Sebelumnya di Filati
Sasara tersenyum simpul. Tangan kanan ia gunakan untuk menutup seingai yang mulai terbit di mulut. Matanya menyipit dengan kilat tajam takmengenakkan kala berucap, "Aku gak nyangka anak pendek akal seperti kalian bisa ngomong kalimat cerdas macam itu."
"Berengsek!" Kuuko memajukan langkah dengan penuh amarah, tetapi terhenti sebab Ichiro sigap mencegatnya. Pandangan nyalang penuh api kebencian Kuuko layangkan kepada sahabatnya. "Minggir, Ichiro! Aku mo mukul muka songong si sipit satu itu!"
"Kalem, Bego! Gini-gini aku juga mau nabok Samatoki!" Ichiro menanggapi cepat; mengabaikan protesan Samatoki yang berdiri tepat di samping Sasara. Remaja dengan iris dwiwarna itu mengamat serius anak-anak OSIS di depannya, terutama pada Sasara yang masih tegap berdiri tanpa rasa takut. "Lagipula, aku tau gimana cara kita bisa ngedapatin Amanda."
Ramuda—anak OSIS yang sedari tadi memposisikan diri paling dekat dengan para perusuh—mengerjap tertarik. Pose anak kecil yang antusias ia pasang. "Oh, oh! Gimana tuh?"
Ichiro melirik Ramuda sejenak, lalu kembali memicing taksenang pada Samatoki. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis setelah menilik sekilas sang Ketua OSIS.
"Kita adakan duel. Jika kalian menang, maka kalian tetap boleh menyita Amanda dan melaporkan kami. Akan tetapi, jika kami menang, kalian harus segera mengembalikan Amanda dan tidak melaporkan kami."
.
.
Filati
Hypnosis Microphone © KING RECORD, IDEA FACTORY, dan Otomate
Genre: Drama dan Humor bobrok
WARNING!: sangat OOC, kesalahan bahasa dan tanda baca di mana-mana, bahasa yang membosankan dan diulang-ulang, Highschool!AU, komedi ampas, dan lain-lain.
Tiada keuntungan yang saya peroleh dari ini ... kecuali ngasup.
Silakan segera keluar jika ff ini menyakitkan mata Anda =D
.
.
Hiruk pikuk aula pada pertengahan jam istirahat tentu merupakan kejadian tidak biasa. Bila sudah seperti itu, pasti sedang terjadi hal penting atau menarik.
Saat ini, aula sekolah dipadati para pelajar SMA Hipu no Mai karena beredar kabar akan berlangsung sebuah pertarungan panas—tepatnya, pertarungan rap—antara OSIS melawan seorang siswa biasa; lebih tepatnya, Nurude Sasara si Ketua OSIS akan melawan Harai Kuuko si Murid Badung.
Seorang siswa yang sedang berdiri di panggung mengetuk mik—yang aslinya merupakan speaker mic bluetooth—nya sebagai bentuk tes. Mendapatkan hasil yang baik, ia langsung berseru. "Ladies and gentlemen, welcome to the rap battle! MANA SEMANGATNYA EUY!?"
Sorakan antusias langsung riuh memenuhi aula. Dirinya—sang pembawa acara—mengangguk-angguk puas.
"Perkenalkan, saya adalah pembawa acara yang bertugas memandu acara dan melantunkan beatbox sebagai musik pengiring." ujarnya berbasa-basi. Cengiran merekah lebar di mukanya. "Sebagai pengetahuan umum, sekolah ini terkenal dengan banyak prestasi, termasuk di bidang musik segala genre. Dalam hal ini, demi mempertahankan dan meningkatkan prestasi di bidang musik, sekolah memperbolehkan—dan mewajibkan—terjadi pertarungan musik antar murid."
"Seperti saat ini, terdapat seorang murid kelas 3-5 jurusan bahasa ditantang adu rap oleh seorang murid kelas 2-6 jurusan sosial." ia melanjutkan ucapannya dengan berapi-api. "Beri tepuk tangan yang meriah untuk Nurude Sasara-san dan Harai Kuuko-san!"
Seluruh murid yang mengisi aula seketika histeris begitu Sasara dan Kuuko menaiki panggung. Masing-masing mereka berdiri di ujung, membuat dua orang itu saling sengit beradu tatap berkat jarak yang terbentang. Dirinya yang berdiri di pusat panggung merinding sebab terpercik hawa-hawa intimidasi mereka.
Mau takmau ia mengelus tengkuknya demi menenangkan diri sebelum kembali berseru antusias. "Baik, baik. Tanpa basa-basi, akan saya ingatkan aturan duel rap ini. Simpelnya, kalian harus adu rap hingga salah satu di antara kalian tumbang atau kehabisan ide!"
Sekali lagi semua murid di aula memekik semangat. Di sela-sela aula penuh bising jeritan membara, Kuuko memutar badan; memandangi tiga kawannya dengan wajah dongkol.
"Ini kenapa aku yang maju?" tanyanya datar. Mik—yang sejenis dengan yang dipegang sang pembawa acara—di tangan dilirik malas-malasan. "Padahal yang ngajak duel Ichiro, yang dijadiin bidak malah aku."
Ichiro mendengkus penuh humor. Iris hijau-merahnya berkilat jenaka saat menjawab dengan penuh kekaleman, "Ya elah bro. Kan kamu duluan yang ngedatangin ruang OSIS tadi. Kamu fokus aja ngatain orang itu."
"Benar kata nii-chan!" Jiro menyahut cepat. Sinar matanya benar-benar bergelora, "Kuuko-san harus bisa mengalahkan si lumut sipit itu!"
Kuuko mendesah lelah seraya menggaruk gusar belakang kepalanya. Alis matanya naik tatkala melirik Jyushi yang masih syahdu menunduk semenjak di ruang OSIS.
Mulut anak itu terlihat bergetar ketika berucap, "A-aku benar-benar taktahu harus bereaksi bagaimana. I-ini semua karena aku. Ma-maaf …."
Kuuko mendengkus. Dengan kalem ia berucap, "Aku sudah sering bilang apa tentang cowok nangis?"
Kala Jyushi mendongak—mempertemukan iris birunya dengan iris kuning Kuuko—cepat, Kuuko menyeringai lebar. "Gak usah minta maaf. Ini murni kemauanku ngebantu. Mayan juga sekalian bisa nge-diss si ketos."
Di satu sisi; tepatnya sisi sang Ketua OSIS, Sasara mengamat lawannya sembari menggerutu. Samatoki—yang berdiri di bawah Sasara—memanggil pelan. Sasara yang otomatis menghadapnya, langsung ia manfaatkan dengan berkata,
"Gak usah gugup. Hajar aja anak yang selalu julidin kamu itu."
Sasara tersenyum miring. "Iya, iya."
Ramuda terkikik bahagia. Dua iris biru anak itu benar-benar menunjukkan keantisipasian terhadap hal yang akan terjadi. "Tenang aja, nanti aku yang jelasin ke Wakil Ketua."
Sasara mengembus napas sepanjang-panjangnya; mendadak pening mendengar penawaran Ramuda barusan. Dirinya punya firasat buruk tentang hal tersebut, tetapi terpaksa ditepis sebab merasa lawan sudah siap adu bacot. Terpaksa sekali lagi ia membuang napas, menggenggam erat mik—yang sejenis dengan sang pembawa acara—di tangan, kemudian berucap, "Doakan aku," dan berbalik badan.
Suasana aula semakin ramai penuh sorak-sorai para pelajar begitu dua siswa yang dikenal memiliki hubungan yang buruk saling maju mendekati sang pembawa acara. Dirinya tersenyum lebar, dan mengeluarkan satu koin dari kantung celana.
"Kepala untuk Nurude-san, dan ekor untuk Harai-san. No debate!" ujarnya cepat saat sadar Kuuko hendak protes. Koin dilempar ke udara, dan cepat-cepat ditangkap begitu benda tersebut menyentuh punggung tangan. Segera ia berseru tatkala tangan yang menutup koin diangkat. "Ekor! Harai-san, silakan mulai!"
Kuuko memekik girang bersamaan dengan sorakan semangat para penonton. Tanpa basa-basi mik di tangan didekatkan pada mulut, kemudian melantunkan serangkaian lirik penuh serapah—rap—kepada lawan.
"Hai kamu siluman ijo,
Lagakmu ngeselin macam pengulangan iklan kacang ijo
Mukamu nyebelin macam habis sakau
Punya mata cem habis kongko pesta sabu
Neraka cocok 'tuk manusia macam kamu,
Sang makhluk tersesat yang taktegas pada orang sekitar!"
"RAP MACAM APA ITU COEG?!" Ichiro serta-merta berteriak murka; membuat Kuuko segera menoleh. "TURUN DARI PANGGUNG KAMU! RAP KOK MALU-MALUIN? MANA MUNGKIN SASARA—"
"Uwakh!"
"LAH KOK BISA KENA DAMAGE!?"
Terlihat Sasara di sisi lain panggung memegang perutnya sembari menarik napas pendek-pendek. Ia terlihat kesakitan, dan Kuuko bangga akan hal itu.
"Gila … mulutmu bener-bener gak ada saringannya, ya." lirihnya. Begitu tenaga dirasa sudah kembali ke raga, ia membalas, "Sekarang giliranku!"
"Hai anak kecil jelmaan setan merah,
Nyerapah mulu macam gak ada kerjaan
Eh, bentar. Situ kan memang pengangguran (hahah!)
Ngatain humor orang rendah, padahal situ punya badan pendek
Bilang aja iri sama hidupku, bos. Hidupmu ditakdirkan ampas kek kompos
Neraka untukku? Lebih baik untukmu, si sok bijak hobi melaknati makhluks!"
"RAPMU BIKIN GELI, BANGSAT!" Samatoki spontan memaki; membuat Sasara menengok heran. "PAYAH BANGET. MANA MUNGKIN DIA—"
"Akh!"
"ANJIR! NGEFEK EUY?!"
Terlihat Kuuko memeluk erat tubuhnya yang bergetar hebat dengan keringat dingin menetes dari pelipis. Dirinya menatap Sasara dengan sayu.
"Anjir … cringe-nya langsung menyerap ke seluruh jaringan tubuh." komentarnya. Napas dihela dalam-dalam, "Oke, giliran—!"
"BERHENTI KALIAN!"
Berpuluh-puluh kepala spontan berpaling ke sumber suara barusan. Tiga laki-laki—satu murid, dan dua guru—mendekat dengan wajah tegas. Seluruh murid—kecuali yang bebal seperti Kuuko—otomatis meneguk saliva masing-masing ketika guru berambut putih mengentak lantai; mensenyapkan ruang dari segala suara seketika.
"Apa yang kalian pikirkan, hah!?" si siswa—Tsutsujimori Rosho, sang Wakil Ketua OSIS—yang baru datang langsung bertanya keras, membuat kebanyakan siswa di tempat menunduk takut. "Memakai aula tanpa izin ke staf sarana dan prasarana … terlebih lagi OSIS terlibat padahal seharusnya mendata semua barang sitaan ... Kalian ini minta kena surat peringatan semua tanpa terkecuali atau apa!?"
"Terutama kamu, Sasara!" Sasara otomatis terlonjak begitu dirinya ditunjuk sang sahabat; dan Rosho tidak peduli dengan hal itu. "Aku tau otakmu itu sudah eror dari lama, tapi aku tetep gak nyangka kamu mau ngebodoh bareng Si Bebal Harai."
"OI TERONG, APA-APAA—"
"DIAM KAMU RAMBUTAN!" bentakan Rosho yang sangat menggetarkan sukma sukses memotong amukan Kuuko; malah berhasil membungkam mulut yang siap melontarkan serapah balasan milik Kuuko. Rosho tetap tidak peduli, dirinya tetap melotot murka kepada sahabat rambut hijaunya; dan direspon Sasara dengan kekehan canggung tanpa dosa andalannya.
"Kenapa juga kalian duel rap di aula?" timpal sang guru dengan rambut putih panjang—Doutantsutsuji Rokuro, guru seni musik—menggerutu dongkol. "Udah tau duel rap di sekolah itu sakral, malah dilakuin pake mik murahan."
Rosho langsung menoleh kepada Rokuro yang berdiri di sampingnya. Segala amarah dalam dirinya tanpa aba-aba terganti heran. "Ehm … Rokuro sensei, kayaknya itu bukan poin utamanya, deh."
Rokuro membalas kalem, "Rosho, itu bukan masalah sepele. Itu masalah besar karena mereka rela menodai ritual suci sekolah."
"Hah?"
"Ah pokoknya gitu dah!" timpal Rokuro gemas. Serta-merta dirinya menunjuk MC yang berdiri di panggung. "Kamu MC, kenapa kamu biarin hal gini terjadi, hah!?"
Sang MC secara kurang ajarnya menampakkan ekspresi bosan yang seakan-akan berkata, 'Aelah jadi makhluk kaku banget.'. "Maap Pak, saya terpaksa make mik murahan ini karena kasian ama Kannonzaka sensei yang ketahuan banget stres tiap detik. Mana tega saya minta izin ke TU buat make sarana aula." jawabnya malas-malasan.
Rokuro berdecak pelan mendengarnya. Senyum miring terukir di wajah kala berkomentar, "Bagus banget alasanmu, Nak."
Sang MC mendengkus sebal. "Yee Pak, itu bukan alasan, atuh. Bapak jadi guru suka banget nethink. Pantas itu rambut dah ubanan padahal umur belum setengah abad."
"Kurang ajar ya mulutmu."
"Kalau untuk Bapak sih, bakal selalu siap siaga kurang ajar kok. Hehehe."
Perempatan merah imajiner nangkring di pelipis kanan Rokuro. Tanpa basa-basi guru berumur 43 tahun itu berlari ke arah panggung; mengincar si MC dengan semangat perjuangan. "SINI KAMU ANAK SETAN!"
Karena merasa terancam, sang MC segera turun dari panggung, dan tanpa aba-aba langsung berlari menghindari sang guru yang mengamuk. "Huwaaa … aku dikejar guru alay. Kabuuur."
"DUIT SAKUMU KUPOTONG GAK MAU TAU!"
"BAPAK ANJIR!"
Suasana aula kembali hening setelah guru dan murid barusan meninggalkan ruang. Semua penghuni di lokasi hanya bisa sweatdrop berjamaah; bingung bersama harus bereaksi bagaimana.
"Terus …," Rosho akhirnya bersuara setelah terpaku lima sekon, " … ini marah-marahnya dilanjut?"
Satu guru—yang tersisa—di tempat begumam. Pria berbadan tinggi dan besar itu menjadi subjek perhatian para pelajar yang menunggu keputusannya, sebab keputusan guru saat ini bersifat mutlak.
Karena Busujima Mason Riou—nama guru itu—sangat cinta damai, dirinya bersabda, "Kita ganti saja duelnya."
"Eh?"
Riou melirik sekilas Rosho yang berdiri tepat di sampingnya, kemudian ganti memandangi satu per satu anak didiknya, dan berakhir fokus pada dua remaja di panggung. Senyumnya tersungging kecil dan tipis ketika melanjutkan sabda.
"Daripada kalian berdua kelahi dengan cara saling hujat lewat rap, mending kalian berduel layaknya seorang prajurit."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pojok curhat: Saya udah malas baikin segala kesalahan bahasa atau tanda baca di bagian ini, dan ini pertama kalinya saya pakai cuplikan episode sebelumnya ala sinetron. Maaf bila banyak kesalahan, damage cringe gak ngotak, dan keanehan di chapter ini.m(_ _)m Ah iya, saya mohon maaf karena udah lama gak up ini di sini. Mungkin kalau ada yang ngeh, saya up ff ini juga di wp, dan yah ... sedikit lebih cepat up di sana karena saya cukup sering main ke sana ...
Part akhir akan menyusul~
BTW, yang bingung si MC duel rap-nya siapa … itu MC di ARB, ya. Wkwkwkwk.
Oiya, ARB mau anniv 1.5 tahun kan ya? Doa saya gak muluk-muluk sih. Semoga ada konten SasaKuu lainnya di ARB. Amin ...!
