Naruto yang menggendong Bellbo pun terdiam dan menatap Hilda, "Maaf bukannya aku tidak mau, hanya saja aku tidak tahu arah jalan pulang, jadi aku takut kita hanya akan tersesat karena aku sendiri tidak tahu di mana rumahku," balas Naruto dengan wajah datar dan hal itu membuat Hilda tercengang. Namun, sebenarnya itu cukup wajar, karena secara teknik dunia ini bukanlah dunianya, jadi Naruto mana tahu arah jalan pulang.
"Oi Duren busuk, kau jangan bercanda denganku. Bagaimana bisa orang sepertimu tidak tahu arah jalan pulang?" tanggap Hilda menatap tak percaya Naruto, jujur saja ia tidak pernah sekalipun melihat Naruto salah arah atau tersesat ketika ingin pulang.
"Tenang dulu Hilda, aku tidak bisa mengingat banyak hal, jadi aku tentu tidak bisa bergerak sendiri, dan juga saat datang kemari, aku tertidur, jadi aku tidak melihat apa saja yang dilewati untuk mencapai tujuan," ujar Naruto memberikan alasan terbaiknya.
"Cih." Nampak jelas Hilda begitu kesal dengan Naruto. Namun, hal itu ia tahan, karena menghajar Naruto hanya akan membuatnya dibenci tuannya sendiri.
Naruto pun menemui delman yang ada di parkiran, "Paman!" panggil Naruto padanya.
"Hem???" sang kusir yang sedang tidur pun terbangun dan mendelik ke arah Naruto yang tersenyum dan Hilda yang bermuka datar, "Apa maumu bocah?" tanya pak kusir yang tidurnya terganggu.
"Tolong antar aku pulang dan ini alamatnya, tenang saja aku akan bayar biayanya," ujar Naruto sembari memperlihatkan sisa uangnya yang lumayan banyak.
"Oke, cepat naik," ujar sang Kusir meminta Naruto dan Hilda naik ke delmannya. Naruto pun naik sambil menggendong Bellbo, sedangkan Hilda mengikuti dari belakang dan duduk di samping Naruto yang sedang memberi minum Bellbo dengan susu sapi yang dimasukkan ke botol dodot.
Sang kusir pun mulai melihat alamat rumah Naruto yang tertulis di amplop surat yang dikirim ayahnya, setelah sudah tahu tujuannya sang kusir pun membangunkan kudanya lalu membuatnya bergerak pelan ke depan, sang kusir mulai mengemudikan kedua kuda miliknya untuk berjalan keluar dari pasar, membawa Naruto kembali ke desa Angin, "Tak aku sangka rumahmu jauh juga."
Naruto yang mendengar perkataan dari sang kusir hanya tersenyum dan menjawab seadanya, "Yah begitulah, aku datang kemari hanya untuk mengambil pendidikan tinggi untuk bersenang-senang," jawab santai Naruto.
"Bersenang-senang kah, hem lalu kenapa pulang? Karena seingat ku di bulan ini tidak ada hari libur yang panjang?" tanya sang kusir lagi.
"Aku hanya diusir paman," jawab Naruto dengan santai.
"Kau dikeluarkan? Sayang sekali, apa alasan mereka mengeluarkan mu dari sekolah?" tanya sang kusir lagi sembari membawa Naruto, Hilda dan Bellzebub kecil melalui tebing batu dengan delmannya.
Hilda yang mendengar pertanyaan itu hanya memilih diam dan menatap ke luar jendela kereta kuda itu. Sedangkan Naruto ia merasa curiga dengan orang di hadapannya, apalagi jalan yang ia tempuh adalah tebing bebatuan, emangnya enggak ada jalan yang lebih aman.
"Aku tidak ingin membahas masalah itu," tanggap Naruto sembari memeluk dan mengelus bayi berambut hijau yang terus menempel di tubuhnya itu.
"Oke, oh iya apa bayi itu anak kalian berdua?" tanya pa kusir itu pada Naruto.
Hilda langsung menatap tajam pak kusir dan siap memakinya. Namun tangan Naruto menghalanginya, "Ya bayi ini anakku, tapi dia bukan ibunya," balas Naruto.
Hilda kaget mendengar penuturan dari Naruto, "Oh bukan yah, lalu siapa ibunya bocah?" tanya sang Kusir.
"Aku tidak tahu, karena bayi ini hanyalah anak angkatku yang aku temukan hanyut di sungai," jawab Naruto.
"Lalu gadis itu?"
"Dia adalah mentorku dari panti asuhan, ia mengajariku banyak hal tentang bagaimana merawat bayi ini," jawab Naruto lagi.
"Lah, bukannya kalau kaya gitu kesannya dia itu adalah ibu angkat dari bayi itu?"
Naruto langsung mengedipkan matanya berkali-kali dan menatap Hilda yang langsung mencubit perutnya dengan keras, "Dengar itu Duren Busuk, aku ini ibu asuh nya Bouchama," ucap Hilda dengan senyum sangarnya.
"Ah maaf karena tidak sadar akan hal itu," ujar Naruto mengalah, karena ia tidak ingin ada kekacauan apapun terjadi di tempatnya saat ini.
"Aku ingat itu duren busuk."
'Lagi-lagi julukan yang ia berikan benar-benar menyebalkan,' batin Naruto yang sebenarnya rada kesal dengan panggilan yang diberikan Hilda padanya.
"Ya ya ya. Wajah rata macam tembok beserta dadanya" ejek Naruto.
Hilda yang dikatai begitu langsung menatap tajam dirinya, karena jelas Hilda punya payudara yang bagus, malah dibilang rata, "Kau ini buta atau bagaimana Duren busuk?"
"Hem."
"Ahahaha kalian cocok sekali!" seru pak kusir yang sedang bekerja.
"Kami sama sekali nggak cocok" ucap Naruto dan Hilda bersamaan.
"Sudahlah, dimata banyak orang kalian itu sangat cocok, karena bisa merawat bayi di usia muda dan selalu bersama, kalian itu malah seperti sepasang kekasih muda yang sudah menikah," tanggap kang kusir lagi.
Hilda dan Naruto pun terdiam dan saling menatap satu sama lain, "Huh! Rasanya aku akan mati jika aku menikah dengan gadis yang tak punya perasaan seperti dia!"
"Yang ada aku yang sakit kepala jika harus berhadapan dengan Duren busuk sepertimu!" balas Hilda tidak mau kalah.
"Diamlah, aku tidak mau Bellbo sampai menangis gara-gara kita terlalu berisik.
"Itu kau paham," balas Hilda dengan tampang datarnya.
Bersambung
