Chapter 4

Dunia Baru, Cara Unik Baru Untuk Mati.


Di dekat gerbang. 16 Maret 2029.

Beberapa hari setelah Pembantaian Kuta-Denpasar, Pasukan Ekspedisi Koalisi dibentuk. Anggotanya adalah Indonesia sebagai pemimpin ekspedisi, Amerika Serikat, Timor Leste, Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Australia, dan sekutu amerika lainnya.

Divisi Ekspedisi 1 yang terdiri dari 3 Resimen, yaitu Resimen Infanteri Indonesia, Resimen Infanteri Malaysia, dan Resimen Infanteri Filipina. Divisi ini juga diisi dengan sebuah Batalyon Zeni dari Vietnam, Peleton Polisi Militer Thailand, Kompi Komunikasi Inggris, Batalyon Artileri Singapura, Peleton Tank Jepang, dan lain lain.

Divisi Ekspedisi 1 bisa dibilang lebih besar daripada divisi ekspedisi lainnya. Sangat mengesankan bagaimana kelompok tentara sebesar ini bisa berkumpul di Bali hanya dalam waktu 6 hari.

Regu Herman Ketut berada di Divisi Ekspedisi 1 sementara Regu Itami ada di Divisi Ekspedisi 2.

Walau terpisah, keduanya masih memiliki kontak dengan satu sama lain.

Ketut berharap bisa melanjutkan kerja sama dengan Itami karena dia menganggap Itami "menarik".

Divisi Ekspedisi 1 akan masuk ke gerbang lebih dulu, lalu diikuti dengan Tontaipur (Peleton Intai Tempur) sebagai gelombang pertama.

Setelah itu, Divisi Ekspedisi 2 akan ikut masuk, ditemani dengan 65 anggota British SAS sebagai bagian dari gelombang kedua.

Dan yang terakhir, Divisi Ekspedisi 3 akan menyusul dan dibuntuti oleh 8th Scout Ranger Company milik Filipina sebagai gelombang ketiga.

Sebelum para pasukan mengangkat kaki dan pergi ke dalam gerbang, Presiden Ahmad memberikan pidato soal keberanian dan kehormatan.

Setelah pidato tersebut, barulah para pasukan disuruh berbaris dan pergi ke dunia baru.

Para rakyat dan turis yang hadir melambai ke arah para prajurit prajurit yang akan pergi memerangi "Kekaisaran Sadera" di sisi lain gerbang.

Beberapa yang beruntung dapat pergi ke Falmart menggunakan kendaraan tanpa harus berjalan bisa dibilang sangat bersyukur.

Salah satunya adalah Russo.

"Terpujilah Tuhan... Kita tidak harus berjalan seperti orang orang malang di luar." Kata Russo yang sedang duduk di sebelah Udin di dalam Anoa 6x6 mereka.

"Hey, apa kalian pikir kita akan... ehem... menjajah Falmart?" Tanya Agus.

"Selama Koalisi memantau kita, maka tidak. Kita tidak akan menjajah. Tujuan kita hanya membawa Kaisar Molt beserta Jenderal Jenderalnya ke pengadilan Koalisi dan menyelamatkan mereka yang dibawa ke Falmart." Jawab Siti sesaat setelah Anoa mereka mulai menyala dan mengemudi ke arah gerbang.

"Apa kalian pernah berpikir apa nasib para tawanan perang?" Tanya Prajurit Dua Yanto Bhayangkara (19 tahun).

"Setahuku, 40 orang-termasuk makhluk humanoid lainnya- ditawan dan di interogasi di Pulau Cendikian di Jawa Tengah." Jawab Ari yang sedang mengemudi.

"Loh? Bukannya di Pulau Berhala?" Tanya Russo dengan bingung. Dari berita yang dia dengar dari seorang tentara Filipina, para tahanan di tahan di Pulau Berhala.

"Tunggu, bukannya mereka di tahan di Nusa Kambangan-"

"Oke semuanya, cukup! Tempat penahanan mereka itu rahasia dan hanya diketahui pemerintah. Tugas kita adalah menjelajah dunia 'Falmart' ini, bukannya membicarakan soal Tahanan Perang, mengerti?" Ucap Sersan Ketut dengan nada suara yang agak terganggu.

"Y-ya pak!" Jawab Yanto.


Pulau Numfor, Kabupaten Biak Numfor.

Kamp Tahanan Perang Numfor

awalnya ditujukan untuk menjadi tempat tahanan Perang semisal Koalisi berperang dengan China dan sekutunya.

Namun karena kemunculan Sadera, tempat ini menjadi Kamp Tahanan khusus untuk mereka.

Para tahanan diperlakukan layaknya tahanan biasa. Mereka diberi baju, makan, mandi, waktu bebas, sel, dan sebagainya.

Sebagian besar puas akan perlakuan para sipir tahanan, terutama para makhluk non-humanoid seperti para Vorarlden.

Mereka yang tidak menyukai hal ini adalah para perwira seperti Primus Pilus Baronius Del Hargo.

Dia jijik dengan orang orang barbar ini. Dia sadar bahwa orang "Indonesia" ini tidak tahu apa itu kebangsawanan.

Dia tidak dipisahkan dengan prajurit rendahan lainnya, makanan mereka sama, dan dia disuruh tidur di dalam sel yang tidak layak untuk ditinggali oleh bangsawan sepertinya. Dia harusnya diberi ruangan khusus!

Baronius pernah berencana untuk kabur. Namun setelah melihat upaya orang lain untuk kabur, dia berubah pikiran.

Setiap orang yang berusaha kabur akan langsung ditembak mati atau mendapat hukuman yang sangat berat. Semua rute jalan keluar dijaga siang dan malam.

Baronius memutuskan untuk memikirkan ulang rencananya.

Setahu-nya, dia ditahan di sebuah pulau. Walau ia berhasil kabur, dia akan lari ke mana?

Dia ditahan di pulau yang dijaga ketat. Dia juga terjebak di dunia terkutuk nan mengerikan ini.

Dia harus kembali ke Falmart. Tapi dia harus pergi kemana dan bagaimana?

Baronius pun menyerah. Inilah kehidupan barunya, tahanan rendahan.


Bukit Alnus.

Para prajurit yang tersisa di bukit Alnus membangun pertahanan serta jebakan andai para orang orang di seberang gerbang menyerang balik.

Mereka baru mulai bekerja untuk membangun sebuah benteng sederhana sekitar 4 hari yang lalu.

Legatus Julius La Calus, orang yang memimpin pasukan yang tersisa merenungkan kekalahan Pasukan Ekspedisi 1.

Apa yang bisa menghancurkan pasukan tersebut dengan cepat? Pikir Julius.

Dia tidak takut, hanya penasaran.

Sekarang ini, dia sedang melihat gerbang besar tersebut dari tendanya.

Dia sudah mengirim pasukan intai untuk mengawasi gerbang kalau para barbarian mau menyerang balik ke Falmart. Jika mereka melihat sesuatu, maka terompet akan dibunyikan dan semuanya harus segera membentuk pertahanan.

Pasukan yang tersisa hanya berjumlah sekitar 341 orang (Dengan tambahan beberapa tentara Sadera lokal di desa desa dan kota di Provinsi Alnus). Tentu saja dia bisa setidaknya menahan serangan musuh... iya kan?

Julius mengambil pedangnya dan memperhatikannya dengan teliti.

Pedang miliknya telah membunuh banyak musuh kekaisaran. Para Warrior Bunny, Orc, Vorarlden, Goblin, penyihir, dan lain lain.

Dia tidak akan kalah... tapi kalau para dewa berkata sebaliknya, setidaknya dia akan mati melindungi Sadera dari bangsa asing.

Momen heningnya terhenti saat dia mendengar suara terompet yang nyaring.

... Sudah kuduga. Pikir Julius sebelum dia menghela napas dan memasang wajah serius.

"Semuanya! Bersiap untuk tempur! Para musuh sudah di gerbang!" Teriak Julius sambil mengambil perisai miliknya dan berjalan keluar tenda dan bergabung dengan prajurit lainnya.


Gelombang pertama mempercepat jalan mereka saat mereka melihat cahaya di ujung gerbang.

"Semuanya! Bersiap siaga! Aku mendengar suara terompet, musuh mungkin tahu kita di sini!" Teriak Mayor Jenderal Salim Sujud, komandan dari Divisi Ekspedisi 1 dari Anoa yang dinaikinya.

Prajurit barisan terdepan memegang senapan mereka. Tank-tank jepang yang ada sudah siap untuk menembak.

Disaat pasukan barisan depan menginjakkan kaki mereka di tanah Falmart, mereka disapa dengan setidaknya seratus lebih prajurit.

Legatus Julius dapat melihat apa yang dibicarakan para penyintas dari Pasukan Ekspedisi.

Gajah besi dengan moncong yang lurus, penyihir dengan tongkat hitam aneh, kereta tanpa kuda, dan dia dan pasukannya akan menghadapi semua ini.

"Semuanya! Jangan takut dengan penyihir penyihir ini! Maju!" Perintah Julius.

Perintahnya didengar dan sekitar 300 tentara berlari ke arah mereka dengan teriakan perang.


"Tembak! Hancurkan kavaleri dan infanteri mereka!" Teriak sang Mayjen.

Sontak para prajurit mencari posisi yang bagus dan mulai menembaki para tentara yang berlari ke arah mereka.

Tank Tempur Utama Tipe 90 milik Jepang mulai menghujani para pasukan berkuda yang datang.

Beberapa tank yang tidak beruntung masuk ke perangkap berupa sebuah lubang dengan ranting runcing yang ditutupi dengan dedaunan.

Para tentara tidak bodoh untuk masuk ke perangkap di tempat terbuka seperti ini. Mereka dilatih untuk bisa memperhatikan lingkungan sekitar selagi bertempur.

Sedangkan untuk para kru tank? Visibilitas mereka terbatas, membuat mereka mudah untuk jatuh ke jebakan yang sudah disiapkan tentara tentara Sadera. Tank tank yang dapat menghindari jebakan ini adalah tank yang secara kebetulan tidak melintasi jebakan tersebut atau mereka yang dipandu secara langsung oleh komandan tank melalui lubang palka tank.

"Ute!" Perintah sang komandan peleton tank Jepang.

Lantas, para tank yang masih dapat bergerak bebas menembak pasukan kavaleri berkuda yang datang ke arah mereka.

Batalyon Artileri Singapura yang sudah sampai di tanah Sadera langsung bersiap siaga dan menembak Artileri dan Meriam yang mereka punya. Kebanyakan adalah SLWH Pegasus yang mereka bawa.

Satu demi satu, tentara tentara Sadera yang ada gugur karena hujan peluru dan artileri dari para pasukan Koalisi.

Prajurit yang menaiki sebuah kendaraan langsung turun, siap untuk tempur.

.

"Baiklah. Ari, kau dan aku tinggal di anoa. Aku akan menembaki musuh dengan senapan mesin di anoa dan kau akan mengemudi kalau aku suruh!" Kata Sersan Ketut.

"Ya, pak!" Jawab Ari dengan tegas.

"Sementara yang lainnya, turun ke sana dan bersenang senanglah. Ingatlah untuk tetap terkoneksi melalui radio masing-masing!"

""""""""Siap!"""""""" Teriak 8 orang sebelum memegang senjata masing masing dengan kuat sebelum keluar lewat pintu yang ada di anoa.

Mereka melompat dan menginjakan kaki mereka di tanah orang orang Sadera.

"Baiklah, semuanya ikuti perintahku. Kalau kalian melihat musuh- mau dia manusia atau bukan- datang berlari ke arah kalian, maka kalian tembak mereka sampai mati." Teriak Agus.

"Baiklah. Apa rencanamu, Praka Agus?" Tanya Yanto.

Agus hanya tersenyum dan menarik baut dari senapan serbu miliknya dan melepaskannya lagi, membuat suara 'klik' dari senapannya demi efek dramatis. "Kita akan menggunakan taktik klasik." Katanya sambil menghadap ke arah pasukan Sadera yang tersebar setelah digempur habis habisan oleh infanteri dan artileri.

Agus menarik napas dan menghembuskannya. "Untuk Ibu Pertiwi!" Teriak Agus sambil menembakkan senapannya ke udara. "Ura!" Teriaknya lagi sambil berlari ke arah musuh.

"woy, goblok. Jangan asal lari-" Kata Siti, namun dia terdiam saat dia melihat Udin dan yang lainnya berlari ke arah musuh.

"Ah! Russo bagaimana ini, mereka-" Siti menoleh ke kirinya namun Russo tidak ada di sisinya, Siti melihat lagi ke arah regu yang menyerbu dan menemukan Russo diantara mereka.

"Ah! Ya udahlah!" Kata Siti dengan kesal. "Untuk Ibu Pertiwi!" Teriak Siti sebelum dia berlari dan bergabung dengan yang lainnya.

.

Agus berlari dengan cepat dan hanya melambat untuk bisa menembak musuh yang dia lihat. Dia melihat sebuah tentara berkuda datang ke arahnya dengan ujung tombak di arahkan ke Agus.

Agus melambat dan menembak kuda yang dinaiki prajurit tersebut. Kuda dan penunggangnya jatuh terguling.

Sang penunggang langsung berdiri dari tanah dan berlari ke arah Agus. Agus langsung menembak tentara Sadera tersebut di dada, membuat dia jatuh berlutut. Agus tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan langsung menghabisi musuhnya dengan menembak satu peluru ke kepalanya.

Disaat musuh pertamanya jatuh mati, matanya sempat melihat sebuah kapak datang dari kirinya. Diapun langsung menunduk dan menghindari kapak tersebut.

Agus mengambil beberapa langkah mundur dan melihat penyerangnya, sebuah makhluk hijau dengan tinggi yang hampir sama dengan Agus. Dia sedang melihat sebuah goblin.

Goblin tersebut maju lagi sambil mengangkat kapaknya ke udara dan mengayunkannya ke arah Agus.

Agus menunduk, kepalanya hampir terkena serangan kapak tersebut. Agus membalas dengan menendang kaki kiri sang goblin, membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut.

Agus langsung memukul wajah jeleknya dengan popor senjatanya, membuat si goblin jatuh ke tanah. Agus mengeluarkan rentetan tembakan ke goblin tersebut dan langsung membunuhnya.

Dia menarik keluar magasin senapannya dan menggantinya dengan yang baru. Dia langsung pergi mencari mangsa lain.

.

Udin berlari sejenak sebelum dia berhenti untuk menembak sebuah manusia serigala.

Setelah membunuh si manusia serigala, dia berjalan secara perlahan sambil membidik senapannya ke arah musuh terdekat.

Dia menembak satu prajurit yang berlari ke arahnya, dia menembak seorang manusia babi yang sedang berusaha merangkak pergi dari medan tempur, dan dia menembak satu tentara Sadera lagi yang berusaha berdiri setelah terhempas oleh ledakan artileri.

Ini cukup berbahaya. Serangan artileri bisa mengenai dia dan regunya kapan saja, tapi seorang tentara pemberani adalah tentara yang mengikuti atasannya. Dalam kasus ini, Agus adalah pemimpin sementara dan dia memerintahkan prajuritnya untuk langsung maju, jadi Udin menurut.

Udin mengisi ulang senapannya dengan cepat sambil menghindari serangan tombak dari seorang tentara Sadera.

Setelah senapannya terisi kembali, dia langsung menembak penyerangnya di dada dan membuat musuhnya terjatuh ke belakang.

Udin berhenti sejenak dan melihat sekelilingnya, tentara-tentara dari negara lain juga mulai ikut berlari dan menyerang musuh.

Dari sudut matanya, dia melihat sebuah pedang diayunkan ke arahnya.

Udin langsung menunduk, beberapa rambutnya terpotong dalam proses.

Dia mundur dan melihat seorang tentara yang lebih tinggi beberapa sentimeter darinya. Pakainnya berbeda dari prajurit lainnya, Udin menebak kalau orang ini adalah seorang perwira atau apalah.

"Penyerang! Lawan aku seperti seorang pria! Tidak ada sihir, tidak ada trik, hanya gunakan naluri dan keterampilanmu!" Teriak orang tersebut.

"Dan kau ini siapa? Kau sudah pasti bukan tentara rendahan. Hanya orang terhormat dengan pangkat tinggi yang berteriak seperti kau." Balas Udin dalam bahasa Latin.

Pria tersebut agak sedikit terkejut mengetahui bahwa lawan didepannya mengetahui bahasa yang dia pakai namun berusaha untuk menyembunyikan rasa terkejutnya dan mulai memperkenalkan diri. "Namaku Legatus Julius La Calus, komandan dari pasukan Sadera yang tersisa di bukit Alnus! Aku menantangmu dalam sebuah duel!" Teriaknya dengan lantang.

"Dan kenapa aku?"

"Karena kau adalah tentara berbaju hijau pertama yang aku lihat."

Udin terdiam sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk meletakkan kembali slempang senapannya ke bahu kirinya dan membiarkan senapannya jatuh ke sisi pinggangnya. Udin langsung mengeluarkan pisau sangkur miliknya, membuat sang Legatus mengangkat alisnya.

"Kau akan menggunakan pisau kecil itu?" Tanya Julius dengan bingung.

"Ya, kenapa?"

"Kalau begitu..."

Si Legatus lantas menaruh kembali pedangnya ke sarungnya dan mengeluarkan sebuah belati.

"Kalau kau cukup terhormat untuk menarik tongkat apimu dan malah mengeluarkan pisau, maka aku akan lakukan hal yang sama." Si Legatus menjelaskan alasannya.

Keduanya terdiam sejenak. Suara dari ledakan dan teriakan para prajurit sekilas menghillang.

Julius mengambil napas, menutup matanya, menghembuskan napasnya, lalu membuka matanya lagi. Dia berteriak dan langsung berlari ke arah Udin.

Udin menghindar dari serangan Julius dengan cara menghindar ke kiri. Melihat musuhnya terbuka, Udin langsung memperbaiki langkah kakinya dan mengayunkan pisaunya secara diagonal.

Julius menjadi Legatus bukan hanya karena dia adalah seorang bangsawan, bukan, dia juga punya reflex dan tenaga yang kuat.

Julius mendapatkan kembali keseimbangan dan mengangkat belatinya untuk menangkis serangan Udin.

Tangkisan belati Julius hampir membuat pisau Udin terbang dari tangannya namun beruntung Udin memegang pisaunya dengan kuat.

Kedua senjata mereka bentrok dengan satu sama lain selama 2 detik sebelum keduanya mundur beberapa langkah.

"Kau lumayan juga. Apa pangkatmu?" Tanya Julius.

"Kurasa waktu untuk berbicara dan memuji satu sama lain sedang tidak tersedia saat ini..." Jawab Udin sambil memasang kuda-kudanya.

"Baiklah, maaf kalau begitu."

Julius memasang kuda-kuda defensif, menunggu Udin untuk menyerang. Lantas, Udin berlari dan meluncur ke arah sang Legatus, berusaha untuk menjegal kakinya.

Julius dengan mudah melompat kebelakang, menghindari upaya Udin untuk menjegalnya.

Udin langsung berguling ke kanan dan berdiri lagi namun dia kurang cepat untuk menghindari serangan Julius.

Belati Julius berhasil 'menggaruk' pipi kanan Udin dengan belatinya.

Serangan ini membuat Udin mundur beberapa langkah sambil memegangi pipinya yang berdarah.

Udin tersenyum dengan tangan kanannya memegang pisau dan tangan kirinya memegang pipi kanannya. Julius agak sedikit bingung dengan senyuman Udin.

"Ada apa?" Tanya Julius.

"Tidak ada apa-apa. Hanya saja, sudah lama semenjak aku terluka dalam sebuah pertarungan. Semua ini memberiku nostalgi akan waktu yang sudah berlalu." Kata Udin, masih tersenyum.

Julius balas tersenyum dan tertawa sedikit. "Mungkin kalian tidak se-barbar yang aku kira-"

*DOR-DOR*

Udin terkejut saat mendengar suara tembakan meletus dari belakang sang Legatus.

Julius menyadari rasa sakit di punggungnya dan terjatuh ke tanah.

Udinpun melihat sosok yang menyerang Julius.

Siti, Sitilah yang menembak Julius dengan MAG4 miliknya.

"Tunggu! Siti! Berhenti!" Teriak Udin sambil berlari ke arah Julius.

Siti nampak bingung dan langsung berlari ke Udin.

"Ada apa, Udin?! Dia kan menyerangmu!" Kata Siti.

Udin menghiraukan Siti dan berusaha melihat luka yang diterima Julius.

Udin langsung berdiri dengan wajah cemas. Ini pertama kalinya Siti melihat Udin secemas ini.

"Medis! Kami butuh bantuan! Ada orang jatuh!" Teriak Udin dalam bahasa Inggris.

"Udin, ada apa ini-"

"Bisakah kau diam saja?! Carilah orang lain untuk dibunuh!" Bentak Udin dengan marah.

Siti terkejut dengan apa yang Udin baru saja teriakkan. Udin selalu baik ke Siti, dan ini pertama kalinya Udin membentak Siti.

Udin menyadari apa yang baru saja dia lakukan dan berusaha minta maaf namun Siti sudah berlari pergi, berusaha mencari yang lainnya.

"Hey- Siti! Agh! Sialan!" Udin berteriak dengan kesal, dia tidak seharusnya berteriak ke Siti seperti itu. Diapun memutuskan untuk kembali ke objektif utamanya, membantu Julius.

"Hei! Apa kalian tuli?! Aku butuh petugas medis!" Teriak Udin.

"Kami disini! Kami disini!" Datang suara dari belakang Udin.

Udin berbalik dan melihat dua orang tentara Filipina dengan ban lengan medis. Mereka membawa sebuah tandu usungan di tangan mereka.

"Siapa yang terluka? Kau, tuan?" Tanya salah seorang medis sambil menaruh tandu di tanah.

"Aku ingin orang ini diberi perawatan SEGERA!" Perintah Udin sambil menunjuk ke arah Julius.

Dua tentara medis tersebut melihat ke Julius dengan wajah yang agak sedikit bingung.

"Apa kau yakin, tuan? Dia ini mus-"

"Hei, aku bilang RAWAT DIA." Jawab Udin dengan suara yang mengintimidasi.

"B-baiklah! Akan kami laksanakan!" Kata medis yang berpangkat kopral.

Udin melihat Julius yang setengah sadar diangkat ke atas tandu dan dibawa pergi.

Udin memberi Julius sebuah jempol, berusaha mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Sekarang dia harus fokus ke objektif baru, minta maaf ke Siti.


Russo sedang sibuk memanggul seorang tentara Malaysia yang tertusuk panah di betis dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya memegang pistol miliknya, misalkan seorang tentara musuh menyerang.

Suara tembakan, letusan, dan lain lain sudah mulai mereda. Tapi bukan berarti pertarungan sudah usai.

"Hey, Hey! Ambil dia, kakinya terluka!" Teriak Russo ke seorang tentara medis yang lewat.

Si medis tersebut langsung menghampiri Russo dan mengambil tentara yang terluka dari Russo dan langsung membawanya pergi.

Russo secara tidak sengaja menjatuhkan senapannya di medan pertempuran saat sedang berusaha menolong tentara Malaysia yang tadi dari serangan seorang orc.

Sekarang dia hanya punya 9 peluru di dalam pistol Pindad P2 miliknya.

Dia awalnya bersama Yanto tapi mereka secara tidak sengaja terpisah.

Russo terengah-engah setelah membantu banyak orang. Russo menghabiskan waktu di pertempuran ini dengan membantu membawa yang terluka kembali ke belakang garis terdepan, dia tidak seperti Agus yang malah fokus membunuh semua musuh yang dia lihat. Russo pun merasa seperti masih mendengar tawa gila Agus dari kejauhan. Russo bertaruh kalau Agus pasti sudah membunuh lebih dari 10 orang sekarang.

Russo berjalan perlahan sambil melihat lihat tubuh dari tentara-tentara yang sudah jatuh mati, namun tidak ada SS2 V5 di antara mayat mayat tersebut.

Russo kemudian mendengar suara pergerakan di sisi kirinya. Dia menoleh ke kiri dan melihat seorang tentara Sadera bangkit dari sebuah tumpukan mayat.

Wajahnya berdarah-darah begitu juga tangannya. Dia memegang sebuah pedang (yang mana juga penuh darah) di tangannya.

Dia melihat Russo dengan tatapan yang menunjukan kemarahan.

Dia berteriak dan langsung berlari ke arah Russo.

Russo sangat fokus mencari senapannya yang hilang sampai sampai dia menembak tentara musuh yang menyerangnya tepat di dada tanpa harus melihat musuhnya. Mata Russo malah terkunci pada mayat mayat dan senjata senjata yang berserakan.

Sebagian besar senjata yang dia temukan adalah senjata senjata jarak dekat atau busur panah, hampir tidak ada senapan atau senjata modern sama sekali. Kalaupun ada, senapan tersebut bukanlah SS2 V5 Indonesia.

"Hei, pemalas. Nyari ini?" Suara familiar terdengar dari belakang Russo.

Russo membalikkan badannya dan melihat Sersan Ketut ditemani oleh Kopral Ari. Di tangan Sersan Ketut, adalah sebuah senapan SS2 V5.

Sang Sersan kemudian melempar senapan serbu tersebut ke Russo yang mana dia tangkap dengan tangan kanannya.

"Terima kasih, Sersan." Russo berterima kasih.

"Lain kali jangan sampai hilang. Satu senapan itu lebih mahal dari seluruh gajimu." Bentak Ketut.

"Ya, pak. Tidak akan terjadi lagi."

"Ya, semoga saja begitu."

"Sersan lihat Yanto?"

"Yanto kena pentung di kepala, tapi selain itu dia baik baik saja. Dia sekarang sedang diperiksa lebih lanjut kalau misalkan dia punya cedera otak atau semacamnya."

Penjelasan Ketut membuat Russo bernapas lega.

"Bagaimana dengan Udin dan Siti?" Russo bertanya lagi.

"Belum dengar apapun. Tapi yang pasti adalah Agus dan yang lain sedang menjadi MVP di tempat lain." Canda ketut.

Semuanya sunyi untuk beberapa saat sebelum Ari mulai bicara.

"Oh, nampaknya gelombang kedua sudah datang." Kata Ari sambil menyipitkan matanya ke arah gerbang.

Russo dan Ketut melakukan hal yang sama dan melihat banyak tentara dan kendaraan sudah tiba di Falmart.

"Yah, nampaknya aku harus pergi sekarang. Aku ingin bicara dengan Letnan Itami. Jangan hilangkan senapan itu lagi!" Kata sang Sersan sebelum dia dan Ari berjalan kembali ke gerbang.

Sekarang, Russo harus memastikan bahwa Udin dan yang lainnya baik baik saja.

Hari ini memang sangat melelahkan.


Di sebuah jalan.

Ludo dan Rosalind sedang berjalan di jalan yang katanya mengarah ke Italica.

Awalnya mereka mendapat sebuah tumpangan dari seorang pedagang berkat seorang wanita tua yang dengan baik hati mau membayar perjalanan mereka. Namun setelah satu hari berkendara, sang pedagang meminta Ludo dan Rosalind untuk membayar lebih. Karena tidak punya cukup uang, mereka pun dipaksa berjalan kaki.

"haa, kakak, kapan kita akan sampai? Kita sudah berjalan selama dua hari penuh. Aku lelah!" Rosalind merengek.

"Tenanglah, aku yakin kita akan sampai." Ludo mencoba meyakinkannya.

"Tapi kau juga bilang begitu kemarin!"

"Aku yakin kita akan sampai sebentar lagi. Kalau pejalan kaki yang kita temui kemarin mengatakan hal sebenarnya, maka kita akan sampai di Italica sekitar 1 jam lagi."

"Satu jam lagi?! Aku tidak sanggup, kak! Teganya kau menyiksaku seperti ini."

"Eh? Kok malah aku yang salah? Kan yang mau ikut kamu."

"Haa, gendong aku dong kalau begitu."

"Nggak ah, kau itu sudah besar. Lagipula, aku yang membawa semua persediaan air kita. Akulah yang seharusnya menderita."

Keduanya terus berjalan di bawah terik matahari.

Oh, Flare yang agung. Tolong jangan buat mataharimu membunuh kami Ludo berdoa dalam pikirannya.

Ludo menundukan kepalanya, berusaha menghindarkan wajahnya dari sinar matahari yang mematikan.

"hwoh! Kakak! Kakak, lihat!" Teriak Rosalind histeris sambil menarik pergelangan tangan saudaranya.

"Ada apa?" Kata Ludo sambil mengangkat kepalanya. Matanya terbuka lebar saat dia melihat dinding besar, itu adalah dinding Italica.

Ludo mendengar saudarinya menangis dengan bahagia. Ludo tersenyum lebar sambil melihat pemandangan dinding besar yang megah itu.

"Apa yang kau tunggu kak?! Ayo pergi!" Teriak Rosalind dengan bahagia sebelum dia langsung berlari ke arah gerbang Italica.

"Hey, tunggu dulu! Jangan langsung- agh!" Ludo menggerutu dan berlari mengejar saudarinya.

Ini dia, sebentar lagi hidup kita berdua tidak akan susah lagi! Pikir Ludo dengan penuh semangat.


"..ditunda?" Tanya Ludo ke seorang pedagang yang ada didekat gerbang.

"Yap, benar. Lomba makannya ditunda sampai...ehm...sampai Kepala Klan Formal kembali dari perjalanannya menyusuri dunia dibalik gerbang." Jelas sang pedagang.

Rosalind dan Ludo langsung membatu seketika.

Ekspresi wajah Rosalind perlahan-lahan berubah menjadi ekspresi penuh kesedihan. Air mata mengalir keluar dari matanya. Kali ini, Rosalind menangis karena sedih...

Ludo jatuh ke lututnya dengan ekspresi wajah yang masih sama, terkejut. Dia memegang kepalanya dan menarik rambutnya.

""TIDAK!"" Mereka berdua berteriak, membuat orang orang di sekitar kebingungan.


Entah dimana...

Di pepohonan-pepohonan, dua orang sedang berusaha sebisa mungkin untuk mencari sebuah peradaban. Mereka adalah Tom dan Hans. Disaat pertama kali tiba di Alnus, mereka beruntung bisa menghindari pasukan Sadera yang sedang berjaga. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan bantuan keberuntungan.

Beberapa hari terakhir tidak terlalu bagus untuk mereka.

Dua hari yang lalu, mereka diserang sekelompok bandit. Hans berhasil membunuh pemimpin mereka dan dua bandit lainnya. Sisanya lari ketakutan setelah melihat 'kesaktian' senjata yang Hans bawa. Di saat itu juga Tom menyesal untuk tidak membawa sebuah senjata api.

"He-hey, Tom. Kau yakin akan ada sebuah kota atau pedesaan sekitar sini? Kita sudah berjalan selama enam hari dan kita belum menemukan apa apa." Kata Hans yang sudah mulai hilang keyakinan.

"Tenanglah, aku positif kita akan menemukan sebuah desa yang tidak ada tentara didalamnya." Kata Tom yang berusaha meyakinkan Hans.

"Tapi kau juga bilang begitu kemarin!" Teriak Hans yang kesal.

"Tolong percaya padaku, semuanya akan baik baik saja."

"Kau tahu apa yang terjadi kepada orang yang mengatakan bahwa 'semuanya akan baik baik saja'? Mereka menderita!"

"Terserahlah, kau bisa pergi mencari peradaban sendiri kalau kau mau. Oh, dan aku sudah kubilang padamu untuk memanggilku Tommy."

"Tapi- aku- kita- agh!" Hans menarik rambutnya dengan penuh amarah. "Gottverdamnt, Tom! Ich kann es nicht mehr ertragen!"

"Sei einfach still und folge mir!" Teriak Tommy dalam bahasa Jerman, yang mana mengejutkan Hans.

"Kau bisa bahasa Jerman?" Tanya Hans, agak sedikit terkejut.

Tommy diam sebentar sebelum dia menghela napas. "Ja." Jawabnya. "Aku juga bisa bahasa Italia, Jepang, Indonesia, Spanyol, Latin, Arab, Tagalog, dan Melayu." Sambungnya.

Hans hanya berkedip. "Kau...bisa berbicara dalam semua bahasa itu?" Tanya Hans yang nampak takjub.

"Oo." Tommy bilang 'iya' dalam bahasa Tagalog.

Tanpa mereka sadari mereka telah keluar dari pepohonan dan sedang berdiri di sebuah lapangan rumput yang luas.

Yang mengejutkan adalah mereka melihat sebuah dinding besar. Yang mereka lihat pasti adalah dinding sebuah kota.

"Tom, aku tidak sedang berkhayal, kan?" Tanya Hans.

Tommy menggelengkan kepalanya perlahan, masih tidak percaya akan apa yang dia lihat. Tommy tersenyum dan menaruh tangannya di pinggulnya.

"Sudah kubilang untuk percaya padaku-" Tommy berhenti bicara saat Hans berlari dengan sangat kencang ke arah kota tersebut sambil tertawa dengan penuh kesenangan. Tommy hanya tertawa melihat temannya...teman.

Tommy sudah lama tidak punya teman...Mungkin ini semua bisa menjadi awal yang baru bagi Tommy.

Dia pun berlari mengejar temannya yang sudah sangat jauh didepan.


Istana Kekaisaran Utama.

Kaisar Molt sedang duduk di takhta miliknya, menunggu laporan dari garnisun di Alnus yang sedang menahan serangan bangsa asing.

Kaisar Molt agak sedikit tidak sabaran untuk menerima laporan dari mereka. Pasukan Ekspedisi 1 telah dikalahkan dan dia ingin tahu bagaimana para pasukan asing melakukannya. Dia sudah mendengar soal 'penyihir', 'gajah besi', dan 'burung abu-abu' yang ada di balik gerbang, tapi tidak mungkin mereka bisa mengalahkan Pasukan Ekspedisi 1 hanya dalam waktu satu hari.

Garnisun di Alnus harus bisa menghalau musuh dari menginjakan kaki mereka di Alnus lebih lama.

Tiba tiba saja, pintu ke ruang takhta terbuka dan menunjukan bahwa pelayan terpercaya Kaisar Molt, Marcus datang dengan sebuah gulungan kertas di tangannya.

Dia berjalan masuk dan membungkuk di hadapan sang kaisar sebelum dia kembali berdiri tegak.

"Yang Mulia Kaisar Molt, aku telah mendapat pesan dari Raja Duran bahwa Pasukan Aliansi mulai memobilisasi diri dan siap untuk pergi ke bukit Alnus dalam kurun waktu 1 minggu." Ucap Marcus sambil memberikan gulungan kertas tersebut.

Molt membaca pesan yang ada di kertas tersebut untuk beberapa saat sebelum dia menganggukan kepalanya dengan kepuasan.

"Bagaimana dengan laporan dari Garnisun Alnus? Laporan tersebut harusnya tiba pagi ini." Tanya sang Kaisar kepada pelayannya.

"Sayangnya belum ada apapun, Yang Mulia." Jawab Marcus.

"...Baiklah, terima kasih untuk berita ini, Marcus."

"Sama sama, Yang Mulia." Kata Marcus sembari membungkuk sebelum dia pergi keluar ruangan takhta, meninggalkan Molt sendiri dengan pikirannya.

Pasukan Aliansi dan negara negara bawahan Sadera lainnya telah mulai...memberontak sedikit. Akan lebih baik untuk mengurangi jumlah pasukan mereka dan melemahkan mereka. Dengan begitu, Sadera tetap bisa menjadi kekuatan besar. Pikir sang kaisar.

Semoga saja keputusannya tidak membawa bencana bagi Sadera dan warganya.

bersambung...


AN: Hai, maaf karena sudah lama tidak aktif.

Aku berusaha menulis chapter yang satu ini secepat mungkin jadi akan ada beberapa eror dalam penulisan.

Jadi, yah. Begitu saja. Sampai jumpa!