Hari-hari menyebalkan pun di mulai hari ini. Bersama Mark Lee ia harus berangkat ke sekolah bersama iblis satu itu. Jika tidak, uang jajan Jeno akan lekas di potong. Jelas ia tak mau itu terjadi, mau tak mau ia harus satu mobil dengan si iblis Mark Lee.

Seperti sekarang ini.

Jeno memainkan ponselnya, sama sekali tak berminat mengobrol dengan Mark Lee sekalipun. Sedangkan Mark di sampingnya menyetir dengan gaya sok cool-nya —yang tak akan membuat Jeno terpesona.

"Si manis diem aja. Kenapa sih sayang sakit gigi ya?"

"Diam keparat dan fokus pada jalan! Lo gamau kan kita nabrak tiang listrik?"

"Ih manis-manis ngomongnya kasar ya, ga sesuai sama mukanya yang manis gitu."

"Diem deh Mark, gua males debat sama lo."

"Lah kan saya cuma ajak ngobrol sama si manis bukannya ngajak si manis debat kok."

"Gua cowo Mark, gua ganteng!"

"Ah serius Jeno ganteng? Gantengan mana sama Mark di sini?"

"Yah gantengan gua lah, jelas."

"Kamu manis bukan ganteng Jeno."

"Bacot."

Tak berapa lama kemudian mereka sampai di sekolah dan Mark memarkirkan mobilnya. Ia bergegas keluar dari mobil dan berniat membukakan pintu untuk Jeno, tapi sayangnya cowo manis itu keluar duluan.

"Jeno belajar yang bener ya!"

"Ngaca dulu sobri lo gimana, baru ceramahin gua!"

Demi apapun Mark tabah.

Mark membasahi bibir bawahnya yang terasa kering. Ia memandangi punggung Jeno yang perlahan semakin menjauh. "Untung manis, untung sayang.."

Dan ia bergegas menuju kelas sekarang. Bagi Mark ini belum apa-apa, hanya menghadapi setiap ocehan pedas Jeno ia sudah biasa dan masih bisa membalasnya.

Yaiyalah, mereka tiap hari berantem mulu tiada henti tiap ketemu.

Jeno melempar ranselnya kearah tempat duduknya, para siswa yang sudah datang lebih dulu melihatnya aneh. Jeno tersadar, "gausah liat-liat lo pada!"

Ucapan itu langsung ngebuat mereka membuang muka ke arah lain. Lee Jeno yang sedang pms begini biasanya ucapannya akan lebih pedas.

Haechan merangkul Jeno yang baru saja mendudukan dirinya. "Lo kenapa sih Jen?"

Jeno diam. Haechan seakan ngerti dengan keadaan sahabatnya itu dan bergegas mengganti topik. "Yaudah deh nanti aja ceritanya, mau ke kantin ga?"

Jeno mengangguk.

"Nanti mau bolos aja ga? Lo bener-bener serasa ga punya semangat hidup tau Jen," saran Haechan sesat.

Jeno menoyor kepalanya. "Lo kalo ngomong emang asal jeplak ye, ga ah emang lo kira gua anak ga bener."

Haechan menggaruk belakang tengkuknya yang tak gatal. "Yha kan sekali-kali aja ga pa-pa."

"Tapi guenya gamau.."

"Yaudah."

Sesampainya di kantin, Jeno segera mencari tempat. Kebetulan banyak banget yang kosong, yang ke isi paling anak-anak yang belom sarapan di rumah. Dia emang belom sarapan.

"Mau apaan Jen?"

"Bubur sama teh angetnya aja."

"Oke, tunggu ya."

Haechan tuh bener-bener tau kalo Jeno lagi bete, jadi setiap Jeno lagi bete Haechan selalu nurutin aja kemauan Haechan. Dia udah tau Jeno luar dalem.

Jeno menopang dagunya, dengan bibirnya setia terus memaki Mark Lee. Entah kenapa bawaannya setiap melihat Mark Lee, Jeno ingin mengomel terus.

"Hay manis sendiri aja, pacarnya mana? Tapi kok manis-manis jomblo sih sayang, sini coba sama om." Mark mendadak muncul sembari mencolek dagu Jeno genit.

Dan seenak jidat, Mark duduk di depan Jeno sambil senyam-senyum ga jelas. Senyum sok kegantengan sih kalo kata Jeno.

Jeno memandang Mark tajam lalu berdiri dari duduknya dan menggebrak meja. Lantas merebut seluruh atensi para siswa lain. Tapi ketika mereka tau itu Lee Jeno, dengan cepat, mereka sibuk dengan makannya sendiri.

"Apaan sih colek-colek di kira gua sabun colek gitu?!" bentak Jeno.

"Idih manis-manis galak ya?"

"Mark plis deh, mending lo minggat aja dari sini!"

"Dih gamau suka-suka gua lah."

"Kan masih banyak bangku Mark!"

"Guanya gamau gimana dong? Lagian kan semua orang bebas milih tempat di mana, ga perlu dilarang."

"Au ah bodo serah lo aja."

Jeno kembali duduk dan membuang nafas kasar. Harusnya di depannya itu ada pemandangan tidak mengenakan dalam berupa wajah Mark Lee yang sekarang sedang menatapnya dengan pandangan aneh.

Sekaligus membuat Jeno risih, ia berusaha mencari pemandangan yang lain asal tak bertemu pandang dengan Mark.

Tapi hasilnya gagal, mereka sering tak sengaja bersitatap.

"Bisa ga sih jangan liat-liat!"

"Dih orang gua punya mata yang ngeliat lah," ucapnya. "Ngeliat muka manis lo, anjir es teh tuh ga perlu pake gula lagi kalo di depan gua sekarang jauh lebih manis."

Dasar playboy, batin Jeno.

Jika yang lain akan keburu meleleh, lain dengan Jeno, dia mempertahankan ekspresi datarnya. Meski tak dapat di pungkiri wajahnya juga mendadak panas di puji demikian.

Jeno memutar bola matanya. Nah sekarang Haechan mana? Kok belom muncul-muncul. Ini Jeno udah keburu laper.

"Jeno belom sarapan ya?"

"Belom, dan itu bukan urusan lo." jawabnya ketus.

Mark meringis. "Urusan gua juga lagi sekarang," ujarnya. "Mau gua pesenin ga?"

"Ga perlu udah ada Haechan yang pesenin—nah tuh orangnya juga udah dateng!"

Haechan menaruh makanan serta minuman pesenan Jeno. Doi sendiri hanya membeli batagor. Cuma buat iseng-iseng aja sih. Dari pada cuma ngeliat Jeno makan, entar dia ikutan ngiler lagi.

"Eh ada kak Mark. Hay kak!" Sapa Haechan.

"Oh hay juga Haechan! Lo duduk di di sini dulu ya jagain Jeno nanti gua balik."

"Sip kak!"

Jeno memukul punggung Haechan keras. "Chan! Apaan sih tadi!" katanya setelah kepergian Mark.

"Dih orang bukan apa-apa juga."

Jeno tak menjawab dan mulai menyantap bubur yang di pesankan Haechan. Sedangkan sahabatnya itu menopang dagu dan melihat aktifitas Jeno.

Haechan mencondongkan wajahnya, "tadi kak Mark ngomong apa aja?"

"Pokoknya itu obrolan yang ga penting."

Haechan berdecak. "Sumpah deh Jen lo itu galak banget, jangan galak-galak banget apa jadi orang."

"Suka-suka gua, siapa lo hah?!"

Haechan sih udah kebal di jutekin sama Jeno. Jadi dia ga ngejawab ucapan sahabatnya tadi. Kebal sih kebal tapi kadang Haechan suka sakit hati saat ucapan Jeno makin nyelekit.

Tak berapa lama, akhirnya Mark kembali datang dan mendudukan diri di depan Jeno, sedangkan Haechan pindah di samping sahabatnya itu meski dengan jarak yang sedikit jauh. Seolah memberi kesempatan pada Mark.

Cowo bule itu membawa makanan yang sama, dengan rasa tak bersalah, Mark menyantap makanannya tanpa memperdulikan tatapan Jeno yang menajam.

"Jen gua balik ke kelas duluan ya?" Haechan yang seolah tau dengan situasi ini bergegas pergi dari sana.

Jeno belum sempat mengumpati Haechan, tapi sahabatnya itu sudah menghilang lebih dulu. Ia menghela nafas kasar dan melanjutkan acara makannya.

"Kenapa harus di sini sih?"

"Kan suka-suka gua."

"Kan masih ada tempat yang lain Mark."

"Ga mau, maunya di sini."

Karena di suguhkan oleh wajah Mark Lee, Jeno kehilangan selera makannya. "Ga nafsu makan gua nih ada lo."

Mark menghentikan aktivitasnya sejenak dan memandang balik Jeno. "Gua bakal pergi, tapi lo harus makan!"

"Tuh tau diri. Sono lo pergi!" usir Jeno.

Mark mengangkat nampannya dan pindah ke meja lain. Yang tak jauh letaknya dari Jeno agar ia bisa leluasa mengawasi cowo manis itu. Mark gatau suka sama Jeno bakal sesusah ini.

Setelah kepergian Mark, menyisakan sedikit perasaan bersalah pada diri Jeno, tapi ia menepisnya dan tak ingin perduli lagi.

Jeno mengangkat kedua bahunya acuh dan melanjutkan acara sarapannya.

–OoO–

Bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, tetapi Jeno masih saja berdiri sambil bersandar di pintu kelasnya. Menatap koridor yang lenggang. Hanya ada anak-anak yang belum pulang saja yang berlalu-lalang.

Jeno memang sudah lelah, ia ingin segera beristirahat. Tapi sesuatu menahannya hingga ia masih di sini sampai sekarang.

Kalau ingin tau, ia sedang menunggu kedatangan Mark Lee.

Selain berangkat sekolah bersama, orang tuanya menyuruh untuk pulang bersama Mark juga. Padahal ia muak semobil dengan makhluk menyebalkan satu itu.

Jeno berusaha untuk menunggu lebih sabar lagi, bukan ia yang harus menemui Mark, tapi Mark yang harus menemuinya.

Seperti yang di katakan cowo itu saat tadi pagi.

"Nanti pulang gua ke kelas lo. Jangan kemana-mana!"

Mark Lee berbicara seperti itu dengan penuh penekanan. Jadi Jeno mengangguk-angguk saja.

Itu lah kenapa Jeno masih ada di sini. Sebelum itu Haechan sempat menawarkan diri untuk menemaninya, tapi Jeno menolak, karena ia sudah cukup merepotkan Haechan hari ini.

Apalagi mood-nya hari ini benar-benar naik turun. Tak tertebak. Kadang Jeno bahagia, kadang suka marah-marah, kadang mendadak diam.

Jadi lah Haechan pulang duluan.

Jeno berdecak sebal atas keterlambatan Mark Lee dalam mejemputnya.

Ia membuang nafas kasar dan menghentakan satu kakinya ke lantai, kesabarannya sudah mulai menipis.

"Kemana cowo brengsek itu hah?!" pekik Jeno.

"Sudah dulu ya cantik hari ini, aku pulang dulu, kamu juga harus lekas pulang ya cantik."

"Iya, tapi nanti janji ya kak Mark telepon aku?"

"Iya cantik."

"Yaudah, aku dulu kak."

"Hati-hati di jalan sayang~"

Jeno menolehkan kepalanya patah-patah begitu suara yang sangat ia kenali terdengar. Apalagi tadi nada suara Mark Lee tadi yang di manis-maniskan.

Menjijikan.

Cowo itu sedang menggoda salah satu cewe di angkatan Jeno. Seo Herin namanya—Jeno tau dari suaranya.

Entah kenapa ia mendadak merasa aneh saat Mark mencolek dan mengacak-acak rambut cewe itu. Entahlah, rasanya tidak enak.

Mark tiba-tiba sudah berdiri di depan Jeno. Sambil menyunggingkan senyuman manisnya.

Jeno sudah keburu kesal dengan Mark, kemudian ia berjalan berjalan duluan dan sengaja menubrukan bahu mereka.

"Eh Jeno tunggu dong!"

Jeno sengaja mempercepat langkahnya. Bertatap muka dengan Mark Lee malah membuatnya tambah kesal. Apalagi mengingat kejadian yang tadi, Jeno ingin menonjok wajahnya hingga babak belur dan memakinya.

Sikap Mark Lee yang sangat Jeno benci.

Cowo bule itu playboy sangat, setiap hari korban godaannya itu berganti-ganti.

Tapi yang Jeno dengar, Mark sama sekali tidak memacari salah satu korbannya itu.

Singkatnya, dia itu tipe-tipe cowo PHP.

Mark hanya melambungkan hati mereka, lalu setelah ia tau bahwa korbannya sudah terjatuh dalam perangkap, Mark lantas meninggalkannya.

Banyak yang sakit hati.

Tapi masih ada saja yang menaruh sedikit harapan pada Mark.

Mark menangkap pergelangan tangan Jeno dan menyentaknya hingga kini Jeno berhadapan dengan Mark.

"Apa lagi?"

Mark mengambil nafas pelan-pelan. "Tungguin gua bisa kan? Gausah pake jalan cepet-cepet gitu?"

"Lo nya aja yang jalannya kelamaan." Jeno menyentak tangan Mark. Tapi usahanya gagal karena cowo itu memegangnya erat. Jeno berusaha tenang, "lepasin Mark!"

"Ga!"

"Apa yang harus gua lakuin supaya lo ngelepas genggaman itu?"

"Jalan di samping gua, samain langkahnya!"

Jeno memutar bola matanya dan berdiri di samping Mark. "Udah kan? Sekarang lepasin!"

Mark melepas cengkraman tangannya. "Nah gitu dong, ayo!"

"Hmm..."

Tadinya Mark ingin membukakan pintu mobil untuk Jeno, tapi cowo manis itu sudah lebih dulu membukanya dan membuat Mark akhirnya pasrah.

Suasana di dalam mobil cukup hening, Jeno menutup matanya. Ia sudah menahan kantuk sedari tadi, tubuhnya terasa sangat letih. Samar-samar, ia bisa mendengar lagu yang terputar di radio.

Dan beberapa menit kemudian, ia terlelap.

Mark melirik kearah sampingnya—tempat Jeno berada, ia tersenyum kecil, mengamati wajah damai Lee Jeno saat tertidur. Benar-benar manis, dan ya tanpa ada raut-raut jutek di sana. Sangat polos.

Ah, Lee Jeno memang sangat manis—aslinya, tapi setiap di sekolah dia selalu menampakan wajah galak yang membuat kemanisannya tak terlihat.

Mark Lee berusaha mempertahankan fokusnya pada jalan raya, karena berkali-kali ia mendapat klaksonan dari para pengemudi lain. Karena wajah Lee Jeno yang sedang tertidur jauh lebih menarik dari apapun.

"Manis, gua suka." gumamnya.

–OoO–

Sesampainya di basement apartemen, Mark mematikan mesin mobilnya dan melihat ke arah samping. Ia ingin membangunkan Jeno, tapi rasanya tak tega. Cowo manis itu pulas sekali, tampaknya Jeno kelelahan.

Mungkin ia memang harus mengendong Lee Jeno bukan?

Mark mengambil nafas pelan-pelan. Mau tak mau ia harus melakukan ini.

Mark mengangkat tubuh Jeno ala bridal style. Untungnya Mark Lee ada seorang tipe cowo yang rajin nge-gym setiap waktu luang, mengangkat tubuh Jeno sama sekali tak membuatnya keberatan.

Aslinya sih lumayan berat.

Lee Jeno bukan gemuk kok, di mata Mark, Lee Jeno itu montok.

Untungnya lift apartemen mereka sudah di perbaikin dan berjalan seperti biasanya, jadi ia tak perlu menaiki tangga. Kalau tanpa membawa beban berat sih tak masalah, yang sekarang ini kasus Mark adalah menggendong tubuh Lee Jeno.

Ting!

Pintu lift terbuka dan Mark melangkah masuk bersamaan dengan seorang wanita di belakangnya. Ia sedikit kesusahan ketika ingin menekan lantai apartemennya, "nona, bisakah kamu menekan lantai tujuh?" tanya Mark to the point.

Wanita itu dengan cekatan menekan angka tujuh beserta lantai apartemennya. "Dia kekasihmu atau—" wanita itu menggantungkan kalimatnya dan memberi pandangan aneh.

Dan Mark cukup mengerti arti tatapan wanita itu. "Oh dia temanku oke? Jangan berpikir macam-macam."

Mark juga tak ingin di cap sebagai siswa yang berkelakukan bejat, mana lagi mereka sama-sama memakai seragam. Mau di kata apa nanti dia jikalau wanita itu menyebarkan gosip yang tidak-tidak hanya berdasarkan yang ia lihat tanpa mendengar penjelasan langsung dari Mark? Makanya tadi ia cepat menjawab untuk mengklarifikasi.

Wanita itu terkekeh. "Oh, ya, tenang saja."

Mark menghela nafas lega, dan Ting!

Lift berbunyi menandakan Mark harus segera pergi dari sini. "Oh, hey aku duluan.."

"Ah iya.."

Mark bergegas menuju kamar apartemen mereka, dengan cepat ia mengetikan sandi lalu melangkah masuk ke dalam, dan menutup pintu menggunakan kaki.

Ia harus membaringkan Jeno di kamarnya, tapi setau Mark, kamar Jeno terkunci sekarang dan ia tak tau dimana Jeno menyimpan kunci itu.

Karena tubuhnya juga sudah lelah belum lagi dengan beban yang ia bawa ini, Mark memutuskan membaringkan tubuh Jeno di kamarnya saja.

[a/n: hay! btw, kalo yang masih nanya ini GS atau yaoi, aku perjelas ya, ini yaoi kok sayang hehe:) Dan aku usahain buat update cepet buat kalian semuaaa! luv ya️]