"Geed!" Seru Iruma lantang sembari memperagakan adegan berubah Ultraman Geed menggunakan mainan DX Riser miliknya yang baru sampai. Dengan datangnya Riser, maka kini semua koleksi Ultra Capsule dan Monster Capsule yang telah terlebih dahulu dia kumpulkan akhirnya ada artinya.

"Aku coba yang lain ah..." Ucapnya sambil melepas Ultra Capsule Ultraman dan Ultraman Belial yang terpasang pada Loading Knuckle lalu meletakkannya dia atas meja. Kali ini pandangannya tertuju pada sepasang monster Capsule Dark Lugiel dan Alien Empera. Dia berniat mencoba kedua capsule itu dan mengaktifkan kombinasi Belial Atrocius.

"Alien Empera!"

"Dark Lugiel!"

"Demonic Fusion Unleash!"

.

.

.

00oo-oo00

FUSION RISE IN ANOTHER WORLD

-Chapter 0-

00oo-oo00

.

.

.

Anak laki-laki berambut hitam itu terus berjalan menapaki hamparan rumput nan luas menuju tempat tinggalnya yang jauh dari desa. Kakinya yang kumuh dan penuh luka itu dia paksakan menyusuri rerumputan agar sampai ke pondok kecil yang selama ini dia sebut sebagai rumah. Matanya menatap kosong, tak ada semangat hidup. Sementara bibir yang kering itu terus meracau tanpa henti.

Dia tak tahu bagaimana dia bisa berakhir di dunia ini. Tapi dia masih ingat apa yang terjadi di hari itu. 15 tahun yang lalu saat dia asik bermain dengan mainannya yang baru sampai setelah sebulan lamanya dia pesan, Tiba-tiba saja sirine tanda bahaya menggema di setiap penjuru kota. Tak sampai satu menit kemudian, sebuah ledakan besar terjadi dan menelan seisi kota ke dalamnya. Begitu juga dirinya.

Harusnya dia sudah tiada. Tapi tiba-tiba saja dia terbangun didunia ini, terlahir kembali sebagai seorang anak yatim piatu yang kemudian diadopsi oleh sepasang suami istri yang hidup bahagia. Dengan ayah seorang manusia laki-laki dan ibu seorang elf nan cantik. Dia menjalani kehidupan barunya dengan penuh keceriaan setiap harinya sebagai seorang anak dengan nama Ren.

Tapi pada hari itu semua berubah. Dimana sekelompok pasukan Kerajaan Metarion dibawah komando seorang jendral bernama Ksatria Suci Avalon datang ke kediaman mereka. Avalon menuduh ayahnya sebagai pengkhianat karena menikahi seorang elf dan tanpa ampun menyiksa sang ayah sampai mati. Avalon juga mencoba membunuh dirinya dengan cara meminumkan racun secara paksa padanya atas alasan dia adalah anak terkutuk karena diduga terlahir dari rahim seorang elf. Mereka mengira dirinya adalah anak kandung kedua suami istri itu.

Saat itu sang ibu mencoba menyelamatkannya dari kekejaman Avalon, namun itu adalah pilihan yang sangat salah. Dengan kasarnya pria yang menyebut dirinya ksatria suci itu memukul sang ibu hingga tergeletak di tanah. Para manusia keji itu memperkosanya lalu mencekiknya hingga tewas lalu mengikatkan tubuhnya pada tubuh Ren yang tak berdaya. Tak cukup sampai disana, Avalon beserta anak buahnya menutup semua itu di rumah itu lalu membakar rumah itu dari luar, sementara Ren dan sang ibu terikat di dalam.

Hatinya hancur melihat kekejaman mereka. Air matanya tak henti-henti mengalir membasahi pipinya. Dia tak menyangka kehidupannya di dunia baru yang begitu bahagia akan hancur dengan cara yang sangat tragis seperti itu. Dia melolong meminta tolong. Namun semua tak ada artinya. Yang bisa dia dengar hanyalah suara tawa dari Avalon dan anak buahnya di luar sana.

Pagi harinya api pun padam dan Avalon sudah kembali ke kerajaan asalnya. Ajaibnya Ren selamat dari kobaran api yang menghanguskan rumahnya dengan luka parah yang membakar hampir seluruh bagian tubuhnya. Sementara mayat ibu dan ayahnya sudah hangus terbakar. Dia menangis seharian hingga tak ada lagi air mata yang keluar dari matanya.

Penderitaan Ren tak hanya sampai disana. Tanpa kedua orang tua Ren terpaksa mencari pekerjaan untuk bertahan hidup, namun statusnya sebagai anak dari seorang elf membuatnya sulit diterima oleh orang-orang. Hampir semua orang menolaknya bekerja, bahkan meski hanya sebagai pembantu.

Sampai kemudian dia bertemu seorang nenek tua yang baik hati dan mempekerjakannya di toko miliknya. Dia diberi makanan dan tempat tinggal. Bahkan tubuhnya yang kumal dan bau tak dipermasalahkan oleh nenek tua itu. Dia benar-benar merasa beruntung bisa bertemu dengan sang nenek.

Namun semua itu nyatanya terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Malamnya dia dibius lalu dijual ke pedagang budak oleh si nenek. Disana hidupnya pun kembali menderita. Seolah tak punya harga diri, dia dijadikan mainan oleh majikan barunya yang tak lain seorang bangsawan penting di kerajaan. Dia benar-benar hari dia dicambuk, dia pukuli, tubuhnya ditendang bahkan dipermalukan demi kesenangan mereka. Perlahan dendam dan amarah yang sempat terlupakan olehnya kembali meluap-luap. Kebenciannya meledak-ledak. Dia mengamuk sejadi-jadinya.

Entah bagaimana caranya, malam itu dia membantai habis seisi anggota bangsawan itu. Tak satupun ada yang selamat darinya. Bahkan anak sang bangsawan yang masih berumur 8 bulan dia injak-injak sampai tewas. Dia merasa ada yang berbeda dengannya di kala itu. Dendamnya terbalaskan. Tapi itu belum cukup. Dia kembali menemui si nenek yang telah menjual dirinya lalu menggorok leher wanita tua itu dengan pecahan botol yang tidak terlalu tajam. Setelah itu dia seret mayatnya ke aula kota.

Akibat dari tindakannya itu, dia pun ditangkap dan dijebloskan ke penjara. 3 hari lamanya dia dikurung hingga akhirnya dia berhasil melarikan diri sebelum dirinya dieksekusi mati dihadapan publik.

Kini kehidupannya sudah kembali tenang di sebuah kota di perbatasan kerajaan. Dia punya rumah yang ditinggal oleh kawanan bandit. Dia juga punya makanan dan pekerjaan sebagai seorang pemburu. Meski begitu, dendam lamanya tak akan pernah hilang. Dan demi membalaskan dendamnya, dia mengubah namanya menjadi nama yang sangat familiar baginya. "Iruma Ishibori". Nama aslinya di dunia asalnya.

Namun sejak malam itu, sikap Iruma berubah. Dia menjadi pribadi yang kejam dan kasar. Tak ada yang keluar dari mulutnya selain cacian dan hinaan. Dia menyadari perubahan yang terjadi pada dirinya. Tapi dia sendiri tak tahu apa penyebabnya.

Hingga pada suatu hari akhirnya dia menyadari apa yang berbeda darinya. Penyebab dari perubahan tingkah lakunya dan keganasannya malam itu. Semuanya menjadi jelas ketika dia diserang oleh sebuah kawanan Manticore raksasa dan hampir mati, punggung tangannya tiba-tiba bercahaya. Dari sana muncul Riser, Loading Knuckle juga Kaiju Capsule Dark Lugiel dan Alien Empera.

Dengan sendirinya kedua capsule itu aktif, terpasang pada loading Knuckle, dan dipindai oleh Riser. Kemudian, benda-benda itu bercahaya lalu masuk ke tubuh Iruma. Anak itu pun bertransformasi menjadi Ultraman Belial Atrocius dan mengamuk membunuh semua Manticore yang menyerangnya. Dia baru saja membangkitkan kekuatan yang sudah sangat lama terpendam dalam dirinya. Sebuah 'cheat' yang dia dapat karena terkirim ke dunia ini. Sebuah kekuatan yang bisa saja membuatnya menjadi penguasa di dunia ini jika dia mau. Kekuatan yang bahkan mampu melampaui dewa!

...

..

.

"Ultraman!" Iruma mengaktifkan Ultra Capsule milik Ultraman. 'Swach!' Suara menggema dari capsule itu. Berkatnya, dia mampu menembakkan Spesium Kousen dari tangannya pada Ogre besar yang ada dihadapannya. Mendapat serangan yang luar biasa seperti itu, sang Ogre pun langsung hancur berkeping-keping. Sementara drop itemnya berjatuhan.

"Jadi begitu ya..." gumamnya. Iruma sedang berlatih mengendalikan kekuatan yang dia miliki. Langit yang gelap dan angin dingin menusuk tulang tak dia hiraukan. Semangatnya sudah mantap ingin menjadi lebih kuat.

Dia sudah mulai mengerti cara kerja kekuatannya ini sekarang. Semua Ultra Capsule dan Kaiju Capsule yang dulu dia miliki tertanam di dalam tubuhnya. Dia bisa mengaktifkan Capsule manapun sesuka hatinya dan menggunakan kekuatan dari Ultra/Kaiju dari capsule tersebut. Dia juga bisa memanggil Riser yang secara ajaib akan muncul dihadapannya bersama loading knuckle dan menggunakannya baik untuk Fusion Rise ataupun sekedar memanggil kaiju.

Dengan kekuatannya yang sekarang, harusnya dia bisa dengan mudah menghancurkan seisi kerajaan ini, membalaskan dendamnya, atau menjadi penguasa yang tak terkalahkan. Tapi entah kenapa semua hasrat duniawi itu seakan memudar ketika kekuatan miliknya bangkit, selain dendam yang sudah dia ukir dalam di jiwanya. Sifatnya juga semakin bertambah kejam dan kasar, meskipun kadang dia sadar dan langsung memperbaiki sikapnya. Mungkin efek samping dari Kaiju Capsule dan Ultra Capsule yang tertanam dalam tubuhnya. Dia agak takut membayangkannya. Dia tak mau sampai berakhir seperti Belial.

Dia mengeluarkan selembar kertas dari saku celananya. Sebuah kertas misi. "Jantung Ogre ya...permintaan yang aneh..." Katanya.

Selain berburu, Iruma memanfaatkan kekuatannya untuk menjadi seorang petualang. Sesekali dia merampok dari para bangsawan ketika 'tabiat Belial'nya bangkit. Tapi meski begitu, saat ini dia hanya bisa mengandalkan kekuatan capsule yang dia miliki. Dia tak punya ilmu beladiri apapun sehingga gaya bertarungnya pun benar-benar amatiran. Memegang pedang saja mungkin dia akan kesulitan. "Mungkin aku harus cari guru untuk mengajariku." Gumam anak itu.

'GRAAA'

Saat Iruma sedang sibuk bermenung, sebuah Ogre besar lainnya datang. Dari tempat ogre itu berpijak keluar semacam lingkaran sihir yang berarti makhluk itu sedang merapal mantera. Anak itu pun tak tinggal diam. Dari dalam telapak tangan kirinya dia munculkan sebuah Kaiju Capsule bergambar Zetton dan langsung dia aktifkan.

Sang monster menembakkan kilatan petir berwarna ungu dari tangannya. Disisi lain sebuah dinding energi muncul melindungi Iruma dari serangan itu. Dia pun membalas dengan memposisikan kedua tangannya di depan dada. Dia menciptakan bola api lalu menembakkannya pada si Ogre hingga monster itu hangus terbakar dibuatnya. "Ah gawat. Aku kan harus mengambil jantungnya...duh jadi gosong gini...Lagipula orang bodoh macam apa yang mau jantung ogre!?" Dia meracau sendiri. Kemudian dia mulai tenang "...ya...aku tahu...orang bodoh yang memberiku pekerjaan ini..."

"Baiklah sampai dimana aku tadi?" Kata Iruma seraya kembali melihat kertas misinya. "3 Buah jantung Ogre. Aku sudah dapat dua. Dan aku yakin mereka tak akan mau menerima jantung ogre yang sudah hangus. Merepotkan sekali. Aku lebih suka misi pembasmian daripada mengumpulkan material begini."

"Awas ada Ogre!" Seru seseorang entah dari mana.

Seperti yang dikatakan oleh orang itu, ada satu lagi Ogre menyerang Iruma secara tiba-tiba. Makhluk itu melayangkan gada besar miliknya pada Iruma. Namun berkat kekuatan Zetton, dalam sekejap Iruma menghilang dan tahu-tahu sudah ada di belakang monster itu. Dia posisikan kedua tangannya di depan dada seperti sebelumnya lalu dia tembakkan bola api. Tapi kali ini hanya mengenai kepala monster itu saja sehingga dia masih bisa mengambil jantungnya. "Jackpot!" Teriak anak itu kegirangan.

Dia teringat dengan suara yang menyoraki dia tadi. "Siapa disana!?" Ancam anak itu. "Berhentilah bersembunyi, pengecut sialan. Jika tidak akan aku tembakkan bola api yang sama padamu!"

"T-Tunggu! Aku kan sudah menyelamatkan nyawamu tadi!" Dari balik bongkahan batu besar, keluar seorang anak perempuan berambut merah bergaya kuci kuda yang tak dia kenali. Perawakannya serupa dengan Lilith Asami dari seri Trinity Seven, hanya warna rambutnya merah sirah dengan side hair yang berwarna hitam. Dia juga mengenakan armor ksatria lengkap dengan pedang gagah miliknya. Dilihat dari outfit yang dia kenakan, sudah pasti gadis ini anggota keluarga bangsawan. "Namaku Naya Virbella. Aku kesini bukan dengan niat jahat kok."

"Cih. Bantuanmu? Kau menghina ku, pecundang siala..." Balas anak itu dengan nada tinggi. Tapi kemudian dia sadar. Nampaknya sifat belial sudah kembali mengambil alih dirinya. "Agh...maaf aku sudah bicara kasar padamu. Aku tidak bermaksud seperti itu..."

"Ng? Kau tiba-tiba jadi lembut begini, padahal sebelumnya tatapan matamu saja sudah menakutkan."

"Yah...punya dua kepribadian itu memang tidak menyenangkan..." Kata Iruma sambil garuk-garuk kepala. "Lalu kenapa kau membuntutiku? Ku pikir kau mau menyerangku dari belakang dan menjarah semua barang milikku. Lagipula, apa yang dilakukan oleh seorang wanita bangsawan disini? Apalagi mau hujan begini?"

"Tidakkah akan lebih baik kau tidur diranjangmu dan mimik susu, anak manja!?"

"Maaf! Maaf! Aku benar-benar tak bisa mengendalikan sisi jahatku! Aku mohon jangan dimasukkan ke dalam hati! Semuanya secara spontan keluar dari mulutku!" Iruma meminta maaf.

"Kau benar-benar aneh ya. Aku merasa seperti sedang dipermainkan olehnmu." Kata Naya curiga. "Itu...Aku kesini hanya untuk mencari bebeberapa material untuk meningkatkan pedangku. Kebetulan saja aku melihatmu."

"Aku saja merasa dipermainkan oleh diriku sendiri."

"Tapi memang benar sih, mendadak aura mu menjadi gelap dan menakutkan. Lalu kembali tenang seperti sebelumnya. Apa yang sebenarnya terjadi padamu?"

"Agak susah untuk dijelaskan. Singkatnya anggap saja aku diberkahi kekuatan oleh dewa dan raja iblis di saat yang bersamaan." Merujuk pada Ultraman Noa, Ultraman King bersama Ultraman lainnya sebagai dewa dan juga Ultraman Belial bersama para Kaiju sebagai iblis.

Naya masih menjaga jarak dengan Iruma. Sepertinya dia kelihatan ketakutan. "A-Anu... maaf jika aku lancang, tapi apa yang terjadi pada tubuhmu?"

"Maksudmu luka bakar hampir di setengah tubuhku ini?" Iruma balik bertanya. Gadis itu mengangguk. Anak itu sedikit menahan emosi sebelum mulai bicara. "Kau tahu Avalon?"

Naya mengangguk.

"Dia lah penyebabnya." Kata Iruma lagi.

Bagai tersambar petir, Naya kaget bukan main. "A-Apa maksudmu!? Ksatria suci Avalon melakukan ini!? Itu tidak mungkin kan?"

"Suci dimata kalian para manusia menyedihkan yang bahkan rela menjilati ludahnya sendiri. Tapi kenyataannya tidak." Anak mulai bercerita. "Saat aku kecil, dia bersama beberapa orang anak buahnya mendatangi rumah kami. Dia membunuh ayahku, meracuniku, memperkosa ibu ku lalu mencekiknya sampai mati. Dia juga mengikat mayat ibuku padaku dan mengunci kami bertiga di dalam rumah. Tak puas sampai disana, bajingan itu membakar rumah kami bersama aku dan mayat kedua orang tuaku di dalamnya. Alasannya tak lain hanyalah karena ibuku yang merupakan seorang elf. Mungkin aku hanya anak pungut, tapi dia tetap ibuku. Dan itu benar-benar membuat batinku hancur."

"Itu...mustahil..." Naya terduduk lemas, menganga tak percaya mendengar kisah Iruma barusan. "Avalon...dia..."

"Nyatanya bukan hanya aku yang bernasib demikian. Bukan hanya keluarga kami yang menjadi keganasannya. Dia membantai keluarga manapun yang punya hubungan dengan ras selain manusia, baik itu elf, dwarf ataupun demi-human. Kau bisa pergi ke kota Dein, tempat dimana aku tinggal sekarang. Mayoritas penghuni kota adalah korban kekejaman si bangsat Avalon itu."

"Wajar jika kau menganggap ceritaku ini sebagai tuduhan yang tak berdasar. Bahkan kau mungkin akan membelanya dan menyebutku pembohong. Tapi ada satu hal yang harus kau ingat. Begitu aku menemukannya, aku akan langsung menghabisi pengecut rendahan yang lebih rendah dari babi jalang itu. Tidak. Aku akan buat dia menderita. Akan ku buat hidupnya hancur. Akan aku lenyapkan semua kebahagiaan dari dalam hidupnya. Akan aku potong kedua kaki dan tangannya, ku bunuh seluruh anggota keluarganya, akan aku habisi semua yang dia cintai. Dan ku buat dia menghabiskan sisa hidupnya dalam penderitaan abadi!"

Saat itu sifat belialnya kembali bangkit. Besarnya emosi yang meluap membuat aura hitam mengerikan menyebar dari tubuhnya. Hal ini tentunya membuat Naya ketakutan. Untungnya anak itu cepat sadar.

PLAAK

Iruma menampar wajahnya sendiri. "Maaf, lagi-lagi aku hilang kendali." Katanya. "Kau tahu, kalau aku mendadak seperti itu lagi, kau tampar atau pukul saja wajahku. Itu selalu bisa menyadarkanku. Walaupun secara paksa."

Naya tampak murung. Sepertinya perkataan Iruma barusan telah melukai perasaannya. Mungkin karena Avalaon adalah orang yang penting baginya. Mungkin seorang idola yang selalu dia banggakan. Dia terlalu naif. Fanatik lebih tepatnya. Setelah mendengar cerita Iruma barusan, pastilah dia sangat tertekan.

Iruma hanya bisa menghela nafas panjang. "Sampai kau tertekan seperti ini. Kau pasti sangat mengidolakannya ya?" Tanya anak itu. "Aku akan menyebutmu naif, tapi mungkin fanatik juga bukan kata yang buruk."

Naya masih belum merespon. Dia terdiam sebentar. "Ini...tidak mungkin kan?"

"Kau sepertinya begitu mempercayainya ya? Apa hubungannya denganmu? Apa kau hanya semacam pengagum yang cinta mati pada iblis itu?"

Naya menggeleng. Dia terlihat takut. Dia ingin segera lari dari sana tapi tubuhnya tak bisa bergerak. Seolah ada rasa bersalah yang luar biasa telah menghimpit badannya. Tubuhnya gemetaran.

"Jangan bilang kalau kau..."

Naya memalingkan wajahnya. Gadis itu seperti sedang meringis menahan sakit. Dia menangis. "aku...aku anaknya...Aku putri Avalon Virbella... Maaf..." Tangisnya tertahan.

Hujan turun dengan lebatnya membasahi bumi. Baik Naya dan iruma tak beranjak dari tempat mereka berdiri. Iruma yang terkejut sementara Naya terus menangis. "maaf...maaf...Maafkan aku..." Ucapnya dalam tangisnya. Dia bersujud pada kaki Iruma. "Maaf..."

.

.

.

"Kau...Harus membayarnya!"