Jeno habis dari kantin, di tangannya ia memegang kotak bekalnya. Karena efek uang sakunya di sita membuat Jeno harus membawa bekal dari rumah.
Mengingat kejadian yang kemarin membuat wajah Jeno memanas dan merasa kesal di saat yang bersamaan. Andai saja ia tidak menggoda Mark Lee.
Sungguh, entah kenapa Jeno merasa terpancing untuk membuat Mark terangsang karena dirinya. Dan hasilnya mereka nyaris melakukan itu kalau kedua ibu mereka tak datang dan mengacaukan segalanya.
Belum lagi tadi Mark Lee sempat menggodanya dengan mengaitkan insiden yang semalam membuat telinga Jeno panas mendengarnya.
"Siapa semalem yang ngebuat gua horny ya?"
"Jen, itu badannya nanti abang raba ya pas kita udah resmi."
"Siapa semalem yang godain gua ya?"
Sambil melirik kearah Jeno, ya gimana Jeno ga ngerasa tersindir gitu dengernya? Rasanya tadi Jeno ingin menjambak rambut Mark Lee hingga botak.
Tanda sadar Jeno meremas kotak bekalnya guna menyalurkan rasa kesal yang di hatinya terhadap Mark Lee. Untungnya hari ini ia tidak melihat keberadaan Mark Lee di sekolah. Kalau tidak mungkin sekarang Mark Lee sudah babak belur di tangannya.
Jeno segera menepis segala hal tentang Mark Lee dalam pikirannya, yang ada emosinya semakin tersulut mengingat cowo berambut pirang itu.
Omong-omong kalo nanya soal bekal yang di bawa Jeno, itu bukan hasil racikan tangan Jeno. Tapi hasil tangan Mark Lee.
Lee Jeno itu tak bisa memasak. Ia pernah berniat membantu Mark tapi yang ada ia malah mengacaukan dapur, sampai-sampai Mark melarangnya untuk berurusan dengan dapur.
Tadi tepat kala Jeno hendak keluar kelas, Mark Lee sudah berada di depan kelasnya dan menyandarkan punggungnya di pintu kelas Jeno. Dengan tangannya yang menyodorkan kotak bekal. Sekalian menebar pesona pada setiap siswi yang ada di kelas Jeno.
Jeno tak membawa banyak uang jajan, sungguh bundanya benar-benar tega sama dia! Jeno tak habis pikir si bunda begitu.
Ada sedikit rasa senang memercik hatinya ketika Mark melakukan hal demikian padanya. Meskipun Jeno terlihat tidak niat menerima pemberian Mark, namun hatinya memekik senang.
Karena Lee Jeno suka setiap masakan Mark Lee, ia tak tega untuk menolaknya.
Soal Haechan, sahabat Jeno yang satu itu sudah kembali ke kelas duluan dan meninggalkan dirinya yang masih makan. Tempat mereka lumayan sedikit terpojok.
Jeno masih dalam perjalanan menuju kelasnya, ia sengaja sedikit mempercepat laju makannya agar segera bisa kembali ke kelas. Bel berbunyi sebentar lagi, sebenarnya.
BRUK!
Jeno menabrak seseorang dan membuat kotak bekalnya jatuh, untungnya isinya sudah tidak ada dan tak mengotori lantai. Jeno berjalan sedikit menunduk tadi. Ia tak terlalu fokus.
"Kalo jalan tuh liat-liat dong woy! Punya mata kan lo?!" bentak orang di depannya. Suara cewe.
Jeno hanya menggumam 'maaf' padanya dan memungut kotak bekalnya. Jeno sedang tak ingin ambil pusing sekarang.
Si cewe itu kemudian mendengus dan sedikit mendorong tubuh Jeno yang berjongkok menggunakan kakinya. "Dasar jalang sialan!" ucapnya sebelum meninggalkan Jeno yang sudah menggeram.
Jeno menelan ludahnya berkali-kali, ia berusaha meredam emosinya saat ini sambil memandang punggung cewe tadi dengan tajam.
Andai Jeno tak mengingat kalau tadi pelakunya adalah seorang cewe. Jeno sudah menonjok wajahnya.
Jeno memgambil nafas perlahan-lahan, berusaha meredam segala emosinya. Kemudian ia bangkit dari posisi lalu melanjutkan perjalanan menuju kelas.
"Cewe sialan." Ia menggumamkan beberapa kata makian pada cewe tadi di sepanjang jalan menuju kelas.
BRUK!
Oh, rupanya hari ini memang hari sial Jeno sepertinya. Tadi sudah tertabrak sekarang tertabrak lagi yang menyebabkan dirinya sampai terjatuh.
"Lee Jeno, ya?"
Saat Jeno hendak menyemprotkan beberapa kata makian pada si pelaku, pelaku tersebut sudah memanggil namanya, Jeno mendongak.
Dan menemukan cowo bername tag Samuel Kim itu di depannya yang sudah berdiri sambil memungut kliping yang terjatuh.
"Ya." jawab Jeno dingin. Matanya memandang penuh benci pada Samuel yang sudah menabraknya dan sama sekali tidak mengucapkan kata 'maaf'.
Jeno sangat kenal siapa orang di depannya, Samuel Kim. Berandal sekolah mereka yang juga merupakan teman sekelas Jeno—yang sangat Jeno hindari.
Bukan tanpa alasan, Samuel memang tampan tapi kelakukannya begitu bejat dan membuat Jeno merasa muak setiap kali mereka bertatap muka. Hubungan mereka memang tak terlalu dekat—Jeno sengaja.
Samuel Kim itu gemar sekali membolos, jarang mengerjakan tugas, dan suka merokok—Jeno sering melihatnya melakukan hal itu di atap.
Intinya Lee Jeno tak ingin berdekatan dengan seorang Samuel Kim yang berkelakukan begitu.
"Ingin kembali ke kelas, eh?" tanya Samuel santai. Seolah mengabaikan tatapan dingin Jeno yang dilayangkan padanya.
Mereka jarang berkomunikasi, serius, bisa di hitung pakai jari mereka melakukan itu.
"Ya." Jawab Jeno dingin, ia hendak berbalik arah namun Samuel Kim berhasil memegang lengannya, Jeno lantas menepisnya.
Ia menatap Samuel dengan tak bersahabat. "Apa lagi?"
Samuel menggeleng dan menunjukan tugas kliping yang sudah terjilid rapi. "Coba tebak ini tugas siapa?"
Itu tugas pelajaran Sejarah yang harus di kumpulkan hari ini, tugas dari seorang guru killer. Mata Jeno memicing, ia mencondongkan sedikit tubuhnya untuk melihat nama yang tertera di sana.
Lee Jeno
"YA! ITU PUNYA GUA BALIKIN!"
Namun Samuel lebih cepat, membuat Jeno sama sekali tak bisa merampas miliknya kembali. Ia heran kenapa miliknya bisa berada di tangan berandal itu. Seingatnya Jeno menaruhnya di dalam tas, ia tak mengeluarkannya seharian ini.
Samuel Kim tersenyum miring, mengejek ketidak-berdayaan Lee Jeno barusan. "Sayangnya ga segampang itu Lee Jeno!"
Samuel berlari, turut oleh Jeno yang mengejarnya dari belakang. Samuel memastikan bahwa Lee Jeno tertinggal jauh di depannya sehingga ia bisa membawa tugas ini dalam genggamannya.
Jeno terus mengejar Samuel dengan cepat, seluruh tenaganya ia keluarkan demi mendapat tugas itu kembali. Mengambil miliknya yang sekarang di pegang oleh si berandal sekolah yang Jeno benci.
Mereka berlarian di sekitar koridor yang mulai sepi, kebanyakan siswa bergegas masuk ke kelas masing-masing. Jeno melirik jam yang melingkari lengan kirinya, lalu berdecak sebal dan menambah kecepatan larinya.
Bel istirahat sebentar lagi akan berbunyi, tak lama lagi mereka di wajibkan sudah ada di dalam kelas. Jeno semakin panik.
Omong-omong tugas itu sudah Jeno kerjakan jauh-jauh hari, jadi sangat di sayangkan bila tugas itu berakhir tragis.
"YA SAMUEL KIM!"
Jeno terus meneriaki nama si berandal hingga membuatnya kewalahan sendiri. Kenapa ia harus berurusan dengan Samuel sih? Jelas-jelas Jeno tak pernah ambil masalah dengannya tapi Samuel Kim yang bersikap demikian.
Jeno tambah muak dengan cowo berambut hitam itu.
Sialnya kecepatan laju lari Samuel itu benar-benar bukan tandingan Jeno. Oh, ingatkan Jeno untuk berolahraga agar tubuhnya tidak sekaku ini.
Samuel yang berada di depannya itu terkekeh, sesekali cowo itu melihat bagaimana perjuangan Lee Jeno mendapatkan tugasnya kembali. Ia tersenyum meremehkan, karena baru lari segitu saja sudah membuat Jeno ngos-ngosan.
Samuel itu berandal ingat? Walaupun sebentar lagi bel masuk berbunyi itu bukan hambatan darinya untuk terus melakukan aksi kejahilan yang dapat meresahkan korbannya.
KRING!
"Sialan!" gumam Jeno begitu suara bel tanda berakhirnya istirahat terdengar. Guru killer itu datangnya sangat tepat waktu omong-omong, kalau Jeno tak cepat, bisa-bisa sesuatu yang buruk terjadi padanya.
"SAMUEL!" panggil Jeno, kali ini jauh lebih keras. "BALIKIN TUGAS GUA WOY!" Jeno menambah kecepatan larinya, sebisa mungkin ia dapat menjangkau Samuel.
Bukan Samuel namanya bila baru di teriaki seperti itu saja sudah menyerah dan mengembalikan tugas itu kembali. Bermain-main dengan Lee Jeno seru juga, batinnya.
Seiring berlari, tangan kirinya yang ia gunakan untuk memegang tugas Jeno yang ia ambil sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk meraba kantung celananya. Berusaha menemukan benda yang ia taruh di dalam sana.
Wajah Samuel mendadak makin cerah setelah ia menjangkau benda yang ia cari dan menariknya keluar. Salah satu sudut bibirnya terangkat.
Samuel melihat kearah sekelilingnya, masih di sekitar koridor yang sepi, ya tentu saja jam pelajaran pasti sudah di mulai. Dan ia malah mengajak Lee Jeno bermain.
Mendadak Samuel menghentikan laju larinya dan berbalik arah. Dimana adanya Lee Jeno yang terengah sambil memegangi kedua lututnya.
"Samuel! Balikin sini cepet!"
Samuel kembali menyeringai, "tak semudah itu Lee."
"Balikan Kim! Itu tugas gua!"
Samuel berdecak dan menyandarkan punggungnya pada dinding, Lee Jeno tak asyik, ia tak bisa di ajak bermain sebentar. "Terburu-buru sekali Lee, ga mengumpulkan tugas juga ga membuat lo mati kok." Samuel berujar dengan begitu santai.
Sepertinya Samuel Kim benar-benar tak perduli dengan nilai sampai berbicara dengan begitu entengnya. "Emang bagi lo begitu, tapi ga buat gua!"
Samuel membuang nafas kasar. "Serius deh Lee, lo ga asik. Kali-kali gitu lo bandel biar ada tantangan dikit, nanti pas lulus lo ga bisa ngantongin kenangan apapun."
Jeno menggeram, ia maju mendekati Samuel Kim, cowo di depannya ini malah semakin membuang waktu Jeno. "Balikin sekarang Kim!"
Samuel kembali menggeleng. "Hey Lee, mau bermain lagi sebentar?"
"Kim, gua ga punya banyak waktu lagi buat ngelakuin hal-hal yang ga berguna kek gitu! Balikin sini tugas gua Samuel!" Kali ini Jeno berusaha mengeraskan suaranya lagi.
"Lihat dan perhatikan dulu Lee."
Samuel bergegas menyalakan korek api dan mengarahkannya ke tugas Jeno. Senyum puas tersungging kala ia sudah berhasil membakar tugas Lee Jeno dengan sangat mudah.
Serius ngebakar, sang jago merah melahap habis kertas tersebut hingga hangus tak bersisa. Bahkan Jeno tak bisa memproses kejadian tersebut.
Bodohnya ia hanya diam. Jeno memandangi tugasnya yang sudah hangus itu dengan tatapan—sedih sekaligus panik.
PLAK
Ia melayangkan tamparan keras pada pipi kanan Samuel, matanya sudah berkaca-kaca. Tapi Jeno berusaha untuk tak membiarkan mereka lolos.
Samuel memegangi pipi kanannya yang barusan menjadi sasaran Lee Jeno. "Wah, tenaga lo boleh juga. Dan, makasih ye gua terhibur karena lo! Terakhir, siap-siapin diri aja Lee Jeno!" Dengan begitu Samuel angkat kaki dari hadapannya.
Tugasnya berujung menyedihkan, Jeno sudah membuatnya jauh-jauh hari dan memastikan kalau itu benar semua. Tapi nyatanya apa?
Entah kenapa hatinya terasa sesak dan seketika panik menguasai dirinya.
"Samuel bangsat!"
–OoO–
Jeno berjalan dengan lesu menuju kelasnya, mau tak mau ya ia harus segera berhadapan dengan guru tersebut. Jeno berniat bolos untuk menghindari hal ini, tapi sepertinya menghindari sesuatu itu tak baik.
Sehabis ia mencuci muka ke kamar mandi dan memastikan kalau matanya tak sembab menangis di sepanjang koridor tadi.
Jeno merapikan penampilannya dan mengambil nafas pelan-pelan, untuk memantapkan diri sebelum akhirnya tangannya terjulur dan membuka knop pintu tersebut.
"Ingat kamu sudah terlambat berapa lama Mr. Lee?" suara ibu Jung mendadak membuat telinga Jeno berdenging. Wanita itu menghentikan kegiatan menulisnya di papan tulis lalu berbalik arah dan menyunggingkan senyum yang sangat Jeno benci.
Jeno menelan ludah dengan susah payah, ia membungkukan badan berkali-kali sembari menggumamkan kata maaf. "Maaf, bu, saya habis dari toilet."
"Habis dari toilet sampai selama ini? Saya menjadi curiga padamu Mr. Lee."
Jeno lekas menggeleng, padahal setaunya guru itu bersikap baik padanya asal dirimu memiliki nilai yang bagus. Tapi sikap guru itu sekarang membuat Jeno.. muak.
Ibu Jung mendekat kearah Jeno dan mencium baju seragam yang di pakai muridnya. Ruangan di kelas mendadak lebih terasa dingin.
"Oke baik. Sebelum kamu kembali ke tempat duduk, kemana tugas yang kemarin sudah saya berikan?"
Jeno sudah mewanti-wanti ucapan yang akan di keluarkan oleh ibu Jung selanjutnya, dan benar saja guru itu lekas menagih tugasnya. Jeno bingung alasan apa yang harus ia keluarkan karena lidahnya saja mendadak kelu.
"Errrr—"
"Mana Mr. Lee? Saya sudah memberikan banyak waktu untuk mengerjakannya, keterlaluan bila seorang siswa sepertimu melalaikan tugas itu."
Lee Jeno terkenal dengan kecerdasannya bukan?
"Saya lupa mengerjakannya bu." jawab Jeno cepat.
Ia tak ingin memberikan pengakuan kejadian yang ia alami barusan, entahlah sesuatu menahannya hingga ia harus menyembunyikan hal tersebut. Lagi pula, mana mungkin gurunya percaya jika ia tak punya barang bukti, juga Samuel Kim pasti bisa mengelaknya.
Jeno dapat bisa melirik reaksi Haechan yang—tercengang, juga penuh tanda tanya. Oh, sepertinya dia juga harus segera menyiapkan alasan untuk berkilah.
"Wow, keberanianmu luar biasa Mr. Lee, saya salut denganmu," Jeno bisa melihat kilat kekesalan di mata guru tersebut. "Keluar dari kelasku!"
Tanpa banyak bicara Jeno lebih memilih segera keluar dari kelas neraka itu. Lalu ia menyeringai, rencana para gadis jalang di kelasnya memang sangat berhasil.
Jeno memutuskan untuk pergi ke atap sekolahnya, sekalian menyegarkan pikirannya. Omong-omong ini pertama kalinya seorang Lee Jeno itu di keluarkan dari kelasnya.
Jeno menghempaskan tubuhnya di atas sofa tua yang ada di atap sekolahnya itu lalu matanya memandang kearah langit. Tanpa sadar ia tersenyum begitu menyadari indahnya langit itu.
Jeno menutup matanya sembari menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya dan menerbangkan helai rambut hitamnya. Jeno tak menyangka bila berdiam diri di atap sekolah jauh lebih enak.
Apalagi saat jam pelajaran.
Ia memutuskan sejenak ini untuk melupakan segala masalah yang terjadi di hari ini, ia sudah terlalu lelah memikirkannya. Jeno bisa menghajar wajah Samuel Kim nanti.
Mengingat Samuel Kim, oh pasti ia sedang tersenyum puas akan hasil yang di capainya.
Menjijikan.
Samuel Kim dan para jalang itu pasti satu komplotan yang sama untuk membuat Jeno menderita.
"Oh wow, gua ga nyangka siswa teladan sekolah lagi ada di sini di saat jam pelajaran."
Karena ucapan seseorang itu refleks Jeno membuka mata dan mengubah posisinya menjadi duduk. Ia mengerjakan mata berkali-kali, "eh kak Renjun?"
Sosok itu tersenyum dan ikut mendudukan dirinya di samping Jeno, ia menyodorkan kaleng minuman padanya. "Mau ga?"
Jeno menatap minuman itu sejenak, bagaimana kalo ia merasa sedikit curiga pada minuman yang akan Renjun berikan?
Renjun sendiri sudah dapat menangkap raut wajah Jeno, ia menaruh kaleng minuman tersebut di pangkuan adik kelasnya. "Gua ga masukin yang macem-macem kok, tenang aja."
"Eh iya, makasih kak.."
"Sama-sama dek."
Renjun itu juga temen sekelasnya si Mark Lee, makanya Jeno tau. Sikap mereka itu sedikit berbeda, Renjun itu ramah dan ia jarang membolos (kalau tidak salah sih), sedangkan Mark sering.
Mereka juga bertemen baik kok, deket gitu. Sama-sama ganteng dan punya banyak fans, makanya kalo Renjun sama Mark jalan bareng tuh pasti bakalan heboh.
"Siswa teladan kek elo ngapain di sini? Sekarang jam pelajaran lho dek."
Jeno memutar bola matanya, "itu sih gua juga tau."
Renjun tertawa kecil mendengar jawaban adik kelasnya itu. Sepertinya Jeno sedang tak ingin di singgung soal alasan mengapa dia bisa berada di sini, baik, Renjun hargai itu.
"Dek, lo se-apartemen kan sama Mark?"
Pertanyaan Renjun membuat Jeno yang sedang minum mendadak tersedak, Renjun pun langsung menepuk punggung adek kelasnya. "Minumnya pelan-pelan dek."
"Kok lo tau sih gua sama dia bisa se-apartemen? Mark ngasih tau?"
Renjun mengangguk. "Jadi gimana dek rasanya? Enak?"
Jeno melempar kaleng yang sudah kosong itu ke sembarang arah, "enak kata lo? Ga ada enak-enaknya sama sekali, sumpah dia nyebelin banget kesel gua."
"Dek, jangan terlalu begitu. Cinta sama benci itu beda tipis asal lo tau aja ya."
Mata Jeno memicing, "maksud lo apaan ngomong gituan kak?"
"Bukan apa-apa, gua cuma pengin bilangin itu aja sama lo."
Jeno memutuskan untuk tak menanggapi lagi ucapan kakak kelasnya itu. "Btw kak, lo ngapain di sini? Bukannya di kelas baca buku yang bener mah."
Renjun memandang Jeno sinis, "eh gua lagi jamkos ya, emang lo hah?"
Jeno merasa sangat tersindir dengan omongan Renjun barusan, baiklah ia memang di keluarkan dari kelas lantaran ga ngerjain tugas. "Yaudah sih woy."
Renjun melirik kearah sampingnya, ia bisa melihat bahwa Jeno sekarang tengah cemberut. BibirnyaI bergerak-gerak, oh pasti sedang memaki Renjun.
"Dih baperan."
"Apaan sih? Siapa yang baper?!"
"Kalo ga baper lo ga mungkin begitu Lee Jeno.."
"Bodo amat kak."
Renjun tertawa kecil, ini mah beneran sih Jeno ngambek sama dia.
"Renjun, lo di sini?"
Keduanya sedikit terlonjak kala suara seseorang mendadak terdengar di tengah-tengah mereka. Renjun lekas menoleh dan mengukir senyuman miring. "Oy Minhyung! Kemari, lo pasti ga bakal nyangka siapa di sini."
Mendengar nama 'Minhyung' terucap keluar dari belah bibir Renjun, Jeno segera ikut menoleh dan matanya membola. Karena orang yang paling Jeno hindari datang.
Ya, siapa lagi kalau bukan Mark Lee?
Sekarang mungkin bagi para cewe-cewe dia beruntung bisa terjebak di antara dua cogan sekolah mereka. Tapi bagi Jeno, semua itu sama saja seperti neraka.
"Wow, lo berdua bolos bareng eh?" sindir Jeno bersamaan dengan Mark yang sudah duduk diantara dirinya dan Renjun.
"Bosen tau di kelas," Mark menjawab pertanyaan Jeno, ia menepuk paha cowo manis di samping kirinya. "Cie yang di usir dari kelas."
"Bacot lo!"
Mark dan Renjun saling melirik satu sama lain lalu menyeringai. "Dah ah, gua duluan ye Mark, Jeno. Mark, urusin noh ciwi lo lagi PMS keknya." Di akhir kalimat Renjun tertawa kecil.
"APAAN SIH KAK RENJUN!" Jika saja ada benda di sekitarnya Jeno ingin menimpuk kakak kelas bergigi gingsul itu.
Setelah Renjun menghilang, kesunyian memerangkap mereka berdua, membuat Jeno sedikit tak nyaman. Meskipun orang itu adalah Mark Lee.
Puk!
Kepala Mark Lee sudah berada di atas pahanya, mata cowo itu terpejam. Diam-diam Jeno mengamati struktur wajah Mark Lee—yang tampan. Oh, Jeno mendadak geli sendiri saat berpikir begitu.
"Suka ya ngeliat muka cogan kek gua, Jen?" Mark mendadak membuka matanya dan itu membuat Jeno lekas membuang muka.
"Apaan sih Mark.." Jeno berusaha menghindar. "Ga ada yang meratiin lo, gausah ke-geeran deh!"
Padahal Mark Lee tau kalau tadi Lee Jeno mengamati wajahnya. Oh, tak salah juga dia pura-pura tidur seperti tadi, lain kali ia harus memergoki Jeno kalau dia benar-benar memandangi wajah Mark.
Firasatnya mengatakan demikian, namun jika di tilik dari sikap Jeno yang demikian pasti firasatnya benar.
"Lo ngapain tidur di sini hah? Balik sono ke kelas!" Tujuan Jeno kan emang buat menenangkan diri aslinya.
"Ngusir dih."
"Emang ngusir!" jawab Jeno jutek. "Lo ngapain tidur di paha gua sih?"
Jeno hendak mengangkat kepala Mark dari pahanya namun tangan cowo itu dengan cepat menahan pergerakannya. "Apaansi Mark—"
"Bentar Jen, gua mau tidur. Pinjem paha lo bentar aja ya?" pinta Mark dengan wajah memelasnya. "Ngantuk gua, bentaran aja plis?"
Jeno sedikit luluh, entah kenapa ia tak tega jika menolak itu. "Yaudah tidur gih," kata Jeno cepat.
Mark menyungging senyum puas dan lekas memejamkan matanya kembali. "Hmm, Jen, elus rambut gua dong.."
"Lo kebanyakan minta anjir!"
Mark mengarahkan tangan Jeno ke rambut pirangnya. "Elus aja ya??"
Jeno mengangguk malas dan mulai mengelus surai pirang Mark. "Udah nih, gimana?"
Mark tersenyum. "Nah gitu bagus. Elusan lo enak gua suka, terus begitu sampe gua tidur ngerti sayang?"
"Ngomong 'sayang' lagi gua tampol lo Mark!"
"Ih kan lo emang sayangnya gua, lo cinta gua, lo ibu dari anak-anak gua Lee Jeno, sayang.."
"Ngomong sekali lagi aja nyawa lo abis Minhyung.." kata Jeno, memberi penekanan pada setiap kalimatnya.
"Iya iya," tanpa pikir panjang mark langsung mengatupkan bibirnya. "Biasanya kalo para cewe tuh seneng lho Jen gua panggil sayang. Tapi kok lo ga ya?"
Jeno memutar bola matanya, lagi. Tangannya masih bergerak mengelus rambut Mark. "Karena gua bukan mereka.. Lee Minhyung."
-continue-
[note: hmm, bagi kalian yang pengin join GC markno, kirimin ID LINE kalian aja ya ke PM aku nanti aku invite, terimakasih:)]
