EVERYTHING
.
.
Warning : Mature Content
Don't like, Just Click Back
Itachi berojigi sopan di depan ibu mertuanya. Pagi-pagi sekali, mertuanya berkunjung.
Tanpa pemberitahuan atau obrolan sebelumnya, Ibu Anko menjemput anaknya dari rumah Itachi. Hubungan pria itu dengan Ibu mertuanya memang tak pernah akur.
Itachi hanyalah seorang dosen sedangkan Anko adalah wanita kaya raya pewaris perusahaan besar peninggalan ayahnya. Hanya ayah Anko yang mendukung hubungan anaknya dengan Itachi sampai mereka menikah.
"Biar ku rawat saja anakku. Kau sebagai suami tak becus! Tak ada pengobatan bagus dan layak. Dari awal aku sudah berusaha mengalah tapi nyatanya anakku semakin menderita!" Itachi hanya menundukkan kepalanya. Menerima semua ucapan-ucapan Ibu mertuanya secara sukarela.
Ya, benar. Itachi memang bukanlah pria kaya-raya. Selama bertahun-tahun pernikahannya dengan Anko, ia sangat jarang mengunjungi satu-satunya orang tua Anko yang masih hidup. Hanya ayah Anko yang menerima Itachi, tidak dengan ibunya.
Dan sekarang, mungkin ia sangat membenarkan tindakan ibu mertuanya itu. Anko sakit, dan sebagai suaminya ia juga tidak bisa mencurahkan semua waktunya kepada istrinya. Selain bekerja, ia juga telah membuat kesalahan besar ketika istrinya harus berbaring di ranjangnya terus menerus.
Katakanlah ia pria paling egois sedunia, Itachi pun setuju. Ia mengakui.
Itachi menatap nanar, mobil mewah yang membawa istrinya pergi itu. Ya, mungkin itu lebih baik. Mendapat perawatan bagus dan mahal, akan mempercepat kesembuhan Anko.
Hari demi hari berlalu. Itachi bertukar pesan dengan Shizune mengenai perkembangan kondisi Anko. Kabarnya, Anko dibawa oleh Ibunya ke luar negeri untuk mendapat pengobatan terbaik. Dalam hatinya, ia benar-benar berharap Anko segera sadar dan membaik. Ia tentu sangat peduli terhadap Anko, yang masih menjadi istrinya, meski perasaannya yang dulu sudah semakin berkurang.
Kini, ia bisa mengatakan bahwa ia mencintai Yamanaka Ino. Wanita muda itu yang selalu bersamanya, yang selalu ada di sisinya. Seperti saat ini, melihat wanita itu di dapur miliknya. Membuatkan makanan kesukaannya. Ino bukanlah wanita yang bisa memasak. Masakan Anko justru lebih enak. Tapi entahlah, ia akan dengan sangat senang hati melahap masakan Ino yang memiliki beragam rasa.
Itachi tak ingin kehilangan gadis itu, ia ingin memiliki Ino sendirian. Namun bagaimana? Itachi adalah seorang pria beristri, dan dosen di universitas ternama. Tentu saja hubungannya dengan Ino adalah skandal besar.
Getar handphone Ino menyadarkan Itachi dari pikirannya. Ino masih sibuk dengan kegiatannya di dapur. Itachi bukanlah orang yang tak suka mengusik privasi orang lain. Namun, getar di handphone Ino sangat mengganggunya. Lagi pula ia jadi cukup penasaran, banyak sekali notif pesan yang masuk di handphone wanitanya itu.
'Ei Ino... bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan dosen gantengmu itu? Apa dia masih cukup perkasa? Bukankah tahun ini dia 41 tahun? Lol usianya hampir sama dengan Ibuku.' Itachi melotot tak percaya dengan apa isi pesan pertama yang masuk di grup percakapan Ino.
'Lol... lucu sekali... jangan berisik... Ino mungkin sedang di rumah pacarnya... Jangan sampai ia ketahuan.. hahaha' timpal yang lainnya.
'Hahaha... bisa jadi... Ratu kita memang hebat! Ino tak pernah kalah dari semua taruhan yang kita buat! Sial dia sudah kaya jadi apa dia perlu mengambil hadiah taruhan begitu saja?! Hei Ino kembalikan uangku!'
'Haha parah kau Tenten!'
'Hahahhaha'
Itachi menegang. Dirinya masih memproses apa yang tadi ia baca. Itachi tentu berotak jenius, dia bukanlah seorang yang bodoh. Tapi, apakah selama ini dirinya hanya dipermainkan seorang anak muda hanya demi kesenangannya? Sungguh Ino pantas untuk mendapatkan piala penghargaan atas aktingnya selama ini!
Itachi mengembalikan handphone Ino ke tempat asalnya. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa. Ia sudah terlanjur mencintai Ino. Betapa bodohnya ia selama ini, mempercayai bahwa wanita seperti Ino yang memiliki segalanya, menaruh perhatian kepada seorang yang tak memiliki apapun selain tubuhnya?
Itachi merasa semuanya tak adil. Ia sudah 'kehilangan' istrinya, dan kini ia juga hanya dipermainkan oleh gadis kecil.
Matanya memerah karena menahan marah. Tangannya mengepal, hingga otot-otot tangannya seakan keluar menembus kulitnya. Ia harus mendengarnya langsung dari mulut Ino atas apa yang baru saja ia ketahui.
Ino dengan senyumnya menghampiri Itachi dengan makanan di tangannya. Namun perlahan senyum gadis itu hilang, ketika mendapati perubahan ekspresi Itachi. Gadis itu bergidik ngeri, Itachi seakan mengeluarkan aura gelap di sana.
"Ino..."
"Y-ya?" Ino menelan ludahnya sudah payah.
"Apa kau benar menyukaiku?" Itachi menegakkan pandangannya, menatap Ino intens meminta jawaban. Mata itachi memerah, sungguh Ino baru pertama kali melihat Itachi yang seperti ini.
"K-kenapa tiba-tib..."
Brakk!! Itachi menggebrak meja di depannya.
"Jawab saja Ino! Ya atau tidak!" Air mata Ino menggenang di pelupuk matanya. Itachi benar-benar menakutkan. Ino menerka-nerka apa yang membuat Itachi jadi seperti ini? Matanya membulat, melihat handphonenya tergeletak di meja di dekat Itachi. Mungkinkah...
"Itachi aku bisa menjelaskan semuanya... A-aku..." Ino tak bisa meneruskan perkataannya ketika melihat seringaian sinis pria tampan itu.
"Jadi benar." Itachi tertawa bak orang yang kehilangan akal sehatnya.
"Jadi benar adanya Ino? Kau mempermainkanku selama ini? Oh tidak, mungkin aku saja yang terlihat menyedihkan di matamu, sehingga kau berpikir aku layak mendapatkan ini semua?!" Itachi sudah tak sabar lagi. Ia membentak Ino tepat di depannya.
"A-aku bisa jelaskan. Ku akui memang benar pada awalnya aku berniat s-sperti itu. Tapi itu dulu! Aku benar-benar mencintaimu sekarang!" Ino berusaha menjelaskan. Air matanya tak dapat ia bendung.
"Kau mengira aku akan percaya? Cih! Gadis kecil sepertimu memang seharusnya diberi pelajaran!" Itachi menarik Ino kasar. Tanaga wanita muda itu tentu tak sebanding dengan Itachi. Itachi menghempaskan tubuh Ino pada sofa di dekat mereka. Menindih tubuh itu dan mengungkungnya agar Ino tak dapat melepaskan diri. Tangan Ino ia satukan di atas kepala pirang itu. Itachi melepas paksa ikat pinggang yang ia kenakan, untuk ia pergunakan mengikat pergelangan tangan Ino.
Ino tak hentinya menangis. Ia takut setengah mati dengan Itachi yang ada di hadapannya kini. Tanpa berbasa-basi Itachi menyingkap rok pendek yang Ino kenakan, dan menarik paksa celana dalamnya.
Tanpa ada pemanasan atau apa, Itachi memasukkan paksa kejantanannya pada area intim Ino yang belum berpelumas.
"Aargh..." Ino mengerang kesakitan. Itachi benar-benar kasar. Ia terus berusaha melesak masuk pada bagian sempit itu. Menjejalkan ukurannya yang besar pada bagian kewanitaan Ino yang mulai basah.
"Ah..." Ino meleguh ketika penis Itachi sepenuhnya masuk. Itachi menyeringai.
"Ne Ino. Inikah yang kau cari? Melakukan sex denganku? Mempermainkanku?" Itachi mulai menggerakkan pinggulnya dengan kasar.
"Ah.. ah.. uh..." Ino tak dapat menahan desahannya. Gerakan Itachi yang kasar membuatnya menjadi basah. Kini ia tak lagi merasakan sakit pada bagian bawahnya. Yang ada, vaginanya semakin basah dan memudahkan Itachi untuk bergerak.
Itachi tersenyum sinis, melihat ekspresi Ino yang kian terangsang dan alunan desahannya yang semakin tak terkontrol. Sial! Ia sungguh berniat menghukum gadis ini. Tapi mengapa malah terasa begitu nikmat?
Itachi semakin mempercepat gerakannya. Dengan sekali tarik ia melepas paksa kemeja lengan pendek yang dikenakan Ino. Kancing-kancingnya beterbaran tak tentu arah.
Itachi mbuka kait bra Ino yang terletak di depan dadanya. Apa gadis ini sudah memprediksi semuanya?
Itachi meremas kasar dua gundukan payudara besar itu tanpa memperlambat gerakannya. Ino semakin basah dan basah. Pria itu memang tahu bagaimana memperlakukan tubuhnya.
Itachi bergerak semakin tak terkendali. Ia masih didera amarah. Namun, ia juga mencintai gadis ini.
"Uh... hm..." Ino dapat merasakan kejantanan Itachi semakin keras dan besar di dalamnya. Ah... Ino tak tahan.. Hukuman ini benar-benar nikmat. Ia sungguh rela apabila Itachi akan menghukumnya seharian seperti ini. Ia rela bahkan sampai tubuhnya remuk sekalipun. Tubuhnya sangat menginginkan Itachi. Begitu pula hatinya. Hatinya telah sepenuhnya dimiliki oleh pria yang saat ini menungganginya itu.
Mungkin Ino memang berniat 'menjajal' Itachi. Namun ini adalah balasan yang harus di terimanya. Ia benar-benar jatuh terjerembab. Ino kebablasan.
Selama ini teman-temannya lah yang ia bohongi, bukan Itachi. Ino benar-benar menyayanginya!
Dengan mudah, Itachi membalik posisi Ino menjadi menelungkup. Di angkatnya pinggul Ino dan ia mulai melakukan penetrasi.
"Sial! Kenapa ini sangat nikmat?" Desahan Ino semakin tak karuhan. Gerakan pantat sintal Ino akibat tubrukan kedua tubuh itu mencuri atensinya. Itachi menampar keras bongkahan daging bulat Itu. Meninggalkan bekas kemerahan di sana.
"Arrhhh..." Ino meleguh nikmat. Tamparan Itachi tentu menyakitkan namun Ino begitu menikmatinya.
Plaakkk... Itachi menampar sisi pantat Ino yang lain.. Ino sangat menikmatinya. Salivanya menetes begitu saja akibat desahan yang terus lolos dari mulut sensual gadis itu.
Selama ini ia hanya melakukan sex romantis dengan Itachi. Dan ia baru merasakan bahwa sex yang seperti ini dengannya begitu menggairahkan.
Gerakan Itachi semakin cepat, lantas cairan putih kental keluar begitu saja, merembes dari celah-celah penyatuan mereka.
Itachi melepas kontak tubuh mereka berdua, ia lantas bertumpu pada lututnya. Ino menoleh pada pria itu, dengan posisi berlutut di sampingnya. Ino tak dapat melihat jelas wajah Itachi yang menunduk. Dengan perlahan Ino bangkit dari posisinya. Memberanikan diri menangkup wajah Itachi agar menatapnya.
Di luar dugaan, ekspresi mengerikan tadi sudah tidak ia temui. Yang ada hanyalah mata yang terlihat sendu. Dengan segera Ino memeluk Itachi, namun pria itu hanya diam mematung.
Ino mengelus sayang surai panjang gelap Itachi yang sedikit berantakan.
"Maafkan aku..." Ino bergumam lirih
"Aku sungguh sungguh mencintaimu." Ino menambahkan.
Air mata Itachi jatuh. Sesuatu yang membuat dadanya sesak perlahan mereda.
Entah Itachi tak tahu harus bagaimana. Haruskah ia mempercayai kalimat yang Ino lontarkan barusan? Itachi tak tahu apa yang terdapat di dalamnya, suatu kejujuran ataukah hanya pembelaan diri agar permainan ini dapat tetap berlanjut?
Logikanya tak dapat berjalan. Hanya hatinya yang masih merasa sakit. Atas apa yang dilakukan Ino.
Tak mendapat jawaban apapun, Ino melepaskan pelukannya. Menatap Itachi dalam. Itachi hanya menutup matanya rapat-rapat. Namun dapat ia rasakan, bibirnya menghangat. Lumatan-lumatan kecil itu tak berbalas. Tak apa. Ino hanya ingin berniat meyakinkan Itachi bahwa benar adanya ia sangat mencintai pria itu.
Ino melepas pagutannya. Berdiri dari posisinya dan merapikan baju serta penampilannya. Mengambil barang-barangnya lalu bersiap pergi.
Ino mengerti bahwa Itachi perlu waktu sendiri. Ino berdiri tepat di depan pintu. Menoleh Itachi yang masih belum bangkit.
"Aku sudah berkata jujur padamu. Termasuk yang terakhir." Ino melangkah keluar, menutup pintu itu kembali. Ia tak ingin kondisi Itachi yang sangat kacau ini diketahui oleh orang lain.
Ino menggigit bibirnya, isak tangisnya pecah di dalam mobil mewah miliknya yang terparkir di depan rumah Itachi.
Sungguh ia menyesal dengan apa yang telah ia lakukan dulu. Ia sangat mencintai Itachi, sangat. Dan Ino berharap pria itu akan memaafkannya.
Seminggu kemudian. Itachi dan Ino masih tak bertukar kabar. Kelas mata kuliah yang harusnya diisi oleh Itachi selalu kosong. Itachi belum lagi terlihat semenjak kejadian itu. Pesan yang ia kirimkan tak pernah dibalas, teleponnya juga tak pernah diangkat.
"Eh.. eh tahu tidak. Kabarnya Professor Itachi mengundurkan diri." Celetuk Sakura membuka percakapan.
"Be-benarkah? Oh ya? Bagaimana kau tahu?" Ino sebisa mungkin menahan ekperesi kagetnya.
"Dari Naruto. Katanya Prof Itachi menyampaikan salam perpisahan di kelasnya Naruto. Kenapa di kelas kita tidak ya?" Cerocos Sakura.
"Ino kau mau kemana? Habiskan dulu ramenmu." Sakura setengah berteriak ketika Ino dengan bergegas pergi.
Apa ini? Mengundurkan diri? Sebegitu bencikah Itachi terhadapnya? Apa yang diinginkan pria itu? Ino sudah mengatakan semuanya dengan jujur.
Ino menambah kecepatan laju mobilnya. Tujuannya hanyalah tempat tinggal Itachi.
Sesampainya di sana, dengan tak sabaran Ino mengetuk pintu rumah Itachi yang nampak sepi.
Tok tok tok.. sekali, tak ada jawaban.
Tok.. tok.. tok... kali kedua, masih hening. Ino semakin kalut, bagaimana jika Itachi telah pergi dan memilih meninggalkannya?
Ino hendak mengetuk kembali, namun pintu itu segera terbuka, menampilkan sosok pria tampan yang beberapa hari ini menghilang dari pandangannya.
Dengan segera, Ino memeluk Itachi erat. Air matanya jatuh. Menahan rindu dan juga rasa bersalah. Itachi hanya diam mematung. Ia tak balik melingkarkan tangannya di tubuh gadis itu.
Itachi kemudian, berusaha melepas pelukan Ino di tubuhnya, perlahan. Ia tak ingin menyakiti gadis itu.
Ino menatap Itachi dengan sesenggukan. Ia benar-benar tak waras sekarang.
"Ino.. kita sudahi saja semuanya di sini." Itachi berucap lirih.
Ino menggeleng. Tangisnya pecah. Ia tak ingin kehilangan Itachi. Ino sangat mencintainya.
"Apa yang kau katakan! Kau hanya bercanda kan? Kau hanya ingin membalasku kan?" Ino bertanya tak sabaran.
Itachi menatap Ino dalam diam. Jemarinya menyingkirkan helaian rambut Ino yang menutupi wajah cantik itu. Itachi mengelus sayang kepala Ino. Mencoba memberikan ketenangan.
"Ino. Hubungan kita dari awal tidaklah benar. Kita hanya memaksakan ini semua. Akan semakin sulit apabila kita terus berjalan bersama." Itachi menambahkan senyum tipis di wajahnya mencoba memberikan pengertian.
"Tapi aku mencintaimu. Aku mungkin membuat kesalahan, tapi aku bersumpah itu semua dulu! Sekarang yang ku mau hanya kamu, Itachi." Ino frustasi. Dunianya perlahan runtuh.
"Pergilah. Tak seharusnya kau menemuiku lagi." Itachi berusaha melepas genggaman tangan Ino.
"Lepaskan Ino, aku tak ingin menyakitimu." Itachi berusaha memberikan peringatan, agar Ino melepaskan genggamannya.
"Aku tak peduli. Aku tak ingin pergi dari sini!" Ino bersikeras.
Tak ada jalan lain, Itachi melepas paksa tangan Ino, hingga Ino jatuh terduduk di depannya. Itachi tak tega, namun ia harus. Ino hanyalah gadis muda yang keras kepala.
Itachi menutup pintu rumahnya segera, menguncinya agar gadis itu tak dapat masuk.
Ino menangis tersedu-sedu di baliknya. Ia tak menyangka semua akan berakhir seperti ini. Bukankah balasan ini terlalu cepat?
Itachi benar-benar berusaha tak memperdulikan Ino. Sekali saja ia lengah, semuanya akan buyar. Tak lagi bersama Ino adalah pilihan yang tepat. Bukan karena ia tak mencintai gadis itu lagi, atau karena ia ingin balas dendam, hanya saja ia merasa tak pantas. Ino memiliki segalanya, ia tak ingin semuanya hancur apabila kelak ia bersama Itachi.
Tentu keluarga Ino sangat berpengaruh di Konoha. Ia tak ingin nama baik keluarga Ino tercoreng akibat skandalnya ini.
Paling tidak, ia harus berhenti dulu, agar skandal ini tak lagi berlanjut dan terkuak ke publik. Skandal cinta anak seorang pengusaha sukses yang menjalin hubungan dengan dosen yang sudah beristri.
"Huhh..." Sasuke menghela napas. Ia melanjutkan kegiatannya merapikan barang-barangnya ke dalam koper dan tas besar.
Ia sudah memutuskan. Ia akan pergi untuk sementara waktu. Ia akan putuskan nanti untuk kembali atau tidaknya.
Ia hanya ingin Ino melupakannya. Dan, menjalani kehidupannya sebagaimana mestinya.
Dilihatnya, Ino sudah pergi. Itachi kemudian memasukkan koper dan tasnya ke dalam mobilnya. Tujuannya saat ini adalah tempat Deidara. Ya, ia akui dirinya bukanlah teman yang baik. Ia selalui menemui Deidara di saat seperti ini.
Di tengah perjalanannya, Itachi tak menyadari bahwa sedari tadi sebuah mobil Jeep Rubicon hitam mengikutinya. Pengemudi di dalamnya nampak santai.
"Uchiha Itachi." Seseorang itu tersenyum menyeringai.
To Be Continue. . .
Hola.. Akhirnya update. Semoga storynya tak terlalu mengecewakan para readers yang sudah menantinya ya. huhu
Semoga cepet update lagi deh. . .
Thank you for like and reviewnya! Luv
Hope you enjoy!
