SMA Chuuo adalah sebuah SMA swasta di bawah Yayasan Koto no Hatou. Didirikan oleh seorang wanita elegan dengan mental baja bernama Tohoten Otome di Tokyo pada 26 September. Pada awalnya, sekolah tersebut dibangun khusus untuk kaum hawa, dan seluruh kaum adam di daratan Jepang haram menginjakkan kaki di sana. SMA tersebut pada awalnya pula dipimpin oleh bawahan terpercaya Otome yang bernama Kadenokuji Ichijiku. Di bawah kepemimpinan Ichijiku, SMA Chuuo menjadi sangat terkenal dengan segudang prestasi yang dihasilkan oleh siswi-siswi tangguh, sehingga difavoritkan seluruh remaja perempuan di Jepang.
Hingga suatu waktu, Otome mengubah status sekolah—yang awalnya khusus putri—menjadi sekolah swasta campuran; atau bahasa bagusnya, laki-laki boleh bersekolah di sana. Entah apa alasan sang pendiri sekolah melakukannya, tetapi rumor berkata hal tersebut dilakukan sebab beliau taktega anak semata wayangnya yang berjenis kelamin laki-laki mencari ilmu di sekolah 'murahan', serta takingin anaknya yang—memang—bodoh dan pendek akal semakin menjadi bila dididik sembarangan oleh oknum-oknum taktegas. Jadilah beliau mengubah nama sekolah menjadi SMA Hipu no Mai, dan menitahkan Yamada Rei—salah satu pekerja di yayasannya—untuk menjadi kepala sekolah.
Jangan harap walau diubah menjadi sekolah campuran, SMA tersebut melonggarkan sistem ujian masuknya. SMA tetap memberlakukan seleksi ketat dan mengerikan kepada mereka yang hendak menuntut ilmu atau pun bekerja di sana. Jika seorang murid diterima di sana, keluarga yang bersangkutan harus siap dompet dikarenakan SPP yang sangat tinggi; sangking tingginya, rasa-rasanya lebih baik beli konsol game yang baru rilis ketimbang bayar sekolah. Para guru yang diterima bekerja di sana pun akan mendapat tuntutan yang berat. Namun, harap diingat. Setiap ada cobaan, pasti ada kebaikan di baliknya. Fasilitas yang didapat sangat sesuai dan memuaskan. Gaji untuk para staf sekolah pun benar-benar memuaskan lahir batin; dikatakan cukup untuk membiayai kebutuhan hidup selama tiga bulan.
Bila ada yang berpikir bahwa satu-satunya cara belajar di sekolah tersebut adalah dengan mendaftar dan ikut ujian seleksi serta membayar SPP yang luar biasa mahal, Otome dengan bangga mengatakan hal tersebut salah. Jika si murid memiliki segudang prestasi di masa SD hingga SMP, calon murid akan menerima undangan untuk melanjutkan studi di SMA Hipu no Mai langsung dari pekerja di sekolah; dan apabila calon murid dan keluarganya merasa keberatan dengan biaya pendidikan, sekolah akan memberi diskon hingga calon murid beserta keluarganya tidak pusing memikirkan segala biaya. Akan tetapi, ada sebuah kontrak taktertulis bila sekolah memberi potongan harga, yakni sang murid harus mencetak banyak prestasi yang membanggakan dan mengharumkan nama sekolah selama ia belajar di sana.
Harai Kuuko adalah salah satu pelajar yang mendapat undangan langsung dari sekolah. Meskipun secara akademik dirinya biasa saja, Kuuko adalah seorang anak yang banyak berprestasi di bidang olahraga semasa SD hingga SMP. Entah dari mana staf-staf sekolah mendapatkan informasi yang detail mengenai dirinya, termasuk informasi mengenai kejadian paling berpengaruhnya saat ia berumur 15 tahun.
Kuuko semasa itu memandang penuh waspada Yamada Rei yang mengunjungi rumahnya untuk memberikan undangan bersekolah di sana; dan hendak menolak mentah-mentah ajakan tersebut andaikan ayah—kampret—nya tidak menatapnya dengan galak.
"Terima saja undangan bersekolah di sana." kata ayahnya waktu itu; setelah Yamada Rei undur diri tentunya, "Sekolah mana yang mau menerimamu, yang nilai akademiknya pas-pasan ke bawah dan selalu berperilaku tanpa otak selain SMA itu?"
"Tetap aja aku ogah!" balasnya tegas waktu itu, "Percuma juga aku dapat diskon bersekolah di sana kalo ujung-ujungnya jadi sapi perah mereka!"
Ayahnya waktu itu—setelah mendengar penolakannya—membalas kalem. "Ya bagus! Hitung-hitung tenaga tanpa batasmu bisa disalurkan ke hal-hal positif ketimbang dipakai main olimpiade balap karung melewati sarana kelas hingga merusak segala properti sekolah. Sesekali jadilah anak yang berguna dengan menerima penawaran itu. Jika tidak, benar-benar akan kuhanyutkan dirimu di sungai belakang rumah."
Kuuko mendesah lelah. Mengingat-ingat latar belakang dirinya belajar di sekolah elit seantero Jepang membuatnya dongkol tidak main kepada ayah satu-satunya yang ia miliki di muka bumi. Bila dirinya lulus, Kuuko bersumpah akan menginjak punggung ayahnya dengan boots koboi—yang berduri bila ada—seraya berseru, "Nih anakmu lulus dari sekolah jahannam yang kamu bangga-banggakan! Nih, nih!"
Kurang ajar dan durhaka memang. Tolong dimaklumi, namanya juga Kuuko.
Permen karet dalam mulut ditiup pelan saat iris emas bergerak-gerak mengamati ruang ekskul band berukuran 4×5 meter yang saat ini hanya diisi Ichiro dan dirinya. Ichiro sibuk bermain sebuah permainan di gawainya, Kazu takbisa hadir lantaran sedang melakukan percobaan-entah-apa bersama salah seorang senior, dan Jiro serta Jyushi belum tiba entah karena apa. Benar-benar sepi.
Kuuko menggeram gusar dalam hati. Berani sumpah ia dan Ichiro takkan berada di sini, tapi apa daya OSIS pada awal istirahat kedua memberi pengumuman akan melakukan razia rutin terhadap seluruh murid tanpa terkecuali yang memang diadakan tiap seminggu sekali. Terdengar konyol dan sadis memang, tapi hal tersebut nyata lantaran merupakan salah satu bentuk pendisiplinan agar image baik dan disiplin murid-murid tetap terjaga di khalayak umum.
Sudahlah, hal itu sedang terjadi. Masa bodoh bila kumpulan permen karet yang ia bawa dalam tas disita OSIS. Biar saja mereka mukbang permen karet aneka rasa yang ia bawa; dan kalau bisa dijadikan tumpeng oleh mereka, pikirnya. Yang jelas, Kuuko ingin razia sekarang ini cepat selesai, sebab ia ingin adu gambar di papan tulis kelas, kemudian dilanjut dengan kegiatan saling tukar gosip, dan berakhir saling sontek PR dengan Ichiro.
Kurang kerjaan dan tidak bermoral memang. Harap maklum.
Kegiatan Kuuko menghitung domba di alam bawah sadar—kapan juga ia lakukan?—terhenti saat pintu ruang dibuka kasar. Dirinya dan Ichiro otomatis menoleh, dan melihat Jiro sedang menuntun Jyushi yang menangis. Dahinya mengerut; bingung dengan latar belakang bocah rambut hitam highlight kuning yang menuju ke arahnya menangis tersedu-sedu.
Begitu dua murid kelas satu itu duduk di dekatnya, Kuuko langsung bertanya kepada Jyushi. "Kali ini kenapa kamu nangis?"
Jyushi tidak segera menjawab, malah anak itu semakin terisak hingga mau takmau Jiro menenangkannya. Kuuko mengernyit taksuka. Dirinya ingin penjelasan secepat mungkin mengapa seorang Aimono Jyushi—yang memang cengeng—menangis, bukan sebuah tangis yang makin keras.
Mungkin Ichiro tahu apa yang ia mau. Sahabat satu kelasnya itu sudah dari tadi menghentikan kegiatan bermainnya, dan menghampiri Jiro untuk bertanya. "Jiro, Jyushi kenapa?"
Jiro memilih fokus untuk menenangkan Jyushi terlebih dahulu. Begitu dirasanya getaran pada tubuh Jyushi mengurang, baru ia menjawab pertanyaan abangnya. "I-itu ... razia OSIS."
"Razia OSIS?"
Jiro tampak menenangkan Jyushi sekali lagi sebelum menjawab, "Iya. Mereka menyita berbagai barang seperti biasa … dan ada satu barang penting Jyushi yang mereka sita."
Takada suara yang melewati ruang kecuali isakan Jyushi. Dua anak kelas dua di tempat secara bersamaan mengepalkan tangan dengan penuh kemarahan; terutama Kuuko.
Ketika Jiro melengkapkan jawaban, urat kesabaran Kuuko langsung putus.
"Mereka menyita Amanda biarpun Jyushi sudah membuktikan takada aturan sekolah yang melarang murid membawa boneka."
.
-o-o-o-o-o-o-o-
.
Nurude Sasara mendesah lelah tatkala memperhatikan kumpulan benda hasil sitaan yang sudah dihampar rapi sesuai urutan kelas pada lantai ruang.
" … udah tau tiap seminggu sekali sekolah bakal ngadain razia, masih banyak juga yang bawa barang aneh." komentarnya penuh ketakjuban selagi mencermati kumpulan barang yang tertata. Pelipis dipijat pelan, "Ini kok bisa ada yang bawa perkakas ngamen padahal bukan anggota klub musik?"
Tepukan pelan terasa di bahu. Kepala menengok, dan mata sipitnya langsung melihat Samatoki memberi raut simpati sebelum berucap, "Sabar ya. Sekolah ini seiring waktu dipenuhi murid-murid bobrok."
"Kamu itu salah satunya." sahut Sasara cepat.
"Kamu juga termasuk, Tolol."
"Ih mulut Samatoki-sama toxic ya."
"Mending toxic daripada garing cem gorengan plastik."
Sasara terbahak seraya menggebuk-gebuk punggung sang kawan albino. Ia abaikan rutukan—dan kutukan—yang terarah padanya dengan kembali memperhatikan hasil jarahan—sitaan—OSIS. Senyum mengembang, kemudian dirinya dua kali menepuk tangan hingga seluruh atensi tertuju padanya. Dirinya bertitah, "Ayo mulai mendata seluruh barang sitaan. Semakin cepat kita mulai, maka semakin cepat selesai."
Semua manusia di ruangan mengangguk patuh, dan langsung mengerjakan perintahnya tanpa ba-bi-bu; takterkecuali Samatoki yang juga sigap mengamati satu per satu segala barang sitaan. Tiap regu—yang sudah Sasara bentuk—telaten memeriksa dan mendata; memastikan barang milik siapa dengan mengecek papan dada yang telah bertuliskan nama-nama murid sesuai kelas. Kegiatan berlangsung damai selama sebelas menit, dan akan berlangsung seterusnya hingga kerjaan selesai jika saja seluruh personel OSIS di dalam ruang tidak terdistraksi kegaduhan yang tiba-tiba terjadi.
Seluruh kepala secara otomatis menoleh ke pintu yang tiba-tiba terbuka kasar. Penampakan remaja rambut merah dengan seragam tidak sesuai—bercelana hitam dan berkaus putih ditutup sukajan hitam bergambar naga—berdiri gagah di depan pintu; bergeming dalam posisi menendang selama beberapa sekon. Netra emas si remaja dengan cepat bersirobok dengan Sasara, dan tanpa basa-basi orang itu menunjuknya tepat ke arah muka.
Orang itu—Kuuko—langsung bertanya dengan kemurkaan yang jelas, "Oi Sipit Bajingan, kenapa timmu tetap menyita Amanda, hah!?"
Merespon pertanyaan tersebut, Samatoki spontan mengeluarkan aura intimidasi khasnya, lalu balik bertanya dengan nada rendah kepada manusia di depan pintu. "Anak bangsat … kamu pikir apa yang sudah kamu perbuat?"
Kuuko secara gamblang mengabaikan pertanyaan tersebut, dan malah dengan kurang ajarnya meludah ke sembarang arah. Tatapannya tetap terfokus tajam kepada Sasara. Geretak gigi terdengar jelas, disusul geraman pada kesenyapan yang pekat dan tegang. Harai Kuuko benar-benar murka ketika berkata, "Aku memang murid badung, tapi aku ingat sekolah mengizinkan murid untuk membawa boneka jika benda tersebut maksimal seukuran telapak tangan."
Tapak kaki menggema jelas tatkala Harai Kuuko melangkah pelan menuju Nurude Sasara, dan hilang ketika yang bersangkutan berhenti tepat di hadapan sang Ketua OSIS. Secepat kilat remaja itu menarik kerah blazer Sasara; membuat iris emas yang berkilat bengis bersirobok dengan jarak yang teramat dekat pada mata yang selalu terlihat sipit saat bertanya pelan, "Sekurang kerjaan apa OSIS menyita boneka babi yang kecil dan buluk?"
Sasara tetap tenang walau diberlakukan demikian sampai Samatoki membalas perlakuan Kuuko kepadanya dengan mencengkeram pergelangan yang bersangkutan dengan kuat.
"Bangsat, ngapain kamu?" Samatoki bertanya dengan penuh penekanan. Urat tangannya pelan-pelan tercetak seiring tarikan napas selagi masih mencengkeram pergelangan tangan lawan bicara. "Kamu ngedobrak masuk ke sini, cuman buat nanya hal sepele gitu? Kamu benar-benar bosan hidup?"
Samatoki melepaskan pegangannya dari pergelangan Kuuko. Anak itu—Kuuko—berdecak, lalu melepaskan cengkeramannya pada kerah seragam Sasara dengan mendorong kasar yang bersangkutan. Pandangannya tetap garang saat menatap lurus iris merah delima Samatoki. Geraman murka terdengar halus sebelum anak itu membalas, "Itu gak sepele, Bajingan. Aku cuman ingin penjelasan kenapa OSIS tetap nyita boneka kecil."
Taklama setelahnya, derap lari secara bergerombol terdengar mendekati ruang, dan disusul seruan keras di pintu ruang yang masih terbuka lebar.
"Kuuko!" Ichiro memanggil kawan sekelasnya begitu tiba di lokasi. Iris dwiwarnanya berkilat nyalang saat dua matanya ia gunakan untuk mengabsen personel OSIS di tempat, dan seketika berubah khawatir saat melihat sang kawan sengit beradu tatap dengan pengurus Ketua Seksi Keamanan dan Kedisiplinan OSIS. Tanpa basa-basi dirinya melangkah cepat ke sang kawan, dan langsung maju melindungi sang sohib dari pandangan merendahkan seorang Aohitsugi Samatoki.
Seruan lain menyusul dari belakang, kali ini dilakukan oleh Aimono Jyushi dan Yamada Jiro setelah dua remaja itu melihat dua senior favorit mereka. Secepat kilat dua orang itu berdiri di belakang Kuuko. Terlihat samar Jyushi menarik ujung sukajan Kuuko dengan takut-takut sambil menunduk; berkebalikan dengan Jiro yang melempar tatapan taksenang pada Samatoki dan Sasara.
"Ahaha, begitu rupanya." sebuah suara tiba-tiba mengintrupsi, disusul tapak kaki yang riang melangkah terdengar mendekat. Sosok remaja mungil dengan rambut merah jambu bak gulali, berseragam rapi, dan memakai pin OSIS di kerah blazer berdiri riang di depan Sasara. Iris birunya bersinar jenaka walau dipandang garang tiga murid berseragam takrapi.
Remaja berbadan kecil itu mendekati Ichiro, lalu menubrukkan tatapan kepada Kuuko yang sedang menggertakkan gigi. "Jadi, kamu nerobos masuk ke ruang OSIS, terus marah-marah sampai mengatai Ketua, hanya karena satu boneka babi yang disita? Kekanakkan sekali."
"Apa katamu ce—"
"Su-sudahlah, Kuuko-san …," Aimono Jyushi melirih pelan sembari meremas pelan ujung sukajan sang senior; menghentikan ucapan yang akan Kuuko lontarkan, " … su-sudah terjadi juga. Bi-biarkan saja me-mereka menyita Amanda. Pa-pasti nanti di-dikembalikan."
"Mana bisa begitu!" Kuuko menyahut cepat. Kepalanya menoleh tegas kepada Jyushi. "Barangmu tetap disita padahal kamu enggak ngelanggar aturan. Mana bisa hal enggak adil begitu kubiarkan."
Amemura Ramuda—nama remaja berambut merah muda tadi—terkikik. Dirinya tetap bertingkah riang bak anak kecil ketika berucap, "Jyushi-kun memang tidak melanggar aturan, tapi kelakuannya selama ini yang menyebabkan bonekanya tetap disita."
"Hah?"
"Jadi begini," Ramuda berputar-putar dengan sangat bahagia, "kami menerima laporan bahwa Jyushi-kun selama istirahat tidak ada melakukan sosialisasi selain dengan Jiro-kun dan bonekanya. Selain itu juga, nilainya pelan-pelan mengalami penurunan. Alasan itu sudah cukup untuk menyita bonekanya."
Kesenyapan sarat bingung merajai ruangan di detik selanjutnya. Empat murid dengan ekskul yang sama melongo lebar sangking tidak percayanya mereka dengan alasan yang diberikan Ramuda.
Pada akhirnya, Yamada Jiro menyerukan kebingungannya dengan lantang. Dirinya menatap berang Ramuda yang malah menyunggingkan senyum polos.
"Apa-apaan alasan itu!?" tanya Jiro keras, "Amanda disita cuman karena Jyushi selalu ngobrol denganku dan dengannya? Kalian memata-matai seluruh murid apa!?"
Sekali lagi anggota OSIS berbadan mungil itu tertawa senang tanpa beban, dan mengukir senyum polos saat berkata, "Jangan ngomong begitu dong, Jiro-kun. Kamu jadinya serem banget, tau."
"Terus, pertanyaan terakhir itu bersifat rahasia." lanjutnya ringan. Entah mengapa mata orang itu bersinar misterius saat melanjutkan jawaban, "Lagipula aku pemimpin seksi bidang sosial dan humas di OSIS. Wajar aku—dan kami—tau segala hal di sekolah ini. Hehe."
Sasara mengatupkan kedua tangannya selesai Ramuda menjelaskan. Mulutnya mengukir satu cengiran lebar meski empat siswa yang menerobos masuk ke ruang OSIS memelototinya takpercaya.
"Begitulah alasannya." ujarnya bahagia, "Sekarang, kalian bisa kembali ke asal. Kalau enggak mau, kalian bisa menunggu kami menyelesaikan pekerjaan ini, lalu bersama-sama kita pergi ke ruang staf kedisiplinan, dan membicarakan perilaku kalian ini. Bagaimana?"
"Terdengar bagus." Samatoki berkomentar setelah mendengkus pongah. Ramuda mengangguk-angguk antusias; sependapat dengannya.
Terlihat jelas raut kaget di muka empat anak—Kuuko, Ichiro, Jiro, Jyushi—tersebut. Tangan masing-masing anak terkepal, pun gigi masing-masing bergeretak berbarengan dengan gemuruh di dada. Sampai akhirnya, Jiro menyentak.
"Bedebah! Semena-mena sekali kalian ini!" Jiro akan menggebuk sang Ketua OSIS jika saja Jyushi tidak sigap menghentikannya, "Aku enggak masalah kalian memata-matai semua murid, tapi aku bermasalah dengan penyitaan beralasan remeh seperti itu! Apa juga peduli kalian terhadap interaksi seluruh murid di sini? Kembalikan Amanda!"
"Lagipula bila kami pergi sekarang, kalian tetap bakal ngelaporin kami." Kuuko menanggapi ucapan Jiro dengan galak, "Dipikir kami enggak tau perihal itu apa? Semua siswi dan OSIS akan selalu dibela, sedangkan siswa biasa seperti kami takkan didengar."
Sasara tersenyum simpul. Tangan kanan ia gunakan untuk menutup seingai yang mulai terbit di mulut. Matanya menyipit dengan kilat tajam takmengenakkan kala berucap, "Aku gak nyangka anak pendek akal seperti kalian bisa ngomong kalimat cerdas macam itu."
"Berengsek!" Kuuko memajukan langkah dengan penuh amarah, tetapi terhenti sebab Ichiro sigap mencegatnya. Pandangan nyalang penuh api kebencian Kuuko layangkan kepada sahabatnya. "Minggir, Ichiro! Aku mo mukul muka songong si sipit satu itu!"
"Kalem, Bego! Gini-gini aku juga mau nabok Samatoki!" Ichiro menanggapi cepat; mengabaikan protesan Samatoki yang berdiri tepat di samping Sasara. Remaja dengan iris dwiwarna itu mengamat serius anak-anak OSIS di depannya, terutama pada Sasara yang masih tegap berdiri tanpa rasa takut. "Lagipula, aku tau gimana cara kita bisa ngedapatin Amanda."
Ramuda—anak OSIS yang sedari tadi memposisikan diri paling dekat dengan para perusuh—mengerjap tertarik. Pose anak kecil yang antusias ia pasang. "Oh, oh! Gimana tuh?"
Ichiro melirik Ramuda sejenak, lalu kembali memicing taksenang pada Samatoki. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis setelah menilik sekilas sang Ketua OSIS.
"Kita adakan duel. Jika kalian menang, maka kalian tetap boleh menyita Amanda dan melaporkan kami. Akan tetapi, jika kami menang, kalian harus segera mengembalikan Amanda dan tidak melaporkan kami."
.
.
.
Pojok curhat: Sampai di sini dulu. Soalnya total chapter ini panjangnya kek perosotan dofun*/hah?
BTW, 26 September itu tanggal rilisnya DBA+ di yutub, wkwkwk.
*nama tempat sengaja diplesetkan agar saya tidak disangka endorse ;D
