The Song from The Black Lake

.


Oh SeHun/Wu ShiXun – Lu Han

warning! mengandung konten nsfw 21+ yang eksplisit, mungkin ada beberapa adegan yang membuat kalian nggak nyaman, jadi better to close tab buat yang gak suka nsfw things. male x male. siren!luhan. typo(s).

feedback is highly appreciated.

enjoy!


.

.

.


Perahu itu bergerak tenang di atas permukaan air yang sehitam jelaga. Air itu benar-benar hitam dengan kabut di sekitarnya, membentengi jarak pandang siapapun yang terjebak di atas perahu tersebut. Kalaupun ada serangan dari berbagai arah, seseorang tidak akan mengetahuinya. Atau, kalau-kalau ada sesuatu yang muncul tiba-tiba dari dasar air, juga akan sulit mendeteksinya. Air di sini terlalu tenang dengan energi Yin yang begitu pekat.

Perahu itu tidak dikendalikan dengan dayung, benda itu bergerak dengan sendirinya, kemudian berhenti. Entah di tengah atau di pinggir permukaan, sekali lagi, karena kabut yang begitu tebal, dia tidak tahu posisinya ada di mana saat ini.

Seseorang berdiri di atas perahu tersebut. Sama halnya seperti air di sekitarnya, dia begitu tenang, tidak ada secuil pun keraguan maupun kekhawatiran dengan situasi di sekitarnya. Sosoknya begitu tinggi, tegap dan agung. Jubah peraknya terjuntai, dengan motif serta pola-pola sederhana, namun tidak menghilangkan kesan elegan dan mewah dari dirinya. Di balik jubah itu, terlihat hanfu segelap malam yang sama panjang dengan jubah yang ia kenakan. Dia mengenakan sabuk pinggang berwarna sencada dengan jubahnya, dengan rumbai batu giok putih di sisi kirinya.

Sosok itu memiliki perawakan tinggi dengan postur tegap nan kokoh yang membuat siapapun akan mengetahui kalau ia adalah sosok yang tegas dan kuat hanya dengan sekali pandangan pertama. Dia memiliki kulit seputih salju pertama yang baru saja turun dari langit. Kedua alisnya terukir tajam dan tebal, dengan hidung mancung yang terpahat begitu sempurna, serta bibir tipis dengan warna merah muda seperti bunga tulip di musim semi. Garis wajahnya kokoh dengan rahang yang tegas.

Di bawah sinar rembulan, sosok itu tampak begitu mengagumkan dan amat rupawan dengan rambut panjang sehitam jelaga yang terikat rapi. Alam seperti berkonspirasi untuk membuat sosok itu terlihat lebih mempesona; dengan angin malam berembus perlahan, helaian rambut hitam sosok itu melayang lembut mengikuti pergerakan angin. Kesan dingin yang tak terbantahkan menguar dari pria tersebut, wajahnya seperti tidak memiliki emosi. Seseorang tidak akan bisa menebak bagaimana suasana hatinya sekarang, karena tidak ada ekspresi apapun di sana.

Di tangannya, ada sebuah pedang yang ia genggam, masih terlapisi sarung berwarna perak yang berkilauan. Pangkal pedang itu memiliki ukiran rumit, tampak kokoh, dingin dan menawan di saat yang bersamaan. Itu hanya sebatas pedang, namun aura yang dipancarkan tak terbantahkan; jelas itu bukan pedang sembarangan. Entah sudah berapa banyak nyawa atau makhluk-makhluk lain yang sudah merasakan bilahnya yang sedingin es nan tajam mematikan.

"Wu Gongzi?! Wu Gongzi!"

Suara-suara beberapa orang terdengar di pendengarannya yang tajam, jelas memanggilnya dengan penuh kekhawatiran dan kepanikan. Suara-suara itu perlahan menjauh, menjauh, dan menghilang.

Seperti namanya; Danau Hitam, danau ini memiliki air sehitam arang dengan kabut tebal yang disebut sebagai Kabut Tanpa Jejak. Kabut yang membuat siapapun terjebak di dalamnya sendirian, bahkan bisa membuat seseorang menghilang tanpa meninggalkan jejak apapun. Jika kau selamat, kau akan ditemukan di tempat yang tidak terduga. Satu hal yang perlu dilakukan saat terjebak di dalam kabut ini adalah harus tetap tenang, dan tidak melakukan tindakan yang ceroboh, seperti berteriak-teriak meminta tolong, atau berusaha melarikan diri, mencari jalan keluar. Kau hanya harus bersikap tenang, dan menunggu hingga kabutnya menipis.

Kabut Tanpa Jejak ini hanya bisa ditemui di Danau Hitam. Kedatangannya tidak terduga, dan selalu berhasil menghisap jiwa-jiwa seseorang yang terjebak di dalamnya. Maka dari itu, tidak ada orang yang sudi datang ke Danau Hitam. Sama saja seperti menyerahkan nyawanya sendiri.

Namun, selalu ada orang yang bebal dan nekat datang ke Danau Hitam, karena diyakini, selain dipenuhi monster dan makhluk-makhluk mengerikan yang bersarang di dasarnya, ada makhluk yang bisa memberikan sebuah keabadian dan kekuatan tak tertandingi.

Hal itu belum dipastikan kebenarannya, karena hingga saat ini belum ada yang berhasil menerima keabadian dari 'makhluk' tersebut. Bagaimana bisa menemukan makhluk itu jika baru 2-3 kali mendayung di atas Danau Hitam, jiwa mereka sudah terhisap oleh ganasnya monster penunggu danau?

Namun, ada beberapa yang mengatakan, makhluk pemberi keabadian itu memiliki sebuah nama. Masyarakat menyebutnya Xiao Lu. Wujud aslinya tidak pernah diketahui siapapun, ada yang mengatakan makhluk itu berwujud ular raksaksa bersisik perak dengan dua kepala dan bermata hijau seperti batu ruby yang berkilauan. Ada yang mengatakan sosoknya berwujud gurita ber-tentakel sembilan berkepala manusia dengan gigi-gigi taring panjang. Bahkan, ada pula yang mengatakan Xiao Lu berwujud seorang anak lelaki rupawan dengan sayap hitam di punggungnya, dengan lidah sepanjang 10 inch, yang mampu menembus telinga kanan hingga kiri seseorang, dan menyedot otak manusia secara bulat-bulat. Tidak pernah ada yang tahu bagaimana wujud aslinya. Selalu ada cerita simpang-siur yang kebenarannya masih patut dipertanyakan di antara masyarakat.

Berbagai mitos bermunculan di masyarakat, bahkan disebut-sebut Xiao Lu adalah Raja Iblis Danau Hitam yang kerap kali mengirim hantu-hantu air ke berbagai danau serta sungai di desa-desa dan kota untuk membuat masyarakat resah. Danau Hitam adalah salah satu wilayah yang tidak bisa dikendalikan oleh kultivator manapun. Selain karena energi kebencian yang begitu kuat di sekitarnya, wilayah tersebut juga memiliki makhluk-makhluk ganas yang belum banyak diketahui kelemahannya oleh para Taoist atau kultivator.

Singkatnya, Danau Hitam adalah wilayah yang sangat dihindari, namun di saat yang sama, wilayah yang begitu menarik untuk dicari tahu lebih dalam. Apalagi dengan iming-iming 'makhluk pemberi keabadian', siapa yang tidak mau menjadi immortal yang tidak terkalahkan dengan cara yang instan? Mereka bisa menguasai dunia kultivasi dalam waktu semalam.

Wu ShiXun bukanlah seorang kultivator biasa. Dia adalah seorang tuan muda ke-dua dari sekte terkenal dan dihormati di negeri ini. Sekte Yinshan Wu, berada di puncak gunung Yinshan. Disebut Yinshan karena gunung itu seperti bongkahan perak raksaksa yang diselimuti awan-awan lembut dan udara sejuk yang melingkupinya. Sekte Yinshan Wu sudah banyak menghasilkan kultivator-kultivator hebat. Karena hal itulah banyak orangtua yang ingin anak-anak mereka belajar di sana walaupun ada ribuan peraturan ketat yang wajib dipatuhi ketika di Yinshan.

Wu ShiXun sendiri adalah salah satu contoh yang kerap kali dikagumi dan dijadikan panutan oleh orang lain. Usianya masih tergolong muda, namun dia sangat berbakat dengan kultivasi-nya yang tinggi. Dia menguasai berbagai bidang seni; panahan, pedang, berkuda, kaligrafi, musik serta aritmatika. Dia terdidik nyaris sempurna, kekurangannya hanya satu; dia tidak pandai bersosialisasi. Dia seperti membangun tembok raksaksa untuk menghalangi orang-orang yang mendekati atau berinteraksi dengannya. Dia selalu mengunci dirinya di tempat pribadinya, untuk mempelajari sesuatu atau melatih kultivasi-nya.

Namun, walau seperti itu, orang-orang masih begitu menghormatinya. Selain itu, dia terkenal begitu tegas dan disiplin. Tidak pernah melanggar peraturan sekte-nya, dan begitu menghindari energi hitam. Tidak peduli makhluk itu hanya mayat hidup berlevel rendah atau bukan, dia akan datang untuk mengenyahkannya. Karena sikapnya itu, orang-orang banyak mengaguminya. Dia seorang Tuan Muda dari sekte terhormat, namun tidak pernah pilih-pilih dalam pemburuan, dan selalu menolong masyarakat biasa.

Seperti kasus kali ini, masyarakat kota Yue mengeluh tentang danau Nanping mereka yang dipenuhi hantu-hantu air. Hantu-hantu air memang bukanlah hal yang aneh di danau maupun sungai, biasanya mereka hanya mengganggu, tidak berbahaya sekali. Namun, kali ini, makhluk-makhluk itu mulai banyak merenggut nyawa penduduk. Awalnya satu orang, kemudian bertambah, dan bertambah, membuat masyarakat di sekitar danau mulai khawatir dan takut.

Wu ShiXun sudah mengunjungi danau Nanping lebih dulu bersama murid-murid lain dari sekte-nya. Dia menyadari kalau hantu-hantu air itu berbeda. Mereka iblis ganas yang mampu menciptakan pusaran air. Tentu saja mereka sulit diatasi. Mereka hanya memiliki dua opsi, membasmi iblis-iblis kecil haus darah itu hingga tak bersisa, atau langsung menyerang ke sarangnya, yaitu Danau Hitam.

Wu ShiXun jelas memilih opsi yang kedua. Opsi pertama akan sangat membuang-buang waktu, karena dia tahu, iblis-iblis itu tidak akan ada habisnya. Yang ada, murid-murid dari sekte-nya yang akan tewas satu per satu. Pada akhirnya, dia nekat pergi ke Danau Hitam bersama beberapa murid lainnya. Murid-murid itu tidak bisa membantah keputusannya, karena Wu Shixun memang dikenal memiliki tekad yang begitu tinggi. Lagipula, mereka terlalu takut untuk membantah perintah Si Tuan Muda.

Namun, seperti yang terjadi, kini mereka berpisah semenjak Kabut Tanpa Jejak menghalangi jarak pandang mereka. Wu ShiXun tidak tahu di mana Shixiong dan Shidi-nya berada. Dia sendirian di atas perahunya, namun tekadnya belum tergoyahkan. Dia masih bertahan dengan sikap tenangnya.

Wu ShiXun mengeratkan genggamannya pada Yinxue —pedangnya— saat mendengar sebuah anomali di sekitarnya. Terdengar suara gemercik riak air di sekitar perahunya. Riak air itu mengelilingi perahunya dengan gerakan lembut, tidak terburu-buru. Obsidian tajam Wu ShiXun mengikuti pergerakan air tersebut, seperti ada sesuatu yang berenang di bawah perahunya. Mengelilinginya dengan sengaja.

Kemudian, terdengar sebuah suara bergumam lembut menyapa gendang telinga Wu ShiXun. Menyenandungkan sebuah nada-nada indah bak alunan harpa di Langit. Nada itu memang terdengar begitu indah, namun ada sebuah kesedihan yang tersirat di dalamnya.

"Naked as starlight and burnt as the sun ..., His face shines with tears and his hair is undone ..."

Wu ShiXun menoleh ke sisi kirinya, mendapati sesosok entitas tengah menopang dagunya di antara lipatan tangannya yang ia letakan di sisi perahu milik Wu ShiXun.

Untuk beberapa saat, netra setajam bak elang miliknya terpaku pada makhluk yang baru saja ia jumpai itu. Dia seperti seorang manusia, dengan rambut cokelat almond panjangnya yang basah serta terurai di antara bahunya yang telanjang. Kulitnya seputih batu pualam tanpa cela, dengan bulir-bulir air menetes serta membasahi permukaan kulitnya. Di bawah sinar bulan, kulit putihnya tampak berkilauan.

Sepasang matanya yang bulat dan jernih memandangi Wu ShiXun dengan bulu matanya yang panjang, sesekali dia berkedip, membiarkan tetesan air dari sana terjatuh begitu saja. Ada garis merah yang begitu tipis di bawah matanya, dan kedua bola matanya yang berwarna seperti batu ruby biru itu mengingatkan Wu ShiXun akan samudera; dalam, menyimpan sekelumit misteri serta... indah. Ada pesona yang tidak bisa dideskripsikan dari sepasang iris itu.

Wu ShiXun jelas paham, walau dia tampak seperti manusia, tapi dia bukan.

"His eyes roam the ocean in search of someone ..., A lover promised to meet him at dawn..."

Makhluk itu menyenandungkan sebuah lagu dengan nada-nada yang paling indah yang baru Wu ShiXun dengar sepanjang hidupnya. Suaranya menggema, mengisi setiap sudut. Dia belum pernah mendengar bahasa yang disenandungkan oleh makhluk tersebut, namun, anehnya, dia mengerti arti-arti lirik lagu itu.

Wu ShiXun seperti pernah mengalami hal ini, tapi dia tidak tahu kapan dan di mana. Ini jelas pertama kali dia mendatangi Danau Hitam, namun, dia merasa begitu tidak asing dengan situasi saat ini.

"The light hits the water, a voice from the sea ... A haunting melody, crystalline caves where the tide sits neck deep ... A hollowed heaven where two lovers meet,"

Makhluk itu begitu mempesona, dengan bibir semerah delima masak, dia sangat cantik. Namun, Wu ShiXun tahu dia adalah seorang lelaki. Suaranya begitu lembut dan merdu, mengisi tiap udara, siapapun yang mendengarnya akan betah berlama-lama untuk mendengarnya lagi dan lagi. Seperti alunan harpa dari Surga yang dimainkan oleh para Dewa; benar-benar memabukan.

Apa makhluk ini yang bernama Xiao Lu? Beberapa cerita masyarakat mengatakan bahwa di Danau Hitam memang kerap terdengar suara nyanyian yang disenandungkan. Suara yang begitu merdu, namun di saat yang sama terdengar begitu pilu dan menyayat hati. Terkadang, nyanyian itu berubah menjadi sebuah teriakan mengerikan, yang membuat siapapun bergidik ngeri.

"Wu-Er Gongzi,"

(Wu-Er Gongzi : Tuan Muda Kedua Wu)

Makhluk itu menghentikan nyanyiannya, menyapa Wu ShiXun masih dengan posisi yang sama; menopang wajahnya di antara lipatan tangannya. Tubuh bagian bawahnya berada di permukaan air, bergerak kecil sesekali, membuat riak di tengah tenangnya air danau.

"Kau mengenalku," Wu ShiXun masih berdiri dengan Yinxue di genggaman tangannya, menunduk untuk melihat makhluk tersebut mengangguk-anggukan kepalanya dengan senyuman terhias di wajahnya basahnya.

"Siapa yang tidak mengenal Tuan Muda Wu?" Makhluk itu memundurkan sedikit tubuhnya, kemudian berenang mengitari perahu milik Wu ShiXun. Kini, Wu ShiXun bisa melihat dengan jelas bagaimana bentuk keseluruhan makhluk itu. Dia memiliki setengah tubuh manusia, dan setengah tubuh ikan; dengan ekor berwarna perak berkilauan, sangat kontras dengan hitamnya air danau. Ekor itu terlihat begitu menakjubkan, sisik-sisiknya berkerlapan layaknya hamparan mutiara.

Saat dia berenang, air di sekitarnya berubah perlahan-lahan menjadi kebiruan layaknya air di samudera. Air sehitam jelaga itu kini berubah menjadi biru; bersih dan bening, memantulkan cahaya bulan di atasnya. Seseorang bahkan bisa bercermin di atasnya.

"Aku bertanya-tanya siapa kiranya sosok yang begitu memukau yang berdiri di atas sebuah perahu sendirian, tak tergoyahkan walau Kabut Tanpa Jejak-ku mengepungnya," makhluk itu sudah berhenti berenang-renang mengitari Wu ShiXun, dia kembali pada posisinya seperti semula, "ternyata itu adalah Wu-Er Gongzi."

Makhluk itu menyatukan kedua tangannya dan menunduk sedikit; memberi hormat, "Aku sangat tersanjung Wu-Er Gongzi mau mengunjungiku."

Tingkat kultivasi Wu ShiXun tergolong tinggi, dia bisa mendeteksi bahaya atau energi kebencian di dekatnya. Namun, saat ini, dia tidak bisa merasakan adanya ancaman apapun. Makhluk ini tidak berniat menyerangnya. Maka dari itu, Wu ShiXun menyibak sedikit jubahnya, kemudian duduk di atas perahunya.

"Xiao Lu, namamu?"

Sosok itu memang terlihat tidak berbahaya, namun Wu ShiXun sudah banyak sekali menjumpai yao, monster dan makhluk aneh lainnya yang pandai memanipulasi manusia. Dia tahu, Xiao Lu jelas lebih berbahaya dari segala makhluk yang dia jumpai selama ini. Ada kekejaman dan kebengisan di wajahnya yang terkesan lugu itu.

"Gongzi, sebenarnya namaku LuHan." LuHan, makhluk itu menjawab dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari Wu ShiXun, seakan-akan dia enggan berkedip sama sekali. "Sampai saat ini aku masih heran, darimana orang-orang tahu nama Xiao Lu, karena nama itu pemberian khusus dari seseorang untukku."

"Apa ini wujud aslimu?" Wu ShiXun bertanya. Ekspresinya tidak pernah berubah, pandangannya pun masih sama dinginnya bak embusan angin saat musim dingin.

LuHan mengangguk, "Ya, kau orang beruntung karena yang pertama kali aku izinkan untuk melihatnya."

Wu ShiXun tidak menanggapi terlalu jauh, "Kau yang mengirim iblis-iblis air kecil itu ke danau Nanping?"

"Tsk, Wu-Er Gongzi, ternyata benar apa yang dikatakan orang kebanyakan. Kau benar-benar membosankan," LuHan berdecak, "benar-benar tidak mau berbasa-basi."

"Iya atau tidak?" Wu ShiXun mendesaknya.

"Jadi kau mengunjungiku hanya untuk pertanyaan ini?" LuHan mengangkat satu alisnya, "Tidakkah kau penasaran dengan hal yang lain? Atau, menginginkan keabadian dan kemashyuran abadi? Aku bisa memberikannya padamu."

Wu ShiXun terkenal sebagai sosok panutan para kebanyakan orangtua untuk anak-anak mereka karena sikapnya yang begitu lurus dan disiplin. Tidak pernah tertarik untuk bermain-main dengan hal-hal yang bersifat keduniawian. Apalagi hal-hal yang menyangkut keabadian secara instan yang didapatkan dari sihir hitam, bahkan hal itu tidak pernah terlintas dalam benak Wu ShiXun. Dia seperti tembok peraturan berjalan, apapun yang dilarang di sekte-nya tidak pernah dia langgar. Dan, berkultus dengan sihir hitam adalah kejahatan tak termaafkan.

LuHan mendadak melontarkan sebuah senyum simpul ke arahnya, "Kau benar-benar tidak berubah."

"Apa maksudnya?"

"Tidak ada. Aku hanya heran, bagaimana kau bisa menjalani hidup yang semembosankan ini," LuHan menopang wajahnya di satu tangannya yang ia letakan pada sisi perahu, tangannya yang lain ia gunakan untuk mengetuk-ngetuk kecil kayu perahu. Makhluk ini sekilas benar-benar tidak tampak berbahaya sama sekali. Tidak seperti yang digembor-gemborkan cerita mengerikan di luaran sana.

"Wu-Er Gongzi, jangan melihatku seperti itu. Apa karena citraku yang sudah sangat buruk sampai kau mencurigaiku yang mengirim iblis-iblis tak berguna itu? Aku sangat penasaran, apa saja yang orang-orang di luar sana ceritakan tentang diriku. Pemakan bangkai mayat, pemakan manusia.., mereka memang hebat menambahkan bumbu-bumbu cerita yang berlebihan."

"Hanya kau yang bisa melakukan itu." Wu ShiXun berujar singkat.

LuHan tertawa, menampilkan gigi-gigi kecilnya yang rapi. Sekilas, dia tampak seperti seorang anak kecil yang begitu periang.

"Suatu kehormatan, kau begitu memujiku." LuHan menghentikan tawanya, "tapi kali ini memang bukan aku, Gongzi. Untuk apa aku melakukan itu? Agar tempatku ini dikepung oleh ribuan kultivator?"

Wu ShiXun hanya menatapnya, menunggu penjelasan LuHan lebih lanjut.

"Menurutmu, siapa yang bisa mengendalikan iblis-iblis air selain diriku? Seseorang yang begitu kuat, memiliki kuasa tertinggi di dunia kultivasi, memilki mutiara hitam yang mampu mengendalikan monster dan iblis-iblis kecil." LuHan kembali berenang, hanya untuk berpindah posisi ke sisi kanan Wu ShiXun. "Dia bahkan berusaha mengendalikanku. Tapi, sayang, aku bukan iblis kecil bodoh yang mudah dikendalikan olehnya. Menurutmu siapa, Gongzi?"

"Jin ZhongRen?"

"Siapa lagi memangnya?" LuHan mendengus, sepasang iris matanya berkilat cahaya kebencian yang kuat. "Seseorang yang gila kekuasaan pantas mati dengan cara yang paling menyedihkan."

"Aku heran, kenapa orang itu masih bisa berkuasa hingga saat ini. Tidakkah kalian, para kultivator, mau bersatu untuk menggulingkannya?"

"Kau sepertinya mengetahui banyak tentang masalah di luaran sana." Wu ShiXun menanggapi. Memang bukan rahasia umum lagi kalau sekte Jin memiliki pemimpin dengan otoritas tinggi dan begitu diktator. Jin ZhongRen atau biasa dikenal sebagai Kai Zhongzu begitu berlawanan dengan kakaknya, Jin JunMian yang bersahaja dan berwibawa. Dia begitu arogan dan senang menindas sekte lain. Apalagi dengan mutiara hitam di tangannya; sebuah benda sihir yang dipercaya memilki kekuatan begitu hebat yang mampu mengendalikan iblis-iblis air dan monster di sekitarnya. Sekte lain jelas menentangnya, namun sekte Jin seperti matahari di atas langit. Begitu sulit dijatuhkan.

Dia tidak mengira jika Xiao Lu atau LuHan ini mengetahui masalah para kultivator. Karena, banyak yang mengatakan jika Xiao Lu hanya menyembunyikan diri di dasar Danau Hitam, menunggu seseorang datang ke wilayahnya, kemudian memangsanya.

"Wu-Er Gongzi, ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang di luar sana, kau begitu rupawan."

Obsidian sekelam malam milik Wu ShiXun bertubrukan dengan sepasang mutiara biru samudera milik LuHan. Untuk beberapa saat, mereka bertatapan dalam diam dengan pikiran masing-masing. Sampai pada akhirnya, Wu ShiXun yang memutuskan kontak lebih dulu. Dia mengalihkan pandangannya, kembali memandang lurus ke depan.

Kabut Tanpa Jejak sudah menipis, sekarang Wu ShiXun bisa melihat dengan jelas keadaan di sekitarnya. Dia berada di tengah-tengah danau. Tidak ada tanda-tanda kehadian rekan-rekannya yang lain. Entah mereka sudah berada di daratan, atau di mana, yang jelas Wu ShiXun percaya mereka semua selamat dan baik-baik saja.

"Wu-Er Gongzi, kau tenang saja. Aku akan mengusir iblis-iblis bodoh itu dari kota Yue."

"Kau menginginkan sesuatu?" bukan hal yang aneh lagi jika iblis akan meminta imbalan atas apa yang dia lakukan. Dan, Wu ShiXun, sekali lagi, bukan tipe seseorang yang akan berkomplot dengan makhluk seperti Xiao Lu ini.

LuHan tertawa kecil, "Kau memahami sifat iblis dengan benar, ya." Dia kemudian melanjutkan, "Permintaanku begitu sederhana."

Dia terdiam untuk beberapa saat, kemudian berkata, "Aku ingin dirimu."

Wu ShiXun menoleh ke arah LuHan, masih tanpa emosi dan ekspresi. Dia hanya menoleh sesaat, sebelum kemudian kembali meluruskan pandangannya ke depan.

Merasa tidak mendapat respons apapun, LuHan kembali berenang, berpindah posisi ke sisi kiri Wu ShiXun. Ekornya mengepak di permukaan air, membuat beberapa percikan air mengenai wajah Wu ShiXun.

"Wu-Er Gongzi, kau ingin mendengar ceritaku?"

Wu ShiXun menghela napasnya. Dia tidak menyangka Xiao Lu akan banyak berbicara seperti ini. Di kehidupannya, tidak pernah ada orang yang sangat lancang kepadanya, hanya berbicara seperlunya. Tidak pernah ada yang mengusiknya seperti yang Xiao Lu lakukan kepadanya. Makhluk itu begitu terang-terangan mendekatinya. Wu ShiXun tahu, dia sedang terjebak saat ini. Tidak bisa mengendalikan perahunya, karena Xiao Lu membatasi energi spiritualnya. Entah apa yang sebenarnya diinginkan entitas itu.

"Kau pernah mendengar tentang Siren?"

Wu ShiXun tidak asing dengan istilah yang diucapkan LuHan. Dia menghabiskan separuh waktunya di paviliun perpustakaannya. Membaca buku-buku kuno peninggalan leluhur-leluhurnya. Ada salah satu buku yang menceritakan tentang makhluk laut bernama Siren. Dikatakan bahwa dia memiliki tubuh setengah manusia dan setengah ikan. Makhluk itu kerap menggoda para nelayan dan para pelaut lewat nyanyiannya yang begitu indah dan memabukan, sebelum kemudian membawa mereka ke dasar laut untuk dimangsanya. Siren digambarkan sebagai sosok yang begitu menawan dan cantik, namun ketika sudah mendapatkan mangsanya, dia akan berubah menjadi sosok yang mengerikan.

Apakah itu...

Wu ShiXun menatap LuHan, "Bagaimana bisa kau sampai di sini?"

Xiao Lu bukanlah makhluk asli dari Danau Hitam. Jelas habitatnya bukan di sini. Namun, dia pasti sudah mendiami Danau Hitam sejak lama.

LuHan menganggap pertanyaan Wu ShiXun sebagai ketertarikan pria itu atas ceritanya. Ekspresi senang tercetak jelas di wajahnya yang putih. Dia bahkan menggerak-gerakan ekor peraknya yang cantik.

"Dahulu, ada satu siren yang mendiami lautan utara. Hidup dengan tenang bersama rekan-rekannya tanpa terusik makhluk manapun. Mereka berenang dengan bebas ke sana – ke mari, mengarungi lautan lepas dengan gembira. Sebelum pada akhirnya ... ada ancaman besar yang menimpa mereka,"

Wu ShiXun menyimak dalam diam. Embusan angin malam menerpa rambut panjangnya, membuat helaiannya bergerak-gerak lembut. Di bawah sinar rembulan, dua sosok itu terlihat begitu menawan. Satunya berada di atas perahu dengan jubah peraknya yang elegan, sosok satunya lagi berada di tepi perahu dengan ekor cantiknya yang bergerak-gerak lambat, membuat riak air bergemercik kecil.

"Para perompak datang mengusik kediaman mereka, menangkap satu per satu dengan kejam, sampai mereka berpisah dengan rekan-rekannya," LuHan menjeda ceritanya sesaat, matanya sepertinya mengawang jauh, "Ada satu siren yang berhasil meloloskan diri, namun tubuhnya penuh luka. Dia mengarungi lautan, terbawa arus ombak dan badai. Dengan keadaan terluka dan lemah, dia terdampar di tepian sebuah pulau. Siapa sangka di sana dia bertemu dengan seorang pelaut yang menolong nyawanya?"

"Dia seorang kapten perompak yang terkenal bengis dan kejam, namun, tak disangka, dia menolong siren yang nyaris mati itu. Membawanya dan merawat luka-lukanya.., sosoknya begitu dingin, seperti sangat mustahil untuk dijangkau, rambut hitam panjangnya selalu terikat asal dengan sepasang matanya yang juga sama hitam dengan rambutnya."

Saat menceritakan bagian itu, LuHan memandang Wu ShiXun dengan tatapan sulit dijelaskan.

"Wu-Er Gongzi, apa kau percaya jika seseorang yang memiliki hati yang sangat dingin bisa mencair karena cinta?"

Wu ShiXun hanya terdiam.

"Siren itu jatuh cinta pada seorang kapten perompak yang menolongnya. Ada banyak orang yang mengincar siren itu, karena dipercaya airmatanya bisa memberikan sebuah kekuatan dan keabadian. Namun, kapten itu selalu melindunginya. Menyembunyikannya di kapalnya. Hingga orang-orang, bahkan awak kapalnya sendiri tidak akan bisa melihat sosok siren itu."

"Siren itu juga terus mengikutinya. Mengarungi samudera bersama, mendarat dari pulau satu ke pulau lainnya, bahkan hingga ke kota. Kapten itu mengajarinya berjalan, berbicara, dan makan dengan benar. Mereka menghabiskan banyak waktu bersama. Hingga keduanya menyadari kalau perasaan yang aneh telah tumbuh di antara keduanya. Kapten itu belum pernah jatuh cinta seumur hidupnya, dia hanya mencintai lautan. Namun, kini ada seseorang yang mengisi hatinya selain lautan."

"Lalu?" Wu ShiXun akhirnya merespons.

LuHan mengulas senyum kecilnya, tersirat kesedihan yang mendalam di rautnya. "Banyak yang bilang, tidak seharusnya manusia jatuh cinta pada makhluk seperti siren, karena kisah cinta mereka tidak akan berakhir bahagia."

"Namun, ternyata manusia-manusia itu sendiri yang mengacaukan kisah cinta keduanya. Keberadaan siren itu diketahui banyak orang, dia terancam. Kapten itu dipaksa untuk menyerahkan siren itu. Sekali lagi, kapten itu melindunginya. Dia membawanya ke sebuah danau kecil di tengah hutan. Menyembunyikannya di sana, dan berpesan, 'jangan pernah muncul selain mendengar nyanyianku.' Siren itu menuruti."

LuHan menambahkan, "Kapten itu selalu berjanji akan menemuinya saat fajar, menyanyikan lagu untuknya atau sekadar memberikannya sebuah kue yang manis. Seperti itu saja sudah cukup. Siren itu begitu bahagia. Setelah urusannya selesai, Sang Kapten berjanji akan membawanya ke sebuah pulau yang jauh dari jangkauan orang-orang agar mereka bisa hidup bersama di sana."

"Wu-Er Gongzi, coba tebak, apa Sang Kapten akan memenuhi janjinya?"

Wu ShiXun berpikir sesaat. Melihatnya seperti itu, alunan tawa kecil LuHan kembali terdengar.

"Siren itu menunggu hingga fajar tiba. Namun, tidak terdengar lagu yang dinyanyikan Sang Kapten dimana pun. Dia tetap menunggu, dari fajar hingga senja, hingga malam ... keesokan harinya pun seperti itu, dia tetap menunggu Sang Kapten datang untuk menyanyikannya sebuah lagu, atau menjemputnya pergi dari danau itu. Fajar telah berganti menjadi senja, hari-hari ikut berganti dengan cepat, namun Sang Kapten tidak pernah muncul lagi."

Raut wajah LuHan berganti menjadi pahit. "Siren itu akhirnya muncul di permukaan danau, dia melihat seseorang berdiri di ujung danau. Dia mengira itu adalah Sang Kapten. Dengan bahagia, dia berenang menghampirinya. Namun, harapannya pupus begitu saja. Beberapa orang tiba-tiba muncul menangkapnya. Dia berteriak, berusaha melepaskan diri, meminta tolong dengan putus asa, namun tidak ada yang memedulikannya. Biasanya, ada Sang Kapten yang akan melindunginya, tapi sosok itu tidak tampak dimana pun."

"Siren itu diikat di tengah-tengah sebuah tanah lapang, di bawah matahari. Orang-orang itu percaya cara terbaik untuk membuat siren menangis adalah menjemurnya di bawah sinar matahari selama 14 hari. Dengan begitu, mereka akan mendapatkan airmata-nya yang akan memberikan keabadian."

"Lalu, apa yang terjadi?" tanya Wu ShiXun.

"Pada hari kelima, di saat harapannya telah putus, dan dia hanya pasrah akan bagaimana nasibnya selanjutnya, Sang Kapten datang ... dengan setelan pernikahan ..."

LuHan melanjutkan dengan senyum pahit, "Saat itu, siren itu tahu bahwa Sang Kapten akan melangsungkan pernikahannya dengan perempuan lain di hari itu. Seorang gadis bangsawan, anak dari jenderal terkemuka di negeri itu. Siren itu sangat hancur, dia merasa kepercayaannya begitu dimainkan. Di saat yang sama, dia bingung, mengapa Sang Kapten masih datang untuk menyelamatkannya? Kabur dari acara pernikahannya sendiri? Dia bahkan berjuang keras melawan orang-orang itu sendirian. Walau dia sangat kuat, namun orang-orang itu berjumlah banyak dan bersenjata. Siren itu hanya bisa menyaksikan bagaimana Sang Kapten yang sangat dia cintai dipukul, ditendang, bahkan dicambuk berulang kali hingga jas pernikahan serta kulitnya ikut robek ..."

"Kemenangan tidak berpihak kepadanya. Sang Kapten tumbang, jatuh di atas tanah yang basah ... bersimbah darah sekujur tubuh, sosoknya yang senantiasa tegas dan ditakuti kini tersungkur di tanah dengan menyedihkan.."

LuHan menjeda sesaat ceritanya, tampak begitu berat untuk melanjutkan.

"Untuk pertama kali dalam hidupnya, siren itu menangis. Airmatanya akhirnya keluar. Orang-orang berlomba-lomba untuk mengambil airmatanya, tanpa memedulikan penderitaan serta kesedihannya. Siren itu murka, entah mendapat kekuatan darimana, dia berhasil melepaskan dirinya dari rantai-rantai yang mengikat tubuhnya. Dia berteriak, mengutuk semua orang dengan amarah dan penuh kebencian. Hujan membasahi tanah itu, namun, airnya berwarna merah pekat... itu hujan darah. Orang-orang berlari ketakutan, menyelamatkan diri masing-masing dari fenomena aneh itu."

"Di tanah lapang yang basah itu, akhirnya hanya tersisa dirinya dengan Sang Kapten. Dia akhirnya bisa menghampiri Sang Kapten, memeluk tubuhnya yang bersimbah darah dengan tangisan. Bisikan terakhir yang terdengar dari bibir Sang Kapten hanyalah, 'Maaf, aku datang terlambat.' Setelah itu tidak ada lagi embusan napas yang tedengar ...,"

"Siren itu benar-benar hancur. Di saat yang sama dia juga tahu, bahwa Sang Kapten terpaksa menikahi anak jenderal itu untuk melindungi dirinya. Sang Jenderal sudah lama mengincar siren itu, namun selalu dihalangi Sang Kapten. Keduanya akhirnya membuat perjanjian bahwa Sang Jenderal tidak akan mengusik siren itu jika Sang Kapten mau menikahi puteri sulungnya. Namun, Sang Jenderal ternyata berkhianat. Diam-diam dia menyuruh prajurit-prajuritnya untuk menangkap siren itu ketika acara pernikahan Sang Kapten berlangsung."

"Siren itu semakin dirundung penyesalan. Dengan putus asa, dia membawa Sang Kapten ke dermaga. Menaiki sebuah perahu, dan meminta bantuan ke sana – ke sini untuk menyelamatkan kapten-nya. Namun, itu hal yang mustahil, karena Sang Kapten sudah tiada. Siren itu mendadak teringat seseorang yang sangat kuat, dia tinggal di sebuah pulau kecil dan tersembunyi, memiliki kekuatan spiritual yang tinggi dan mampu menyembuhkan segala penyakit. Setitik harapan tak dilewatkan, dia kembali mengarungi lautan dengan perahu kecilnya, membawa jasad Sang Kapten untuk dibawa ke tetua itu."

Wu ShiXun masih menyimak, memperhatikan setiap detail cerita LuHan juga ekspresi-nya yang terus berubah. Kadang cerah, kadang sedih, kadang marah, tapi ekspresi sedih yang mendominasi. Dia begitu ekspresif.

"Ketika sampai di sana, siren itu mengungkapkan tujuannya. Tetua itu ragu untuk membantunya, karena jiwa Sang Kapten sudah hancur, tidak bisa disatukan lagi. Siren itu terus memohon, apapun akan dia lakukan agar Sang Kapten kembali hidup. Akhirnya, tetua itu menyanggupi. Dia meminta siren itu mencabut jantungnya sendiri untuk diberikan pada Sang Kapten. Hasilnya hanya 50:50, bisa gagal, bisa berhasil. Kalaupun berhasil, Sang Kapten tidak langsung hidup. Dia akan menyusut menjadi seorang bayi, dan memulai kehidupan barunya, serta melupakan segala kehidupan sebelumnya. Itu artinya, dia juga akan melupakan siren itu."

"Lalu, siren itu menyetujui?" tanya Wu ShiXun.

LuHan tersenyum dan mengangguk, "Tentu saja. Kapten itu telah menyelamatkan nyawanya berulang kali. Dia juga satu-satunya orang yang begitu dicintai oleh siren itu. Tanpa berpikir panjang, siren itu mencabut jantungnya sendiri. Tetua itu memberikannya sebuah penawar agar dia bisa hidup tanpa jantung, namun hanya dalam waktu tujuh hari. Dia mempercayakan Sang Kapten pada tetua itu. Siren itu kembali ke lautan, membiarkan dirinya terbawa arus ombak tanpa tujuan. Saat fajar, dia akan menyenandungkan sebuah lagu yang pernah dinyanyikan Sang Kapten untuknya. Terus bernyanyi dengan nada yang paling menyayat, hingga senja datang, berganti menjadi kelamnya malam. Terus seperti itu, hingga kematian menjemputnya."

"Namun, ternyata takdir berkata lain. Entah bagaimana caranya, siren itu kembali hidup. Entah sudah beberapa tahun semenjak kejadian pahit itu, dia tidak tahu pasti. Dia menjelajahi samudera, berenang seorang diri, berharap menemukan Sang Kapten-nya di lautan lepas. Sampai akhirnya, dia tiba di suatu tempat yang dipenuhi oleh iblis-iblis air dan makhluk mengerikan lainnya. Dia terlahir kembali dengan kebencian dan kesedihan, mudah baginya mengenyahkan makhluk-makhluk itu, dan pada akhirnya dia menjadi sesosok iblis yang ditakuti makhluk lainnya. Dia tidak pernah menyukai manusia, kecuali Sang Kapten."

Wu ShiXun menatapnya, "Siren itu ..., kau, 'kan?"

LuHan tidak menjawab, dia memilih berenang dengan riang, mengitari perahu kecil milik Wu ShiXun dengan ekor peraknya yang bergerak-gerak di permukaan air danau yang biru.

"Maka dari itu, ada yang mengatakan untuk mengambil airmatamu harus mencabut jantung kekasihmu lebih dulu." Wu ShiXun pernah mendengar murid dari sekte lain membicarakan hal ini.

LuHan kembali tertawa, "Memangnya mereka tahu siapa kekasihku? Kalaupun tahu, aku yakin mereka tidak akan bisa dengan mudah mencabut jantungnya. Bahkan, mendekatinya saja tidak akan bisa."

"Wu-Er Gongzi, kau tidak takut kepadaku? Aku bisa saja menarikmu ke dasar danau dan memangsamu," LuHan mengerlingkan matanya pada Wu ShiXun.

Wu ShiXun tidak menjawab, melainkan melayangkan pertanyaan lain, "Kapten itu, kau sudah menemukannya?"

LuHan tiba-tiba meloncat ke atas perahu milik Wu ShiXun. Perahu itu cukup bisa menampung 3-4 orang dewasa, cukup kokoh, namun karena pergerakan tiba-tiba LuHan perahu itu bergoyang, nyaris oleng. Wu ShiXun menggunakan energi spiritualnya untuk mengendalikannya, membuat perahunya kembali tenang.

Saat ini mereka berdua duduk berhadapan, dengan LuHan dan ekor peraknya yang cantik bergerak-gerak kecil. Wu ShiXun menyadari bahwa ekornya itu senada dengan warna jubah yang ia kenakan. Sama-sama berkerlapan di bawah sinar bulan.

"Wu-Er Gongzi, menurutmu, apa aku sudah menemukannya?" LuHan memiliki rambut almond yang panjang, menutupi sebagian tubuh bagian depannya yang terbuka bebas. Walau dia seorang lelaki, tubuhnya begitu ramping dengan otot-otot yang tidak terlalu menonjol. Tidak akan ada yang menyangka jika entitas yang terlihat rapuh itu adalah iblis penguasa Danau Hitam ini.

Wu ShiXun mengalihkan pandangannya untuk alasan yang tidak dia ketahui. "Tidak tahu."

Suara tawa Luhan kembali terdengar di gendang telinganya; begitu renyah dan manis. Ekornya bergerak-gerak kecil, kemudian perlahan berubah menjadi sepasang kaki telanjang yang jenjang dan seputih pualam.

Dengan refleks yang cepat, Wu ShiXun melepas jubahnya sendiri dan melemparkannya ke arah LuHan, "Xiao Lu—"

Tawa Luhan semakin menggema, "Hahahaha ... ya ampun, Wu-Er Gongzi, kenapa kau begitu panik? Aku hanya tidak nyaman duduk dengan ekorku, memangnya salah mengubahnya menjadi sepasang kaki?" pertanyaannya diucapkan dengan wajah tak bersalah.

Satu-satunya permasalahannya adalah seluruh kulitnya terbuka bebas; telanjang, dan Wu ShiXun yang memang dididik penuh tata krama dan kesopanan itu tidak bisa melihat hal itu begitu saja.

LuHan memakai jubah perak milik Wu ShiXun itu untuk menutupi tubuh telanjangnya. Namun, itu hanya selembar jubah, tidak ada tali atau pengait untuk menutup rapat tubuhnya. Dia hanya asal memakainya, menutupi bagian bawahnya, sementara bagian atasnya masih terbuka. Jubah itu sangat besar di tubuhnya, beberapa kali merosot dari bahunya. LuHan jengkel, akhirnya membiarkan bahunya terekspos begitu saja.

Dia tampak begitu senang dengan jubah itu. Senyum kecil terpatri di bibir merah mudanya. Dia bergumam kecil seraya mencium kain di lengannya, "Wu-Er Gongzi, baumu sangat enak!"

Wu ShiXun hanya berdehem.

LuHan tiba-tiba merangkak, mendekati Wu ShiXun. Wu ShiXun mengeratkan genggamannya pada Yinxue, bersiaga.

"Xiao Lu—"

Namun, yang dilakukan LuHan hanya menyentuh dadanya. Tepat di mana jantungnya berada. Tangan putih itu berdiam di sana cukup lama, seperti tengah merasakan detak jantungnya.

LuHan mendongak, memandangnya dengan kepingan ruby biru-nya yang seindah air di samudera. Wu ShiXun balas memandangnya. Tidak ada kerlingan nakal atau sirat kejahilan di tatapan LuHan seperti sebelum-sebelumnya, yang ada hanya sebuah tatapan kerinduan yang dalam.

"Wu ShiXun, apa kau hidup dengan baik selama ini?"

Dia tidak tahu untuk alasan apa LuHan menanyakan hal itu padanya, namun bibirnya tetap menjawab, "Ya."

Tangan LuHan perlahan naik, jari-jemari rampingnya menyentuh belahan bibir merah muda pucat milik Wu ShiXun. Terasa begitu dingin dan lembut di jemarinya. Wu ShiXun hanya menatapnya, masih dengan ekspresi sedingin bongkahan es. Namun, jika kau melihatnya dengan saksama, ada sedikit anomali pada ekspresinya. Hanya sedikit, nyaris tak terlihat.

"Kudengar orang-orang dari Sekte Yinshan Wu memiliki pengendalian diri yang bagus," LuHan berujar pelan, wajahnya begitu dekat dengan Wu ShiXun, hingga dia bisa merasakan deru napas hangat milik pria itu. "Terutama Wu-Er Gongzi, kau sangat menghindari hal-hal yang bersifat keduniawi-an. Bukankah aku benar, Gongzi?"

Wu ShiXun masih setenang air, "Apa yang ingin kau lakukan?"

"Mari bertaruh."

"Tidak."

LuHan berdecak kecil, "Ayolah, ShiXun-Gege?"

"Xiao Lu, apa yang sebenarnya kau inginkan?"

Kedua tangan LuHan melingkari leher Wu ShiXun tanpa malu-malu, wajah kekanakannya sedikit merengut, "Aku hanya ingin bertaruh dan menguji apakah Wu-Er Gongzi benar-benar sehebat itu dalam mengendalikan diri? Jika kau menang, aku akan mengusir seluruh iblis-iblis air di kota Yue tanpa imbalan sama sekali dan tidak akan membuat kekacauan lagi. Aku berjanji!"

Dia terlihat sangat meyakinkan.

"Lalu, jika kau yang menang?" Wu ShiXun tidak serius menanggapinya.

"Kau harus menuruti satu permintaanku."

"Apa itu?"

LuHan menjilat bibir bagian bawahnya selagi berpikir—atau mungkin, sok berpikir— "Bawa aku bersamamu."

Satu alis Wu ShiXun terangkat, heran, "Ke Yinshan?"

"Kemana pun, asal bersamamu."

Baik, itu permintaan yang begitu aneh. LuHan jelas makhluk penunggu Danau Hitam, dia menyembunyikan dirinya selama bertahun-tahun di dasar danau. Mengapa tiba-tiba ingin ikut bersamanya? Wu ShiXun adalah seorang kultivator, apalagi dia tinggal di Yinshan Wu, sekte paling ketat dan bersih. Aneh rasanya jika ada makhluk yang seperti LuHan ingin ikut serta bersamanya.

"Oke, aku anggap kau setuju." LuHan memutuskan sendiri, bahkan sebelum Wu ShiXun sempat menjawabnya.

Satu tangannya bergerak, meraih sisi kanan wajah milik Wu ShiXun, sementara tangan yang lain masih melingkari leher pria itu. Dengan lembut, LuHan menarik wajah rupawan itu, kemudian menempelkan bibirnya ke bibir Wu ShiXun.

Wu ShiXun tampak terkejut. Matanya menatap tajam ke arah LuHan, namun tubuhnya tetap diam dan kaku seperti bongkahan batu. Dia adalah seseorang yang terhormat, belum pernah ada yang berbuat se-sembrono ini kepadanya. Dia juga seseorang yang belum pernah melakukan hal-hal seperti ini, maka dari itu dia hanya bisa terdiam seperti patung batu.

Sebuah senyum nakal tersungging tipis di wajah LuHan, dia semakin berani; menjilat bibir bawah milik Wu ShiXun dan menggigitnya kecil. Dia melumatnya layaknya sebuah permen yang manis. Bibirnya lembut dan dingin, LuHan tidak bisa berhenti untuk menjilatnya.

Setelah beberapa saat, LuHan menjauhkan bibirnya. Wajahnya masih berdekatan dengan Wu ShiXun, bahkan bulu mata keduanya bersentuhan.

"Wu-Er Gongzi, apa ini ciuman pertamamu?"

"..." Wu ShiXun masih terdiam.

LuHan beralih mengecup pelipisnya, kemudian turun ke hidungnya, dan berakhir di sudut bibir milik Wu ShiXun. Dengan jarak sedekat ini, dia bisa mencium aroma tubuh Wu ShiXun yang memabukan; perpaduan antara tetesan embun pagi yang manis dan musky yang hangat. Benar-benar sangat candu dan memabukan.

"Wu-Er Gongzi, Bukankah kau seharusnya merespons-ku?" LuHan memprotes. "Bahkan kau tidak ber-reaksi sama sekali. Benar-benar seperti papan peraturan berjalan."

"Xiao Lu, kau sungguh—"

Belum sempat, Wu ShiXun meneruskan ucapannya, LuHan duduk di atas pangkuannya.

"Tidak, tidak. Tidak perlu menyerangku dengan Yinxue." LuHan menahan tangan Wu ShiXun yang hendak menghunuskan Yinxue dari selongsongnya. Tangannya ikut menggenggam pangkal Yinxue. Dia bisa merasakan kulit Wu ShiXun dan pangkal Yinxue yang sama dinginnya.

Seakan kecanduan dengan aroma tubuh Wu ShiXun, LuHan menunduk, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Wu ShiXun. Dia mendaratkan ciuman kupu-kupu di sana. Perlahan, ciumannya turun menuju dada bidang milik Wu ShiXun yang masih dilapisi hanfu hitam. Dia bisa mendengar jelas suara detak jantung milik pria itu yang terburu-buru.

Akhirnya, ada salah satu bagian dari tubuhnya yang bereaksi. LuHan tersenyum senang.

"Wu-Er Gongzi, kau pasti tau kalau siren adalah makhluk penggoda ulung, 'kan?" LuHan berbisik. Walau tidak tepat di telinga Wu ShiXun, tapi bisikan itu sungguh mengelitik gendang telinganya.

Kemudian, ciumannya semakin turun, beralih ke tangan Wu ShiXun yang masih setia menggenggam erat pangkal Yinxue. LuHan melepaskan tangan Wu ShiXun yang memegangi pedangnya, dia mengambil alih pedang menawan itu. Pangkalnya dibuat dengan perak berkualitas tinggi dengan ukiran dan pola yang memesona, bobotnya juga cukup berat; tidak semua orang bisa mengendalikan pedang ini. LuHan mencium pangkal pedang itu, bibir merahnya menyapu permukaannya dengan lembut. Seperti belum cukup sampai di sana, lidahnya ikut andil; menjilati pangkal Yinxue seolah-olah benda itu adalah permen yang lezat.

Ekspresi tenang Wu ShiXun mulai terusik.

"Kembalikan Yinxue." Wu ShiXun memerintah dengan nada penuh penekanan.

"Ingin menggantinya dengan sesuatu yang lain?"

LuHan memundurkan tubuhnya, turun dari pangkuan Wu ShiXun. Dia melepaskan Yinxue, sebagai gantinya dia melepaskan sabuk pinggang Sang Tuan Muda.

"Xiao Lu, jangan lancang!" Wu ShiXun memegang bahu telanjang LuHan, menahan pergerakan lelaki manis itu. Namun, entah apa yang dilakukan LuHan kepadanya selain membatasi kekuatan spiritualnya, saat ini dia juga merasa pergerakan tubuhnya terbatas. Seperti terikat oleh tali tak kasat mata.

"Wu-Er Gongzi, tenanglah,"

LuHan melucuti pakaian yang dikenakan Wu ShiXun, hanya bagian depannya. Dia kembali menciumi tubuh bagian Wu ShiXun, dimulai dari tulang selangkanya, dadanya, hingga turun ke perutnya yang kekar. Bagian sana memiliki otot-otot yang kencang dengan bentuk kotak-kotak yang mengagumkan, menandakan bahwa Wu ShiXun adalah seseorang yang memang sudah berlatih bela diri sejak muda.

Semakin turun, hingga dia menuju bagian yang berbahaya.

Napas lembutnya yang hangat melingkupi bagian itu, membuat Wu ShiXun semakin mencengkeram bahunya. Sekali lagi dia memperingati dengan kilatan mata tajam bersungguh-sungguh, "Jangan."

LuHan hanya melemparkan senyum manisnya, pura-pura tidak mendengarnya. Dia menyelipkan rambu almond-nya ke telinga. Kemudian menunduk, memasukan batang yang cukup besar itu ke dalam mulutnya secara perlahan dan lembut. Batang itu belum sepenuhnya keras dan tegak, namun sudah cukup membuat LuHan kesulitan untuk memasukannya sepenuhnya ke dalam mulutnya.

Dia bisa merasakan deru napas Wu ShiXun mulai tidak beraturan.

LuHan mulai menjilati daging tebal itu, menghisapnya, dan berusaha agar tidak menggoresnya dengan gigi-giginya. Kepalanya naik – turun, temponya perlahan, namun pasti. Dia bisa merasakan batang itu semakin lama semakin membesar dan panas, memenuhi setiap rongga mulutnya hingga pipinya menggembung.

LuHan jelas tidak bisa memasukan benda itu sepenuhnya ke mulutnya. Ujungnya yang keras menusuk-nusuk tenggorokannya. Dia hampir tersedak, sebelum menurunkan kembali temponya menjadi perlahan.

"Cukup,"

Mendengar suara Wu ShiXun yang semakin berat, LuHan yakin pria itu cukup tersiksa dengan situasi saat ini. Namun, dia tetap keras kepala, terus menahan diri. Membuat LuHan agak sebal. Pipinya bahkan sudah sakit, nyaris kebas. Namun, Wu ShiXun belum menunjukan tanda-tanda menuju puncaknya.

LuHan melepaskan batang itu dari mulutnya. Benang saliva terhubung dari sana, lalu terputus, membasahi dagu dan bibirnya yang kemerahan. Dia mendongak, menatap ke dalam mata Wu ShiXun yang gelap.

"Wu-Er Gongzi, kau sangat keras kepala. Jangan salahkan aku setelah ini." Entah kenapa, mendadak dia semakin merasa bersemangat.

LuHan memundurkan tubuhnya. Dia menyingkap jubah perak milik Wu ShiXun yang ia kenakan di tubuh rampingnya. Mengekspos seluruh kulitnya yang mulus dan seputih porselen. Dia duduk tepat di hadapan Wu ShiXun dengan kedua kaki yang melebar, memperlihatkan sesuatu yang tidak seharusnya dilihat Wu ShiXun, dan sebuah bunga krisan yang berwarna merah, yang masih tertutup begitu rapat di antara dua bongkahan yang tampak begitu padat dan sintal.

LuHan memasukan jari telunjuknya sendiri ke dalam mulutnya, menjilat dan menghisapnya dengan gerakan erotis. Kemudian, menambahkan jari tengah dan jari manisnya. Mengisapnya bergantian. Matanya terpejam selagi menjilati jemarinya sendiri. Setelah beberapa saat, dia mengeluarkanya, membuat saliva-nya sedikit membasahi sudut bibirnya.

LuHan kemudian memasukan jarinya itu ke dalam lubangnya sendiri. Awal-awal satu, dia menggerakannya maju-mundur. Kemudian, menambah jari yang lain. Sampai titik merah di antara pantat sintalnya mulai merileks dan terbiasa.

Ekspresi Wu ShiXun mulai berubah.

LuHan tampak fokus dengan dirinya sendiri, tidak memedulikan Wu ShiXun yang duduk di depannya seperti bongkahan batu.

Setelah beberapa saat, LuHan berhenti menggerakan jari-jemarinya dari lubangnya. Bagian itu kini terlihat lebih memerah dari sebelumnya, berkedut.

"Wu-Er Gongzi, boleh aku pinjam ini?" Tangan LuHankembali meraih Yinxue yang sejak tadi tergeletak begitu saja.

"Taruh Yinxue kembali." Suara Wu ShiXun berat, penuh penekanan dan perintah yang mutlak. Namun, LuHan hanya melemparkan senyuman nakal.

"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"

"Apa yang akan kau lakukan?"

LuHan memajukan wajahnya, berbisik di depan wajah Wu ShiXun, "Menurutmu apa?"

Setelah mengatakan hal itu, LuHan kembali pada posisi semula. Yinxue sudah di genggaman tangannya. Dia menarik napasnya sesaat, sebelum memasukan pangkal pedang itu ke dalam lubangnya, menggantikan jarinya.

"Mmh,"

Sebuah gumaman terdengar dari bibirnya, sementara tangannya masih berusaha memasukan pangkal pedang itu ke dalam bunga krisan-nya. Sensasi dingin dan nyeri mulai memenuhi tubuhnya. Lubang kemerahan itu tampak malu-malu mengisap pangkal pedang itu. Namun, dia masih berusaha memasukannya.

Pangkal pedang itu berhasil memenuhi lubangnya. LuHan mulai menggerakannya perlahan. Beberapa ukiran dan tonjolan yang ada di pangkal Yinxue menggesek dinding lubangnya, memberikan sensasi mengagumkan yang tak terduga. Kepala LuHan mendongak, menampilkan leher jenjangnya yang putih, dengan bibir merahnya yang terbuka. Ereksinya sudah berdiri tegak. LuHan mulai dipenuhi kabut gairah.

Wu ShiXun seperti hendak mengatakan sesuatu, namun bibirnya terus terkatup rapat. Hanya jakunnya yang mulai bergerak naik-turun. Pemandangan di depannya tampak begitu erotis dan menggoda, membuat tangannya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"..W-Wu-Er Gongzi.." LuHan meloloskan sebuah erangan. Suaranya serak, seperti memohon. Sementara tangannya terus bergerak mengeluar-masukkan pangkal pendek Yinxue ke dalam lubangnya.

LuHan memandang Wu ShiXun dengan mata sayunya, kedua pipi putihnya sudah dihiasi rona kemerahan, sama halnya dengan telinga dan lehernya. Pangkal pedang itu pendek, tidak bisa menyentuh titik ternikmatnya, membuatnya agak frustrasi. Namun, dia terus menggerakannya, menghentak tubuhnya sendiri.

"Wu-Er Gege..."

Tatapan Wu ShiXun menggelap. LuHan yang tersiksa di depannya membuat sesuatu di dalam dirinya membuncah. Lelaki manis itu setengah bertelanjang di hadapannya, dengan posisi setengah berbaring; kedua kaki mengangkang dan menggerakan pangkal pedang ke dalam lubangnya sendiri seraya terus memanggil-manggil namanya dengan memohon. Bagaimana Wu ShiXun bisa tahan dengan semua hal yang menyesatkan pikirannya ini?

LuHan terlalu... indah dan menyesatkan saat ini.

Wu ShiXun membuang akal sehatnya. Dengan segera, dia meraih lutut LuHan. Mengambil alih Yinxue dan melemparnya ke sembarang arah.

LuHan yang tidak menduga dengan pergerakan itu hendak protes, karena kesenangannya tiba-tiba dirampas begitu saja oleh Wu ShiXun. Bibirnya yang akan mengeluarkan protesan tiba-tiba terbungkam begitu melihat ekspresi Wu ShiXun yang menakutkan; ada sebuah kobaran yang mengerikan di obsidian tajamnya.

"Tidak tahu malu!" Wu ShiXun menggeram, sebelum pada akhirnya menunduk, menindih LuHan dan mencium bibirnya dengan ganas.

LuHan yang belum siap agak kewalahan. Dia berusaha menahan dada Wu ShiXun dengan tangannya, namun pria itu sudah lebih dulu menahan kedua tangannya di atas kepalanya hanya dengan satu tangan. Tenaga Wu ShiXun kuat bukan main, LuHan benar-benar tidak bisa bergerak sama sekali. Dia hanya bisa berusaha mengimbangi ciuman Wu ShiXun, namun hasilnya sia-sia. Pria itu terlalu mendominasi; setiap rongga di mulutnya tersapu oleh lidah hangatnya. Bibirnya dilumat habis-habisan, tak jarang Wu ShiXun mendaratkan sebuah gigitan yang membuat LuHan mengerang. Dia bahkan bisa merasakan ada sedikit rasa amis. Apa bibirnya berdarah? LuHan tidak bisa berbuat apa-apa, Wu ShiXun terlalu kejam dalam menginvasi bibirnya.

Bagian bawah mereka bersentuhan, ereksi Wu ShiXun yang begitu keras menggesek perut dan kejantanan LuHan, menimbulkan sensasi mengagumkan yang tidak terlukiskan. LuHan merasakan ada ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya, menggelitiknya, membuatnya kembali mengerang dalam ciumannya.

"ShiXun..."

Sebuah desahan lolos dari bibir LuHan saat lidah Wu ShiXun turun ke dagunya, kemudian ke kulit lehernya. Lidah hangat itu bergerak menggoda, menggelitiknya hingga membuat kulitnya merinding. Kemudian, sebuah hisapan dan gigitan dirasakan oleh LuHan. Sementara satu tangan Wu ShiXun bergerak di bawah sana, mengelus paha dalamnya dengan lembut.

LuHan benar-benar mabuk dengan semua sentuhan yang diberikan oleh Wu ShiXun. Seluruh tubuhnya terasa panas, dia ingin lebih. Dia ingin Wu ShiXun berada di dalamnya.

Gerakan tangan Wu ShiXun yang semula begitu lembut mengelus paha dalamnya berubah menjadi sebuah remasan pada salah satu bongkahan padat nan sintal milik LuHan. Remasan yang cukup kuat, dan cukup membuat LuHan terperanjat.

"Ah! ShiXun!"

Salah satu hal yang membuat LuHan tidak suka adalah saat pantatnya disentuh. Dia merasa begitu malu sampai ke ubun-ubun. Dia adalah tipe seseorang yang senang disentuh di bagian manapun, namun tidak dengan bokongnya. Alhasil, LuHan memberontak kencang dalam kungkungan Wu ShiXun. Dia mendorong kuat dada pria itu, kemudian segera melompat dari perahu, masuk ke dalam air dengan kecepatan cahaya.

Wu ShiXun tertegun di posisinya. Tidak percaya dengan LuHan yang mendadak kabur seperti itu; meninggalkan dirinya yang masih dalam ereksi hebat.

"Wu-Er Gongzi, kau sangat tidak sopan!" kepala LuHan muncul dari permukaan air, kedua pipinya yang merona hebat menghiasi wajah putihnya yang basah. "Aku tidak mau melanjutkannya lagi!"

Wu ShiXun memandangnya dengan tatapan menggelap, "Xiao Lu, jangan sampai aku menangkapmu ke sini."

LuHan menelan ludahnya dengan gugup mendengar nada dingin yang penuh ancaman itu. Dia berujar dengan mata menyipit tajam, "Berjanjilah kau tidak akan macam-macam dengan pantatku!"

"Mn."

"Wu-Er Gongzi, kau sudah berjanji. Pegang kata-katamu."

LuHan berenang, mendekatkan dirinya ke sisi perahu. Kembali mendekati Wu ShiXun. Pria yang selalu terlihat berpenampilan sempurna itu kini sudah berantakan, rambut hitamnya terlihat sedikit basah karena keringat. Dada bidangnya yang terekspos bergerak naik-turun dengan deru napas yang berat. Untuk beberapa alasan, Wu ShiXun membuat LuHan merasa terhipnotis dengan pesonanya.

"Wu-Er Gongzi, cium aku." LuHan mendongak, mengucapkan sebuah permintaan tidak tahu malu.

Wu ShiXun yang sudah digoda sejak awal dengan ereksinya yang masih begitu keras menuruti permintaan itu. Dia menunduk, meraih pipi kanan LuHan dan menyatukan bibir mereka. Kedua tangan LuHan segera mengalungi lehernya dan membalas ciuman tersebut.

Mereka terlarut dalam sebuah ciuman yang panas dan basah. Bibir LuHan begitu lembut dan kenyal, setiap kali lidah Wu ShiXun menyapu bagian sana ada rasa manis yang mengaliri seluruh rongga indera perasanya. Seperti ada nikotin di dalamnya; rasanya begitu adikitif. Wu ShiXun ingin terus mengecapnya lagi dan lagi. Dia merasa selalu haus, ingin merasakannya lebih lama dan dalam. Maka dari itu, giginya ikut andil. Dia menggigit bibir bawah milik LuHan, membuat lelaki manis itu mengerang.

Wu ShiXun membuka matanya, memandangi wajah LuHan di sela-sela ciuman mereka. Mata LuHan terpejam, tampak begitu menikmati. Bulu matanya yang panjang semakin menambah pesonanya. Tangan Wu ShiXun bergerak, menyentuh pipi putih itu. Ibu jarinya mengelus kulit halus itu dengan begitu lembut dan hati-hati; seperti tengah menyentuh sebuah benda langka yang amat mahal, jika tergores dikit akan lecet.

LuHan... makhluk ini... sangat cantik.

Cantik dan menawan sekali.

Wu ShiXun begitu terpesona sampai dia enggan berkedip. Ingin memandang wajah itu selamanya, menyimpannya seorang diri, hingga orang lain tidak akan pernah bisa menatap LuHan walau hanya sedetik.

Bulu mata LuHan bergetar, kedua kelopak matanya terbuka, menampilkan sepasang iris berwarna samudera yang begitu memukau. Dia membalas tatapan Wu ShiXun. Mereka bertatapan untuk beberapa saat dengan pikiran masing-masing, sampai pada akhirnya, Wu ShiXun merasakan LuHan tersenyum dalam ciuman mereka.

Dan saat itulah, LuHan mengeratkan lingkaran lengannya pada leher Wu ShiXun dan menarik pria itu untuk masuk ke dalam air.

Tubuh keduanya menempel erat dengan LuHan yang masih setia memeluk leher Wu ShiXun dan pria itu yang memeluk pinggangnya. Ekor milik LuHan yang keperakan berubah menjadi warna hitam. Sisik-sisiknya berkilauan seperti hamparan mutiara hitam yang cantik. Ekor itu bergerak perlahan membuat riak air, sesekali menyentuh kaki Wu ShiXun.

Mereka berciuman di dalam air danau yang kebiruan. Sinar rembulan masih berhasil masuk ke dalam airnya yang begitu bening, menyinari tubuh keduanya yang enggan terlepas satu sama lain.

Tangan Wu ShiXun bergerak naik, menyentuh halusnya kulit punggung milik LuHan. Tangan itu bergerak naik-turun, terkadang menyentuh sisik-sisik hitam berkilauan LuHan yang licin dan dingin.

LuHan yang sejak tadi sudah disentuh oleh Wu ShiXun dan masih tertutupi kabut gairah, akhirnya kembali berenang dengan Wu ShiXun di pelukannya; membawa pria itu ke tepi danau.

Sesampainya di tepi danau, Wu ShiXun segera mendorong tubuh LuHan dan membaringkannya di atas tanah berumput yang agak basah. Jubah peraknya yang masih dikenakan oleh LuHan beralih fungsi menjadi alas lelaki menawan itu. Ekor hitamnya telah berubah menjadi sepasang kaki telanjang yang membutakan kesadaran Wu ShiXun.

"Wu Er-Gege, kau tidak sabaran juga ternyata," LuHan memandangnya dengan kilatan menggoda dengan tawa manisnya.

"Diamlah!"

"Bagaimana aku bisa diam jika aku mempunyai bibir untuk berbic—Akh! Er-Gege! Lebih lembut!" LuHan memekik saat Wu ShiXun memasukan batang tebalnya yang panas ke dalam lubangnya.

Batang itu cukup besar dengan urat-uratnya yang menonjol, LuHan yang belum siap akan serangan itu refleks berteriak kesakitan. Walau bagian bawahnya sudah dia manjakan sendiri tadi, dan saat ini juga sudah dalam keadaan yang basah, namun, tetap saja rasanya begitu menyakitkan saat sebuah benda sebesar itu menerobos masuk. Tubuhnya seperti ingin terbelah menjadi dua. LuHan mencengkeram jubah milik Wu ShiXun sebagai representasi atas rasa sakitnya.

"Apakah sakit?" Wu ShiXun bertanya dengan suara rendahnya yang lembut. Obsidian gelapnya memandang ke arah sepasang kepingan ruby milik LuHan yang mulai berair.

LuHan mengangguk, dia tampak menyedihkan. Wu ShiXun mengusap sudut matanya dengan ibu jarinya dengan lembut.

"...Maaf, aku tidak bisa menahannya."

"Tidak apa-apa. J-jangan menatapku seperti itu!" LuHan berujar saat menyadari Wu ShiXun memandangnya dengan tatapan bersalah. "Er-Gege, c-cium aku! Rasa sakitnya akan berkurang jika kau menciumku."

Wu ShiXun menunduk, memberikan sebuah ciuman yang lembut untuk LuHan. Kedua tangan LuHan kembali memeluk lehernya untuk memperdalam ciuman mereka.

"Aku akan masuk lebih dalam." Wu ShiXun berbisik, setelah itu pinggulnya mengentak maju, mendorong miliknya ke dalam lubang LuHan sepenuhnya. Dia segera membungkam bibir LuHan saat lelaki itu hendak berteriak. Dia kembali memberikan sebuah ciuman untuk membuat lelaki manis di bawahnya merileks.

LuHan merasa tubuhnya terisi penuh. Saat dia memasukan Yinxue tadi, rasanya begitu dingin dan menurutnya itu sudah cukup untuk memenuhi setiap dinding di dalam tubuhnya, namun kejantanan milik Wu ShiXun bukanlah sebuah perbandingan yang cocok. Dia merasa benda itu bisa sewaktu-waktu menembus jantungnya.

"ShiXun.. Wu ShiXun.." LuHan menyentuh sisi kanan wajah rupawan milik Wu ShiXun, rambut hitamnya sudah sepenuhnya basah. LuHan menatap paras memesona itu yang juga tengah memandangnya dengan tatapan penuh gairah. LuHan tertawa kecil, sebagai lelaki, dia juga tahu bagaimana rasanya menahan diri ketika tengah terangsang hebat. Wu ShiXun jelas sedang menahan diri agar tidak bergerak di bawah sana dan menyakiti LuHan lebih lanjut.

Perasaan LuHan menghangat. Dia mengecup sudut bibir Wu ShiXun. "Er-Gege, sampai kapan kau tidak mau bergerak?"

Wu ShiXun berujar dengan suara parau, "...Itu akan menyakitimu."

"Cobalah perlahan-lahan," bibir LuHan menarik pita rambut milik Wu ShiXun hingga terlepas, dia menggigit benda itu di antara bibirnya. "Lepaskan pengendalian dirimu. Habisi aku sesukamu."

Melihat serta mendengar nada penuh godaan itu, sebuah kilatan kemerahan terpancar dari mata tajam Wu ShiXun. Dia segera menarik pita hitam dari bibir LuHan dan segera menggantikannya dengan bibirnya. Dia melahap bibir LuHan dengan ganas, sementara bagian bawahnya mulai bergerak perlahan.

LuHan memejamkan matanya rapat-rapat ketika Wu ShiXun menghentak keluar – masuk dengan tempo yang perlahan-lahan berubah cepat. Napasnya terengah-engah, rasa sakit masih memenuhi tubuhnya, namun, untuk beberapa waktu dia merasakan ada sensasi yang lain saat Wu ShiXun menumbuknya dalam.

"Ah!" LuHan refleks melenguh saat ujung kejantanan Wu ShiXun menyentuh satu titik di dalam tubuhnya. Kepalanya mendongak dengan bibirnya yang terbuka; ribuan kupu-kupu menyerbu perutnya, menggelitiknya, bersamaan dengan sensasi nikmat memenuhi tubuhnya dari ujung kepala hingga kaki.

Wu ShiXun yang melihat itu tertegun sesaat, refleks menghentikan pergerakannya. Tubuh polos LuHan yang dihiasi bercak-bercak kemerahan melengkung indah dengan bibir merahnya yang terbuka, mengeluarkan desahan panjang yang membuat siapapun mendengarnya akan terhipnotis. Sesuatu yang panas semakin membakar gairah tubuhnya. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering.

"Er-Gege, di sana! Di sana!"

Mendengar itu, Wu ShiXun kembali menghentak masuk. Dia menunduk untuk menjilati leher LuHan yang terpampang bebas di depan matanya. Sementara bagian bawahnya terus bergerak dengan kecepatan yang menakutkan. Kulit telanjang mereka bersentuhan dengan jantung dan napas yang menderu-deru.

Tubuh LuHan terhentak-hentak, tiap kali Wu ShiXun menumbuknya ke titik yang paling dalam, dia akan mendongakkan kepalanya dengan desahan panjang yang membuat Wu ShiXun semakin ganas menggempurnya. Pria itu menahan pinggang ramping milik LuHan dengan kedua tangannya, sesekali tangan itu bergerak naik menuju dada LuHan. Mengelus dan menggosok bagian sana dengan lembut.

"Wu-Er Gege.. Gege, bukankah rasanya menakjubkan berada di dalamku?" LuHan bertanya dengan jari-jemarinya yang menyelusup ke dalam rambut Wu ShiXun, meremasnya.

Mendengar pertanyaan tidak tahu malu seperti itu, Wu ShiXun semakin meningkatkan tempo gerakannya. Bibirnya bergerak menuju dada LuHan, menggigit sebuah pucuk kemerahan yang sejak tadi menggoda pandangannya.

LuHan membiarkan erangan dan desahannya lolos begitu saja. Serangan-serangan ini begitu memabukan, membuatnya berada di dalam jurang kenikmatan yang mengagumkan. Di balik wajah dingin dan diamnya, Wu ShiXun ternyata memiliki stamina dan tenaga yang begitu menakutkan. LuHan merasa perutnya diaduk tiap kali Wu ShiXun bergerak keluar – masuk dengan cepat. Dia merasa batang itu semakin mengeras di dalam sana, menumbuk titik ternikmatnya tanpa ampun.

"Wu Er-Gege, lebih lembut, lebih lembut! Ah! Aku tidak bisa bernapas dengan benar." LuHan memang kewalahan dengan pergerakan Wu ShiXun, namun bibirnya tetap saja tidak bisa berhenti mengoceh, "Bukankah rasanya enak? Seharusnya kau datang ke sini sejak dulu, menangkapku. Kau bisa menghabisiku di atas perahumu, dengan kekuatanmu yang mengerikan ini, aku tidak akan memberontak. Aku akan dengan senang hati membukakan kedua kakiku untukmu."

Daun telinga Wu ShiXun memerah."Xiao Lu, kau—!"

"Atau kau bisa membawaku ke tepi danau seperti ini. Kita bisa bercinta di bawah sinar rembulan yang cantik sepanjang malam. Tenang saja, tidak akan ada yang mengganggu, semua makhluk di sini patuh kepadaku, jadi kau bisa bebas memperkosa—Ah! Er-Gege! Pelan-pelan, kau keterlaluan! Baiklah, baik, aku akan berhenti bicara. Sekarang ampuni aku, tolong lebih pelan, ya? Ah, Er-Gege! Aku tidak sanggup, tolong!"

Wu ShiXun sama sekali tidak memberikannya sebuah ampunan sedikitpun. Pria itu malah mengubah posisi mereka; dia mengangkat tubuh LuHan, melepaskan jubah yang dikenakannya, dan membalikkan tubuhnya menjadi menungging.

Kulit putih LuHan yang basah oleh keringat dan air danau tampak mengkilap di bawah sinar bulan. Belum lagi dua bongkahan yang padat dan sintal dengan lubangnya yang kemerahan dan basah itu semakin menyesatkan mata Wu ShiXun. Tangannya mendarat di sana, mengelusnya, kemudian meremasnya tanpa ragu-ragu hingga menimbulkan memar kemerahan. Wu ShiXun kemudian kembali memasukan miliknya ke dalam lubang milik LuHan. Tidak sesulit seperti di awal karena lubang itu sudah basah oleh cairan pre-cumnya, Wu ShiXun bisa dengan mudah masuk.

LuHan mengernyit, merasa serangan kenikmatan melanda dirinya, karena posisi ini membuat milik Wu ShiXun semakin terhujam dalam.

"Akh! Er-Gege, Er-Gege! Bisakah kau bergerak lebih lembut? Tidak bisakah kau mengasihani makhluk rapuh sepertiku?" LuHan mengerang, bertumpu pada lipatan lengannya ketika lagi-lagi Wu ShiXun menghujamnya tanpa belas kasih dan ampun.

"Tidak."

"Kenapa kau sangat keterlaluan? Ahh—ya, ya, di sana! Terus, Er-Gege, jangan berhenti. Aku sangat menyukai kau yang berada di dalamku."

LuHan merasa milik Wu ShiXun membesar di dalamnya. Dia melirik perutnya sendiri, melihat sebuah tonjolan di sana. LuHan mengerjapkan matanya beberapa kali, dan menyentuh tonjolan itu, merasa takjub. Namun, itu tidak berlangsung lama, karena Wu ShiXun kembali menusuknya dalam-dalam.

"Dalam seperti ini?"

LuHan merasakan kulitnya meremang kala Wu ShiXun berbisik tepat di telinganya. Suaranya yang rendah dan dalam menggelitik setiap inch kulitnya. Kemudian, dia merasakan lidah Wu ShiXun bermain-main di cupingnya, menggigit daun telinganya hingga memerah matang.

LuHan merasakan kedua lutut dan lengannya melemas. Dia sudah tidak sanggup, Wu ShiXun benar-benar ... keterlaluan. Dia menyentuh setiap titik ternikmatnya. Batangnya masih berada di dalam sana, menghujamnya ganas, lidahnya yang hangat bermain-main di antara telinga dan lehernya, lalu tangannya bergerilya menyentuh dan menggosok pucuk kemerahan di dada LuHan.

Wu ShiXun ternyata begitu pandai dalam hal seperti ini. Pada akhirnya, LuHan yang tidak berdaya dalam kungkungannya. Dia merasa lemas hingga ke tulang-tulang. Rasa nikmat ini benar-benar membuatnya melayang dan membuatnya mabuk. Kalau saja Wu ShiXun tidak menahan pinggangnya, mungkin dia sudah ambruk sejak tadi.

"Xiao Lu," Wu ShiXun kembali berbisik.

LuHan yang sudah tidak sanggup lagi berceloteh—bahkan bernapas pun terasa begitu sulit—hanya bergumam untuk menyahut, "Hmm?"

"Milikku."

LuHan menoleh ke sisi kanannya, bertemu pandang dengan wajah rupawan milik Wu ShiXun. Dia jelas mendengar apa yang dikatakan oleh Wu ShiXun, hanya saja, dia takut salah dengar dan sedang berilusi. "A-apa?"

"Milikku." Wu ShiXun kembali mengulangi perkatannya, dia mencium bibir LuHan dengan begitu lembut. Melumatnya dengan hati-hati, hingga LuHan kembali merasa mabuk dalam ciumannya yang lebih adiktif dari nikotin manapun. Saat ciuman itu terlepas, Wu ShiXun mengecup sudut bibirnya, "Kau milikku."

Jantung LuHan berlomba-lomba berdetak begitu kencang. Tatapan Wu ShiXun yang begitu menghipnotis, suara rendahnya yang dalam, sentuhannya, serta gerakannya ... LuHan tidak bisa menahannya lagi. Dia mencium bibir Wu ShiXun dengan ganas, dan dibalas oleh pria itu tidak kalah rakusnya. Mereka terlarut dalam ciuman yang menuntut dan panas.

Tidak lama kemudian, keduanya berejakulasi.

LuHan nyaris ambruk, namun Wu ShiXun dengan sigap menahan tubuhnya. Dia membalikkan tubuh LuHan, kemudian membawanya ke dalam sebuah dekapan yang hangat.

Wu ShiXun mengecup kening LuHan, lama. Dia memejamkan matanya, seperti enggan melepaskan ciuman itu. Sama halnya seperti kedua lengannya yang mendekap tubuh telanjang LuHan erat-erat.

"Wu-Er Gongzi ?" LuHan mendongakkan kepalanya, menatap Wu ShiXun dengan sepasang mata bulatnya yang terang. Perasaan hangat dan nyaman seketika menyelimuti dirinya. Dekapan Wu ShiXun begitu hangat, aroma tubuhnya yang berbau cendana dan musky yang memabukan membuat jantung LuHan berdegup tidak karuan. Sangat nyaman seperti ini. LuHan tidak mau hal ini cepat berlalu dan menghilang. Dia ingin terus seperti ini.

Berada dalam dekapan Wu ShiXun.

Dia merindukannya ...

"Xiao Lu, terima kasih."


.

.


"Wu-Er Gongzi, bisakah kau melupakan perkataanku jika aku menang bertaruh, aku akan ikut denganmu ke Yinshan? Kurasa aku harus mengganti opsi itu. Bukankah sekte-mu memiliki ribuan peraturan yang sangat ketat, dan salah satunya tidak boleh membawa orang asing sembarang masuk ke dalam? Lagipula, Pamanmu sepertinya akan terkena serangan jantung dadakan ketika melihatku."

LuHan terus berceloteh di gendongan Wu ShiXun. Kedua tangannya bergelayutan, melingkari leher Wu ShiXun. Jubah perak milik Wu ShiXun yang sudah dikeringkan menyelimuti tubuh telanjangnya. Tubuh LuHan seperti tenggelam karena jubah yang kebesaran itu.

Di sisi lain, Wu ShiXun terus berjalan tegap dengan pandangan lurus ke depan. Penampilannya sudah cukup baik dan rapi, walau beberapa helai rambut hitamnya masih terlihat basah. Satu tangannya berada di bawah lutut LuHan, dan yang lainnya berada di punggung lelaki itu. Dia seperti menulikan pendengarannya, terus menggendong LuHan untuk membawanya ke Yinshan.

"Siapa yang akan mengurusi iblis-iblis kecil di sini jika aku tidak ada? Kau tahu betul 'kan jika habitatku adalah di air?" LuHan masih berusaha bernegoisasi.

"Aku akan membuatkanmu danau di sana."

LuHan nyaris tersedak mendengar ucapan Wu ShiXun. "Wu-Er Gongzi! Wu-Er Gege! Apa kau akan benar-benar ingin bercinta denganku setiap hari?"

Wu ShiXun hanya membalasnya dengan lirikan dingin.

LuHan mengerucutkan bibirnya mendapat tatapan seperti itu, satu tangannya bermain-main nakal di dada Wu ShiXun, "Wu-Er Gongzi kau bisa mati di tangan pamanmu karena sudah melanggar peraturan Sekte. Kau berhubungan dengan makhluk sepertiku, kau bahkan sudah tidak perjaka! Astaga, bukankah kultivasimu melarangmu untuk menjauhi hal-hal keduniawian seperti bercinta? Heheh, Wu-Er Gongzi, aku merusak jalan kultivasimu."

"...Aku sudah melanggarnya sejak awal."

"Huh?" LuHan mengerutkan keningnya dengan bingung. "Wu-Er Gongzi, kau tidak perlu membawaku ke Yinshan. Kau bisa mengunjungiku setiap hari di sini. Kau hanya perlu memainkan guqin-mu, dan aku akan menghampirimu di tepi danau. Bagaimana? Ya?"

Langkah Wu ShiXun mendadak berhenti. Obsidian tajamnya menatap ke dalam mata LuHan yang berada dalam gendongannya. Ada sekelumit makna yang tidak LuHan ketahui dari pandangan itu.

"Xiao Lu," setiap kali Wu ShiXun memanggilnya dengan sebutan itu, LuHan merasa jantungnya berdegup dua kali lipat. Ada perasaan rindu yang dalam ketika mendengar suara berat itu memanggilnya dengan lembut.

"Aku tidak ingin berpisah denganmu lagi."

Napas LuHan tercekat mendengar ucapan Wu ShiXun. Tangannya yang tengah bermain-main di dada Wu ShiXun sontak berhenti. Mata jernihnya memandangi wajah rupawan Wu ShiXun dengan tatapan sulit diartikan. Kedua iris terangnya memindai wajah itu lekat-lekat dengan sorot tersesat dan kebingungan.

"...kau mengingatku?" LuHan begitu terkejut sampai yang keluar dari bibirnya hanyalah bisikan parau. "Kapten Oh?"

"Kau bisa memanggilku Kapten Oh. Xiao Lu, sekarang itu adalah namamu. Kau mengerti?"

"Mm! Kapten Oh!"

Wu ShiXun tidak membalas ucapannya. Salah satu sudut bibirnya tertarik, membentuk sebuah senyuman tipis yang begitu memesona. Matanya tidak pernah lepas sedetikpun dari wajah LuHan. Berkedip saja enggan, dia takut jika melakukan itu Xiao Lu-nya akan hilang lagi.

"Xiao Lu, kau tunggu di sini. Aku akan menemuimu saat fajar tiba."

"Kapten Oh, bisakah aku ikut denganmu?"

"Terlalu berbahaya. Percayalah padaku, aku akan segera kembali, ya?"

"Kapten..."

"Bagaimana ... bagaimana kau bisa mengingatnya?" LuHan menyentuh wajah Wu ShiXun dengan perasaan campur aduk; senang, terkejut, bingung dan rindu. LuHan tersenyum, namun sepasang iris ruby-nya mulai berair.

"...Kapten Oh, Kapten Oh," LuHan begitu bahagia hingga tidak bisa mengatakan apapun selain memanggil-manggil nama itu dengan suara parau. Nama yang selalu ia sebut-sebut dalam kehidupan sebelumnya. Nama itu pula yang terus ia ucapkan dalam mimpinya maupun nyanyiannya.

Wu ShiXun mengecup tangan LuHan yang berada di pipinya. Senyuman tipisnya masih terlukis di wajah rupawannya. Dia berujar lembut, "Aku di sini."

"Kapten Oh, terima kasih telah menyelamatkanku. Aku tidak tahu jika saat itu aku tidak bertemu denganmu, mungkin aku sudah digantung di tengah-tengah kota saat ini dan menjadi pajangan dalam museum para Jenderal. Membayangkan diriku dikeringkan dan dipajang seperti itu rasanya sangat mengerikan."

"Tidak akan terjadi."

"Huh?"

"Selama ada aku, hal itu tidak akan terjadi."

LuHan turun dari gendongan Wu ShiXun, kemudian segera beralih menubruk tubuh pria itu. Dia memeluk Wu ShiXun begitu erat, menyembunyikan tubuhnya ke dalam dekapan Sang Tuan Muda. Wu ShiXun dengan sigap menangkap pinggangnya dan membawanya ke dalam dekapannya. Begitu erat, sampai LuHan merasa tubuhnya akan remuk dalam pelukannya, namun itu bukan masalah. LuHan saat ini sedang sangat bahagia.

LuHan tidak bisa lagi menyembunyikan perasaan rindunya yang meluap-luap, dia menumpahkan semuanya. Dulu, dia selalu memeluk pria ini tiap malam. Saling berbagi cerita dan kehangatan sampai fajar tiba. Sebelum pada akhirnya kehangatan itu lenyap, berganti dengan kehilangan yang membuatnya sangat kedinginan sendirian.

"Maaf ..., lagi-lagi aku datang terlambat dan membuatmu menunggu."

LuHan menggelengkan kepalanya dalam dekapan Wu ShiXun, "Tidak, jangan katakan itu. Kalaupun kau membutuhkan waktu seribu tahun untuk datang menjemputku, aku akan tetap menunggumu."

"Xiao Lu," Wu ShiXun semakin mengeratkan pelukannya. Dia mencium pucuk kepala LuHan dengan lama. Menghirup aromanya yang manis dan menenangkan. Perasaan kosong yang mengisi setiap rongga dadanya kini kembali terisi dengan perasaan hangat yang mendebarkan. Seperti ada bagian-bagian hilang yang telah kembali mengisi hidupnya.

"Ikutlah bersamaku."

LuHan mendongakkan kepalanya, kemudian mengangguk. "Aku akan ikut denganmu. Kemanapun."

Ibu jari Wu ShiXun mengusap kedua sudut mata LuHan, menghapus jejak-jejak airmata di sana dengan sangat lembut. "Apakah sulit bagimu hidup seorang diri selama ini?"

"Aku percaya kau akan kembali, maka aku akan tenang setelah berpikir seperti itu."

"Apakah ada yang mencelakaimu?"

LuHan menggeleng dengan senyum lebar, namun kedua matanya masih memerah, tetesan-tetesan bening mengalir dari sana, membasahi kedua pipi putihnya. "Mereka semua takut padaku."

"Kenapa tidak mendatangiku?"

"Kau mengatakan bahwa kau akan menemuiku. Jadi, aku terus menunggumu di sini. Saat melihatmu datang, aku merasa harapanku semakin besar. Walau aku tahu, kau tidak bisa mengingatku, tapi aku cukup senang bahwa kau menepati janji dan menemuiku lagi—K-kapten, Wu-Er Gongzi, jangan seperti ini. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini," LuHan buru-buru menyeka airmata yang muncul dari sudut mata Wu ShiXun. Ini kedua kalinya dia melihat pria yang selalu bersikap tenang itu mengeluarkan airmatanya. Yang pertama, tentu saja saat dia datang terlambat untuk menyelamatkannya dari orang-orang rakus akan keabadiaan dan kekuatan di kehidupan sebelumnya.

"Bagaimana kau mengenaliku?" LuHan bertanya penasaran.

"Nyanyianmu."

Wu ShiXun mendengar alunan suara yang begitu merdu dan menenangkan di tiap malamnya, mengisi indera pendengarannya sampai ia jatuh terlelap. Dia tidak tahu darimana suara itu berasal. Dia sudah mencari-carinya, tapi hasilnya nihil. Saat menginjakan kaki di Danau Hitam, dia kembali mendengar nyanyian dengan lirik yang menyayat hati itu. Kemudian, dia tahu, bahwa nyanyian itu berasal dari LuHan.

Dia memang tidak ingat sepenuhnya tentang kehidupan sebelumnya. Namun, kepingan-kepingan memori itu berputar di otaknya saat dia mendengar cerita dari LuHan. Dia bisa merasakan sakit dan perihnya hanya dengan mendengar ceritanya, seolah-olah memang dia-lah yang diceritakan dalam kisah itu. Kepingan memori itu seperti tayangan rusak, gambarannya tidak jelas, namun, Wu ShiXun bisa menebak apa yang terjadi pada kehidupan sebelumnya. Satu hal pasti yang tergambar jelas dalam otaknya adalah wajah riang yang manis milik sesosok siren yang selalu memenuhi hari-harinya dulu.

Wajah itu ada pada LuHan.

Dia semakin yakin saat perasaan hampa pada hatinya kembali terisi ketika melihat paras menawan milik LuHan. Bagian-bagian yang hilang dari hidupnya telah kembali. Xiao Lu-nya berada tepat di depannya. Sosok yang begitu Wu ShiXun puja dan cintai. Dia selalu melindungi sosok itu dengan segenap hidupnya. Sampai mati pun dia akan terus berada di depannya untuk melindunginya dari berbagai hal buruk. Dan, kali ini, dia tidak akan membiarkan apapun memisahkan mereka lagi. Ribuan peraturan Sekte, jutaan pandangan orang lain, Wu ShiXun tidak akan mempedulikannya. Dia hanya ingin Xiao Lu-nya berada di sisinya. Tidak lagi sendirian dalam dinginnya malam.

"Oh SeHun, ternyata perasaanku tidak pernah berubah. Aku masih sangat mencintaimu." LuHan meraih wajah Wu ShiXun, memberikannya sebuah ciuman pada pelipisnya, kemudian hidungnya, kedua pipinya, dan berakhir di sudut bibirnya.

Saat LuHan hendak menjauhkan wajahnya, Wu ShiXun menahannya. Dia menyatukan bibirnya yang dingin ke bibir LuHan. Melumatnya dengan begitu lembut dan berhati-hati; menyalurkan segala perasaan kerinduannya.

"Aku mencintaimu, sangat ..."

LuHan merasa tubuh Wu ShiXun bergetar dalam pelukannya ketika berbisik demikian. Pria itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher LuHan.

"Xiao Lu, jangan pergi lagi."

"Tidak akan. Aku akan menemanimu sepanjang hidupku. Kau bisa membawaku ke dalam perburuan malam atau kemanapun. Kapten Oh, Wu ShiXun, siapapun dirimu saat ini, aku akan terus berada di sisimu."

"Selamanya."

"Mm-hm, selamanya."

Jutaan kata tidak akan bisa mendeskripsikan bagaimana perasaan keduanya saat ini. Mereka menyalurkannya dalam sebuah pelukan erat di bawah sinar rembulan yang benderang. Dua hati yang terpisah kembali disatukan oleh takdir dengan cara yang tak terduga. Sekejam apapun hal buruk yang terjadi, alam tetap berkonspirasi agar keduanya kembali dipertemukan. Dengan perasaan yang masih sama, jantung yang berdebar seperti awal pertemuan mereka, segalanya tidak pernah berubah.

LuHan percaya, seberapa jauh pun dirinya dipisahkan oleh Wu ShiXun, pada akhirnya mereka akan tetap dipertemukan. Karena Wu ShiXun adalah takdirnya, begitu pula sebaliknya.


.

.

.

.

.

END.

.

.

.

.

.


a/n :

hi, it's been a long time ya guys?

Pertama-tama, gue mau ngasih tau, kalau ini sebenernya fict buat wangxian hehe. tapi ternyata cocok juga di hunhan. anyone ada yg ship wangxian di sini? Gue post ini di wattpad dengan cast wangxian.

Kedua, UDAH BERAPA TAUN GUE GA NULIS NSFW CUYYYYYY WKWKWKWK sumpah stuck bgt di bagian pakcepakcepak jder-nya. maaf ya kalau kurang memuaskan uhuhu. adegan memasukan pedang tentu saja terinspirasi dari Yang Mulia MXTX /sembah/

Ketiga, maaf kalau banyak typo. gue tuh paling males ngecekin typo yaAllah maaf.

Last but not least, gue kangen. kangen nulis dan kangen kalian hahahaha. maaf kalo gabisa seaktif dulu. cuma ini yang baru bisa gue post di sini. Feedback is highly appreciated! XOXO!