Disclaimer: Masashi Kishimoto.

.

.

.

Hari itu telah tiba, hari dimana kelulusan bagi siswa siswi Highschool Tokyo, ini adalah kembali di awal bagi para mereka untuk memulai hidup baru setelah keluar dari sekolah,

Umumnya banyak dari mereka yang akan meneruskan pendidikannya ke universitas atau perguruan tinggi favorit namun juga tak sedikit ada yang langsung mencari pekerjaan dan semua itu tentu ada alasan masing-masing.

Kini, diatas atap gedung academy tokyo terlihat dua sejoli yang saling berdiri berpandangan, satu laki-laki dan satu perempuan, mereka adalah sepasang kekasih. . .

Namikaze Naruto dan Hyuuga Hinata.

Banyak siswa siswi lain menyebut mereka pasangan yang serasi, Naruto adalah remaja hiperaktif sementara Hinata adalah gadis pendiam namun ia punya hati yang amat lembut.

Selain itu juga mereka adalah putra putri dari orang berada, orang tua mereka masing masing adalah pemilik perusahaan besar Namikaze Defense system dan Hyuuga corporation.

Perusahaan Namikaze adalah perusahaan pembuat senjata sistem pertahanan dan menjadi mitra permanen Negara Jepang dalam bagian alat utama sistem senjata.

Sementara Hyuuga Corporation adalah perusahaan properti yang sudah sukses besar di Jepang.

Mungkin sudah cukup latar belakang mereka berdua beserta keluarganya.

.

.

.

"Terus bagaimana, Hime?,"

"Mu-mungkin aku akan tetap meneruskan pendidikanku University Tokyo, Na-naruto-kun,"

"Begitukah. jadi kita akan berpisah jauh Hinata Aku akan melanjutkan pendidikanku di Amerika mengikuti Tou-san dan Kaa-san yang juga akan tinggal beberapa tahun disana untuk melebarkan bisnis. . ."

"I-itu lama sekali, Naruto-kun!,"

"He-hei jangan menangis Hime-chan,"

"A-ku merasa ini seperti perpisahan, Naruto-kun, hiks hiks. . ."

"Aku tidak mau berpisah darimu Hime-chan, aku janji akan terus berkomunikasi denganmu setelah disana,"

"Sampai saat semuanya selesai aku akan datang padamu dan melamarmu, hime-chan, aku hanya ingin kau bersabar,"

Mendengar itu tentu membuat Hinata merona, namun untuk hal berpisah dirinya agak berat karena akan jauh dari sosok yang ia kasihi dan sayangi untuk tahun-tahun mendatang.

Namun ia mencoba untuk memahaminya, Hinata yakin jika Naruto akan menepati janjinya karena dirinya tahu bagaimana sifat putra Namikaze tersebut, ia tak pernah mengingkari kata-katanya.

"A-aku mengerti, B-berjanjilah untuk terus menghubungiku setiap hari,"

"Tentu saja Hime-chan, aku mencintaimu."

"A-aku lebih mencintaimu," tanggap Hinata yang langsung memeluk lelaki dihadapannya begitu erat, menikmati pelukan dan rasa nyaman yang mungkin tak akan ia rasakan lagi begitu lama.

Naruto sendiri membalas pelukan tersebut lebih erat, jujur ia sangat keberatan saat orang tuanya meminta dirinya untuk ikut pindah Negara dan melanjutkan pendidikannya di Amerika walaupun pada akhirnya nanti ia akan kembali ke Jepang namun itu akan sangat lama.

Sebelum kelulusan pun Naruto sudah membicarakan hal ini pada Hinata, ia mencoba membujuk untuk ikut bersamanya ke Amerika dan itu tak akan sulit karena keluarga mereka berdua cukup dekat dan sudah merestui hubungan ini.

Akan tetapi Hinata menolaknya karena sudah pasti sang ayah tidak akan mengizinkannya karena disamping ia meneruskan pendidikannya disini Hinata juga akan belajar mengurus perusahaan keluarga. Naruto sendiri tahu betul watak keras Hiashi-jisan, maka dari itu ia tidak bisa melakukan apa-apa.

Naruto tak bisa menyalahkan alasan itu karena bagaimanapun Hinata adalah pewaris dari perusahaan Hyuuga dan itu untuk kebaikan kekasihnya juga.

Naruto sangat mencintai Hinata lebih dari apapun dan berpisah seperti ini ia merasa tak berdaya, hinata adalah temannya sejak kecil dan cintanya pertamanya, Naruto berharap gadis itu adalah cinta terakhirnya yang akan berlabuh ke dalam pernikahan.

Tak ada niatan sedikitpun dalam benak Naruto untuk meninggalkannya, namun keadaan memaksanya seperti ini.

Bagi mereka berdua itu sangatlah berat dan tidak adil.

.

.

.

Hari itu tiba, dimana Hinata ikut mengantar keberangkatan Naruto dan kedua orang tuanya ke Bandara Internasional, cukup sering Naruto memeluk Hinata yang berusaha kuat namun akhirnya gadis itu menangis.

Tak lupa Minato dan Kushina juga meminta maaf pada putri sahabatnya itu karena telah memisahkan mereka, namun karena memang ini tuntutan maka harus mereka tempuh dan Minato maupun Kushina sendiri yakin juga cinta kedua anak ini tidaklah main-main.

"Kami akan merindukanmu, Hinata-chan." ucap Kushina sambil memeluk Hinata dan dibalas pelukan erat darinya.

Tentu, Kushina sendiri sudah menganggap gadis ini seperti menantunya sendiri.

"A-aku akan mengerti, Bibi. Aku juga akan merindukan kalian." Kushina melepas pelukannya disertai senyum sedikit bersalah.

"Kushi-chan, biarkan mereka berdua dahulu," Panggil Minato pada istrinya dan kemudian ia melirik putranya, "Dan Naruto Ayah dan Ibu ada disana nanti."

"Baik terima kasih, Otou-san." Naruto mengangguk.

Setelah kepergian orang tuanya, dua sejoli itu saling menatap dan kemudian berpelukan.

Tak peduli dilihat orang banyak, mereka akan menikmati kebersamaan yang sebentar lagi tak akan mereka rasakan dalam waktu yang lama.

Mungkin saja.

Sebelum pergi Naruto memberikan sebuah kalung dengan emas berbentuk rubah dan memasangkan itu di leher Hinata.

"Ini untukmu agar kau selalu mengingatku dan aku janji akan kembali, melamarmu."

"Aku pegang janjimu, Naruto-kun." dengan tidak gagap Hinata mantab menjawab Naruto dan ia yakin Naruto akan menepati janjinya.

Tak lama setelah itu Pemeberitahuan keberangkatan pesawat telah diumumkan, Naruto yang mendengar itu langsung langsung beranjak pergi.

"Aku akan meneleponmu saat sudah sampai," teriak Naruto sambil terus menatap Hinata dan melambaikan tangannya.

"Aku tunggu!," ucap Hinata lirih, ia tersenyum melambaikan tangan sembari menahan tangisnya.

.

.

.

.

Hari demi hari pun berlalu dan kehidupan akan terus berlanjut, Sudah 1 bulan setelah keberangkatan Naruto ke Amerika. Hinata dan Naruto sendiri sangat intens berkirim kabar dan menelepon dan rasa cinta mereka tidak goyah sama sekali.

Mereka bercerita tentang kesehariannya masing-masing, Adapun Hinata bercerita pada Naruto tentang dirinya yang diterima di perguruan tinggi yang ia pilih dan membuat kedua orang tuanya senang,

Begitu juga dengan Naruto, ia bercerita tentang hidupnya di Washington, US. I bercerita jika ia meneruskan pendidikannya di Digipen Institute of technology, itu sangat luar biasa karena itu adalah salah satu institut berbaik.

Tentu kedua bagi keduanya mendengar hal itu merasa senang dan bahagia.

3 bulan kemudian kehidupan mereka juga baik-baik saja dan tetap membaik, melakukan kegiatan masing-masing dari pagi hingga sore dan pada malam harinya mereka habiskan untuk berkomunikasi.

Dan 1 Tahun kemudian hubungan mereka pun masih baik dan terus berjalan normal.

Namun.

Dalam 2 tahun kemudian, ini tepat mereka tidak bertemu selama 3 tahun, Hinata merasakan ada hal yang janggal.

Ia merasakan itu, setiap hari di tiap malam ia menghubungi atau mengirim pesan ke Naruto namun Naruto jarang menanggapinya dan jika sekiranya dalam seminggu penuh mereka secara intens berkirim kabar atau telepon kini Naruto hanya membalas dua hari sekali atau terkadang tiga hari sekali.

Namun Hinata hanya berpikiran positif jika kekasihnya sedang sangat sibuk dengan studinya.

Tapi setelah semakin lama dan berjalan berbulan-bulan kemudian Naruto seolah-olah menghindari dirinya. Bahkan ia tak mau menerima telepon dari Hinata dan pesannya tidak dijawab.

Naruto sendiri hanya menjawab pesan Hinata seminggu sekali dan itu pun cukup pendek, pesan itu bertuliskan. . .

"[ Maaf Hinata, aku sangat sibuk. Maafkan aku.]"

Namun pesan itu tidak membuat Hinata puas, sudah 3 tahun lebih hubungan jarak jauh mereka, ia mencoba bersabar namun sekarang Hinata merasa bingung sendiri dengan keadaan ini.

Hinata sendiri tidak ingin menghubungi kedua orang tua Naruto, ia tidak mempunyai kontak orang tua Naruto dan juga Hinata tidak mau hubungan mereka membuat orang tuanya maupun orang tua Naruto ribut.

Namun Hinata yakin jika Naruto-nya tidak akan mengingkari janjinya, ia yakin itu.

.

.

.

Namun. . .

Tiga setengah Tahun kemudian, komunikasi mereka terputus total. beberapa hari yang lalu Hinata sangat terkejut ketika Naruto mengganti nomor teleponnya, dan semua media sosialnya telah hilang.

Ia mencoba berbagai cara untuk menghubungi Naruto namun nihil.

'A-ayo, Naruto-kun. Ke-napa denganmu?,' Batin Hinata sembari berusaha mengotak atik ponselnya agar menemukan cara untuk menghubungi kekasihnya.

Tentu, perasaan sesak di dada menguar dalam diri gadis baik itu. hidupnya terasa lesu.

Ini sia-sia.

Hatinya terasa hancur dan hanya tangis yang ia lakukan, namun begitu ia berusaha kuat dan mencoba normal ketika bersama keluarganya.

Dengan kekuatannya Hatinya Hinata berusaha ceria dihadapan yang lainnya.

Dan sekarang, saat ini ia hanya dia duduk dipinggir kasur dan melamun, tetes demi tetes air mata mengalir jatuh ke pipi putihnya.

menangis tanpa suara.

Ia hanya diam namun pikiran Hinata telah melayang entah kemana, kamarnya adalah tempatnya untuk mengeluarkan semua kesedihannya dan tak akan ada yang melihatnya.

Cklek*

Suara pintu terbuka dan Hinata tidak menyadari itu. Hikari Hyuuga Sang Ibu dan adik perempuannya yaitu Hanabi Hyuuga, mereka berjalan masuk lalu berdiri tak jauh darinya.

Dan sang Ibu tiba-tiba memeluknya erat.

"Menangislah, putriku. Kaa-san ada disini." ucap lirih Hikari di samping telinganya, ia mengelus lembut rambut putrinya

Hinata menoleh kesamping dan mendapati wajah teduh Ibunya, entah kenapa ia merasakan perasaan nyaman dan gejolak emosinya meninggi.

"Hiks hiks huuaaa Okaa-san," Tangis Hinata memekik, ia memeluk erat sang ibu.

Sementara itu Hanabi yang berdiri disamping mereka hanya diam, namun seperti menular ia juga tak mampu untuk menahan tangisnya.

Seolah-olah tahu apa yang terjadi pada kakaknya tangan putri kedua dari Hyuuga Hiashi itu terkepal erat, hanya satu sosok yang membuat kakaknya seperti ini.

"Menangislah, Hinata. putri kecilku." Dengan nada yang penuh kenyamanan Hikari berbicara pelan.

"Kau gadis yang baik, jangan memikirkan dia lagi. Masa depanmu masih cerahdan tataplah itu Putriku." ucap Hikari lirih.

Ya, sebenarnya mereka semua termasuk sang Ayah tahu masalah ini sudah cukup lama namun mereka hanya diam, akan tetapi melihat kondisi Hinata saat ini akhirnya mereka turun tangan.

Malam itu adalah masa terendah bagi hidup Hinata namun juga masa titik balik gadis itu untuk terus melangkah kedepan secara perlahan.

.

.

.

Berhari-hari kemudian Hinata mencoba untuk bangkit dan melupakan Naruto, ia berusaha keras dan lebih untuk membuang semua kenangan mereka.

Hinata mencoba beraktifitas normal, dengan support keluarga ia merasa lebih baik.

Dan tepat dua bulan setelah malam itu Hinata sudah mulai melupakan Naruto.

Kini disamping rumahnya didepan Hinata menyalakan Kayu bakar dan menunggu api menyala dan setelah menyala sempurna ia mengambil satu kardus yang tergeletak disampingnya.

isi dari kardus itu adalah semua barang pemberian Naruto, satu persatu barang yang ada didalamnya ia lempar ke bara api dan langsung terbakar.

Setelah semua barang habis, Hinata kemudian melepas kalung dengan ornamen rubah yang merupakan pemberian terakhir Naruto sebelum berangkat ke Amerika.

"Selamat tinggal, Naruto-kun." ucap Hinata lirih dan langsung melempar kalung tersebut ke api.

jujur ia masih cukup berat untuk melupakan semuanya, namun Hinata haruslah terus maju karena bagaimanapun hidup tetap berjalan dan ia tak mau ketinggalan.

Sebenarnya sebelum ia melakukan ini Hinata selama beberapa bulan terus berusaha untuk mencari informasi soal Naruto.

Namun memang semuanya telah nihil.

.

.

.

Washington D.C . US.

Apa yang Naruto lakukan selama ini dan menghilang?.

perlu diketahui adalah Naruto memang study di universitas terbaik. namun itu hanya beberapa tahun karena dia telah keluar dari sana.

Beberapa masalah yang dia lakukan disana membuatnya harus Drop out, Bukan masalah uang melainkan perkelahian dan perempuan.

Ya, Naruto memang berselingkuh dengan gadis disini, dengan sadar ia sengaja melakukannya.

Sungguh ia tahu jika dirinya telah menyakiti hati Hinata di Jepang sana dan bukan itu saja sebenarnya alasan dia seperti ini.

Orang tuanya telah memutus hubungan bisnis dengan perusahaan Hyuuga yang merupakan perusahaan milik orang tua Hinata.

Secara singkat Itu berimbas pada Naruto, jadi ada faktor orang tua juga atas hal yang dilakukan oleh Naruto terhadap Hinata.

Ini rumit dan Naruto menyadari itu.

Setiap hari ia mendapat pesan dan telepon dari Hinata namun dengan sengaja Naruto tidak membalas atau menjawabnya.

Dan disini pun ia akhirnya menyukai gadis satu jurusan dengannya dan mereka pun berpacaran.

Tapi sialnya gadis itu telah berselingkuh dari dirinya dan Naruto yang mengetahui itu langsung adu jotos dengan selingkuhan kekasih barunya tersebut yang ternyata merupakan mahasiswa dari perguruan yang sama namun berbeda jurusan.

Banyak masalah yang Naruto lalui disini dan berakhir buruk, orang tuanya sendiri akhirnya turun tangan.

dan singkatnya Naruto dihentikan dari perguruan.

3 bulan setelah itu.

Kini disebuah barak militer, terlihat Naruto duduk termenung sembari melihat foto Hinata yang duduk bersamanya. itu foto saat mereka masih bersama di Jepang.

Dari sekian gadis yang menghampiri hidupnya hanya Hinata saja yang tulus mencintainya.

"Aku melakukan kesalahan buruk 'kan, Hinata?," ucap lirih Naruto dengan mata yang tertuju pada foto itu.

Barak militer?.

Ya, Naruto mendaftarkan diri ke Angkatan Darat Amerika. Seperti cocok dengan dirinya Naruto dengan cepat melahap tes demi tes perwira pertama dan berhasil.

Setelah melewati semua hal kini dirinya sadar jika hanya Hinata yang selalu menemaninya dulu, mereka berdua saling mencintai satu sama lain.

"Dan bodohnya aku mengkhianatimu dan menghilang tanpa memberitahu apapun padamu." Naruto tersenyum miris jika mengingat semuanya.

"Setelah ini aku akan ke Jepang, untuk menemuinya dan meminta maaf padanya." ia berbicara pada diri sendiri dan mencoba meyakinkan diri untuk tidak melakukan kesalahan lagi.

Setelah ia jadi perwira pertama sebenarnya Naruto akan dikirim ke Timur tengah untuk mengisi rotasi pasukan Amerika yang sedang bertempur di Negara teluk, namun dengan pengecualian ia adalah perwira yang belum berpengalaman maka Naruto boleh menolaknya.

"Agar aku bisa ke Jepang maka aku memang harus menolak tugas kesana, aku ingin menemuinya. Kuharap dia masih menungguku." dengan senyum sumringah Naruto yakin jika Hinata masih menunggunya.

Walaupun ada keraguan jika Hinata sudah melupakannya.

Tapi Naruto tetap optimis.

.

.

.

7 hari kemudian.

Seminggu dengan penih pengisian beberapa data dan imigrasi akhirnya Naruto bisa pergi ke Jepang, saat di bandara pun ia ditemani oleh orang tuanya yang dari awal sangat berat hati untuk tidak mengijinkan dia kembali ke Jepang.

Entah apa yang Minato dan Kushina sembunyikan, namun mereka tidak memberitahu putranya apapun.

Namun karena rasa rindu Naruto terlalu besar untuk gadis lavender itu maka mereka berdua tak bisa mencegahnya lagi.

"Kaa-san Tou-san, aku pergi dulu hehe." disertai cengiran tanpa beban Naruto mengucapkan itu pada orang tuanya, ia melambaikan tangannya.

"Hati-hati disana." ucap Kushina sambil membalas lambaian.

"Siap Kaa-san!,"

.

.

.

selang beberapa menit Pesawat Naruto akhirnya mengudara dari Bandara sementara Minato dan Kushina menatap pesawat tersebut dengan tatapan sendu.

"Apa tidak masalah kita membiarkannya?" tanya Kushina pelan, dan Minato yang mendengar itu memeluk istrinya dengan lembut.

"Dia sudah dewasa dan seharusnya dia bisa menerimanya. . ." Minato menatap sedih pesawat yang ditumpangi Naruto menghilang ditelan awan.

"Jika Hinata sudah menikah dengan putranya Fugaku satu tahun yang lalu,"

"Aku tahu jika Ini adalah kesalahan yang harus ditanggung putra kita, tapi sebagai Ibunya aku harus siap memberi support padanya "Kushina dengan tegas ingin terus mensupport anaknya. tentu saja.

"Aku juga ayahnya, kau kira aku akan membiarkan dia sendirian,"

"Kita pulang, Kushina."

"Ha'i. . ."

.

.

.

.

Notes: ini sebuat fanfict Request yang releasenya sangat telat. Mohon maaf sebesar-besarnya jika tidak sesuai ekspetasi. Aku bahkan merasa tak percaya firi dengan hasil yang kubuat, namun aku tetap menghargai karyaku ini.

Aku membuat ini hanya sesuai tema yang pemesan minta, Hurt!comfort. dan ini genre yang sulit untuk author pemula sepertiku. Aku harap kalian memakluminya.

Terasa mengganjal?. ya aku membuat dua chapter dari sebelumnya aku buat satu.

Oh iya, nama yang request fanfict ini adalah @Sari_Hime.

Aku tahu kalian pembaca yang pintar jadi Review lah ini dengan kritikan membangun.

Terima kasih.