Suatu sore di ruang tengah sebuah rumah, ada seorang lelaki yang tengah merebahkan dirinya di sebuah sofa. Netra ruby-nya fokus menatap ke layar televisi di depannya. Menonton acara kesukaannya dengan khidmat.

"Bang, minggir dong."

Suara cempreng itu menyapa indra pendengarannya. Memintanya untuk menyisihkan tempat agar si pemilik suara itu bisa duduk.

Lelaki itu menoleh. Kemudian bangkit dari posisi rebahannya yang memakan tempat, mempersilahkannya duduk di sampingnya. "Tumben Fang, biasanya nggak suka ikut nonton."

"Lagi gabut, Bang. Sekali-kali ikut nonton. Lagian juga drama yang Bang Kaizo tonton keliatannya seru," balasnya, lalu menaruh sebuah piring berisikan biskuit dengan isian vanilla di atas meja.

Lelaki bernama Kaizo melirik biskuit tersebut. Tidak biasanya Fang membawakan kudapan untuk disantap bersama.

Namun, kecurigaannya tidak bertahan lama. "Abang minta satu ya."

"Iya ambil aja, Bang," sahut Fang mengizinkannya tanpa menoleh sedikit pun dari layar televisi.

Kaizo mengambil satu. Kemudian, memasukannya ke dalam mulut.

Mulanya ia mengecap rasa manis biskuit yang lezat. Namun, semakin dikunyah rasanya malah semakin aneh. Bukannya merasakan isian vanillanya, ia malah mendapatkan sensasi dingin mint yang seharusnya tidak ada.

"FANG ASEM BISKUITNYA DIKASIH ODOL!" pekik nya sambil melepeh biskuit itu ke tisu.

Yang dipanggil malah tertawa terbahak-bahak. Biadab memang, pasalnya Fang mengganti isian vanilla tersebut dengan pasta gigi.

Sebelum Kaizo selesai membersihkan mulutnya, Fang langsung ambil langkah seribu seraya tertawa nista atas penderitaan Kakaknya itu. "KABUUR."

"AWAS KAU FANG!" Kaizo pun mengejar mengejar adiknya yang kurang ajar itu.