EVERYTHING
.
.
Warning : Mature content
Don't like, just click back.
Itachi menghela nafasnya kasar. Melepaskan kancing mantelnya dan menyamankan diri di kursi kemudi. Pria itu merasa sedikit tak nyaman karena wanita yang saat ini juga tengah berada dalam mobilnya, secara terang-terangan terus mengamatinya. Apalagi, setelah kejadian tadi. Ah ya, Itachi berpikir dirinya sudah benar-benar gila. Bagaimana bisa dia tergoda dengan gadis kecil yang sebenarnya sama sekali bukan tipenya itu. Ino kekanakan, manja, dan terlalu agresif. Namun bukankah seorang gadis yang kekanakan, manja dan terlalu agresif itu menggugah rasa ingin melindungi, menjaga dan mengayomimu, eh Itachi?
Mobil Itachi berhenti tepat di depan gedung apartemen yang ditinggali Ino. Pria itu memilih diam sedari keluar dari motel sesampainya mengantar Ino pulang.
Gadis di sampingnya itu tak ada pergerakan atau tanda-tanda akan meninggalkan mobilnya. Itachi mengernyit heran dengan tingkah gadis pirang itu.
Itachi hendak melontarkan kata usiran kepada Ino, namun kata-kata itu bak tertelan kembali. Mata hitam kelamnya bertemu dengan mata sebiru lautan Ino begitu menenggelamkan. Pandangan Itachi turun, menangkap gambaran hidung Ino yang ramping dan sempurna. Lalu turun lagi, tertuju pada bibir ranum Ino yang penuh dan terasa manis itu. Ya, Itachi benar sudah membuktikannya, dan ia masih ingat jelas bagaimana rasanya.
Tanpa sadar, Itachi mencondongkan tubuhnya terhadap gadis itu. Mengecup singkat bibir sensual Ino yang terus menyita perhatiannya. Itachipun tak paham bagaimana perasaannya terhadap gadis yang tengah menarik kerah mantelnya dan memagut bibirnya tanpa aba-aba.
Seketika ia menginginkan gadis itu, namun ia juga merasa berdosa. Bagaimana nantinya jika istrinya tahu bahwa ia sempat melakukan affair dengan mahasiswinya sendiri. Itachi mendorong pundak Ino perlahan. Menyudahi pagutan intens itu. Benang saliva nampak memanjang menghubungkan bibir keduanya.
"Pulanglah, Ino. Kita sudah sampai." Hei siapa juga yang tidak tahu kalau mereka sudah sampai? Ino mendengus kesal. Dan juga, siapa yang memulai menciumnya tadi? Lalu sekarang, apa lagi? Professor tampannya itu menyuruhnya pulang? Tak tahukah kalau Ino masih ingin bersamanya.
Ah, Ya. Ino mencoba mengerti situasi Itachi. Mereka bukanlah pasangan kekasih. Situasinya lebih rumit, terlebih lagi status Itachi yang merupakan suami dari orang lain.
"Baik, Prof." Ino melepas safety belt nya dan turun begitu saja dari mobil Itachi.
Pria itu kemudian mengemudikan mobilnya pulang setelah memastikan Yamanaka Ino pulang dengan selamat.
--
Itachi menggenggam tangan istrinya dengan penuh sayang. Anko, istrinya belum ada tanda-tanda akan siuman. Itachi mengecup tangan Anko, meminta maaf atas penghianatan yang hari ini ia lakukan.
Pria itu sebenarnya takut. Takut menghadapi situasi dimana dia hanya akan terus menyakiti istrinya.
Apakah benar Itachi tertarik pada gadis itu hanya karena berciuman dan melakukan sex sekali dan mendapatkan keperawanannya? Ah tidak. Itachi rasa sebelum itu. Semenjak Ino dengan terang-terangan memperhatikannya dan bersifat berani padanya, membuat nalurinya penasaran. Hanya saja, ia terus menepisnya. Hingga hari ini, ia mencoba untuk melewati batas yang sebelumnya ia buat sendiri. Itachi pun sampai sekarang masih terus meyakinkan dirinya jika ini hanyalah ketertarikan fisik semata. Bagaimana mungkin ia dapat melibatkan perasaannya hanya karena merasa kesepian setelah 2 bulan istrinya koma?
Ah ya, memori itu muncul kembali. Kejadian yang susah payah ingin ia lupakan. Yang membuatnya selama ini berpura-pura menjadi orang bodoh yang tuli dan buta.
Bukankah Itachi pernah mengatakan bahwa ia pernah sangat mencintai istrinya, namun rasa itu sekarang berubah?
Sungguh pengecut jika perasaannya terhadap Anko berubah hanya karena ia merasa kesepian sejak istrinya itu sakit. Sungguh, Itachi bukan laki-laki yang demikian.
Rasa sakit yang ia dapat dari kejadian yang sangat ingin ia lupakan itu, muncul kembali.
Flashback
Itachi tersenyum sumringah melihat buket bunga yang ia bawa. Ia membayangkan wajah bahagia dan terkejut istrinya melihatnya pulang lebih awal dari tugasnya di luar kota. Sungguh, Itachi bukanlah tipe-tipe pria romantis. Sampai di saat istrinya mengeluh padanya untuk bersikap lebih romantik. Itachi berpikir, mungkinkah sebegitu kaku itu kah dirinya. Sampai-sampai istrinya yang selama ini tak pernah protes apapun padanya, mengeluhkan hal itu. Maka dari itu, ia mencoba untuk belajar menjadi apa yang wanitanya itu inginkan.
Pada awalnya, Itachi seharusnya pulang esok. Namun, karena tugasnya telah selesai lebih awal, ia bermaksud pulang tak memberitahu Anko. Bermaksud memberinya kejutan. Itachi benar-benar merindukan wanita itu.
Sesampainya di rumah, Itachi sedikit curiga saat mendengar suara-suara aneh. Setelah ia telusur, suara itu berasal dari kamarnya. Suara aneh semacam suara... desahan. Deg!
Itachi dengan terburu menuju kamarnya. Pintu ruangan itu tak tertutup rapat. Mata Itachi melotot tak percaya dengan apa yang ia lihat. Istrinya, istri yang sangat dicintainya itu dengan tega menghianatinya dengan orang yang selama ini ia perkenalkan sebagai teman semasa kecilnya.
Dunia Itachi runtuh. Matanya memerah. Antara marah, kecewa, sedih menjadi satu. Mulutnya sudah akan berteriak, agar dua orang yang sedang bergumul itu tahu bahwa sang pemilik rumah ada di sana menyaksikan semua perbuatan mereka.
Itachi memilih pergi dari sana. Terlampau kecewa. Ia seharusnya marah, menghampiri mereka, dan paling tidak melayangkan satu dua pukulan pada keparat yang menjajal istrinya itu. Namun, Itachi tak kuasa jika harus mendengar alasan atau bualan yang akan dilontarkan Anko. Semacam alasan mengapa dia lebih memilih berselingkuh dengan laki-laki lain, atau mengabsen kekurangan Itachi yang tak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Bukankah mereka menikah adalah untuk saling melengkapi? Namun mengapa?
Dengan marah Itachi melempar buket bunga indah yang sebelumnya ia persiapkan untuk Anko, ke dalam tempat sampah. Itachi berharap ia dapat membuang rasa kecewanya terhadap wanita yang sangat dicintainya itu, sama mudahnya seperti saat ia membuang bunga itu. Namun nihil. Dadanya sesak. Air matanya tak dapat lagi ia bendung. Ia mungkin harus menertawai dirinya sendiri sekarang seperti saat ia menggoda Obito yang menangis karena cinta.
Itachi bergegas menuju mobilnya yang masih terparkir di depan rumah. Memacunya dengan cepat menuju kemanapun yang dapat ia tuju.
Dan di sinilah Itachi sekarang. Di bar Deidara. Beberapa botol kosong minuman beralkohol berjejer di meja pria itu. Matanya sayu. Kepalanya ia senderkan di meja itu. Deidara menatap kasihan sahabatnya itu. Ya, biarlah Itachi sendiri dulu. Pria itu bukan tipe orang yang suka diberi kata penyemangat saat ia sedang jatuh seperti ini.
Dengan kesadaran yang hampir hilang, Itachi meraih ponselnya. Menekan tuts nomor 1 untuk panggilan cepat.
"Halo? Sayang? Bagaimana di sana? Apakah semua lancar?" Itachi menyeringai sinis. Sayang? Apakah kata itu tertuju padanya?
"Ke.. kenapa... hik... kau..." Itachi tak dapat meneruskan perkataannya karena terlalu mabuk. Itachi merasakan sekelilingnya berputar.
"Sayang... apa kau mabuk? Haloo?" Itachi tak sadarkan diri.
Flashback end
Semenjak saat itu, Itachi memaksa hatinya untuk berdamai. Berpura-pura jika hari itu tak pernah ada dan dirinya tak pernah melihat kejadian menyakitkan itu.
Ia masih menyayangi Anko. Terlebih, ayah mertuanya saat itu menitipkan Anko padanya, berpesan untuk selalu melindungi putrinya, sesaat sebelum meninggal.
Dengan kondisi Anko yang sperti sekarang ini, Itachi berusaha menguapkan semua kekecewaannya, dan menganggap mungkin ini adalah salah satu jalan agar Anko kembali padanya dan berhenti menemui laki-laki itu.
Jika dulu Itachi takut akan kemungkinan yang ada bahwa Anko dan pria itu masih bisa bertemu, namun sekarang rasanya sedikit aneh. Ada sedikit rasa lega? Lega untuk apa? Apakah ia merasa lega setelah membalas perbuatan Anko kepadanya? Namun, apakah Anko melihatnya? Dan juga, wanita itu tidak tahu bahwa Itachi ada di sana pada hari itu dan menyaksikan semuanya.
Perlahan, hati Itachi melepas Anko. Berusaha mendapatkan pemilik baru yang layak.
Itachi mengecup dahi Anko singkat. Maaf, mungkin kali ini Itachi tak akan tenggelam dalam ketakutannya lagi.
Itachi tak ingin membodohi dirinya lagi. Rasa sayang yang tersisa itu tak lain dan tak bukan adalah rasa iba dan kasihan. Itachi akan tetap merawat Anko hingga sembuh. Bagaimanapun, Anko masihlah istrinya. Selepas itu, biar wanita itu yang menentukan.
Itachi akan melakukan sepatutnya apa yang harus ia lakukan kepada istrinya. Itachi tak dendam pada wanita itu, hanya rasa sakit yang mati-matian ia coba untuk lupakan masih berbekas. Anko menghianatinya entah sejak kapan ia pun tak tahu. Itachi hanya tahu itu sudah berjalan 6 bulan sejak mata kepalanya melihat sendiri penghianatan istrinya.
Air mata Itachi menetes. Setetes. Dua tetes. Haruskah hidupnya serumit ini? Perlukah?
Ponsel Itachi berdering singkat. Ada satu pesan masuk dari nomor tak dikenal. Namun Itachi cukup tahu siapa pengirimnya setelah melihat isi pesan itu.
'Professor. Apa kita bisa bertemu? Ada hal yang ingin saya sampaikan.'
Dan disinilah, ia sekarang. Menyeruput kopi hitam panasnya, menunggu seseorang datang. Alunan musik klasik yang diputar pemilik cafe, membuatnya tenang, memejamkan mata menikmatinya.
Netranya membuka, menyadari pergerakan seseorang yang mengarah padanya. Orang yang ditunggu datang, Yamanaka Ino.
Gadis itu berbeda. Lari kemana sikap ceria dan manjanya yang selalu Itachi dapati dari gadis itu? Si pirang hanya terlihat datar.
"Maaf, professor, telah menunggu lama." ujar gadis itu menundukkan kepala maaf.
"Tak apa, Yamanaka. Hal apa yang ingin kau bicarakan ke padaku?" Tanya Itachi pada intinya.
"Saya ingin meminta maaf atas kejadian kemarin, Prof. Saya berjanji akan mengubah sikap dan menjauhi Profesor." Deg! Ada apa dengan gadis itu? Gadis itu benar-benar berbeda dari Ino yang biasa.
Oh bukankah seharusnya Itachi merasa lega dan tenang karena tidak akan diganggu oleh gadis itu lagi? Tapi kenapa, hanya rasa tak rela gadis itu demikian? Terlebih Itachi adalah orang pertama bagi Ino. Mengapa? Mengapa gadis itu 'menyerah' setelah kemarin memberikan mahkotanya pada Itachi?
Itachi menatap kepulan asap dari cangkir kopinya yang menguap. Otaknya serasa kosong.
"Prof?" Suara lirih gadis itu membuatnya sadar.
"Ah ya, Yamanaka. Itukah yang ingin kau bicarakan. Ada apa? M-maksudku kenapa kau tiba-tiba berubah? Biarkan aku pesankan minum untukmu." Itachi hendak mengangkat tangannya memberi tanda kepada pelayan, namun tangan Ino menahannya.
"Tak perlu, prof. Saya tak akan lama." Gadis itu menggenggam tangan Itachi hangat. Mata aquanya pun kian menenangkan.
"Saya hanya merasa akan menjadi pengganggu dalam kehidupan Profesor. Terlebih pula professor memiliki seorang istri..." Ino melepaskan genggamannya. Itachi hanya diam menunggu gadis itu meneruskan kalimatnya.
"Saya juga ingin meminta maaf, karena saya melihat anda sebagai laki-laki. Saya mencintai anda." Mata Itachi membulat tak percaya atas pengakuan yang dibuat gadis itu.
Itachi hendak mengatakan sesuatu. Namun ia tahan, benarkah ia ingin menahan gadis itu? Benarkah ia ingin gadis itu untuk tinggal?
"Yamanaka. Aku mohon tetaplah disini." Ino pun tak percaya akan apa yang baru saja ia dengar. Itachi, pria itu memintanya untuk tinggal?
Entah bagaimana, saat ini keduanya tengah berbagi ciuman mesra di dalam mobil Itachi. Saling memagut bibir lawannya. Itachi membelai pipi halus Ino yang menghangat. Gadis itu tersipu sama seperti dirinya.
Jika ditanya mengenai perasaannya pada gadis itu, Itachi tak tahu harus menjelaskannya bagaimana. Apakah ia mencintainya? Ah bukan, belum sekompleks itu. Apa dia menyayanginya? Entahlah. Apa dia menyukainya? Yang satu ini memang benar. Itachi menyukai Ino. Ia menginginkan gadis ini. Selalu. Melebihi rasa sukanya terhadap Anko yang sudah mulai memudar.
Itachi terus ingin mendekap gadis itu, mencium gadis itu, ah Itachi menginginkan semuanya. Egoiskah dirinya yang ingin memuaskan dahaganya dan mengobati lukanya? Salahkah? Ia tak perduli. Persetan dengan itu. Itachi tak perduli lagi dengan janji pernikahannya. Ia tak masalah jika harus menanggung dosa ini.
Ino mendorong pelan bahu Itachi. Meminta ruang untuk menghirup oksigen banyak-banyak. Lipstik yang dipakai gadis itu berantakan akibat perbuatannya barusan. Mata sayu gadis itu mengisyaratkan sesuatu. Hasrat. Dengan senyum penuh arti gadis itu berkata...
"Ingin mampir, Prof?" Dengan kerlingan nakal Ino mengecup singkat bibir Itachi.
Pria itu tak menjawab. Ia lantas mengemudikan mobilnya hanya pada satu tujuan. Tempat gadis itu.
Toh gadis itu kan yang memintanya? Itachi benar-benar tak keberatan sama sekali. Justru sangat dengan senang hati. Bagaimana bisa dia menolak, jika mangsanya sendiri yang menawarkan diri.
Biarlah ia jatuh terjerembab dalam hubungan rumit ini. Tak masalah. Asal ia tetap bersama dengan gadis itu. Gadis yang membuat dirinya tetap hidup, dan dengannya Itachi ingin mengobati luka masa lalu.
Itachi kagum dengan apartemen Ino. Bukan atas kemewahannya, namun atas kebersihan dan tata letak setiap perabotnya yang tepat. Warna-warna pastel tampak menghiasi dinding-dindingnya. Terlihat hangat, sama seperti pemiliknya.
Ino menuju ke dapur minimalisnya bermaksud mengambilkan minum untuk tamu tampannya itu. Bukankah itu hal basic yang harus dilakukannya? Terlepas apapun maksud dari tamu itu. Itachi mengikuti Ino. Memeluknya dari belakang ketika Ino sibuk akan cangkir keramik itu. Tubuh Ino yang lebih pendek dan kecil darinya, sangat nyaman didekap. Dapat Itachi cium, harum yang menguar dari rambut gadis itu. Aroma yang memabukkan dan membuatnya ingin menghirupnya lagi dan lagi.
Ino tersenyum mendapati Itachi yang dengan intens mencium helaian rambut pirang panjangnya.
"Anda menyukainya?" Ino berbalik, menghadap Itachi dan mengalungkan tangannya pada leher pria itu.
Mata hitam dan aqua itu saling tatap. Saling menyelami keindahan yang terdapat pada iris lawannya. Ino berjinjit, mengecup rahang maskulin pria di depannya itu. Itachi tak bergeming. Ino mencium lagi sisi lainnya. Kemudian menurunkan ciumannya ke leher Itachi. Mengigitinya kecil dan menciuminya. Darah Itachi berdesir. Matanya memejam erat, menikmati kecupan dan cumbuan Ino di lehernya. Tak perduli jika Ino menandainya.
Ino tahu Itachi menikmatinya. Tangan mulusnya menyusup masuk ke dalam hoodie yang dikenakan Itachi. Oh ya, tunggu. Apa Ino lupa mengatakan bahwa penampilan casual Itachi benar-benar menghipnotisnya. Itachi tak tampak seperti pria berusia 40 tahun! Ino bersumpah. Itachi masih sangat menarik di umurnya yang sudah dikatakan sebagai usia seorang ayah.
Ino pun tak keberatan jika harus menerima anak Itachi dari pernikahannya dengan Anko. Sama sekali tidak. Namun, dari yang Ino tahu bahwa Itachi belum memiliki anak.
Tangan Ino mengelus lembut otot perut Itachi dan naik membelai dada bidang laki-laki itu. Jemarinya dengan terampil memainkan puting laki-laki itu cukup membuat sang pemilik mengerang tertahan.
Ino mendorong Itachi ke meja kabinet di belakangnya. Membuat pria itu terduduk di atasnya. Tak ada pembicaraan, hanya gestur yang mengatakan jika mereka akan memulai permainan. Ino menarik lepas pakaian Itachi hingga membuat tubuh bagian atas si pria tak tertutupi lagi. Dapat dilihat oleh Ino bercak-bercak kemerahan di leher Itachi akibat perbuatannya tadi.
Mata Itachi sayu, melihatnya dengan ingin. Pandangan Ino tertuju pada pangkal paha pria tampan yang saat ini tengah menunggu pergerakan Ino sebelumnya. Itachi pun belum pernah merasakan didominasi oleh wanita apalagi yang jauh lebih muda. Namun kali ini, Itachi dibuat sangat penasaran.
Dapat Ino lihat sesuatu yang besar terhalang celana yang dikenakan Itachi. Ah, Ino sangat ingin menyentuhnya. Membebaskannya dari belenggu itu.
Ino membuka resleting celana pria itu. Mengeluarkan sesuatu yang menarik perhatiannya sedari tadi, tanpa repot2 menarik lepas semuanya.
"Ugh..." Itachi meleguh ketika Ino menggenggam penisnya yang sudah keras. Tangan gadis itu terasa sangat halus, membuatnya sangat adiktif. Rasanya sungguh berbeda dengan saat ia harus memuaskan diri dan menyentuhnya sendiri. Ino kian mempercepat gerakannya. Membuat Itachi kian mengerang. Tangannya berpegang pada bahu Ino. Menyentuh dan melihat Itachi yang seperti ini membuat Ino basah. Itachi benar-benar membuatnya terangsang.
"Kkeuh... ah.." Ino mengulum benda keras dan besar itu. Mencicipi rasa tiap jengkalnya. Ini memang merupakan pengalaman pertama Ino, namun ia sudah cukup paham dari apa yang ia lihat di film maupun internet.
"Yamanaka... ah.." Itachi mengeluarkan cairan kentalnya dalam mulut Ino. Gadis itu mencoba untuk menelannya. Mengerti jika Ino tak terbiasa dengan ini, Itachi menarik tissu yang berada dekat dengannya.
"Muntahkan, Yamanaka." Itachi menangkupkan tissu di tangannya bermaksud agar Ino memuntahkan spermanya di sana. Namun gadis itu menggeleng lemah dan langsung menelannya.
"Hei!" Itachi mendelik. Gadis itu malah dengan nekat menelan cairannya. Sudah sangat jelas jika rasanya aneh (apa iya ya? Gatau juga sih XD )
"Aku menyukainya tahu!" Ino menggembungkan pipinya kesal. Itachi tak dapat menahan senyumannya melihat ekspresi lucu Ino. Sungguh ia tak menyangka jika Ino menjadi seiimut ini.
Ino tak mempercayai akan figur seseorang yang ada di depannya kini. Sungguh, Ino belum pernah melihat Itachi tersenyum demikian. Itachi tampak berkali-kali lipat lebih tampan. Oh ya, Ino mungkin tahu alasan mengapa Itachi kaku dan dingin. Mungkin ia akan mendapat masalah besar jika banyak wanita di luar sana yang melihatnya tersenyum. Sangat mempesona dan luar biasa tampan!
Itachi pun tersadar jika Ino terdiam sambil menatapnya. Pria itu mengecup bibir Ino singkat.
"Kenapa?"
"Ah tidak. Saya hanya tak biasa melihat anda tersenyum." Ino dapat merasakan pipinya memanas.
"Oh ya? Lantas bagaimana jika aku memanggilmu Ino? Dan mari berbicara santai saja jika kita sedang berdua?" Itachi mencubit gemas pipi Ino.
Gadis itu tentu saja sangat tak masalah. Ino mengakup wajah Itachi dan memagut mesra bibir Itachi. Menyatakan persetujuannya dalam bentuk ciuman mesra. Itachi memeluk pinggang Ino, merapatkan tubuh mereka berdua. Saling mengekspansi tubuh lawannya. Mencari kenyamanan yang saat ini hanya dapat terpuaskan melalui dua tubuh itu.
Anggap saja saat ini Itachi tersesat. Dan tak tahu arah jalan pulang. (Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang... cihuy)
Mungkin nanti, jika ia akan menemukan jalannya jika ia sudah ingin kembali. Namun, sekarang biarlah seperti ini dulu. Ia belum ingin kembali, dan tak tahu kapan ia berniat untuk kembali. Perasaan ini begitu nyaman, dengan Ino, orang yang baru.
Terima kasih untuk yang sudah mampir ke first storyku yang gaje ini. Wkwkwk
Semoga aku konsisten untuk menamatkan judul ini ya. Hehehe
Apa pendapat kalian tentang hubungan gelap ItaIno yang sudah memasuki babak satu ini? Wahahah
Maaf ya Ino jadi pelakor disini. :v
Hope you guys enjoy!
