41

Title : RISING STAR Chapter 43

Genre : Brothership

Rating : Fiction T

Cast : Kyuhyun, Leeteuk, Heechul, Hankyung, Yesung, Kangin, Shindong, Sungmin, Eunhyuk, Zhoumi, Donghae, Siwon, Ryeowook, Kibum dan Henry.

Disclaimer : All them belong to themselves and GOD.I own only the plot.

Warning : Typos, Geje, If Read Don't Bash, Jangan meng-copy paste meskipun menyertakan nama. Share saja dalam bentuk link ffn, tidak kurang dari itu

Summary : nggak ada

.

.

"Kyuhyunie!"

Siwon dan Zhoumi segera menopang Kyuhyun yang nyaris jatuh begitu mereka keluar dari ruangan interview.

.

.

RISING STAR

Chapter 43

.

"Gwenchana, Kyuhyunie?" tanya Donghae cemas.

"Gwenchanayo," sahut Kyuhyun.

Meski ia merasa perutnya sakit dan mual serta kepalanya berdenyut semakin kuat, namja itu mencoba berdiri tegak kembali. Kyuhyun juga me-lepaskan tangan Siwon dan Zhoumi yang masih menopangnya. Namun saat ia berusaha melangkah dengan pelan, sepasang tangan menggamit lengan kanannya dengan erat.

"Kyuhyunie, kau ingin ke kamar mandi? Biar aku antar."

Kyuhyun memandang hyung-nya yang bertubuh mungil itu sejenak. Ia ingin membantah namun tidak tega melihat reaksi Ryeowook nanti; Lagipula Kyuhyun memang menginginkan hal itu sejak di ruang wawancara. Akhirnya Kyuhyun mengangguk.

"Bagus." Ryeowook tersenyum gembira. Tanpa menunggu yang lain, di-tuntunnya Kyuhyun ke kamar mandi yang terdapat di gedung itu.

"Apa mereka tidak apa-apa berdua saja?"

"Jangan cemas, Siwonie. Ryeowookie pasti menjaganya dengan baik."

"Hangeng gege benar." Zhoumi menepuk Siwon yang tampak cemas.

"Hyungdeul, manager hyung menyuruh kita ke ruang ganti." Henry me-nunjuk ke arah manager Super Junior M yang melambaikan tangan dari salah satu pintu.

"Kita tunggu mereka di sana," putus Hankyung.

Ryeowook bergegas mendekat begitu Kyuhyun keluar dari dalam toilet. Wajah dongsaeng-nya sudah lebih segar, namun kelelahan tampak jelas di sana. Ketika ia menuntun Kyuhyun untuk meninggalkan kamar kecil, Kyuhyun menarik ujung baju Ryeowook dan menunjuk ke sebuah bangku panjang yang terdapat di dalam ruangan. Meski sedikit heran, Ryeowook menurut tanpa ba-nyak bertanya.

Kyuhyun langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Ryeowook begitu keduanya duduk. Kedua matanya dipejamkan dengan harapan rasa sakit di kepalanya akan sedikit mereda.

"Gwenchana, Kyuhyunie?" Ryeowook bertanya dengan cemas.

Kyuhyun tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya sedikit sambil tetap di posisi semula. Matanya pun tetap terpejam rapat.

Setelah menarik napas panjang, Ryeowook mencoba duduk lebih rileks sehingga Kyuhyun bisa bersandar dengan nyaman di bahunya. Tangan kirinya bergerak merangkul dongsaeng-nya yang masih saja terdiam. Ryeowook me-mandang sekeliling kamar kecil yang lenggang.

"Jika ada yang masuk ke sini dan melihat kita, kira-kira mereka berpikir apa? Jangan-jangan kita dipikir sepasang kekasih." Ryeowook terkikik mem-bayangkan situasi itu. "Sebagian akan menganggap kita hyung dan dong-saeng yang sangat akrab. Kau tahu, Kyuhyunie, waktu kau merebut posisi magnae, aku tak pernah menyangka akan menyayangimu sebesar ini… Saat itu aku sangat membencimu…."

Kyuhyun tidak bereaksi.

Melihat dongsaeng-nya tetap bersandar sambil memejamkan mata de-ngan napas lemah dan wajah yang menyiratkan keletihannya, mata Ryeo-wook menjadi panas. Pandangannya sedikit kabur oleh cairan yang menutupi kedua bola matanya. Ryeowook mempererat rangkulannya, membuat napas Kyuhyun terasa panas menerpa lekukan di lehernya.

"Kyuhyunie… Apakah kau pernah bertanya mengapa kau yang harus mengalami kondisi parah saat kecelakaan itu? Apakah kau pernah berpikir mengapa kau yang terlempar dari dalam mobil dan bukan yang lain? Mengapa jika Allah itu baik, Dia mengijinkan semua kejadian buruk ini?"

Ryeowook kini benar-benar menangis, meski tak ada isakan yang keluar karena ia menahannya sekuat yang ia bisa. Dieratkannya kembali rangkulan-nya, dan mencium puncak kepala Kyuhyun sekilas. Semua itu membuat Kyu-hyun membuka matanya sejenak, merangkul pinggang Ryeowook dengan ta-ngan kanannya, dan kembali terdiam.

"Kyuhyunie… Kadang hyung tidak sanggup melihatmu sakit seperti ini… Apalagi kau… Apa kau tidak merasa lelah? Apa kau tidak merasa…."

"Karena aku sanggup…"

"Eh?" Ryeowook terkejut ketika suara Kyuhyun terdengar samar-samar. Ia mengusap air mata dengan tangannya yang bebas, mencoba mempertajam Kyuhyun tidak berbicara lagi. "Kau bilang apa, Kyuhyunie?"

"Karena aku sanggup, maka Allah memilihku mengalami semua ini."

Kyuhyun berbicara dengan suara yang sangat pelan, masih di posisinya yang terasa sangat nyaman.

"Aku pernah bertanya, dan kurasa itulah jawab-annya."

"Tapi… Tapi itu sangat berat…."

Kyuhyun kini duduk dengan tegak, memandang Ryeowook yang mena-tapnya tak percaya.

"Kalau aku yang mengalaminya, aku belum tentu sanggup…."

"Itu karena Allah tahu aku memiliki appa, eomma, noona, dan hyungdeul yang akan selalu mendampingiku. Aku memiliki kalian yang selalu menguat-kanku."

"Kau bohong…" Ryeowook kembali menangis. Ditutupnya wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dan mulai terisak.

"Ya! Ryeowookie! Aku tidak berbohong!" Kyuhyun menarik tangan itu se-hingga Ryeowook terpaksa menatap wajahnya. "Aku ini paling disayang oleh kalian, bukan? Jadi jika aku yang mengalaminya, hyungdeul akan menya-yangiku lebih lagi sehingga kita bisa melewati semua bersama-sama! Coba kalau kau atau Hyukhyuk yang mengalami… Aku tidak akan mau mendukung hyung cengeng seperti kalian. Kalian tidak akan sekuatku saat ini karena ku-rang dukungan!"

"Ah… Itu benar. Kau memang menyebalkan." Mendengar kata-kata ejek-an Kyuhyun, Ryeowook tersenyum cerah. Ia mengangguk sambil terkekeh.

"Ya! Kenapa kau tertawa, Ryeowookie?! Aku bilang aku tidak akan men-dukung kalian!"

"Ne… Aku sudah mendengarnya." Ryeowook semakin terkekeh. Kyuhyun selalu berkata seakan dia tidak mempedulikan member lain. Tetapi jika hal yang buruk terjadi, magnae-nya itu salah satu member yang paling cepat mencoba membantu.

Melihat Kyuhyun merajuk, Ryeowook jadi berniat menggodanya. "Kau memang menyebalkan. Kau magnae yang tidak akan mendukung kami jika kami merasa sakit atau terjatuh. Tapi seingatku, saat kecelakaan itu terjadi, kau bukan member yang paling kami sayang. Jangan terlalu percaya diri, Kyuhyunie. "

"Mwo?" Kedua mata Kyuhyun terbelalak lebar. Pipinya memerah me-nyadari kebenaran kata-kata Ryeowook. Sedetik kemudian ia meringis de-ngan wajah memelas.

"Ryeowookie, jangan mengingatkanku akan hal itu…."

Ryeowook kini tertawa begitu keras. Kedua tangannya menarik Kyuhyun dan merangkulnya dengan gemas. "Entah kenapa, Kyuhyunie, apapun yang kau lakukan, aku sangat menyayangimu."

"Aish! Kau ini memang aneh!" Kyuhyun mempout-kan mulutnya dengan kesal. Namun sedetik kemudian namja itu berteriak keras karena Ryeowook mengacak rambutnya. "Ryeowookie! kau membuat penampilanku terlihat bu-ruk!"

"Poor, uri Kyuhyunie. Sini hyung rapikan." Sambil tetap tersenyum geli mengingat wajah Kyuhyun yang tersipu tadi, Ryeowook merapikan rambut Kyuhyun dengan kedua tangannya yang terampil. "Kau sudah membaik kan? Ayo kita kembali bergabung dengan yang lain. Mereka pasti sudah cemas me-nunggu kita."

Keduanya berjalan beriringan mencari member Super Junior M lainnya. Manager yang menunggu di koridor memberitahu bahwa member SJM yang lain tengah menunggu di ruang ganti.

"Sun Yao-sshi menghilang? Apa kau yakin, Heenim?"

Suara Hankyung membuat Ryeowook dan Kyuhyun menghentikan lang-kah pertama mereka di ruangan itu. Sun Yao adalah sahabat dekat Leeteuk, Eunhyuk, dan Kangin. Yeoja itu muncul beberapa kali di KBS Global Beauty Talk Show dan SUKIRA.

"Apakah itu benar? Sun Yao-sshi?" Ryeowook memandang Kyuhyun me-minta kepastian. Namun Kyuhyun hanya bisa menggidikkan bahu. Ia sama terkejutnya dengan Ryeowook.

Hankyung terduduk lemas. Menyadari semua mata memandang penuh tanya ke arahnya, namja itu menghela napas panjang. "Sun Yao-sshi sedang cuti sebulan ke China untuk menulis buku keduanya. Menurut agensinya, tanggal 10 Sun Yao-sshi pergi ke Sichuan. Sampai saat ini mereka kehilang-an kontak…"

"Ternyata banyak kenalan kita yang terkena musibah gempa ini." Dong-hae memandang sekelilingnya dengan sedih.

"Benar. Keluarga Kiki, keluarga Zhang Liyin, dan kini Sun Yao-sshi juga menghilang." Zhoumi terpekur.

Siwon berjalan dengan diam dan memukulkan tinjunya ke tembok untuk

meringankan perasaannya. Henry memeluk tas biola yang selalu bersamanya ke manapun mereka pergi, mencoba menghilangkan perasaan gelisah yang melingkupinya dua hari ini. Kyuhyun yang baru saja duduk di sofa, meman-dang dengan resah. Ia mencoba bangun sambil menahan sakit.

"Gui Xian…." Zhoumi berusaha mencegah Kyuhyun. "Istirahatlah sampai kau membaik. Dorm tidak jauh dari sini. Kita tak perlu terburu-buru."

"Zhoumi ge, lebih cepat kita pulang, lebih cepat kita mencari kabar ten-tang mereka…" Kyuhyun mendorong Zhoumi agar ia bisa berdiri.

"Jangan berpikir yang macam-macam." Ryeowook ikut mendorong Kyu-hyun. Walau terlihat sedih, namja itu mencoba tersenyum semanis mungkin di depan dongsaeng-nya.

"Teuki Hyung, Kangin-ah, dan Hyukie pasti sangat cemas mendengar kabar ini," gumam Hankyung. "Besok aku akan mencoba melihat apa yang bisa dilakukan Super Junior M untuk membantu para korban. Kita juga akan melakukan donor darah."

Semua mengangguk setuju termasuk Kyuhyun.

"Kau tidak, Kyuhyunie. Hyung lihat kondisimu menurun dua hari ini. Se-baiknya kau beristirahat sebanyak mungkin di dorm."

Kyuhyun melihat Hankyung sudah cukup tertekan hari ini tanpa perlu ia menambahinya. Dengan terpaksa, Kyuhyun menyetujui anjuran Hankyung untuk 'menjaga' dorm Super Junior M.

Ahra melangkahkan kakinya dengan cepat menyusuri lorong rumah sakit hingga tiba di kamar yang ia tuju. Ingin rasanya gadis itu membuka pintu de-ngan cepat, namun ia mengendalikan dirinya dan membuka pintu kamar itu dengan sangat perlahan, berharap kedatangannya tidak akan mengganggu si penghuni kamar.

Namun usahanya sia-sia. Sepasang mata beriris besar dan hitam me-natapnya di detik pertama. Sebuah selang oksigen yang terpasang di wajah-nya tidak menghalangi namja yang terbaring lemah di sana untuk mengukir sebuah senyum.

"Captain Cho…" Seketika itu juga Ahra merasa sebuah perasaan aneh, seperti sebuah déjà-vu. Ia yakin pernah mengalami hal ini sebelumnya, de-ngan tempat dan posisi yang sama.

"Noona…"

Suara itu membuatnya tersadar. Ahra mengambil posisi duduk di sisi tempat tidur, menatap dongsaeng-nya yang masih saja tersenyum. Ia tidak lagi memikirkan perasaan déjà-vu tadi. Digenggamnya tangan yang kurus dan ringkih itu. Ia yakin saat ini berat badan Kyuhyun lebih ringan darinya. Adik-nya terlihat seperti tulang berbungkus kulit, meski pancaran matanya begitu hidup, bertolak belakang dengan penampilannya yang begitu lemah.

"Kenapa kau memaksakan diri? Eomma menangis saat memberitahu bahwa kau kembali masuk rumah sakit."

"Mianhe…" Mata itu kini menyiratkan rasa bersalah. "Aku hanya mencoba berlatih…. Mencoba mencari tahu seberapa hal yang tersisa yang bisa aku lakukan, Noona… Aku ingin kembali ke atas panggung bersama hyungdeul," tutur dongsaeng-nya dengan suara nyaris tak terdengar.

"Tapi euisa bilang kau harus beristirahat 1 tahun penuh dari panggung, Captain Cho. Apa kau tidak sadar seberapa parah kondisimu?"

"Aku tidak bisa menunggu selama itu. Album kedua kami sedang dibuat. Aku harus…"

"APA SUPER JUNIOR BEGITU PENTING UNTUKMU, CHO KYUHYUN?!"

Ahra meledak. Ia bangkit dari kursinya dan menjauh beberapa langkah, berharap emosinya mereda dengan menjauhi sang adik.

Kemarin, saat ia sibuk dengan jadwal kuliah yang padat, Ahra mendapat telepon tengah malam dari sang eomma yang menangis. Kim Hanna membe-ritahu bahwa Kyuhyun harus dirawat kembali di rumah sakit Nowon. Sepan-jang penerbangan 11 jam, Ahra merasa cemas dan bertanya-tanya kenapa kondisi namdongsaeng1nya kembali menurun. Kim Hanna, sang eomma, memperlihatkan buku catatan yang ditulis Kyuhyun, yang membuat kecemas-an Ahra berubah menjadi kemarahan.

"Apa menjadi artis begitu penting untukmu sehingga mengabaikan perasaan kami, keluargamu sendiri? Apakah berada di bawah sorot lampu setahun ini membuatmu terbuai? Kau tidak memikirkan betapa cemasnya kami melihatmu nyaris meninggal beberapa bulan lalu? Apa kau seperti itu, Cho Kyuhyun?!" Kini kemarahannya berubah menjadi perasaan kecewa. Ahra pun menangis.

"Ani… Aniyo, Noona…" Kyuhyun menggelengkan kepala dengan keras.

Ahra yakin itu disebabkan tangisannya yang tidak tertahankan lagi. Ia

benar-benar marah dan kecewa dengan tindakan ceroboh yang dilakukan Kyuhyun.

"Noona, uljima… Noona boleh memukulku jika merasa kesal. Tapi jebal…. Uljima, Noona… Uljima…"

Ahra tetap menangis sambil menutupi wajahnya. Ia tidak peduli Kyuhyun akan merasa sangat bersalah. Ia ingin Kyuhyun menyadari betapa semua ini menyakitinya begitu dalam.

"Akh!APPO!"

Teriakan kesakitan itu membuat Ahra membuka matanya.

"Captain Cho, apa yang kau lakukan?!"

Ahra menjadi panik saat melihat dongsaeng-nya jatuh tersungkur di lan-tai. Sepertinya Kyuhyun berusaha menghampiri untuk menenangkannya, dan kini selang oksigen itu terlepas. Ahra langsung mengangkat tubuh Kyuhyun, mencoba mengembalikannya ke tempat tidur. Ia membujuk Kyuhyun kembali berbaring, namun dongsaeng-nya bergeming.

Saat tangan lemah Kyuhyun memeluknya, membuatnya terpaksa duduk di tempat tidur itu, darah Ahra berdesir. Kyuhyun masih menggelengkan ke-pala sambil menangis di bahunya.

"Aniyo… Jangan salah paham, Noona," isak Kyuhyun. "Noona, mianhe… Jangan menangis lagi…."

Susah payah Ahra berusaha kembali tenang agar Kyuhyun tidak terbawa oleh emosinya saat ini. Napas Kyuhyun terdengar begitu berat, membuatnya mencoba mengesampingkan perasaannya sendiri.

Saat ini, Kyuhyunie tidak memerlukan teguranku….

"Jangan banyak bicara. Aku akan memanggilkan ganhosa2," tutur Ahra selembut mungkin. Ditekannya tombol yang terdapat di sisi tempat tidur.

Hanya memerlukan waktu sebentar sebelum ganhosa datang ke kamar untuk memaksa Kyuhyun berbaring dan menempelkan kembali selang oksi-gen ke hidungnya. Dongsaeng-nya itu sedikit meringis. Meski nasal cannula3 membantu Kyuhyun bernapas lebih ringan, namun tak urung hidungnya tera-sa sakit karena mengalami iritasi.

Setelah ganhosa pergi, Ahra duduk di sisi tempat tidur dan menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi tirus itu. Ia sama sekali tidak memper-tanyakan sifat Kyuhyun yang kini mudah menangis. Semenjak kecelakaan, banyak perubahan dalam sikap sang adik yang membuat Ahra mencoba me-ngenalinya kembali.

"Noona…"

"Diamlah…"

"Noona…"

"Diamlah dan beristirahat," bujuk Ahra. "Jangan terlalu banyak bicara."

Ahra terpaksa mengalah ketika kepala Kyuhyun kembali menggeleng.

"Baiklah, setelah napasmu kembali normal, kau boleh berbicara."

Ahra mengambil jalan tengah bagi masalah mereka berdua. Ia terse-nyum ketika Kyuhyun tampak menyukai usulnya.

"Noona, aku tidak mengabaikan kalian…" Kyuhyun mulai berbicara se-telah napasnya terasa lancar. "Justru karena Appa sudah melindungi impian-ku, aku tidak boleh menyerah… Aku tidak boleh vakum selama itu… Aku ingin membuktikan bahwa ijin dari Appa akan aku pergunakan sebaik-baik-nya."

"Tapi itu bisa kau lakukan setelah satu tahun, bukan?" Ahra mengutara-kan pikirannya. "Kalaupun kau tidak bisa bersama Super Junior, kau bisa ber-solo karir. Aku dengar dari Appa bahwa Petinggi SM ingin mendebutkanmu sebagai penyanyi solo. Bukankah itu sesuatu yang bagus? Masih banyak cara untuk menjalani impianmu sebagai penyanyi. Kau tidak menyia-nyiakan ijin Appa meski menjadi penyanyi di luar Super Junior." Ahra menautkan kening-nya ketika Kyuhyun kembali menggelengkan kepala.

"Selama di rumah sakit…. di Seoul… hyungdeul selalu mengunjungi dan menemaniku. Aku merasa kami seperti hyung dan dongsaeng yang sesung-guhnya. Jadi, mana mungkin aku meninggalkan keluargaku sendiri?"

"Captain Cho…" Ahra tidak tahu apa yang harus ia katakan ketika Kyu-hyun bercerita dengan wajah seperti itu; Wajah seseorang yang begitu sedih karena harus terpisah dari keluarganya. Ahra berkuliah jauh di Austria. Se-dikit banyak, ia dapat memahami perasaan Kyuhyun saat ini, apalagi jika per-pisahan itu bukanlah bersifat sementara.

"Noona, apakah keinginanku terlalu berlebihan?"

Kyuhyun memandangnya dengan perasaan ragu. Ingin rasanya Ahra menjawab 'Benar, keinginanmu terlalu berlebihan, Captain Cho' dan ia yakin Kyuhyun akan berpikir ulang akan keputusannya. Namun ia juga melihat se-percik harapan di sana; Harapan Kyuhyun agar Ahra membantu meyakinkan,

bahwa bersama Super Junior bukanlah sebuah kesalahan.

"Apakah mereka sangat penting bagimu?"

Kali ini Kyuhyun mengangguk sambil tersenyum. "Selain appa, eomma, dan noona; Super Junior adalah keluarga keduaku."

Ahra terpaksa tersenyum melihat sepercik harapan di mata Kyuhyun tadi telah berubah menjadi harapan yang besar. "Kalau begitu…."

"Ugh…!"

"Captain Cho!"

Kyuhyun tampak kesakitan. Ahra memandang dengan cemas, namun Kyuhyun hanya meringis sambil tersenyum. Tak satupun kata-kata keluhan keluar dari mulut dongsaeng-nya. Melihat Kyuhyun berjuang sekuat tenaga untuk menyembunyikan sakitnya; Mencoba menunjukkan semua baik-baik saja agar Ahra tidak berubah pikiran; Ahra menggenggam tangan sang adik.

"Kalau hal itu begitu penting bagimu, Noona akan membantu," bisik Ah-ra. "Kau tidak perlu khawatir."

Mata Kyuhyun melebar, dan sebuah tawa ringan menghiasi wajahnya un-tuk pertama kalinya sejak Ahra datang. "Noona adalah orang yang paling me-mahamiku."

Pujian tulus itu membuat Ahra nyaris menangis, namun ia menguatkan hatinya dan terus tersenyum. Kyuhyun sendiri kembali berbaring dengan ma-ta tertutup, dengan tangan kanan yang masih berada di genggaman Ahra.

Ahra memperhatikan napas dongsaeng-nya yang terdengar begitu berat. Paru-paru Kyuhyun belum pulih benar, masih memerlukan operasi selanjut-nya. Saat melihat pakaian di bagian pinggang dongsaeng-nya sedikit meng-gembung, Ahra tersadar Kyuhyun masih bergantung pada kantong kolostomi untuk beberapa bulan ke depan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana cara Kyuhyun beraktivitas dengan kondisi seperti itu. Meski ia tahu beberapa orang juga hidup normal dengan kantong itu di tubuhnya, tetapi jadwal seorang artis di Korea terkenal sangat padat dan berat.

Tapi dia tidak akan mau menyerah…

Kyuhyun tampak lebih sibuk berusaha meyakinkan sang kakak bahwa ia baik-baik saja, daripada mengkhawatirkan apa yang akan dilalui saat aktif kembali di atas panggung dengan semua kerapuhan tubuhnya. Hal itu me-nyentuh hati Ahra yang terdalam, sehingga ia mencoba tersenyum dengan tulus; Mencoba mengerti sepenuhnya akan keinginan Kyuhyun.

"Karena kau bilang aku paling memahamimu, kau tidak perlu bersembu-nyi dariku. Jika kau kesakitan, genggamlah tanganku lebih erat, Captain Cho. Maka noona-mu ini akan menyalurkan perasaan hangat yang membuat sakit-mu menghilang. Noona hebat bukan?"

Kyuhyun membuka matanya, menatap Ahra dengan mimik lucu.

"Noona, kau memang heb… Ugh!"

Rasa sakit membuat Kyuhyun menghentikan kalimatnya. Sepertinya ia terlalu banyak berbicara hari ini. Mengingat pesan tadi, Kyuhyun menggeng-gam tangan Ahra lebih kuat.

Ahra langsung menggenggam tangan itu dengan kedua telapak tangan-nya, mencoba membuatnya hangat, dan membisikkan doa. Ahra terus me-lakukan itu hingga akhirnya Kyuhyun tertidur karena perasaan nyaman yang melingkupinya.

Setelah mencium kening Kyuhyun, Ahra beranjak ke luar kamar. Hampir saja ia bertabrakan dengan kedua orang tuanya yang hendak membuka pintu. Ia memastikan pintu kamar sudah tertutup rapat sebelum mendorong lembut kedua orang tuanya menjauhi kamar itu.

"Ahra-ya, apa kau berhasil membujuk Kyuhyunie untuk berhenti setahun dari Super Junior?" tanya sang eomma penuh harap, sementara sang Appa menatapnya dengan diam. Keduanya baru saja kembali dari rumah untuk membawakan pakaian ganti.

"Eomma, Appa, ijinkan aku mengambil cuti kuliah sampai Kyuhyunie sembuh. Aku akan menjaga sekaligus menemaninya agar ia bisa segera kem-bali ke panggung bersama Super Junior."

Ahra tahu keputusannya membuat kaget sang eomma. Namun ia merasa lega ketika sang appa diam-diam tersenyum ke arahnya.

Sejak hari itu, Ahra meninggalkan kuliah untuk menemani Kyuhyun di rumah sakit Nowon. Setiap hari ia membantu Kyuhyun belajar berjalan. Pe-ngaruh sang appa membuat keberadaan Kyuhyun di sana ditutupi dari ka-langan media, sehingga Kyuhyun bisa memulihkan diri dengan tenang.

Suara jam besar berukuran dua meter dengan empat pendulumnya me-menuhi ruangan, menjalar lambat ke seluruh penjuru rumah keluarga Cho Younghwan, memberitahu bahwa saat ini waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Ahra terbangun dan mendapati dirinya berada di dalam kamar Kyu-hyun yang baru saja ia bereskan.

"Pantas aku merasa déjà-vu… Ternyata aku memimpikan saat itu… Juli 2007…" Ahra menggeliat sejenak, merentangkan tubuh mungilnya hingga alir-an darahnya berjalan dengan lancar. Setelah kantuknya mereda, diambilnya HP yang tergeletak di atas nakas, mencoba menghubungi Kyuhyun. Tak ada sahutan.

"Ah, mungkin dia sudah tertidur," gumam Ahra.

Ditatapnya sekeliling kamar bernuansa biru itu. Setiap kali ia merindukan Kyuhyun, Ahra akan membereskan kamar tersebut dan kadang kala berpura-pura bermain dengan sang adik yang dua tahun ini sangat sulit ia temui saat kembali ke Korea.

Masa-masa awal kembalinya Kyuhyun ke dorm, Ahra sesekali bisa me-nemuinya di rumah karena sang adik masih memerlukan pemantauan khusus dari rumah sakit. Karena itu mereka tahu Kyuhyun selalu pergi dalam keada-an perut kosong jika ada latihan atau acara yang harus ia lakukan.

"Hyungdeul mencium bau dari kantong kolostomiku…" Itu alasan yang Kyuhyun katakan sewaktu mereka mendesaknya untuk makan sebelum be-rangkat. "Sebaiknya aku tidak mengisi perutku agar tidak mengganggu ke-nyamanan mereka…."

"Apa yang kau katakan? Selama mereka menemanimu di rumah sakit, kau tidak pernah menjelaskan hal ini? Beritahu mereka, maka mereka pasti mengerti!" desak Ahra saat itu.

"Aku tahu Siwon hyung menangis saat tanpa sengaja melihat kantong itu." Kyuhyun tertunduk dengan wajah sedih. "Aku tidak mau menambah be-ban hyungdeul. Jika tidak makan bisa membuat mereka sedikit lebih nyaman, aku bersedia melakukannya."

"Kyuhyunie…"

"Aku baik-baik saja. Sungguh!" cetus Kyuhyun sambil tersenyum. Se-nyum yang begitu tulus sehingga tak satupun dari mereka bertiga yang sang-gup memaksanya makan.

Ahra hanya bisa menelan kesedihannya jika Appa dan Eomma menangis diam-diam karena Kyuhyun berangkat dengan perut kosong. Meski khawatir dengan apa saja yang diabaikan Kyuhyun saat di dorm, Ahra dan kedua orang tuanya mencoba mempercayakan hal tersebut kepada member Super Junior yang lain. Dan kedua belas namja itu benar-benar menjaga Kyuhyun hingga sekarang. Ahra merasa sangat lega.

"Kau selalu membuat orang lain cemas karena semangatmu, Captain Cho." Ahra memandang foto Kyuhyun yang terpasang di dinding kamar.

Berita gempa bumi kemarin mendorong Ahra terbang ke Seoul, sekedar untuk memastikan Kyuhyun dalam keadaan baik sekaligus mendampingi sang eomma yang sangat khawatir akan keadaan si bungsu di China. Tapi appa Cho sangat tegas. Mereka tidak boleh membebani Kyuhyun dengan meminta-nya pulang ke Korea. Akhirnya mereka hanya bisa berdoa untuk keselamatan Kyuhyun dan member Super Junior M lainnya.

"Baik-baiklah di sana, Captain Cho. Noona akan tidur di kamar noona sendiri sebelum bermimpi tentangmu lagi." Ahra menjentik pelan foto Kyu-hyun yang terpasang di dinding sebelum beranjak pergi.

14 Mei 2008 Dorm Super Junior M, Beijing

Kamar dalam keadaan gelap sewaktu Kyuhyun terbangun, dengan pen-dar cahaya lembut yang berasal dari angka-angka di jam weker. Bukan Dong-hae hyung…. Kyuhyun mengerjap, mencoba mengumpulkan kesadarannya, lalu duduk dan mendapati Siwon tengah tertidur di ranjang lainnya.

"Tebakanku memang hebat," gumam Kyuhyun senang. Namun saat me-nyadari semua member bisa menebak hal yang sama, mengingat Donghae ti-dak bisa tidur dengan lampu dipadamkan, namja itu meringis malu.

Kyuhyun bergerak ke arah jendela, membuka tirainya dan memandang ke luar. Tampak bulan setengah lingkaran menghiasi langit kota Beijing.

"Di sini saja! Kamar ini punya pemandangan di luar jendela yang bagus. Kau tidur bersamaku, Kyuhyunie."

Kyuhyun teringat kata-kata Siwon saat memilih kamar ini. "Ayolah, Kyu-hyunie. Jadi aku tak perlu ke kamarmu tiap malam sebelum tidur. Aku tidak bisa tidur sebelum mendengar suaramu. Bukankah hyung sudah pernah me-ngatakannya?"

"Shi Yuan shagua…." Kyuhyun melihat kening Siwon sedikit berkerut seakan namja itu mendengar ucapannya. Namun kemudian wajah tampan itu tersenyum begitu polos, membuat Kyuhyun sedikit merasa bersalah akan kata-katanya barusan.

"Uhm, aku memang menyebalkan. Tapi aku tidak perlu meminta maaf karena kalian menerimaku yang seperti ini. Bukankah begitu, hyung?"

Kyuhyun mengukir smirk-nya dengan perasaan senang sebelum mem-buka pintu kamar secara perlahan. Ia tidak ingin membangunkan Siwon. Mes-ki saat ini tidak ada film yang sedang dibintangi oleh hyung-nya itu, Kyuhyun tahu semua member merasa lelah.

Seusai wawancara dengan pihak Yahoo, ia membuat mereka menunggu kondisinya membaik sebelum bisa pulang melewati fans tanpa membuat curiga. Ia tidak ingin membuat kerepotan yang lebih dari ini. Hankyung dan member yang lain sudah cukup tertekan; Begitu juga dirinya. Kyuhyun berte-kad untuk menjadi lebih kuat.

Ia menuju dapur, mencari sesuatu yang bisa dimakan. Kemarin karena lelah, Kyuhyun langsung tertidur sesampainya di mobil, dan tidak tahu bagai-mana cara member membangunkannya. Tahu-tahu dia sudah terbangun di atas kasurnya yang hangat dengan t-shirt dan celana pendek yang nyaman. Karena musim panas, keadaan di pagi dan malam hari tidak terlalu dingin se-hingga mereka tidak memerlukan banyak pakaian tebal seperti di Korea. Di Korea, bulan Mei tetap memerlukan pakaian tebal saat pagi dan malam hari.

Sesuatu di atas meja dapur menarik perhatiannya. Ketika Kyuhyun me-ngangkat mangkuk itu, tampak secarik kertas bertuliskan tangan.

Ryeowookie. Kyuhyun mengenali tulisan itu.

Kyuhyunie, Yukgaejangbap ini aku pesan dari manager hyung beberapa hari lalu. Aku pikir kau akan merindukan makanan Korea. Jjangmyeon cukup repot untuk kau masak, jadi makan-lah nasi dan sup daging ini. Cukup nyalakan microwave, masuk-kan mangkuknya, atur waktu 5 menit, dan tunggu sampai ter-dengar suara 'Ping'. Itu berarti kau sudah bisa mengeluarkan dan memakannya. ^^

"Ck, Ryeowookie selalu memperlakukanku seperti anak kecil. Aku bisa membaca petunjuknya sendiri." Kyuhyun mempout-kan mulutnya. Meski begitu ia memilih melakukan apa yang ditulis Ryeowook daripada membaca ulang petunjuk. Namja itu menunggu bunyi 'Ping' dari microwave. Lima menit yang terasa begitu lama untuk perutnya yang kelaparan.

"Whoa! Ini tampaknya enak!" seru Kyuhyun senang. Dibukanya penu-tup makanan itu dengan antusias. Matanya melebar melihat nasi dan sup da-ging yang panas. Salah satu keuntungan dunia modern yang serba mudah

dan cepat. Diambilnya sendok dan mulai melahap Yukgaejangbap itu.

"PANAAAS!" Kyuhyun mengipasi mulutnya sejenak sebelum melanjut-kan makan. "Uhm, besok aku libur bukan? Berarti aku tidak perlu bangun pagi. Aku bisa begadang semalaman dan besok tidur seharian."

Kyuhyun tersenyum senang. Ia beranjak ke kamar untuk mengambil lap-top; Juga sebotol air dari dalam kulkas. Ia bermain Star Craft sambil meng-habiskan santap malamnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.

"Ah, ternyata ada Shin Hyesung-sshi!" Kyuhyun tersenyum. Mereka ber-temu di permainan ini beberapa kali, dan setiap kali bertarung, ia selalu ber-hasil menang dari sunbae-nya itu. Dengan cepat Kyuhyun mengetik di kotak percakapan.

Kyuhyun terdiam karena tidak ada sahutan dari Shin Hyesung. Ketika ia hendak mengetik kalimat selanjutnya, tiba-tiba personil Shinhwa itu mem-balas sapaannya dan memperkenalkan seorang teman yang sedang bersama-nya.

Kyuhyun mengamati ID kawan Shin Hyesung yang tertera di layar. Nam-ja itu langsung menegakkan tubuhnya.

Wajah Kyuhyun menjadi cerah. Ia tidak menyangka bisa berkenalan de-ngan gamer profesional.

Kyuhyun langsung larut dalam percakapan dengan gamer professional

itu. Shin Hyesung sesekali menimpali percakapan mereka. Kyuhyun bercerita tentang Star Craft yang membuatnya tertarik sejak Kibum mengenalkannya pada game tersebut.

Kyuhyun meringis. Dengan cepat dibatalkannya kalimatnya tadi.

Kyuhyun sibuk mencari rekaman yang ia simpan, lalu mulai menunjuk-kannya pada kawan barunya. Untuk beberapa lama mereka membahas per-mainan Kyuhyun, hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul se-tengah lima pagi.

Kyuhyun menutup mulutnya dengan perasaan bersalah. Dengan cepat ia kembali mengetik.

Kyuhyun merasa senang membaca pujian itu. Ingin rasanya ia berjing-krak-jingkrak atau berteriak dengan keras. Namun menyadari semua member sedang tertidur, Kyuhyun hanya mengacungkan kedua tangannya dengan gembira tanpa bersuara.

Kyuhyun berpamitan juga dengan Shin Hyesung. Saat mematikan laptop, senyum masih terukir di bibirnya. Namun senyum itu menghilang ketika sang manager muncul bersama euisa.

"Ah, Kyuhyun-sshi, kebetulan kau sudah bangun." Manager SJM lang-sung tersenyum lega, berkebalikan dengan wajah Kyuhyun saat ini. "Aku ti-dak mengira Hankyung-sshi akan memintamu beristirahat, jadi aku mengada-kan janji dengan euisa untukmu."

"Tapi, manager hyung, ini masih sangat pagi…."

"Justru itu, agar tidak mengganggu jadwal, aku mengadakan janji dini hari. Karena Hankyung-sshi merubah jadwalmu secara mendadak, aku belum sempat membatalkannya. Tidak apa, lagipula kondisimu beberapa hari ini me-nurun."

"Tampaknya Kyuhyun-sshi keberatan." Sang euisa memandang manager hyung dengan ragu. "Tidak apa, Saya akan kembali siang atau lain hari."

Kyuhyun memperhatikan euisa yang sudah datang lengkap dengan tas peralatannya. Membayangkan bahwa sang euisa bangun lebih pagi darinya untuk bersiap, Kyuhyun menyesali sikapnya tadi.

"Mianhe, Saya tidak bermaksud menolak. Silahkan, euisa-nim."

"Itu bagus." Sang manager tersenyum. "Kau tak apa aku tinggal sendiri, Kyuhyun-sshi? Masih ada beberapa hal yang perlu aku siapkan untuk acara

hari ini."

Dengan berat hati Kyuhyun mengangguk. Ia meletakkan sebuah bantal duduk di salah satu lengan sofa, dan mencoba berbaring di sana senyaman mungkin. Saat euisa menyiapkan peralatan infusnya, Kyuhyun diam-diam melirik ke arah koridor yang menuju kamar, berharap ada salah satu member Super Junior M yang terbangun dan bisa menemaninya.

Rasa dingin dari alkohol di lengannya membuat Kyuhyun menoleh. Euisa tersenyum menyadari perasaan yang tergambar jelas di sana.

"Euisa-nim, bolehkah Saya memanggil Ryeowook-sshi untuk menemani?"

Begitu euisa mengangguk, Kyuhyun langsung melesat menuju pintu ka-mar Ryeowook. Namun saat hendak mengetuk, ia menjadi ragu. Ia berpindah ke kamar Zhoumi, Siwon, dan juga Hankyung; Namun akhirnya hanya ber-diam diri di depan pintu. Berbeda dengan dirinya, member Super Junior M yang lain akan menjalani jadwal hari ini. Ia hanya tersenyum kecil ketika eui-sa menautkan alisnya melihat Kyuhyun kembali seorang diri.

"Saya pikir Saya bisa sendiri, euisa-nim."

Kyuhyun kembali berbaring dan menyodorkan lengan kirinya, mengabai-kan pandangan bertanya sang euisa. Melihat Kyuhyun sudah siap, Euisa kem-bali membubuhkan alkohol sebelum memasang alat infus. Kyuhyun meme-jamkan mata ketika jarum mulai menusuk kulitnya. Ia bersyukur euisa tidak perlu melakukannya lebih dari sekali. Namun saat ia membuka mata dan me-lihat tiang infus itu di sisinya, perasaan tak berdaya merasuki Kyuhyun de-ngan cepat.

"Euisa-nim…. Bisakah meninggalkan Saya sendiri di sini?" Pertanyaan Kyuhyun membuat euisa yang tengah merapikan peralatannya menjadi ter-tegun. Kyuhyun membalas pandangan penuh tanya itu dengan senyuman.

"Saya ingin sendiri. Bolehkah?"

"Saya akan kembali tiga jam lagi untuk mencabut infusnya."

Kyuhyun mengangguk. Begitu euisa lenyap di balik pintu, ia menarik na-pas panjang dan menggigit bibirnya. Matanya menerawang ke langit-langit ruangan, untuk kemudian mengitari sekelilingnya yang sepi.

"Hanya seperti ini saja kondisiku sudah menurun… Aku benar-benar tidak berguna." Air mata merebak membasahi matanya. Kyuhyun dengan cepat menghapus air mata itu dengan lengan kanannya yang bebas. "Semua me-ngejar impiannya… tetapi aku? Aku hanya bisa menyeret diriku untuk mengi-kuti jadwal yang ada. Jangankan mengejar mimpi; Untuk melakukan hal yang harus dilakukan saja sudah menghabiskan semua tenagaku, kemampuanku…"

"Aku akan menjadikanmu Lee Kwang Jo SM entertainment".

Kyuhyun teringat percakapannya dengan Petinggi SM di saat SM menga-dakan acara makan malam untuk merayakan selesainya pembuatan album Winter SMTown 2007.

"Seonsaengnim akan menyuruhku tinggal di USA?"

Kyuhyun merasa otaknya tidak bisa berpikir dengan baik sehingga me-lontarkan kalimat konyol itu. Ia hanya bisa meringis ketika Petinggi SM me-natapnya dengan senyum lebar. Tampaknya Petinggi SM sedang berbahagia.

"Maksudku, kau akan menjadi penyanyi solo seperti Lee Kwang Jo. Me-lihat penampilanmu bersama Park Sun Joo, aku rasa kau sudah siap melan-jutkan rekaman. Bagaimana, Cho Kwang Jo?"

"Melanjutkan rekaman?" Dibanding nickname barunya, Kyuhyun lebih terkejut dengan pernyataan Petinggi SM.

"Saat pembuatan album, bukankah kau merekam lagu berjudul Mom?"

"Ah, benar… Aku diminta mempelajari lagu itu. Lagu yang bagus." Kyu-hyun tersenyum lebar. "Aku tidak menyangka diberi sebuah lagu untuk ku-nyanyikan sendiri."

Senyum Kyuhyun semakin lebar mengingat selain BoA, Kangta, Song Kwang Sik, Seo Hyun Jin, dan Chu Ga Yeo; Dirinya juga mendapat sebuah lagu baru.

"Bagaimana perasaanmu saat merekam lagu itu?"

"Sangat senang. Lagu ballad yang indah." Kyuhyun tidak dapat menahan antusias yang meluap dari dalam dirinya. "Aku rasa eomma akan menyukai-nya. Meski liriknya sedih karena mengingatkan tentang perselisihan kami se-

tahun yang lalu…."

"Kau menyukainya?"

"Sangat."

Kyuhyun mencuri waktu untuk memandang sekeliling, melihat hyungdeul tengah berpencar, saling bergurau dengan sesama artis SM. Makan malam seperti ini sangat jarang terjadi. Mereka bisa kembali bertemu dengan orang-orang yang dekat dengan mereka sebelum debut, atau bertemu dengan grup lainnya. Ketika matanya kembali menatap Petinggi SM, ia terkejut melihat an-tusias yang tidak kalah besar di mata pria separuh baya itu.

"Syukurlah kau menyukai Mom."

"Aku harap suaraku tidak menurunkan keindahan lagunya. Aku berusaha menyanyikannya sebaik mungkin. Semoga saat album itu rilis, orang-orang akan menyukainya juga."

"Tapi lagu itu tidak akan rilis tanggal 10 nanti, Kyuhyun-sshi."

Kata-kata Petinggi SM membuat kegembiraan yang tadi Kyuhyun rasa-kan, lenyap tak berbekas. Ia memandang Petinggi SM mencari kepastian. Ke-tika ia yakin semua itu benar, lututnya terasa lemas.

"A…apa suaraku tidak bagus? Apa aku kurang menghayati lagu itu?" Kyuhyun mati-matian berusaha menahan getar dalam suaranya. Ia maklum kondisinya belum sebaik dahulu. Ia benar-benar mengandalkan teknik untuk bisa mencapai nada tinggi di saat otot-otot perutnya berteriak kesakitan.

Petinggi SM tiba-tiba menepuk kepalanya. Kyuhyun menjadi bingung, apakah saat ini ia harus merasa terhibur atau sedih.

"Suaramu sangat bagus. Tapi lagu itu tidak direncanakan untuk album ini, melainkan untuk album solo Cho Kyuhyun."

"Album solo Cho Kyuhyun?"

"Seperti tadi aku katakan, aku akan menjadikanmu Lee Kwang Jo SM entertainment."

Aku sudah melewatkan kesempatan itu untuk kesekian kalinya. Mung-kin akan melewatkannya beberapa kali lagi selama Seonsaengnim belum berubah pikiran. Tetapi sekarang, untuk mengikuti hyungdeul saja aku tidak sanggup. Apakah aku akan benar-benar menghambat mereka semua nanti-nya? Apa aku harus menyerah dan menghadap Seonsaengnim?

Kyuhyun yang keluar dari lamunannya, menatap tiang infus sambil terse-nyum getir. Perlahan ia mencoba duduk dan meraih HP-nya yang diletakkan di atas nakas. Ia hendak memutar musik untuk menemaninya ketika sebuah penanda panggilan tidak terjawab tampak di layar. Ada panggilan dari Ahra waktu ia tertidur kemarin malam. Kyuhyun menekan tombol pemanggil.

Ahra terbangun karena ringtone 'Smile' berdenting manis dari HP-nya. Tangannya meraba ke nakas di mana HP itu bertengger. Dengan mata masih setengah terpejam, didekatkannya HP itu ke telinganya.

"Noona…."

Mata Ahra mengerjap saat suara yang sangat dikenalnya menyapa. Son-

tak tubuh mungilnya bangun dari peraduan. Matanya dengan cepat mencari jam dinding. Pukul 5.55 pagi. Berarti di Beijing baru pukul 4.55.

"Oh… Oh! Apa yang kau lakukan? Bukankah seharusnya kau tidur? Ba-gaimana kabarmu? Apa kau merasa tidak sehat? Apakah kegiatan-kegiatan itu melelahkanmu?"

Aku sudah membuat Noona panik? Wae? Kyuhyun melirik jam dinding dan mengeluh dengan keras. Ia baru teringat Ahra bukan berada di Austria, melainkan di Seoul. Kyuhyun pabo, apa yang kau lakukan?

"Noona sedang tidur? Oh, tidak ada apa-apa. Jangan khawatir. Aku be-kerja sangat keras. Gwenchanayo."

"Aku sudah bangun sekarang. Apa yang terjadi? Apakah kamu tidak enak badan? Apakah kamu lelah? Mengapa kamu menelepon?" Ahra masih saja bertanya bertubi-tubi, ciri khasnya jika merasa panik.

Suara cemas itu membuat Kyuhyun semakin merasa bersalah. Ia men-coba tersenyum, lupa bahwa Ahra tidak akan melihat senyumannya. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menelepon. Tidak, tidak ada apa-apa. Aku ha-nya ingin menelepon kembali." Kyuhyun tersenyum semakin lebar, masih tidak menyadari bahwa Ahra berada jauh di seberang sana tanpa bisa me-natapnya.

"Aku lupa Noona sedang berada di rumah, sehingga menelepon di jam seperti ini…."

"Meski aku berada di Austria, tak ada bedanya. Jika aku masih di sana, kau meneleponku menjelang tengah malam."

"Ah!" Kyuhyun menepuk dahinya, baru menyadari perbedaan 6 jam tidak membuat perbedaan apapun. Waktunya menelepon yang tidak tepat. "Aku benar-benar tidak menyadarinya…."

"Captain Cho, sepertinya aku harus ke sana untuk membantumu. Kau terlalu sibuk sehingga melupakan hal sekecil itu eoh?"

"Bukankah Noona juga meneleponku tengah malam?" Kyuhyun tergelak. Namun tawanya segera hilang begitu teringat bencana yang sedang terjadi. "Aku akan senang jika Noona ke sini, tapi sebaiknya Noona tetap di Seoul. Di China sedang tidak aman."

"Ne… Aku dengar jumlah korban masih terus bertambah."

"Beijing cukup aman. Noona tidak perlu khawatir."

"Tapi kau tidak selalu berada di Beijing!"

Kyuhyun merutuki dirinya yang memancing percakapan ke arah sana. Ia mencoba mencari bahan pembicaraan baru dengan melihat benda-benda yang ada di ruangan itu. Perhatiannya jatuh pada laptop. Seketika itu juga Kyuhyun kembali bersemangat.

"Noona, apa kau tahu aku sudah menjadi pelatih Star Craft di sini? Aku juga berkenalan dengan gamer profesional Seo Kyungjong-sshi."

Meski Kyuhyun kemudian bercerita tentang berbagai hal yang menye-nangkan, Ahra justru menangkup mulutnya rapat-rapat sementara air mata sudah membasahi wajahnya sejak tadi. Suara riang itu tidak mampu me-nutupi betapa tertekannya Kyuhyun saat ini meski tak satu kalimatpun yang menerangkan tentang hal itu.

Berbulan-bulan menemani Kyuhyun di rumah sakit membuat Ahra me-ngenali jelas intonasi suara Kyuhyun saat sedang lelah, sakit, dan saat ini ia cukup yakin Kyuhyun tidak dalam keadaan yang sehat.

Apakah kau dirawat di rumah sakit? Kau sedang diinfus? Suaramu se-perti kesakitan…. Kau tidak pernah menyukai rumah sakit. Seandainya Noona bisa berada di sana untuk menemanimu….

"Kyuhyunie…. Apakah berat hidup di China?"

Perasaan sesak yang semakin meluap membuat Ahra melontarkan per-tanyaan yang membuat dirinya sendiri nyaris terlonjak. Meski pertanyaan itu sudah jauh lebih sederhana daripada suara hatinya, tak urung ia merasa mendesak Kyuhyun. Ahra menunggu jawaban Kyuhyun dengan cemas ketika suara riang dongsaeng-nya mendadak tidak terdengar lagi.

"Apakah berat hidup di China?"

Kyuhyun tertegun saat suara lembut itu menanyakan sesuatu yang be-gitu tepat. Ia melayangkan matanya ke sekeliling ruangan. Sepi. Sama seper-ti suasana hatinya saat ini. Matanya terhenti pada botol infus yang menetes-kan cairan di dalamnya dengan kecepatan pelan. Kyuhyun tersenyum lemah. Ahra selalu mengetahui apapun yang ia sembunyikan. Ia pikir Ahra pantas mendapat jawaban jujur darinya kali ini.

"Ne, ini melelahkan," jawab Kyuhyun pelan. Ia kemudian terdiam. Di se-

berang sana, ia pun tidak mendengar suara Ahra. Untuk beberapa saat hanya ada keheningan di antara mereka berdua.

"Fighting!"

Suara lembut Ahra kembali terdengar, membuat Kyuhyun tersenyum.

"Noona, fighting!" Kyuhyun menjawab sambil mengacungkan tangan kiri-nya. Namun sedetik kemudian ia meringis. Dengan cemas, ia menunggu Ahra menanyakan penyebab ia mengeluarkan suara ringisan tadi. Namun hanya ada keheningan di sana.

"Naneun neoreul bogoshipeoyo4."

Akhirnya suara lembut itu kembali terdengar.

"Hmmm…" Kyuhyun tidak mampu menjawab. Sikap Ahra yang tidak ber-tanya sedikitpun, membuat Kyuhyun yakin bahwa sang noona benar-benar menyadari keadaannya saat ini.

"Saranghae!"

Suara Ahra terdengar sedikit lebih keras dari yang semestinya, sehingga Kyuhyun tersenyum lebar. Ia membayangkan sang noona berusaha keras ter-dengar bersemangat.

"Nado!" Kyuhyun membalas dengan semangat yang sama.

Tidak ada lagi yang berbicara setelah itu. Kyuhyun baru meletakkan HP-nya ketika suara hubungan putus terdengar.

Walau tidak ada hal penting yang mereka bicarakan, Kyuhyun merasa jauh lebih tenang. Ia kembali berbaring sambil memejamkan matanya. Tak berapa lama Kyuhyun pun tertidur.

Cho Younghwan baru saja bergabung di meja makan saat Ahra me-ngutarakan kecemasannya tentang keadaan Kyuhyun di China. Sementara ia terpekur, Kim Hanna meletakkan semangkuk nasi hangat dan sumpit untuk mereka masing-masing.

"Chagiya, bagaimana kalau kita menariknya dari Super Junior? Hal ini terlalu berat untuknya." Kim Hanna memandang suaminya penuh harap. "Bu-kankah tahun lalu Petinggi SM bilang, dia akan membuat Kyuhyunie menjadi penyanyi solo?"

"Eomma, Kyuhyunie juga dijanjikan sebagai aktor…"

"Itu jika Kyuhyun tidak bisa kembali ke atas panggung sebagai penya-nyi." Cho Younghwan menarik napas panjang. "Saat Kyuhyun berhasil kem-bali ke panggung, dia dianjurkan debut sebagai penyanyi solo."

"Kalau begitu, katakan padanya tentang tawaran itu."

Cho Younghwan menggeleng. "Kyuhyun pasti tahu lebih dulu."

"Kenapa dia tidak menerimanya?" Kim Hanna menunjukkan keheranan-nya. "Apa Kyuhyunie tidak berkeinginan menjadi penyanyi solo? Bukankah itu impiannya semula?"

Cho Younghwan terdiam. Pikirannya terbawa ke kejadian di saat SS1, sa-at dirinya bertemu dengan Petinggi SM di belakang panggung...

"Dia anak yang kuat." Petinggi SM mengamati persiapan di ruang ganti bersama Cho Younghwan. "Saya sempat berpikir dia tidak akan kembali ke panggung seperti ini. "

"Saya masih ingat, Anda berjanji akan menjadikannya seorang aktor jika ia tidak bisa kembali bernyanyi."

Petinggi SM tersenyum. "Siapapun yang melihat kondisinya, tidak akan percaya dia bisa kembali ke panggung."

"Terima kasih buat perhatian Anda waktu itu; Anda bahkan berpikir lebih jauh dari Saya tentang bagaimana caranya Kyuhyun tetap bisa melanjutkan

karir sebagai seorang idol. Saat itu Saya hanya berharap dia bisa hidup. Apa-pun keadaannya nanti, Saya hanya ingin dia hidup."

"Tetapi Anda mengabaikan kemungkinan dia akan meninggal jika operasi tracheostomy tidak dilakukan."

Profesor Cho yang selalu tenang itu menutup matanya sejenak untuk menata perasaannya. Ketika membuka mata dan melihat Kyuhyun tengah berlatih merilekskan suara, Cho Younghwan tersenyum.

"Pagi itu, Saya benar-benar tidak tahu mana yang harus Saya lakukan. Sungguh dilema yang sangat besar. Saya hanya membayangkan bagaimana jika Kyuhyun yang bermimpi sebagai seorang penyanyi balada sejak dunia itu memukaunya, kehilangan suara yang menjadi modal utama. Usianya masih sangat muda. Berapa puluh tahun yang harus ia lewati tanpa bisa melakukan hal yang disukainya, yaitu bernyanyi? Karena itu Saya memutuskan mencari cara lain meski memiliki resiko."

"Kalau memang impiannya sebesar itu, Saya bersedia menjadikannya seorang penyanyi solo."

Ucapan Petinggi SM membuat Cho Younghwan terkejut.

"Saya akan menjadikannya penyanyi solo. Dia sudah siap untuk itu."

"Anda pasti sudah mengatakan padanya, bukan?"

Petinggi SM menarik napas sebagai jawaban.

"Jika dia menolak, dia pasti punya alasan untuk itu. Apakah ada syarat yang membuatnya tidak menerimanya?"

Petinggi SM hanya terdiam dan tidak menjawab. Saat itu Cho Younghwan langsung menyadari mengapa Kyuhyun tidak melakukan hal yang menjadi impiannya, bahkan hingga saat ini di mana Kyuhyun menjadi member sub grup Super Junior M.

"Appa, tolong jangan beritahu hyungdeul… Jebal, Appa… Mereka sedang sangat sibuk…"

Cho Younghwan memejamkan matanya, teringat saat Kyuhyun mering-kuk kesakitan di kamar akibat terlalu keras mengukur kemampuan dirinya yang belum pulih. Bahkan di sela-sela napasnya yang begitu berat, yang ada di pikiran anaknya adalah member Super Junior yang lain. Cho Younghwan terpaksa menegur dengan keras agar Kyuhyun tidak berbicara lagi sementa-ra ia menggendong tubuh ringkih itu dengan perasaan cemas yang memun-cak, berharap Kyuhyun bisa bertahan.

"Appa, bolehkah aku kembali ke dorm besok? Super Junior akan melaku-kan rekaman ulang untuk album kedua kami."

"Mungkin aku akan bekerja terlalu keras. Mungkin aku akan lupa apa yang euisa katakan. Tapi aku harus kembali ke panggung, Appa. Aku ingin bersama Super Junior."

"Appa, aku ingin keluar dari sini…. Lagu Marry U akan dinyanyikan mulai hari ini."

"Besok, Super Junior akan berulang tahun debutnya. Appa, aku mau me-minta tolong padamu. Bisakah Appa mengabulkan permintaanku yang satu ini? Aku berjanji, akan diam di rumah sakit ini selama yang Appa minta. Aku tidak akan membantah lagi."

Satu per satu kenangan itu muncul, membuat Cho Younghwan tahu se-berapa besar arti Super Junior bagi Kyuhyun. Begitu besar hingga sanggup menahan langkah Kyuhyun dari impiannya sendiri.

"Aku percaya kepada kalian. Tapi semua aku serahkan kepada Kyuhyun. Jika akhirnya dia memilih berhenti, kalian harus berjanji padaku untuk me-lepaskannya." Cho Yonghwan mengingat kembali saat member Super Junior menghadapnya untuk meminta ijin membantu Kyuhyun belajar berjalan se-cepat mungkin.

"Kami berjanji, Ajussi. Jika keinginannya bersama Super Junior sudah tidak ada, kami akan melepaskannya. Tetapi jika dia masih punya sedikit saja keinginan bersama kami, ijinkan kami mendorongnya untuk bangkit."

Cho Younghwan dapat mengenali kesungguhan dari wajah-wajah itu. Wajah anak-anak muda yang menjadi dewasa dan bijak karena kesulitan-ke-sulitan yang mereka alami. Anak-anak muda yang telah mengenal kekalahan, penderitaan, perjuangan, dan kehilangan. Semua itu membuat mereka me-miliki pemahaman tentang kehidupan jauh lebih baik dari orang lain yang seusia dengan mereka.

Kyuhyun mengenali semua itu jauh sebelum aku bisa menyadarinya. Dia sudah memilih untuk naik bersama-sama sebagai Kyuhyun Super Junior….

Ketika pikirannya kembali ke masa sekarang, ia mau tak mau tersenyum melihat istri dan putrinya masih tampak sedih dan cemas.

"Kyuhyun-ah bukan anak yang menyerah dengan impiannya. Pasti dia punya alasan kuat. Kita harus menghargai keputusannya." Cho Younghwan menegaskan sambil tersenyum lebar. "Bagaimana jika kalian berbelanja?"

"Di saat seperti ini?" Ahra kebingungan.

"Chagiya, kurasa ini bukan saat yang tepat untuk bersenang-senang. Kita sibuk menyiapkan barang-barang yang akan disumbangkan ke China."

Lagi-lagi Cho Younghwan tersenyum. "Justru ini saat yang tepat. Waktu-nya tinggal empat hari lagi. Kita akan kirim perlengkapannya besok, bersama sumbangan yang terkumpul. Kurasa kalian berdua akan menyukainya."

"Appa…"

"Chagi…"

Cho Younghwan tergelak ketika kedua wanita yang ia sayangi itu masih belum menangkap maksudnya. "Apa kalian melupakan tentang Gwallye5? Meski Kyuhyun di China, kita tidak akan melewatkan upacara ini."

Detik itu juga Ahra terlonjak dengan riang sambil memeluk sang eomma yang masih sedikit terheran-heran. "Eomma, ayo kita berbelanja. Aku akan membuat Captain Cho jadi yang paling tampan di hari itu."

"Jangan lupa hubungi Leeteuk-goon."

Kata-kata Cho Yonghwan membuat Ahra berbalik menghadap sang appa yang tengah tersenyum lebar.

"Kita tidak mungkin mengirim 21 bunga mawar dari sini. Kita memerlu-kan bantuan member Super Junior M untuk merayakannya."

Sementara itu, di sebuah apartemen mewah kota Seoul, Petinggi SM menyibukkan diri dengan membuat kopi agar perasaan tidak nyaman yang ia rasakan sedikit berkurang.

"Seonsaengnim, kalau akhirnya Anda akan menarikku terus seperti ini, kenapa di awal, Seonsaengnim menempatkanku bersama hyungdeul?"

Suara dan mata yang menyiratkan kepedihan itu membuat Petinggi SM terbangun lebih pagi dari biasanya. Entah mengapa, ia memimpikan salah satu percakapannya dengan Kyuhyun.

Dan hal itu membuatnya tidak tenang.

"Mianhe, Kyuhyun-sshi… Anggaplah itu sebuah kesalahanku di saat me-nilaimu pertama kali. Aku tak menyangka, kau tidak menerima tawaranku dan memilih mereka. Aku tak menyangka mereka akan menjadi berarti buatmu."

"Sekarang pun begitu, bahkan lebih dari saat terakhir aku mengatakan-nya kepada Anda, Seonsaengnim. Sejak aku sadar dari koma, aku yakin, tempatku adalah bersama Super Junior."

Petinggi SM mencoba bersandar di kursi malas, menjulurkan kakinya untuk bersantai sambil menghirup kopi. Ia memandangi asap putih tipis yang mengepul dari cangkir itu.

"Orang ambisius tidak akan melepaskan impiannya dengan mudah. Bia-sanya ia sanggup melakukan apapun agar mimpinya tercapai. Kenapa aku bi-sa salah menilai? Aku yakin sekali dia punya ambisi yang sangat besar untuk menjadi penyanyi solo. Tapi dia selalu mengabaikan penawaran-ku…"

"Kyuhyun-sshi berbeda denganmu! Dia memang ambisius, tapi dia tidak kejam!" Kata-kata Park Sun Joo yang terlintas membuatnya berdecak kesal.

"Jika dia menolak, dia pasti punya alasan untuk itu. Apakah ada syarat yang membuatnya tidak menerimanya?" Pertanyaan Cho Younghwan bebera-pa bulan lalu tidak bisa dijawab olehnya.

Mereka berdua sama-sama memiliki banyak pengalaman dengan berba-gai macam tipe manusia. Ia dengan para pegawai dan artisnya, sedangkan Cho Younghwan dengan para guru dan anak didiknya. Pertanyaan itu benar-benar menohoknya dengan jitu. Ia kini mengerti darimana asal kemampuan Kyuhyun berbicara. Hanya saja, Cho Younghwan bisa membungkus semua itu dalam bentuk dan sikap yang lebih halus, seiring pengalamannya.

"Seonsaengnim… Aku dan Super Junior akan berbahagia. Aku dan Super Junior akan menjadi sebuah grup yang sangat berbahagia!"

"Apakah semua yang kau jalani saat ini membuatmu bahagia, Kyuhyun-sshi? Bahkan kau terpisah dari orang-orang yang dekat denganmu. Gwallye. Sebentar lagi Gwallye. Hari yang sangat dinantikan oleh semua anak muda di Korea, yang tidak akan terulang kedua kalinya. Tapi kau berada jauh dari sini. Apakah kau yakin bisa berbahagia? Diakui atau tidak, pasti ada saat-saat di mana kau merasa lemah. Kuharap kali ini kau akan menghadapku dengan sendirinya."

Pemikiran itu membuat Petinggi SM tersenyum. Ia menjadi ber-semangat. Sambil bersenandung, diletakkannya cangkir kopinya dan bersiap untuk bekerja.

Perasaan Leeteuk berbanding terbalik dengan perasaan Petinggi SM saat ini. Meski semua member tetap menjalankan tugas seperti biasa sejak berita gempa bumi yang dialami member lain di China; Namun Leeteuk hanya sang-gup tersenyum, tidak tertawa seriang biasanya. Bahkan kemarin malam Lee-teuk salah menyebutkan sapaan khas SUKIRA. Pikirannya terasa penuh.

Dorm sangat sepi tanpa mereka….

Leeteuk mengambil nasi untuk sarapan dengan enggan. Ia makan kare-na tahu tubuhnya membutuhkan makanan, tetapi tak ada selera yang besar seperti biasanya. Kadang ia membayangkan Hankyung yang selalu bangun dan sarapan paling pagi; Ryeowook yang sibuk di dapur; Donghae yang tidak pernah berhenti tertawa untuk apapun; Juga Kyuhyun yang membuat kepala-nya berasap karena makan tanpa meninggalkan game-nya.

Setiap kali makan, magnae-nya itu akan berlari dari laptop yang berada jauh di kamar ke meja makan di dapur. Kyuhyun melakukannya berulang kali hingga selesai makan. Hal itu membuat Leeteuk kesal sekaligus khawatir.

"Whoa! Tiga puluh detik makan, lima menit bermain game! Kyuhyunie, kau seharusnya menjadi pelari marathon."

Celetukan Siwon membuat Leeteuk benar-benar cemas.

"Ya! Cho Kyuhyun! Pilih sekarang juga: makan atau game?!"

"Game!"

Kyuhyun meletakkan sendoknya dengan keras dan berlari ke dalam ka-mar tanpa muncul kembali. Leeteuk hanya bisa melongo sementara dong-saengdeul yang lain mentertawakan kekalahannya menghadapi magnae pa-ling tidak manis se-SM.

Bukan hanya se-SM, sepertinya aku tidak pernah melihat magnae seperti dia di manapun. Tetapi dia uri magnae. Aku takkan menggantinya dengan siapapun. Leeteuk meringis sambil mengambil lauk dan sayur yang sudah ter-hidang di meja makan.

Heechul masuk ke dorm lantai 11 sambil membawa laptop. Mimik wajah-nya seperti biasa, tampak siap berperang dengan siapa saja yang mengusik-nya. Sangat kontras dengan penampilannya yang cantik sekaligus tampan.

"Teuki hyung, coba lihat ini! Si Jelek lagi-lagi masuk pooling!"

Leeteuk meninggalkan mangkuk nasinya. Ia menghampiri Heechul yang membanting tubuh ke atas sofa. Eunhyuk ikut mendekat dan membaca apa yang tertera di layar. Dancing Machine Super Junior itu mau tak mau terse-nyum melihat pooling yang Heechul maksud.

"Uri magnae ternyata sudah dewasa…." Tanpa sadar mata Leeteuk tera-sa hangat seusai membaca, berlawanan dengan yang diharapkan Heechul.

"Hyung, aku tidak terima dia lagi-lagi dapat peringkat yang bagus di pooling. Di mana ketenaran seorang Kim Heechul?"

"Ada apa ribut-ribut?" Kangin yang baru datang langsung ikut mengeru-bungi laptop.

Yesung menarik Eunhyuk ke samping agar bisa ikut membaca. "Apa ini?"

"Pooling tentang 'Siapa Idol Yang Ingin Kau Cium' tapi hanya berlaku un-tuk idol yang lahir tahun 1988." Sungmin yang sedari tadi sudah berkutat di depan laptop, membacakan apa yang ada di layarnya. "Pemenangnya adalah G-Dragon di posisi pertama dan uri Kyuhyunie di posisi kedua."

"Apakah karena appa mereka sama-sama bernama Yonghwan?" Bantal kursi seketika itu juga melayang ke kepala Eunhyuk.

"Ck, pooling ini tidak adil. Padahal wajahku jauh lebih muda dari Kyu-hyunie." Heechul mengurungkan niatnya melempar bantal kedua. Ia memilih mengeluarkan cermin dan merapikan rambutnya yang panjang.

"Ini bukan soal wajah, hyung, tapi karena mereka berusia 21 di tahun ini." Shindong tersenyum senang. "Tak kusangka, uri magnae memasuki usia

dewasa…"

"Ngomong-ngomong soal dewasa, sepertinya kita melupakan sesuatu…"

"AH! GWALLYE!" Shindong terlonjak, memotong kata-kata Yesung.

"Gwallye diadakan setiap bulan Mei kan?" Eunhyuk menambahkan.

"Ommo, benar! Gwallye!" Leeteuk menghambur ke kalender. "Sekarang tanggal berapa?"

"15 Mei, Hyung!" sahut dongsaengdeul menyerupai koor.

"Itu 4 hari lagi!" Wajah Leeteuk langsung pucat setelah melihat kalender. Ia mencari Senin ketiga di bulan Mei, patokan yang selalu dipakai untuk me-rayakan Gwallye. Di tahun ini, Gwallye jatuh pada tanggal 19 Mei6.

"Tapi bagaimana merayakannya? Dia ada di China!" Eunhyuk mengingat-kan. Seruan-seruan kecewa bermunculan memenuhi ruangan.

"Tapi kita harus merayakannya. Ini peristiwa sekali seumur hidup," cetus Leeteuk sedih.

"Ne. Apalagi, Kyuhyun nyaris tidak memasuki usia dewasa…" Kata-kata Yesung sukses membuat suasana di dorm menjadi gelap dan mencekam, sampai-sampai mereka tidak menyadari sesosok tubuh sudah berdiri di muka pintu sejak tadi, mengamati semuanya.

"Ck, hyungdeul… Aku pikir setelah kita semua terpisah seperti ini, kalian akan berubah. Ternyata sama saja."

"KIBUMMIE!"

Yesung langsung memeluk Kibum yang kemudian tertawa dan menepuk punggung hyung-nya itu. Suasana langsung berubah cerah bersamaan de-ngan bergeraknya Yesung. Tanpa sadar, semua member yang tercekam tadi menarik napas lega. Satu per satu Kibum menerima pelukan terima kasih.

"Sejak kapan kau datang, Kibumie?" Heechul menarik Kibum ke sisinya.

"Sejak Heechul hyung bilang pooling itu tidak adil." Kibum melontarkan killer smile. "Heechul hyung, sadarlah. Kau itu sudah tua. Mau berapa kali hyung berpikir seusia dengan uri magnae eoh?"

"Yak! Dongsaeng kesayanganku tidak boleh ikut-ikutan si jelek itu! Cu-kup dia yang bermulut tajam! Kau dan Hae-ya tidak boleh mengikutinya!"

Kibum tergelak ketika Heechul merangkul dengan kuat hingga tubuhnya terbungkuk; Ia hanya bisa pasrah saat Heechul mengacaukan rambutnya.

"Kibummie, apa kau punya ide soal Gwallye?" Leeteuk menghentikan

aksi Heechul dengan tatapan tajamnya. Heechul menyeringai, membiarkan Kibum kembali berdiri untuk menjawab pertanyaan Leeteuk.

"Mudah saja, hyung. Kita pakai video call."

"Ah, benar juga. Seharusnya terpikirkan sejak tadi. Sayang, hyungdeul terlalu tua untuk berpikir ke arah sana."

"Apa kau bilang, Hyukjae?"

Tanpa komando, kali ini member Super Junior kecuali Kibum menyerang Eunhyuk dengan senang hati hingga sang Dancing Machine berteriak meminta ampun.

Sakit!

Kyuhyun membuka matanya dan rasa takut langsung menyergap dengan cepat begitu ia menyadari di mana dirinya berada. Rumah sakit. Bukan hanya infus yang menempel di tubuhnya tetapi juga selang oksigen, alat monitor jantung, dan beberapa alat lainnya.

Kenapa aku bisa di sini? Apa yang terjadi?

Kyuhyun mencoba mengingat kejadian sebelum ia jatuh tertidur. Ia hanya ingat berada di sofa dorm Super Junior M. Ia tidak merasa mengalami apapun yang membuatnya harus kembali dirawat di rumah sakit.

Meski semua menganggap Kyuhyun sangat tegar, tapi bagi Kyuhyun kecelakaan itu sangat menakutkan baginya setiap kali ia mengingatnya. Itu sebabnya Kyuhyun menolak untuk diwawancara mengenai kejadian itu, walau semuanya sudah berlangsung lebih dari setahun. Entah kapan ia berani men-ceritakan semuanya tanpa terserang panik. Kyuhyun tidak ingin memikirkan-nya saat ini.

Seorang euisa masuk dan memeriksa kondisi Kyuhyun sebelum menulis sesuatu di dalam catatannya.

"Bagaimana perasaanmu saat ini, Kyuhyun-sshi?"

Bingung! Ingin sekali Kyuhyun menjawab seperti itu, namun ia khawatir dari pasien rumah sakit umum ia akan diajukan ke psikiater untuk memeriksa kesehatan jiwanya.

"Sakit." Akhirnya Kyuhyun menjawab dengan jawaban yang menurutnya paling normal, meski ia tahu jawaban itu tidak normal untuk seorang Cho Kyuhyun yang sering berkata 'gwenchanayo'.

"Suhu tubuhmu memang cukup tinggi, tapi itu reaksi yang wajar setelah

operasi penyambungan stoma. Selama beberapa hari jangan makan dan mi-num dulu, agar tidak banyak pergerakan di usus."

"Penyambungan stoma?"

Eusia mengerutkan kening mendengar pertanyaan Kyuhyun. "Anda su-dah dinyatakan aman untuk melakukan pembuangan secara normal, karena itu kami menyambung kembali stoma yang dipotong. Apakah Anda lupa?"

Lupa? Tentu saja tidak. Semua rasa sakit saat pencucian, pembersihan, belum lagi perasaan malu setiap aku harus melepaskan kostum di depan orang lain dengan semua perlengkapan itu…. Tapi kenapa semua ini harus terulang lagi? Sudah beberapa operasi aku jalani selama masa pemulihan… Kenapa sekarang terulang? Aku tidak mau! Aku ingin lepas dari semua rasa sakit ini! Aku ingin seperti dulu. Aku ingin kuat seperti dulu!

Perasaan panik menyergap dengan cepat.

"Lepaskan! Aku tidak ingin di operasi! Aku tidak ingin operasi apapun lagi!" Kyuhyun berteriak dengan keras.

Perasaan takut dan panik melingkupi dirinya dengan kuat sehingga ia tidak peduli jika selang-selang yang menempel di tubuhnya akan tercabut oleh gerakannya.

"Kyuhyunie! Kyuhyunie!"

Kyuhyun masih terus berontak ketika seseorang memeluknya dengan erat, sementara beberapa orang lain memegang lengan dan kakinya. Ia se-makin panik dan terus meronta hingga suara isakan terdengar di telinganya, dan cairan hangat membasahi lehernya.

Kyuhyun mencoba menekan rasa takut itu dan membuka mata. Ryeo-wook memeluknya sangat erat, menyusupkan kepala ke lekukan lehernya sambil menangis. Donghae, Henry, Zhoumi, dan Siwon masih menahan tu-buhnya dengan wajah cemas.

Hankyung yang berdiri sambil menahan tiang infus agar tidak terjatuh, tersenyum lembut saat Kyuhyun menatapnya penuh tanya.

"Kau bermimpi, Gui Xian?"

Kyuhyun membuka mulutnya untuk menjawab, namun akhirnya memilih diam. Ia perlahan duduk setelah member Super Junior M yang lain melepas-kan cengkeramannya. Ryeowook masih menangis hingga beberapa saat ke-mudian, namun Kyuhyun hanya memeluk tanpa berkata apa-apa. Ia merasa sangat malu dengan kejadian tadi. Tampaknya keadaan lelah, sakit, kondisi di China yang tidak aman, membuat semua kecemasan dan ketakutan yang ia sembunyikan selama ini muncul ke permukaan tanpa bisa ia cegah.

Selama ini hyungdeul hanya tahu ia tidak mau mengingat kecelakaan itu dan membenci rumah sakit. Tapi Kyuhyun tidak pernah menjelaskan pe-rasaannya. Dan ia merasa malu ketika semua jadi mengetahui ketakutannya. Kyuhyun bersyukur member yang lain termasuk Ryeowook tidak bertanya apa-apa.

Suasana dorm Super Junior menjadi hening. Tak satupun member ber-bicara, mencoba menyibukkan diri masing-masing hingga euisa datang untuk melepas selang infus.

"Euisa-nim, bagaimana jika aku tidak ingin diinfus lagi?"

Kyuhyun bisa merasa semua mata di ruangan itu tertuju padanya, tetapi

ia mencoba memusatkan perhatiannya kepada euisa.

"Asal kau tidak membutuhkannya, bisa saja. Kita turunkan menjadi se-minggu sekali." Sang Euisa tersenyum. "Saya sendiri tidak menyarankan hal ini dilakukan lebih dari 6 bulan. Asal kau sudah cukup sehat, kita akan menu-runkan jangka waktunya bahkan melepasnya."

Euisa sudah pergi meninggalkan dorm tetapi mereka semua menikmati makan pagi dengan keadaan cukup hening. Hanya sesekali saja terdengar percakapan kecil. Saat berkumpul di ruang tunggu sambil menunggu saatnya pergi, semua sibuk dengan laptop masing-masing.

Seperti biasa Hankyung menulis pada halaman cyworld-nya.

Kita harus mengambil tindakan cepat ~~

Beberapa hari ini aku telah melihat berita dan foto; Suasana hatiku benar-benar tertekan. Kadang-kadang aku terdorong untuk membantu para korban secara pribadi. Kita harus mengambil tindakan cepat untuk membantu para korban di daerah bencana dan menolong anak-anak, sehingga mereka dapat melewati bencana yang mengerikan ini lebih cepat.

Berharap mereka akan dapat memulihkan kesehatan mereka segera, membangun kembali rumah mereka ~~!

Hankyung menutup laptop sambil mengusap wajahnya.

"Hyung, kau berhasil membujuk perusahaan obat mata untuk memberi-

kan sumbangan?" Zhoumi mendekat sambil mengangsurkan secangkir teh hangat.

"Xie xie." Hankyung menghirup teh itu dan wajahnya menjadi sedikit lebih tenang. "Aku tidak tahu apa akan berhasil. Kuharap mereka akan mem-pertimbangkannya. Aku sudah mengusulkan agar upahku dalam iklan itu di-tambahkan ke dalam jumlah sumbangan jika mereka mau berdonasi."

Siwon melirik ke arah Kyuhyun yang sibuk bermain game. Ia mencoba mengalihkan perhatian dongsaeng-nya sehingga sebuah stare glare meng-hantamnya, membuat namja tampan itu meringis.

"Eomma bilang akan mengirimnya besok. Jangan mengganggu per-mainanku, hyung!" Celetukan Kyuhyun membuat semua keheranan kecuali

Siwon.

"Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa, hyung."

Kyuhyun dan Siwon yang menyahut serempak membuat Hankyung me-mandang curiga. Namun sesuatu yang terlintas di pikirannya membuat namja itu segera melupakan hal tadi. Ia memandang semua dongsaeng-nya dengan wajah serius.

"Kalian jadi menyumbang dari gaji kalian bukan?"

Lagi-lagi Siwon menoleh ke arah Kyuhyun. Melihat dongsaeng-nya me-ngangguk, ia ikut mengangguk. Hankyung tersenyum lega melihat semua member memiliki perasaan yang sama dengannya.

"Tentu saja setelah dipotong biaya hidup kita di sini," tutur Hankyung.

Namja itu cukup terkejut ketika beberapa waktu lalu manager hyung bi-lang biaya hidup mereka selama di China hanya ditanggung separuh oleh pihak perusahaan. Hankyung pernah mengajukan protes karena upah SJM di-berikan dalam bentuk Won sehingga mereka mengalami pengurangan akibat kurs ke RMB sebelum uang itu bisa mereka gunakan di China. Bahkan karena Hankyung berada di kota yang sama dengan rumah orang tuanya saat ini, pe-rusahaan tidak menanggung biaya hidupnya. Tetapi ia lagi-lagi menyembunyi-kan hal ini dari member lain & menyimpan semua keberatannya di dalam hati.

Saat Hankyung pergi menemui manager hyung, semua kembali sibuk dengan gadget masing-masing.

Tiba-tiba Donghae menyikut Ryeowook, memberi kode agar Ryeowook memperhatikan apa yang Donghae lihat pada layar laptop. Siwon menjadi urutan selanjutnya yang diberitahu, kemudian menjalar pada Zhoumi dan Henry. Mereka saling berpandangan, menanyakan apa yang sebenarnya sudah terjadi, namun akhirnya mereka sadar tidak seorangpun yang tahu kejadiannya.

"Uhm, Kyuhyunie…."

Kyuhyun bergeming. Matanya terus menatap layar. Permainan Star Craft berhasil mengalihkan pikirannya dari mimpi buruk tadi, karena itu Kyuhyun menjadi lebih bersemangat untuk terus bermain.

"Gui Xian…" Karena panggilan Donghae tidak berhasil, Zhoumi mencoba ikut memanggil.

"Nde…" Kyuhyun masih menatap layar dengan serius.

"Kyuhyunie…"

"Hmm?" Kyuhyun menyahut panggilan Siwon tanpa mengalihkan pan-dangannya.

"Hyung…."

"Ya! Ada apa dengan kalian semua?" Kyuhyun menghentikan permainan-nya dan menatap kelima namja itu dengan perasaan kesal. Ia sedang mem-butuhkan kesibukan saat ini.

"Cyworld…."

"Cyworld?" Kyuhyun memandang Henry yang terakhir memanggilnya, menunggu keterangan lebih lanjut.

Ryeowook beranjak mendekati Kyuhyun. "Ahra noona menulis sesuatu di Cyworld…."

Kyuhyun menautkan alisnya ketika Ryeowook merangkulnya dengan se-belah tangan sambil membukakan halaman cyworld. Meski bingung, Kyuhyun mengetikkan password dan menuju status terbaru Ahra. Semua terdiam ke-tika mata Kyuhyun melebar, pertanda namja itu mulai membaca yang tertera di layar.

Kyuhyun mati-matian menahan debaran di dadanya. Di dalam cyworld, Ahra menuliskan percakapan mereka di telepon tadi; Percakapan yang me-nurutnya sangat singkat, namun mampu membuatnya tersenyum. Tetapi rangkaian-rangkaian kalimat selanjutnya membuat mata Kyuhyun terasa panas….

Dengan suara dan nada polos yang kau tunjukkan, sepertinya kau masih menyembunyikan banyak hal untuk dirimu sendiri.

Tampaknya kau sedang tidak sehat tetapi kau mengatakan kata-kata hangat yang begitu enak didengar.

Aku menangis dengan air mata yang sulit aku sembunyikan, dan hatiku nyaris meledak.

Kau lelah bukan?

Tapi siapa yang akan mengerti?

Mereka yang belum pernah mengalami semua ini tentu saja tidak akan mengerti.

Meskipun kita tidak bisa berdekatan untuk berbicara tentang segala hal, tapi aku dapat sedikit memahamimu

dari hal-hal kecil. Meski hanya seperti itu, aku sudah

merasa beruntung.

Siapa yang akan benar-benar tahu tentang hal semacam itu?

Kyuhyun tanpa sadar menarik napas ketika Ryeowook mengelus pung-gungnya. Ia sungguh tak menyangka, bahwa niatnya untuk menyembunyikan semua hal tidak enak dari Ahra, justru membuat sedih noona yang sangat disayanginya itu.

Aku tahu. Aku tahu. Tidak apa-apa. Jadi, tidak apa-apa.

Itu tidak selalu berarti bahwa aku harus memahami perasaanmu saat ini.

Tetapi kau merasa dan bilang bahwa aku sudah memahamimu…. dan hal itu…membuat hatiku sakit….

Aniyo, Noona… Kau benar-benar orang yang paling memahamiku. Berada di dekatmu, tidur di pangkuanmu, membuatku merasa semua itu sudah mele-bihi apapun. Jebal, noona…jangan merasa bahwa kau tidak cukup memahami-ku. Aku bersungguh-sungguh dengan apa yang aku katakan….

Ketika Kyuhyun menoleh ke arah Ryeowook, namja itu membalas pan-dangan Kyuhyun dengan senyum lembutnya. Kembali Ryeowook menepuk punggung dongsaeng-nya untuk mendukung Kyuhyun membaca cyworld itu lebih lanjut.

Kalau saja kita bisa hidup seumur hidup tanpa mengetahui apa-apa…, kita berdua tidak perlu berpura-pura untuk apapun.

Seperti di masa kecil di mana kita tidak memiliki masalah,

kau melakukan apa yang kau inginkan dan aku juga melakukan apa yang ingin aku lakukan, untukmu, untukku, dan saling bercanda tanpa merasa khawatir sama sekali…

Hanya karena itu lucu dan kita bermain-main satu sama lain...

Jika dibandingkan dengan saudara kandung lainnya,

yang paling istimewa adalah kau selalu memikirkan noona-mu.

Namdongsaeng-ku yang paling tampan dibandingkan namja lainnya, selalu berpikir bahwa akulah yang paling cantik. Kita berdua saling menghargai lebih dari siapapun. Orang tua kita telah mengasuh kita dan memberi kita kasih sayang yang lebih besar dibandingkan orang lain saat tahun-tahun kita bertumbuh, yang sekarang telah menjadi kenangan...

Untuk saat ini, hanya dengan kata "Fighting!", aku telah memahami semuanya. Kekuatanku kembali diisi. Aku teringat senyum cerahmu...

Kau dan aku, hanya seperti itu kita terpisah. Mereka yang tidak bisa melihat kebenarannya mungkin akan berpikir itu baik... tapi bagaimana dengan kita? Siapa yang tidak pernah berjuang sebelumnya saat mereka masih muda?

Terpisah seperti ini membuat kita harus membiasakan diri, tapi ini tidak sesederhana itu….

Naneun bogoshipeoyo

Naneun neoreul. Aku ingin melihat senyummu.

Kau juga begitu pagi ini, bukan?

Kyuhyun terperangah membaca cyworld Ahra. Kalau saja ia bisa bertemu dengan noona-nya saat ini juga… Namun hal itu tidak mungkin.

"Noona saranghae. Naneun neoreul bogoshipeoyo."

Semua terdiam mendengar kata-kata Kyuhyun, bersiap menghadapi kemungkinan Kyuhyun menangis. Namun Kyuhyun hanya terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menoleh ke arah Donghae yang berada di sisinya yang lain.

"Hyung…"

"Hmm?"

"Noona selalu membuatkan es cappuccino untukku."

Donghae mengerjap memandang Kyuhyun yang tengah menatapnya pe-

nuh harap. Ia baru mengerti setelah Ryeowook memberinya isyarat dari balik punggung Kyuhyun.

"Aku akan membuatkan untukmu."

"Benarkah?" Mata Kyuhyun berbinar penuh semangat. "Boleh aku me-lihatnya?"

"Waeyo?" Donghae mengerutkan kening.

"Aku takut hyung memasukkan garam ke dalamnya."

Wajah Donghae langsung memerah ketika Zhoumi, Henry, Siwon, dan Ryeowook terkikik geli. "Ya! Kyuhyunie!"

Kyuhyun tergelak sehingga Donghae dengan gemas menjitak kepalanya.

Kedua namja itu bergegas ke dapur. Donghae mencari kotak kopi milik Siwon.

"Kita pakai ini saja."

"Ini kopi mahal." Kyuhyun membaca merk yang tertera.

"Kopi tetaplah kopi." Donghae tersenyum lebar. Ia langsung sibuk mem-buatkan kopi untuk Kyuhyun. Namja itu menatap penuh tanya ketika Kyuhyun mengerutkan keningnya sehabis mencoba es cappuccino yang ia buat.

"Tidak enak."

"Aku coba buat lagi."

Donghae kembali mencoba dengan takaran yang berbeda, namun Kyu-hyun kini mengernyit.

"Uhm….rasanya aneh."

Donghae mencoba dan mencoba lagi. Isi kotak kopi itu sudah tinggal se-paruh dari sebelumnya ketika Kyuhyun tetap saja menggeleng.

Siwon yang penasaran dengan kesibukan mereka berdua, ikut bergabung di dapur. Ia terkejut mendapati isi kotak kopinya yang tinggal beberapa sen-dok saja. Ia mengamati saat Donghae menyendokkan kopi ke gelas yang ma-sih baru.

"Kau menakar kopi terlalu banyak, hyung." Siwon meraih sendok dari ta-ngan Donghae. "Aku buatkan saja."

Dengan penuh percaya diri, Siwon menyerahkan es cappuccino buatan-nya. Donghae hanya bisa melongo ketika Kyuhyun tetap menggeleng, pada-hal Siwon setiap hari membuat kopi espresso.

Kini sudah lima gelas es cappuccino memenuhi dapur dengan harumnya. Kyuhyun menjejerkan kelima gelas itu dengan bibir berkerucut.

"Tidak ada yang mirip seperti buatan noona…."

"Aku akan minta bantuan seseorang."

Donghae menarik Ryeowook yang langsung pucat pasi melihat begitu ba-nyaknya kopi yang sudah dibuat.

Siwon sendiri melongok ke dalam kotak kopi, berhitung berapa cangkir kopi lagi yang akan ditolak Kyuhyun sementara kopinya sudah menipis. Ia khawatir kopinya lebih dahulu habis sebelum Kyuhyun mendapatkan apa yang disukainya.

"Kyuhyunie."

"Ne, Ryeowookie?"

"Aku tidak akan bisa membuat es cappuccino seenak yang Ahra noona

buatkan untukmu. Tapi minimal aku bisa mendekati rasanya. Kau bisa men-jelaskan rasa es cappuccino itu?" tanya Ryeowook dengan perhatian penuh.

Kyuhyun mencoba mengingat dan mengatakan apa yang ia rasakan, se-mentara Ryeowook mencoba membuatnya. Siwon dan Donghae mengawasi dengan takjub, tak terpikir untuk bertanya seperti Ryeowook. Untuk urusan dapur, Ryeowook benar-benar ahli.

Semua mengamati bagaimana Ryeowook menakar dan memadukan ko-

pi, gula, susu, dan air ke dalam blender. Setelah ia merasa kekentalannya cu-kup, Ryeowook menuangkan hasilnya ke dalam gelas yang sudah diisi es batu.

"Nah, ini es cappuccino ala Ahra noona. Bagaimana?"

Kyuhyun dengan sedikit enggan, setelah begitu banyak mencoba kopi, hanya menyesap sedikit. Ketiga pasang mata menatapnya dengan penasaran. Mata Kyuhyun memicing. Kali ini ia menghirup lebih banyak. Matanya melebar dan wajahnya menjadi cerah.

"Kau benar, Ryeowookie. Meski tidak seenak buatan Ahra noona, tapi ini sangat mirip."

Ryeowook tersenyum maklum mendengar kalimat 'pujian' Kyuhyun.

"Kalau begitu minumlah yang banyak."

Kyuhyun menggeleng dan menaruh gelas itu berjajar dengan kelima ge-las sebelumnya.

"Buatkan satu lagi." Kyuhyun merajuk.

"Aniyo, satu saja."

"Ayolah, Ryeowookie."

Kyuhyun menatap Ryeowook dengan mata penuh harap, membuat Ryeo-

wook sulit menolak.

"Baiklah. Satu saja, arrachi?"

Kyuhyun mengangguk senang.

Begitu kopi selesai dibuat, Kyuhyun menyeruputnya. Ia tersenyum puas.

"Ini benar-benar enak." Kyuhyun menyisihkan gelas itu dan mengambil nampan berisi enam gelas kopi tadi, lalu mengedarkannya kepada yang lain.

"Bukankah ini sudah kau cicip?" tanya Zhoumi yang dijawab dengan ang-gukan kepala oleh Kyuhyun. "Aku tidak…."

"Zhoumi ge, kau mau menolak pemberianku?"

Sepasang mata hitam itu menatapnya dengan raut wajah kecewa, mem-buat Zhoumi akhirnya mengambil salah satu gelas, berharap es cappuccino yang ia pilih memiliki rasa yang cukup enak.

"Xie xie. Zhoumi ge memang baik."

Kyuhyun menebar senyum yang membuat member lain saling berpan-dangan. Tak seorang pun yang berani menolak es cappuccino yang disodor-kan. Mereka terpaksa menerimanya karena tidak tahan melihat senyum gem-

bira itu.

Hankyung yang baru saja datang, langsung disodori gelas terakhir oleh Kyuhyun. Ia terheran-heran saat yang lain mengeluh dengan keras ketika ia meminumnya tanpa bertanya. Kyuhyun sendiri dengan wajah gembira meraih es cappuccino miliknya, dan menyeruputnya dengan perasaan puas.

.

.

TEASER RS ch 44

.

"Aku tidak mau meneruskan jika Henry tidak menyingkir!"/

"Kyuhyunie, ingatlah bahwa keluargamu akan selalu di sampingmu."/

Jika aku memiliki kekuatan super seperti Superman...

Jika kita memiliki kemampuan untuk menyelesaikan semua masalah sekaligus,

betapa menyenangkannya...

Tetapi aku tidak bisa,

karena itu semua ini terasa sangat menyakitkan.

(real quotes)

.

TBC

.

.

Karena lagi uber2an waktu, aku belum bisa balas review yg masuk sesudah Ch 42 update. Tapi aku usahakan di ch 44 semua akan aku balas termasuk yg review kemarin. Terima kasih kepada

rissa Tikuayee azalea bee ELFriend AnJel13 michhazz Gygyu cherry girl chapter 42 .92 LQ kumbang yohey57 kyupill rifkiyatul bella dazzlingshadow v3 E.L.F maejikyu .id Lee Kyu Hae mmmmmmm anyuen29 SparkyuELF137 .146 koukei8696 annie hee seol Anitha'Nay Ervina xyz nonixxie Ebimorv23 cloud's EndahD elfishy09 W pitaajjah sitihalimatussadiah124 yulianasuka shin rin rin indahesterlita sparkyuNee13 kyuph hmmm Bryan Andrew Cho dyayudya inthae .56 diahretno Wulan vicya merry Augesteca rei no zero Fitri MY vietaKyu cupcake SilvaELF Kiyoko Yamada tya andriani chairun kerin Shin Ririn1013 tyas1412 okta1004 Arafatharrafiah ELF sparkyumihenecia adiva ad clouds KYUkyut13 Choding Kim Youngbin cici fu kyuPuchan15 uyie retno Ochaiia mifta cinya sfsclouds kyuminjjang dewiangel meimeimayra parkjinjeng kyuline Kiyuh ekha sparkyu lestari ferensrens ayyaLaksita lili Aya Dini F.D kyuli 99 ryuusukekagaya Biaelf Sparkyu YeSan84 gaemgyulah Retnoelf Puput phiexphiexnophiex GaemGyu92

yang sudah bersedia meluangkan waktu untuk mereview, juga para guest yang lupa mengganti nick (*nyengir). Kamsahamnida.

1 Namdongsaeng = adik laki-laki

2 Ganhosa = perawat

3 Nasal Cannula = alat bantu pernafasan untuk menyalurkan oxygen dengan bentuk selang yang bening transparan dan lentur

4 Naneun neoreul bogoshipeoyo = aku sangat merindukanmu

5 Gwallye = Upacara yang menandakan seorang anak laki-laki memasuki usia dewasa. Untuk anak perempuan disebut Gyerye

6 Usia Korea setahun lebih tua dari hitungan usia internasional. Karena itu Kyuhyun yang lahir tahun 1988 dianggap berusia 21 tahun di Gwallye 2008