Sluurrpp

"Aaaahhh. Sungguh teh yang benar-benar nikmat." James menyeruput teh miliknya. "Terima kasih atas jamuannya, nak Iruma. Kau adalah penyelamat kami."

"Syukurlah anda menyukainya tuan James." Kata Iruha sembari meletakkan beberapa kue kering di atas meja. Dia menoleh pada Naya. "Kau juga minumlah tehnya. Aku sudah susah-susah membuatkannya untukmu lho."

Naya hanya terdiam. Entah kenapa, dia masih belum berani menatap wajah Iruma. "Apa tidak masalah bagimu aku ada disini?" Tanya gadis itu dengan nada sendu.

Iruma terdiam. Senyum mengembang di wajahnya. "Tak perlu kau pikirkan hal itu lagi. Sudah aku bilang bukan? Kau tak punya kewajiban untuk menanggung dosa ayahmu. Dan akupun tak punya hak untuk menuntut dosa ayahmu padamu. Santai saja dan nikmati teh yang ku sediakan bersama kami selagi hangat. Malam di hutan ini dingin lho."

"Aku benar-benar tak percaya Ksatria Avalon punya putri yang sangat baik hati seperti nona." Ujar James. "Sangat berlawanan dengan ayahnya ya."

"Eh? Anda kenal dengan ayahku?"

"Tidak kenal secara langsung sih. Saat itu ayahmu beserta anak buahnya menyerang negeri ku. Dia membunuh semua orang yang dia kehendaki. Dia bahkan hampir membunuhku dan anggota keluarga ku. Jika bukan karena Sage Agung Strous, mungkin aku sudah mati sekarang." Jelas pria itu yang membuat Naya makin drop. "Tadinya aku juga membencimu setelah mengetahui kalau kau adalah putrinya Avalon. Tapi seperti yang dikatakan oleh nak Iruma, bukan kau lah yang harusnya aku benci. Mengkambing hitamkan dirimu atas perbuatan ayahmu adalah tindakan pengecut. Jadi tak ada yang perlu kau khawatirkan."

Naya lega mendengar kata-kata James dan Iruma barusan. Dia tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. "Terima kasih. Terima kasih banyak..."

Iruma dan James tersenyum puas. Suasana mulai membaik. Ketiganya kembali menikmati malam dengan teh yang hangat dan kue kering nan nikmat.

Sayang mereka tak tahu, bahwa ada orang yang mengawasi mereka dari kejauhan.

.

.

.

00oo-oo00

FUSION RISE IN ANOTHER WORLD

-New Leaf-

00oo-oo00

.

.

.

Paginya Iruma dan Naya menemani bangsawan James menuju kediamannya di kota Leafwind yang juga merupakan wilayah kebangsawanannya. Tak seperi kerajaan Metarion dengan supremasi ras manusia, kota Leafwind yang berada di wilayah kerajaan Forzt menerapkan kesetaraan bagi semua ras. Entah itu elf, manusia, dwarf, lizardman ataupun demi-human. Sebuah tempat yang sangat menarik perhatian Iruma.

"Hei Naya. Ku lihat kemarin kau sangat mahir dalam berpedang. Apa kau bisa mengajariku?" Pinta Iruma di tengah perjalanan mereka.

"Eh? Mengajarimu?" Naya balik bertanya.

"Bahkan setelah nak Iruma memiliki kekuatan sedemikian besar, nak Iruma masih ingin bertambah kuat? Hebat sekali ya..." Puji James.

"Bukan begitu." Balas Iruma. "Saat ini aku hanya bisa mengandalkan kekuatan ini. Aku tak bisa sihir, berpedang ataupun ilmu beladiri. Tenaga ku besar, tapi akan sia-sia jika tidak ku latih dengan benar."

"Tapi karena kau tak terlahir dengan sihir, mustahil bagimu untuk bisa mempelajari sihir." Kata Naya.

"Diam dan lakukan saja perintahku. Babi siala-"

PLAAKK

Naya menampar keras pipi Iruma. Setelah itu dia terlihat ketakutan. "Ma-Maaf habisnya kau sendiri kan yang menyuruhku untuk menampar wajahmu kalau sisi jahatmu keluar."

"Aduh..." Iruma memegangi pipinya yang sakit. "yah. Aku tidak menyalahkanmu. Memang itu yang aku butuhkan. Akan sangat buruk jika sisi jahatku muncul saat aku berinteraksi dengan orang-orang penting." Katanya sambil meringis kesakitan.

"Haha. kau benar-benar unik ya." James tertawa melihat tingkah mereka. "Padahal dengan kekuatan mu sekarang, menguasai dunia hanyalah seperti lelucon belaka. Tapi kau lebih memilih untuk hidup bersahaja seperti ini."

"Entahlah." Iruma terkekeh pelan. "Menguasai dunia kedengarannya merepotkan. Aku mau yang mudah-mudah saja. Kerjakan quest, dapat uang. Lalu bunuh orang-orang yang menyebalkan."

"Kalau begitu, bersediakah anda bekerja untukku?"

"Ng? Pekerjaan apa yang kau siapkan untukku."

"Seperti tadi yang kau bilang. Kerjakan Quest, dapat uang. Lalu bunuh orang-orang yang menyebalkan. Tapi pekerjaan-pekerjaan ini khusus atas nama diriku."

"Apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada wilayah anda, tuan James?" Naya ikut-ikutan nimbrung. Dia juga terlihat penasaran.

James mengangguk membenarkan. "Bukannya aku sombong, tapi sepertinya wilayah-wilayah lain sedikit iri dengan pencapaian kota Leafwind yang berada dalam wilayah kekuasaanku. Tentunya semua ini adalah hasil kerja keras semua orang di kota. Tapi nampaknya banyak pihak lain yang tak senang atas majunya kota Leafwind. Mereka terus-terusan mengirim ancaman dan serangan ke kota. Para penduduk sudah ketakutan dibuatnya. Aku putus asa dan mencari ksatria hebat di kerajaan Metarion, tapi sepertinya tak ada yang bersedia terlibat dalam urusan politik seperti ini."

"Aku tak peduli politik atau tidak. Selama aku dibayar, akan aku lakukan." Kata Iruma dengan mudahnya. "Aku tak punya waktu untuk memusingkan hal yang tak seharusnya menjadi urusanku."

"Kebetulan sekali!" Seru James ."Kau akan sangat menyukai pekerjaan ini."

Tanpa terasa, kota sudah terlihat dari kejauhan. Sebuah kota besar yang dilindungi dinding tebal. Area disekitar kota terlihat sangat indah. Seperti sebuah tempat wisata nan asri. Pepohonan rindang. Sungai yang mengalir jernih. Dan hamparan rumput hijau luas sejauh mata memandang.

Mereka masuk ke dalam kota. Sempat terjadi keributan di gerbang karena kereta kuda dan para pengawalnya sudah tiada. Tapi dengan sigap pria itu pun menjelaskan semuanya. Berita ini pun dengan cepat menyebar ke seisi kota.

Suasana di dalam kota benar-benar luar biasa. Kota itu benar-benar tertata dengan baik. Bangunannya juga indah. Tak seperti kota tempatnya tinggal yang benar-benar tak terpelihara. Selain itu, kota ini juga damai. Semua ras tinggal bersama seperti yang dikatakan oleh James. Manusia, Elf, Dwarf, demi-human dan segala macamnya. Sungguh sebuah tempat yang sangat menyenangkan.

James bicara empat mata dengan Naya sebelum kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. Dia bilang harus mengurus kematian para penjaga yang tewas melindunginya. Dia berjanji akan menemui mereka lagi setelah berbicara dengan anggota keluarga dari para prajurit yang telah tewas.

Tinggalah Iruma dan Naya berdua.

Ini pertama kalinya Iruma ada di kota ini. Jadi dia tak tahu harus apa. Rencananya dia akan pergi ke restoran terdekat dan menikmati beberapa makanan sampai James datang menemuinya lagi. Tapi dia kepikiran dengan Naya. "Jadi...Kau akan pergi? Kau bilang kau mau pulang kan?" Tanya Iruma pada gadis itu.

Naya nampak kebingungan. "Pergi kemana? Rumahku kan disini."

Persimpangan empat bermunculan di jidat Iruma. "LALU KENAPA KAU BISA TAK KENAL DENGAN JAMES!? BUKANNYA DIA TUAN TANAH DISINI!?"

"Maaf! Aku terlalu fokus menyelesaikan misi di guild jadi aku jarang berinteraksi dengan orang disekitarku. Aku juga jarang bersosialiasi makanya banyak yang tidak tahu aku ini siapa." Naya membela diri. "Lagipula rumahku bukannya di dalam kota besar ini. Ada sebuah desa kecil di arah tenggara di dekat kota, disana aku tinggal."

"Kau ini sudah seperti neet saja." Iruma sampai geleng-geleng kepala. "Tapi aku terkejut bangsawan besar sepertimu tinggal di desa kecil. Apa disana kau punya rumah mewah seperti istana dengan taman yang luas sementara penduduk di sekitarmu hidup melarat?"

Naya menggeleng. "Semua kemewahan hidupku sudah tiada. Sejak ayah menghilang, segalanya jadi kacau balau. Keluarga bangsawan Virbella jadi hancur. Ibuku sampai melarikan diri entah kemana. Yang tersisa hanya aku dan seorang pelayan ku yang masih menjaga kediaman Virbella. Kami pindah kemari juga atas saran darinya. Beruntungnya harta yang tersisa cukup banyak untuk menghidupi ku sampai saat ini."

"Repot juga." Iruma menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Situasimu hampir sama denganku. Hanya saja di level yang berbeda."

"Lalu, kau sendiri mau apa?" Giliran Naya yang bertanya.

"Entahlah. Aku tidak tahu. Sejujurnya aku lupa kenapa aku kemari." Jawabnya. Tapi mendadak. Sisi Belialnya mengambil alih. Kaiju Capsule Beryudora muncul di tangannya. Dia mengaktifkannya lalu memasangnya pada Loading Knuckle. Dia hendak memanggil monster super dahsyat itu ke daratan ini. "Mumpung kita sudah disini, ayo kita bersenang-senang. Sesali-lah ketidakberdayaan kalia-"

PLAAKK

Naya menampar wajahnya lagi untuk menyadarkannya. Hal itu menarik perhatian semua orang yang ada disana. Tentu saja Naya pun jadi malu. Dia hampiri Iruma. "M-Maaf. Kau tidak apa-apa kan?"

"Lebih baik. Kau baru saja menyelamatkan kita semua dari kengerian luar biasa yang hampir saja terjadi." Kata Iruma. "Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau sampai kekuatan sebesar itu aku lepaskan."

"Duh...apa tidak ada cara untuk mengendalikan sisi jahatmu itu?"

"Andai saja ada. Bertahun tahun aku mencari tahu, tapi bahkan Sage agung pun tak tahu caranya."

Naya membantu Iruma berdiri. Anak itu berfikir sejenak. "Baiklah. Aku sudah memutuskannya. Seharian ini aku akan ikut denganmu. Kau mau kemana?" Tanya Iruma.

"Karena capek aku mau kembali ke rumahku dulu. Tapi seperti ke Guild juga seru."

"Hmm...Guild ya...Aku jadi penasaran sedang apa Aeryn-san sekarang."

...

..

.

Kerajaan Metarion
Kota Rudge

Aeryn sedang sibuk menghitung permintaan misi yang masuk hari ini. Kertas-kertas itu di pilah untuk disesuaikan berdasarkan tingkat kesulitannya agar tak ada petualang yang salah pilih dan berakhir dengan luka parah atau kehilangan nyawa.

Dia menaruh kertas itu di atas meja. Sejenak dia terhenti. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. "Sudah dua hari Iruma tidak datang. Apa terjadi sesuatu?" Gumamnya khawatir.

"Anne, bisa kau gantikan aku sebentar? Aku mau melihat Iruma." Pintanya pada rekan kerjanya.

"Tidak masalah Aeryn. Sudah 2 hari dia tidak datang kan? Pergilah!" Seru Anne dari belakang.

Aeryn sudah seperti kakak bagi Iruma. Sejak pertama kali Iruma datang ke kota ini, dialah yang merawatnya. Dia juga yang mendaftarkan anak itu ke Guild petualang dan melatihnya. Dia tak mau sampai terjadi apa-apa pada Iruma. Dia harus memastikannya sendiri kalau 'adik' kecilnya itu baik-baik saja.

Dia pergi menuju hutan tempat rumah pohon milik Iruma berada. Meski banyak jebakan, semua itu bukan masalah baginya. Dia adalah orang pertama setelah Iruma yang paling tahu dengan seluk beluk rumah ini. Tak sulit baginya untuk menghindari semua jebakan dan sampai di rumah pohon yang besar itu.

"Iruma!" Sahut Aeryn. "Iruma! Kau dimana?"

Dia mencari-cari ke seisi rumah. Tapi tak menemukan siapapun. Sampai kemudian matanya menangkap sebuah objek di atas meja. Selembar kertas yang ditinggalkan oleh Iruma. Isinya : "Kepada siapapun yang menemukan kertas ini. Aku sedang pergi ke kota Leafwind untuk beberapa hari. Salam hangat, Iruma Ishibori.

Cat: Jika itu kau Aeryn-san, nanti akan aku bawakan oleh-oleh"

Wanita itu tersenyum. "Dasar Iruma. Harusnya kau pamit dulu padaku." Katanya.

Aeryn membereskan tempat itu. Lalu dia kembali ke kota. Tapi pada saat itulah sesuatu yang mengerikan terbang diatasnya. Sesosok makhluk raksasa bersayap dengan tubuh yang keras bagaikan baja. Seekor Naga berwarna hitam. Wanita itu membelalak tak percaya. "Mustahil...Black Dragon!?"

...

..

.

"Umm...Naya. Kita sudah 3 jam berdiri disini dan kau masih belum memilih misi mana yang mau kau ambil." Kata Iruma sambil menarik-narik baju zirah milik gadis itu.

"Sebentar lagi Iruma. Aku lagi mencari misi yang bagus." Balas Naya.

"Kau sudah mengatakan itu sebanyak 16 kali. Ayolah!" Anak itu protes. "Kakiku sakit. Aku mau duduk disana dulu ya."

Karena sudah tak kuat berdiri, Iruma hendak pergi duduk di sebuah meja di dekat sana dan memesan minuman. Tapi karena tidak hati-hati, dia menabrak orang lain. Seorang pria paruh baya yang entah siapa namanya. Tubuhnya kekar dan penuh dengan bulu badan. "Ah, Maaf." Kata Iruma. "Aku terlalu kelelahan sampai tidak memperhatikan."

"Hoho! Bukan masalah nak!" Pria itu malah tertawa. "Kau temannya Naya ya? Wah akhirnya Naya punya teman juga."

"Eh? Paman Ken?" Luna menoleh pada orang itu. Dia menghampiri mereka berdua. "Ku kira paman Ken sudah kembali ke istana? Oh, dan perkenalkan temanku, Iruma dari kota Rudge."

"Salam kenal Iruma. Namaku Ken, panggil saja aku Ken." Ujar pria itu. "Tak perlu dipermasalahkan. . Naya memang begitu dari dulu , dia memang butuh waktu lama untuk memilih misi. Rekok paling lamanya memilih misi adalah 8 jam kau tahu! Lihat saja! Rekornya terpampang di mading sana!"

"Paman Ken!" Wajah gadis itu memerah. Dia mencoba mendorong Ken menjauh dari sana.

"Anda kenal dengan Naya ya? Ku kira dia penyendiri." Kata Iruma.

"Ya memang. Aku bisa dekat dengannya karena kami tetanggaan." Jawab Ken. "Dia tak banyak berinteraksi dengan orang lain. Dan lagi sangat jarang ada yang mau berteman dengannya mengingat betapa kuatnya dia. Daripada kagum, orang-orang lebih terlihat takut padanya. Jadi jika dia punya teman seperti dirimu, rasanya melegakan buatku."

"Kau ini sudah seperti ayahnya saja ya." Kata Iruma. "Beruntungnya dia punya sesorang seperti dirimu."

"Begitulah. Ada yang menyebutnya keberuntungan. Aku menyebutnya sebagai takdir." Balas pria itu. "Sudah ya. Aku ada urusan sebentar dengan kepala Guild. Sampai jumpa lagi Naya!"

Iruma melihat sekitar. "Loh, Naya kemana?"

"Eh, bukannya tadi dia bersamamu?"

"Ku kira dia bersamamu."

"..."

"Aku akan mencarinya." Kata Iruma. "Kau selesaikan saja dulu urusanmu. Paling dia keluyuran di sekitar kota."

"Baiklah. Tolong ya!" Pinta Ken.

Iruma langsung lari keluar. Ada satu hal yang saat ini sedang dia khawatirkan. Dari tangannya dia keluarkan Kaiju Capsule Gomora. Dia aktifkan Capsule itu, lalu dia tempelkan pada permukaan tanah. Gomora sebagai kaiju bumi pastilah bisa melacak segala yang terjadi di bumi ini. Dia sedang menggunakan kekuatan itu untuk mencari lokasi Naya.

"Ketemu!" Batinnya begitu mendapat penglihatan dimana gadis itu berada. Dia langsung menyiapkan beberapa Kaiju Capsule dan bersiap pergi kesana. Tapi belum lagi dia beranjak jauh dari sana, beberapa orang pria dengan jubah hitam kebesaran menghalangi jalannya. Para Cult.

"Kalian lagi? Kalian yang membawa gadis itu kan? Apa tujuan kalian? Apa Avalon terlibat dengan semua ini?"

Para Cult itu diam saja. Mulut mereka komat kamit membaca mantera. Belati sudah siap ditangan mereka masing-masing. Nampaknya mereka ingin melakukan hal yang sama dengan rekan-rekan mereka kemarin. Sementara orang-orang panik berlarian menyelamatkan diri. Tentu saja Iruma tak akan membiarkannya terjadi begitu saja.

Kaiju Capsule Evil Tiga dia aktifkan dan langsung dia pindai dengan Riser. Selanjutnya Riser itu dia tempelkan di dadanya. "Tidak pernahkah kalian diajari sopan santun oleh orang tua kalian?" Asap hitam mengepul keluar dari tubuh anak itu. Matanya berubah menjadi biru bersinar. Tubuhnya bersinar. "Jawab pertanyaanku, bangsaat!"

[Evil Tiga]