Author Note (AN): Halo web surfers! Aku lihat kalian sudah menemukan cerita yang aku buat.

Untuk beberapa informasi, aku tidak akan sepenuhnya mengikuti alur asli dari cerita aslinya (namanya juga fiksi penggemar), namun aku tetap akan menyimpan beberapa event penting yang terjadi di seri animenya.

Aku masih akan menampilkan karakter karakter yang ada di Gate: Thus the JSDF fought there! seperti Itami dan kawan kawan, aku juga akan membawa Original Character milikku ke cerita ini.

Oh ya, cerita ini terinspirasi dari GATE: OPERATION TIGER STRIKE oleh UH-60 NIGHTSTALKER dan Gate: Indonesian Armed Forces Fought in Other World oleh World Invaders. Saya sangat sarankan untuk membaca cerita mereka!

Jadi, yah! Silahkan membaca!

PS: Ini adalah cerita pertamaku dan aku masih belajar cara menulis cerita yang bagus, aku juga tidak tahu banyak soal militer, jadi kemungkinan besar akan terjadi banyak misinformasi soal peralatan/persenjataan yang digunakan di cerita ini. (Review dibutuhkan)


Chapter 1

Indonesia, negara kepulauan yang sudah mulai berubah semenjak mereka bergabung dengan Blok Amerika.

Perubahan yang dimaksud adalah perubahan baik dan perubahan buruk.

Semenjak mereka memutuskan untuk mengikuti negara ASEAN lainnya yang sudah beraliansi dengan Amerika, militer Indonesia mulai berkembang sangat pesat, hal ini sudah pasti bagus demi keamanan nasional.

Hal buruk yang dimaksud ada di dalam tubuh Indonesia sendiri.

Pemerintah, rakyat, mereka sama, terpecah belah.

Semenjak mereka meninggalkan blok netral, para konservatif berpikir bahwa mendukung Amerika dan membiarkan "beberapa" budaya barat masuk ke Indonesia akan melenyapkan budaya Indonesia itu sendiri.

Sementara itu, para progresif menganggap para konservatif terlalu paranoid dan radikal...yang mana membuat para konservatif merasa tersinggung dan tidak sedikit pula terjadi perkelahian antar-kelompok yang menganut ideologi-ideologi tersebut.

Konservatif melawan Progresif.

Agamais melawan pemerintahan sekular.

Pro Amerika melawan para nasionalis radikal. Indonesia...melawan Indonesia sendiri.

Bagaimana orang orang ini bisa bersatu lagi layaknya di zaman dulu?

Indonesia dulu bersatu untuk melawan Belanda, bagaimana kalau sekarang? Banyak orang setuju bahwa China adalah musuh, namun tak sedikit pula yang sangat geram dengan keputusan Indonesia untuk membantu Amerika yang mana membuat kondisi politik dan keamanan di Indonesia sangat tidak stabil.

Mereka percaya bahwa musuh Indonesia adalah China...dan Amerika.

Jika terus begini, ada kemungkinan besar bahwa perang saudara akan terjadi. Untuk bisa bersatu, mereka butuh musuh baru...musuh yang asing bagi mereka...musuh yang bukan dari dunia mereka.


Pukul 11:41. Restoran Mang Ado.

Di sebuah restoran di Kuta, Bali, ada seorang Prajurit Satu (Pratu) Russo Hakim Prasatya (27), akrab dipanggil Russo (atau Pras kalau sedang dalam tugas) yang sedang enak enaknya makan nasi goreng dengan iga bakar bersama temannya yang sama pangkat, Prajurit Satu Udin Mulyono (21).

Mereka berasal dari Kodim 1611/Badung, dan sekarang ini adalah waktu istirahat/bebas mereka.

Entah bagaimana, Russo berhasil meyakinkan Udin untuk menyelinap ke restoran bersamanya tanpa sepengetahuan atasan mereka.

Russo mungkin lebih tua dari Udin, tapi Russo menghormati Udin karena patriotisme yang dimilikinya.

Saat ditanya 'Apakah kau akan terus bertarung untuk Indonesia walau misalkan Indonesia adalah penjahat sebenarnya?' jawabannya pasti sama...'Ya' atau 'Pasti'. Dia tidak peduli di posisi mana Indonesia berada, yang dia pikirkan hanyalah untuk mempertahankan ibu pertiwi yang ia cintai.

Russo saja tidak punya patriotisme setinggi itu.

Russo bergabung karena dia ingin melindungi orang orang yang dia percaya layak untuk dilindungi...dan tentu saja juga untuk uang.

Lagipula, bukankah itu tujuan orang mencari pekerjaan? Demi uang?

"Hey, apa pendapatmu soal latihan militer bersama yang akan diadakan di Abiansemal besok?" Russo menanyai teman yang duduk di sebelahnya.

"Yah...gimana ya? Baguslah...Indonesia mungkin bisa mendapat dan berbagi ilmu dengan angkatan bersenjata negara lain." Udin menjawab dengan santai dan wajah yang datar. "Tadi juga sudah sempat ketemu sama yang dari kontingen Timor Leste, katanya mau nyari tempat penginapan sekitar sini."

"Dari Timor Leste?" Russo bertanya dan dibalas oleh Udin dengan sebuah anggukan. "Oh, kalau aku ketemu sama kontingen Jepang. Ada 24 orang dari Jepang kalau gak salah." Russo menambahkan.

"Kalau Timor Leste mereka kirim 60 orang kesini."

"Yap, satu kompi Timor Leste akan dikirim ke bali. 24 orang dari Jepang, 60 dari Timor Leste, 150 dari Amerika, 22 dari Australia, 30 dari Malaysia, dan 27 dari Filipina. Kalau ditambah 1,300 orang dari Indonesia, totalnya ada 1,613 orang ikut dalam latihan militer kali ini. Memang jumlahnya kecil, tapi jumlah personilnya bakal nambah setiap hari." Russo menjelaskan sambil menyuap sesendok nasi ke mulutnya.

"Ya, dan nampaknya china tidak suka kita menggelar latihan militer bersama disini." Ucap Udin, dia agak sedikit cemberut dengan fakta bahwa china jadi semakin agresif semenjak Indonesia mulai memberi dukungan ke Amerika.

Russo tertawa sedikit dengan kata kata Udin.

"Eh, China ya emang kayak gitu, kita ngelakuin sesuatu pasti bakal dikritik." Ucap Russo sebelum ia menelan semua makanan di mulutnya.

Udin memberinya es teh yang dia belum minum sama sekali.

Dia bilang dia lebih milih minum kopi.


Pukul 11:47. Aston Kuta Hotel Residence.

Di salah satu kamar hotel, ada dua tentara JSDF sedang menonton berita di TV.

Mereka adalah Yoji Itami dan Kurata Takeo.

Berita yang ditonton tak lain adalah soal protes besar besaran yang terjadi di jalan jalan Jakarta.

Orang orang memprotes soal terpilihnya Ahmad Pierre Wibowo dari partai golkar sebagai Presiden baru Indonesia.

Beberapa orang ini juga berani melawan polisi menggunakan senjata tajam.

Mereka beralasan bahwa Ahmad telah menyuap warga warga untuk memilihnya, dengan kata lain, mereka berpikir bahwa bapak Ahmad telah mencurangi pilpres yang diselenggarakan beberapa bulan lalu.

Itami menghela napas setelah melihat berita itu sebelum menoleh ke arah Kurata dan bilang "Indonesia jadi lebih tidak stabil dari yang kuingat. Hampir setiap hari pasti ada hal yang diributkan antara para warga dan pemerintah."

"Yah, setidaknya kita beruntung tidak ada protes penuh kekerasan di Bali." Jawab sang pengemudi Toyota High Mobility Vehicle yang masih menonton berita di televisi. "...apa ada saluran yang menyiarkan anime disini?"

"Kau ini, aku sedang bicara serius kamu malah mau nonton anime…" Balas Itami. "...tapi aku juga mau nonton anime sih. Coba saluran nomor 1, siapa tahu ada kan?"

Para otaku pun berjuang untuk mencari hiburan mereka.

Mereka menyusuri saluran ke saluran demi harta karun mereka.


Pukul 11:54. Jalan Sunset Road.

Suasana di Jalan Sunset Road bisa dibilang biasa biasa saja.

Motor dan mobil berkendara, orang berjalan di trotoar, ibu ibu dan anak anak menawarkan pengendara yang berhenti saat lampu merah koran, dan sebagainya.

Semuanya terlihat seperti hal biasa yang selalu dilihat di jalan raya...sampai sebuah gerbang raksasa muncul.

Tentu saja, fenomena aneh ini menjadi perhatian orang orang sekitar.

Mereka heran bagaimana gerbang besar ini bisa muncul di tengah perempatan/persimpangan secara tiba-tiba.

Beberapa beranggapan bahwa ini adalah semacam Special Effect yang sedang digunakan untuk syuting sebuah film.

Beberapa lagi memutuskan untuk menjauhi gerbang tersebut sambil membawa keluarga dan teman mereka.

Para polisi di sekitar pun tidak tahu apa yang terjadi.

Disaat polisi mulai memberitahu warga dan pengemudi untuk menjauhi area sekitar gerbang ini, muncul banyak siluet yang mirip seperti manusia, hewan, dan hal hal lainnya.

Seketika melihat siluet tersebut, para polisi dan warga sekitar mulai perlahan lahan mundur.

Beberapa saat kemudian, keluarlah beberapa orang yang berpakaian seperti...tentara kekaisaran Romawi? Mereka juga menggunakan pedang, tombak, dan panah. Siapa mereka?

Salah satu orang yang menaiki seekor kuda putih melihat sekelilingnya.

Dia terlihat terkejut dengan apa yang dia lihat.

Prajurit lainnya juga memiliki ekspresi yang sama.

Dia kemudian menoleh ke arah orang orang yang melototi mereka.

Pria berkuda itu pun berteriak, sepertinya mengatakan sesuatu dengan bahasa yang sangat asing bagi warga dan polisi yang mendengarnya.

Setelah ia selesai berbicara, semua yang ada disana terdiam.

Pria tersebut terlihat seperti dia menunggu jawaban dari warga yang menonton.

Keheningan itu berhenti ketika seorang anggota polisi berteriak kepada sang penunggang kuda.

"Siapapun kalian, atau bagaimanapun kalian bisa ke sini, akan sangat bijak kalau kalian semua meletakkan senjata kalian di tanah dan menjawab ke kantor polisi!" teriak salah satu polisi yang berdiri di antara beberapa pejalan kaki.

Respon sang polisi tersebut dibalas dengan sebuah seringai dari si penunggang kuda.

"Arquitis!" Teriak pria itu, dan dan beberapa saat kemudian...panah mulai menghujani jalanan.

Polisi sempat berteriak kepada orang orang di sekitar, namun terlambat.

Banyak yang terkena panah tersebut.

Banyak yang panik.

Banyak yang lari.

Banyak yang mati.

Bersambung...


AN: Dan seperti itu saja, bersambung. Maaf kalau pendek, lagi malas nulis soalnya.

Oh ya, aku juga memutuskan untuk membuat para Saderan untuk berbicara dalam bahasa latin.

Aku tidak bisa berbicara bahasa latin...jadi...yah gitulah.

Tetap aman, terutama di masa berbahaya sekarang ini.

Sampai bertemu lain waktu!

SomeRandomGuy13 keluar...