Sebelumnya di Filati...

"Terus ...," Rosho akhirnya bersuara setelah terpaku lima sekon, " ... ini marah-marahnya dilanjut?"

Seorang guru yang dari tadi diam mulai begumam. Pria berbadan tinggi dan besar itu menjadi subjek perhatian para pelajar yang menunggu keputusannya, sebab keputusan guru saat ini bersifat mutlak.

Karena Busujima Mason Riou—nama guru itu—sangat cinta damai, ia memberi usul, "Bagaimana kalau duelnya diganti?"

"Eh?"

Riou melirik sekilas Rosho yang berdiri tepat di sampingnya, kemudian ganti memandangi satu per satu anak didiknya, dan berakhir fokus pada dua remaja di panggung. Senyumnya tersungging kecil dan tipis ketika melanjutkan saran.

"Daripada kalian berdua kelahi dengan cara saling hujat lewat rap, mending kalian berduel layaknya seorang prajurit."


.

.

Filati

Hypnosis Microphone © KING RECORD, IDEA FACTORY, dan Otomate

Genre: Drama dan Humor bobrok

WARNING!: sangat OOC, kesalahan bahasa dan tanda baca di mana-mana, bahasa yang membosankan dan diulang-ulang, Highschool!AU, komedi ampas, dan lain-lain.

Tiada keuntungan yang saya peroleh dari ini ... kecuali ngasup.

Silakan segera keluar jika ff ini menyakitkan mata Anda =D

.

.


Riou bilang, lelaki haruslah bertarung layaknya seorang pejuang negara di medan perang; manly, penuh gelora, tiada ampun menumpas musuh, dan takkan goyah dalam membela negara. Sungguh filosofi yang sangat membara untuk dipraktikkan. Orang akan menjadi maju terus pantang mundur jika sudah dititahkan melakukan hal itu, apalagi jika praktik sebenarnya adalah baku hantam secara fisik.

Jadi, semua orang—terutama yang tadi menyaksikan duel rap Sasara dan Kuuko—takkan menduga bila Riou membimbing mereka ke kantin sekolah, dan menyajikan dua siswa itu semangkuk ramen ukuran jumbo.

Kuuko adalah orang pertama yang menyadari keanehan duel jantan yang ditawarkan guru olahraga tersebut. Ia mendongak, menatap Riou yang berdiri tegap dan gagah di antara ia dan Sasara dengan bertanya-tanya.

Sadar dengan kebingungan anak didiknya satu itu, Riou buru-buru berucap tenang. "Kalian lomba banyak-banyakkan makan saja daripada adu rap. Lomba ini lebih menguntungkan tentunya."

Sasara—yang sudah sadar dari kekagokan—bergumam bingung. "Kenapa adu makan?"

"Karena kalian berdua adalah prajurit yang masih di masa pertumbuhan." jawab Riou kalem. "Shoukan percaya kalau ada prajurit yang bertengkar, tandanya mereka lapar. Jadi, lebih baik kalian bertarung dengan cara ini. Takkan ada yang rugi juga karena aku yang bayar."

"Tapi—"

"Tenang, shounen. Ramennya sudah terjamin sangat aman utuk dikonsumsi."

Dua pelajar yang penampilannya sangat kontras itu pada akhirnya sama-sama membuang napas penuh kepasrahan. Mangkuk masing-masing dipandang intens sebab sajian yang diberi benar-benar terlihat tidak manusiawi untuk lambung manusia normal.

Menyadari dua prajurit kecil di kanan-kirinya pada akhirnya menurut, Riou menepuk tegas bahu mereka. Badannya sedikit menunduk, menyamakan tinggi badan ketika berbisik, "Baguslah kalian mengerti."

Seorang murid—yang merupakan MC rap battle tadi, cuman sekarang versi kepala berhias banyak benjol—mendekati tiga orang tersebut. Dirinya memberi gestur salut kepada Riou tatkala yang bersangkutan mengangguk kecil. Mik bluetooth pada genggaman ia ketuk-ketuk; memastikan suara yang dihasilkan benda tersebut.

"Tes mik, tes mik. One two three tes mik." ujung bibir ditarik ke atas sejauh-jauhnya, "Oke, kembali lagi ke duel maut antara Nurude Sasara-san dan Harai Kuuko-san! Dikarenakan adu rap tadi mengalami kendala yang tidak dapat dihindari, sekarang kita beralih ke duel banyak-banyakan makan."

"Aturannya simpel. Siapa yang lebih banyak menghabiskan ramen, dialah pemenangnya!" jelasnya berapi-api. "Tanpa menunggu lebih lama lagi, pertandingan makan antara Nurude Sasara-san dan Harai Kuuko-san … dimulai!"

Sontak kantin dipenuhi sorak-sorai para pelajar tatkala dua murid yang dikenal selalu adu julid tersebut menyumpit ramen di mangkuk masing-masing setelah bersamaan membaca doa makan. Seruput dan kunyahan dua anak itu membangkitkan semangat penonton untuk mendukung salah satu dari mereka.

Akan tetapi, terdapat dua murid yang menyaksikan lomba tersebut dengan khawatir. Salah satunya adalah Yamada Ichiro, kawan akrab Kuuko dari masa SMP. Di saat Jiro dan Jyushi menyoraki Kuuko, anak itu menggigit kuku jempol tangan kanannya sangking cemasnya.

"Tau bakal tanding makan aku aja yang maju." gumamnya tanpa sadar. Jiro dan Jyushi secara bersamaan menengoknya dengan penuh pertanyaan, membuat dirinya secara cepat menjelaskan maksud gumamannya barusan. "Aku sudah kenal Kuuko dari lama, dan aku tau kereligiusannya meski mulut anak itu selalu minta disucikan. Anak itu tidak pernah kuat makan banyak, karena sedari kecil diajarkan untuk tidak berlebih-lebihan."

Sedangkan di pihak OSIS, terdapat Tsutsujimori Rosho—yang sudah diberi tahu Ramuda alasan hal ini terjadi—juga menonton keberlangsungan acara dengan gelisah. Ekspresi muka dan netra jingganya secara gamblang menampilkan kekhawatiran, membuat Samatoki dan Ramuda—yang mengapitnya—bertanya-tanya.

" … ini tentang Sasara." Rosho menjawab kebingungan rekan di samping tanpa menunggu lebih lama, "Aku sudah berteman dengan Sasara dari kecil, jadi aku tau salah satu kelemahan anak itu adalah makan banyak. Harusnya aku menggantikannya."

Tepat setelah ucapan Ichiro dan Rosho, dua siswa yang sedang beradu makan di kantin ambruk ke atas meja. Mangkuk mereka sama-sama kosong; benar-benar bersih dari segala noda makanan. Baik Sasara dan Kuuko, dua-duanya tepar begitu menghabiskan satu mangkuk ramen ukuran jumbo sampai bersih, dan otomatis menggerutu ketika Riou pergi untuk mengambil mangkuk kedua ramen mereka.

Sasara melirik singkat remaja di samping yang sedang sibuk mengatur napas dengan cara merebahkan kepala di atas meja kantin. Entah mengapa ia takbisa menahan hasrat untuk menyapa anak tersebut, sehingga membiarkan mulutnya bergerak memanggil yang bersangkutan dengan senyum tipis terukir di wajah tanpa beban. "Udah gak kuat?"

Kuuko secara reflek menoleh. Raut mukanya benar-benar terlihat sebal walau dua matanya bersinar lelah. Ujung bibirnya ditarik kecil ketika membalas, "Situ sendiri?"

Kekehan pelan melantun halus dari Sasara. "Inget gak kita duel absurd begini karena apa?"

Kuuko berdecak, "Gegara kamu dan kelompok anarkismu nyita Amanda."

Sebuah dengkusan dikeluarkan Sasara. "Lebih tepatnya, karena satu boneka babi."

Lagi-lagi Kuuko berdecak. Matanya memicing tidak senang kepada Sasara. "Itu bukan masalah kecil, Bangs—"

"Gimana kalau kamu nyerah aja?"

Di detik setelah Sasara bertanya demikian, Kuuko mematung. Remaja berambut merah itu spontan membungkam mulut. Melihat kebisuan lawan, Sasara mengukir senyum miring.

"Kita ubah taruhannya," ujarnya pelan, "kamu nyerah, aku akan mengembalikan barang Jyushi-kun, sekaligus tidak melaporkan kelakuan kalian tadi ke guru."

Kuuko masih bergeming meski Riou sudah kembali dan meletakkan dua mangkuk ramen porsi jumbo di depan masing-masing. Sasara menarik piringnya mendekat dengan senyum licik terukir.

"Gimana?" tanya kalem.

Kuuko memilih melihat mangkuknya sembari mendesis murka. Mangkuk ditarik mendekat dengan cepat, dan langsung ia makan isi di dalamnya tanpa banyak omong. Mulut sibuk mengunyah biarpun matanya melirik sinis musuh di samping.

"Penawaran macam apa itu, Berengsek?" tanyanya begitu makanan di mulut habis, "Kamu mau aku nyerah dengan tenang, dan ingin memalukanku di khalayak begini?"

Lagi-lagi kekehan samar dikeluarkan Sasara. Dirinya menyumpit makanan dalam mangkuk dengan tenang, "Aku gak bilang gitu loh."

Kuuko menggebrak kuat meja makan pada detik selanjutnya. Beruntung makanan yang tersaji tidak ada yang tumpah barang setetes pun. Sepertinya ia murka, terbukti dari urat yang membentuk perempatan terlihat samar di pelipis.

"Apa-apaan itu!? Mana mau aku nyerah meski dikasih penawaran begitu." ujarnya gusar, "Biarpun kita kelai karena masalah yang paling sepele sekali pun, aku tetap takkan menyerah!"

Tepat setelah berkata demikian, Kuuko langsung melahap ramennya dengan lahap. Sasara hanya menyunggingkan senyum tipis melihat perwujudan tekad kuat orang itu.

"Ya sudahlah." Sasara melirih, "Kalau gitu aku juga gak mau kalah."

Mungkin tindakan dua pelajar yang tetap lanjut makan ramen porsi jumbo padahal sama-sama takkuat makan banyak membuat hati Jyushi terketuk. Siswa dengan rambut indah dan kece badai bak bulu ayam jago itu segera maju selangkah sebab tidak tega menyaksikan senior yang ia sayangi gigih membelanya kendati tersiksa. Tangannya mengepal erat seiring dirinya mengatur napas, dan tanpa sadar menjerit beberapa detik kemudian; mengheningkan kantin yang semula penuh sorak-sorai dan umpatan.

"HENTIKAN SAJA, KUUKO-SAN!" serunya keras. Pelukan erat yang diberi Jiro secara tiba-tiba kepadanya malah membuat tubuhnya semakin bergetar. Air mata tumpah keluar dari pelupuk. "Hentikan saja, Kuuko-san …. Aku gak mau lagi liat Kuuko-san kesusahan gara-gara aku. Aku gak mau Kuuko-san pasang badan demi aku lagi. Cukup di waktu itu saja …."

"A-aku … aku …!" Jyushi sekali lagi mempertemukan iris birunya dengan iris kuning Kuuko; menatapnya dengan sakit dan penuh kalut ketika lanjut melaung, "AKU GAK MAU DERAJAT KUUKO-SAN MAKIN JELEK KARENA BONEKA BABI YANG DISITA!"

Kemudian, hening edisi dua datang bertamu setelah Jyushi berseru demikian. Mayoritas orang terlalu speechless begitu tahu latar belakang duel antara dua pelajar terkemuka dengan alasan yang berbeda itu bertarung mati-matian dan penuh benci.

Sampai tiada angin dan tiada hujan, Kuuko melempari Jyushi dengan sumpit yang ia pegang. Lemparannya akurat sebab Jyushi spontan mengaduh begitu benda kayu tersebut mendarat tepat di jidatnya. Protesan tanda peringatan dari Jiro kepadanya ia abaikan dengan cara mengambil sumpit cadangan yang diberi Riou sedari awal.

"Harus berapa kali kuingatkan tentang cowok nangis?" tanyanya dengan nada rendah. Dua matanya mengamat Jyushi dengan tegas, "Laki-laki hanya boleh nangis kalau apa?"

Dapat Kuuko lihat Jyushi tersentak. Juniornya satu itu buru-buru menghapus jejak-jejak tangisan yang baru saja mengalir, dan kembali memperlihatkan mukanya yang sudah bersih—sedikit—dari air mata. Kuuko tertawa pelan, yang mana tawanya tersebut murni tanpa ada beban yang mengganjal. Takbisa dipungkiri bahwa Kuuko merasa bangga dan lega terhadap tindakannya dalam menghibur orang.

"Jangan nangis lagi." sahutnya tenang. "Doakan aja aku menang melawan bedebah ini."

Respon Jyushi yang mengangguk—disusul sorakan Jiro yang memberinya semangat—sudah cukup membuat Kuuko kembali melahap makanannya dengan semangat.

Namun, yang tidak Jyushi dan Kuuko sadari dari tindakan—dramatis—mereka adalah respon terenyuh dari sebagian orang, termasuk Ichiro yang bahkan sudah menangis jelek sebab disuguhi adegan shonen penuh haru, dan bahkan Samatoki—dari pihak oposisi—yang ketahuan Ramuda habis melap setitik air yang mengalir dari indra penglihat.

Di lain sisi, Sasara—yang baru saja menonton kejadian dramatis penuh simpati—memutar satu sumpitnya dengan bosan. Ramen di mangkuk ia pandang hampa. Entah ke mana perginya minat dan semangat dirinya setelah disuguhi adegan barusan. Matanya melirik kepada Rosho, dan dibalas yang bersangkutan dengan tatapan khawatir. Dapat Sasara saksikan sahabatnya itu membuka mulut; mengucapkan sepatah dua patah kalimat dengan pelan kepadanya. Sasara membuang napas pelan. Ia tahu jelas perkataan Rosho barusan apa.

Hentikan, Sasara. Jangan bebani dirimu lagi.

Tepat ketika Kuuko menghabiskan mangkuk keduanya, dan tepat ketika Riou meletakkan mangkuk ramen ketiga untuk yang bersangkutan, Sasara mengembus napas.

"Aku kenyang. Aku menyerah."

Semua mata segera tertuju pada Sasara, termasuk Kuuko yang baru saja menelan kunyahan pertama ramen porsi jumbo ketiganya. Semua mulut menganga selebar-lebarnya, kecuali Riou dan Rosho.

Riou mendekati Sasara. Guru itu menghunjamnya dengan tatapan tajam dan tegas khasnya. Suara berat sang guru menyapa kuping seluruh peserta didik di kantin ketika dirinya bertanya, "Shounen, kamu yakin?"

Sasara tertawa pelan. Senyum ramah nan jenaka khasnya ia berikan kepada Riou. "Iya, sensei. Aku memang tidak kuat makan banyak seperti ini."

Riou bergumam samar sebelum mengeluarkan napas pelan. Iris biru lautnya bersinar teduh dibarengi senyum tipis yang terukir.

"Baiklah jika begitu kemauan shounen. Shoukan tidak bisa memaksa." tanggapnya ramah. Dirinya mendekati Kuuko, kemudian mengangkat tangan kanan yang bersangkutan ke udara. "Pemenangnya adalah Harai Kuuko."

"PEMENANG DUEL MAKAN—DAN RAP—KALI INI ADALAH HARAI KUUKO-SAN!"

Sontak sorak-sorai—yang mayoritas dikeluarkan pendukung Kuuko—segera memenuhi kantin begitu MC memberi pengumuman dengan penuh semangat. Remaja yang khas dengan rambut merah api dan sukajan hitam bergambar naga itu langsung ditubruk tiga kawannya, dan segera diangkat keliling kantin oleh para pendukungnya. Sasara tertawa, senang menyaksikan kehebohan kantin hanya karena bocah itu menang duel makan. Dirinya terlalu asyik menyaksikan perayaan kecil tersebut sampai tersentak begitu Rosho menepuk pelan bahunya.

Netra jingga Rosho bersinar lembut kepadanya seiring kedua bahunya yang diremas kuat seakan menguatkan yang dilakukan Rosho. Rosho mengukir senyum kecil penuh kebanggaan sebelum berbisik. "Takapa. Aku bangga padamu … meski kegilaan ini terjadi karena satu boneka babi."

Berbeda dari Rosho, Samatoki malah berdecak kepadanya. Mukanya benar-benar jelek dan kusut saat Sasara menoleh kepadanya.

"Padahal beda tipis." komentarnya pelan sebelum mendengkus dengan rasa senang tersirat. "Ya sudahlah. Kamu udah berjuang sebaik-baiknya. Selamat."

Sasara tergelak puas. Dirinya spontan berdiri, kemudian menepuk-nepuk punggung Samatoki tanpa akhlak sama sekali. Protesan Samatoki ia abaikan dengan berucap, "Samatoki-sama bisa aja mujinya!"

"Barusan gak muji ya—ah sudahlah. Sembarangmu."

Sekali lagi Sasara tertawa renyah sampai badannya dipeluk erat oleh seseorang. Tidak perlu dirinya melihat siapa sang pelaku sebab rema merah muda milik Ramuda menggesek pipinya.

"Sasara, selamat." ucapnya dengan kegirangan yang jelas. "Meski kalah, Sasara udah berjuang. Nanti aku ceritain hal ini ke para onee-san, ya."

"Terserahmu aja deh." tanggap Sasara santai, membuat Ramuda terkikik bahagia.

Riou mendekati empat anggota OSIS tersebut dengan tenang. Senyumnya kecil terukir kepada Sasara kala berucap, "Shoukan bangga denganmu yang sudah berjuang sebaiknya."

Sasara terkekeh sembari menggaruk belakang kepalanya. Senyumnya benar-benar merekah lebar saat berucap, "Makasih, sensei. Ramennya enak banget, loh. Sensei beli di mana?"

Seketika aura bahagia penuh bunga warna-warni menguar dari Riou. Suasana di sekitar sang guru ikut berubah menjadi merah jambu penuh nuansa fuwa-fuwa sebagai akibat darinya yang tersenyum lebar penuh kebahagiaan.

"Terima kasih atas pujiannya, shounen. Shoukan membelinya dari kantin itu." Riou menjawab seraya menunjuk sebuah kantin yang dijaga seorang wanita paruh baya. Terlihat wanita itu melambai-lambaikan tangannya kepada khalayak ramai dengan senyum ramah sarat keibuan. "Kalian bisa langganan di kantin itu. Kadang shoukan membantu beliau memasak makanan."

"Wah, Bapak Tentara ikut ngebantu onee-san itu masak?" Ramuda mengulang jawaban sang guru dengan balik bertanya riang. "Di ramen tadi, apa sensei ikut terlibat memasaknya?"

Riou mengangguk senang. "Shoukan memasak bagian kuahnya."

"Waaah keren." Sasara kembali memberi tanggapan. "Pantas kuahnya enak banget. Sensei pake rahasia apa?"

Riou tetap menyungging senyum bahagia dan tulus penuh bunga-bunga setelah dipuji demikian. Mulutnya membuka selang diam beberapa sekon, dan menjawab dengan sangat enteng.

"Tidak pakai rahasia apa-apa kok. Hanya sedikit diberi campuran rebusan kalajengking dan ulat sagu yang shoukan kumpulkan dari seminggu lalu."

Kontan segala gaduh di kantin hilang terganti senyap edisi tiga yang bertamu tanpa pesan. Semua mata terarah pada Riou, kecuali ibu kantin yang kembali sibuk mengurus dapurnya.

Daripada diam, sunyi, dan senyap yang melanda menyesakkan atmosfir, Samatoki berinisiatif untuk menanyai Riou terkait ucapannya barusan. Ragu-ragu hendak mengeluarkan sepatah atau dua patah kata, dan akhirnya menjadi berani setelah Rosho menusuk pinggangnya dengan jemari berkuku tajam seenak jidat.

"Em … Riou,"

"Ya?"

" … yang kamu bilang tadi beneran?"

Riou mengangguk. "Tentu saja benar. Kalau tidak percaya, shoukan akan memamerkannya kepada kalian. Mumpung shoukan masih mengantongi beberapa. Sebentar …,"

Di saat Riou sibuk merogoh kantong celana abu-abu lorengnya, semua murid mendekat untuk menyaksikan dengan saksama. Tidak butuh waktu lama bagi Riou untuk memberi respon begitu mendapat apa yang ia cari.

" … ketemu." ujarnya kalem. Beberapa bahan—yang nahasnya benar-benar kalajengking dan ulat sagu—ia letakkan di meja terdekat. "Tenang saja, mereka sudah mati, kok."

Kebisuan tetap merajai tempat dikarenakan semua manusia di tempat—kecuali Riou dan ibu kantin—masih melotot dan melongo tidak percaya. Mereka benar-benar memperhatikan dua kalajengking berbadan sedang dan satu ulat sagu yang gemuk tergeletak indah pada meja kantin.

Tidak perlu waktu lama, kantin kembali heboh sebab Sasara dan Kuuko ambruk di tempat.

"SASARA / KUUKO / KUUKO-SAN!"

"CEPAT BAWA DUA ORANG ITU KE UKS SEKOLAH!"

"Yey rame lagi."

"YAY-YEY-YAY-YEY DENGKULMU! RAMUDA, CEPAT PANGGIL JAKURAI SENSEI!"

" … cih."

"JANGAN BILANG 'CIH', CEBOL!"

"WOI BANTU ANGKUT MEREKA KE UKS! BERAT MEREKA DOBEL INI GEGARA KEKENYANGAN!"

"Shoukan terharu mereka berdua sangat menyukai resep rahasia shoukan …."

"SENANG BAPAKMU TENTARA! CEPAT KAMU SEBAGAI GURU BANTU ANGKAT MEREKA!"

"Samatoki, tidak boleh begi—"

"BODO AMAT NYING! BURUAN BANTU!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sore hari di SMA Hipu no Mai jarang disinggahi kedamaian yang menyenangkan jiwa. Takada kabar perundungan yang dilakukan sesama pelajar, takada kerusuhan berujung pengrusakan properti sekolah, takada berita kasus menjahili guru yang dilakukan sesama guru atau pun murid, dan lain-lain sebagainya berita tidak mengenakkan. Itu sebabnya Yamada Rei santai merokok di dalam ruang kepala sekolahnya yang tenang dan sepi dari segala suara yang memekakkan telinga. Dirinya benar-benar menikmati masa-masa penuh damai yang jarang didapat.

Pintu ruangnya tiba-tiba diketuk saat dirinya asyik memejam sambil mengisap rokok. Tanpa menunggu lama dirinya menyuruh sang pengetuk masuk, dan hanya diam begitu sosok kecil dengan rambut merah muda dan berseragam rapi masuk dan menutup pintu ruangan dari dalam.

Rei tersenyum kecil begitu orang itu berhenti tepat di depan mejanya. "Jadi, bagaimana?"

Ramuda memasang cengiran polos selebar-lebarnya. "Seperti dugaan; berjalan lancar. Mereka benar-benar tidak ragu untuk baku hantam cuman karena satu boneka babi."

Tawa puas dengan suara berat menggema di ruang yang sepi. Kacamata hitam andalan dibenarkan di muka saat merasa benda tersebut merosot. "Ada kabar lain?"

"Sasara dan Kuuko dirawat di UKS karena pingsan." Ramuda menjawab enteng, "Baru saja mereka keluar dari ruangan Pak Tua itu."

"Kamu masih tidak suka dengan Jakurai, ya …," Rei berkomentar pelan. Ramuda yang terang-terangan mengabaikan ucapannya barusan ia biarkan. " … baiklah, terima kasih atas laporannya. Kamu bisa pulang sekarang."

Ekspresi senang dipasang Ramuda setelahnya. Tanpa basa-basi dirinya berkata, "Iyey makasih …." dan berputar-putar di ruangan sebelum benar-benar keluar. Sesudah kepergian Ramuda, Rei kembali seorang diri di tempat.

"Benar-benar damai, ya." ujarnya seorang diri. Rokok kembali dihisap, dan beberapa detik setelah dirinya mengembus asap hasil rokok, pintu ruangnya kembali diketuk. Rei menghisap sekali lagi rokok di tangan, dan membumbungkan asapnya sesegera mungkin sebelum berucap, "Silakan masuk."

Pintu terbuka sedikit. Rema hitam menyembul dari balik pintu, dan menyusul setelahnya wajah dengan iris dwiwarna dan berhias satu tahi lalat. Rei langsung menggerus rokoknya begitu Ichiro menampilkan wajah malas.

"Gak ada kerjaan lagi, kan?" tanya Ichiro datar, "Oyaji, ayo pulang."

Rei mengangguk. Ia berdiri, kemudian menyambar jaket berbulu kesayangan yang digantung pada standing hanger dekatnya. Langkah lebar dipasang agar secepat mungkin tidak membuat anak sulungnya menunggu.

Rei tertawa ringan seraya mengacak rambut anak sulungnya meski secara gamblang diberi reaksi negatif oleh yang bersangkutan. Keduanya berjalan dengan langkah yang sama setelah Rei mengunci pintu ruangannya.

"Jadi," Rei membuka suara, "bagaimana harimu?"

Ichiro mendengkus. "Kacau. Kuuko pingsan gegara tau bahan masakan Riou sensei. Orang zaman mana yang bikin kuah ramen pake sari kalajengking dan ulat sagu?"

Rei terkekeh pelan. "Dia sudah baikan, 'kan?"

Anggukan pelan diberi Ichiro. "Sudah sadar, tapi masih lemas. Hhh … ini takkan terjadi kalau OSIS tidak menyita Amanda, dan aku tidak mengikuti saranmu untuk selalu menantang orang dengan saling adu rap di sekolah ini."

Spontan Rei terbahak puas mendengar penuturan anaknya. Dirinya tanpa aba-aba kembali mengacak helaian rambut hingga si empunya mengerang kesal. Rei mengabaikan hal tersebut dengan berkata, "Setidaknya hari-harimu jadi tidak membosankan."

Ichiro mendengkus. Unek-unek kekesalan dalam diri akhirnya diungkapkan. "Terserahmu sajalah."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Yakin udah baikan?"

"Ih Rosho nanya itu mulu kek kartun anak balita. Aku dah sehat, kok."

Rosho membuang napas panjang. Aspal jalan pulang diperhatikan saksama, tetapi sesekali dirinya melirik sahabat rambut hijau lumut yang sedang berjalan riang di sampingnya dilirik penuh kekhawatiran. "Beneran nih?"

"Beneran, ih." Sasara menjawab gemas. Kepalanya mendongak, mempertemukan wajah keduanya dalam satu garis lurus. "Rosho perhatian betul sama aku yang imut ini. Terharu nih aku."

Jitakan bertenaga sedang dikerahkan Rosho untuk menjitak sang sahabat. Pekikan penuh lara—bohongan—Sasara ia acuhkan. Sekali lagi dirinya membuang napas lelah. "Aku beneran gak habis pikir kenapa kamu mau aja ngeladenin adik kelas biadab satu itu."

Tawa terlepas dari mulut Sasara tanpa diduga-duga. Punggung sahabat berambut ungu tersebut ditepuk—digebuk—tiada akhlak. Dirinya malah memasang cengiran lebar kelewat polos saat netra Rosho menghunjam pandangan dengan tajam.

"Rosho enggak boleh ngatain adik kelas kayak gitu." tanggapnya tenang, "Gitu-gitu siswa kayak Kuuko-kun and the gangs bakal bikin hari-hari kita gak monoton. Walau, yah, bikin pusing tiap detik."

Rosho memilih diam setelah mendengar penuturan Sasara barusan. Langit sore dengan arakan awan tipis diamati sambil menghela napas. "Bagus juga omonganmu."

Sasara tergelak pelan. Dirinya ikut-ikutan mengamat langit sembari mensejajarkan langkah dengan sahabat di samping sembari kaki menendang-nendang kerikil yang ditemui di sepanjang jalur pulang. "Yah, aku gak bakal kepilih jadi ketos tanpa alasan, 'kan?"

Kali ini giliran Rosho yang terkekeh ringan. Pandangannya melembut tatkala mata keduanya bersirobok. Keduanya terdiam sejenak, lalu tertawa kecil secara bersamaan pada beberapa detik setelahnya.

"Yah, kurasa ucapanmu bener aja." respon Rosho beberapa detik kemudian.

Sasara bergumam samar sebagai respon. Dirinya baru hendak membalas perkataan Rosho, tapi terurung saat matanya menangkap Jyushi dan Kuuko beberapa meter di depan mereka.

Mungkin Rosho sadar akan diamnya sang sahabat. Itu sebabnya ia ikut berhenti, dan menghadapkan muka ke arah mana Sasara melihat. Dahi mengernyit heran menyaksikan dua adik kelas penyebab awal drama hari ini sedang bercengkerama, dan terkejut saat menyaksikan seorang Harai Kuuko—yang terkenal dengan kebadungannya di sekolah—mengusap lembut rema hitam ber-highlight kuning Aimono Jyushi sambil tersenyum.

Adegan tersebut berakhir setelah Kuuko menghentikan tindakannya, dan Jyushi mendekap Amanda—yang berhasil didapatkan kembali—dengan erat. Dua orang itu melanjutkan perjalanan pulang dengan bercakap-cakap. Sesekali matanya menangkap gerakan Jyushi yang menempeli Kuuko, dan tindakan tersebut diakhiri dengan Kuuko yang memukul kepala yang bersangkutan dari belakang.

Rosho menggumam samar begitu dua adik kelasnya tersebut menghilang dari pengamatan. Decak kagum ia keluarkan beberapa detik kemudian, lalu berujar, "Aku enggak nyangka dia bisa kalem dan penyayang begitu."

Takada respon dari Sasara selama tiga detik membuat Rosho mau takmau menoleh heran. Mulut yang hendak membuka terbungkam saat menyaksikan sang sahabat tetap memandang lurus ke tempat dua junior tadi berdiri. Terpaksa Rosho mendorong pelan bahu Sasara untuk menyadarkan kembali yang bersangkutan.

Sasara hanya membuang napas berat sebagai respon. Sekali lagi dirinya mendongak, dan mengulum senyum kecil kepada sang kawan.

"Aku takapa, kok. Hanya kaget juga ngeliat dia bisa ramah ke orang lain." sahutnya cepat sebelum Rosho menghujaninya dengan berbagai pertanyaan. Kaki melangkah tenang saat melanjutkan ucapan. "Ayo lanjut jalan. Nanti kamu dimarahin orang tuamu kalau pulang telat."

Rosho memilih bergeming sejenak; memandangi punggung Sasara yang menjauh perlahan. Napas ditarik sedalam-dalamnya, dan dihembus selambat-lambatnya setelah Sasara memutar badan; mempertemukan pandangan mereka dari jarak beberapa meter. Pelan Rosho berjalan menuju Sasara, dan menghadiahinya seulas senyum kecil kala keduanya kembali beriringan.

"Ayo pulang."

.

.

.

.

.

.

.


Pojok curhat:

Halo semua~ pakabs kaliann~? Kangen saya ya? Hehehe~ *ditampar*

Oke ... saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena baru bisa up sekarang. Niatnya up secepatnya, tapi kesibukan yeah-dingin semester genap seperti biasa nyebelin dan padet. Mana dapat dosen yang tegas pula :'D Tidak cukup sampai situ, saya mendadak buntu ide padahal kehidupan rumah saya sangat datar plong mulus ga ada ngapa-ngapain. Jadinya keburu malas, dan yah ... nelantarin ff ini. Chap 3 pun (juga chapter-chapter selanjutnya) belum ada saya ketik, jadi kayaknya bakal update lama lagi. Mohon maaf atas ketidak profesionalan saya.. m(_ _)m

Oiya, chapter kali ini gak ada saya edit-edit setelah diketik terakhir kalinya. Jadi, sekali lagi saya mohon maaf kalau banyak nemu kesalahan kata juga keanehan di sini.

Oke, sekian dari saya. Saya bener-bener berterima kasih buat yang sudah nunggu dan tetep mau baca ff saya satu ini. Hiks ... saya terharu... (TwT)

Sampai jumpa di chapter selanjutnya ... yang entah kapan akan saya up. Hehe. Love you all~~~