Title : RISING STAR Chapter 49

Genre : Brothership

Rating : Fiction T

Cast : Kyuhyun, Leeteuk, Heechul, Hankyung, Yesung, Kangin, Shindong, Sungmin, Eunhyuk, Zhoumi, Donghae, Siwon, Ryeowook, dan Henry.

Disclaimer : All them belong to themselves and GOD.I own only the plot.

Warning : Typos, Geje , MAsih perlu banyak perbaikan, If Read Don't Bash, Fanfic just fanfic, jangan meng-copy paste meskipun menyertakan nama. Share saja dalam bentuk link ffn, tidak kurang dari itu . Gomawo

Summary :

.

.

RISING STAR

Chapter 49

.

(Sedikit potongan dari adegan chapter sebelumnya)

.

"Kyuhyun-sshi?"

Seorang staff SM mendekat, membuat Kyuhyun bangkit berdiri dan menganggukkan kepala. "Sajangnim memanggil Anda ke kantornya."

"Ah, kebetulan sekali." Kyuhyun langsung meraih tasnya dan mengikuti staff tadi menuju lantai paling atas gedung. Ada hal yang ingin ia katakan, dan ini kesempatan terbaik yang ia dapat untuk mencoba mengajukannya.

.

.

.

Petinggi SM tersenyum melihat kedatangan Kyuhyun. Setelah namja itu memberi salam, ia mempersilahkan Kyuhyun untuk mengambil tempat di sofa yang tersedia.

"Kau terlihat semakin dewasa, Kyuhyun-sshi. Bagaimana keadaanmu?"

"Seperti yang Seonsaengnim lihat." Kyuhyun tersenyum. "Tampaknya keadaan Seonsaengnim juga baik-baik saja selama ini."

Petinggi SM tertawa mendengar kalimat yang diucapkan dengan tulus itu. "Aku pikir, kau akan melakukan protes terhadap tugas-tugas SJM yang begitu banyak."

"Kenapa begitu? Bukankah dengan banyaknya pekerjaan yang datang, itu akan membantu kami menjadi terkenal? Aku justru harus berterima kasih kepada kebaikan hati Seonsaengnim."

"Kau selalu membuatku kehilangan kata-kata," tutur Petinggi SM sambil tersenyum lebar. Ia berjalan menuju lemari penyimpan wine yang ada di kantornya dan mengeluarkan salah satu botol. "Wine?"

"Aku masih ingat, terakhir kali Seonsaengnim menolak ajakanku untuk minum bersama."

"Uhm, jadi sekarang, kau akan balas menolak ajakanku, Kyuhyun-sshi?"

"Mana aku berani?" Kyuhyun tersenyum. "Aku hanya mencoba mengikuti nasehat Seonsaengnim. Aku masih terlalu kecil untuk mengajak orang minum. Itu bisa berarti, aku masih terlalu kecil untuk diajak minum bukan?"

"Kau benar." Petinggi SM mengangguk, terkena kata-katanya sendiri. Ia memasukkan kembali botol wine tersebut ke tempatnya.

"Tetapi Seonsaengnim, aku sudah diakui sebagai orang dewasa." Kyuhyun tersenyum lebar. "Aku sudah menjalani upacara Gwallye."

"Kau…menjalani…upacara…Gwallye?" Petinggi SM mengucapkan kata demi kata perlahan, dengan wajah menegang. Matanya memicing tak percaya. Tetapi Kyuhyun terlihat begitu bahagia untuk seseorang yang sedang berbohong.

"Nae appa dan hyungdeul yang mengadakannya. Tentu saja melalui video call." Kyuhyun tertawa senang, tidak menyadari efek dari ucapannya. "Hanbok dan semua perlengkapan lainnya dikirim dari Korea. Bahkan soju dan kue beras. Aku benar-benar menikmatinya. Itu upacara yang menakjubkan, mengingat kami berada di negara yang berbeda."

"Memang menakjubkan. Aku saja hampir tak mempercayainya." Petinggi SM tidak dapat menahan senyumnya melihat kebahagiaan Kyuhyun. "Selamat memasuki usia dewasa, Kyuhyun-sshi. Aku rasa, lain kali aku harus menerima ajakanmu untuk minum bersama."

"Aku menantikannya. Aku akan mengajak Seonsaengnim jika menemukan wine yang bagus." Kyuhyun tertawa senang. "Ah, ada keperluan apa Seonsaengnim memanggilku?"

"Aku hanya ingin melihat keadaanmu. Kudengar kondisimu memburuk beberapa kali. Apa kau baik-baik saja meneruskan semua ini?"

Kyuhyun memandang Petinggi SM dengan mata melebar tak percaya.

"Seonsaengnim mengkhawatirkanku?"

Pertanyaan itu membuat Petinggi SM terbatuk meski lehernya tidak terasa gatal. Kyuhyun tersenyum lebar ketika Petinggi SM memandang ke arahnya.

"Untuk Super Junior, aku akan menjadi hebat dalam hal apapun, Seonsaengnim. Kondisi dan ketidakmampuanku takkan pernah menjadi alasan untukku berhenti. Aku akan mempelajari semua hal dari hyungdeul dan membuktikan kepada semua orang, bahwa aku akan menjadi hebat bersama-sama dengan mereka."

Petinggi SM termangu, untuk kemudian tergelak. "Aku benar-benar tak menyangka, di balik sifat cerdikmu, tersimpan hati yang seperti itu. Kyuhyun-sshi, seandainya aku akan memberimu hadiah, apa yang akan kau minta?"

"Hadiah?"

"Anggap saja hadiah untuk status barumu sebagai orang dewasa. Tentu ada batasannya. Aku tak mau kau meminta sesuatu yang tidak akan aku kabulkan." Petinggi SM berjalan mengitari Kyuhyun, mencoba mengintimidasi namja itu. Namun Kyuhyun tampak biasa-biasa saja. "Kau pilihlah sebuah hadiah yang tidak akan merugikanku maupun agensi ini. Bukan juga sesuatu yang merubah status kalian ataupun semacamnya. Suatu hadiah yang begitu biasa di mata orang lain, namun menguntungkan bagi kita berdua."

"Seonsaengnim, apakah Anda benar-benar akan mengabulkannya?"

"Jika memenuhi syarat yang aku bilang tadi."

"Bolehkah aku meminta waktu memikirkan hadiah itu?'

"Tentu saja tidak."

"Sudah kuduga." Kyuhyun meringis.

"Hanya lima menit, tidak lebih." Petinggi SM kembali ke kursinya dan menunggu. Ia menikmati mimik Kyuhyun yang tengah berpikir keras. Petinggi SM mengetukkan jarinya meminta perhatian setelah 5 menit berlalu.

"Sudah habis?"

"Sudah habis. Apa yang kau minta?"

Kyuhyun tersenyum lebar. "Sebenarnya waktu lima menit sudah terlalu lama untukku, Seonsaengnim. Ini adalah tujuanku menemui Anda, tapi Seonsaengnim lebih dulu memanggilku."

"Begitukah? Kau menjebakku?"

"Aku tidak melakukannya. Seonsaengnim yang menawarkan dengan sukarela." Kyuhyun tak dapat menahan diri untuk mengukir smirk di wajahnya.

"Sepertinya aku tidak akan menyukainya…"

"Mungkin. Tapi yang penting, Seonsaengnim dan agensi tidak akan rugi."

"Apa itu?"

"Perayaan 100 hari debutnya SJ M. Aku harap Seonsaengnim mengadakan acara tersebut di Wuhan."

"Wuhan?"

"Wuhan." Kyuhyun mengangguk.

"Kenapa Wuhan? Kita seharusnya merayakan acara itu di Beijing kan?"

"Seonsaengnim menawarkan hadiah dan aku memintanya." Kyuhyun melemparkan pandangan protes.

"Aku takkan menarik janjiku. Tapi seperti syarat yang aku berikan, aku tak ingin rugi."

"Wuhan adalah kota terpadat di China Tengah, juga merupakan pusat transportasi utama di China. ELF dari berbagai tempat akan mudah menuju ke sana. Jika Seonsaengnim ingin penjualan album meningkat, tentu hal itu penting. Wuhan tidak kalah strategis dari Beijing."

"Dan Wuhan adalah tempat asal Zhoumi-sshi."

Kyuhyun tidak menyahut. Ia hanya tersenyum. "Tampaknya Seonsaengnim bisa menebak apa yang aku pikirkan. Seonsaengnim, aku menginginkan hadiah itu."

Petinggi SM terdiam beberapa saat untuk kemudian menggelengkan kepala. "Seharusnya aku tidak memberimu kesempatan memilih hadiah. Baiklah. Kita akan mengadakan acara itu di Wuhan."

"Kita bisa mengundang keluarga Zhoumi-sshi?"

Petinggi SM mengerutkan keningnya. Ia hendak menolak namun pandangan mata Kyuhyun begitu berbinar penuh harap, ditambah lagi senyum kekanakannya yang terkembang sempurna.

"Selama tidak menambah biaya apapun."

"Tentu tidak. Keluarga Zhoumi-sshi tinggal di sana. Tidak ada biaya penginapan dan makan yang perlu dikeluarkan." Kyuhyun tersenyum senang. "Kamsahamnida, Seonsaengnim. Sekarang bolehkah aku pamit? Latihan sebentar lagi akan dimulai."

"Kyuhyun-sshi, hadiah itu tidak membantu kalian meraih GDA." Petinggi SM tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun, ia justru duduk di sofa yang berhadapan dengan namja itu dan memandangnya dengan wajah serius.

Kyuhyun sekali lagi tersenyum. "Bagiku saat ini, kebahagiaan semua member lebih penting, jauh lebih penting dari penghargaan. Aku tetap yakin kami bisa meraihnya bersama-sama."

"Kau terlalu naif." Petinggi SM menggelengkan kepala. "Kyuhyun-sshi, aku jauh lebih berpengalaman darimu. Sepanjang hidupku, tidak ada manusia yang tidak berubah. Kau membela mereka mati-matian, itu semua tidak menjamin mereka akan tetap berada di sisimu!"

"Jika itu terjadi, aku akan menarik hyungdeul kembali!" Kyuhyun mengepalkan tangannya tanpa sadar. Ia teringat hal-hal yang mencemaskanya belakangan ini. "Jika mereka melupakanku, aku akan membuat mereka mengingatnya. Jika mereka meninggalkanku, maka aku akan mengejar mereka."

"Jika mereka merasa terancam dengan keberadaanmu?"

"Mwo?" Untuk beberapa saat Kyuhyun mencoba mencerna kalimat itu.

"Kau pasti tahu betapa kerasnya persaingan dalam sebuah grup. Aku bukan orang baru dalam hal ini, Kyuhyun-sshi. Aku tahu kau mengalah dan membiarkan dirimu berada di belakang mereka."

Kyuhyun tertegun dengan wajah memerah. Ia terpaksa mengakui ketajaman pengamatan Petinggi SM. "Aku masih muda, dan aku masih belum banyak pengalaman dalam dunia ini. Aku rasa, tidak apa untuk berada di belakang. Akan ada saatnya aku bisa terkenal seperti hyungdeul. Tidak apa jika aku menjadi yang belakangan dikenal. Aku akan menunggu dengan sabar sambil terus berlatih. Lagipula, aku merasa belum bisa apa-apa…."

"Jika terus seperti itu, dunia ini akan menelanmu tanpa kau bisa melawan." Petinggi SM menggeleng tidak setuju. "Tapi itu pilihanmu."

Pandangan Petinggi SM membuat Kyuhyun menahan napas. Ia tahu kalimat itu bukan sekedar gertakan.

Bertahan hidup di dunia hiburan itu sangat sulit; Itu adalah sebuah jalan yang sukar dan sempit. Appa tidak ingin kau berjalan di jalan yang sulit itu, Kyuhyun-ah... Itulah sebabnya appa menolak keinginanmu menjadi penyanyi.

Kyuhyun teringat kata-kata sang appa. Selama dua tahun menjalani kehidupan sebagai idol, Kyuhyun tahu bahwa yang dikatakan sang appa maupun Petinggi SM adalah sebuah kenyataan.

"Cepat atau lambat, orang-orang akan mengetahui seperti apa Cho Kyuhyun yang sebenarnya. Keberadaanmu yang menonjol akan menjadi ancaman untuk beberapa orang, bahkan teman satu grup yang kau anggap seperti keluargamu… Seperti yang terjadi saat ini."

Wajah Kyuhyun memucat. Ia yakin ada sesuatu di balik perkataan itu.

"Siapa yang Seonsaengnim maksud? Siapa terancam oleh siapa?"

"Bukankah kau begitu yakin dengan pemikiranmu, Kyuhyun-sshi? Dan sekarang, kau merasa penasaran tentang hal yang kau anggap tidak akan terjadi?"

"A…Aku…." Kyuhyun tidak tahu kalimat apa yang harus ia lontarkan. Di satu sisi ia sangat ingin tahu. Namun di sisi lain ia juga takut akan kebenarannya. Satu per satu puzzle terpeta di kepalanya, namun semua terlihat begitu acak.

"Pertanyaanku masih sama. Jika mereka merasa terancam dengan keberadaanmu, apakah kau akan tetap bertahan?"

Kyuhyun memandang Petinggi SM yang tidak memberinya kesempatan untuk menenangkan diri.

Appa merasa kau bisa hidup dengan melakukan apa yang kau sukai. Melihat semua ini, sebagai orang tuamu, aku merasa benar-benar bahagia untukmu, Kyuhyun-ah.

Kata-kata sang appa yang berubah pemikirannya membuat Kyuhyun akhirnya sanggup tersenyum kembali. Dan kali ini ia memandang sosok di depannya dengan penuh percaya diri.

"Jika hyungdeul menganggapku saingan mereka, aku akan meyakinkan mereka bahwa aku tetap bersama mereka. Aku yakin, cinta jauh lebih kuat dari kebencian."

"Apa?" Petinggi SM tergelak. "Kau akan merasa lelah jika berjuang sendirian, Kyuhyun-sshi."

"Aku tidak sendirian…." Kyuhyun tersenyum. "Tidak akan ada yang jatuh bersamaan. Pasti ada hyungdeul yang masih berpikiran sama. Jika kebetulan mereka semua berubah, aku akan bertahan sampai salah satu dari mereka kembali berbalik kepadaku, sehingga ada lebih dari satu orang yang berusaha agar kami tetap utuh."

"Jika kau yang merasa lelah? Dan mereka semua lelah?"

"Tidak mungkin. Jika aku merasa lelah, aku yakin ada hyungdeul yang tidak merasa lelah untuk memegangku agar tetap bersama mereka."

"Kau terlalu naif."

"Seonsaengnim, kemungkinan kami sama-sama dalam keadaan jatuh, jauh lebih kecil daripada jika sebagian dari kami masih bisa tegak berdiri. Apakah Seonsaengnim mulai menilai sesuatu tanpa pertimbangan seperti itu?"

Petinggi SM tidak menjawab. Ia bangkit menuju meja kerjanya, mengambil sebuah map, lalu membukanya di depan Kyuhyun sehingga namja itu bisa membacanya.

"Kau kenal Professor Park Jun Ha?"

"Beliau mengajar Fakultas Media dan Musik di Universitas Pai Chai."

"Pengetahuanmu sangat bagus," puji Petinggi SM. "Dia membuat lagu untuk album terbaru TVXQ."

"Kenapa Seonsaengnim mengatakan hal ini?"

"Ada sedikit masalah dengan lagunya sehingga ditangguhkan; Tidak akan dimuat di versi A kecuali ada perubahan."

Kyuhyun menyimak dengan seksama, masih tidak tahu mengapa Petinggi SM mengatakan hal itu kepadanya.

"Kau dan Ryeowook-sshi akan berkolaborasi dengan Changmin-sshi dan Junsu-sshi di lagu yang Professor Park Jun Ha buat. Aku berharap masalah lagu tersebut bisa kalian selesaikan."

Mata Kyuhyun melebar karena terkejut.

"Tidakkah wajar jika aku ingin orang yang masuk daftar vokalis pria terbaik di Korea tampil? Itu namanya membaca selera pasar. Kenapa? Kau takut mereka berubah karena hal ini? Bukankah kau mempercayai mereka sepenuhnya?"

"Vokalis pria terbaik? Aku tidak mengerti. Siapa yang Seonsaengnim maksud?"

Petinggi SM memandang Kyuhyun sambil menautkan kedua alisnya.

"Kau tidak tahu? Mnet menetapkan dirimu sebagai salah satu dari 20 vokalis pria terbaik di Korea tahun 2008. Satu-satunya dari Super Junior. Seberapa dalam pun kau bersembunyi, kebenaran akan terlihat."

"Ah…." Kyuhyun menghindari pandangan Petinggi SM dan menutup map di hadapannya dengan perasaan kacau. "Apa yang Seonsaengnim inginkan?"

"Sederhana. Lakukan tugasmu dengan baik. Kau tidak akan mempermalukanku kan?"

"Aku tidak akan mempermalukan Super Junior." Kyuhyun menjawab dengan tegas. "Tetapi aku tetap tidak tahu apa yang bermasalah dengan lagunya dan bagaimana caraku untuk mengatasinya."

"Aku sama tidak tahunya denganmu," jawab Petinggi SM dengan ringan. Ia tersenyum ketika mata Kyuhyun memandangnya tak percaya. "Kau orang yang bisa menciptakan keajaiban. Aku harap, kali ini kau juga menciptakan keajaiban untuk Professor Park Jun Ha."

Kyuhyun menarik napas panjang. Sebuah beban berat seakan ditimpakan ke pundaknya tanpa ia tahu beban itu berwujud apa.

"Seonsaengnim, aku bukan orang yang menunggu datangnya keajaiban…"

"Aku tahu." Petinggi SM tersenyum. "Kau orang yang selalu berusaha keras dan mempercayai adanya keajaiban. Apa kau tahu syarat sebuah keajaiban terjadi, Kyuhyun-sshi? Keajaiban hanya terjadi pada mereka yang mempercayai adanya keajaiban, dan mau berusaha keras untuk apapun yang mereka lakukan. Karena itulah, aku pikir, mungkin saja keajaiban akan terjadi jika menempatkanmu ke dalam formasi."

Petinggi SM tertegun ketika wajah Kyuhyun yang tadinya begitu suram, menjadi cerah bahkan namja itu tertawa dengan ringannya. "Seonsaengnim, aku pikir Anda bukanlah orang yang mempercayai keajaiban. Ternyata aku salah mengira. Ini benar-benar hal yang menyenangkan. Super Junior juga terdiri dari orang-orang yang mempercayai keajaiban dan berusaha keras untuk mewujudkan mimpinya. Aku rasa, Seonsaengnim akan cocok dengan kami."

Kyuhyun bertepuk tangan dengan gembira, lalu menghentikannya sambil tersipu. Namja itu membungkuk meminta maaf atas ekspresinya yang ramai. Petinggi SM sendiri hanya mengamati dengan diam.

Aku orang yang selalu mempercayai pikiranku, analisisku, dan kerja keras, Kyuhyun-sshi. Tetapi kau telah merubah pandanganku tentang semua itu. Ketika aku berpikir kau tidak mungkin bertahan hidup; Kau bangun dari koma. Ketika aku berpikir kau mungkin akan kehilangan suaramu selamanya; Keyakinan ayahmu membuatku bisa mendengar kembali suaramu di atas panggung. Ketika aku berpikir kau akan tumbang dengan padatnya jadwal SJM yang biasanya tidak kau alami di Super Junior; Lagi-lagi kau bisa mengatasinya. Tetapi…

"Kyuhyun-sshi, seberapa kuat kau akan bertahan jika mereka berubah?"

Kyuhyun terdiam beberapa saat untuk kemudian kembali tersenyum. Senyum yang begitu tulus sehingga Petinggi SM menahan napasnya.

"Seonsaengnim, aku memang masih muda dan kurang pengalaman. Tetapi aku memiliki satu pengalaman yang belum pernah Seonsaengnim alami, yaitu berada di ambang kematian. Saat itu, bukan ketenaran dan harta benda yang aku pikirkan, tetapi hubunganku dengan Allah dan orang-orang yang aku cintai. Karena itu, seberapapun mereka memperlakukanku jika mereka berubah, aku akan mencoba bertahan. Sedikit saja mereka memiliki perasaan kepadaku, aku akan bertahan. Terima kasih karena Seonsaengnim mengkhawatirkanku."

Petinggi SM terdiam. Ia mengamati wajah Kyuhyun yang tidak mengalihkan pandangan darinya, menandakan bahwa ucapan itu bukanlah sekedar omong kosong. "Aku sering bertanya-tanya, apa motto hidupmu, Kyuhyun-sshi, hingga kau bisa seperti ini."

Bukannya menjawab, Kyuhyun justru meringis sambil tersipu. Kening Petinggi SM berkerut saat Kyuhyun menutup mulutnya untuk menahan tawa.

"Apa pertanyaanku begitu lucu?"

Nada penuh tekanan itu membuat Kyuhyun langsung membungkukkan tubuh dengan wajah menyesal, meski masih tersimpan senyum di sana.

"Mianhamnida, Seonsaengnim. Bukan pertanyaannya yang lucu, tetapi jawabannya."

"Jawabannya? Lucu?"

Kyuhyun mengangguk dengan senyum lebar.

"Mottoku adalah 'Tetap bertahan meski rasanya menyakitkan'…."

"Motto itu… Tidak ada yang lucu dengan motto itu…."

"Ah, benarkah?" Mata Kyuhyun berbinar gembira. "Sudah kuduga itu motto yang bagus! Aku memakai motto itu sejak di sekolah dasar. Itu juga ID game-ku. Aku senang Seonsaengnim menganggapnya bagus."

"ID game? Kau bilang, 'Tetap bertahan meski rasanya menyakitkan' adalah ID game-mu?"

"Benar, Seonsaengnim."

Kini Kyuhyun merasa gelisah.

"Apakah ada yang salah dengan itu? Bukankah tadi Seonsaengnim bilang motto itu bagus?"

Petinggi SM kehilangan kata-kata menghadapi sepasang mata yang menatap bingung ke arahnya.

.

.

.

Persiapan Dream Concert semakin padat. Semua tampak lelah dan kehabisan tenaga. Meski begitu, Super Junior menjalani semuanya dengan penuh senda gurau.

Hari ini waktu luang yang ada hendak dimanfaatkan oleh Super Junior untuk berjalan-jalan. Dengan begitu sibuknya Super Junior H melakukan promo album dan persiapan Dream Concert, mereka tidak tahu apakah waktu seperti ini akan ada lagi sebelum Super Junior M kembali ke China.

Sejak pertemuannya dengan Petinggi SM, pikiran Kyuhyun begitu penuh dan perasaannya menjadi kacau. Meski di depan Petinggi SM ia mampu menjawab semuanya dengan baik, namun begitu tiba di dalam lift yang membawanya turun, Kyuhyun jatuh terduduk. Sebenarnya membayangkan semua yang dikatakan Petinggi SM itu membuat kecemasannya yang muncul belakangan ini meningkat. Kyuhyun berusaha tetap berdiri namun saat itu kakinya benar-benar lemas dan tubuhnya sedikit gemetar. Ia berusaha menyembunyikannya saat latihan, berusaha mengusir semua pikiran buruk tersebut. Namun saat sendirian, semua kecemasan kembali muncul.

Karena hal itu, hari ini, di hari yang sangat ia tunggu, Kyuhyun bisa merasa bahwa tubuhnya mulai terpengaruh oleh pikiran dan perasaannya. Ia mencoba bangkit berdiri, namun tubuhnya terasa tak bertenaga. Akhirnya Kyuhyun memilih berdiam diri sejenak sampai napasnya kembali teratur dan tubuhnya bertenaga kembali.

Namun setengah jam telah berlalu tanpa perubahan berarti. Waktu yang dijadwalkan untuk pergi telah tiba. Satu persatu member Super Junior kembali dari aktivitas mereka masing-masing; Bahkan Kibum dan Heechul telah datang beberapa menit lalu.

Semua mengerutkan kening ketika menyadari Kyuhyun duduk di sofa mengenakan kaos dan celana pendek. Magnae mereka sibuk berkutat dengan PSP, seakan tak menyadari mereka semua menunggunya sejak tadi. Kyuhyun adalah member terakhir yang belum siap.

"Kyuhyunie, kau akan keluar dorm dengan pakaian itu?"

"Aku tidak ikut, Shindong hyung."

"Lho, tapi kita semua sudah sepakat untuk jalan bukan?"

"Donghae-ya benar. Kyuhyunie, apa kau lupa soal jjangmyeon?"

"Jangan berisik, Hyukhyuk. Aku pikir, aku mau main PSP saja. Aku bisa menitip dibelikan jjangmyeon." Kyuhyun mendengus sambil terus memainkan PSP-nya.

"Ya! Hyun-ah! Kita sudah jarang berkumpul! Apakah PSP lebih penting dari kami?!" Kangin menarik Kyuhyun hingga berdiri. Merasa permainannya diganggu, Kyuhyun menjadi marah dan mendorong Kangin. Nyaris saja keduanya berkelahi jika Sungmin tidak menarik Kyuhyun dan Kangin tidak ditahan oleh Leeteuk.

"Tolong jangan berkelahi," pinta Ryeowook dengan wajah pucat pasi. "Kyuhyunie, apa kau benar-benar tidak ingin pergi?"

"Padahal kau tadi bersemangat sekali. Apakah…" Siwon langsung terdiam saat Kyuhyun melemparkan pandangan tajam ke arahnya.

"Aku main di kamar saja. Di sini terlalu berisik." Kyuhyun beranjak pergi. Namun ia berbalik setelah berjalan beberapa langkah. "Aku titip jjangmyeon."

Semua tertegun memandang Kyuhyun menghilang ke dalam koridor yang menuju kamarnya.

Kangin berontak dari pegangan Leeteuk dengan perasaan gusar. "Teuki hyung, kau terlalu memanjakannya! Kadang dia perlu diajar tentang sopan santun!"

"Ini aneh," gumam Yesung dengan tiba-tiba. Suara beratnya membuat beberapa member yang berdiri di depannya nyaris berjengkit.

"Yesung hyung, kalau mau bicara kasih aba-aba dulu. Kau membuatku merinding," protes Siwon sambil bergidik.

"Ah, Teuki hyung, sebaiknya kalian pergi saja dahulu. Biar aku menemani Kyuhyunie di sini." Sungmin tersenyum simpul. "Cepat, nanti waktu kalian habis."

"Ck, aku akan menariknya keluar kalau perlu!" Heechul bergegas menyusul Kyuhyun ke dalam kamar.

"Chullie! Tunggu!" Hankyung yang khawatir dengan watak sahabatnya langsung menyusul.

Sampai sepuluh menit kemudian, tidak ada suara yang muncul dari dalam kamar. Leeteuk memandang dongsaengdeul yang lain dengan cemas.

"Sebaiknya kita ikuti mereka," kata Leeteuk.

Semua berjalan cepat menuju kamar, namun mereka tertegun melihat

Heechul dan Hankyung tengah duduk di sisi kiri dan kanan Kyuhyun, sementara si pemilik tempat tidur duduk sambil memeluk lututnya.

"Seharusnya kau bilang terus terang!" Heechul terdengar kesal namun nada khawatir ada di dalam suaranya.

"Jangan menasehatiku, Heechul hyung. Aku yakin hyung akan melakukan hal yang sama." Kyuhyun melirik tajam namja yang tampan sekaligus cantik itu.

"Hhh, kuakui kau benar," gumam Heechul pelan. "Meski kakiku terasa sakit, aku juga tak mau merusak kebahagiaan mereka. Ck, kadang menyadari kita berdua terlalu mirip itu menyebalkan."

"Waeyo, Kyuhyunie? Ada apa sebenarnya?" Leeteuk berjalan mendekat diikuti yang lain.

Melihat semua berada di kamarnya, Kyuhyun mendengus kesal. "Tidak ada yang perlu diceritakan. Aku hanya kesal karena Kangin hyung membuat permainanku kalah; Padahal aku hampir menang."

"Kapan kau bermain hingga hampir menang? Wajahmu tidak seperti orang di pertandingan terakhir."

Kyuhyun mengerucutkan mulutnya ke arah Sungmin yang tersenyum begitu manis setelah melancarkan serangannya.

"Kalau aku bilang hampir menang artinya hampir menang! Kenapa Sungmin hyung cerewet sekali?!"

Kibum mendekat. Ia berdiri begitu dekat hingga Kyuhyun ingin bersembunyi di balik selimut. "Napasmu kembali sesak? Perutmu terasa sakit dan kakimu menjadi lemas? Itu alasanmu mendadak tidak ikut bukan?"

Kyuhyun tidak berani memandang Kibum.

Si Killer Smile tersenyum puas. "Berarti dugaanku benar."

"Ah, begitu? Sungminie, ambil pakaiannya! Kita berangkat!" seru Leeteuk dengan senyum yang membuat Kyuhyun terbelalak, sementara hyungdeul yang lain sibuk menahan tawa.

"Jangan macam-macam, Heechul-ah!" Kyuhyun beringsut hingga punggungnya menabrak kepala tempat tidur ketika Heechul menyeringai.

"Ya! Panggil aku hyung atau kau akan menyesal!" Heechul menggeram.

Sungmin menyerahkan sebuah kaos dan celana panjang kepada Heechul sementara Kyuhyun menggeleng keras.

"Aku bisa memakainya sendiri! Hyungdeul keluar saja!"

"Sudah terlambat, magnae. Biar kami yang membantumu berpakaian!"

"Andwae! ANDWAEEEE!"

Teriakan Kyuhyun tidak mengurungkan niat Heechul, Donghae, dan Sungmin yang langsung melepaskan semua pakaian Kyuhyun dan menggantinya dengan yang lain.

.

.

Kyuhyun terduduk di atas tempat tidur dengan wajah luar biasa kesal. Ia menepis tangan Sungmin yang hendak menyisir rambutnya yang berantakan akibat memberontak.

"Sudah siap? Kalau begitu, ayo kita berangkat!"

"Andwae!" Kyuhyun menolak Kangin yang berusaha menariknya dari tempat tidur.

"Ck, kau bilang kakimu lemas bukan? Naiklah ke punggungku. Hyung akan menggendongmu sampai ke mobil. Jadi kau masih bisa beristirahat sampai di tempat tujuan kita."

Kyuhyun terdiam dan akhirnya dengan ragu ia melingkarkan tangannya ke leher Kangin dan membiarkan hyung-nya itu menggendongnya di punggung. "Apakah aku berat, hyung?"

"Tidak sama sekali," jawab Kangin. "Pegang yang erat arrachi?"

"Ayo kita berangkat." Leeteuk tersenyum senang melihat situasi sudah terkendali.

Di dalam lift yang membawa mereka turun ke halaman parkir, Kyuhyun merasa sangat senang melihat hyungdeul bergurau satu sama lain. Meski ia jarang mengikuti percakapan mereka, ia sudah cukup senang melihat semua kehebohan itu.

"Hyung, aku ingin kita seperti ini seterusnya…."

"Kyuhyunie? Kau bilang apa?" Kangin yang mendengar gumaman itu langsung berhenti dari tawanya.

" Aku…akan berusaha sekuatnya untuk itu…."

Wajah Kangin memucat. Ia tidak paham apa yang Kyuhyun gumamkan. Ia hanya merasa napas Kyuhyun yang sedikit hangat menerpa lehernya, dan pegangan dongsaeng terkecilnya itu sedikit mengendur.

"Kyuhyunie…? Kyuhyunie?!" Suara Kangin yang bernada cemas membuat suasana hening seketika.

"Kyuhyunie…. Apakah dia pingsan?" tanya Kangin dengan mata yang sudah berkabut. Ia tidak bisa melihat jelas Kyuhyun selain merasakan bahwa dongsaengnya tidak lagi mendengar kata-katanya.

Sungmin mengusap rambut Kyuhyun dengan lembut. "Sepertinya dia hanya tertidur. Bukankah begitu?"

Pandangan Sungmin yang terarah kepada Hankyung dan dongsaengdeul yang tergabung di SJM membuat keempat namja itu mengangguk.

"Kenapa ia masih begitu galak dengan kondisi seperti ini?" Kangin teringat saat Kyuhyun mendorongnya tadi.

"Ia tidak ingin membuat kita cemas. Bukankah ia sangat manis?" Siwon tersenyum sedih.

"Belakangan ini ia akan tertidur begitu saja jika kelelahan, meski sebelumnya dia baru saja tertawa," jawab Ryeowook dengan suara tercekat namun kemudian ia tersenyum lebar. "Jangan cemas. Biarkan uri Kyuhyunie beristirahat. Nanti ketika ia bangun, ia akan kembali membuat kita kesal."

"Kalau begitu jangan buang waktu. Ayo, kita cari tempat yang menyenangkan, sehingga ketika ia terbangun, ia tidak menceramahi kita semua."

Suara tawa kembali memenuhi isi lift itu.

Sayang harapan mereka tidak terwujud….

.

.

.

"Kenapa kita tidak ke taman bermain?" Kyuhyun yang mendapati dirinya terbangun di kamar tidur bergaya klasik tampak sedikit tidak setuju. Ia bangkit berdiri dan berjalan ke luar kamar. Sebuah ruangan lain bergaya klasik menyambutnya. Terdengar hiruk pikuk beberapa member Super Junior yang tengah bermain bola di halaman.

Kyuhyun melongok keluar, sekarang benar-benar menyadari di mana mereka berada. "Kita di perkampungan Bukchon? Ini masih di Seoul; Tidak sampai satu jam dari dorm."

"Kau sedang sakit jadi kami memutuskan untuk ke sini. Siwonie menyewa seluruh rumah ini sampai besok."

"Aku tidak sakit! Aku hanya lebih cepat lelah daripada hyungdeul."

"Apa bedanya? Itu tetap namanya sakit." Heechul mendengus.

"Tidak. Itu namanya gangguan kesehatan."

Suasana mendadak hening.

"Secara teori Kyuhyunie benar," ujar Kibum yang muncul di pintu.

"Lihat, aku benar kan?" Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan sementara Heechul mengeluh dengan keras.

"Mau ikut bermain bola?" tawar Kibum.

"Dia tetap di sini." Heechul mencegah Kyuhyun dengan cepat. Ia memberi kode dengan matanya agar Kibum meninggalkan mereka berdua.

"Baiklah, aku kembali bermain." Kibum tersenyum. Ia sangat dekat dengan Heechul sehingga bisa membaca apa yang ingin Heechul lakukan.

Kyuhyun memandangi Kibum yang berlari keluar, lalu beralih kepada Heechul yang mulai menekan beberapa tombol di HP.

"Kau mau memesan sesuatu, Kyuhyunie?"

Kyuhyun memandang dengan bingung.

"Noona penjaga rumah ini bisa membantu membeli apapun yang kita inginkan. Kau mau pesan apa?"

"Ice cream?"

Heechul menyeringai, sama seperti yang dilakukan Kyuhyun saat ini. Hanya saja mereka memiliki arah smirk yang berbeda.

Tak berapa lama, seorang wanita yang mengenakan hanbok muncul sambil membawa semangkuk besar es krim dan sebuah sandwich.

"Makanlah. Kau masih terlalu kurus." Heechul melemparkan sandwich itu ke arah Kyuhyun yang menangkapnya dengan cepat. Mereka berjalan menuju ke ruangan yang sepertinya merupakan ruang makan setelah Heechul memesan serangkaian menu makan malam kepada wanita penjaga penginapan.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika Siwonie yang membayarnya." Heechul tersenyum lebar. "Kau harus makan yang banyak."

"Aku mendapat nasihat dari orang yang sama kurusnya denganku?" tanya Kyuhyun sambil duduk di hadapan Heechul.

Heechul tergelak. Ia meletakkan mangkuk es krim di atas meja dan memberi sebuah sendok kepada Kyuhyun. Ia sendiri langsung mengambil sesendok besar es krim. Untuk beberapa saat tidak seorangpun berbicara. Mereka menikmati es krim tersebut dengan diam.

Heechul melirik Kyuhyun yang mulai memakan sandwich dengan lahap.

"Apa kau bertemu Seonsaengnim?" Heechul menyeringai ketika sepasang mata itu membulat. "Apa ia mencoba membuat kita pecah lagi?"

Kyuhyun tidak menjawab. Ia kembali menggigit sandwichnya, kali ini dengan perlahan.

"Aku yang sekarang, tidak akan mencoba mencarinya dan menghantam hidungnya, Kyuhyunie. Aku tidak mau kejadian waktu itu terulang. Kau pasti akan menghalangiku kan?"

"Sampai kapanpun aku akan menghalangimu, hyung."

"Meski kau akan terkena tinjuku nanti?"

Kyuhyun tertawa kecil. "Sejujurnya, hyung, aku rasa cepat atau lambat, aku akan merasakan hal itu. Tolong jangan terlalu keras."

Heechul kembali tergelak, nyaris memuntahkan es krim yang tengah berada di mulutnya. Ia memandang Kyuhyun dengan wajah memerah karena malu. "Aku juga merasa begitu, Kyuhyunie. Kau tipe orang yang akan melemparkan dirimu ke tengah-tengah pertarungan untuk membuat keadaan menjadi sedikit lebih baik."

Namja itu memandang Kyuhyun dengan senyum lembut dan pandangan sedih, membuat Kyuhyun menundukkan wajahnya menghindari pandangan itu, dan menyantap gigitan terakhir sandwich-nya.

"Aku tahu kau bisa mengorbankan dirimu untuk Super Junior. Tetapi aku juga bisa melakukan hal yang sama, Kyuhyunie. Aku rasa, kita semua bisa bersama-sama menjaga Super Junior. Kita akan selalu menguatkan satu sama lain. Jadi jangan menanggungnya seorang diri."

Kata-kata lembut yang jarang keluar dari mulut hyung-nya itu membuat Kyuhyun menggigit bibirnya menahan tangis. Matanyanya mulai berkaca-kaca hingga ia mendongakkan kepalanya ke atas untuk menahan air matanya.

"Perubahan adalah sesuatu yang pasti akan terjadi kan, hyung? Tidak terkecuali pada kita?"

Heechul berusaha mendengarkan kata-kata yang nyaris tak terdengar itu, namun ia tidak ingin meminta Kyuhyun untuk mengulanginya. Ia ingin Kyuhyun mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya dengan leluasa. Namun Kyuhyun tidak melanjutkan kata-katanya, sehingga Heechul berusaha menebak sendiri apa yang sebaiknya ia katakan kepada Kyuhyun.

"Kita adalah Super Junior ketika kita sukses. Bahkan jika kita gagal, kita tetaplah Super Junior."

Kyuhyun mengangkat kepalanya dan memandang lurus ke arah Heechul.

.

.

.

TBC

.

Kkkk

Mungkin sebagian dari yang baca akan terganggu dengan munculnya ketiga huruf ini.

Tetapi aku merasa harus memenggalnya di sana.

Apakah Kyu akan berterus-terang kepada Heechul?
Kita tunggu chapter berikutnya, arrachi?

Review yang masuk akan aku balas di chapter berikutnya sekaligus.

.

Untuk teman2 yang masih setia membaca dan mereview ff ini,

Aku mengucapkan banyak terima kasih.

Tidak ada yang membuat seorang author lebih bersemangat, siapapun dia,

selain review pembaca atas tulisan yang ia buat.

Sekali lagi, aku mengucapkan banyak terima kasih

#bow