"Jeno, dari mana aja kok baru pulang?" tanya Mark saat Jeno melintasi ruang tengah. "Itu kenapa pipi lo merah?" Mark mengajukan pertanyaan lagi.

Jeno melihat Mark sebentar lalu menggeleng. "Sorry pulang lama, tadi ada urusan. Pipi gua ga pa-pa kok," jawab Jeno, sedikit lemas. Gimanapun dia juga ga pengen ngeliat Mark cemas.

Mark bangkit lalu menghampirinya, tangannya mengelus pipi kanan Jeno lembut. "Aneh Jen, pipi lo kenapa sampe bisa begini?"

Jeno meringis pelan kala Mark sedikit menekannya, rasanya perih. Tenaga para cabe itu dahsyat juga ternyata.

Jeno pulang telat ga bilang dulu ke Mark, pulang-pulang pipinya kayak abis orang di tampar. Entah kenapa Mark bisa merasakan gelagat aneh Jeno, cowo manis itu sedikit gelisah.

Mark menaruh ransel Jeno sembarangan lalu merangkulnya menuju sofa. Mereka duduk berdua di sana. "Lo kenapa Jen? Kenapa bisa begini?"

Jeno menggeleng. "Ga pa-pa, emang gua keputihan sih, jadi kalo kena panas langsung merah banget gitu."

Sejujurnya Mark mendengar suara ringisan itu, tapi Mark tak dapat berpikir lebih jauh. Karena Lee Jeno tak mempunyai musuh, semua orang takut padanya.

Omong-omong Mark tadi emang pulang lebih dulu, tadinya pengin nungguin Jeno tapi ga bisa. Dia sedikit ada urusan.

"Bener ga pa-pa?" tanya Mark berusaha meyakinkan. "Kalo ada apa-apa tuh bilang aja, gausah takut." Mark menyelipkan tangannya di sela-sela helai rambut Jeno.

Jeno mengangguk, membiarkan Mark memainkan rambutnya. "Kalo sakit bilang juga, jangan di tahan."

"Iya Mark iyaa.."

Mark terkekeh. "Nah gitu dong."

Tangannya menurun hingga terhenti pada seragam yang di kenakan Jeno, ia seragam dan mata Jeno secara bergantian. "Mau gua bantuin ganti baju? Lo tampak ga baik Jen."

Firasat Mark mengatakan begitu, Jeno berusaha menyembunyikan sesuatu darinya, tapi masa sih?

Mata Jeno memicing. "Mau modus ya lo?!?!" Dari Jeno yang lembut berubah lagi menjadi Jeno yang galak, yang kerap berkata kasar.

Ah, baru Mark merasakan suara lembut Jeno, sekarang udah begini aja. Mood Jeno cepat sekali berubah.

Mark menggeleng cepat. "Jen, gua cuma ngikutin insting gua kalo gua harus bantuin lo sekarang, walau dalam hal kecil."

Tapi Jeno ga yakin. Mark pasti mempunyai niat terselubung di balik itu, memang cowo pirang itu harus di waspadai.

"Jen, cuma bantu doang. Gua ga bakal ngapa-ngapain, janji!" Mark memasang mimik wajah meyakinkan dan mengacungkan jari kelingkingnya.

"Masa?"

"Iya Jen, percaya sama gua."

Dalam hati Jeno tertawa melihat ekspresi pasrah Mark.

"Yaudah sana ambilin kaos gua," Jeno menunjuk pintu kamarnya menggunakan dagu, seolah lampu hijau kalau Jeno mengizinkan Mark membantunya.

Lagian, mereka sesama lelaki. Dan Jeno melihat binar ketulusan dan keyakinan di mata cowo itu. Hanya sedikit menggoda Mark saja.

Mark bergegas pergi ke kamar Jeno, tak lama kemudian cowo itu kembali dengan membawa kaos putih santai. "Ini aja ga pa-pa?" Mark mengangkat kaos di tangannya.

Jeno menggeleng. "Gak kok. Yaudah sini, katanya mau bantuin gua."

Dengan cepat Mark sudah berada di hadapan Jeno. Perlahan, ia membuka satu persatu kancing. Oke, aslinya Mark berkali-kali menelan ludahnya.

"Oh astaga.." gumam Mark. Dia ga kuat. Di hadapannya terpampang tubuh putih mulus Jeno, yang seolah menggoda Mark untuk membuat banyak tanda kepemilikan di sana.

Walaupun ini sudah kedua kali ia melihat tubuh Jeno, tapi tetap saja ia merasa tergoda dan ingin menyentuhnya.

"J-jen, lo ga pake daleman lagi apa?" Mark berusaha untuk tidak gugup. Matanya saja susah berkedip.

Jeno menggeleng polos.

Tampang Jeno yang sekarang bener-bener minta di polosin banget ya.

Tahan Lee Minhyung tahan.. Batin Mark. Meyakinkan diri untuk menahan nafsunya yang sudah di ujung tanduk.

Jeno mendadak mendorong Mark keras hingga cowo pirang itu bersandar. Dengan cepat, Jeno duduk di atas pangkuan Mark—yang masih melongo akan sikapnya barusan.

"J-jen, lo mau ngapain?"

Jeno tersenyum miring, ia menangkup pipi Mark. "Menurut lo apa yang akan terjadi selanjutnya?"

Kenapa sikap Jeno mendadak jadi binal begini? Cowo manis itu seratus kali lipat lebih menggoda sekarang. Bener apa kata orang-orang, orang tsundere itu biasanya agresif di ranjang.

Jemari lentik Jeno bermain-main di permukaan dada bidangnya. Sesekali mengulas senyum menggoda, Jeno membuka kancing kemeja Mark dengan gaya sensual.

"Lee Jeno??"

"Y-yeshh Daddy??" jawab Jeno dengan sedikit lenguhan. "Pet me please, Daddy, I want you.."

Sebenarnya jiwa apa yang sekarang tengah merasuki Jeno?! Mark menjerit dalam hati. Jeno yang seperti ini jauh lebih menyiksanya.

Mata Jeno mendadak berbinar melihat tubuh Mark. Ia mengelus dada bidang itu lalu beralih pada abs Mark. Sang empu merinding merasakan tangan halus Jeno yang bermain di sana.

"Mark Daddy, please touch me Daddy.." Jeno semakin mendekatkan dirinya.

Mark memegang dagu Jeno, lalu menatap mata cowo itu dalam. "Jangan salah mengambil langkah baby. Daddy bisa membuatmu tak bisa berjalan selama seminggu, tapi Daddy bisa membuatmu merasakan nikmat yang lebih."

Jeno mengalungkan lengannya pada leher Mark, lalu tersenyum menggoda dan pandangannya seduktif. "Kalau begitu, lakukanlah Daddy.."

Jangan salahkan Mark, benteng pertahanannya sudah hancur, ia tak bisa menahan diri lagi. Mark menyerang leher Jeno, melakukan kegiatan menggigit-menghisap, hingga memunculkan warna keunguan.

"You're mine baby.."

"I'm yours daddy.."

Jeno melenguh panjang kala Mark meraba perut ratanya. Astaga sentuhan Mark benar-benar membuatnya nyaris gila.

Jeno menubrukan bibir mereka—akal sehat Jeno menghilang. Tanpa sadar Jeno mengalungkan tangannya pada leher Mark, kemudian jemari lentiknya sedikit menjambak rambut Mark.

Rasa bibir Jeno? Manis. Seperti pemiliknya, bagi Mark bibir Jeno merupakan candu baginya. Membuatnya ketagihan. Ia memanggut bibir Jeno.

Mark menggigit bibir bawah Jeno, membuat empunya terpekik dan Mark memanfaatkan kesempatan itu untuk memasuki rongga mulut Jeno dan mengeksplorasinya.

Mereka saling bergulat lidah, hingga Jeno menepuk dada Mark tanda dia sudah kehabisan oksigen. Mark pun melepaskan pagutan mereka.

Sedikit terbesit rasa kecewa.

Jeno mengambil nafas sebanyak-banyaknya, berciuman dengan Mark benar-benar melelahkan.

Mark menatap Jeno intens, sekarang Lee Jeno tampak lebih seksi. Bibirnya yang membengkak karena Mark terus melumatnya, tubuhnya yang berkeringat.

Mark menyerang leher Jeno kembali, aslinya dia belum puas meresapi kenyalnya bibir Jeno, tapi sudah lah.

"Daddy ahhh~"

Desahan Jeno membuat Mark lebih bersemangat menciptakan kissmark di sana.

"Mark Lee, Lee Jeno~~ bunda dan mama da—"

Aktivitas Mark dan Jeno kontan terhenti, mata mereka membulat begitu menyadari adanya ibu mereka berdua di sana.

Waktunya sangat tidak tepat, belum lagi posisi Jeno yang berada di atas pangkuan Mark.

"Ma, Mark bisa jelasin."

"Bun, Jeno bisa jelasin."

"Lee Jeno, Mark Lee," ucapan bunda Jungkook terhenti. "Jelaskan sekarang semuanya!" lanjutnya dengan penuh penekanan.

–OoO–

Keduanya sudah berpakaian lengkap. Suasana di ruangan itu sangat tegang. Tatapan kedua ibu mereka seperti ingin menguliti mereka detik itu.

Menyeramkan.

"Ma, Mark bisa jelasin.."

Mama Hoseok menatap Mark tajam. "Diam kamu!"

Mark mengatupkan mulutnya kembali begitu mama Hoseok membentaknya.

Bunda Jungkook memijat pelipisnya. "Kak, kayaknya kita harus cepet nikahin mereka.."

"Sepertinya sih gitu," Hoseok menyetujui.

Kedua ibu itu duduk di hadapan kedua anak mereka. Masih dengan tatapan tajamnya yang membuat nyali Mark dan Jeno menciut.

"Minhyung, kamu udah jebolin Jeno?" tanya mama Hoseok. "Kalian kenapa sampe bisa begitu sih? Kookie, sorry ngebuat anak kamu jebol."

"Kak, dengerin dulu penjelasan mereka." Jungkook berusaha menenangkan Hoseok.

"Mama, tante Jungkook, Mark belom masuk tahap itu. Tadi kita kebawa suasana aja jadinya begitu.."

Hoseok menggebrak meja, "tapi kamu juga harus bisa menahan diri Lee Minhyung!"

Mama Hoseok pun berdiri di depan Jeno dan melirik kearah leher calon menantunya itu, lalu menunjuk tanda itu. "Ini apa?! Kamu udah berani nandain Jeno?!"

"Ma, Mark kebawa nafsu, itu di luar perkiraan Mark mama.." ujar Mark pelan. Gimanapun dia takut kalo mama Hoseok udah marah begini.

"Tapi kamu udah nyaris ngebuat anak orang ga perawan lagi Lee Minhyung!" balas mama Hoseok keras.

"Tante maaf, tapi semua ini salah Jeno bukan salah Mark.." Jeno angkat bicara, ia ngerasa ga enak sama Mark kalo dia diem gitu aja. Padahal semua ini dia yang mulai.

"Tadi, Jeno cuma minta Mark bantuin Jeno buat ganti baju, jadi kebablasan jadinya begitu.."

Mama Hoseok pun mengelus surai hitam Jeno lembut. "Ga kok sayang, Mark yang harus bisa jaga nafsunya."

Lagi-lagi Mark yang di salahin, emang tuh ya seme selalu salah, uke yang paling benar. Apalagi sekarang ada tiga uke di sampingnya dan di hadapannya.

Bunda Jungkook pun lantas membawa mama Hoseok untuk duduk, soalnya dialah yang paling ga tenang dari tadi. Bunda Jungkook juga kasihan sama Mark yang di sudutin mulu.

"Udah kak udah, biar aku aja yang ngomong. Kakak juga ga boleh kerasin Mark.." kata Jungkook pelan.

"Tapi Kook—"

Bunda Jungkook meletakan jari telunjuknya di depan bibir, tanda bahwa Hoseok harus diam dan ialah yang akan mengurus ini.

"Sekarang mending kakak buatin teh deh sekalian,"

Mata Hoseok melotot, "kamu ngusir kakak?!"

"Ga kak, kakak tenangin diri dulu ya di sana. Dari pada gabut mending kakak buatin minuman."

Hoseok pun melangkahkan diri menuju arah dapur. Dia tau tujuan Jungkook menyuruhnya ke sana untuk apa, tapi rasanya ga ada yang kalo ga ikut acara mari-omeli-dua-anak-ini.

Selepas mama Hoseok pergi, bunda Jungkook duduk tenang di hadapan mereka. "Untungnya ga ada ayah kalian di sini, kalo ada, kalian udah di kawinin juga hari ini.."

"Bun..." Jeno merajuk.

Jungkook memberikan tatapan tajam pada anaknya itu. "Diam Lee Jeno!"

Jeno mengatupkan bibirnya, ga berani lagi ngomong karena bunda Jungkook lagi serem.

"Bunda pengin denger dari Mark, kenapa kalian nyaris ngelakuin hal itu. Jelas dan rinci, jangan ada yang mengarang cerita di sini, karena bunda pengin denger pengakuan langsung dari kalian."

"Bunda biar aku a—"

"Lee Jeno diam! Bunda bertanya pada Mark bukan padamu!"

Mark udah mempersiapkan dirinya. Oke, emang Jeno yang memulai itu semua. Tapi andai saja dia bisa menahan Jeno, sayangnya Mark juga terbawa nafsu.

"Tante sekali lagi Mark minta maaf. Awalnya Mark cuma mau bantuin Jeno ganti baju karena dia keliatan ga baik, tapi ya—" Mark melirik kearah Jeno sejenak, ia bingung ingin melanjutkan apa lagi.

"Jeno yang godain Mark bun.."

"Tapi Mark juga ga bisa nahan nafsu tante, harusnya Mark nahan Jeno.."

Bunda Jungkook mengangguk-angguk, paham dengan penjelasan Mark—juga Jeno. Menurutnya, memang semua ini berawal dari Jeno yang menggoda Mark, Jeno yang memulai semuanya.

Ah ternyata anaknya jago juga meningkatkan birahi orang lain, diam-diam Jungkook tersenyum miring.

"Jadi kamu yang memulai ini Lee Jeno, maksud kamu cuma bercanda kan? Tapi semua itu berakibat fatal pada diri kamu sendiri," ucap bunda Jungkook tenang.

Jeno hanya menunduk.

"Bunda potong uang saku kamu dua minggu ke depan! Ga ada bantahan!"

Jeno lantas langsung mengangkat kepalanya dan hendak melayangkan aksi protes namun tatapan si bunda padanya sangat—mengintimidasi. Yang berarti Jeno ga boleh protes.

Jeno pun pasrah, bundanya kalo udah ambil tindakan begini dia harus nerima.

"Kamu harus terima konsekuensi itu Lee Jeno."

Ga ada ayah Taehyung sih, kalo ada pasti Jeno bisa—sedikit—selamat. Padahal Jeno lagi nabung, uang saku malah pake di potong lagi. Duh, nasib.

"Yaudah kalian sana makan gih. Kayaknya mama Hoseok abis masakin sesuatu buat kalian."

Mau ga mau Jungkook harus melakukan tindakan itu pada anaknya, agar dia bisa tau dirinya itu di posisi mana. Juga, ingatkan juga agar membeli kondom, ia akan menaruhnya di sini.

Buat berjaga-jaga.

Hormon remaja ga ada yang tau bukan?

[note: jir, rated-nya makin naek:""]