Jeno masih menaruh rasa kesal terhadap Mark sampai hari ini. Pokoknya ia ingin membalas dendam para laki-laki karena sudah membuat air matanya terbuang sia-sia.

Dan ia sama sekali belum menerima permintaan maaf dari Mark, meskipun Mark sudah berkali-kali memohon pada Jeno agar memaafkannya.

"Sekarang lo mau apa lagi?"

Sekarang, sehabis pulang sekolah Jeno mengajak Mark makan eskrim. Karena cuacanya yang sedang sangat terik.

Jeno menjilat-jilati eskrimnya yang belum habis menggunakan lidahnya, ia begitu menikmati rasa manis bercampur dingin di sana. Ia hanya menatap Mark tanpa menjawab pertanyaan cowo itu.

Mark terdiam melihat aksi Jeno yang menjilati eskrim itu. Oke, salahkan jika Mark malah berpikiran kotor sekarang? Di tambah dengan wajah Jeno yang terlihat polos itu.

Jika akal sehat Mark sudah hilang, bisa jadi mungkin sekarang Mark sedang menggendong Jeno ke apartemen dan membuat cowo manis mendesahkan namanya.

Terkutuklah Mark dengan pikiran kotornya itu!

"Gatau. Tapi gua belum mau pulang," jawab Jeno sambil membuang eskrimnya yang sudah habis, ia mengambil tissue untuk membersihkan tangan dan mulutnya.

Mark tidak membawa mobil sekarang, ini bukan kemauannya, semua ini kemauan Tuan Putri Lee Jeno yang terhormat. Tapi ga pa-pa juga sih, dia bisa berlama-lama bersama Jeno.

"Gimana kalo kita sekarang ke mall?!" Mata Jeno mendadak berbinar, ia menatap Mark dengan penuh harapan.

Mark berdecak, ia menatap Jeno malas. "Ngapain sih ke mall? Mau cari cogan? Jen, di depan lo ini ada cogan lho padahal."

"Menggelikan sekali Mark, sejak kapan lo cogan hah?"

"Heh, banyak kali yang ngejar gua. Awas aja ya kalo lama-lama bisa jatuh cinta sama gua, karena ya, siapa sih yang bisa menolak pesona cogan?"

Jeno ingin muntah sekarang, serius, mendengar ucapan penuh kenarsisan yang keluar dari bibir Mark. "Geli gua jir dengernya."

Mark tiba-tiba merangkul Jeno. "Gausah sok ga akuin deh, gua tau kok lo seneng kan lama-lama deket sama gua? Denger ya Jen, lo adalah salah satu orang beruntung bisa deket sama gua. Lo harus bersyukur itu."

"Ew," Jeno memutar bola matanya malas. Yang ada Jeno merasa hidupnya semakin kacau bila ada Mark di dekatnya.

Mark masih merangkul Jeno, pose mereka lucu sekali. Perbedaan tinggi mereka kelihatan sekali, Jeno terlihat mungil sedangkan Mark yang tinggi menjulang.

"Eh Mark, gausah ke mall deh. Ke swalayan aja mau? Cemilan kita abis kan?"

Omong-omong persediaan camilan mereka nyaris menipis, mumpung sekarang ada waktu, Jeno mengambil kesempatan itu. Kalau sudah sampai di apartemen, yang ada dia malah malas keluar lagi.

"Ah bener, mau ke swalayan aja nih sekarang?"

Jeno mengangguk, ia melepas tangan Mark yang masih bertengger di bahunya. "Minhyungiee..." panggil Jeno pada Mark dengan manis.

"Kenapa?"

"Tapi gendong yaa?"

Mark mendelik. "Heh apa-apaan sih?!"

Jeno mendadak cemberut, "Minhyungie turuti saja ya kemauan Jeno. Kan Minhyungie udah ngebuat Jeno nangis semalem? Nanti Jeno aduin ke papa Namjoon lho~"

Tuh kan, Jeno tau aja kelemahan Mark. Setiap Mark nolak, Jeno selalu mengancam Mark dengan cara ini. Bukannya Mark takut, tapi kan ya nanti urusannya makin berabe. Malah mulut Jeno ember banget lagi.

Mark mengambil nafas pelan. Mark memberi tasnya pada Jeno dan berjongkok. "Ayo naik sini, katanya mau di gendong kan?"

Jeno tersenyum manis dan mengalungkan tangannya di leher Mark, ia menyembunyikan wajahnya di tengkuk belakang Mark lalu mengendusnya.

"Wah Mark, lo suka sabun stroberi ya?" kata Jeno setelah menghirup harum tubuh Mark.

"Enak baunya, makanya gua suka." Mark memegang kedua kaki Jeno untuk menahannya agar tidak jatuh. "Siap princess?"

"YA! Mark Lee, gua cowo ih!" Bibir Jeno mengerucut lucu, kesel kenapa Mark kadang selalu menjulukinya 'princess'. Padahal Jeno itu juga idaman kaum cewe di sekolah mereka.

"Yakin cowo? Lo manis banget tau ga sih Jen," andai Mark sekarang sedang tidak menggendong Jeno, Mark pasti sudah mencubiti pipi Jeno sepuasnya sampai empunya kesakitan.

"Au ah, terserah Mark aja." Jeno pasrah dan mengistirahatkan kepalanya di punggung lebar Mark. Nyaman sekali rasanya, betah ini Jeno lama-lama.

Mark tersenyum simpul tanpa sepengetahuan Jeno. Gemas sekali rasanya dengan tingkah cowo manis ini. Bagi Mark, Jeno itu manis, lucu, dan imut. Apalagi kalo udah senyum, meleleh Mark ngeliat senyuman Jeno.

Mark tuh suka sebel kalo Jeno udah sering senyum, doi langsung baper. Senyuman Lee Jeno itu candu seorang Mark Lee. Senyum Jeno tuh kek gula dan bikin nagih deh.

Sampe Mark tuh mantepin diri buat terus ngebuat Lee Jeno tersenyum.

Lee Jeno sepertinya sudah membuat Mark Lee gila, eh?

Mark Lee, iya si anak berandal sekolah yang suka madol sama suka telat tiap hari itu.

Tapi gini-gini Mark juga pinter kok aslinya, biarpun kadang suka ngelanggar, tapi kalo masalah nilai doi juga juara kok. Bidang akademik maupun olahraga, tapi Mark lebih sedikit unggul di olahraga.

Jeno yang iseng menusuk-nusukan jarinya ke pipi Mark. "Mark, Jeno iseng. Jadi Jeno pengin jailin Mark," Jeno menaruh dagunya di bahu Mark dan melanjutkan kegiatannya yang tadi.

Mark cuman ngangguk pasrah dan terima segala perbuatan iseng Jeno itu. Entah itu memainkan rambut Mark atau menusuk-nusuk pipinya.

"Mark?"

"Kenapa?"

"Lari dong sampe ke swalayan tuh, ga terlalu jauh kan?" pinta Jeno.

Soalnya dari tadi mereka jalan doang ga lari. Karena jaraknya hampir dekat jadi Jeno ingin Mark berlari sampai ke sana.

Mark mengangguk. "Pegangan yang erat ya princess, Mark bakalan lari kenceng nih."

Jeno mengeratkan pegangannya. Ia tersenyum riang, "jalan Mark~"

Dengan kecepatan penuh Mark mulai berlari kencang. Menerbangkan anak rambutnya juga Jeno. Berkali-kali Jeno terpekik karena saking kencangnya Mark Lee berlari.

Jeno menikmati belaian angin yang menerpa wajahnya. Ia tertawa riang, entah kenapa rasanya asyik aja gitu. Lain kali Jeno pengin lagi di gendong Mark kayak gini.

Setelah mereka sampai, Mark menurunkan Jeno terlebih dahulu. Lalu merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal. Jeno yang sadar akan itu langsung membantu Mark.

"Mark capek ya?" Tanya Jeno lembut. "Maaf Jeno tadi nyuruh Mark buat gendong Jeno."

Mark menggeleng dan tersenyum simpul, is mengacak rambut Jeno gemas. "Ga kok Jen, ga pa-pa. Udah ayok sekarang kita masuk," Mark menggandeng tangan Jeno dan mereka berdua melangkah masuk.

Jeno mendorong troli dan Mark mengekornya dari belakang. Mereka melihat-lihat cemilan-cemilan yang terpajang di sana. Sedikit bingung ingin mengambil yang mana.

"Mark, kita keabisan apa aja sih?"

Mark berpikir sejenak, mencoba mengingat. "Hmm, mie instan! Terus, susu di kulkas abis, cokelat abis, dan makanan ringan. Kayaknya cuman itu deh."

Jeno menatap Mark sedikit ragu. "Eh bener cuma itu doang? Males lho kalo harus ke kesini lagi."

Mark memutar bola matanya malas. Lalu ia menjawil hidung Jeno gemas. "Kalo ada yang kurang yaudah lo ambil aja sendiri. Oh iya, eskrim!"

"Ih Mark sakit!" ringis Jeno sambil mengusap hidungnya.

"Ew, lebay dah lebay." ledek Mark.

Jeno mengacuhkannya dan memilih mengambil makanan-makanan itu. Sedangkan Mark hanya mengikuti kemanapun Jeno pergi.

Terkadang mereka saling berdebat karena berbeda pendapat. Tak jarang mencuri atensi pengunjung yang lain. Banyak yang melirik ke arah mereka.

Apalagi Mark, cowo tampan itu menjadi pusat perhatian para cewe di sana. Mark sadar jadi pusat perhatian, jadi dia hanya menyungging senyum miring.

Sok kegantengan—padahal emang ganteng sih.

Jeno menangkap kok Mark yang bersikap sok cool karena banyak yang meliriknya dengan pandangan memuja. Dalam hati ia mengumpati sikap Mark yang begitu, rasanya Jeno ingin menjedukan kepala Mark Lee.

"Najis sok ganteng banget ew!" desis Jeno sambil menaruh dua kotak susu ke dalam troli.

Banyak juga ibu-ibu yang melirik aneh kearah mereka, terlebih karena mereka memakai seragam. Oh semoga saja mereka tidak berpikir macam-macam.

Di saat Mark sedang tebar pesona, hanya Jeno yang sibuk memilah-milih makanan.

Mark juga kadang suka mengedipkan matanya kala ada gadis yang suka menatapnya lama-lama.

Sudah Jeno bilang kan kalo Mark Lee itu tipe php?

Jeno memukul bahu Mark keras. "Jangan ngebaperin anak orang woy, cukup ya!" Ia sudah panas saat Mark sering memberikan wink pada gadis-gadis ituz

"Cemburu yaa? Ciyee~~" ledek Mark.

Jeno mendelik. "Dih ngapain cemburu, gua cuman bilangin doang jangan sering ngasih harapan kalo lo pengin baperin dia doang. Perasaan itu bukan mainan Mark."

"Jen denger ya, kita itu harus banyak-banyak tebar pesona sekarang ini, manfaatin kegantengan lo itu supaya menarik kaum cewe biar naksir sama lo. Jangan terlalu di bawa serius dulu lah, seriusnya mah nanti pas lo udah nikah dan mantepin pilihan lo. Sekarang banyakin selingkuhan juga ga pa-pa."

Jeno berdecak. "Ya itu emang lo-nya aja ya yang playboy!"

"Selama ganteng juga gaada yang nolak kan?"

"Bodo amatlah Mark, suka-suka lo aelah!" Jeno mendorong troli itu dan berjalan mendahului Mark, bisa gila dia lama-lama berdekatan dengan cowo pirang itu

Jeno berhenti lagi untuk mengambil cokelat, ini lah camilan yang sangat di perlukan, dan harus selalu ada dalam kulkas. Jika mood Jeno sedang buruk ia akan mengonsumsi cokelat itu sampai ia puas.

"Lee Jeno?"

Jeno menoleh ke samping ketika ada yang memanggil namanya. Maniknya langsung menangkap keberadaan seorang cewe yang berdiri tepat di sampingnya. Dengan rambut pendek berwarna cokelat itu.

Dan rasanya Jeno tak asing dengan cewe satu ini. Tapi siapa?

Si cewe yang memyadari raut bingung pada wajah Jeno langsung tersenyum simpul. "Lupa-lupa inget? Oh, Jeno, gua Jung Jaemi temen SMP lo."

Mendengar namanya saja sudah tak asing lagi, oke Jeno mencoba menggali seluruh ingatannya itu.

"Lo masih sama kayak dulu. Pelupa." ujar cewe itu. "Gua sobat lo yang pindah ke Jepang itu, masih lupa? Kalo lupa, jahat banget ya lo lupain gua."

Jeno mengerjab matanya beberapa kali. "Jung Jaemi?! Astaga lo apa kabar woy? Kapan lo balik ke sini kok ga kasih kabar?"

Jaemi tersenyum tipis. "Gua baik, gua ke sini sekitar sebulan yang lalu. Sorry ga ngabar, kontak kalian ilang semua."

"Dan dalam rangka apa lo balik?" Jeno dan Jaemi berjalan beriringan.

"Ga ada maksud apa-apa sih, kayaknya gua bakal pindah lagi ke sini. Lagi ngurus surat pindahnya."

Jeno menepuk bahu Jaemi. "Oh bagus deh kita bisa saling terus ketemu, kabar bang Jaehyun gimana? Baik kan?"

"Oh dia mah baik terus deh. Btw, lo ke sini kok sendirian aja sih? Bukannya sama—"

"LEE JENO!" Seketika ucapan Jaemi terhenti karena suara Mark sudah lebih dulu menginterupsi.

Cowo itu mendadak datang dan segera merangkul Jeno, tak lupa dengan pandangan menyelidik yang yang dilayangkan pada Jaemi. "Sayang kamu kemana sih? Aku cariin tau."

Jeno melotot ketika mendengar suara Mark yang menjijikan itu. Mana manggilnya pake aku-kamu plus sayang lagi, gimana Jeno ga ngerasa risih? Terlebih ada Jaemi di sini. Pasti cewe itu sudah beranggapan macam-macam.

Jaemi mengangkat alisnya, lalu dia mengangguk-angguk seolah mengerti dengan situasi ini. "Wah Jen, sekarang lo udah punya pacar ya?"

"Eh dia bu—"

"Eh lo temennya Jeno ya? Kenalin gua Mark, pacarnya Jeno." Mark sudah lebih dulu memotongnya dan mengulurkan tangannya.

Jeno menutup matanya sejenak, plis Mark itu selalu menyebabkan urusannya tambah ribet. Contohnya kayak sekarang, ngaku-ngaku pacarnya Jeno.

"Gue Jaemi, temen SMP Jeno." Jaemi membalas uluran tangan Mark dan menjabatnya.

Aslinya Jaemi ingin segera menuntut penjelasan dari Jeno perihal hal ini. Sejak kapan mereka berpacaran? Astaga, semenjak lost contact, mereka jarang bercerita satu sama lain. Dan ia kaget karena banyak sekali kabar mengejutkan di sini.

Mark masih setia merangkul Jeno. "Sayang, kamu udah selesai belanjanya?"

Dan ya, Jung Jaemi hanya nyamuk di sini. "Dan ya, sepertinya gua ganggu 'kencan' kalian di sini. Oke deh," Jaemi menepuk bahu Jeno. "Jen, Mark, gua duluan ya? Dan Jeno—" ia mendekatkan bibirnya pada telinga cowo manis itu. "Lo utang penjelasan sama gua?"

"Duluan ya?" Jaemi melangkah meninggalkan mereka berdua di sana. Jaemi melambaikan tangan dan di balas oleh Jeno.

Jeno langsung ngelepasin tangan Mark yang masih setia bertengger di sekitar bahunya, lalu doi natep Mark tajem, sedangkan yang di tatap sama sekali ga peka cuman cengengesan ga jelas gitu.

Asli pengin Jeno gamparin mukanya kalo bisa, sok-sokan watados banget mukanya.

"Kenapa Jen? Eh tadi itu siapa lo?" Tanya Mark.

"Temen gua, emang kenapa hah?" tatapan Jeno mulai sengit. Dia takut Mark punya niat buat ngebaperin Jaemi.

Mark mengangkat kedua bahunya, "ya ga pa-pa sih. Lagian kan gua juga udah punya lo ini, yang lain lewat Jen hehe."

Jeno ga ngebales ucapan Mark yang tadi, dia kelewat bingung maksud dari perkataan Mark itu apa. Jadi tatapan sengit itu perlahan berubah jadi tatapan bingung.

Yasalam, ini gimana si Mark ga jatuh cinta sama Jeno? Apalagi kalo matanya udah ngerjab-ngerjab polos itu, ngegemesin banget, persis kayak anak ilang di mall. Rasanya pengin banget Mark sayang-sayang gitu.

"Udah ah Jen, lanjut tuh. Keburu sore nanti."

Tanpa menjawab Jeno segera mengambil langkah, meneruskan kembali pencahariannya. Di belakangnya ada Mark yang setia mengekor itu sembari mengintai setiap pergerakan Jeno.

–OoO–

Sesampainya di apartemen, Mark segera melempar semua kantung belanjaan yang ada di tangannya. Gila aja itu semua dia yang bawa, mana banyak banget lagi. Jeno sama sekali gamau bantu.

Katanya sih ya gini:

"Kan lo udah bikin gua nangis kejer. Tanggung jawalah, ini tuh ga sebanding pas lo ngira lo udah ga perjaka."

Mau ga mau ya akhirnya Mark nerima juga sih itu semua. Sedangkan Jeno di jalan, berada di depan, seolah meledek Mark yang kesusahan di belakangnya.

Mereka nyampe nyaris pukul enam, kelamaan ngantri belom lagi jalan kaki ke apartemennya. Pengin naik bus tapi sadar biasanya bus tuh jam segitu udah penuh sesek sama orang-orang.

Jeno menaruh blazer sekolahnya di cucian kotor. Di sofa sana ada Mark yang tepar.

Jeno terkekeh melihatnya, puas akan Mark yang begitu. Jahat sih, tapi jahatan mana sama Mark?:)

Ia memutuskan untuk ga gangguin kegiatan Mark yang sekarang, terbesit rasa kasihan pada cowo pirang itu. Hari ini Jeno cukup banyak merepotkannya, tapi Mark sama sekali ga protes.

Jeno akhirnya melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tubuhnya sangat terasa lengket sekarang, tak betah jikalau harus menahannya lama-lama.

Mark mengantuk, ia ingin tidur lebih awal tapi perutnya kosong dan badannya lengket. Ingin memasak tapi tubuhnya sama sekali tak ingin berpisah dari sofa ini.

Mark menutup matanya sejenak dan menghirup nafas dalam-dalam, mengamati langit-langit ruangan itu dengan pandangan kosong.

Lee Jeno benar-benar berniat membuatnya menderita. Sepertinya dendam itu sudah terbalaskan. Oke, Mark kapok karena sudah membuat Jeno menangis.

Beranjak dari tempatnya dan mengambil kantung plastik itu, lalu menuju dapur. Mark lapar omong-omong, tapi ia bingung apa yang harus ia masak untuk makan malam hari ini?

Semalam, Mark hanya membuat bubur. Karena itu perintah Tuan Putri Lee Jeno yang terhormat, ga nendang sih sebenarnya. Tapi ya Mark mah pasrah aja. Alesannya sih Jeno mendadak pusing abis nangis, jadi nge-request bubur.

Omong-omong, Mark gitu-gitu jago masak kok dia. Walaupun keliatan playboy, tapi dia sebenarnya suamiable lho. Salah satunya adalah pinter masak, mengolah bumbu dapur adalah keahliannya.

Rasa makanannya?

Nanti coba kita dengar pendapat Lee Jeno;)

Mark akhirnya memutuskan untuk mencoba memasak nasi goreng. Untungnya tadi dia bangun pagi.

Mark bingung sumpah, tapi kepengen makan nasi goreng juga sih.

Setelah matang, ia mematikan kompor dan mengambil dua piring, lalu menyendokan makanan itu ke atas piring. Sebisa mungkin porsinya sama-sama pas.

Karena Lee Jeno bilang, porsinya ga boleh kurang ga boleh lebih, harus bener-bener pas.

Salah dikit aja, Mark udah di gibeng kali sama Jeno.

Ia menaruh piring itu di atas meja dan menyediakan dua gelas yang sudah terisi air.

Idaman banget? Duh iya dong.

Dateng-dateng Jeno udah tinggal menyantap aja, gausah repot-repot ambil ini-itu.

"Minhyungie?"

Mark menoleh dan mendapati Lee Jeno yang sudah tampak jauh lebih segar dan ada handuk yang tersampir di pundaknya. Wangi harumnya aja kecium sampe sini.

Cowo manis itu mendekat dan menyodorkan handuk itu pada Mark, Mark mengambilnya. "Mandi dulu sana ya, sorry gua ngerepotin lo seharian." ucapnya sambil memainkan surai pirang Mark.

Otomatis, senyuman Mark langsung terukir. Ia berdiri, "kalo udah laper makan aja duluan. Gausah nungguin gua ya?"

Jeno mengangguk, ia mendorong-dorong tubuh Mark. "Udah sana mandi ah, bau lo tuh udah sama kayak comberan depan sekolah!"

Mark cuma bisa senyum pasrah.

Jeno duduk di kursinya dan mengambil alat-alat makan. Ia menaruh alat itu di piringnya dan piring Mark.

Ia menopang dagu, mutusin buat nungguin Mark selesai mandi. Makan sendiri ga enak, keliatan banget Jeno jomblo-nya.

Palingan juga Mark kalo mandi tuh asal kena air doang, pernah tuh di suatu pagi Mark mandi cuma lima menit.

Ya waktu itu itu gara-gara udah pengin telat, hehe.

Pokoknya mandinya ga sampe sejam aja. Kalo Jeno sih, di kamar mandi lama. Dia mah banyak kegiatan di dalem sana.

Jeno ngembungin pipinya lucu, menaruh dagunya di atas meja. Meniup-niup poninya, bosan.

Mark lama. Padahal Jeno udah laper gini.

Tapi ga enak aja kalo makan duluan. Jeno harus gimana? Nasi gorengnya menggoda iman banget. Nyaris goyah kalo Jeno ga cepet sadar.

"Jeno? Kok belom di makan sih?" Tiba-tiba Mark narik kursi di depannya dan lekas mendudukan diri di sana.

Ia sedikit mencondongkan tubuhnya, "kalo udah laper makan aja, gausah pake nungguin gua.."

Jeno mengangguk, lalu mengambil alat makannya. "Makan duluan ya Mark?"

Mark mengangguk. "Iya Jen."

Jeno menyuapkan makanannya, lalu mengunyah, meresap setiap rasa di dalam makanan itu. Sesaat, ia di buat terpana.

"Enak ga?" Tanya Mark di sela-sela kunyahannya.

Faq

Ini Jeno mesti jawab apa?! Jawab jujur pengin tapi nanti Mark godain dia, serba salah Jeno tuh. Lagian gengsinya juga ketinggian sih.

Hehe.

Ena.

Pake banget.

Jujur dalam hati sih gitu, tapi gatau deh kalo di mulut gimana. Mulut Jeno kan tajem.

"Lumayan."

Beda di hati beda di mulut. Jeno tuh ga bisa ngelepas gengsinya begitu aja.

"Iyakah?"

Jeno mengangguk.

Mark tersenyum senang. Entah kenapa dia ngerasa sedikit puas gitu, meskipun jawaban Jeno demikian. Lain kali, Mark harus lebih handal lagi meracik bumbu agar Lee Jeno terpana.

Ga ada suara lagi abis gitu, Jeno yang fokus ke makanannya, Mark juga. Lagian ga ada topik sih, mau ngegosip tapi sama aja dosa.

Jadi mending diem aja deh. Siapa tau berkah. Daripada ngegibah.

Jeno ketagihan nich.

Sama masakannya Mark, tapi kayaknya udah ga ada lagi deh.

Padahal ena banget.

Jeno pengin lagi ih.

Tapi gengsi lebih menang.

Dia beranjak dari kursi dan menaruh piring kotor di wastafel, setelah itu kembali untuk menandaskan airnya.

"Mark, duluan ya?"

"Iya duluan aja."

Jeno pun berlalu.

Sedih ga sih, padahal Mark masih pengin lama-lama sama Jeno. Doi kira Jeno akan menemaninya sampe selesai, namun nyatanya?

Jeno pergi, ninggalin dia dan sepiring nasi goreng yang belum abis, tinggal setengah lagi sih.

Itu hanya ekspektasi Mark aja ya?

Yang ga mungkin bakal jadi kenyataan.

Ah kok jadi ngegalau sih.

Mark menatap pintu kamar Jeno yang tertutup rapat, ia menghela nafas pelan.

"Mungkin dia capek ya? Yaudah ga pa-pa deh."

Nafsu makan Mark mendadak hilang di saat itu juga.

[note 1: sorry, keknya chapter ini kurang memuaskan ya?:( tapi chapter depan aku usahain memuaskan deh, entah knp mood lg suka mendadak ilang:(]

[note 2: tysm yg udh ikutin ff ini:") terhura akutuh:")]

[note 3: klo aku publish ff markno lg kira-kira pd mau gk ya? udah jadi sih tinggal publish nya]