Jeno memutuskan untuk melupakan kejadian kemarin, saat Samuel membakar tugas yang sudah ia kerjakan dengan susah payah itu. Lagian, sesampainya di apartemen, Jeno langsung mengerjakan tugas itu kembali.

Oh, ya, saat pulang sekolah Jeno di panggil ke ruangannya. Dan tanpa di sangka, ibu Jung memberikan kesempatan bagi Jeno untuk melanjutkan tugasnya dan harus di kumpulkan besok.

Soal hubungannya dengan Samuel juga semakin memanas, apalagi para cabe kelasnya yang semakin sering memojokan Jeno. Tapi Jeno tak ambil pusing sih.

Jeno menghela nafas panjang, sepertinya hari ini akan berlalu lambat seperti kemarin. Apa lagi, Haechan hari ini absen dengan alasan sakit (Jeno tak percaya sih, pasti ini hanya akal-akalan Haechan saja).

Omong-omong, kemarin Jeno baru saja mencetak rekor kalau ingin tau. Sampai pulang sekolah, ia menjadi bantal tidurnya Mark Lee. Mereka tertidur sampai pulang sekolah, bertepatan saat bel berdering.

Mungkin efek Jeno kecapean juga makanya ia dan Mark tertidur selama itu. Mengingatnya, Jeno merona tipis, karena jemarinya yang mengelus surai pirang Mark. Ia baru tau kalau Mark punya rambut yang juga halus.

Ia menggelengkan kepala, berusaha mengenyahkan pemikirannya barusan. Apa-apaan ia mengenang moment bersama si brengsek Mark Lee?

Tak ada yang mendekatinya, ya sepertinya anak-anak lain otaknya sudah termakan omongan para cabe seputar Jeno yang menggoda Mark Lee.

Biasanya hanya Haechan yang bisa ia ajak bicara, tapi sekarang Haechan tak ada, membuatnya merasa sangat kesepian.

Jeno meneguk habis minumannya, hari ini tampaknya panas sekali. Matahari bersinar dengan sangat terang dan membuat matanya silau.

Ia mengelap keringat di pelipisnya, sudah panas dan sekarang waktu kelasnya berolahraga. Jelas saja Jeno semakin lelah, ia berharap semua ini cepat berakhir.

Barusan itu permainan basket, dan anak cowo sedang kebagian jadwal istirahat lalu bergantian dengan anak cewe. Jeno ingat, sepanjang permainan, Samuel Kim terus menabrak bahunya secara sengaja.

Jangan lupa seringai memuakan yang kerap muncul di wajahnya. Tangan Jeno sebetulnya gatal ingin menghajarnya hingga babak belur.

Dan ia juga sering sekali terjatuh tadi, lututnya sedikit lecet, untung tidak berdarah.

"Jeno!"

Jeno menoleh kala ada suara yang memanggil namanya. Ia sedang meneduh di bawah pohon sambil bersandar dan melihat aktifitas para anak cewe yang tengah bermain basket itu.

Anak cowonya udah pada ke kantin duluan. Entah kenapa mereka juga ikutan musuhin Jeno, jangan tanya kerjaan siapa, ya pasti si Samuel Kim lah pelakunya.

Jeno mengembangkan senyumnnya saat Renjun melambaikan tangannya dan lekas mengambil tempat duduk di sampingnya.

Dan dia baru ingat kalau jadwal olahraganya bersamaan dengan jadwal olahraga kelas Renjun—serta Mark.

"Ngapain di sini aja bukannya ke kantin?" tanya Renjun sambil menatap kearahnya.

Jeno menggeleng. "Males aja. Terus lo ngapain di sini kak? Gak bakal di cariin sama fans-fans lo apa?" Jeno melemparkan pandangan pada sekumpulan fans Renjun yang memandangi mereka.

Tanpa sadar Jeno meringis, tatapannya persis seperti tatapan Koeun dan komplotannya yang lain.

Jeno benci mengakui ini, tapi jujur ia sedikit takut akan tatapan itu. Seolah bisa saja membunuhnya.

Renjun yang mengikuti arah pandangan Jeno, lalu cowo itu tersenyum kecil. "Tidak. Kan ada Mark yang bisa ngelayanin mereka waktu ga ada gua."

"Kenapa ga ikutan aja kak? Lagi ga pengen modus atau gimana?" Jeno menepuk pundak Renjun sambil menaik-turunkan satu alisnya. "Ayolah, cewe cantik berkumpul di sana memperebutkan kalian."

Renjun menghela nafas pelan, ia melirik kearah kerumunan cewe-cewe yang mengerubungi Mark. Ia mendengus begitu Mark mencolek dagu salah satu dari mereka, sialan. "Sepertinya Mark lagi ga pengin di ganggu urusan begitu?"

Jeno mengikuti arah pandang Renjun, setelahnya ia tersenyum miring, benar Mark Lee begitu menikmatinya. Dasar cowo! Tingkahnya benar-benar membuat Jeno merasakan tubuhnya terbakar.

Renjun menaikan satu alisnya begitu ia menyadari tatapan Jeno yang tiba-tiba menajam—kearah Mark yang sedang menggoda cewe-cewe di sekitarnya itu. Tapi, Renjun tidak begitu yakin dengan prediksinya yang satu ini.

Haruskah ia memastikan ini untuk menyalurkan penasarannya?

Ia menyeringai, sepertinya memang patut di coba. Oh, Renjun berani bertaruh kalau dugaannya ini tak akan meleset.

"Tidak mencoba untuk menarik Mark dari sana Jen?" Renjun memulai rencananya.

"Tidak. Terimakasih kak usulannya, tapi gua sungguh muak ngeliatnya. Lo punya temen playboy banget!"

"Muak atau cemburu, eh?" Renjun menyungging senyuman menggoda, namun malah di hadiahi oleh pukulan keras dari Jeno ke pundaknya.

"Bacot banget sih kak, ngantin aja kuy. Makan ke sini gua udah pengen muntah." Jeno langsung menarik lengan Renjun paksa dan mereka berjalan menuju kantin.

Renjun hanya senyam-senyum tidak jelas di belakang Jeno, membiarkan adik kelas manisnya itu menyeretnya ke kantin. Karena, yang hanya ingin Renjun ketahui adalah kepastian dari semua dugaannya yang bermunculan tadi.

Dan jawaban itu tampaknya sangat memuaskan.

Setelah memberi air, keduanya duduk di salah satu bangku di sana. Satu botol itu sudah di tegak habis oleh Jeno, sehabis olahraga itu rasanya ia ingin minum terus, sudah dua botol ia habiskan untuk hari ini.

Jeno mengelus belakang tengkuknya, entah kenapa ia mendadak merasa merinding. Lalu ia memandang sekitar. Benar saja, tatapan para fangirl Renjun di kantin itu benar-benar menusuk.

"Kak, ga pa-pa nih ada gua? Atau gua cabut aja dari sini?"

"Ga Jen. Biarin aja mereka, selama ada gua merasa diem kok."

"Lo ga tau rasanya di tatap begitu!" Jeno mendengus.

"Ayolah, bukannya Lee Jeno seorang pemberian? Di tatap cewe udah takut duluan nih?"

Jeno menggeleng cepat. "Bukan takut, ga nyaman."

"Yeuh, masih aja ngeles heran deh gua."

"Siapa yang ngeles?"

"Lo tadi barusan. Eh, Jen, serius deh gimana rasanya punya calon suami kek Mark?" Renjun memulai omongan serius diantara mereka.

Jeno mengernyit. "Apa kata lo barusan? Calon suami? Ga salah denger gua?"

"Lah bukannya lo berdua emang di jodohin ya?"

"Heh kak dengerin nih, gua sama dia baru dalam masa pendekatan oleh bokap nyokap kita dan keputusannya belom tetap. Bisa aja gua atau Mark nolak."

"Tapi kata gua, suka ga suka lo emang tetep harus di jodohin sama Mark lah."

"Dih ogah amit-amit punya pasangan kek dia, jadi apa gua ntar?"

Renjun menepuk bahu Jeno sebanyak dua kali. "Mark ga seburuk yang lo pikir. Dia cowo baik kok, tapi suatu hari nanti lo bakal jatuh juga Jen."

–OoO–

Setelah selesai pelajaran olahraga, Jeno berjalan santai menuju kelasnya.

Ia berpisah dengan Renjun saat di tangga tadi. Sesekali, ia mengumpati kakak kelasnya itu mengingat Renjun tadi sering menggodanya.

Jeno sedikit bisa bernafas lega, setidaknya ia tak perlu merasa kesepian lagi.

Ada Renjun di sana yang menemaninya. Dan, tolong ingatkan Jeno agar meneror Haechan lewat chat untuk masuk sekolah besok.

Sehabis ini masih ada pelajaran lagi, Jeno membuang nafas kasar, padahal Jeno berharap gurunya itu sedang absen. Entah kenapa ia sekarang sedang tak punya semangat.

Jeno memejamkan matanya sejenak seraya menggelengkan kepalanya cepat, dalam benaknya terbayang-bayang tatapan sinis dari para cewe. Jeno sedikit tak nyaman lagi mengingatnya.

Dan,

Tubuhnya mendadak menegang kala ia melintasi koridor yang sekarang di penuhi oleh sekumpulan anak-anak cowo dan cewe, Jeno meringis saat melihat siapa yang ada di sana.

Mereka anak-anak yang menguasai sekolah ini, dan merekalah yang sering mencari ribut dan perilaku mereka tentu tidak baik.

Jeno bukan takut, hanya saja—

Ia merasa risih saat pandangan mata-mata itu memandangnya—entah apa arti tatapan mereka, yang pasti Jeno tak bisa mengartikannya.

Ia menelan ludah dengan susah payah, mencoba untuk tampak lebih rileks. Biasanya Jeno tak begini. Ia menggigit bibir bawahnya lumayan keras.

Jeno harap ia bisa mengendalikan diri, jangan sampai ia kepergok sedang ketakutan.

"Hey, Lee Jeno!" Jeno menoleh pelan-pelan dan berusaha mencari asal suara yang memanggilnya.

Awalnya, Jeno berencana ingin tak menjawab panggilan kalau ada yang memanggil namanya. Tapi, situasinya tak cocok bukan?

Seorang cowo. Tinggi, postur tubuhnya tegap dan parasnya menawan. Berdiri dari posisi duduknya lalu mulai melangkah.

Seiring cowo itu berjalan mendekatinya, Jeno mendengar banyak yang berbisik-bisik. Entah itu mempertanyakan tujuan si cowo atau ngomongin dirinya.

"Lo manis. Ya, pantes aja banyak yang suka." katanya sambil mengelus pipi Jeno.

"Tapi sayangnya, dia penggoda ulung sih!" celetuk seorang cewe yang langsung mengundang tawa anak-anak di sekitarnya. "Wong Yukhei, jangan bilang lo pernah di godain dia?"

Cowo yang ternyata bernama Yukhei menggeleng. "Ga kok. Emang bener dia Lee Jeno yang itu? Kok gua ga percaya ya?"

Salah satu cewe itu mendesis, "jangan pernah tertipu sama tampang dia! Aslinya sih busuk banget!"

Masing-masing dari mereka mulai melempari Jeno dengan cemoohan. Gosip itu sangat mudah menyebar eh? Buktinya nama Jeno semakin melambung.

Yukhei menyeringai, sedangkan Jeno memasang tampang datar. Jika ia menunduk, itu malah membuatnya semakin lemah dan mereka di sana semakin gencar memaki Jeno.

Yukhei pun berbalik dan berjalan menuju tempatnya lagi. "Mumpung ada orangnya lo gamau berbuat yang macam-macam gitu?"

Koeun berdiri dengan mata berbinar. "Tumben usul lo bener!" Ia bergegas menghampiri Jeno dan menyudutkannya.

Jeno sama sekali tak bisa berkutik.

"Sampah kayak lo tuh harusnya enyah Jen," Koeun menoyor kepala Jeno. "Kemarin Mark, sekarang Renjun, abis itu siapa lagi Jen?"

"Lo yang sampah." Jeno mendesis.

Koeun tertawa, "liat siapa yang bakal jadi sampah di sini Jen. Ini peringatan kedua gua buat lo," Koeun menjambak rambut Jeno ke belakang. "Setelahnya jika lo masih bertingkah—jangan harap lo tenang di sini."

Jeno melengkungkan senyum remeh. "Lo pikir gua takut sama ancaman lo yang begitu? Sayangnya sih ngga."

Koeun menggeram, ia melepaskan jambakannya. "Mulai tambah berani ya lo, nyali lo boleh juga."

"Ngapain takut? Ga ada yang perlu gua takutkan di sini, apalagi sama lo yang cuma main ancaman."

Harga diri Koeun terasa di injak-injak mendengar omongan Jeno yang sangat meremehkan dia. Koeun benci jika ada seseorang yang tak mengakui kekuasaannya.

"Liat siapa yang bakal ngemis-ngemis minta maaf nanti."

"Dan itu bukan gua, gua bukan pengemis Eun," Jeno memandang orang-orang yang berada di belakang punggung Koeun. Jeno baru sadar kalau saat ia berseteru dengan Koeun, tak ada yang buka suara.

"Udah selesai kan masalahnya? Gua duluan." Jeno mulai melangkah menjauhi mereka.

Sungguh berani sekali ia berbicara demikian di depan mereka semua. Jeno sedikit bangga pada dirinya yang bisa berkata begitu.

Jeno menghela nafas, jujur tubuhnya sedikit bergetar tadi. Tapi untungnya tak ada yang sadar.

Sesampainya di kelas, Jeno mengubek-ubek ranselnya. Di kelasnya hanya ada beberapa anak cowo yang saling melempar candaan, dan semua itu terhenti kala Jeno datang.

MendadakI tubuhnya menegang, dengan cepat ia mengeluarkan seluruh isi ranselnya, tanpa memperdulikan bukunya yang berantakan. Yang pasti ia mulai panik.

Salah satu anak cowo yang berada di sana menghampiri Jeno yang berwajah pucat. "Nyari seragam Jen? Tadi beberapa anak cewe membawanya."

"Kemana?"

Si cowo mengangkat bahunya, "entahlah."

Jeno mendorong tubuh yang berada di depannya. Dalam hati ia mengumpati cewe-cewe sialan itu. Dan, samar-samar di belakang ia mendengar anak-anak cowo berbisik. Tentangnya.

"Ia cukup manis, tapi sayangnya terlalu murahan."

"Bener! Padahal gua pengen gebet dia."

Ia berdecak sambil membuka pintu kelas dengan perasaan campur aduk.

Kemana para jalang itu membawa seragamnya?!

Itulah kalimat yang selalu berputar dalam benaknya tanpa henti. Ia menelusuri seluruh sekolah dengan berlari, keringat sudah membasahi dirinya. Ia berlari tadi omong-omong.

Suara langkah kakinya sampai menggema di sepanjang jalan yang ia lewati.

Tidak lupa ia memaki para pelaku tersebut berkali-kali. Tubuh Jeno terasa di bakar oleh amarah.

Bisa-bisanya mereka berbuat hal yang begitu?! Sialan.

Sebentar lagi pelajaran akan kembali di mulai, guru yang mengajar sangatlah disiplin. Ia tak segan-segan menghukum siswa bilang melanggar peraturan.

Dan, peraturannya harus segera berganti pakaian bisa selesai berolahraga.

"Sialan!"

Ia memegangi lututnya, nafasnya tersengal. Panik dan marah benar-benar kombinasi yang luar biasa bagi Jeno.

Ia sudah berkeliling seluruh sekolah dan tak menemukan keberadaan para anak cewe. Otaknya semakin tak bisa di ajak berpikir.

Ia mengepalkan tangannya, berusaha agar membuat otaknya lebih jernih agar bisa menemukan jalan keluar dari ini semua.

Jeno mendadak menegakan tubuhnya, sekarang ia tau tempat mana yang harus ia tuju, Jeno pun bergegas berlari.

Area kolam renang, Jeno belum menginjakan kakinya ke sana.

–OoO–

Ia meneguk ludahnya, sesampainya di sana Jeno langsung di sambut oleh anak-anak cewe kelasnya serta Koeun dan Siyeon.

Ia buru-buru menghampiri mereka dan memegangi pundak Koeun keras. Matanya sudah berkabut amarah. "Mana seragam gua?"

Bukannya takut, Koeun malah menoleh ke kanan dan ke kiri kemudian tertawa meremehkan. Ia melepaskan tangan Jeno dari bahunya dan segera menjambak surai Jeno.

"Lo bener-bener ga punya malu ya Jen, sekarang malah nantangin."

"Lo siapa sampe gua harus tunduk sama lo heh?" Kata Jeno sambil menyeringai.

Koeun melotot dan melepaskan jambakannya kemudian mendorong tubuh Jeno keras hingga cowo manis itu terjatuh. Koeun berjongkok, menyamakan tingginya dengan Jeno.

Ia menoyor kepala Jeno lagi, "harusnya lo diem, gausah banyak tingkah, hidup lo tenang. Tapi Jen, kenapa lo malah ngelawan?"

"Gua ga perlu takut ya sama jalang kek lo pada!" Matanya menajam.

PLAK!

Jeno terkena tamparan Koeun keras, hingga pipi putihnya memerah. Ia merasa sedikit nyeri.

"Lo ngatain gua jalang?! Bukannya itu julukan lo ya?" Tangan Koeun terangkat dan mengelus pipi Jeno yang memerah akibat tamparannya itu.

"Duh Jen, lo emang manis banget sih kalo gua boleh jujur. Tapi kok tingkah lo itu murahan banget sih Jen?" Sekarang Siyeon ikut berjongkok di sebelah Koeun.

"Gua udah bilang sama lo buat diem diem aja, tapi lo batu di bilangin."

Jeno memandang keduanya secara bergantian. "Pengecut ya lo berdua sampe bawa pasukan segala buat nyerang gua?"

Jelas Lee Jeno tak ada takutnya, ia berusaha untuk tidak menampar pipi kedua cewe itu. Jeno cukup tau itu dan membiarkan dia saja yang teraniaya.

Sebenarnya tenaga mereka belum ada apa-apanya jika di bandingkan dengan Jeno yang seorang cowo bukan?

Koeun benar-benar tak habis pikir sebenarnya dengan Jeno mengapa cowo itu tak menaruh sedikitpun rasa takut pada dirinya? Ia malah semakin menantang Koeun.

"Sekarang seragam gua mana?" tanya Jeno datar. "Lo pada kan yang ngebawa seragam gua kabur?"

"Oh, seragam lo ya?" Koeun tampak mengangguk-angguk dan lekas berdiri. "Siyeon, seragamnya Jeno mana?"

Siyeon mengangkat kedua bahunya, "wah seragam dia? Gatau juga deh gua."

Jeno beranjak dari posisinya dan mendekati kedua cewe itu, sebenarnya sesuatu dalam dirinya memaksa Jeno untuk segera mengambil tindakan.

"Mana seragam gua?" Jeno berusaha berbicara lembut pada kedua anak cewe yang mengulur waktunya itu. Barangkali hati mereka tersentuh dan memberitahu Jeno dengan sukarela.

"Lo pada tau gak dimana seragamnya Jeno?" Kata Koeun keras pada anak-anak lain yang menonton mereka.

Serempak mereka berkata, "Tidak!"

Jeno membuang nafas gusar, sudah ia duga kedua cewe ini pasti tak punya hati nurani. Percuma saja ia berbicara lembut pada mereka, nyatanya mereka tak ada niatan untuk memberitahu Jeno.

Ia memandang kedunya secara bergantian dengan tajam. Jeno berusaha mengumpulkan serpihan kesabarannya.

"Mereka juga gatau tuh Jen." Koeun berkata santai, cara ia memandang Jeno sungguh membuatnya semakin naik darah.

Detik selanjutnya, tangan Jeno sudah mencengkram kerah seragam yang di gunakan Koeun. "Mana seragam gua? Kasih tau sebelum—"

"Sebelum apa? Sebelum lo mau nonjok gua gitu?" Koeun memotong ucapan Jeno. Cewe bersedekap, "gua ga yakin lo punya keberanian yang cukup buat ngelakuin itu Jeno."

"Jangan kira gua bakal diem aja kalo lo malah semakin menjadi Eun, gua bisa aja ngelakuin kekerasan itu."

"Dan lo langsung kena sanksi karena melakukan tindakan yang seperti itu bukan? Semua orang di sini ngelindungi gua, Jen."

Koeun, cewe itu benar-benar ular berbisa. Jeno semakin muak pada Koeun dan komplotannya itu. Ingin rasanya ia menghajar wajah licik itu hingga pingsan (kalau bisa mati sekalian, tapi hati Jeno masih berfungsi dengan baik).

Jeno melonggarkan cengkramannya pada kerah Koeun, seringai cewe itu semakin melebar. Cewe ini benar-benar, batin Jeno.

Astaga, Jeno sudah kebanyakan menahan seluruh amarahnya tadi. Rasanya tidak enak, apalagi melihat pandangan mereka semua yang merasa menang melawan dirinya. Bagi mereka, Lee Jeno sudah kalah.

"Gua tanya sekali lagi, di mana seragam gua?" Jeno kembali melontarkan pertanyaan yang sama.

"Gatau."

"DIMANA SERAGAM ITU SEKARANG SIALAN?!" bentak Jeno. Kesabarannya yang ia kumpulkan mendadak sudah menipis.

Koeun tertarik ingin membuat Jeno semakin terbakar dalam emosinya. "Lo serius mau tau di mana keberadaan seragam lo itu sekarang?"

"Katakan."

"Lo ga bakal nyesel kalo gua kasih tau?" Koeun melempar pertanyaan lagi. Berusaha meyakinkan Jeno.

"Cepat katakan!"

Koeun tertawa kecil, "yang sabar dong."

"Itu." Koeun menunjuk kolam renang menggunakan dagunya.

Jeno langsung melempar pandangan kearah tempat yang di tunjuk Koeun, ia buru-buru melangkah ke pinggir kolam renang.

Dilihatnya baju seragamnya itu mengambang di tengah-tengah kolam renang. Jeno sudah kalah cepat, ia terlambat menyelamatkan seragamnya itu.

"Ambil." Jeno berucap tenang, meskipun tak dapat di pungkiri ia semakin marah.

"Ya ambil sendiri lah, seragamnya kepunyaan siapa? Lo kan, kenapa nyuruh-nyuruh gua?"

"Siapa yang ceburin itu ke sana? Pasti lo, jadi udah sepatutnya lo yang ambil."

Koeun mendekati Jeno. "Oh jadi gua yang harus ambil ya?"

Jeno mengangguk santai. "Cepet!"

Koeun maju selangkah, ia berdiri di belakang Jeno sambil menaikan sudut bibirnya. Ia sedikit berjinjit, mendekatkan bibirnya ke telinga Jeno.

"Berani banget ya lo nyuruh gua?"

Byur!

Tanpa bisa ia sangka, ia sendiri tercebur ke kolam renang setelah Koeun mendorong punggungnya.

Jeno yang mendapat serangan dadakan begitu tak bisa menguasai dirinya.

Jeno mengusap wajahnya kasar, mimiknya mukanya semakin mengeras.

Siyeon berjongkok di pinggir kolam. "Lo udah tau kan posisi lo sekarang apa, Jen?"

Koeun melanjutkan, "gua udah kasih peringatan buat lo. Semakin lo berulah, lo ga bisa tenang begitu aja."

"Itu baru permulaan Jen, masih banyak yang akan lo terima bila berdekatan dengan Mark kami!"

"Oh ya? Gua menunggu apa yang akan lo lakuin ke gua selanjutnya."

Ia berenang ketengah kolam untuk menggapai bajunya. Sedangkan anak-anak cewe yang lain mulai meninggalkannya dengan senyum puas terukir di wajah mereka.

Jeno menggigit bibir bawahnya, sialan kenapa di saat seperti ini kakinya malah sulit untuk di gerakan?

Ia berusaha untuk lanjut bergerak, tapi kakinya malah semakin sakit untuk digerakan. Jarak menuju tepi kolam lumayan jauh.

Jeno panik.

Ia berada di tengah kolam, masalahnya. Sekarang, tak ada orang di sini, hanya ada dirinya.

Jeno semakin kelelahan. Belum lagi tangannya tidak bisa menggapai bajunya itu.

Dan, semuanya gelap.

–continue–

[note: pembullyan jeno udah di mulai ini gaes;) Dan sori kalo sekiranya chapter ini kurang memuaskan:(]

[note 2: AKHIRNYA AKU UP FF INI YEY!]