"Kenapa? Kenapa kau tidak menghabisiku!? Aku adalah anak dari laki-laki yang sudah merenggut kebahagiaanmu! Kenapa!?"
"...Karena kau...bukanlah Avalon." Jawab Iruma. Dia sadar kini amarahnya bergejolak. Kabut hitam menyebar dari tubuhnya ditengah derasnya hujan tanda kebenciannya sudah memuncak. Dia harus membalaskan dendamnya. Pria itu telah merenggut kebahagiaannya. Maka dengan mencelakai putrinya ini, dia bisa membalas Avalon dengan merenggut kebahagiaannya. Sebuah harga yang pantas untuk keadilan yang sudah seharusnya dia dapatkan.
Tapi dia tak sanggup. Mungkin karena jiwa para prajurit cahaya juga bersemayam di dalam dirinya. Baginya itu salah. "Kau memanglah anak dari pria yang sangat aku benci itu. Tapi kau bukanlah dia. Bukan kau yang membunuh ayahku. Bukan kau yang membunuh ibuku. Jika aku membunuhmu, lalu apa bedanya aku dengan dia. Aku membencimu, tapi bukan pada dirimu aku harus membalaskan dendamku. Tidak. Aku tidak sehina itu. Avalon Virbella bukan? Dialah yang harus membayarnya."
Kabut hitam gelap muncul menyelimuti tubuhnya. Sisi Belialnya kembali bangkit. Matanya merah menyala. Dengan sendirinya dua buah Capsule hitam muncul beserta Riser dan Loading Knuckle. Kedua capsule itu aktif lalu terpasang pada Loading Knuckle dan dipindai oleh Riser sebelum kemudian masuk ke tubuh Iruha. [Demonic Fusion Unleashed].
Anak itu berubah menjadi monster humanoid mengerikan dengan tubuh hitam legam dengan beberapa bagian berwarna putih. Kepala putih dengan tanduk dan mulut yang menyeramkan, ditambah mata merah nan tak kalah menakutkan. Bagaikan iblis. Belial Atrocius, dalam ukuran seorang laki-laki dewasa. Untuk pertama kalinya, Iruma berhasil mengendalikan kekuatan Atrocius dengan kesadarannya sendiri.
Penampakan transformasi tak membuat Naya takut. Rasa bersalah di dadanya mengalahkan ketakutannya. Dia masih bersujud di kaki Iruma bergelimang air mata dibawah guyuran hujan sambil mengulangi kata maaf berkali-kali.
"Mungkin pertemuan kita ini adalah takdir yang tak dapat dihindarkan, tapi aku tak ingin melihatmu lagi. Enyahlah, dan jangan pernah kau tunjukkan lagi dirimu yang menyedihkan itu dihadapanku." Iruma yang sudah bertransformasi itu berbalik dia hendak pergi. "Jika aku melihat mu lagi, saat itu aku akan jadi musuhmu!"
Setelah menyampaikan kalimat terakhirnya, Belial Atrocius pergi dari sana. Meninggalkan Naya yang masih bersujud dan menangisi apa yang tak seharusnya dia tangisi. Sejenak Iruma merasa kasihan padanya. Namun dendam dihatinya sudah terlalu pekat. Tentu dia tak akan sampai melakukan seperti yang dia katakan sebelumnya. Incarannya hanyalah Avalon, pada pria itulah dendamnya ini akan dia balaskan. Tanpa ada orang lain terlibat. Namun jika ada yang berani menghalanginya, maka dia tak akan segan menghabisi mereka.
.
.
.
00oo-oo00
FUSION RISE IN ANOTHER WORLD
-Fusion Rise!-
00oo-oo00
.
.
.
Pintu Guild dibuka. Disana berdiri Iruma yang basah kuyup dengan sebuah kantung berisi 3 buah jantung ogre.
"Iruma? Kenapa kau basah kuyup?" Tanya resepsionis.
"Berhenti bertanya dan cepat selesaikan misiku jalang sialan!" Jawab Iruma yang membuat semua orang di Guild terdiam. Semua orang kecuali wanita yang berdiri dibalik meja itu. Dia tersenyum lembut dan membelai rambut Iruma. "Harimu sedang buruk ya?" Tanya wanita itu lagi. Dia sudah tahu rahasia besar Iruma sehingga dia tak mempermasalahkannya sama sekali.
"Maafkan aku...Aeryn-san." Ucap anak itu dengan penuh rasa bersalah.
Wanita yang dia panggil Aeryn itu hanya tersenyum. Dia pergi kebelakang dan kembali dengan sekantung koin perak. "Ini bayaranmu. Terima kasih ya, Iruma. Beristirahatlah."
"Terima kasih banyak, Aeryn-san. Sekali lagi, maafkan yang tadi ya..." Iruma pergi dari meja. Dia berniat untuk langsung pulang ke rumah miliknya. Hujan yang membasahi tubuhnya tak dia hiraukan. Dia baru saja melakukan hal yang benar. Tapi entah kenapa hatinya terasa sakit. Dia terus mengatai orang lain naif, tapi pada dasarnya dia juga sama naifnya. Dia hanya lebih pintar menyembunyikan kenaifannya.
"Tidak! Aku tidak boleh begini!" Ujarnya pada dirinya sendiri. "Kau tidak boleh lemah oleh momen sentimental seperti ini Iruma!" Dia mendapatkan kembali tekadnya. Langkahnya yang tadinya gontai kini kembali gagah seperti sebelumnya. Namun dia tetap ingin kembali ke rumah. Rasanya dia ingin beristirahat dulu seharian ini. Mentalnya lelah.
Masih bermandikan hujan, dia menyusuri jalan setapak menuju rumahnya yang berada jauh di dalam hutan. Bedanya kali ini perasaannya sudah baikan. Dia menapaki jalan yang terjal dan penuh jebakan yang ditinggalkan oleh para pemilik lama dari rumah itu, para bandit. Jebakannya tak main-main, lubang berisi tombak beracun, panah beracun, Pedang beracun, genangan racun, bahkan racun murni. Namun karena Iruma sudah tinggal lebih dari 2 tahun lamanya, dia sudah hafal betul segala seluk beluk jebakan-jebakan itu. Dia bahkan mempelajarinya untuk berburu hewan liar di hutan. Meski tak jarang orang lain lah yang kena.
"Aaaah...tak ada tempat yang lebih nyaman selain rumah sendiri." Ujar anak itu sambil berendam dalam bak air panas yang dia hangatkan menggunakan kekuatan Pandon. Rumah peninggalan ini berupa rumah pohon yang sangat besar. Areanya juga sangat luas. Mungkin karena kawanan banditnya ada banyak. Satu-satunya masalah yang harus di hadapi Iruma saat menemukan rumah pohon ini adalah mayat yang berserakan, noda darah, sampah dan bau pesing yang menyengat. 2 Minggu lamanya dia membersihkan tempat ini dan 3 bulan mengumpulkan uang untuk membeli semua furniture sebelum akhirnya layak dihuni. Sungguh perjuangan berat yang berbuah manis. Dia berniat untuk tak akan pindah dari hutan ini. Lagipula para hewan disini nampaknya sudah terbiasa akan kehadirannya. Begitu juga dengan para goblin, Orc dan monster-monster penghuni hutan yang nampaknya sudah menganggap dirinya sebagai tetangga.
Selesai mandi, dia kenakan pakaian tebal karena malam hari selalu dingin di hutan ini. Dia siapkan teh hangat dan roti yang dia beli di kota beberapa hari yang lalu. Sedikit jamuran, tapi tak akan cukup untuk membunuhnya. Dia sempat teringat akan Naya, tapi dia tepis semua itu. Hari ini dia hanya ingin memanjakan dirinya sampai malam tiba. Setidaknya begitulah awalnya.
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Tapi tiba-tiba saja telinga menangkap bunyi keributan tak jauh dari tempatnya berada. Bunyi Dentingan besi, sabetan pedang, dan jeritan. Awalnya dia tak berniat untuk mempedulikannya. Tapi makin lama suara itu makin terasa menganggu. Kesal. Diapun mengambil obor dan pergi menuju sumber suara. Tak lupa Kaiju Capusle Baltan dia siapkan untuk jaga-jaga.
...
..
.
Sementara itu di sisi lain dari hutan
"Hea!" Naya menebaskan pedangnya pada salah satu dari 5 orang aneh dengan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuh mereka. Mereka terlihat seperti pengikut ajaran sesat.
Semua bermula saat Naya baru saja kembali dari kota usai mencari informasi tentang kebenaran atas tindakan tak manusiawi dari ayahnya. Seperti yang dikatakan oleh penduduk kota, Avalon adalah orang yang kejam dan akan menghabisi siapa saja yang bukan berasal dari ras manusia. Kenyataan itu membuat hatinya sakit. Dia tak menyangka sang ayah yang selama ini dia kagumi ternyata tak lebih dari penjahat sadis dan diskriminatif.
Diperjalanan pulangnya, dia melihat sebuah rombongan yang membawa kereta kuda menuju kota Leafwind di kerajaan Forz dan berniat untuk ikut bersama mereka. Rombongan itu membawa seorang bangsawan dari kota Leafwind yang baru saja mengunjungi ibukota kerajaan Metarion. James Twain, kepala dari keluarga bangsawan Twain yang ternyata seorang demi-human.
Tapi ditengah perjalanan, 5 orang aneh berjubah hitam muncul menyerang mereka. Orang-orang itu menginginkan kematian James dengan alasan karena dia seorang demi-human. Sihir mereka yang sangat hebat mampu menumbangkan para penjaga tanpa kesulitan berarti. Mau tak mau Naya pun turun tangan. Dia tak ingin menjadi seperti sang ayah. "Mau itu manusia, elf ataupun demi-human. Selama mereka membutuhkan bantuanku, aku akan mengangkat pedangku!" Serunya.
Namun nyatanya semua tak berjalan sesuai rencana. Orang-orang itu terlalu kuat. Bahkan Naya sendiri tak mampu mengimbangi mereka.
"Anda benar-benar menodai perjuangan ayah anda nona Naya. Tuan Avalon sudah berupaya martabat memperjuangkan umat manusia agar kita bisa berkuasa di tanah Altera ini." Ujar salah satu dari mereka. "Tapi apa yang anda lakukan? Kau melindungi demi-human yang hina seperti dia!?"
"Tutup mulutmu!" Bentak Naya. "Satu-satunya yang dilakukan oleh ayahku hanyalah penganiayaan dan diskrimanasi. Aku tak akan pernah mengikuti jejaknya!"
Gadis itu merapal mantera untuk memperkuat pedangnya. Secepat kilat dia melesat dan menebas salah satu dari cult aneh itu. Pria yang menjadi targetnya lantas panik. Dia tembakkan bola-bola api yang sama sekali tak berpengaruh pada Naya.
TRANGG
Tak diduga olehnya, pria itu juga mengeluarkan pedang dari balik jubahnya dan menahan serangan Naya. Namun pedang miliknya yang sudah diperkuat dengan mudah menghancurkan pedang milik pria itu. Gadis itu pun melanjutkan serangan dengan melayangkan tendangan ke tubuh pria itu.
"Serang dia! Potong kaki dan tangannya tapi jangan sampai membunuhnya! Kita tak bisa membunuh putri tuan Avalon!" Cult lainnya tak tinggal diam. Mereka merapal mantera dan bersiap menyerang Naya. Tentu Naya tak mau kalah. Dia angkat pedangnya tinggi kelangit. Petir menyambar pedangnya. Kemudian dia kibaskan pedang itu sehingga aliran listrik pada batang pedangnya menyebar kesegala arah, menyambar semua Cult yang ada disana.
"Menyerahlah! Kalian bukan tandinganku!" Usir gadis itu. Dia masih mantap mempertahankan kuda-kudanya. "Katakan pada ayahku untuk menghentikan perbuatan kejinya. Jika tidak, aku tak akan ingin lagi bertemu dengannya!"
"Brengsek!" Para Cult itu kembali bangkit. Mereka belum kalah. "Kenapa kau rela melindungi makhluk hina seperti dia! Kita manusia adalah pengabdi dewa nan agung! Tidak seharusnya kita berada di tingkatan yang sama dengan mereka!"
Naya mengambil langkah mundur. Dia merasa ada yang aneh. Gadis itu pun menghampiri James untuk melindunginya. "Justru kalianlah yang hina! Tak ada makhluk bermartabat yang akan tega melakukan hal keji seperti ini!"
"Anda tak memberi kami pilihan lain nona Naya. Biarlah. Tuan Avalon pun tak akan mau memiliki anak seorang pembangkang seperti dirimu." Ke lima Cult itu menggorok leher mereka masing-masing. Darah segar mengucur keluar dari tubuh mereka yang menggelepar meregang nyawa. Darah-darah mereka mengalir ke satu titik dan membentuk sebuah gumpalan. Gumpalan darah itu kemudian bersinar dan menjelma menjadi sebuah lingkaran sihir.
Dari dalam lingkaran sihir, keluar sesosok monster bertubuh batu setinggi 4 meter dengan sepasang sayap, kuku yang tajam dan wajah nan mengerikan. Sebuah Gargoyle. Tidak. Itu bukan Gargoyle biasa. Tubuh monster itu berubah warna menjadi hitam. Kukunya bertambah tajam. 2 pasang sayap lagi muncul di punggungnya.
"I-Itu Demon Gargoyle!" Jerit James ketakutan.
"Berlindunglah tuan James! Aku akan menghentikannya!" Seru Naya. James pun mengangguk dan segera pergi mencari tempat berlindung. Sementara Naya kembali siap bertarung. Meski rasa takutnya tak bisa dia sembunyikan, dia tak punya pilihan lain. "Aku adalah seorang ksatria. Tak akan aku biarkan kau melukai orang yang tidak bersalah!"
Gargoyle iblis itu mengaum keras. Dia langsung melesat menyambar tubuh Naya. Gadis itu pun kena dan terlempar hebat. Tubuhnya terguling di tanah sebelum kemudian terhenti setelah menabrak batu besar. Armornya retak. Dia meringis kesakitan.
"Aku tidak akan kalah!" Semacam aura merah membara muncul menyelimuti tubuhnya. Sebuah kekuatan suci warisan sang ayah yang disebut Brave mode. Gadis itu mengangkat pedangnya lagi. Sementara di sisi lain monster tadi kembali melesat kearahnya. "Satu serangan...akan aku akhiri ini dengan satu serangan!"
Saat Gargoyle itu semakin dekat, Naya melompat tinggi ke langit. Pedangnya bercahaya. Sekuat tenaga dia buat gerakan memutar menebas tubuh monster itu bertubi-tubi. Pedang suci miliknya yang memiliki efek khusus terhadap iblis membuat tubuh monster itu langsung terbakar hebat.
Naya mendarat ditanah. Badannya langsung kelelahan setelah menggunakan Brave mode barusan. Dia tersenyum puas, berfikir bahwa dirinya sudah menang. Gadis itu pun kembali berdiri dan berniat menghampiri James. Tapi sayangnya dia salah. Monster itu belum kalah.
BRAAKKK
Tangan besar milik Gargoyle itu menghantam tubuh Naya. Dia terlempar hebat dan mendarat naas mencium tanah. Kakinya patah. Dia hanya bisa meringis kesakitan. Sementara pedangnya terlempar entah kemana.
Gargoyle tadi kini berpaling pada James yang bersembunyi dibalik kereta kudanya. "Jangan!" Jerit naya histeris. "Tuan James! Larilah! Menjauh dari sana!"
Namun karena terlalu ketakutan, James sampai tak mendengar jeritan Naya. Dia beringsut mundur setiap kali iblis besar itu mendekatinya. Dia benar-benar panik. Dia tak tahu harus bagaimana menyelamatkan dirinya dari pintu kematian yang ada dihadapannya.
Sekuat tenaga Naya merangkak kesana. Rasa sakit di sekujub tubuhnya dia abaikan. Kakinya yang patah tak dia hiraukan. Dia harus menyelamatkan pria itu bagaimanapun caranya. Air matanya tak henti-hentinya mengalir karena menahan sakit.
Tiba-tiba saja seseorang menepuk pundaknya. Naya terhenti. Dia menoleh pada orang itu. Bertapa terkejut dirinya melihat siapa yang baru saja menaruh tangan di bahunya. Disana berdiri Iruma. Dengan obor dan baju tebal yang dia kenakan.
"Aku mengakui tekadmu. Maaf jika sebelumnya aku terlalu kasar padamu. Aku menganggap dirimu sama dengan ayahmu dan dibutakan oleh kebencianku." Ujar anak itu. Dia mengambil sebuah potion Lesser healing lalu memberikannya pada gadis itu. "Mulai dari sini, aku yang akan ambil alih."
"Hei kau!" Seru Iruma pada monster itu. Spontan gargoyle dan James pun menoleh kearahnya. Iruma membuka baju tebalnya. Atas kehendaknya, dua buah Ultra Capsule muncul bersama Riser dan Loading Knuckle. "saatnya jadi pahlawan!"
"You go!"
Iruma mengaktifkan Capsule Ultraman. Lalu memasangnya pada Loading Knuckle.
"I go!"
Iruma mengaktifkan Capsule Ultraman Belial. Lalu memasangnya pada Loading Knuckle.
"Here We Go!"
Iruma mengaktifkan Riser, lalu memindai kedua Capsule yang terpasang pada Loading Knuckle.
"Kimeruze Kakugo! Geed!"
[Fusion Rise: Ultraman, Ultraman Belial!]
[Ultraman Geed: Primitive!]
Tubuh Iruma bercahaya. Kilatan petir putih dan merah menyambar kemana-mana. Dia menjelma menjadi sosok humanoid dengan tubuh berwarna merah-hitam dan putih. Dengan kepala berwarna putih, juga mata besar berwarna biru. Geed Primitive. Kali ini seukuran pria dewasa, sama seperti Belial Atrocius sebelumnya.
"I-Itu...Berbeda dari sebelumnya..." Kata Naya.
"Aku sudah bilang padamu bukan?" Tanya Iruma yang sudah bertransformasi menjadi Geed. "Aku diberkahi oleh Dewa dan iblis. Kau sudah melihat sisi iblis ku. Kini saksikanlah, kekuatan dari para dewa yang ada bersamaku!" Lanjutnya sambil mengambil ancang-ancang.
Gargoyle itu mengaum dan langsung melesat hendak menyambar tubuh Iruma/Geed. Tapi Geed menghindar dengan mudahnya. Dia raih kaki monster terbang itu lalu dia banting monster itu ke tanah. Setelah itu dia tarik lagi ekornya lalu dia lempar ke langit.
"Mati Kau!" Tubuh Geed kembali bercahaya. Aliran listrik mengaliri tubuhnya. Dia pusatkan seluruh kekuatannya pada kedua tangannya, lalu dia silangkan tangannya itu di depan dadanya. Dia kibaskan kedua tangannya itu bersamaan sehingga menghasilkan tembakan energi berbentuk sabit ke arah Gargoyle di udara. "Wrecking Ripper!"
Monster itu kena dan langsung meledak dengan dahsyat. Gelombang kejutnya begitu kuat hingga menghembuskan angin yang sangat kencang. Semuanya selesai. Dengan serangan Geed barusan, bisa dipastikan drop item dari monster itupun sudah ikut hancur. Pasrah sudah.
James dan Naya yang sudah sembuh berkat potion Iruma menghampiri sosok penyelamat mereka itu. "Kau...sebenarnya siapa?" Tanya Naya yang masih tak mengerti dengan apa yang terjadi.
Iruma/Geed tak berniat untuk menjawabnya. Akan sangat sulit baginya menjelaskan kebenarannya pada mereka. Itupun belum tentu mereka mengerti dengan apa yang dia bicarakan. Dia mencoba mengalihkan topik. Terlebih dahulu dia membatalkan transformasinya. Dia menghela nafas panjang. "Hari sudah malam. Kalian berdua mau menginap di tempatku?"
