Jeno membuka kelopak matanya secara perlahan, lalu berusaha mengumpulkan fokusnya kembali. Seingatnya tadi ia ketiduran di dalam mobil, dan setelahnya ia tak tau lagi.

Tapi yang sekarang, ia sudah berada di atas kasur yang empuk, Jeno mengangkat tubuhnya dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.

Tidurnya sangat nyenyak omong-omong, Jeno mengucek-ucek matanya dan melihat kearah jendela.

Hari sudah malam. Oh astaga kenapa tidak ada yang membangunkannya saja tadi? Saking pulasnya ia tertidur dari pulang sekolah dan bangun saat malam tiba.

Bisa di pastikan Jeno akan begadang malam ini. Sekalian mengerjakan tugas-tugas sekolah yang belum selesai, mungkin dengan cara itu tubuhnya bisa cepat lelah dan kantuk menyerang.

Ya, soalnya setiap melihat buku matematika saja matanya mendadak mengantuk. Entah karena pengaruh apa, tapi giliran main ponsel, matanya sama sekali tak lelah.

Jika mengerjakan tugas tak bisa membuatnya mengantuk, Jeno bisa berlarian atau menghafalkan koreografi. Apapun itu ia lakukan asal bisa membuat matanya cepat mengantuk.

Jeno sedikit menyesali pilihannya untuk tertidur tadi, harusnya ia menahan itu agar cepat tertidur nanti malam. Jeno takut jika ia begadang, saat esok sekolah ia terlambat.

Jeno masih mengumpulkan nyawanya di atas kasur, samar-samar ia mendengar suara percikan air yang berasal dari kamar mandi, mempertandakan ada orang mandi di dalam.

Tapi setelah itu ia mendengar suara pintu yang terbuka.

Lalu terpampanglah Mark Lee yang hanya berbalut handuk di pinggangnya, sedangkan tubuh bagian atasnya terbuka. Dengan perut yang sudah terbentuk oleh abs, dan jangan lupakan lelehan air yang menuruni lehernya.

Jeno membulatkan bola matanya dan menutup mulutnya, berjaga-jaga takut tiba-tiba ia berteriak. Oh sungguh tubuh Mark di depan sana sangat menggoda iman, dan bolehlah jari Jeno bermain di atas dada bidang itu?

Terkutuklah pikiran Jeno yang tiba-tiba merambat ke mana-mana. Kenapa ia masih sempat membayangkan hal yang tidak-tidak di saat seperti ini?!

Harusnya ia belum bangun tadi, harusnya Jeno kembali tidur dan terbangun saat Mark sudah keluar dari kamar dan juga saat cowo itu berpakaian lengkap.

Omong-omong berbicara soal kamar. Jeno segera menelaah ruangan ini dengan cepat.

Kenapa warna dindingnya berwarna abu-abu? Dan bukan warna biru, kenapa lemarinya itu penuh dengan komik-komik—yang sepertinya memiliki rating tinggi? Dan juga bukan koleksi novelnya miliknya.

Sedangkan Jeno tak pernah mengoleksi hal-hal seperti itu. Biarpun ia sudah remaja.

Dan yang paling penting, kenapa meja belajarnya berantakan? Jeno sangat rajin membereskannya omong-omong.

Ia mengalihkan pandangan kearah sekitar kasur. Kenapa boneka teddy bear besar yang selalu setia menemaninya tiap malam itu?

Jeno masih berpikir. Ia berusaha menyadari sesuatu, kamarnya ini aneh. Seperti bukan kamarnya. Juga kamar ini berantakan, padahal Jeno juga rajin membereskannya.

Ia bisa mengambil satu kesimpulan.

Bahwa ia bukan kamarnya.

Tapi masa sih ia terdampar di kamar orang lain? Tak mungkin.

Apartemennya mempunyai dua kamar, dan kedua kamar ini terisi. Kamar yang satu di tempati oleh Jeno sendiri.

Dan yang kedua, dengan Mark Lee.

Oh ya, Mark Lee rupanya tinggal bersamanya di sini.

Jeno mengedipkan matanya berkali-kali.

Ia baru sadar ia berada di kamar seorang Mark Lee. Omong-omong cowo yang bersangkutan itu masih belum memakai pakaian.

Ternoda sudah mata polos nan suci milik Jeno. Jeno sudah berjanji pada dirinya untuk tak melihat hal-hal kotor sebelum waktu yang tepat.

Tapi ia sendiri yang mengingkari prinsip itu.

Memang sih kebanyakan remaja zaman sekarang memiliki hormon yang tinggi dan rasa ingin tau sedangkan berusaha menekan rasa penasaran itu karena menurutnya itu hal yang tak baik dan harus di hindari saat masa sekarang.

Walaupun begitu, tetap saja menurut Jeno, melihat tubuh atas seseorang saja sama dengan melihat video porno.

"Jeno udah bangun?"

Suara Mark menghancurkan segala pemikiran panjang Jeno. Cowo itu dengan santainya menaruh ponsel kembali dan mengacak-acak surainya yang masih basah.

Jeno berusaha keras untuk melihat kearah lain asal jangan kearah Mark Lee. "Yang lo liat sendiri kan."

Tapi, ia sedikit goyah. Karena berkali-kali Jeno melihat kearah Mark—tepatnya kearah tubuhnya. Wajah Jeno juga mendadak panas.

Sisi iblis di dalam tubuhnya seolah menyuruh untuk melihat terus kearah tubuh Mark Lee, sedangkan yang sisi malaikat menyuruhnya untuk mengalihkan pandangan dan jangan sampai melihat kearah Mark Lee.

Tapi sisi iblis selalu menang. Dan Jeno gagal menuruti keinginan sisi malaikat yang jelas-jelas niatnya baik dan tak menyesatkan.

Tubuh Mark Lee benar-benar menggoda, menggoyahkan seluruh akal sehat Jeno. Tapi kesadarannya masih sangat penuh, mati-matian Jeno penahan itu semua agar tak semakin terperosok dalam nafsu.

Pemandangan cowo-cowo seperti ini memang jarang, jadi kita harus menikmatinya selagi bisa kan?

Lee Jeno, sadarlah! Batinnya menjerit.

"Suka apa yang lo liat tadi huh?" Seringaian terlukis apik di wajahnya. Mark berkali-kali memergoki Jeno yang melirik-lirik kearah tubuhnya.

Tidak sia-sia ia pergi ke gym setiap akhir pekan hingga memiliki tubuh ini dan membuat Lee Jeno terpesona karenanya.

Berkat Jung Jaehyun—kakak sepupunya—ia bisa seperti ini. Oh ingatkan Mark agar berucap beribu terima kasih pada Jaehyun.

Mark sudah berjanji agar membentuk tubuhnya sebagus dan sekekar mungkin—sejak hari ini, karena Lee Jeno hanya terdiam dengan wajah yang kaget—mungkin?

Sepertinya Lee Jeno kira awalnya ia hanya cowo yang malas berolahraga. Tapi tidak bung!

"Ini kamar lo?" tanpa menjawab pertanyaan yang di ajukan Mark barusan, Jeno sudah menyampaikan pertanyaan baru.

Mark mengangguk dan mendudukan dirinya di pinggir kasur.

Jeno bergegas mundur ke belakang dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. "Apa yang lo lakuin hah?"

Ia sudah panik ketika Mark mengangguk tadi. Pikirannya sudah memunculkan beberapa kemungkinan buruk yang terjadi. Jeno bingung selain melakukan apa -apa selain melindungi diri.

Di kamar cowo brengsek—yang pastinya terkunci, dan cowo itu hanya berbalut handuk.

Tebak beberapa kemungkinan yang terjadi ke depannya?

Rasanya Jeno ingin menangis bila salah satu pemikirannya itu benar-benar terjadi.

Jeno menyibakan selimut sedikit. Ia hanya memastikan saja kok. Perasaannya sudah tambah was-was sekarang.

Tubuh Jeno melemas, ia berusaha menangkal itu tapi hasilnya sama.

Seragam yang ia pakai sudah berganti dengan kaos putih dan celana boxernya.

"Apa yang lo udah lakuin ke gua hah?!" Jeno berucap dengan nada tinggi. Ia juga mempertahankan nada suaranya agar tak terdengar seperti menahan tangis, karena mungkin saja sebentar lagi Jeno akan menangis.

Karena Lee Jeno sama sekali tak ingin kelihatan lemah di depan Mark Lee.

Lee Jeno adalah sosok yang kuat dan tegas, yang tak akan bisa di tumbangkan oleh siapapun itu.

Mark merangkak dan mengurung tubuh Jeno. Bagi Jeno, wajah Mark Lee yang sekarang itu—benar-benar menyeramkan.

Lee Jeno sekarang ada dalam kungkungan Mark Lee. Hingga ia sama sekali tak bisa berkutik, wajah Mark juga dekat sekali dengan wajahnya.

"Menurut lo, apa yang udah gua lakuin ke elo Lee Jeno?" Bisik Mark seduktif.

Tubuh Jeno meremang mendengarnya. Jeno mencengkram selimut itu erat. Ia menelan ludah dan hanya memperhatikan Mark.

"Bagaimana kalau kita lanjutin permainan yang tadi sayang?"

Tangan Mark menggenggam selimut itu, seringainya bertambah lebar seiring dengan perubahan raut wajah Jeno.

"Tampaknya seru bukan? Gua bisa beri lo kenikmatan yang luar biasa, sayang.."

Mark semakin mendekatkan wajahnya dan wajah Jeno. "Masih diam baby? Berarti jawabannya iya bukan?"

Mark hendak menarik selimut itu, namun tak di sangka dengan tangkas Lee Jeno menendang selangkangannya keras.

Lee Jeno bergegas keluar dari kamar itu, ia membuka pintu (ternyata tak di kunci) dan membanting pintunya.

Menyisakan Mark Lee yang mengusap benda pusakanya. Tendangan Lee Jeno tak main-main, rasanya sakit sekali. Benar-benar nyeri sampai Mark tak bisa bergerak.

Masalahnya adalah: ini aset berharganya, masa depannya. Mark masih meringis. Bagaimana ia menjebol Jeno bila pusakanya begini?

"Burung gua anjir!" kata Mark. "Takut penyok woy, aset berharga banget ini! Gawat kalo sampe kenapa-napa!"

Mark masih mengelus pusakanya itu. "Tenang sayang, Daddy bakal nyembuhin kamu kok."

–OoO–

Jeno sudah memasuki kamarnya, dan mengunci kembali pintu kamarnya. Ia tak tau mendapat ide dari mana untuk menendang selangkangan Mark Lee, yang pasti sesuatu berhasil mendesaknya agar melakukan cara tersebut.

Setidaknya Jeno sudah terbebas dari Mark Lee sekarang. Sudah berhasil melindungi dirinya.

Karena hal tersebut Lee Jeno takut akan Mark Lee, ia takut Mark Lee akan melakukan sesuatu yang buruk kepadanya.

Tapi apakah Mark berhasil menjebol Jeno? Tapi kok saat ia tertidur kenapa Jeno tak merasakan apa-apa?

Oh ya, fyi aja sih, Lee Jeno itu kalo udah tidur bakal kayak orang mati. Maksudnya bener-bener ga bisa di bangunin, karena cuma Jeno sendiri yang bisa bangunin dirinya.

Untung saat hari sekolah ia bisa mengendalikan diri agar ga kebablasan tidur.

Apa bener Jeno udah ga perjaka? Apa bener Mark Lee berhasil melihat tubuhnya secara menyeluruh? Apa benar Mark berhasil menodai tubuhnya?

Mungkin saat selesai menikmati tubuh Jeno, Mark langsung memakai kan bajunya kembali agar Jeno tak menyadari itu—setidaknya itu sekarang yang Jeno asumsikan.

Jeno itu bener-bener ngejaga dirinya buat tetep perjaka sampe doi nikah. Tapi kenapa saat masih sekolah keperjakaanya udah hilang?

"Bun, Yah, maafin Jeno yang ga bisa jaga keperjakaan Jeno.." gumamnya menahan tangis.

Jeno udah lemah kalo udah begini, dia keinget bunda sama ayahnya yang bakal kecewa karena Jeno ga bisa jaga dirinya.

Walaupun Jeno emang kadang suka ngebangkang perintah mereka, tapi di lubuk hatinya dia masih sayang banget dan ga pengin ngecewain.

Kalo nilai buruk, Jeno masih bisa memperbaikinya lah, tapi kalo kasus ini beda lagi. Ga bisa perbaiki, kalo udah rusak ya rusak.

"Ini semua karena salah Jeno juga yang ketiduran, salah Jeno kalo tidur tuh kayak orang mati, jadi Jeno ga bisa ngehindar.."

Yang merengut ini semua tuh Mark Lee, si iblis yang ternyata berkedok manusia.

Jeno membenamkan wajahnya di kedua lututnya, lalu menangis sejadi-jadinya. Jika ia ingin mengamuk pada Mark juga percuma, udah terjadi, waktu ga bisa di putar kembali.

"Dasar manusia bejat!"

"Brengsek!"

"Bajingan Mark Lee!"

"Keparat!"

"Bangsat!"

Dan beserta anggota kebun binatang di absen oleh Jeno tanpa terkecuali.

Jeno memeluk tubuhnya. "Bun, Yah, Jeno udah ga suci lagi, Jeno udah rusak. Maafin Jeno Bunda, Ayah. Maaf Jeno bikin kalian kecewa..."

"Jeno ga maksud gitu bun, yah, Jeno bener-bener minta maaf..."

Di bayangannya ada raut kedua orang tuanya yang menatap Jeno penuh kekecewaan itu. Dan tangis yang tak terbendung dari bundanya, juga gurat emosi di wajah ayahnya.

Jeno ga kuat kalo ngeliat bundanya nangis. Kalo bundanya udah kecewa sama Jeno, si bunda yang bakalan nangis.

Kalo ayah, emang jarang—bahkan berusaha buat ga nangis di depan keluarnya, tapi Jeno tau, sekalinya ayah marah bakalan serem.

"Terus gua harus gimana..."

Jeno bener-bener bingung, pikirannya buntu, dia sama sekali ga bisa mikir jalan keluar dari masalah ini tuh apa.

Ngadu sama bunda dan ayah? Yang ada Jeno malah nyari mati, ga mungkin dia menelepon mereka dengan membawa kabar buruk seperti ini.

Mencoba berdiskusi dengan Mark? Plis, Jeno masih trauma akan perbuatan Mark tadi. Ia tak ingin melihat wajah Mark Lee untuk sementara waktu ini.

Haechan!

Jeno buru-buru mengambil ponselnya dan mengetik nomor Haechan. Curhat dengan sahabat pasti akan membuat bebannya terasa terangkat sedikit, mungkin?

Tersambung! Jeno memekik riang dalam hati. "Haechan, angkat tolong!"

"Halo?"

Jeno menghapus air matanya dan berdehem sebentar. "Halo, Chan?"

"Iya Jeno kenapa?"

"Lagi ngapain lo?"

"Ngerjain tugas, terus tiba-tiba lo nelepon gitu aja.."

Jeno cemberut. "Emang kalo gua nelepon lo, gua ganggu gitu?"

"Iyalah, mana ini tugasnya susah banget lagi. Lo mecahin konsentrasi gua tau ga sih?!"

"Ih Haechan, gitu banget emang masalah banget apa?"

"Ini matematika Jen, btw lo udah ngerjain tugas ini belom?"

"Tugas matematika yang mana dah?"

"Yang halaman 169 itu lho!"

Jeno berpikir sejenak. "Oh yang itu, udah dong! Gua mah anak rajin, emang elo ngewarnet mulu!"

"Iya dah bwang.. gua tau lo jago bwang.."

"Emang kenapa Chan?"

Di sebrang sana Haechan cengengesan. "Hehe, bisa lo fotoin ga? trus kirim ke line gua? Plis banget Jen~"

Jeno memutar bola matanya. Ia sudah menduga Haechan ingin nyontek tugas. "Nyontek mulu! Kerjain sendiri ngapa!"

"Susah Jen, gua sama sekali ga ngerti..."

Idih mana suaranya sosoan di manis-manisan lagi, Jeno malah merinding dengernya. "Yaudah nanti gua fotoin dah.."

"Haechan sayang banget sama Jeno~"

"Tayi lo jing.."

"Yaudah Jen, lo pengin apa? Kok tiba-tiba nelpon—wah biasanya ada yang aneh nih kalo udah begini! Ayo cepet cerita!!"

Jeno tersenyum tipis, Haechan itu paling pengertian banget. Tambah sayang kan Jeno sama sahabatnya yang satu itu.

"Tadi gua liat berita, banyak ya anak sekolah yang udah hamil di luar nikah atau udah ga suci gitu.."

"Eh, seorang Lee Jeno nonton berita? Ga salah nih? Apakah ini akhir-akhir berakhirnya dunia?"

Haechan bisa aja ngebuat mood Jeno tambah membaik. "Anjir lo ah! Ga pa-pa suka-suka gua!"

"Biasanya juga nonton kartun juga, kesambet apa lo?"

"Lo kalo ngomong suka bener ye?"

"Jen, apa sih yang ga tau tentang lo hah? Gua tau lo luar dalem."

"Lo ga tau isi hati gua—EH HAECHAN LO PERNAH NGINTIP GUA MANDI YA?!"

"Eh jangan salah pengertian dulu njer, maksud gua bukan gitu astaga. Biarpun otak gua isinya bokep semua tapi gua ga sebejat itu sampe ngintipin sobat sendiri mandi!"

"Hehe, ya kan gua kiranya gitu Chan.."

"Ye dasar lo nih ya."

"Menurut pendapat lo tentang pelajar yang udah ga suci itu gimana chan?"

"Ya mereka ga baik lah, masa depan mereka masih panjang tapi udah ngerusak tubuh mereka sendiri. Gua rada miris sih ya jujur, gimana itu reaksi bokap nyokapnya? Capek-capek nyekolahin anaknya tapi cuma dapet beginian doang rasanya percuma. Udah didik tapi malah begini."

"Haha, iya juga sih. Kasian ya bokap nyokap mereka.."

"Makanya jaga-jaga diri aja. Jadi galak-galak juga ga pa-pa kok Jen, anggep aja itu cara buat lo nge lindungin diri."

"Tapi lo suka protes sama gua kalo gua galak-galak."

"Lo galaknya ke orang yang berbuat baik sama lo, harusnya lo nanggepin mereka baik juga lah Jen.."

"Hehe, iya juga sih. Tapi ya ga pa-pa dong.."

"iya iya dah suka-suka lo aja maunya gimana. Tapi Jen, tumben banget lo bahas ginian ke gua.."

"Ya ga pa-pa, gua pengin aja. Siapa lagi yang bisa gua ajak sharing atau ngomongin beginian?"

"Sama om Taehyung dan tante Jungkook kan bisa Jen..."

"Ogah, gamau, entar gua malah di curigain atau di omelin nih ujung-ujungnya."

"Ah yaudah serahlah..."

"Hehe..."

"Gausah hehe-hehe lo woy.."

"Ett iya Chan.."

"Jen, jangan lupa fotoin ya nanti."

"Siap Chan."

"Jen, gimana rasanya satu atap bareng cogan kek kak Mark?"

Ketika nama Mark keluar dari bibir Haechan, Jeno terdiam. "Ya, biasa aja sih. Ga ada yang spesial."

"Eh serius ga ada apa-apanya? Dekel katanya pada sering ngeliat Mark nge-gym.."

"Hey, topik pembicaraan lo yang sekarang kemana woy?!"

"Hehe, lo ga pernah ga sengaja ngeliat kak Mark topples gitu?"

"Haechan Lee..."

"Oke, oke, Jen, gua ngerti iya. Jangan marah oke?"

"Chan, gua boleh tanya sesuatu?"

"Gausah tanya Jen, gua bakal dengerin semua curhatan lo.."

Haechan itu perhatian sumpah, dia ngertiin Jeno banget. Entah kenapa, hati Jeno menghangat.

"Misalkan aja ya, misalkan. Lo punya sahabat nih, tapi sahabat lo ini bisa di bilang nasibnya berakhir sama kayak remaja-remaja yang ada di berita tadi,"

"Maksud lo, yang udah kotor gitu?"

"Iya. Kira-kira apa yang bakal lo lakuin pada sahabat lo itu jika dia kayak gitu?"

"Karena di situ lo bilangnya gua punya sahabat, ya gua ga mungkin jauhin dia lah. Bagaimanapun jika di saat orang lain bakal ngejauhin dia gua bakal selalu ada di samping dia. Gua gamau ninggalin dia karena gua tau dia butuh penopang di saat yang lain malah menjauh."

"Kalo misalkan dia juga hamil di luar nikah dengan usia yang masih belia, gimana pendapat lo?"

"Gua bakal siap ngehajar orang yang udah buat sahabat gua jadi kek gitu lah. Kalo misalkan dia kabur dari tanggung jawab, dan ga ketemu, yaudah gua bakal bantuin sahabat gua itu. Dia juga lagi ngebawa nyawa di dalem perutnya, gua bakal jagain dia.."

Anjer, Haechan Lee benar-benar bisa membuat Jeno ngerasa tenang dan nyaman. Salahkah jika Jeno bisa saja jatuh ke dalam pesona Haechan Lee?

"Kenapa tiba-tiba nanyain gitu Jen?"

"Kan gua cuman minta pendapat lo aja Chan, ga pa-pa dong?"

"Ya ga pa-pa sih, tapi gua bisa merasakan hal yang sedikit ganjil di dalam pembicaraan kita tadi..."

Kalo punya saja sahabat dengan tingkat kepekaan tinggi macam Haechan gini, lo harus punya seribu alasan untuk mengelak atau mengalihkan pembicaraan itu. Begini aja Haechan tau pasti ada sesuatu yang aneh.

Bukan Jeno ga percaya sama Haechan, tapi rasanya dia belum siap aja mengungkapkan ini semua. Tunggu sampai Jeno, siap.

"Yaelah Chan..."

"Aneh aja Jen, ga biasanya lo nanyain gini."

"Haechan..."

"Yaudah, tapi kalo ada apa-apa langsung aja cerita oke? Gausah di tahan, gua bakal selalu siap nampung semua curhatan lo Jen.."

"Siap Chan!"

"Oke lah, gua tutup gua ya? Jangan lupa fotoin yaa!"

"Iya iya bawel, babay!"

"Bayyy~"

Jeno menutup sambungan teleponnya dan melemparkan ponsel itu ke sembarang arah. Jeno mengusap wajahnya kasar.

Bagaimana kalau Mark tidak memakai pengaman? Dan cowo itu menumpahkan cairan di dalam tubuhnya?

Pikiran-pikiran buruk semakin berkeliaran, membuat Jeno sama sekali tak bisa tenang lagi.

Tok tok tok

"Jeno? Bukan pintunya, biarin gua jelasin ini semua."

Itu suara dari orang yang sekarang sedang Jeno paling hindari, Mark Lee. Dan Jeno malas menanggapinya, masih takut.

"Jeno, plis? Kasih gua kesempatan oke?"

"Lee Jeno??"

Dan Mark masih berada di depan sana sembari mengetuk pintu berkali-kali. Jika Jeno sedang tak takut pada Mark, bisa jadi cowo itu sekarang habis Jeno hajar.

"Apa yang perlu lo jelasin lagi, Lee Minhyung? Semuanya udah jelas kan!" kata Jeno keras.

"Maka dari itu gua pengin lurusin semuanya ke elo, Jen. Plis buka pintunya.."

"Kalo lo malah ngapa-ngapain gua lagi gimana? Ini pasti cuma akal-akalan lo doang kan buat rusakin tubuh gua lagi?!"

"Jen, pegang omongan gua. Gua janji ga bakal ngapa-ngapain lo, ini gua serius Jen. Buka ya? Gua mohon Jeno."

Jeno memang sedikit ragu awalnya akhirnya memutuskan untuk membukakan pintu kamarnya. Meski dengan setengah hati, tapi mendengar suara Mark yang begitu, membuatnya luluh.

Jeno melilitkan selimut ke seluruh tubuhnya. "Lo pengin ngomong apa? Cepet dan jangan basa-basi!"

"Oke, tapi Jeno, plis ya lo tenang dulu Jen. Gua mohon ya plis?"

Saat Mark hendak menduduki pinggiran kasurnya, Jeno terpekik. "Diem di situ aja! Jangan deket-deket gua! Haram tau ga sih kalo kasur gua di sentuh sama lo."

Ucapannya benar-benar menusuk, sungguh, Mark ga main-main kalo rasanya hatinya benar-benar sesak. Segitu rendahnya kah Mark Lee di mata Lee Jeno?

"Jen, niat gua ke sini buat ngejelasin semua. Jangan gegabah gini, plis? Kita pelan-pelan aja ya?"

"GIMANA GUA BISA TENANG HAH KALO LO LAH PENYEBAB GUA GA SUCI LAGI?!"

Jeno meledak, Mark kira enak berada di posisi Jeno? Jika benar Mark tak memakai pengaman, bisa jadi mungkin Jeno akan mengandung nantinya. Tapi mau di kata apa sama orang-orang jika ia hamil di usia segini?

Malu Jeno, Mark mah dapet enaknya. Yang nanggung derita si Jeno, Mark bahkan bisa kabur jika ia hanya memakai Jeno sebagai pelampiasan nafsunya.

"Mark gua sama sekali ga bisa berpikir tenang...hiks..Mark gua takut.." isak Jeno, ia berusaha untuk menghambut laju air matanya, tapi akhirnya benteng pertahanannya hancur.

Lee Jeno, bercucuran air mata di depan Mark Lee. Lee Jeno menunjukan sisi lemahnya.

Mark akhirnya mendekat, melihat Jeno yang menangis karena ulahnya itu, rasanya ga enak. Ia akhirnya membawa tubuh itu ke dalam dekapannya, Jeno memberontak.

"Biarin gua nenangin lo Jen, plis ya, gua mohon banget sama lo.."

Mark mengelus punggung Jeno, dan menghirup harum dari rambut Jeno. "Lo bisa nangis sepuasnya dulu, nanti kalo udah tenang. Baru kita bicara."

Mark samar-samar mendengar suara isakan tangis Jeno, ia tak sengaja mengecup puncak kepalanya. "Lain kali, gua ga bakal nge buat lo nangis karena ulah gua Jen." gumam Mark. "Karena gua sayang lo." lanjutnya.

Setelahnya, Jeno mengangkat kepalanya dan menghapus sisa-sisa air matanya yang membekas. "Sekarang lo bisa ngomong, Minhyung."

"Lo bener udah tenang?"

"Udah, ngomong sekarang aja."

"Oke kalo lo yang maksa."

Mark memegang kedua bahu sempit Jeno. "Jangan potong omongan gua, ya?"

Jeno mengangguk.

Mark mengambil nafas. "Oke jadi begini, setelah lo ketiduran di mobil gua akhirnya ngegendong lo sampe sini. Gua ga tega ngebangunin lo yang tidur pules banget itu. Karena gua tau kamar lo terkunci, gua akhirnya ngebawa lo ke kamar gua," Mark menghentikan ucapannya sejenak.

Jeno sudah mengambil ancang-ancang untuk memotong omongannya. "Jangan potong Lee Jeno, gua belom selesai bicara."

"Karena gua ngeliat seragam lo basah banget sampe dalem, akhirnya gua ngelepas semua pakaian yang melekat di tubuh lo—kecuali boxer yang lo pake itu, gue ga ngapa-ngapain selain itu Jen, gua berani bersumpah!"

"Lo sama sekali ga grepe gua?" tanya Jeno ragu, bisa aja Mark ngarang cerita supaya tingkah bejatnya itu ga terdeteksi.

"Demi apapun gua cuman ngelakuin itu doang Lee Jeno, ga lebih!"

"Maaf udah ngebuat lo nangis, maksud gua tadi cuma buat bercandaan taunya lo malah anggep serius."

Bugh! Bugh! Bugh!

Jeno memukuli Mark dengan bantalnya, brutal. Ia sedang bernafsu membunuh seseorang sekarang ini, apalagi jika itu Mark Lee, Lee Jeno dengan senang hati melakukan itu.

"TAPI BERCANDA LO GA LUCU KUTU DUGONG! LO NGEBUAT GUA NANGIS! BALIKIN SEMUA AIR MATA GUA TADI YANG TERNYATA CUMA BUAT NANGISIN ITU! ANJ YE LU MARK!"

"GUA PANIK WOY! DASAR LO YA KUTU BERAS!!"

Mark berusaha melindungi dirinya dari pukulan Jeno, oh rupanya sekarang cowo manis itu menaruh dendam padanya.

Lagian Jeno-nya yang terlalu anggap serius, tapi mengerjai Lee Jeno benar-benar menyenangkan. Apalagi dengan cara yang seperti tadi, kapan-kapan Mark harus melakukan hal yang serupa lagi.

Jeno menjambak surai pirang Mark, "BENCI BANGET ASLI GUA SAMA LO IH!"

Mark dalam hati meratapi nasibnya yang nanti akan seperti apa, sepertinya hari ini ia akan habis di tangan Lee Jeno. Mark baru inget kalo Jeno ini tenaga badak. Untung Mark seme kuat perkasa dan rajin olahraga. Sudah teruji klinis, baginya tenaga Jeno yang begini belom ada apa-apanya (meski sakit juga sih).

"Iya Jeno iya udah plis gua sakit ini woy anjir Jeno!"

Jeno terus melancarkan serangannya secara bertubi-tubi, tapi dengan cekatan Mark menghentikan aksi itu dengan mencengkram tangan Jeno keras.

"Mark lepasin woy!"

Mark diam. "Jen, lo ga inget apa yang sebelumnya lo lakuin ke gua?" bisik Mark.

Jeno mengangkat satu alisnya. "Bhak emang gua ngelakuin apaan dah?"

Mark berdecak. "Pura-pura bego lagi dia."

Jeno melotot, Mark ngatain dia bego. Bego dari mana? Jeno otaknya encer gitu kok, ga pernah madol pelajaran kek Mark.

"Apa-apaan lo hah?!"

Mark menatap Jeno lekat-lekat. "Heh, lo sama sekali ga inget apa yang udah lakuin ke gua hah? Katanya otak lo encer kan? Berarti lo bisa inget hal itu dengan mudah."

Jeno berpikir sebentar. Kesalahan apa yang udah Jeno lakuin ke Mark? Seingetnya, yang ada Mark yang punya salah ke Jeno bukan sebaliknya.

Mark menghela nafas kasar, oh Lee Jeno belum juga mengingat—atau sengaja pura-pura lupa? "Baik, gua bakal bantuin lo buat ngeraih ingatan lo lagi."

"Yang mana sih Mark?"

Mark menyeringai, "lo tadi pas kabur itu, sebelumnya lo nendang burung gua." kata Mark penuh penekanan dengan jari telunjuk mengarang ke selangkangannya.

Jeno mengikuti arah telunjuk Mark dan wajahnya mendadak memerah. Dan ya, Lee Jeno baru ingat kesalahan yang ia perbuat. Menendang benda pusaka Mark Lee, tapi kan ia lakukan itu sebagai perlindungan diri.

"B-benarkah?" Jeno terbata-bata.

"Iya bener. Gua yakin lo tau kan, sakit Jen sumpah, masalahnya ini pas banget bener-bener kena burung gua."

Jeno meringis, ya tentu dia pernah merasakan hal itu dan sakit sekali. "Ya terus gua harus gimana?"

"Ya lo harus tanggung jawab, kalo misalkan kenapa-napa gimana?"

"Tapi apa yang harus gua lakuin Mark?" Jeno panik. "Iya, gua bakal tanggung jawab tapi apa yang harus gua lakuin?"

"Sekarang aja masih nyeri Jen, asli dah ga maen-maen gua."

"Gua harus ngapain ini Mark Lee?!?" Pekik Jeno. Ia memaksa otaknya berpikir keras.

Diam-diam Mark menyeringai, wah wajah Lee Jeno benar-benar lucu sekarang. Andai Mark sedang tidak mengerjainya mungkin Mark sudah mencubit kedua pipi itu.

"Terserah lo, asal bisa ngilangin nyerinya aja."

Jeno menelan ludah. "Iya oke, luruskan kaki lo bentar."

Mark mengikuti instruksi Jeno.

"Gua bakal coba ngilangin nyerinya ya.."

Sial, Jeno berkeringat dingin, mukanya panas, dan tangannya bergetar hebat.

Coba tebak apa yang mereka lakukan selanjutnya?

Ya, Lee Jeno berusaha mengobati nyeri di burung Mark Lee. Dengan Mark yang berkali-kali menggeram. Tangan Jeno sangat lihai omong-omong.

[a/n: aslinya bingung mau isi apa, tapi thanks buat yang udah ngikutin cerita ini kusayang kalian️]