Jeno mengerjab-ngerjabkan matanya beberapa kali, sinar matahari yang menerobos masuk lewat jendela itu amat sangat menganggunya.

Ia melenguh pelan sembari menggerakan badannya yang terasa kaku.

Sekarang ia tengah berada di atas kasur empuk. Kepalanya sedikit terasa pusing, pandangannya juga masih kabur.

Perlahan, Jeno menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Mengubah posisi tidurnya menjadi duduk.

Yang hanya bisa ia pastikan adalah: ia berada di ruang UKS sekolah. Seingat Jeno, sebelumnya ia berada di area kolam renang, adu mulut bersama para cabe, kemudian Koeun menendangnya hingga ia tercebur.

Lalu semuanya mendadak gelap.

Jeno menegakan punggungnya, matanya melebar saat mengingat kejadian itu. "Bangsat!" Desisnya. Jeno bersumpah, ia juga akan membalas perbuatan ini.

Lalu, siapa yang membawanya ke UKS? Seingatnya waktu itu tidak ada siswa lain, kecuali para cabe.

Matanya kemudian berpendar mengitari ruangan. Tidak ada seorang pun di sini, dan Jeno baru sadar ada ranselnya yang di taruh di kursi tak jauh dari tempat tidurnya.

Jeno berhutang terimakasih padanya, jika tidak—

Coba tebak sendiri kemungkinan yang terjadi bila tak ada orang itu. Oh, Jeno sendiri bahkan tak bisa membayangkannya.

Jeno kembali mengecek keadaannya. Kedua seragam yang dia bawa berarti basah, yang terakhir ia pakai tadi yaitu seragam olahraga.

Matanya mengarah ke bawah.

Seragam olahraganya masih utuh, maksudnya terpasang dengan sempurna di tubuhnya.

"Kamu udah sadar?"

Jeno menoleh ke asal suara begitu mendengar suara pintu yang terbuka bersamaan dengan suara orang tadi yang menanyakannya.

Siswa berwajah berpaduan manis dan imut masih berdiri di daun pintu sembari menyunggingkan senyumannya.

Jeno mengangguk kaku, masalahnya ia tidak mengenal siswa tersebut. Menurut perkiraannya, siswa tersebutlah yang telah berjasa menyelamatkan dirinya. Namun ia tak yakin, tubuh siswa tersebut cenderung mungil, membuat Jeno ingin memeluk erat siswa itu sekalian mencubit kedua pipinya.

"Bagus deh kalo kamu gak pa-pa," siswa tersebut berjalan kearah sisi kirinya kemudian menaruh gelas berisi teh hangat (Jeno hanya menebak). "Ini minum dulu, kamu pasti haus."

Jeno kembali menganggukan kepalanya sebagai jawabannya, ia bergumam, "makasih," pada siswa itu.

Jeno mengulurkan tangannya untuk meraih gagang gelas tersebut, namun si siswa yang tak Jeno ketahui namanya itu dengan sigap membantunya.

Setelah cukup, siswa itu kembali menaruh gelas yang isinya sudah tinggal setengah. Kemudian, ia menarik kursi yang ada dan duduk di sisi kanan Jeno.

"Maaf kalo boleh tau sekarang jam berapa?" tanya Jeno. Entah kenapa ia sedikit merasa cemas.

"Sebentar lagi sebenarnya pulang sekolah," katanya. "Tapi gak pa-pa kok tadi udah aku izinin ke guru piket karena kamu pingsan."

Jeno merasa sedikit lega sehabis mendengar lanjutan si siswa itu. Jeno menahan nafasnya kala siswa itu bilang sebentar lagi jam pulang.

"Kalo boleh tau, lo yang ngebawa gua ke sini?" Jeno kembali bertanya, kali ini di sertai dengan kehati-hatian. Jeno berharap, siswa tersebut tak menyadari kalau Jeno meremehkannya—kalau dia beneran si penyelamat itu.

Dia menggeleng. "Yang pasti bukan aku."

"Terus siapa?"

"Sebentar lagi dia dateng, kamu tunggu aja. Gak lama kok."

Jeno akhirnya memutuskan buat mengiyakan ucapan si siswa itu dan tak perlu banyak bertanya. Walau, sebenarnya dia bisa saja untuk mendesak si siswa dengan memberitahu siapa penyelamat itu.

Ditiliknya si lawan bicaranya itu memainkan jemarinya, menunduk. Sepertinya ia tampak canggung untuk membuka percakapan baru. Haruskah Jeno yang memulai?

"Lo siapa? Jangan tersinggung, gua baru ngeliat lo pertama kalinya."

Siswa imut itu mengangkat kepalanya lalu tersenyum maklum. "Aku Zhong Chenle, seangkatan juga sama kamu."

Jeno sedikit berjengit mendengarnya. Ia meringis, harusnya Jeno lebih memperhatikan teman-teman di angkatannya supaya tidak begini.

"Gua Jeno, salken ya."

"Salam kenal juga." Chenle menjawab, masih mempertahankan senyum di wajahnya walau kali ini lebih tipis.

Jeno membalasnya dengan senyuman. Menurutnya, Chenle masih sangat polos untuk ukuran siswa sekolah menengah atas seperti mereka. Rasanya Jeno ingin melindungi Chenle dari kekejaman dunia ini.

Tutur katanya juga halus dan enak di dengar, tidak sepertinya yang kalo ngomong suka di tambah urat dan terkesan ketus.

Tuhan, tolong lindungi Chenle dari sekumpulan cowo brengsek di sekolah ini.

"Jeno maaf, seragam mu yang satunya lagi ga bisa aku cuci. Jadinya aku taro di plastik, ga pa-pa?"

Jeno menggeleng, "ga kok, ga pa-pa."

"Udah aku masukin tas ya Jen."

Jeno cuma ngangguk, kemudian matanya kembali menjelajah seluruh ruang UKS.

Hanya beberapa kali Jeno masuk ke sini, yang pertama karena ia pingsan pas upacara, yang kedua cuma ngobatin luka gara-gara Jeno jatuh di lapangan terus lututnya berdarah.

Berkali-kali Jeno melirik kearah pintu, menurut penghitungan Chenle, ini sudah yang ke sepuluh kalinya. Jeno penasaran banget, ia berharap ada orang yang membuka pintu itu.

Chenle cuma menahan senyumnya, Jeno pasti sangat penasaran siapa yang udah nyelamati dia. Ia juga aslinya menantikan makhluk itu, berdecih pelan, anjir si jamet kemana? Lama amet.

"Sukur banget deh Jen lo udah sadar!" Suara pintu terbuka di sertai oleh ucapan penuh kelegaan keluar dari cowo bersurai oranye yang berdiri membelakangi pintu.

Jeno buru-buru kembali menegakan tubuhnya. "Lho kak Renjun?"

Renjun, cowo ganteng itu, mulai berjalan sambil mengukir senyum lemah ia membelai surai hitam Jeno dengan lembut. "Bilang sama gua, apa yang terjadi sama lo?"

Dia harus bilang apa?

Ia tak bisa menggunakan sebuah alasan basi untuk menutupi ini, Huang Renjun bukan seseorang yang bisa di bohongi dengan mudah. Mata seniornya itu penuh akan kecemasan yang sangat kentara.

Jeno semakin tak bisa untuk membohongi Renjun bila cowo itu malah menatapnya begini. Namun, lidahnya kelu, ia sama sekali tak bisa untuk berkata.

"Kak—lo yang nemuin gua tadi di kolam renang?" Jeno membuat sebuah pertanyaan baru, barangkali bisa mengalihkan pembicaraan barusan.

Renjun mengangguk. Jeno menatap seniornya lamat-lamat, dari atas hingga bawah. Ia menyentuh ujung seragam Renjun—yang basah. Terbukti Renjun ikut menceburkan diri ke dalam kolam renang.

"Makasih banyak kak," ujar Jeno tulus.

Renjun membalasnya dalam bentuk anggukan. "Gua khawatir banget Jen tadi, lo ngambang gitu aja di tengah-tengah."

Jeno tersenyum. "Sekarang udah ga ada apa-apa lagi kak. Buktinya gua udah sadar di sini kan." Ujar Jeno, tak ingin membuat seniornya semakin mencemaskan dirinya.

Keheningan mulai menyelimuti mereka, ketiganya hanya terlarut dalam pikiran masing-masing. Jeno yang berusaha mengarang sebuah alasan demi menyamarkan ini, Renjun dan Chenle yang berpikir penyebab Jeno tercebur.

Rasanya Jeno ingin mengerang frustasi, mengapa otak pintarnya tak kunjung mengeluarkan solusi yang tepat? Padahal Jeno sangat membutuhkan itu.

Jeno mengigit bibir bawahnya sambil berkali-kali melirik kearah Renjum cemas. Ia takut bila ia cuma beralasan, Renjun dengan mudah dapat mendeteksinya.

Lee Jeno aslinya bukan seorang pembohong yang handal.

Jemari Renjun merambat kemudian menggenggam tangannya. "Jen, kok lo bisa berakhir mengenaskan seperti tadi?"

Sudah Jeno duga, Renjun akan terus menanyakan pertanyaan yang sama sampai ia mendapat jawaban yang ia ingin.

Jeno mengambil nafas perlahan, berusaha tampak lebih tenang. "Kepeleset kak. Jadinya gua jatoh."

Alasan yang cukup bagus Lee Jeno.

"Kok lo berakhir di sana? Kan tadi kita balik sama-sama, gua ngeliat dengan jelas lo melangkah ke kelas lo kok."

"Oh, itu. Ada sedikit urusan, guanya kan balik lagi abis itu. Mungkin lo udah di kelas kali."

Jeno bersyukur ia bisa berbicara dengan lancar, tak gelagapan. Bersyukur bisa mengontrol mimik mukanya.

"Kepeleset dengan seragam ganti, begitu?" Renjun kembali berkata. Jeno tak bisa mengartikan pandangan Renjun kini.

Terbekatilah insting Huang Renjun yang begitu tajam.

Jeno mengangguk, sedikit kaku. Berusaha untuk tidak terlihat gelisah, mencoba setenang mungkin agar Renjun percaya pada ucapannya.

Jeno memang harus menutupi ini.

"Kalo boleh jujur," Renjun berkata pelan. "Gue ga yakin. Bukannya lo taat aturan? Ga mungkin lo nyasar ke sana. Harusnya lo di kelas dan seragam lo udah berganti."

Renjun mengambil nafas, lalu meletakan kedua tangannya pada bahu adik kelasnya itu. "Katakan pada gue, sebenarnya apa yang terjadi sama lo! Jangan cari alasan buat nutupin itu, lo payah dalam berbohong Jen."

Ucapan akhir Renjun sedikit menohok Jeno, sialan.

Renjun kini memandangnya dengan tajam. "Bilang Jen, pasti ada yang ga beres!" desaknya.

Haruskah Jeno bilang yang sebenarnya?

Apakah Huang Renjun dapat di percaya?

Keadaannya mendesak, Jeno tak bisa lagi berkilah. Mana lagi Chenle yang tutup mulut dari tadi seolah mendukung Renjun.

"Lee Jeno, please?" Raut memelas terpasang. "Lo harus jujur kali ini."

Jeno membuang nafas sedikit kasar. "Seragam gue, di ambil dengan para cabe—"

"Para cabe? Siapa?" potong Renjun.

Jeno menghadiahinya dengan tatapan tajam. "Diem, atau lo mau gue ga nerusin kalimat tadi?" Ancamnya.

"Oke, santai. Lanjutkan."

"Terus, seperti yang lo tau mereka nyemplungin seragam gue ke air. Tadinya gue nyuruh mereka buat ngambil karena itu mereka yang berbuat. Tapi, si cabe itu malah menendang gue."

"Dan lo ga ngelawan? Tolol." Renjun meledek usai Jeno selesai menjelaskan. "Kita harus ngelaporin ini!" Ia beranjak dari kursinya.

Saat Renjun hendak mengambil langkah, Jeno mencekal pergelangannya, ia berbalik lagi. Di sambut dengan Jeno yang menggeleng.

"Jangan kak."

"Jangan?" Renjun berdecih. "Dengan keadaan lo yang sekarang ini, karena ulah mereka, lo masih mau ngelindungi mereka?! Jen, jangan gila!"

"Gue bilang jangan ya jangan Huang Renjun!" jerit Jeno. "Jangan memperbesar masalah ini!"

"Justru ini masalah besar Lee Jeno," desis Renjun. "Jangan memikirkan mereka yang udah nyakitin lo!"

"Pokoknya kita harus ngelaporin ini, ke guru dan—Mark." Tandas Renjun.

Jeno mengeratkan cengkramannya, mencoba menahan Renjun. "Jangan bilang ke siapapun! Entah itu ke guru atau ke Mark!"

Renjun melepaskan tangan Jeno yang mencengkram pergelangannya itu dengan kasar. Ia menggeram tertahan, wajahnya menahan amarah. Kedua tangannya juga saling mengepal.

"Gue tanya sama lo sekarang," Renjun mencengkram kerah Jeno. "Apa yang ada di pikiran lo?! Sampe lo ngemis-ngemis ke gue buat ga ngelaporin hal-hal ini hah?!"

Chenle menahan nafasnya, ia ingin menghentikan Renjun, tapi pastinya ia tak akan sanggup. Renjun sudah di kuasai amarah.

"Lo rela jadi mainan mereka tanpa bisa berbuat apa-apa! Tapi ini jelas menyakiti lo!" Renjun berucap lagi. "Begonya lo ga ngelawan, malah diam selayaknya orang idiot."

"Jaga omongan lo." kata Jeno dingin.

"Omongan gue bener kok. Lo tau itu Jen."

Jeno menutup matanya sejenak, ia bingung harus bagaimana lagi. Renjun semakin mendesaknya, tapi Jeno tak ingin semua ini makin panjang.

"Please, kak. Gue mohon, jangan pernah bilang hal ini ke siapapun.."

Renjun melepaskan cengkramannya kemudian mengacak rambutnya frustasi. Ia semakin bingung, sebenarnya apa yang ada di otak Jeno? Renjun tak habis pikir.

"Setelah semua yang udah mereka lakuin ke lo? Jeno, lo tau itu parah!"

Jeno merasakan air matanya juga ikut mendesak agar di keluarkan, berupaya agar tidak berkedip. Entah kenapa rongga dadanya seperti ada yang menghimpit, membuatnya merasa sesak.

"Kak—gue bisa ngadepin itu semua."

Renjun kembali berdecih. "Bisa ngadepin itu semua, lo bilang? Gue tau lo ga sanggup Jen. Lo rapuh."

"Jangan bilang seolah gue lemah kak."

"Kalo lo ga lemah, lo udah ngehajar mereka satu-satu."

"Mereka cewe kak!" pekik Jeno. "Gue bisa apa?! Guru-guru pasti berpihak pada mereka, percuma juga!"

"Lo jangan ngehargain cewe yang udah ngebuat lo jadi cowo paling menyedihkan Jen."

"Kak, please.." Suara Jeno melemah, kepalanya tertunduk. "Gue ga tau gue harus gimana lagi biar buat lo tutup mulut. Gue mohon jangan.."

"Jeno, pikirin kalo misalkan gue gaaada waktu lo di kolam renang?"

Jeno kembali mengangkat kepalanya, pandangannya sendu. Renjun dapat melihat bahwa kedua mata indah itu terlapisi kaca, yang sebentar lagi akan membentuk anak sungai kecil yang mengaliri pipi putih Jeno.

"Sementara ini gue harus nyembunyiin dulu."

"Jeno, semua ini baru permulaan. Selanjutnya akan ada yang lebih buruk dari ini. Gue gamau lo jadi boneka mereka," Renjun memegangi kedua bahu itu. "Dan, yang perlu lo lakuin hanyalah ngelindungi diri lo dan ambil tindakan yang tepat."

"Itu sama aja lo pengin gue berubah pikiran kan?" ujarnya. "Tutup mulut lo!"

Renjun membuang nafas kasar. "Lo emang kepala batu ya, Jen? Terserah lo mau gimana, harusnya gue emang biarin lo tenggelam gitu aja. Gue udah usulin, tapi lo malah begini."

Tanpa memandang Renjun, Jeno tersenyum mengejek. "Gue ga pernah minta lo buat nolong gue."

"Ya. Sekarang, gue nyesel pernah nolongin lo dan nyesel pernah kasihan sama orang kayak lo."

"Gue ga perlu di kasihani kok. Bagus kalo lo nyesel."

Renjun tersenyum miring, ia menarik lengan Chenle lalu keduanya bergegas meninggalkan ruang UKS. Meninggalkan Jeno sendirian di sana.

Jeno memandangi langit-langit ruangan, ia mengusap wajah kasar dan menyeka air mata yang sempat keluar. Untungnya Renjun dan Chenle tak ada.

Ia tak bermaksud untuk membiarkan para cabe itu mempermainkannya, setidaknya belum untuk saat ini. Jeno hanya harus menentukan waktu yang tepat untuk bertindak.

Bilanglah Jeno terlalu baik. Memang. Tapi ia anggap itu keputusan yang paling baik untuk di ambil saat ini.

Tentang Mark Lee, Jeno jadi terpikirkan sesuatu.

Ia tahu maksud Ayah-Bunda nya, Mark Lee calon yang di pilihkan mereka. Tak sepantasnya ia menyembunyikan ini semua dari Mark, padahal kedua orang tuanya sudah mempercayakan Mark.

Jeno hanya takut Mark khawatir. Cowo itu tanpa pikir panjang langsung mengambil tindakan tanpa mendengarkan seluruh penjelasan lebih dulu.

Tapi, tunggu...

Jeno tersenyum miring, memangnya Mark Lee pernah mengkhawatirkan dirinya?

Sepertinya tidak.

Oh, Lee Jeno yang malang. Mengharapkan Mark Lee menaruh secuil perhatian padamu.

"Jangan terlalu banyak berharap Lee Jeno." Ia tersenyum getir. "Pada hal yang mustahil terjadi."

—OoO—

A/N: halo semuanya! Btw, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan yaa. Yha, chapter ini emang gaada si Makeu hehe, tapi adanya si Renjun. Bulan puasa sih aku bisa update, tapi waktunya tentu. Waktunya mungkin kayak malem ini. Sori, kalo kalian nemu typo hehe. Note gue banyak amet yak, yaudah. Review nya dong sayang~