Secret Admirer

.

Naruto © Mashasi Kishimoto

.

Ino Yamanaka x Sasuke Uchiha

.

Di dunia ini ada banyak cara untuk mencintai seseorang, salah satunya adalah dengan cara menjadi pengagum rahasianya. Kemudian mencintainya dalam diam.

.

..

Admirer

...

Ketika untuk pertama kalinya kamu kembali jatuh cinta setelah sekian lama berkubang pada kenangan masa lalu yang terus menari dalam angan nostalgimu, apa yang kau rasakan ?

Bahagia ?

Bersyukur ?

Tapi jika dia yang membuatmu jatuh cinta adalah seseorang yang telah memiliki jalinan takdir dengan seseorang lain, apa yang akan kau lakukan ?

Bukankah kau akan terluka lagi sebelum rasamu sempat tersampaikan pada dia yang kau damba ?

Bisakah kau mencari jalan lain atas rasa yang terus memaksamu menautkan hati padanya ?

.

.

"Kenapa tidak langsung kau berikan saja pada orangnya sih ?"

"Tidak bisa Karin. Kau tahu sendiri kan keadaannya seperti apa ?"

"Tck. Semua yang kamu lakukan itu gak berguna sama sekali Babi !"

"Diam bodoh. Aku tidak butuh komentarmu !"

"Terserah kau sajalah. Aku hanya mengingatkanmu sebagai sahabat yang baik hati."

"Haik-haik. Aku mengerti nona Uzumaki. Arigatou ne !" Aku tersenyum lembut pada sahabat merahku yang masih berdiri sebal di depanku. Ia menungguku menyelesaikan salah satu kegiatan rutinku setiap pagi, yaitu menaruh sebungkus cookies dan secangkir kopi hitam kental di meja salah satu karyawan tempatku bekerja. Meja seorang pemuda tampan yang sudah lama ku kagumi-aku cintai lebih tepatnya-. Tapi sayangnya dia sudah bukan lagi seorang pemuda single yang bisa ku dekati secara terang-terangan. Dia sudah punya seseorang yang berharga di hidupnya. Ya dia sudah bertunangan dengan seorang perempuan cantik putri pemilik perusahaan terkemuka di kota ini.

Kalau di bandingkan dengan tunangannya tentu saja aku bukan apa-apa. Dia perempuan yang sangat cantik, anggun, kaya, pintar, dan terhormat tentunya. Berbanding terbalik denganku. Untuk itu selama setahun ini aku hanya bisa memandang pemuda itu, Sasuke Uchiha namanya dari jauh kemudian memberinya perhatian secara diam-diam. Jika dibandingkan dengan seorang stalker aku lebih mirip secret admirer.

"Cepat sedikit Ino, yang lain keburu datang !"

"Sabar Karin, aku tidak mau kopinya tumpah di atas berkas-berkas yang akan dia kerjakan. Bisa mati aku kalau sampe itu terjadi."

"Jangan lama-lama.!"

"Udah selesai ."

"Ck !"

Aku tersenyum samar, meninggalkan meja Uchiha Sasuke dan kembali lagi ke ruanganku. Tidak ingin membuat Karin semakin menggerutu karena tidak sabar menungguku.

"Bodoh, aku lupa absen pagi !" Karin memekik tertahan, menyadari sesuatu yang begitu penting hampir saja ia lupakan. Gadis bersurai merah itu berjalan cepat, menuju dinding depan ruangan tempat kami biasa absen datang dan pulang kantor. Aku terkikik geli, menertawai kecerobohannya yang tak pernah berubah.

Ku hempaskan tubuhku pada kursi putar meja kerjaku. Menyalakan komputer dan menatap setumpuk berkas yang harus ku kerjakan hari ini. Entah kenapa pekerjaan ini serasa tak ada habisnya meski setiap hari aku hampir selalu lembur untuk menyelesaikannya. Semakin hari tumpukan kertas di mejaku terasa semakin menggunung.

Sepuluh menit berlalu, karyawan yang lain mulai berdatangan. Mengantre absen seperti yang sahabatku sebelumnya lakukan. Dan bingo, dia yang kunanti-nanti akhirnya datang juga. Dengan setelan kemeja lengan panjang, dipadu dengan celan kain serta sepatu pantofel hitam mengkilat yang membungkus kaki panjangnya, membuatku tak bisa mengalihkan pandangan darinya. Sungguh dia adalah karya tuhan paling indah dan sempurna yang pernah ada.

Pemuda tinggi itu berjalan menuju ruangannya, masih dengan raut datar yang setia membingkai wajah tampannya. Sejenak mataku dan obsidian indahnya bersitatap, ia melirikku yang masih enggan mengalihkan pandang. Membuatku tersihir oleh jelaga kelam nan dingin yang kini menghujam ke arahku. Mau tak mau aku hanya mampu memberinya seulas senyum canggung yang kupaksakan. Entah kali keberapa aku tertangkap basah memandangnya tak sopan. Membuatku terlihat bak makhluk idoiot di matanya.

Dia berlalu begitu saja tanpa membalas senyumanku, hal yang sudah biasa memang. Tapi tetap saja sebagian hatiku merasa tercubit, perih.

Kalian tahu, bukan aku tak tahu diri mencintai orang yang bahkan sudah bertunangan. Jujur saja itu bukan keinginanku. Kalian pasti tahu jika perasaan itu tidak bisa di tebak, pun di atur harus kepada siapa kita menjatuhkan hati. Jika bisa memilihpun aku juga ingin jatuh cinta pada orang yang lebih baik, yang belum memiliki pasangan. Tapi sekali lagi, aku bukan Tuhan yang punya kuasa untuk membolak-balikan hati manusia.

Aku baru merasakan jautuh cinta lagi setahun lalu pada seorang Uchiha Sasuke, bahkan setelah sekian lama aku menutup rapat-rapat hatiku karna rasa sakit hati dari kisah asmaraku sebelumnya. Aku tahu ini salah, tapi yang perlu kalian tahu adalah aku sama sekali tidak mengganggunya, pun berusaha merebut hati Sasuke, tidak.

Untuk sejenak aku merenung, meratapi nasib yang seolah tak berpihak padaku. membuatku terlupa akan pekerjaan yang sudah menungguku sedari tadi. Bahkan waktu sudah beberapa menit terlewat, orang-orang sudah sibuk dengan paperwork yang menggunung di meja kerja masing-masing. Aku mengambil tumpukan map berwarna merah yang tergeletak paling atas, membacanya sekilas kemudian mulai mengerjakan apa-apa yang perlu ku kerjakan. Mencoba fokus kembali pada rutinitasku.

"Yamanaka !"

….

"Yamanaka !"

….

"Ino Yamanaka !" Aku tersentak, mendengar seseorang yang memanggil namaku dengan tidak sabaran. Kepalaku yang semula menunduk menatap layar monitor otomatis mendongak, mencari tahu asal suara.

"Ap-a ?" Aku menjawab gagu, tak menyangka orang yang memanggilku tadi adalah Uchiha Sasuke.

"Apa kau yang mengerjakan paperwork ini ?" Dia bertanya dengan nada datar sembari menyodorkan selembar kertas ke depan wajahku. Tapi ada satu hal yang menarik perhatianku. Remahan cookies yang tertinggal di sudut bibirnya membuatku tersenyum. Aku yakin dia baru saja mencicipi cookies yang kuberi tadi pagi.

"Hey ! Apa kau mendengarku ?"

"Ah, maaf. Iya aku yang mengerjakannya. Kenapa ?

"Bisakah aku meminta salinannya ?"

"Kau bisa memfoto copy-nya kan ?"

"Bukan itu, maksudku aku ingin meminta soft copy-nya ?"

"Oh, tentu. Kau membawa flashdisk kan ?"

"Aku tidak memakai barang seperti itu."

"Lalu ?"

"Kau bisa mengirimnya melalui email kan ?"

"Bisa saja sih."

"Oke !"

"Kemana aku harus mengirim ?"

"Pinjam sticky note dan pulpenmu sebentar ?"

Aku menyodorkan sticky note berwarna biru serta pulpen seperti yang dia minta tanpa banyak bicara lagi. Menunggunya menulis sesuatu pada lembaran kertas berwarna tersebut.

"Ini alamat emailku."

Aku mengangguk, menerima kembali sticky note yang sudah tak kosong lagi. Setelah itu dia langsung pergi tanpa mengatakan apapun.

Ku tatap kertas biru berisi alamat email darinya yang sudah ku tempel pada layar monitor komputerku. Alamat email dengan namanya, aku yakin itu adalah email pribadinya. Entah kenapa hal itu membuat sudut bibirku terus tertarik membuat lengkungan sedari tadi. Sadarlah Ino itu hanya alamat email, bukan sesuatu yang istimewa.

…..

Jam sudah menunjukkan pukul 12, saatnya untuk makan siang. Aku melirik sedikit jam yang menggantung di tembok sudut ruang. Selanjutnya ku alihkan pandang pada sahabat merahku yang masih sibuk memelototi layar monitor.

Aku berdiri, meregangkan otot-otot tubuhku yang terasa kaku sebelum memutuskan menghampiri Karin untuk mengajaknya makan siang. Suasana kantor mulai sedikit sepi, banyak karyawan yang sudah lebih dulu meninggalkan ruangan besar ini. Hanya beberapa dari mereka yang masih terlihat sibuk, tak terusik dengan kehadiran jam makan siang.

"Megane ! Ke kantin yuk ! Aku laper." Aku merengek pada Karin dengan nada suara yang ku buat se memelas mungkin. Tapi seperti biasa, dia mengabaikanku. Kebiasaan lain yang membuatku jengkel. Gadis itu akan sangat fokus pada apa yang dikerjakannya tanpa peduli sekitar. Begitulah dia, antara tekun atau apatis memang hanya berjarak tipis.

"Woe Karin ! Kau tidak mendengarku atau pura-pura tuli sih ?"

"Diam pig ! Kau tidak lihat aku sedang mengetik !"

"Hei ini sudah jam istirahat nona. Jangan terlalu serius ! Mereka tidak akan peduli sekeras apapun kau mengerjakan semua ini."

"Aku juga tidak peduli pig ! Aku hanya ingin punya waktu lebih untuk mabar dengan Suigetsu."

"Dasar Ottaku. Udah yuk, makan. Aku lapar !"

"Iya-iya bentar lagi. Sabar dikit babi !"

"Ck, kau ini !"

Aku berdecak sebal dengan tanggapan yang diberikan oleh Karin. Mau tak mau aku harus menuruti kemauannya. Bukan sekali dua kali dia bersikap menyebalkan seperti ini, hampir setiap hari malah. Tapi anehnya aku selalu saja menuruti kemaunannya itu. Bagaimanapu Karin adalah sahabat yang selalu ada untukku.

Setelah hampir sepuluh menit akhirnya Karin bangkit dari duduknya. Merangkul bahuku sembaru terburu-buru menyeretku ke kantin. Berbanding terbalik dengan sikapnya yang tadi.

Kantin kantor hari ini tidak terlalu ramai, mungkin sebagian karyawan memilih makan siang di luar. Atau bosan dengan menu yang disediakan di sini. Aku memesan semangkuk soba yang sudah ku idam-idamkan sejak beberapa jam yang lalu. Karin sendiri memesan stik dan mochalatte panas menjadi pilihannya. Aku ingin menyeduh kopi hitam saat kembali bekerja nanti, untuk itu aku lebih memilih untuk membeli ocha saja.

"Hei Ino, coba tebak siapa yang baru saja duduk di kursi belakangmu sekarang ?"

"Siapa ?" Aku menaikkan sebelah alisku, malas menerka-nerka atas pertanyaan yang Karin layangkan.

"Kau lihat sendiri, pasti kau terkejut nanti." Karin menatapku jahil, mengedikpan sebelah matanya genit seperti orang idiot. Aku hanya mencebik, sebal dengan tingkah kekanakannya.

"Ga usah bercanda deh, tinggal ngomong apa susahnya sih."

"Gak asik lu."

"Bodo !"

"Ada U-chi-ha."

Aku reflek menolehkan kepalaku ke belakang setelah Karin mengeja nama laki-laki pujaanku itu. Dan benar saja, laki-laki bermarga Uchiha itu sedang duduk menikmati makan siangnya bersama ehm, gadis bersuari musim semi, tunangannya. Membuatku moodku kembali ambruk karenanya. Lagi pula sejak kapan gadis itu datang ke sini ? Apa mereka tidak punya tempat lain untuk bermesraan selain di area kantor ini.

Berpikir sejenak, aku baru ingat jika hari ini adalah jadwal gadis itu mengunjungi tunangannya. Aku menepuk jidatku pelan, merutuki sifat pelupaku. Oh God, bagaimana aku bisa menikmati makan siangku kalau begini.

Aku mendengus, menatap semangkuk soba panas di meja kantin. Selera makanku menguap begitu saja. Karin sendiri lebih memilih menikmati makannya sembari berbalas pesan dengan Suigetsu, cuek. Bukannya dia tidak peka, aku tahu dia paham dengan moodku saat ini. Dia hanya terlalu lelah menanggapi sikapku yang satu ini.

Aku menyuap sendok demi sendok sup soba ke mulutku dengan lesu. Mencoba mengabaikan percakapan manis dua sejoli dibelakang sana. Karin melirikku sesekali dengan senyum remeh dibibirnya. Membuatku ingin menumpahkan sup soba ke mukanya saat ini juga.

Tak sampai sepuluh menit, makanan di mejaku tandas tak bersisa. Buru-buru ku teguk segelas ocha yang mulai mendingin itu juga. Kemudian menyeret Karin yang masih ingin menikmati mochalatte panasnya. Dia menghadiahiku dengan delikan tak suka, tapi aku tidak peduli. Yang ku inginkan adalah berlalu dari tempat itu sesegera mungkin.

...

Aku kembali pada layar monitor komputer kerjaku, mengabaikan Karin yang masih menggerutu tak jelas karena ulahku tadi. Padahal aku sudah berjanji mengganti mochalattenya sepulang kerja nanti. Rasa enggan menyeruak, membuatku malas melakukan apapundan hanya menatap kosong pada layar di depan.

"Yamanaka !"

"Hei Yamanaka Ino !"

"Apa sih ?"

Aku menyahut ketus, setengah berteriak pada siapapun itu yang memanggilku sekarang. Tapi kemudian perasaan sesal datang setelahnya begitu tahu bahwa Uchiha Sasuke lah yang memanggil namaku.

"Ma-af. Kenapa ?"

"Kau kenapa ?"

"Gak. Ada apa ?"

"Kau belum mengirim email yang kuminta !"

"Maaf aku lupa."

"Tak masalah."

"Tunggu sebentar aku akan mengirimnya untukmu."

"Hn.." Cukup dengan dehaman pelan untuk mengakhiri perbincangan singkat ini sampai Sasuke berlalu dari meja kerjaku. Aku masih terus menatapnya, hingga punggung lebarnya menghilang di balik pintu ruangan kantor.

Aku mendengus, masih merasa kesal dengan reaksiku yang barusan.

"Ting" Notif email terkirim menyita atensiku sejenak. Pertanda interaksiku dan Sasuke juga telah usai. Menyedihkan memang.

….…………………………………………..TBC…………………………………………….

20 Sept 2021