Bel sekolah berbunyi tiga kali. Seluruh murid membuang napas penuh kelegaan. Penghormatan kepada guru yang mengajar diberikan. Setelah sang guru melenggang dari ruang, ketenangan yang semula menguasai tempat hilang; terganti gaduh yang sukses mengambil alih suasana kelas. Istirahat telah tiba.

Harai Kuuko mengembus napas penuh kelegaan. Rasa senang hinggap dalam sanubari sebab masa-masa jahannam untuk hari ini hilang satu. Kepalanya akan merebah di meja bila saja sahabatnya—Yamada Ichiro—tidak menggebrak mejanya dengan penuh suka cita.

Ichiro memanggilnya dengan penuh semangat. Kuuko terpaksa mensejajarkan netra emasnya ke netra dwiwarna Ichiro ketika sohibnya itu mencerocos tanpa aba-aba, "Ih masa semalam bapak kampretku ngeganti saluran tipi pas aku lagi tegang-tegangnya nontonin ultraman ngelawan komodo raksasa! Aku kesel nah. Mana gacha-ku jelek lagi tadi pagi. Gini kisahnya apa aku harus kakin pake duit haram bapakku biar duitnya berguna dikit?"

"Bodo amat." Kuuko menjawab malas-malasan, "Kamu dah curhat gitu tadi pagi. Masih aja diomongin."

Ichiro cengengesan. "Gak papalah. Biar kita ada pembicaraan aja. Kasihan kalau suasana di antara kita canggung, bikin cringe yang ngamatin."

"Hah?"

"Gak papa. Abaikan aja." sahut Ichiro dengan kekehan ringan. Senyum terukir semangat dibarengi pandangan antusias sebelum lanjut berucap, "Kuy kantin."

Cengiran terbit di wajah Kuuko. Serta merta ia melompat dari kursi, kemudian berjalan menuju pintu keluar dengan langkah lebar; mendahului Ichiro seraya berkata, "Ayuklah!"

Berangkatlah dua sejoli tersebut menuju kantin sambil berbincang akrab mengenai kegiatan masing-masing di hari kemarin. Sesekali dua orang ini menyapa kawan-kawan yang ditemui di sepanjang perjalanan.

Singkat cerita, mereka tiba di tujuan. Kantin sekolah ketika istirahat selalu tertib meskipun ramai. Dua sejoli kontan mencari tempat kosong sembari melirik-lirik tempat makan buruan. Kegiatan mereka akan berlangsung tenang andaikan Ichiro tidak menabrak seseorang; dan akan berlangsung damai bila yang ditabrak tidak protes.

Ichiro auto berdecak. Iris dwiwarna miliknya menyorot tajam tepat ke mata beriris merah darah milik orang yang baru saja mengatainya. "Apa?"

Yang ditabrak—Aohitsugi Samatoki—membalas tatapan Ichiro dengan takkalah tajam. Remaja itu berdecak. "Kalau sama yang tua itu yang sopan, dong."

Ichiro mendesis, "Kalau sama kamu mah, ogah."

"Hah?!"

Adu tajam tatapan tidak terelakkan. Penghuni kantin mulai melirik kelakuan dua orang tersebut; tertarik kala sadar siapa pelaku cikal bakal kerusuhan. Bisik-bisik mulai terdengar di seluruh penjuru lokasi, dan terganti pekik kaget tatkala dua orang tersebut sudah saling tarik kerah seragam.

Kuuko menyeringai. Adrenalin mulai terpacu menyaksikan perkelahian yang bisa saja terjadi. Dirinya siap memberi semangat kepada sahabatnya, tapi terurung sebab sebuah tepuk terdengar tepat di belakang. Terpaksa ia berbalik, dan auto bad mood ketika tahu pelaku yang menghentikan bibit perkelahian; seorang siswa dengan rambut hijau tiga warna dan memakai lencana OSIS pada kerah blazer.

"Oke-oke, hentikan!" titah orang itu. Senyum ramah entah mengapa tetap dipasang di muka meski berpuluh-puluh pasang mata memandanginya dengan berbagai arti. "Ini masih istirahat kedua. Bertengkar saja di lapangan."

Kuuko berdecak. Iris secerah mataharinya memandang tajam remaja berseragam rapi yang mendekat. Mulutnya secara otomatis mengeluarkan ejekan ketika jarak orang itu dengannya berbeda satu langkah. "Garing, Sipit. Kok bisa orang buta kek kamu ke kantin tanpa bantuan?"

Diejek seperti itu, dirinya tidak serta-merta marah. Ia malah tetap menyungging senyum selebar-lebarnya ketika mukanya saling berhadapan dengan Kuuko. "Adik kecil jangan ngomong kasar terus, kan ketahuan akhlaknya kurang kayak tinggi badannya."

Decak sebal dikeluarkan Kuuko sebagai respon. Balasan sudah siap dilontarkan, tetapi batal tatkala seorang siswa dengan seragam yang takkalah rapi dari si Ketua OSIS datang mendekati pusat—bibit—perkelahian antar siswa.

Remaja yang mendekat memasang wajah bingung ketika sudah berdiri tepat di samping sang Ketua OSIS. Helaian ungunya sedikit bergerak ketika dirinya memiringkan kepala seraya mengamati orang-orang di sekitar, kemudian bertanya, "Sasara, ada apa ini?"

"Ah, Rosho." Ketua OSIS—Sasara—bersuara dengan nada jenaka tersurat. Senyumnya semakin lebar di hadapan kawannya saat menjawab, "Takada apa-apa. Hanya nyaris ada perkelahian karena masalah sepele. Sudah selesai, kok."

"Oh? Baguslah kalau begitu." Rosho merespon singkat. Iris jingganya memicing taksenang kepada Kuuko; membuat anak itu melakukan tindakan serupa kepadanya. "Harai-kun, kenapa masih pakai sukajan? Sedangkan kamu Yamada-kun, kenapa masih pakai gakuran? Kalian ini terlalu bodoh sampai takpaham aturan memakai seragam yang benar atau bagaimana?"

Kuuko menggertakkan giginya. Dua tangan mengepal erat, dan akan mencengkeram kuat kerah seragam si Wakil Ketua OSIS andai Ichiro tidak menepuk bahunya. Kuuko menoleh, dan melihat Ichiro memandang lurus tepat ke netra Rosho; memberikan tatapan tegas ke yang bersangkutan.

"Baik, baik. Kami memang bodoh seperti yang dibilang." tanggap Ichiro ketus. Mendengkus, kemudian memandang remeh Samatoki yang masih memandang garang dirinya. "Dengan begitu, si Umatoki ini lebih bego karena dia anggota OSIS yang penampilannya persis preman pasar gak dapat kuda."

"Bilang apa kamu bo—"

Sasara berdeham, sukses menghentikan segala ucapan yang akan terlontar dari mulut toxic Samatoki. Wajahnya tampak memelas saat berujar, "Samatoki, jangan hajar orang dulu, plis. Aku tau kamu satu-satunya bintang gebuk-gebukin pemberontak sekolah yang dimiliki OSIS, tapi jangan dilakukan sekarang. Ngehajarnya kalau kita dikasih mandat sama kepsek."

Decak sebal diberikan Samatoki sebagai respon. Dirinya langsung pergi dari tempat setelah memberi respon lain sekenanya, meninggalkan empat orang di lokasi yang sekarang saling lempar tatapan.

Seperginya Samatoki, Kuuko mengembus napas. Dirinya sekali lagi menatap Sasara, lalu berganti ke Rosho, "Makasih udah ngingatin kami buat pake seragam yang benar. Gak penting banget sumpah." kemudian berbalik; memunggungi pasangan OSIS yang selalu bersama itu seraya menarik pergelangan tangan kawannya. Lidah dijulurkan dibarengi jari tengah yang mengacung ketika lanjut berucap, "Pergi dulu ya, pasutri paling perfek."

Sesudah dua murid tersebut menghilang dari pandangan, barulah Sasara mendengkus. Tangannya melipat di depan dada ketika berceloteh, "Dia kenapa sih jadi anak? Dari zaman pemilihan OSIS sinis banget sama aku. Udah setahunan loh! Heran."

Rosho membuang napas dengan pelan. Kacamata bundar yang melindungi mata dipegang; memperbaiki posisi benda tersebut ketika dirasa melorot. Matanya memandang lurus punggung remaja dengan rambut merah api di kejauhan; mengamati yang bersangkutan saat sedang memesan makanan. "Entahlah."

Sasara terkikik. Wajahnya dihadapkan kepada Rosho saat berucap, "Lupain aja dah tentang anak itu. Mending kita sekarang pesan makan. Yuk?"

Rosho terkekeh pelan. Pandangannya melembut ketika mengiyakan ajakan tersebut. Dengan tawa bahagia Sasara sebagai respon, keduanya pergi memesan makanan sekaligus mencari tempat untuk duduk.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dering telepon berbunyi di kesenyapan ruang. Kegiatan hisap rokok terpaksa dihentikan sementara tatkala Yamada Rei membaca nama yang tertera di layar gawai. Panggilan diangkat; mendengar khidmat apa yang diucapkan pemanggil dari balik telepon.

Setelah panggilan selesai dan dimatikan, Rei menyeringai lebar.

"Baiklah ... kita lihat apa yang akan terjadi besok."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bonus Scene (1)~

"Kalian nyaris berantem sama OSIS gara-gara penampilan lagi?"

Kuuko mengangguk. Matanya memicing taksenang kala mengingat segala ucapan pasangan OSIS tadi. Pada kantin yang damai, tepatnya pada meja bundar yang ditempati lima siswa, Harai Kuuko mencerocos. "Kenapa juga dua makhluk itu peduli banget ama penampilan orang? Nyebelin banget sumpah. Andai sekolah ada peraturan tentang rambut, kujamin aja 'tu pasutri bolak-balik BK; warna rambut mereka enggak ada manusiawinya."

Doan Kazusato—kawan satu ekskul—memandang datar Kuuko. Makanan yang terapit sumpit dimasukkan ke mulut dengan santai. Di sela-sela mengunyah makan, dirinya—sekali lagi—berujar, "Gitu kisahnya, kita berlima bakal langganan BK. Kan kamu, aku, dan Jyushi rambutnya juga enggak manusiawi, sedangkan Jiro dan Icchan pake seragam sesuka hati."

"Justru itu bagusnya!" Kuuko menimpali semangat, "Dengan gitu, hubungan kita berlima bakal makin lengket!"

"Palamu!" Ichiro menanggapi seraya memukul belakang kepala Kuuko kuat-kuat. "Aku tau kamu itu anak gabutan sampe rela ikut aku ke mana aja, tapi ya jangan ajak orang juga lah boncel."

Kuuko meringis sembari mengusap-usap kepalanya. Mata memandang taksenang kepada Ichiro kala berucap, "Sadis memang kau tiang."

Di samping Kuuko, Aimono Jyushi—adik kelas Kuuko—memandang sajian siangnya dengan tatapan kosong. Tangannya bergetar kala memegang sumpit sambil melirih takut-takut. "A-aku enggak mau masuk BK. Se-serem."

"Jyushi, jangan nangis." Yamada Jiro—adik Ichiro, teman sekelas Jyushi—secara sigap menenangkan kawan di samping. Tangannya mengusap lembut pucuk kepala sang kawan, "Nii-chan selalu bilang kalau Kuuko-san enggak pernah pakai otak pas ngomong. Jadi, enggak usah dipikirin. Kuuko-san lagi kumat aja akhlaknya minus."

Kontan dua murid kelas dua di tempat tergelak puas; mentertawakan hiburan polos Jiro kepada Jyushi. Kuuko—yang sebagai bahan tertawaan dan omongan—hanya memberi sebuah dengkusan.

"Bagus. Kambing hitamkan saja aku." Kuuko menyahut ketus, tetapi senyum kecil terbentuk di wajah bulatnya.

Gelak tawa melantun bebas dari mereka berlima. Kegiatan makan siang akan berlanjut tenteram bila saja Ichiro tidak memperhatikan kawan semasa kecilnya di samping dengan serius. Kazusato otomatis mengangkat sebelah alis; bingung dengan tindakan Ichiro.

" ... tapi ya, kayaknya di antara kita, cuman Kazu yang belum pernah ditegur OSIS meski rambutnya dikuncir-kuncir kek wahana tornado kena badai."

" ... wahana tornado kena badai gimana kisahnya?"

Ichiro mengacuhkan pertanyaan spontan Kazusato. Dagu dipijat pelan dengan jempol dan telunjuk kala tetap memandang kalem kawannya. "Aku, Kuuko, dan Jiro sering ditegur OSIS karena masalah seragam. Jyushi pernah ditegur karena rambutnya persis kemonceng dan memakai make up berlebih."

"Ichiro-san!"

Ichiro sekali lagi mengacuhkan protesan Jyushi dan lanjut mengeluarkan isi pikiran. "Sedangkan kamu kawanku, pernahkah kamu ditegur anggota OSIS atau pun guru BK karena penampilan?"

Kazusato meneguk saliva susah-susah. Piring dan gelas yang sudah bersih dari segala hidangan ia dorong dengan pelan. Bangku duduk kantin ia mundurkan seiring dirinya yang perlahan berdiri. Senyum ramah ia sunggingkan kepada kawan-kawannya ketika berucap, "Aku baru ingat kalau ada PR yang belum selesai. Aku duluan ya. Dadah."

Ketenangan melingkupi empat orang setelah Doan Kazusato pamit undur diri terlebih dahulu. Keempatnya saling bertukar pandang.

Hingga tiada angin dan tiada hujan, Kuuko melompat dari kursinya. Sepertinya Kazusato tahu akan hal tersebut, sehingga ia langsung berlari kencang begitu perasaannya berkata bahwa Kuuko mengejarnya dengan kecepatan tinggi.

Sedetik kemudian, kantin yang semula damai menjadi ricuh akibat teriakan dua siswa kelas dua tersebut.

"OI KAZU, AKU TAU KAMU ANAK RAJIN YANG ENGGAK BAKAL NGERJAIN PR DI SEKOLAH. SINI KAMU KUDANDANIN BIAR DITEGUR OSIS ATAU BK!"

"PAIT PAIT PAIT PAIIIT! ENGGAK MAU!"

"AYO SINI BIAR KITA BERLIMA JADI ANAK BAND SOLID!"

"SOLID BAPAKMU GUNDUL!"

"WAW KAZU NYUMPAHIN BAPAKKU."

"MAAF, KELEPASAAAN!"

"KALIAN BERDUA JANGAN BERLARIAN SAMBIL BERTERIAK DI KANTIN!"

Diteriaki seperti itu oleh suara familiar—Kuuko tahu itu suara Rosho—dari suatu arah, Kuuko serta merta mengacungkan jari tengahnya. Dirinya membalas teguran tersebut dengan tetap berteriak, "FUCEK!"

Di tempat semula, Ichiro mengembus napas lelah sambil memijit kening kala Jiro dan Jyushi memandang kegilaan dua senior tersebut dengan bingung. Ia berikan senyum terbaiknya kepada Jiro ketika berkata, "Jiro, tolong jaga Jyushi. Aku mau ngurus dua makhluk gila itu." dan langsung menyusul dua kawannya tersebut dengan kecepatan lari bak citah seraya berseru, "OI KALIAN MAKHLUK GILA, JANGAN BIKIN MALU!"

"KUSO GAKI, JANGAN LARI-LARI DAN BERTERIAK DI KANTIN!"

Ichiro spontan mengacungkan jari telunjuknya seraya membalas teguran keras tersebut dengan berseru, "BACOT UMATOKI!"

"YANG BENER SAMATOKI-SAMA, BOCAH BEGO!"

"BODO AMAT YA JARAN!"

Jiro dan Jyushi saling pandang begitu menyaksikan Samatoki si Ketua Seksi Keamanan dan Kedisiplinan OSIS memburu Ichiro di detik selanjutnya, dan Sasara yang menyusul Samatoki setelah memanggil yang bersangkutan. Satu detik, dua detik, tiga detik ... keduanya sama-sama mengerjap bingung harus bereaksi bagaimana.

Pada akhirnya, Jiro menggaruk lehernya seraya memberi usul, "Ehm ... kita balik ke kelas aja, yuk."

Jyushi mengangguk kecil. Dua orang itu segera membereskan alat-alat makan di meja, dan berjalan beriringan sembari bercengkarama membicarakan kegiatan masing-masing di masa lampau dan tugas-tugas yang diberikan.

Sungguh hari yang damai bagi mereka semua.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bonus Scene (2)~

"Iiih sebel, sebel, sebel! Kenapa sih mereka jadi adik kelas enggak ada sopan-sopannya sama kakak kelas? Terutama si Harai itu. Dari masa pidato pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS tahun lalu sampai masa sekarang, adaaa aja kelakuannya. Heranin emang itu anak!"

Kala gelas tinggi dibanting keras—tetapi penuh kehati-hatian—pada meja oleh Sasara, Rosho membuang napas. Sahabatnya itu ia tatap dengan datar seraya berujar, "Sasara, yang kamu minum itu krim soda, bukan bir. Enggak usah banting gelas cem orang mabuk."

Sasara mengerang gusar. Krim soda yang masih tersisa di gelas langsung disedot habis. Setelahnya, ia merebahkan kepala tepat ke meja; menatap Rosho dengan raut bertanya-tanya. "Rosho enggak mau ikut pura-pura mabuk kek aku?"

"Gak." Rosho menjawab tegas. Puding karamel pesanan dimakan dengan anggun sembari memperhatikan sahabatnya yang semakin uring-uringan. Alisnya naik satu begitu suatu pemikiran lewat. "Kamu enggak tau samsek kenapa Harai-kun selalu dongkol sama kamu?"

Gelengan kecil diberikan Sasara. Dirinya tampak terdiam sejenak; memikirkan satu-dua hal yang sekiranya bisa dijadikan alasan sebelum mengembus napas lelah. "Entahlah. Rasa-rasanya kami berdua semestinya tidak begini."

"Hah?"

"Lupakan saja."

Rosho memandang bingung kawannya tersebut. Suapan terakhir terhadap puding pesanan dimakan; dikunyah kalem sebelum dirinya berucap, "Cepat habiskan makananmu. Habis itu, kita balik nug—"

"OI KAZU, AKU TAU KAMU ANAK RAJIN YANG ENGGAK BAKAL NGERJAIN PR DI SEKOLAH. SINI KAMU KUDANDANIN BIAR DITEGUR OSIS ATAU BK!"

"PAIT PAIT PAIT PAIIIT! ENGGAK MAU!"

Sontak pasangan OSIS di tempat menoleh ke asal suara, dan secara cepat disuguhkan adegan kejar-kejaran Harai Kuuko dan Doan Kazusato di kantin. Lokasi yang semulanya damai, otomatis ricuh sebab dua anak kelas dua itu saling sahut-sahutan dengan nyaring.

Rosho yang cinta kedamaian, langsung menegur dua orang tersebut dengan lantang. "KALIAN BERDUA JANGAN BERLARIAN SAMBIL BERTERIAK DI KANTIN!"

Dilihatnya Kuuko merespon dengan mengacungkan jari tengah ke arahnya seraya membalas, "FUCEK!"

Keki langsung menguasai hati. Rosho langsung membuang napas kasar, dan menggerutu secara terang-terangan kepada Sasara ketika menyuarakan isi hati. "Anak itu beneran minta disleding."

Sasara merespon ucapannya tersebut dengan terkekeh ringan. Senyum manis—dan menenangkan—terbit di mukanya ketika berkata, "Anak itu memang sifatnya cem petasan diinjak kaki. Kita bener-bener kudu sabar ngadepin orang kek dia. Kalau masih aja petakilan, itulah saatnya kita kudu ngelempar dia dari jendela sekolah."

Tawa kecil melantun merdu dari Rosho. Jiwanya seketika terasa ringan setelah mendengar hiburan Sasara barusan. "Benar-benar kamu ini. Andaikan enggak ada kamu, aku pasti—"

"OI KALIAN MAKHLUK GILA, JANGAN BIKIN MALU!"

Lagi-lagi mereka spontan menoleh ke sumber suara. Kali ini seorang Yamada Ichiro terlihat mengejar dua kawannya yang menjadi sumber keributan di beberapa detik lalu. Andaikan Samatoki—yang rupanya masih di kantin bersama adiknya—tidak menegurnya dengan keras; dan andai Ichiro tidak membalas teguran tersebut dengan sebuah hinaan terhadap Samatoki, kantin dijamin akan kembali damai sentosa.

Seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya, Samatoki langsung memburu anak sulung keluarga Yamada itu dengan murka. Menyaksikan hal tersebut, Sasara otomatis berdiri, dan menyusul Samatoki—dengan niat menenangkan remaja emosional tersebut—seraya menjerit, "DIBILANGIN JANGAN KESERINGAN BIKIN MALU OSIS, SAMATOKIII!"

Beberapa puluh detik setelah Sasara menyusul Samatoki, kedamaian kembali melingkupi kantin. Rosho sekali lagi membuang napas dengan gusar seraya mengusap wajah. Otaknya tidak habis pikir mengapa kehidupan sekolahnya—setelah menjadi Wakil Ketua OSIS tepatnya—menjadi sangat penuh drama dan keributan. Kehidupan SMA-nya sudah sukses mendapat predikat tidak tenang berkat sifat kekanak-kanakkan sahabatnya, terpaan tugas sekolah, ke-random-an anak buah, dan kejulidan murid-murid pembenci OSIS.

Sungguh hari yang sangat damai—

"Damai matamu!"

... maafkan saya Yang Mulia.

.

.

.

.


Pojok curhat: sekadar trivia, prolog kemarin kehitung 339 words di sini. Sangat SasaKuu/ngek