Naruto The Psycho in Magic World
Crossover: NARUTO/ナルト,.Beelzebub/べるぜバブ,.High School DxD/ハイスクールDxD
Pair: [Namikaze Naruto,.?] Beelbo/Kaiser de Emperana Beelzebub, Hildagarde [Lee,.?]
Genre: Fighter,. Schooll,. Magic, Slash Fighter, Drama, Action, Adventure.
Episode 12 : dua orang yang tak terpisahkan
By:Madara45678uchiha.
"Diamlah, aku tidak mau Bellbo sampai menangis gara-gara kita terlalu berisik.
"Itu kau paham," balas Hilda dengan tampang datarnya.
Singkat cerita.
Setelah 2 hari perjalanan yang mereka lakukan akhirnya mereka sampai di perkampungan, yaitu desa angin.
Nampak kalau desa itu sangat miskin dan nampak kumuh, Naruto dan Hilda akhirnya turun dari kereta dan langsung membayar biaya keberangkatan mereka menuju desa itu.
"Wah Naruto kok kamu pulang ada apa?" tanya salah seorang penduduk yang terlihat sudah seperti kakek-kakek kepada Naruto, ia juga nampak sangat kaget ketika melihat Naruto menggendong bayi dan di dampingi perempuan.
"Ini, ayah dan ibu saya meminta saya pulang, jadinya saya kembali ke desa, yah sungguh pemandangan desa terlihat begitu parah, aku sampai lupa dimana rumahku karena saking lamanya aku tidak pulang," gumam pelan Naruto.
"Yah itu sih wajar, sudah 10 tahun lebih nak Naru meninggalkan desa, akan tetapi, meskipun desa ini telah mengalami perubahan dari masa ke masa, akan tetapi perubahan yang terjadi bukan kearah lebih baik, melainkan lebih buruk, tuan bisa melihat sendiri, banyak petani yang prustasi karena terus menerus mengalami gagal panen, karena wabah belalang yang merusak tanaman," ungkap salah satu warga desa.
"Yah aku bisa melihat penderitaan kalian, lalu bagaimana ayah dan ibuku? Apakah mereka baik-baik saja?" tanya Naruto pada kakek tua yang menghampirinya.
"Mereka baik-baik saja dan sedang menunggu tuan muda untuk pulang," ucap si kakek tua itu.
"Kalau memang seperti itu, bisakah kakek menunjukkan jalannya, saya ingin seera beristirahat setelah dua hari perjalanan," pinta Naruto pada si kakek.
"Tentu saja tuan muda," ucap pelan si kakek sembari berjalan menuntun Naruto dan Hilda menuju rumah dari Uzumaki Naruto.
Terlihat wajah Naruto biasa-biasa saja meskipun melihat keadaan menyedihkan orang-orang di desa itu, sungguh ia terlihat tidak begitu peduli, meskipun tadi ia membalas sapaan dari si kakek dan berkata ramah. Namun, Naruto sama sekali tidak merasa senang dan ia juga tidak merasa marah, ia tidak sedih dengan keadaan desanya yang hampir terlihat seperti desa orang mati, karena banyaknya orang yang kelaparan gara-gara gagal panen berkali-kali.
"Menyedihkan sekali, aku sampai tidak bisa berkomentar banyak, apakah pemerintah sudah memberikan bantuan dana pada desa ini?" tanya Hilda entah pada siapa.
"Dengan keadaan desa yang begitu terpencil seperti ini, aku rasa hal itu sangat mustahil untuk dilakukan, Hilda-san, aku yakin pemerintah dunia akan jauh lebih memilih mengurusi urusan lain dari pada desa kecil yang tidak memberikan kontribusi yang banyak pada kerajaan," tanggap Naruto dengan pemikiran realistisnya.
"Yah itu memang benar, bahkan ayamu selaku kepala desa terus mengirim surat untuk meminta dana pada pemerintah, tapi sampai sekarang tidak ada satupun bantuan yang dikirimkan, padahal kami sedang kewalahan dengan wabah belalang yang melanda tempat kami," ungkap si kakek.
Naruto hanya bisa diam, yah ia sudah paham cara kerja pemerintah, kerajaan di dunia ini hanya memandang desa-desa kecil seperti sebuah batu kerikil yang sama sekali tidak berharga, jadi mau desa itu hilang hancur atau bagaimanapun, Raja tidak akan peduli, kecuali jika desa itu selalu memberikan opeti yang besar, kira-kira 9000 karung beras per bulan, barulah desa itu akan menjadi prioritas, tapi desa ini sudah terpencil miskin sekalipun bisa memberikan opeti, dengan luas ladang yang tidak seberapa, paling-paling hanya bisa menyerahkan seratus karung perbulan, itupun jika tidak sedang dalam masalah.
'Ibu, apa benar ia masih hidup, dan kalaupun ia hidup, apakah wajahnya akan sama dengan wajah ibuku di duniaku yang sebelumnya,' batin Naruto, 'Yah meskipun begitu aku juga penasaran dengan rupa ayahku, karena sewaktu kecil ayahnya sudah tida atau meninggal dunia, mengetahui kalau ayahn ya Namikaze Minato masih hidup di dunia ini, ia pun memutuskan untuk tersenyum dan juga ia cukup penasaran dengan wajah ayahnya, meskipun ibunya sering mengatakan kalau ia mirip dengan ayahnya, akan tetapi Naruto tetap ingin melihat sosok ayahnya secara langsung.
Setelah beberapa menit mereka berjalan mengitari desa dan selalu disambut dengan senyuman para warga desa, Naruto hanya membalas senyuman mereka dengan senyum tipis dan lambaian tangan yang diikuti oleh Bellbo yang menempel dibahunya.
"Wah siapa bayi yang bersama anak kepala desa kita itu, manis sekali, apakah dia cucunya kepala desa kita?" bisik orang-orang desa.
"Yah aku rasa juga begitu, dan mungkin wanita yang mengikuti Naruto-dono adalah istri dari Naruto-dono," bisik warga desa yang lain.
Tanpa mereka sadari Naruto dan Hilda sebenarnya mendengar bisikan-bisikan mereka, dan nampak keduanya hanya bisa menghela nafas karena dimanapun mereka berjalan di sepanjang jalan itu juga banyak yang mengira kalau mereka berdua adalah pasangan suami istri. Hingga akhirnya mereka sampai di rumah gubuk yang sudah nampak seperti tak layak huni, dinding kayunya sudah rapuh dan tiang rumahnya juga dimakan banyak rayap.
"Naruto-dono, ini adalah rumah kepala desa kita singkatnya ini rumah kedua orang tuamu, masuklah, ayah dan ibu tuan muda pasti sudah menunggu," ucap sang kakek yang langsung pergi dari sana.
Naruto dan Hilda hanya bisa diam dan tercengang, "Nampaknya rumah kedua orang tuamu jauh lebih buruk dari rumah para warga disini," tanggap Hilda.
"Yah, padahal dia adalah kedesanya," tambah Naruto yang hanya bisa diam pasrah dan berjalan santai ke arah pintu masuk dan mengetok pintu.
Tok-tok-tok,
Naruto mulai mengetok pintu rumah keluarga Namikaze, "Ya siapa?" sahut suara perempuan dengan nada lembut dan rasa penasaran.
Naruto cukup kaget mendengar suara perempuan itu, karena ia benar-benar mengenal suara itu, yah suara itu adalah suara ibunya , hampr-hampir Naruto menangis mendengar suara ibunya tersebut. Namun, ia menahan perasaan haru yang ia rasakan karena ia tidak mau ditertawakan oleh Hilda yang sedang menggendong Bellzebub dan memberikannya susu, tak lama setelahnya pintu terbuka dan memperlihatkan seorang perempuan yang dari wajah bisa dinilai saat ini ia terlihat seperti wanita berambut merah panjang, berusia 25 tahun meskipun sebenarnya usia aslinya mungkin sudah menggapai angka 30 ke atas.
"N-Naruto!" seru sang ibu sembari tersenyum.
"Aku pulang ibu," sapa Naruto sembari tersenyum.dan terlihat Naruto tidak bisa membendung air matanya lagi, karena itu yang ia tahan bukan hanya rindu yang ia miliki tapi rindu dari Namikaze Naruto kepada ayah ibunya juga sama besarnya, hal ini membuat Uzumaki Naruto yang memakai tubuhnya terhenyut dan tak mampu menahan air matanya lagi.
"Ah selamat datang kembali, dan ayo masuk," ajak sang ibu atau Kushina Namikaze sembari tersenyum ke arah Naruto dan mengelus pelan wajah Naruto yang mengalir air mata, "Ayahmu pasti akan senang melihat kau kembali," ucap sang ibu lagi sembari menarik Naruto masuk ke dalam, melihat Naruto masuk ke dalam rumahnya, Hilda langsung mengekori Naruto dari belakang dan saat berada di ruang tamu Naruto dan Hilda pun duduk di atas tatami, sedangkan bayi Bellzebub langsung berjalan ke arah Naruto dan duduk di pangkuannya, yah hari ini hari di mana Bellzebub bisa berjalan sendiri, meskipun tidak terlalu jauh,
Bellzebub juga terlihat mengenakan popok, yah meskipun Bellzebub tidak senang memakai popok, akan tetapi ia tetap memakainya karena Naruto mengancam akan memotong burungnya jika ia tidak memakai popok, yah meskipun Bellbo juga tekadang mengambil beberapa kesempatan untuk melepaskan popoknya dan memakainya kembali hanya ketika sedang jalan-jalan dengan Naruto.
"Oh iya Naruto, kalau boleh tahu siapa perempuan berpakaian hitam di sampingmu, lalu itu bayinya siapa?" tanya Kushina yang penasaran dengan kehadiran Hilda di samping Naruto.
Naruto pun langsung menatap ke arah Hilda dengan pandangan datar dan kembali menatap ke arah ibunya lalu ia berkata sembari merangkul Hilda dan berkata, "Dia ….." gumam Naruto. Namun, ketika ia ingin menjelaskan mengenai siapa Hilda, mulutnya langsung tercekak, karena ia bingung mau memperkenalkan Hilda sebagai siapanya dia apa hubungannya dengan Hilda, apalagi ibunya juga notice dengan kehadiran Bellzebub kecil dipangkuannya, 'Mati aku, apa yang harus aku katakan pada ibuku, karena aku tidak ,mungkin mengatakan kalau dia adalah istriku, karena Hilda bisa marah besar padaku,' batin Naruto dengan wajah berkeringat.
Hilda yang dirangkul oleh Naruto langsung meletakan kedua tangannya ke depan dan sedikit membungkuk lalu memperkenalkan diri, "Namaku Hilda, lebih tepatnya Hildagarde, kalau boleh, mohon anggap saya sebagai anak perempuan anda," ucap Hilda.
"Ah, ano Hilda-san maksudmu?" tanya Kushina yang bingung.
Naruto yang mendengar perkataan dari Hilda langsung merasakan pirasat buruk, ia bingung mau mengatakan apa saat ini, karena ia sediri bingung mau berkata apa mengenai Hilda pada ibunya apalagi Bellzebub yang ada di pangkuannya, sehingga ia tidak punya pilihan lain selain diam dan ia hanya bisa berharap kalau Hilda tidak mengatakan sesuatu yang aneh dan bisa mengundang ke salah paham.
"Itu karena aku dan dia(Bellzebub) tidak bisa dipisahkan," ucap Hilda sembari menatap ke arah Bellzebub yang duduk dipangkuan Naruto. Namun, dalam pandangan Kushina, Hilda sedang menatap Naruto anaknya, sehingga kata dia dari perkataan Hilda disalah artikan menjadi Naruto.
"Ehem, menarik, tunggu sebentar yah ibu ingin memanggil ayahmu yang sedang membantu para warga dalam mengurangi wabah belalang yang ada, hehe," gumam Kushina yang langsung pergi keluar meninggalkan Naruto yang tegang, Hilda yang santai dan Bellzebub yang sedang tidur dipangkuannya Naruto.
Melihat ibunya sudah keluar rumah Naruto langsung menatap ke arah Hilda, "Apa maksudmu meminta ibuku menganggapmu sebagai anak perempuannya?" tanya Naruto pada Hilda.
"Menurut buku yang aku baca ini adalah cara terbaik dalam membuat para orang tua di dunia manusia menerima aku dan Bellzebub bouchama," jawab santai Hildagarde.
"Yah, tapi karena itu pula, ibuku mengira kita punya ikatan khusus!" balas Naruto.
"Bukankah kita memang memilikinya," tanggap Hilda sembari menatap Bellzebub yang tertidur di pangkuan Naruto, Hilda kemudian mngelus lembut bayi itu.
"Hilda apa kau sadar kata-katamu barusan itu secara tidak sadar adalah kalimat yang menyatakan kalau kita adalah suami istri?" tanya Naruto pada Hildagarde.
"Em tapi jika ini adalah pilihan terbaik yang ada, aku tidak punya waktu untuk memikirkan jawaban lain, toh sebelumnya juga banyak yang mengira kita punya hubungan seperti itu," balas Hilda dengan wajah datanya, ia kemudian menatap Zebul speal yang ada di tangan Naruto, "Nampaknya tandanya masih dalam perkembangan," gumam pelan Hilda.
Naruto kemudian menatyap lambang Zebul Speall di punggung tangannya lalu menatap ke arah Hilda, "Apa kau tahu arti dari lambang ini?" tanya Naruto pada Hilda.
"Yah, itu adalah Zebull emblem, lambang kontrak antara kau dan Bouchama, dengan adanya segell itu, maka sudah dipastikan kalau kau sudah diterima sebagai ayah dari Bouchama," ungkap Hilda sembari melirik Naruto dari sudut matanya.
"Begitu yah," gumam pelan Naruto sembari menatap Bellzebub.
"Kau tidak marah? Bukankah jika lambang itu terus tumbuh, kau akan menjadi iblis kuat yang akan menghancurkan umat manusia?" tanya Hildagarde, jujur ia tidak menyangka kalau Naruto tetap menerima segel itu, berbeda dengan Oga yang berusaha mati-matian untuk memindahkan Zebull emblem ke orang lain dan melepaskan diri dari tanggung jawab dalam merawat Bellzebub.
"Jika aku masih bisa bersama denganmu dan Bellzebub, apapun yang harus aku korbankan bukanlah masalah, selama itu bukan keluargaku," balas Naruto dengan wajah santainya.
"Lalu bagaimana dengan pandangan keluargamu sendiri?" tanya Hilda dengan wajah datarnya.
"Aku tidak tahu, " tanggap Naruto sembari berbaring di atas tatami dan membaringkan Bellbo di dadanya, membiarkan Bellzebub tidur dan membasahi bajunya dengan air liur.
"Apa kau sangat yakin dengan keputusanmu menjaga segel itu?" tanya Hilda.
"Jika aku tidak menerima kehadiran segel ini, aku pasti sudah berusaha menghapusnya dari dulu, tapi sampai saat ini aku tidak menghapusnya bukan," gumam pelan Naruto, "Lagipula sejak dulu sampai sekarang aku selalu ingin bisa merawat bayi dan aku ingin punya bayi sendiri suatu saat nanti untuk aku rawat bersama istriku," gumam pelan Naruto sembari memejamkan mata, "Yah meskipun itu hanya sebatas mimpi yang tidak akan pernah terwujud," gumam pelan Naruto sembari mengistirahatkan diri menunggu ibunya kembali.
"Heh, apa sebegitunya kau ingin merawat seorang bayi, sampai-sampai kau mau merawat bayi orang lain hanya karena ia mau dirawat olehmu?" tanya Hilda pada Naruto.
"Mau bagaimana lagi, orang dengan wajah pas-pasan sepertiku dan tak memiliki kekuatan sihir di mana di dunia ini kekuatan sihir adalah segalanya maka menurutmu siapa yang mau menikah denganku, dan juga aku tidak ingin melihat orang tuaku bersedih karena tidak bisa menimang cucu," tambah Naruto lagi.
"Jadi itu alasan kaui tidak mempermasalahkan kehadiran Bouchama di sampingmu?" tanya Hildagarde lagi.
Naruto sedikit membuka matanya dan menatap ke arah Hilda, lalu ia menutup matanya kembali, "Yah dan aku adalah orang yang cukup jujur untuk mengatakan kalau aku sudah terlanjur menyayangi Bell-kun seperti anakku sendiri," tambah Naruto dengan wajah datarnya.
"Bagaimana bocah sepertimu sudah punya pikiran dewasa," tanggap Hilda sembari tersenyum tipis dan mengelus rambut Naruto yang sedang memejamkan mata.
"Naruto hanya diam saja, karena ia memang sedang mencoba untuk tidur, sementara itu Hilda melihat senyum bahagia dari Bellzebub ke empat itu hanya bisa ikut tersenyum tipis dan ikut diam menunggu kepulangan Kushina yang sedang memanggil ayah dari Naruto yang bernama Minato Namikaze.
30 menit kemudian
Pintu masuk terbuka dan terlihat Kushina masuk bersama seorang pemuda berambut pirang seperti Naruto ia juga punya mata biru yang menawan, hanya saja ia memiliki rambut jabrik yang sedikit lebih panjang dari Naruto dan atapan wajahnya sangat lembut.
"Kushina, sebenarnya apa yang ingin kau tunjukkan padaku?" tanya Minato yang langsung diam tak bisa berkata apa-apa ketika ia melihat Naruto berbaring di atas atatami dengan kepala yang berada di atas pangkuan seorang perempuan berambut pirang dengan gaun hitam yang dan bertubuh montok yang sedang asik mengelus rambut dari Naruto dan memberi makan bayi mungi berambut hijau yang sudah bangun dengan susu formula dari dalam botol dan bayi itu minum di atas dada Naruto.
"Nah inilah yang mau aku tunjukan Minato-kun," jawab Kushina.
Hilda yang sadar kalau ada orang yang datang, langsung menatap ke pintu masuk dan melihat, kalau ada Kushina ibu dari Naruto yang tersenyum ke arahnya dan seorang pria yang terlihat hampir mirip dengan Naruto yang menatap mereka dengan wajah terkejut yang kemungkinan adalah ayah dari Naruto.
"Selamat datang kembali Okaasama, Otousama. Maaf jika Hildagarde terlambat memberikan salam pada tuan dan nyonya," ungkap Hildagarde sembari menundukkan tubuhnya.
"Ah iya tidak apa-apa, duduklah dengan normal dan tolong bangunkan Naruto juga, kita harus bicara sekarang," gumam pelan Minato dengan penuh wibawa dan duduk di hadapan Hilda, yah karena di rumah mereka tidak ada kursi tamu dan meja, jadi mereka hanya duduk di atas tatami saja.
Hilda pun mengangguk dan langsung memindahkan Bellbo dari dada Naruto ke tatami lalu menjewer telinga Naruto dengan sangat-sangat kencang, "Auuu! Aduh dududududuh Sakit-Sakit sekali Hilda!" seru Naruto yang lansgung duduk dan menatap tajam Hildagarde sembari mengelus telinganya yang memerah.
Minato dan Kushina langsung swedrop melihat kejadian itu, sementara Bellzebub malah tertawa senang melihat Naruto di jewer oleh Hilda. Melihat Bellzebub tertawa bahagia Naruto yang telinganya memerah karena ulah Hilda yang menjewernya. Melihat Bellbo yang tertawa rasa marah Naruto pun teredam dan langsung menggendong Bellbo, "Dasar anak nakal, bisa-bisanya kau tertawa saat ayahmu disakiti oleh orang," ucap Naruto sembari menatap tajam Bellbo.
"Ahahahahahaha, da!"
Plak!
Wajah Naruto kemudian ditepuk oleh kedua tangan kecil Bellbo dengan lembut dan terlihat Bellzebub terus mengeyut dot miliknya sembari tersenyum tipis ke arah Naruto. Sementara itu Minato dan Kushina hanya bisa diam tidak mengerti, jujur saja, mereka senang kalau Naruto punya anak, tapi masalahnya siapa ibu dari anak itu, karena dilihat dari manapun, wanita yang ada di samping Naruto tidak memiliki rambut yang berwarna hijau, lalu dari yang terlihat Naruto dan Hilda tidak memiliki kemiripan dengan bayi itu.
"Ehem Naruto," ucap suara seorang pria di belakang Naruto.
Naruto yang kaget langsung menatap ke arah belakang dan melihat seorang lelaki yang memang dari pustor wajah dan warna rambut mirip dengannya dan disampingnya ada Kushina ibu dari Naruto. Naruto yang melihat hal itu paham kalaiu orang itu adalah ayahnya,. Naruto pun tersenyum lembut menyambut kehadiran Minato.
"Ayah," sapa Naruto sembari menurunkan Bellbo dan memeluk Minato dengan erat, "Maaf baru bisa datang sekarang," gumam pelan Naruto di telinga Minato.
"Tak apa-apa nak, aku paham, lagi pula, karena ayah punya masalah keuangan di desa kita, belum lagi masalah wabah belalang, lalu kerajaan juga tidak mau membantu desa kita, sehingga ayah harus bekerja keras untuk melindungi desa ini dari kematian," ungkap pelan Minato, "Dan Ayah minta maaf karena tidak bisa mengirimkan uang untuk membuatmu tetap bersekolah di sana," tanggap Minato.
"Tidak masalah, aku tidak akan mempermasalahkan hal ini," ungkap Naruto.
"Tapi, kalau boleh tahu, apa hubunganmu dengan perempuan yang kau panggil Hilda itu?" tanya Kushina dan juga diberi anggukan oleh Minato.
"Yah ayah juga penasaran dengan hubunganmu dengannya," tanggap Minato sambil manggut-manggut.
"Soal itu em ... " Naruto kemudian menatap Hildagarde, karena ia tidak mau asal menjawab.
Bersmbung.
