AN: Halo Web Surfers! Semoga kalian semua dalam keadaan yang baik dan sehat.

Dan yah, ini dia, sambungan bagian sebelumnya.

Yang ini jauh lebih panjang dari yang kemaren dan sudah mulai ada tongkat panjang memuntahkan api dan tembaga.

Silahkan membaca!

PS. Kalau ada kalimat dari suatu tokoh dikutip seperti "ini", itu berarti mereka berbicara dalam bahasa asing (inggris, jepang, latin, lain lain).


Chapter 2


Pukul 11:58. Restoran Mang Ado.

"haa...kenyang...kalau kau bagaimana, Udin?" Ucap Russo ke partnernya yang sudah menghabiskan nasinya.

Piringnya bersih, hampir tidak ada bekas nasi sama sekali.

"Aku kenyang...syukurlah." Balas Udin dengan suara yang...tidak punya ekspresi.

"Baiklah, aku akan bayar dulu makanan kita sebelum kita kembali ke markas." Kata Russo dan dibalas oleh Udin dengan satu anggukan.

Disaat Russo berdiri dari tempat duduknya, Smart Phone miliknya bergetar di sakunya.

Tangannya dengan cepat mengambil Smart Phone-nya keluar dari sakunya dan lagu Freedom oleh Pharrel Williams mulai berbunyi, rupanya ada yang menelpon.

Russo membaca nama orang yang menelponnya melalui layar Smart Phone.

Kopral 2 Ari. Russo menekan tombol jawab dan langsung mendekatkan Smart Phone ke telinganya.

"hah? ada apa Ari? Kok tiba tiba nelpon? Komandan tahu kita nyelinap keluar ya?"

"Bukan! Kita disuruh ngumpul di markas!" Teriak suara Ari melalui HP Russo.

"Loh, kenapa?" Tanya Russo kebingungan.

"Nggak tahu rinciannya, tapi katanya Jalan Sunset Road diserang!" Teriak Ari lagi, suaranya terdengar sangat khawatir.

Diserang?! Russo berteriak di pikirannya.

"Di...diserang?! Sama siapa?!" Russo berteriak.

Mendengar Russo berteriak 'diserang", Udin langsung berdiri dari tempat duduknya dengan cemas.

Tanah air yang dia cintai sedang diserang, siapa yang tidak akan cemas?

"Nggak tahu aku, Russ. Datang lah cepat sini!" Ari bereteriak lagi, kali ini terdengar suara suara yang biasa didengar kalau sebuah operasi akan diluncurkan...suara kesibukan.

"Ba-baiklah! Aku akan kesana!" Russo berteriak sebelum dia menutup panggilannya.

Tangannya bergetar dan wajahnya mulai berkeringat.

Diserang?! Di Kuta?! Sekarang?! Apa aku akan mati?! Pikir Russo.

"U-udin! Kita harus kembali ke markas sekarang juga!" Russo memerintahkan.

Udin menangguk dan langsung berlari ke arah mobil Jeep-nya dengan Russo mengikuti dari belakang.

"Hey mas! Mas belum bayar! Mau kemana itu?" Kata seorang pelayan perempuan sesaat setelah ia melihat Russo dan Udin melompati sebuah pagar besi yang menghalangi mereka dari Jeep mereka.

Ya, mereka memang bisa memutari pagarnya, gak usah di lompati juga gak apa apa, cuman kalau di lompatin, bakal berasa jadi agen rahasia dan bakal buat Russo merasa keren.

"Maaf mbak! Urusan militer! Kami bayar nanti kalau kami selamat! Mbak dan pelanggan lainnya sebaiknya cari tempat berlindung!" Russo berteriak ke arah pelayan yang hanya melihat dia dengan wajah bingung.

"Eh mas! Jangan buat alasan! Mas! Hei-" Protes perempuan tersebut terpotong sesaat setelah mobil Jeep mulai menyala dan masuk ke jalan dengan kecepatan yang cepat, hanya meninggalkan debu dan pasir.


Pukul 12:05. Aston Kuta Hotel Residence.

Itami dan Kurata sedang duduk dilantai, pandangan ke arah TV.

Mereka menemukan sebuah emas.

Di Saluran 31 ada Re: Zero sedang tayang.

Agak sedikit mengejutkan kalau sebuah hotel seperti ini menayangkan anime dengan bahasa jepang, tidak ada dub, tidak ada subtitle, hanya bahasa jepang.

Memang aneh, tapi tidak seperti dua otaku ini akan mengeluh tentang hal itu.

Mereka sudah bersyukur karena sudah menemukan acara yang tidak asing bagi mereka.

"Letnan Dua! Letnan Dua Itami! Buka pintu! Ada yang harus kau lihat!" Suara dari orang yang mereka kenal terdengar dari balik pintu.

Suara itu tak lain berasal dari Shino Kuribayashi.

Dia juga menggedor pintu berkali kali yang membuat para otaku terganggu.

"Ah! Mau apasih? Menganggu saja!" Teriak Kurata yang merasa terganggu.

"Sudahlah, biar aku buka." Kata Itami, berusaha untuk menenangkan partnernya.

Itami berjalan ke arah pintu dan membukanya.

Dia memang sudah menduga Kuribayashi akan berada di depan pintunya, yang tidak dia duga adalah dia mengenakan seragam tempurnya.

"Loh? Kenapa kau pakai seragam tempurmu? Kan latihan bersamanya besok." Ucap Itami yang bingung.

"Komandan menyuruh kita mulai berpakaian dan melengkapi diri kita sendiri. Katanya terjadi serangan teroris di dekat sini." Jawab Kuribayashi dengan tatapan yang serius.

Mata Itami terbuka lebar untuk beberapa saat sebelum dia menangguk dan menutup kembali pintunya untuk mengganti pakaiannya.

Kurata menatap ke arah Itami dengan wajah yang penuh pertanyaan.

Saat Kurata membuka mulutnya untuk bertanya, Itami langsung berbicara.

"Ada serangan teroris, dugaanku kita akan membantu petugas keamanan setempat. Pakai seragam tempurmu dan segera bawa barang yang kau butuhkan." Kata Itami dengan suara layaknya seorang pemimpin.

Kurata langsung mematikan TV-nya dan mulai mengganti baju hitam polosnya dengan seragam tempurnya.

Itami melakukan hal yang sama.

Entah apa yang akan mereka temui nanti.

Mungkin para "jihadis"? ISIS?

Pikiran Itami dipenuhi dengan banyak pertanyaan, apa yang terjadi sekarang ini?


Di Jalan (Dekat markas Kodim 1611/Badung).

Udin mengendarai mobilnya dengan sangat kencang.

Tak jarang dia hampir menabrak sesuatu.

"Hey, Udin! Bukankah mengemudi seperti ini ilegal?!" Teriak Russo.

"Maaf pak, tapi disaat negara diserang, tidak ada yang namanya 'ilegal'. Bapak sendiri yang mengajariku, kan?" Jawab Udin.

"Yah, kadang ajaranku itu nggak semuanya harus diikuti! Aku ini juga penyebar ajaran buruk- awas ada orang!"

Untungnya, Udin mengerem tepat waktu dan orang itu selamat dari kecelakaan.

Yah, tapi dia tetap memarahi Russo dan Udin.

Saat itulah Russo sadar bahwa dia adalah seorang tentara.

Tiba-tiba saja muncul tiga APS-3 Anoa 6x6 yang melaju ke jalanan.

Russo menyadari bahwa di sebelah salah satu Anoa tersebut ada Kopral Dua Ari Sutarjo (29).

Udin dan Russo langsung keluar dari mobil dan langsung berlari ke arah sang Kopral.

"Kopral! Kopral Dua Sutarjo! Kami disini!" Russo berteriak, menangkap perhatian Ari.

"Apa yang terjadi, kopral?" Tanya Udin.

Saat Ari akan menjawab, ada orang lain berteriak kepada Russo dan Udin.

"Yang terjadi adalah kalian bermalas malasan sementara kota ini diserang!" keduanya menoleh dan melihat wajah yang tidak ingin mereka lihat.

Itu Sersan Dua Herman Ketut (35).

Danru (Komandan Regu) dari regu Russo dan Udin

Russo dan Udin langsung memberi atasan mereka hormat dengan tangan kanan mereka

Ekspresi Udin sangat netral dan tidak menunjukkan rasa takut.

Sementara wajah Russo? Russo menunjukkan wajah penuh rasa takut seolah-olah ia akan ditagih hutang.

"Kemana saja kalian?!" Kata sang sersan dengan suara menyeramkan.

"Ka-ka-kami lagi-"

"Kami sedang makan di Restoran Mang Ado. Russo berhasil meyakinkanku untuk membantunya menyelinap keluar. Maafkan aku karena telah melanggar peraturan, pak!" Jawab Udin dengan tegas.

Sialan kau, Udin! Kau harusnya membantuku! Bukan menghianatiku! Teriak Russo di dalam hatinya.

"Sudahlah! Aku akan hukum kalian saat semua masalah ini selesai!" Bentak sersan.

"Cepat masuk ke Anoa! Kita ke Sunset Road sekarang!" Teriak Sersan Ketut yang langsung berjalan ke arah Anoa 6x6 milik regu mereka.

Russo dan Udin pun mengikuti sang sersan ke dalam Anoa tersebut, mereka juga diikuti anggota regu mereka.


Pukul 12:11. Bandar Udara Internasional Ngurah Rai.

Di langit Kuta, ada lima penunggang common dragon sedang terbang, melihat melihat dunia baru yang akan mereka taklukan.

Para penunggang mengasumsikan bahwa tempat yang mereka serang ini adalah sebuah kota besar karena banyaknya jumlah bangunan disini.

Tidak ada hal yang terlalu menarik perhatian para penunggang naga selain rumah rumah dan gedung gedung.

Sampai mereka melihat tempat yang luas dan menarik.

Sebuah landasan? untuk terbang? Jadi penghuni dunia ini punya makhluk terbang juga? Pikir seorang penunggang naga.

Kalau musuh mempunyai landasan untuk angkatan udara mereka...

Berarti landasan tersebut harus segera dihancurkan demi menjaga air superiority para penunggang naga.

Tanpa pikir panjang, para penunggang naga langsung terjun untuk menyerang bangunan dan orang orang yang mereka lihat.

Yang mengejutkan mereka adalah bahwa penghuni dunia ini punya naga putih yang besar.

Naga naga raksasa ini harus segera dihancurkan! Teriak pemimpin tim penunggang naga dalam pikirannya.

Para naga yang mereka tunggangi langsung menyemburkan api ke arah pesawat pesawat di bandara.

Mereka berhasil menghancurkan/membakar tiga pesawat.

Salah seorang penunggang naga tertawa akan bagaimana mudahnya menghancurkan naga-naga ini.

"Hahaha! Ukuran saja yang besar, ketahanannya lemah sekali!" Kata seorang penunggang naga.

"Korps Penunggang Naga adalah penguasa langit! Kita tidak terkalah-AGH!"

Kata-kata sombongnya terhenti saat sebuah kaliber 40 mm menabrak naga yang dia tunggangi dan meledak.

Ledakan tersebut membuat penunggang naga lainnya terkejut.

Mereka pun mencari sumber ledakan tersebut.

Mereka terkejut saat melihat pemimpin tim mereka beserta naganya dengan cepat jatuh ke tanah.

Sementara itu di tanah, ada tiga Bofors 40 mm L/70 menembaki naga dan wyvern yang mereka lihat.

Satu persatu penunggang naga yang menyerang bandara berjatuhan.

Satu penunggang naga berusaha kabur namun usahanya sia sia karena dia tertembak oleh AIM-120 AMRAAM yang ditembakkan oleh F-16 Fighting Falcon milik Indonesia.

"hah? AU datang lebih cepat dari yang kukira." Kata Komandan Regu artileri sambil tersenyum.

"Baiklah! Kita akan menjaga bandara ini sampai situasi sudah terkendali!" Teriak sang danru kepada rekan rekannya.


Pukul 12:18. Di Jl. Raya Kuta.

Tiga APS-3 Anoa 6x6 meluncur di jalan, berusaha untuk secepatnya tiba di Jalan Sunset Road.

Anoa yang berada di tengah adalah kendaraan yang sedang dinaiki Russo dan regunya.

Di dalam, Russo, Udin, dan kawan kawan sudah siap sedia dengan SS2-V5 A1 di genggaman masing masing

Kopral Ari duduk di bagian pengemudi dengan Sersan Ketut di sebelahnya.

Lewat jendela, Russo bisa melihat ada dua Toyota High Mobility Vehicle atau Toyota Mega Cruiser BXD10 bergabung dengan konvoi mereka.

"Oh, orang jepang ikutan sama kita?" Tanya Russo.

"Ya, Letnan Sutrisno sudah memberi tahu Letnan Satu Fujiwara Sato soal apa yang terjadi dan Letnan bilang bahwa Fujiwara dan peletonnya akan ikut dengan kita." Kata Prajurit Dua (Prada) Siti Jubaedah (20) yang duduk di sebelah Russo.

Siti sendiri memiliki rambut sanggul dan tubuhnya sedikit pendek, tapi dia tetap kuat dan ganas...kayak cewek kebanyakan.

"Jadi, sersan, siapa anjing yang menyerang Sunset Road?" Tanya Prajurit Kepala Agus William Hartono (29), si mulut kotor.

"Tidak tahu. Tapi kata saksi yang selamat, mereka diserang oleh orang orang aneh dengan pakaian aneh. Mereka juga bilang orang orang ini menggunakan pedang, busur panah, dan lain-lain." Jawab Sersan Ketut.

"Gila, pake pedang? Ini teroris gila atau apa?"

"Entahlah, beberapa orang bilang mereka mengenakan pakaian seperti prajurit zaman romawi kuno dulu." Kata sersan sambil melihat lihat keadaan sekitar yang sedang panik.

"Sersan! Lihat itu di langit!" Kopral Ari berseru.

Sersan ketut melihat melalui kaca depan Anoa dan melihat sesuatu terbang di langit.

"Apa itu? Burung?" Kata sersan dengan bingung.

Tiba tiba saja, "burung" itu meledak karena terkena serangan dari...F-16?

Ketut agak sedikit terkejut dengan kemunculan tiba tiba AU.

Tapi dia lebih terkejut dengan apa yang dia kira "burung" itu ternyata adalah makhluk besar yang jatuh di sebuah ruko.

Lantas, para warga langsung berteriak panik dan berlari saat "naga" itu jatuh ke gedung ruko.


Regu Itami.

"ya ampun, makhluk apa itu?" Tanya Kurata, sang pengemudi.

Itami dan yang lainnya hanya melihat dengan perasaan campur aduk saat naga tersebut jatuh.

"Apa itu...naga?" Kata Itami.

"Nggak mungkin, naga itu cuman dongeng." Kata Shino.

"Lalu apa itu?" Tanya Mari Kurokawa sambil menunjuk ke arah naga yang berada di atap ruko tersebut.

Shino hanya terdiam setelah mendengar kata kata Mari.

"Apapun itu, yang pasti adalah kita tidak akan melawan teroris biasa." Ucap Kuwahara.

Itami semakin menguatkan genggamannya pada Howa Tipe 89 miliknya.

Musuh apa yang akan kita hadapi? Pikir Itami dalam pikirannya.

"Baiklah semuanya, kita akan memasuki Sunset Road dalam 3 menit, bersiaplah." Kata Kurata yang mengemudi dengan sangat fokus.

Mereka melewati beberapa korban dari serangan di Sunset Road yang sedang dievakuasi.

Mereka terkejut melihat bahwa banyak dari korban tersebut adalah orang Jepang atau Australia.

Beberapa panah tertancap di tubuh mereka.

Mereka beruntung bisa selamat...atau setidaknya itu yang mereka harapkan.


Pukul 12:21. Jalan Sunset Road.

Legatus Stadius Martinus, dia adalah orang yang dipilih oleh kaisar Molt sendiri untuk memimpin Pasukan Ekspedisi 1.

Pasukan Ekspedisi 1 itu sendiri punya misi untuk menjelajah, menaklukan, dan melaporkan kembali apa yang mereka temukan.

Legatus Martinus percaya bahwa namanya akan dikenal banyak orang sebagai penakhluk dunia lain.

Dan karena itu, dia dengan gegabah menyerang penghuni dunia ini yang hanya memberikan sedikit perlawanan.

Ini akan jadi mudah, orang orang dunia ini penakut. Pikir Martinus.

Senyumnya tiba tiba hilang saat dia mendengar suara yang belum pernah dia dengar sebelumnya.

Dia dan tentara lainnya dibuat bingung dengan suara seperti teriakan ini.

Tiba tiba saja, sebuah burung abu abu terbang di atas mereka dengan kecepatan yang sangat cepat.

Apa apaan itu? Naga? Tidak mungkin ada naga secepat itu! Pikirnya dengan ekspresi terkejut.

Kemudian, suara lain terdengar.

Suaranya terdengar seperti suara kepakan sayap yang cepat.

Mata Martinus terbuka lebar saat dia melihat sesuatu berwarna hijau terbang di depannya.

Sontak, makhluk terbang itu menembakkan sesuatu ke arahnya dan...

BOOM

Yang tersisa dari Legatus Martinus hanyalah tubuhnya yang penuh darah.

Para prajurit yang melihat hal ini terkejut.

Seorang Legatus, veteran, mati begitu saja?

Lantas, para prajurit langsung berlari ketakutan saat dua makhluk lain bergabung dengan kawannya dan mulai menembakkan rentetan tembakan api ke arah para prajurit yang berusaha kabur.


Di dalam Mil Mi-24 milik Amerika.

"Ya benar! Kalian sebaiknya lari, pecundang!" Ejek salah seorang pilot sambil tertawa.

"Untung F-16 Indonesia itu menyisakan beberapa mainan untuk kita" Kata pilot lain saat helikopter penyerang terus menembaki musuh musuh yang kabur.

"Para bajingan primitif ini tidak tahu apa yang akan menimpa mereka!" Kata seorang pilot.

"Kalau mau macam-macam dengan sekutu Amerika, kau harus membangunkan Paman Sam dulu!" Teriak pilot lain dengan penuh semangat patriotik.

"Wooo! USA! USA!"

"Oke, cukup dengan semangat patriot yang berlebihan. Mari fokus untuk menghancurkan semangat perjuangan orang orang aneh ini." Kata komandan penerbangan dengan serius.

Tiga Mil Mi-24 itu pun pergi untuk menerjang tempat lain.

Beberapa yang sudah sangat ketakutan memutuskan untuk kabur kembali ke dunia mereka.

Para desertir ini akan jadi pembawa pesan untuk orang orang di Falmart.

Pesan bahwa Sadera sudah fucked up.

Bersambung...


AN: Bersambung, lagi...Yah, dengan ini kunyatakan Sadera akan menjadi kacau.

Hanya perlu "beberapa" chapter lagi sampai akhirnya bisa sampai ke Civil War Arc.

Perubahan (dari cerita asli) yang paling ingin aku tunjukkan ada di Arc Perang Saudara itu soalnya.

Omong-omong, semoga kalian suka Chapter ini.

Maaf kalau ada kesalahan dalam penulisan.

Saya menerima kritik dan saran, selama pakai bahasa yang sopan dan dapat di hargai.

Baiklah begitu saja, semoga kalian tetap aman!

SomeRandomGuy13 keluar...