Bersama dengan Ken, Iruma dibawa ke sisi utara dari kota Leafwind. Anak itu sendiri pun tak tahu kenapa dan apa alasannya. Pagi-pagi setelah dia bangun tidur, tiba-tiba saja James menjemputnya langsung ke penginapan. Iruma sempat berontak karena dia bahkan belum sempat untuk sarapan. Tapi berkat bujukan Ken, dia pun pasrah.

"Akhirnya kita sampai!" Seru James begitu mereka sampai di sebuah rumah mewah dan besar. Tamannya luas dan asri. Bahkan disana ada kolam renang dalam ruangannya. Dilihat dari manapun, pastilah ini tempat tinggal seorang bangsawan besar.

"Ummm...jadi...kenapa kita kemari? Rumah siapa ini?" Tanya Iruma.

"SELAMAT DATANG TUAN PAHLAWAN!" Dari dalam rumah keluar banyak orang. Mereka tidak lain adalah penduduk kota Leafwind. Serangan kejutan itu sontak membuat Iruma kaget. Dia sampai jatuh tersungkur saking kagetnya.

"A-Apa maksudnya ini?" Tanya anak itu keheranan.

"Ini hadiah dari kami, kota Leafwind. Untukmu!" Jelas James. "Atas aksi heroikmu beberapa hari yang lalu, penduduk kota mengajukan proposal untuk memberikan hadiah padamu. Jadi aku memilih untuk memberikan rumah ini padamu. Semuanya atas nama dirimu!"

"Aaah...Entahlah. Bukannya ini terlalu berlebihan. Aku merasa kalau aku tak pantas menerimanya..." Kata Iruma yang agak canggung. Dia jadi salah tingkah.

"Itu tidak benar!" Bantah salah satu penduduk yang ada disana. "Anda telah berjuang keras melindungi kota ini dari iblis Zeotl dan naga hitam. Jika bukan berkat anda, kami semua pasti sudah tiada!"

Iruma terkekeh pelan. "Ya...jika kalian bilang begitu sih. Hanya saja...rasanya rumah ini agak sedikit terlalu besar jika harus aku tinggali sendiri." Katanya. "Membersihkannya bisa sangat merepotkan bukan?"

Saat mereka sibuk merayakan rumah baru Iruma, salah seorang penjaga datang dengan terburu-buru. Dia langsung menghampiri James dan memberi hormat. "Tuan, kita kedatangan pengungsi dari kota Rudge dari kerajaan Metarion. Sepertinya kota mereka juga diserang oleh Black Dragon dan semuanya hangus terbakar."

Telinga Iruma berdiri mendengar berita itu. "Aeryn-san!"

.

.

.

00oo-oo00

FUSION RISE IN ANOTHER WORLD

-A Day Off-

00oo-oo00

.

.

.

Penduduk yang masih selamat dari penyerangan Black Dragon di kota Rudge mengungsi ke Leafwind. Beruntungnya James dengan senang hati menyambu kedatangan mereka ke kotta-nya itu. Dia bahkan memberikan mereka pinjaman modal agar bisa memulai hidup baru di kota Leafwind. Iruma sempat panik mendengar kabar itu. Dia teringat akan Aeryn. Tapi beruntunglah wania itu selamat dan ikut mengungsi bersama para penduduk lainnya.

Pengungsi dari kota Rudge juga cukup terkejut melihat kehadiran Iruma di kota itu. Mereka semua memang sudah tahu akan kekuatan Iruma yang luar biasa, tapi mereka tak sampai menyangka kalau anak itu mampu membunuh Black Dragon dan Iblis tingkat tertinggi Zeotl sekaligus. Apalagi sampai diangkat oleh James Twain sebagai seorang Noble di kota itu.

Untuk sementara, Para pengungsi tinggal di penampungan. Terkecuali Aeryn yang terus-terusan dipaksa oleh Iruma untuk tinggal di rumah baru pemberian warga kota itu. Aeryn pun tak dapat menolak permintaan adik kecilnya itu. Ditambah lagi dia memang sedang membutuhkan tempat untuk bernaung. Tapi berhubung Aeryn ak sempat membawa barang apapun dari Kota Rudge, Irume memberinya uang dan memaksanya membeli segala keperluan yang dia butuhkan meski wanita itu menolak pada awalnya.

..

Iruma merebahkan dirinya pada sofa empuk di ruang tamu. Dia benar-benar kelelahan usai menata isi rumah itu. Dia harus menyiapkan ruangan untuk Aeryn dan juga untuk dirinya. Tapi meski begitu, rasanya rumah ini masih terlalu besar untuk dihuni berdua. Dia berencana untuk memperkerjakan seorang pelayang dan pembantu di rumah ini. Setidaknya dengan begitu suasananya jadi sedikit ramai.

Iruma sendiri akhir-akhir ini jarang bertemu dengan Naya. Dia kasihan merasa kasihan pada gadis itu. Hidupnya pastilah sulit karena terus-terusan menjadi incaran. Tapi semenjak kejadian kemarin, entah kenapa nampaknya dia menjadi benci dengan ayahnya. Wajar saja. Ayahnya itu baru saja mengkehendaki dirinya dikorbankan demi membangkitkan Zeotl seutuhnya. Pastilah dia merasa dikhianati. Rasa sayang dan rindunya pada Avalon seakan terkikis dan berubah menjadi perasaan benci.

Iruma tak berniat untuk mencampuri urusan ayah dan anak mereka. Tapi yang pasti ketika dia bertemu dengan Avalon, dia akan membunuh pria itu tanpa mempedulikan Naya sekalipun. Atas dendamnya pribadi dan juga dendam semua orang yang telah dicelakai oleh Avalon.

Kini dia mulai menikmati hidupnya yang kembali tenang setelah dihantui oleh para Cult aneh itu terus-terusan. Tak ada pertarungan, tak ada serangan iblis. Hanya hidupnya yang sama seperti sebelumnya. Kerjakan Quest, dapat bayaran, lalu bunuh orang-orang menyebalkan.

Meski begitu, keinginannya untuk bisa berlatih masih belum terpenuhi. Setidaknya dia ingin pandai ilmu beladiri. Atau mungkin berpedang. Atau juga kedua-duanya. Karena saat ini yang pasti dia tak akan pernah bisa menguasai ilmu sihir mengingat dia tak terlahir dengan sihir ke dunia ini. Dia hanya bisa mengandalkan kekuatan dari para kaiju dan prajurit cahaya yang tertanam di tubuhnya.

Pintu di ketuk. Ada tamu. "Siapa?" Seru Iruma, tapi tak ada jawaban. Anak itu pun berdiri dan membukakan pintu. Suatu kejutan baginya ketika mendapati yang berada di balik pintu itu tak lain adalah Naya, bersama seorang wanita tua yang tak dia kenali. Hanya saja ada yang berbeda dari Naya saat itu. Rambutnya tak lagi di kucir, melainkan tergerai bebas. Dia juga tak lagi menggunakan armor miliknya. Gadis itu nampak lebih berani dan lebih liar dari sebelumnya.

"N-Naya? Kau terlihat...lebih bergaya dari biasanya." Sapa Iruma. "Jadi...ada perlu apa?"

"Itu...anu...boleh tidak kami tinggal di rumahmu?" Tanya Naya.

"Ng? Kenapa? Apa yang terjadi dengan rumah kalian?"

"Sebenarnya, akibat pertempuran hebat kita melawan iblis Zeotl beberapa hari yang lalu, rumah ku yang berada di tenggara kota hancur. Kondisi kota yang juga masih dalam perbaikan agak menyulitkan kami mencari tempat tinggal. Jadi pilihan terakhir yang aku miliki hanyalah memohon padamu. Aku mohon, izinkan kami tinggal untuk sementara waktu. Aku akan membayar jika harus!" Gadis itu bersama wanita tua tadi membungkukkan badan memohon pada Iruma. "Kami juga akan mengerjakan pekerjaan rumah jika dibutuhkan. Aku dan pelayanku akan membersihkan rumah ini dan memasak setiap harinya!"

"Yah, kurasa itu agak berlebihan." Kata Iruma sambil menggaruki kepalanya yang tidak gatal. "Lagian kalian tak perlu sampai memohon begitu kok."

"Eh? Jadi kami boleh tinggal disini sementara waktu?"

"Rumah ini terlalu besar untuk kuhuni. Saat ini aku hanya tinggal berdua dengan Aeryn-san. Jika kau mau tinggal, tentu aku tak akan menolak."

"Waah! Terima kasih!" Gadis itu bersorak kegirangan. Dia memeluk wanita tua yang berdiri di belakangnya. "Bibi! Kita akhirnya dapat tempat tinggal!"

Iruma mulai penasaran dengan wanita itu. Dia bertanya pada Naya. "Maaf, tapi dia siapa ya?"

"Oh, ini bibi Frey. Seperti yang aku bilang saat itu, dia adalah satu-satunya yang tersisa dari keluarga Virbella. Dia rela merawatku meski semuanya sudah pergi meninggalkanku."

"Begitu ya. Salam hormat dariku, nona Frey."

"Tak perlu formal begitu nak Iruma." Balas wanita tua itu. "Justru akulah yang harusnya hormat pada pahlawan kita ini."

Mereka bertiga berbincang-bincang di depan pintu sebelum kemudian Iruma memperbolehkan mereka masuk. Lagi-lagi anak itu harus menata kembali beberapa ruangan untuk ditinggali oleh Naya dan Frey. Dan setelah itu, dia persilahkan keduanya untuk mengatur barang-barang mereka di kamar mereka masing-masing.

Usai menyambut penghuni baru di rumah itu, Iruma kembali duduk di ruang tamu. Dengan kekuatannya, dia lepas semua kaiju capsule dan ultra capsule yang tertanam dalam tubuhnya. Totalnya dia punya 35 kaiju capsule + 2 kaiju capsule Galactron dan 2 kaiju capsule Darklops Zero yang sengaja dia pesan ekstra. Selain itu ada juga 54 Ultra Capsule dan 11 Capsule spesial edisi terbatas. Sejauh ini yang dia tahu, dengan mengaktifkan Ultra/Kaiju capsule, dia memperoleh kekuatan dari ultra/kaiju tersebut. Dia juga bisa bertransformasi atau men-summon ultra/kaiju dengan bantuan Riser yang juga ikut tertanam di tubuhnya. Hanya saja dia masih penasaran dengan kegunaan dari 11 capsule spesial edisi terbatas ini.

Anak itu memasukkan Kaiju Capsule dan ultra capsule kembali ke tubuhnya. Kini dia fokus pada capsule spesial miliknya ini. Dia ingin mencobakan kemampuan dari capsule-capsule ini.

"Hei Iruma! Aku sudah selesai meletakkan barang-barangku. Sekali lagi terima kasih ya!" Ucap Naya yang baru saja kembali dari kamarnya.

"Ya! Tak perlu di pikirkan!" Balas Iruma yang masih sibuk dengan koleksi capsulenya.

"Ada apa?" Gadis itu duduk di samping Iruma. Dia melihat capsule-capsule yang terletak di atas meja. "Kalau tidak salah, itu kekuatanmu kan?"

"Lebih tepatnya sumber kekuatanku." Iruma mengambil salah satu capsule spesial itu lalu memberikannya pada naya. Capsule Ultra Heroes Expo. "Ini, cobalah!"

Naya mengambil capsule itu. Dia kebingungan melihat benda itu. Dia tiru cara iruma mengkatifkannya, namun tak terjadi apa-apa. "Loh? Tidak bisa?"

"Begitu ya..." Iruma manggut-manggut. "Sepertinya capsule-capsule ini tak bekerja pada orang lain selain aku."

Anak itu mengambil capsule tadi dari tangan Naya. Dia aktifkan capsule itu. Mendadak dengan sendirinya capsule itu bersinar dan masuk ke tubuhnya. Matanya bercahaya . Kesadarannya ditarik ke sebuah dimensi asing. Disana dia melihat pertarungan para Ultraman melawan kaiju-kaiju yang ada. Semuanya terasa sangat nyata seolah-olah dia sendirilah yang bertarung bersama para Ultraman itu.

"Arrghh." Iruma mengerang kesakitan. Otot-ototnya menegang. Tubuhnya sempat kejang beberapa saat.

"I-Iruma! Apa yang terjadi!?" Naya panik. Dia tak tahu apa yang harus dia lakukan. Dari tangannya dia rapalkan sihir penyembuh pada anak itu dan berharap agar sihir itu bekerja.

Lama anak itu merintih kesakitan sebelum kemudian dia hampir jatuh. Beruntung Naya dengan sigap menangkap tubuhnya dan menyandarkannya kembali ke sofa. "Apa yang terjadi? Kau mendadak aneh setelah menggunakan capsule itu."

Iruma masih mencoba mengatur nafasnya. Tubuhnya bermandikan keringat. "Entahlah." Jawabnya. "Rasanya seperti bertarung mati-matian melawan ratusan monster tanpa henti. Mendadak aku jadi sangat lelah."

Iruma mengambil capsule tersisa lalu memasukkannya kembali ke tubuhnya. Dia mencoba kembali berdiri, tapi kemudian kakinya tersandung. Saat dia hampir jatuh ke meja di hadapannya, reflek dia menahan tubuhnya dengan tangan kirinya dan melakukan front flip.

"Wow, Iruma. Kau baru saja melakukan front flip." Naya berdecak kagum. "Ku kira kau tak terlalu pandai dengan gerakan fisik."

"Itu tadi bukan aku." Kata anak itu. "Jangan-jangan capsule barusan..." Dia jadi teringat kalau dalam capsule itu dia menggantikan para ultraman yang berbeda-beda bertarung melawan para monster. "Mungkinkah capsule barusan memberiku kemampuan bertarung para ultraman?" gumamnya.

"Naya! Coba serang aku."

"Eh!? Kenapa?"

"Cepat serang saja! Jangan menahan diri! Ada hal yang harus aku pastikan."

"Aku mengerti!" Naya mengambil kuda-kuda. Dia melompat lalu melayangkan tendangan ke wajah Iruma. Di luar dugaan, dengan mudahnya Iruma menghindar. Dengan sendirinya tubuh anak itu mengikuti instingnya untuk mengelak dari serangan.

"Sudah kuduga..." kata anak itu lagi. Dia masih terlihat kebingungan. "Hei Naya. Aku masih belum yakin. Kau mau menemaniku latihan di halaman sebentar?"

Gadis itu tersenyum. "Tentu saja!"

...

..

.

Naya melesakkan pukulan ke hulu hati Iruma, tapi anak itu berhasil menepis serangan Naya. Dia membalas dengan tendangan ke samping kiri gadis itu. Naya pun menangkisnya, tapi besarnya kekuatan Iruma membuat dia terdorong beberapa langkah dan berguling ke samping agar tak jatuh.

Naya meraih batang kayu di tangannya lalu melemparnya pada Iruma. Dia ambil satu batang kayu lagi. Kali ini dia menebaskan batang kayu itu seolah-olah kayu itu adalah pedang. Iruma menangkisnya. Kayu itu beradu beberapa kali sebelum kemudian Naya berhasil mendesak Iruma dan membuat batang kayu anak di tangan anak itu terlempar.

"Baiklah. Ku kira cukup sampai disini saja." Kata anak itu. "Sepertinya aku tidak bisa melampaui mu dalam pertarungan fisik ya..."

"Aku rasa itu karena kau hanya belum terbiasa." Ujar Naya. "Gerakan mu barusan benar-benar berbeda dari gerakanmu yang biasanya. Lebih rapi dan lebih tajam. Kau mendadak jadi ahli beladiri dalam sehari."

Gadis itu melanjutkan. "Tapi meski begitu. Semuanya tak akan maksimal jika tidak kau latih. Bakat pun tak ada artinya jika tak ada kerja keras bukan?"

"Yah. Kau ada benarnya. Tak mungkin aku yang baru pandai sehari bisa setara dengan kau yang sudah berlatih bertahun-tahun." Kata Iruma. "Tapi aku masih saja tak percaya kalau aku baru saja mendapat kekuatan bertarung para Ultraman. Tubuhku sampai tak sanggup menahan semua kekuatannya. Kalau bukan karena sihir penyembuh yang kau alirkan padaku, entah bagaimana nasibku sekarang."

"Apa jangan-jangan kau bisa mati?"

"Tidak. Tapi yang jelas aku mungkin tak akan bisa disebut manusia lagi."

Naya terdiam sebentar. Sepertinya ada hal yang sangat ingin dia tanyakan. Dia mencoba menahan keingintahuannya. Tapi di sudah tak sanggup lagi. "Anu...Iruma. Boleh aku tanya sesuatu?"

"Tanya saja. Kau ini seperti baru bertemu denganku saja."

"Soalnya ku rasa ini agak pribadi. Kau bilang kekuatanmu berasal dari capsule-capsule itu bukan? Sebenarnya Capsule itu apa? Apa itu Ultraman dan Kaiju?"

"Ku rasa memang sudah saatnya aku ceritakan padamu." Iruma mengeluarkan masing-masing satu buah Ultra Capsule dan Kaiju Capsule. "Ultraman adalah prajurit cahaya dari bintang yang jauh di langit sana. Mereka bersama-sama bertugas melindungi alam semesta dari para Kaiju ataupun entitas jahat yang mengkehendaki kehancuran. Sementara Kaiju, seperti yang kau lihat adalah monster penghancur dengan kekuatan yang dahsyat. Mereka ada di alam semesta dan menyebabkan kehancuran dimana-mana sehingga para Ultraman memerangi mereka. Dan capsule-capsule ini dibuat dari kekuatan mereka oleh seorang prajurit cahaya. Ringkasnya, Capsule ini jatuh ke tangan yang salah namun secara tidak sengaja melahirkan prajurit cahaya yang baru, yaitu Geed."

"Sepertinya saat aku terlahir ke dunia ini, Capsule-capsule ini ditanamkan ke dalam tubuhku oleh entitas asing yang tak ku ketahui. Mungkin dia adalah entitas yang kalian sebut sebagai Dewa. Tapi aku ragu kalau dewa juga akan memberi kekuatan monster yang jelas-jelas musuh mereka padaku. Apa kau mengerti?"

"Ku-Kurang lebih begitu..." Jawab Naya, dengan dahi berkerut tanda kebingungan.

Iruma hanya tersenyum. Dia sadar kalau topik yang dia bicarakan ini pasti sulit untuk dicerna oleh orang-orang dari dunia ini. Tapi engan begini setidaknya beban didadanya sudah berkurang. Dia merasa sedikit lega karena tak ada lagi yang dia sembunyikan.

"Oh iya." Iruma memulai pembicaraan lagi. "Mungkin ini cukup sensitif untuk wanita, tapi tumben kau merubah penampilanmu. Kau juga tak lagi menggunakan armor mahal itu." Tanya anak itu.

"Aku ingin melepaskan diriku dari segala pemberian ayahku. Armor itu, beserta semuanya. Aku tak ingin lagi."

"Apakah pedangmu juga?"

Naya menggeleng. "Pedang itu adalah milik kuil suci di kerajaan Metarion yang di hadiahkan pada ayahku. Jadi sampai saat ini, pedang ini masih milik kuil suci."

"Apa kau berniat mengembalikannya pada mereka? Bagaimana kalau mereka menginginkannya?"

"Aku tidak akan memberikannya. Bilang saja aku mencuri pedangnya."

"Wah-wah. Si cantik rumahan rupanya sudah jadi berandalan ya sekarang."

"C-Cantik rumahan!? Iruma! Jangan memanggil begitu dong!" rengek Naya sambil memukuli bahu Iruma.

"Hahaha. Iya deh. Maaf."

Naya tertegun. Dia menyadari ada sesuatu yang berbeda. "Hey Iruma. Sudah selama ini tapi sisi jahatmu belum kambuh ya?"

Iruma juga baru menyadarinya. Selama ini dia sudah terlalu terbiasa dengan sisi belial miliknya sehingga dia tidak sadar. "Kau benar. Sejak pertarungan hari itu sisi jahatku jarang sekali muncul. Apa mungkin karena aku menggunakan kekuatan Geed?"

Saat keduanya asik mengobrol, pintu pagar dibuka. Aeryn baru saja selesai berbelanja. Dia membawa banyak sekali barang bersamanya. Wanita anggun bersurai cokelat dengan bola mata yang senada. "Aku kembali!" Katanya. Tapi tak ada balasan.

Telinganya menangkap suara obrolan dari taman. Penasaran, dia pun menghampirinya. Dilihatnya disana ada Iruma yang sedang duduk bersama seorang anak perempuan berambut merah nan cantik. Diam-diam dia hampiri mereka.

"Wah-wah. Kayaknya adik kecilku udah besar ya sekarang?" Kata Aeryn yang berdiri di belakang mereka berdua. "Udah bawa cewek ke rumahnya."

Naya tersentak. Sementara Iruma dengan santainya berbalik. "Oh, kau sudah pulang ya Aeryn-san? Perkenalkan ini temanku Naya Virbella. Dia juga akan ikut tinggal disini bersama kita."

"Wah...wah. Kau langsung mengajak pacarmu tinggal bersamamu ya. Tak ku sangka kau agresif juga ya. Bagus! Itu baru adikku!"

"B-Bukan begitu!" Naya menyela. "A-Aku Cuma..."

"Yah. Asalkan adikku senang. Aku tak masalah. Semoga langgeng!" Kata wanita itu. Tanpa mempedulikan mereka berdua, dia pergi menenteng barang bawaannya kedalam. Sementara Naya mengejarnya dengan wajah merah padam.

Iruma tertawa kecil. Benar. Hidup seperti inilah yang dia inginkan. Hidup yang tenang, dan jauh dari permasalahan. "Sepertinya mulai dari sekarang, semuanya akan menjadi menarik ya..."