mati bukan kata yang cocok untuk mereka, tetapi menghilang dan mati memiliki makna yang sama.

Untuk sekarang bukan mereka intinya. Kematian yang dicium Nishinoya membuat Iwaizumi semakin yakin untuk menahan gagak tanpa sayap ini.

Lagipula Oikawa menyelematkannya, entah si bodoh itu sadar atau tidak, gagak ini pasti memiliki arti tersendiri untuknya. Oikawa tidak terlalu menyukai siluman lain. Terutama para burung, bukan hanya karena usia mereka tak panjang, tetapi dia mendambakan kebebasan yang takkan pernah dimiliki Roh Pohon. Roh pohon mampu hidup sangat lama, tetapi bayaran atas hal itu adalah kebebasan takkan pernah mereka miliki.

Sekalipun terlihat seperti makhluk penuh percaya diri dan menyebalkan, Iwaizumi telah bersama Oikawa sejak pertama kali dia terbangun. Lima puluh tahun bukan waktu yang singkat untuk kebersamaan mereka. Iwaizumi mengetahui Oikawa luar dalam, bahkan bila si bodoh itu tak menyadarinya.

Oikawa tidak akan menyelamatkan makhluk lain.

Itu berarti apa yang dilakukannya pada gagak ini cukup menjadi alasan Iwaizumi untuk memastikan Nishinoya tetap di sini dan membangun hubungan dengannya. Oikawa benci memiliki hubungan dengan siluman lain selain Roh Pohon. Karena dia tidak mampu menahan rasa kehilangan.

Hal itu membuatnya mengasingkan diri dari makhluk lain. Oikawa membangun citra jelek pada makhluk lain. Hampir semua makhluk menganggap Oikawa adalah Roh Pohon yang sombong. Sosok yang merendahkan siluman lain, dan mengagungkan dirinya hingga ke tahap yang mengesalkan. Dia benci petarung, karena dia tak tahu kapan dia akan mati.

Meskipun begitu, Iwaizumi tahu, Oikawa menyimpan rasa kesepian karena sikapnya sendiri. Dia terlalu takut merasa sakit akan kehilangan sehingga membangun dinding begitu tinggi. Tidak ada makhluk yang dekat dengannya, yang artinya dia takkan merasakan sakit ketika seseorang pergi.

Pemikiran yang bodoh.

Akan tetapi semalam, Oikawa Toru akhirnya membuat mengecualian itu. Dia membukakan sedikit pintunya pada gagak sekarat ini. Pintu yang tidak bisa Iwaizumi buka, tetapi mampu dimasuki, meskipun hanya sekilas, oleh gagak ini. Maka dia takkan membiarkan kesempatan itu terlewat.

Iwaizumi menyayangi Oikawa—meskipun demi dewa yang agung, dia takkan sudi mengatakan hal itu dengan mulutnya—dan dia telah mencari ribuan cara selama puluhan tahun untuk membawa Oikawa keluar dari dinding dalam benaknya.

"Hei!" seru Nishinoya kesal. "Ada yang ingin kau katakan? Aku menunggumu sedari tadi, dan tatapanmu membuatku ragu tentang roh pohon yang tidak akan memakan makhluk lain."

"Dasar bocah!"

"Aku bukan bocah!" sentak Nishinoya kesal. "Aku sembilan tahun, dan untuk seorang gagak, aku sudah dewasa."

"Kau tetap anak-anak di mataku," balas Iwaizumi hanya untuk mendapat dengkusan darinya. "Nah, kau sudah tahu syarat untuk pergi kalau kau bersikeras. Sekarang ikut denganku!"

Alis Nishinoya mengerut heran. "Kemana lagi?"

"Aku tidak bisa memberimu bangkai, tapi kau pasti akan menyukai buah segar."

Nishinoya menjilat bibirnya penuh rasa lapar. "Sudah lama sekali aku tidak makan buah."

Iwaizumi tertawa. "Aku akan memberikan buah sebanyak yang kau mau, tetapi kau harus menceritakan padaku apa yang terjadi."

Nishinoya menggerutu, tetapi dia mengikuti Iwaizumi. Dia tetap tidak terbiasa menggunakan kakinya. Terutama dengan akar-akar yang muncul dari pohon, semak-semak, dan ranting rendah yang menghambatnya berjalan. Tanpa sadar dia menggerakkan sisa sayapnya, hanya untuk membuatnya semakin kesal.

Sejujurnya dia ingin pergi dari tempat ini, dan menangisi nasibnya. Setidaknya dia tidak bisa menangis sekarang, apalagi dihadapan roh-roh pohon ini. Tidak juga dihadapan siapa pun.

Iwaizumi berhenti di salah satu pohon kecil, tetapi dipenuhi buah-buah yang ranum. Daun-daun muda masih basah oleh air, dan seorang roh pohon tersenyum pada mereka. Tubuhnya kecil, tidak berbeda jauh dengan Nishinoya. Roh pohon itu melambaikan tangannya pada Iwaizumi yang hanya membalas dengan sapaan tanpa arti.

"Hei Watari, bisa berikan anak ini beberapa buahmu?"

Roh Pohon yang dipanggil Watari itu menatap Nishinoya penuh simpati. "Kau tidak memiliki sayap."

"Ya. Sejak semalam, aku tidak perlu simpatimu, kalau boleh berpendapat."

"Aku penasaran sejak tadi," kata Iwaizumi. "Ucapanmu cukup pedas. Darimana kau belajar?"

"Dari banyak siluman," seringainya. "Mau kuceritakan satu-satu?"

"Ceritakan saja apa yang terjadi semalam."

"Berikan aku buah, akan kuceritakan sampai kalian puas," dengkus Nishinoya kesal. Iwaizumi memutar bola matanya, sementara Watari hanya tersenyum. Salah satu dahan pohon itu turun, membawa satu apel segar berwarna merah. Dahan itu terus bergerak perlahan, tepat di depan wajahnya. Nishinoya meneguk ludah. "Sial. Kau membuatku merasa bodoh karena kesulitan mencari makan."

"Ceritanya, Nak!"

Nishinoya mengabaikan Iwaizumi, dan menikmati gigitan pertamanya. Sebenarnya, dia tidak tahu harus memulai ceritanya dari mana. Karena sesungguhnya dia tidak benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga dia memulai dengan saat elang-elang itu menyerbu. Tidak banyak sebenarnya, hanya dua elang putih, tetapi sudah cukup untuk memporak porandakan sarangnya.

Sejujurnya Nishinoya tidak pernah menyangka ada siluman yang akan menyerang mereka. Mengingat Gunung Petir adalah wilayah yang dihindari oleh siluman-siluman lain untuk didatangi. Bukan karena sesuai namanya, wilayah sering tersambar petir sehingga membahayakan siapa pun, tempat itu gersang tak banyak makanan yang bisa didapatkan.

Kawanan Nishinoya tinggal di sana selama ... entahlah bergenerasi-generasi. Gagak bukan siluman yang berumur panjang, sehingga tidak heran mereka berganti generasi lebih cepat daripada siluman-siluman lain. Sejauh dia mengingat, Nishinoya telah tinggal di sana, dan dia telah melewati banyak kematian yang menyakitkan. Termasuk kelaparan, hingga sekarang menjadi generasinya. Nishinoya menjadi salah satu gagak tertua di sana, dan dia memiliki kewajiban—yang dia tanamkan untuk dirinya sendiri—melindungi gagak-gagak lain, dan memberi mereka makan.

Semuanya di mulai di malam itu. Nishinoya muda masih ingat bagaimana teriakan elang, dan kebingungannya. Gagak-gagak yang lebih tua bertarung, dan semakin lama mereka bertarung, semakin sedikit gagak yang kembali. Nishinoya muda menjadi pelindung, kemudian penjadi pelindung yang lebih muda darinya, kemudian hingga terakhir kali menjadi prajurit karena gagak yang lebih dewasa semakin sedikit.

Dia ingat bagaimana rasanya ketakutan ketika digiring salah satu gagak dari teriakan itu. Dia ingat saat dia menjadi orang yang menggiring rekan-rekannya yang lain. Dan dari semua kenangan itu, dia ingat bagaimana rasanya memegang senjata untuk yang pertama kalinya. Sebuah tombak. Bukan tombak emas yang dibawa oleh ketuanya, tetapi ujungnya cukup runcing untuk menusuk siapa pun.

Tidak ada waktu untuk banyak latihan, tetapi Nishinoya cakap menggunakan tombaknya, dan menggerakkan sayapnya untuk terbang dan mengimbangi elang yang akhirnya dia ketahui bernama Eita Semi itu. Meskipun tidak mungkin bisa mengalahkannya, dia mampu mengulur waktu hingga gagak-gagak yang lebih muda pergi ke tempat yang aman.

Pemandangan temannya mati bukan lagi hal baru bagi Nishinoya, hingga dia sadar bahwa hampir tidak ada lagi gagak yang lebih tua dan dia menjadi salah satu ujung tombak. Mereka menarik gagak yang lebih muda ke pertarungan, sama seperti yang dilakukan pendahulunya, bahkan setelah Nishinoya marah kepada rekannya, mereka tidak memiliki pilihan lain. Namun setidaknya mereka bertahan.

Hanya lima tahun. Kemarin malam, ketuanya berpesan di antara huru-hara dan suara teriakan Shirabu dan Eita Semi menggelegar di atas sana. Nishinoya ingin menghadang mereka. Hanya Nishinoya yang mampu mengulur waktu, tetapi ketuanya berpikiran lain.

"Ini sudah berakhir, Yu," katanya nelangsa. Ketuanya sudah tua, hampir mencapai akhir dari hidupnya, dan Nishinoya bisa mencium bau kematian darinya. Akan tetapi mereka selalu mencium bau kematian satu sama lain sehingga tidak begitu memperhatikannya. Selalu ada yang mati di antara mereka. "Tidak ada yang bisa kulakukan."

"Aku bisa menghadangnya!" bentak Nishinoya. Dia benci menyerah, tidak ketika ada orang-orang yang harus dia lindungi. "Kau bisa membawa yang lebih muda turun gunung."

"Dengar, Yu!" bentak Ketuanya. "Semua sudah berakhir. Pertarungan ini berakhir dengan kekalahan di pihak kita."

"Kita tidak akan tahu sebelum mencoba!"

"Dengar, Nak!" bujuk Ketuanya. Dia menangkap kedua bahu kecil Nishinoya, dan menatap tepat pada matanya. "Lindungi tombak ini dengan seluruh hidupmu! Hanya kau gagak yang cukup cepat untuk mengimbangi mereka, tetapi kau tidak akan bisa mengalahkannya."

Nishinoya menggigit bibirnya. Dia tahu. Lebih baik daripada siapa pun. Nishinoya tahu dia mampu mengimbangi kecepatan, dan reflek para Elang, tetapi hanya itu. Dia tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawan mereka.

"Pergilah, Nak!" Sang Ketua Gagak memohon sembari mendorong tombak itu ke dada Nishinoya yang hendak menangis. "Lindungi tombak ini! Hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan kawananmu."

Kemudian suara itu kembali terdengar keras. Teriakan panik mengudara bersama hujan badai yang menggila. Petir meledak-ledak di atas sana. Sang Ketua mendorong dirinya bersama dengan Shirabu yang turun dari langit. Sayapnya membentang lebar, dan wajahnya tak menunjukkan belas kasihan.

Di tangannya, salah satu rekannya terkulai dengan kepala menjuntai patah. Tak bergerak, dan mati. Nishinoya bisa menciumnya tanpa perlu memeriksa.

"Serahkan!" perintah Shirabu dingin hingga terasa mengiris kulitnya. "Seluruh kawananmu sudah mati, Gagak. Tidak ada yang tersisa. Kalau saja kalian tidak melawan, Gagak-Gagak kecil itu pasti masih hidup hingga sekarang."

Tubuh Nishinoya membeku. Telinganya berdenging karena informasi yang baru dia dapatkan dari Shirabu. Elang itu menatapnya tajam, hingga membuatnya merasa ditelanjangi. Akan tetapi dua Gagak rekannya mendarat di belakang tubuhnya. Dia tidak tahu berapa lama dia membeku, dan apa saja yang mereka katakan, tetapi sayup-sayup dia bisa mendengar ketuanya meneriakkan perintah pergi, dan dua Gagak temannya menyeretnya menjauh. Hanya untuk membiarkan ketuanya dicabik-cabik Elang yang sudah muak bermain-main.

"Kuatkan dirimu!" bentak satu temannya yang masih setia menarik lengannya. Nishinoya meneguk ludahnya. Suara temannya yang keras berganti dengan tangis, dan lenguhan nelangsa. "Kita kalah, Yu. Kita kalah."

Hati Nishinoya mencelus. Kita kalah, dan seluruh kawanannya telah tewas. Hanya tinggal mereka berdua, dan satu tombak yang dia pegang erat-erat seolah hidupnya bergantung padanya. Nishinoya menelan ludah, dan secara perlahan menggerakkan sayapnya begitu kesadaran memasuki benaknya.

Kedua temannya menunggu intruksinya. Sehingga dia menarik napas dalam-dalam meski sulit di tengah hujan dan langit yang berkilat.

"Terbang secepat mungkin," katanya dengan ketegaran prajurit yang dipaksakan. "Kita pergi!"

Sayangnya semua tidak berjalan sesuai harapannya. Teriakan elang mengikutinya setelah sepuluh menit berlalu. Nishinoya membeku. Apa yang terjadi pada Ketua Gagak? Bagaimana bisa elang itu sampai di sini?

"Kita terbang lebih cepat!"

Rekan-rekannya mengikuti. Mereka tahu jawabannya