Betapa pun inginnya Hyunsik meladeni Ilhoon, tetap saja ia harus menahannya karena jika tidak, tidak akan ada album baru sampai tahun depan.
Hyunsik sedang berada dalam waktu sulit, sama sekali tidak ada kemajuan dalam pembuatan lagu barunya.
Suasana hatinya begitu buruk dan tiba-tiba Ilhoon datang ke studio tanpa mengabarinya. Pria manis itu akhirnya menyelesaikan pekerjaannya setelah berminggu-minggu.
"Ya! Jung Ilhoon!" Hyunsik berteriak, kedua tangannya mencengkram kuat bahu Ilhoon yang sebelumnya memaksa untuk duduk di atas pangkuannya.
Ilhoon terperanjat kaget, dalam sekejap ia dapat merasakan kemarahan Hyunsik lewat matanya.
Kedua mata Hyunsik menukik tajam menatap dalam pupil mata Ilhoon yang bergetar, seperti ia akan menangis.
"Apa kau sengaja melakukannya?" Hyunsik kemudian bertanya dengan suaranya yang serak akibat tidak tidur semalaman.
"Aku tahu kau dapat menyelesaikan pembuatan lagu-lagumu dengan cepat, dibandingkan dirimu aku bukan apa-apa. Tapi apa kau harus menghinaku?"
"Eh?" Ilhoon jelas bingung ia tak mengerti maksud ucapan Hyunsik, menghinanya? Ilhoon sangat menghormati Hyunsik sebagai penulis lagu, komposer, maupun produser di grup mereka.
Dan Ilhoon sangat mencintai Hyunsik sebagai kekasihnya.
"H-hyung maaf, aku tidak bermaksud mengganggumu. Aku—"
'Merindukanmu' Benar, Ilhoon sangat merindukan Hyunsik. Ia datang karena ingin melihat wajah kekasihnya. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama karena sama-sama sibuk.
"Aku minta maaf..."
Ilhoon hanya mengiyakan ajakan teman-teman Idol 94 line yang mengajaknya untuk liburan bersama di Belanda.
Mereka pergi untuk bersenang-senang melepas penat setelah jadwal yang begitu padat.
Tidak dapat dipungkiri Ilhoon juga menikmatinya, ia dapat melupakan masalahnya sejenak. Namun ia merasa ada yang salah dengan pergi tanpa memberitahu Hyunsik.
"Lagi pula dia yang memintaku untuk tidak mengganggunya" Monolog Ilhoon lalu menegak kembali birnya hingga habis.
Hyunsik melirik ponselnya yang ada di atas meja. Tidak ada telpon, tidak ada satu pun pesan baru yang masuk dari kekasihnya, Jung Ilhoon.
Selama 2 hari Hyunsik tidak kembali ke asrama, ia tinggal di studio seperti itu adalah rumahnya. Ngomong-ngomong soal tempat tinggal, saat ini Hyunsik dan Ilhoon tinggal terpisah.
Hyunsik masih tinggal dengan Eunkwang, Changsub dan Sungjae sedangkan Ilhoon bersama dengan Minhyuk. Peniel? Ia memutuskan untuk tinggal seorang diri.
Pintu studio dibuka dari luar, Hyunsik memutar kursinya seperti ingin menyambut kedatangan orang yang ia yakini itu adalah Ilhoon.
Sayangnya itu adalah Eunkwang, sang leader yang terlihat khawatir karena sudah 2 hari Hyunsik tidak pulang.
"Kau bisa menelponku hyung" Ya, itu bisa dilakukan Eunkwang tapi ia lebih suka untuk melihat langsung dibanding harus menebak-nebak keadaan 'baik' yang akan diucapkan oleh dongsaengnya.
Karena sudah memastikan keadaan adiknya ya, yang pasti tidak semengenaskan yang ada dalam pikirannya... Eunkwang pun pamit, ia harus latihan untuk pertunjukan drama musikalnya.
"Tapi Hyunsik-ah" Eunkwang bertahan di depan pintu sepertinya ia masih belum selesai bicara "Apa kau tidak merindukan Ilhoon? Ia pasti sedang bersenang-senang sekarang"
"Apa maksudmu hyung?"
O-ow apa Eunkwang salah bicara, ada apa dengan ekspresi wajah Hyunsik yang terlihat marah itu?
"Bless you!"
"Terima kasih" Balas Ilhoon yang tiba-tiba bersin.
Ilhoon rasa akan jauh lebih baik jika Hyunsik bergabung bersamanya.
Hyunsik mengenal semua teman-teman Ilhoon, mudah untuk dirinya ikut berbaur. Selain itu mereka juga bisa menghabiskan waktu bersama tanpa harus takut ketahuan.
Melelahkan...
Hari ini Ilhoon dan teman-temannya pergi berkeliling kota Amsterdam, mencoba berbagai hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya— atau tidak ada di negara mereka.
Ilhoon memilih untuk kembali ke kamarnya lebih dulu sedangkan yang lain pergi ke bar yang ada di hotel itu.
Langkah Ilhoon terhenti sebelum ia mencapai pintu kamarnya, di sana ia melihat seorang pria berdiri menatap ke arahnya.
"Hyung..." Suara Ilhoon terdengar lemah, ia sedikit tak percaya namun tak mustahil untuk seorang Im Hyunsik pergi menyusulnya.
11 jam 55 menit, 13383 KM.
Terserah bagaimana Hyunsik tahu ia di sana, dan terserah apa Hyunsik datang untuk memarahinya, saat ini yang ada di pikiran Ilhoon hanyalah memeluk pria itu.
Seperti yang dipikirkannya seperti itu pula yang dilakukannya, Ilhoon berlari ke arah Hyunsik. Memeluknya.
"Hyunsik hyung aku merindukanmu... benar-benar merindukanmu"
Ciuman panas tak terelakan setelah pintu ditutup dan dipastikan terkunci, keduanya sama-sama terbakar gairah seakan haus dan seperti kata Ilhoon ia merindukan Hyunsik.
Rindu akan percintaan mereka.
Hyunsik pun seketika melupakan amarah yang ia bawa setelah pelukan hangat Ilhoon.
Geraman Ilhoon terdengar di sela ciuman yang kini berubah menjadi brutal, Ilhoon di bawah kendali sang dominan.
Hyunsik menjatuhkan tubuh Ilhoon di atas ranjang, Ilhoon yang terengah-engah hanya bisa pasrah melihat Hyunsik melucuti celana beserta celana dalamnya.
Kaki Ilhoon dibuat mengangkang sementara Hyunsik melepaskan kemejanya, kemudian menarik turun resleting celananya.
"Hoonie, ternyata kau sudah sangat basah" Tangan Hyunsik bergerak meraba pintu masuk Ilhoon "Kau begitu merindukanku mh?"
Ilhoon mengangguk dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya, ia malu.
Dan Hyunsik merasa dirinya adalah kekasih yang buruk karena sebelumnya telah membentak Ilhoon-nya yang imut.
Tentu saja ia akan membahas hal itu dan meminta maaf, tapi nanti setelah ia menuntaskan hasratnya.
Hyunsik menggunakan percum Ilhoon sebagai pelumas, biar bagaimana pun ia tidak ingin membuat kekasihnya lebih menderita karena penisnya yang besar dan panjang.
"Nghhh..." Ilhoon menggigit bibirnya begitu ia merasakan kepala penis Hyunsik mulai masuk perlahan. Hyunsik meraih tangan Ilhoon membuat jari-jari mereka saling bertaut.
Semakin dalam penis Hyunsik masuk semakin panas Ilhoon rasakan, tubuhnya seperti akan terbelah. Dulu saat seks pertama mereka Ilhoon sempat berpikir jika dirinya mungkin akan mati karena penis Hyunsik.
Berbeda dengan Hyunsik ia tidak terlihat ragu sedikit pun saat memasuki lubang perawan Ilhoon yang begitu ketat, rasanya menggigit dan nikmat.
"Aahh! Hyu—nggghhh"
Hyunsik mengaitkan tangannya di bawah lutut Ilhoon, mengangkatnya lebih tinggi membuat mereka semakin menyatu.
Tangan Ilhoon secara naluriah mencakar punggung Hyunsik yang terbuka, tidak terganggu dengan hal itu Hyunsik dengan penuh gairah mencium bibir kekasihnya.
Setelah dirasa nyaman barulah Hyunsik menggerakan pinggulnya, ia menarik pinggulnya ke belakang melepaskan sebagian penisnya dari dalam Ilhoon kemudian mendorongnya dengan paska.
Seperti itu, berulang-ulang...
Sepanjang malam mereka akan melepas rindu tanpa memperdulikan apa pun dan siapa pun.
Hari ini akan menjadi hari terbaik Ilhoon di antara hari baik lainnya karena ia bersama dengan kekasihnya, Im Hyunsik.
Ilhoon bangun mendapati dirinya berada dalam pelukan Hyunsik, tubuhnya sedikit sakit tapi itu sangat menyenangkan.
"Mmh?" Ilhoon merasa aneh, seperti masih ada yang mengganjal.
Oh yang benar saja, ternyata Hyunsik belum melepaskan tautan tubuh mereka. Penis Hyunsik masih berada dalam lubang anal Ilhoon dan itu mengeras.
Ilhoon melirik dari balik bahunya yang sempit "Hyung..." Panggilnya sedikit gelisah, bukannya bangun Hyunsik malah semakin mengeratkan pelukannya "Aahh..." Membuat penisnya menyentuh samar titik prostat Ilhoon.
"Hyunsik hyung..."
"Sebentar sayang, biarkan aku tidur sebentar lagi"
"T-tapi bisa hyung keluarkan dulu?"
Sepertinya jawabanya adalah tidak.
Hyunsik malah menggigit gemas cuping telinga Ilhoon "Apa aku pernah mengatannya?" Hyunsik tiba-tiba bertanya.
"Mengatakan apa hyung?"
"Jika aku menyukai semua tahi lalat yang ada di tubuhmu... di sini, di sini–—"
Ilhoon menggeliat geli ketika Hyunsik mengecupi daun telinga, pipi, dan juga belakang lehernya yang terdapat bintik hitam kecil.
Tok..Tok...
"Ilhoon-ah! Jung Ilhoon, apa kau sudah bangun?"
Teman-teman Ilhoon nampak tidak terkejut dengan kehadiran Hyunsik, sama sekali tidak terasa canggung karena Hyunsik dapat menyesuaikan diri.
"Hoonie, hyung ingin minta maaf. Maaf karena hyung membentak dan bahkan menuduhmu" Ucap Hyunsik saat mereka hanya berdua, duduk di depan wahana komidi putar.
"Eng... Aku juga hyung, maaf karena mengganggumu. Tapi hyung tahukan jika aku tidak–"
"Hyung tahu, karena itu kau maukan memaafkan hyung?"
Dengan wajah penuh penyesalan seperti itu bagaimana Ilhoon bisa untuk tidak memaafkannya.
Ilhoon lalu mengangguk, tersenyum bahagia.
Hyunsik menyeringai mendekatkat bibirnya ke wajah Ilhoon, seperti ingin berbisik dengan menutupi mulutnya ia mengecup pipi Ilhoon.
Ah, Ilhoon yakin jika ia telah jatuh cinta lagi dan dengan orang yang sama lagi...
...end
