Naruto The Psycho in Magic World

Crossover: NARUTO/ナルト,.Beelzebub/べるぜバブ,.High School DxD/ハイスクールDxD

Pair: [Namikaze Naruto,.?] Beelbo/Kaiser de Emperana Beelzebub, Hildagarde [Lee,.?]

Genre: Fighter,. Schooll,. Magic, Slash Fighter, Drama, Action, Adventure. Episode 13 : By:Madara45678uchiha.

"Yah ayah juga penasaran dengan hubunganmu dengannya," tanggap Minato sambil manggut-manggut.

"Soal itu em ... " Naruto kemudian menatap Hildagarde, karena ia tidak mau asal menjawab.

"Kami sudah menikah dan ini adalah anak saya dengan suami saya yang sebelumnya dan Naruto merawatnya dengan baik," jawab Hildagarde dengan wajah santainya.

"Hilda!" seru Naruto sembari menatap tajam perempuan yang ada di sampingnya, yah gadis berambut pirang dengan gaun maid hitam itu mengaku kalau ia adalah suami dari Naruto dan Bellzebub adalah anaknya dengan mantan suaminya, tentu saja hal itu membuat panik Naruto, yah meskipun Naruto bisa berbuat apapun pada siapapun dan tak akan ragu membvunuh atau meninggalkan orang lain. Namun jika dihadapan keluarganya ia tidak bisa melakukan itu.

"B-benarkah? Ano …"

"Nama saya Hildagarde. Otou-sama bisa memanggilku Hilda, dan anak itu namanya Kaiser de Emperana Bellzebub dai Yonsei, saat kami hidup bersama saya merasa sangat senang karena Naruto bisa menjadi ayah yang baik untuk anakku," ucap Hilda sedikit ngarang dan berbohong. Sementara itu Naruto gelagapan mendengar pengakuan Hilda yang penuh kebohongan.

'Kyaaaa... Akhirnya putraku punya istri' pikir Kushina histeris bahagia. Ya putranya ini tidak tahu hal yang mengenai interpersonal layaknya laki-laki dan perempuan sehingga membuat Kushina cemas jika anak tunggalnya nggak memiliki pasangan untuk meneruskan garis keturunannya.

"Dan saya datang kemari untuk meminta izin agar anda bisa menerima saya sebagai menantu dan anak saya sebagai cucu anda," ucap Hilda sembari melakukan Dogeza di hadapan Minato.

Sementara itu Minato menatap ke arah Naruto dengan wajah tak percaya, "Naruto apa yang kau lakukan! Kenapa kau tidak mengundang kami kedalam pernikahanmu! Apakah kami ini tidak berharga untukmu!" seru tak percaya Minato sembari menggoncang tubuh Naruto yang mengalihkan pandangan dari Minato ayahnya.

'Duh. Apa yang harus kujawab' pikir Naruto kalut

"A ... k-k"

"Kami menikah secara sederhana karena tidak memiliki uang yang cukup, sehingga hanya ayah dan kerabatku saja yang menjadi saksi," balas Hilda melengkapi apa yang ingin Naruto katakan.

'Kenapa jadi gini njir?!' tanya Naruto histeris dalam hatinya

"Naruto satu pertanyaan lagi, kenapa kau mau menikahi janda beranak satu? Apakah tidak ada wanita lain, ataukah kau kurang laku?" tanya Kushina rada khawatir.

"Soal itu ..." Naruto melirik sedikit ke arah Hilda yang diam sembari memangku Bellzebub di pangkuannya, "K-karena sebenarnya aku ..."

"Ya kamu?" tanya sang ibu penasaran.

'Kalau sudah begini, aku sebaiknya jujur saja sekarang,' batin Naruto, "Ibu, karena suatu hal, saat pemeriksaan level mana, energi sihirku sangat rendah dan bisa dibilang tidak ada, sehingga aku tidak bisa masuk kelas wizard, dan bukan hanya itu, ternyata fisikku tidak memadai hingga akhirnya di dalam kelas knight pun aku juga jadi bahan tertawaan. Sekarang tidak ada yang memandangku, tak ada satupun yang mencintaiku, sampai akhirnya aku bertemu dengannya dia melatihku menjadi knight yang hebat dan dia juga baik padaku ... karena sudah lama menjalin pertemanan kami pun terbiasa dan aku sering main ke rumahnya dan mengakrabkan diri dengan anaknya," jawab Naruto dengan nada lembut, "Karena kami memiliki rasa cinta yang sama, aku memutuskan untuk melamarnya dan akupun nmelewati tes yang keras dari ayahnya tapi aku berhasil. Namun, di sekolah aku masihlah orang yang dianggap remeh, karena sihirku masih tidak bisa keluar dan aku hanya bisa menggunakan kekuatan fisik untuk bertarung, hingga akhirnya aku dikeluarkan karena suatu insiden. Sekarang aku minta maaf karena telah membohongi kalian melalui surat yang sering aku kirim," ungkap sedih Naruto sembari sujud di hadapan ayah dan ibunya.

'Ya ampun. Kenapa cobaan yang ada terus menghampiri anakku, Kami-sama?' tanya Minato dalam hati. Jujur dia nggak tahu harus apa karena para bangsawan sana suka seenak jidat mengeluarkan seseorang yang tidak tahu kalau seseorang itu memiliki potensial melebihi bakat itu sendiri

"Naruto, jangan seperti itu, kau bukan orang lemah, aku sendiri yang menyaksikan kekuatanmu!" seru Hilda yang tidak suka Naruto merendahkan dirinya sendiri.

"Kalau sudah dikatakan oleh istrimu. Aku nggak bisa mengelak pendapat karena kau memiliki potensial, Naruto" ucap Kushina

Naruto yang mendengar perkataan dari Hilda dan ibunya langsung mengangkat wajahnya lalu ia pun tersenyum dan memeluk Bellzebub sembari tersenyum tipis , "Ah, semua itu berkat malaikat kecil itu," gumam pelan Naruto padahal dalam hatinya ia ingin bilang iblis kecil.

"Wah akhirnya putraku nampak keren nih kalau dah sama istrinya, benar nggak, istriku?" Tanya Minato ke Kushina yang bermaksud menjahili Naruto.

"Tentu saja. Melihatnya seperti kita masih muda" ucap Kushina.

"Tapi ini juga bisa jadi masalah besar wahai anakku," ungkap Minato sembari memijat kepalanya.

"Masalah? Maksudnya?" tanya Hilda yang bingung.

"Sebelum kami memanggil Naruto kemari, kami sudah membuat janji dengan seorang pejabat yang bersedia memberikan bantuan jika aku menjodohkanmu dengan anak mereka," jawab Minato.

"Ah kami juga tidak menyangka kalau kau sudah menikah, jika begini bagaimana cara kami menjelaskannya," gumam Kushina yang langsung berlikir keras.

"Masalahnya, dalam perjanjian harus anak lelakiku yang belum menikah," balas Minato.

"Dan juga kau tidak bisa membuatnya menjadi selirmu, karena kedudukannya di kerajaan lebih tinggi dari kita," ungkap pelan sang ayah.

"Ayah benar, hal ini akan benar-benar merepotkan," gumam pelan Naruto.

"Jadi haruskah kita menyembunyikan status kalian berdua?" tanya Minato.

"Sebaiknya jangan, karena jika kita sampai memyembunyikan hal ini, maka akan sangat berbahaya jika ketahuan," tanggap Naruto lagi.

"Lalu bagaimana baiknya menurutmu?" tanya Minato.

Naruto pun langsung menatap kedua orang tuanya, aku akan datang menemui mereka," jawab Naruto, "Dan aku akan memberikan penjelasan, soal apa yang mereka lakukan pada kita setelahnya itu urusan belakangan, yang penting adalah meluruskan kesalah pahaman sebelum terlambat," tanggap Naruto sembari mengambil selembar kertas dan menuliskan sebuah surat, "Dan karena hanya ayah yang tahu rumah bangsawan itu, maka aku ingin ayah atau orang kepercayaan ayah yang mengantarnya," ucap Naruto setelah selesai menulis surat dan memberikan selembar kertas itu pada ayahnya.

"Baik ayah mengerti," tanggap Minato yang langsung keluar rumah untuk menemui seseorang demi mengantar surat dari Naruto.

"Oh iya, kalau boleh tahu, ibu ingin membuatku bertunangan dengan siapa?" tanya Naruto sedikit penasaran dengan siapa tunangan yang dipilih oleh orang tuanya.

"Soal itu ... ayahmu ... menjodohkanmu dengan bangsawan dari klan Hyuuga yang ada di ibukota," jawab Kushina sembari menatap wajah Naruto dengan sedikit khawatir.

"Bangsawan dari klan Hyuuga?" gumam pelan Naruto dan ia malah teringat dengan Neji yang merupakan salah satu orang yang sangat sering membully Namikaze Naruto sebelum dia memasuki tubuhnya.

"Memangnya kenapa Naruto?" tanya Kushina pada Naruto mengenai Hyuuga.

"Bukan apa-apa, hanya saja kalau bisa aku ingin membatalkan pertunanganku dengan mereka secara baik-baik," jawab Naruto dengan nada rendah.

"Memangnya kenapa dengan Hyuuga?" tanya Hilda yang penasaran.

"Daaa..." ucap bayi yang duduk di pangkuan Hilda sembari naik ke punggung Naruto.

Naruto yang mendapat pertanyaan dari Hilda mengenai alasan ia berharap bisa membatalkan pertunangan dengan cara baik-baik langsung menjawab, "Pertama aku tidak mau mencari masalah dengan mereka kedua jika sampai pertunangan ini masih terjadi aku tidak yakin kalau aku akan diperlakukan secara layak, mengingat status kita lebih rendah dari mereka ... aku malah takut kalau aku hanya akan diperlakukan layaknya pembantu atau bahkan lebih rendah dari itu," ungkap Naruto dengan tatapan datar seolah-olah tidak ada beban.

"Budak? Heh ... tidak akan aku biarkan ayah dari bouchama menjadi budak," ungkap Hilda dengan aura gelap di sekujur tubuhnya.

Kushina yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafas panjang, ia bisa mewajarkan reaksi dari Hilda mengenai Naruto yang akan diperlakukan semena-mena nantinya. Namun, "Akan tetapi, jika mereka membatalkan pertunangan maka bantuan yang akan mereka berikan pasti akan ditarik dan membuat keadaan desa menjadi semakin buruk," ungkap sang ibu.

"Masalah wabah belalang aku serahkan pada Hilda dan soal keuangan aku akan mencari pekerjaan di kota dan uang yang aku dapat akan aku kirim ke desa sebanyak lima puluh persen dari uang yang aku miliki dalam sebulan, bagaimana?" tanya Naruto pada ibunya.

"Maaf Naruto ibu tidak bisa membiarkan hal itu terjadi!" seru sang ibu.

"???" Naruto langsung bingung dengan kata-kata ibunya.

"Ibu dan ayah sudah terlalu lama berpisah denganmu, kami tidak mau berpisah lagi, apa lagi kau punya anak dari wanita janda muda, dan kau meminta istrimu tinggal di sini sementara kau bekerja, apa kau tidak takut akan sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padanya?!" seru sang ibu yang membayangkan kalah Hilda jadi kembang desa dan rebutan para lelaki, apalagi hubungan Hilda dan Naruto masih belum diketahui semua warga kampung dan belum lagi orang dari desa sebelah juga ada yang suka cari gara-gara di desa kilat kuning yang mereka kelola.

"Kalau begitu aku akan memikirkan cara untuk membantu dana pembangunan desa ini," gumam pelan Naruto sembari menggaruk-garuk kepalanya, 'Sejujurnya aku lebih memilih menjadi serial killer dari pada mengurusi masalah seperti ini, tapi apa boleh buat, mungkin ini juga bisa menjadi terapi untukku,' pikir Naruto yang merasa ia punya cukup kesempatan untuk belajar menjadi orang normal.

Kushina hanya bisa diam mendengar jawaban anaknya itu, jujur ia baru pertama kali ini melihat Naruto menjadi orang yang sangat serius dan mendengarkan permintaannya, karena seingatnya Naruto dulu adalah orang yang berkeinginan tinggi dan tidak akan mengalah sebelum seratus kali gagal dalam mencoba sesuatu.

Keesokan harinya.

Naruto pun bersiap berangkat bersama ayahnya setelah menerima surat balasan dari keluarga Hyuuga, ya Naruto dan Minato sedang dalam perjalanan menuju ke ibu kota ketempat bangsawan Hyuuga tinggal, hal ini karena permintaan Naruto untuk bertemu dengan si bangsawan untuk membicarakan masalah pertunangan secara empat mata disetujui oleh Hiashi Hyuuga.

Bersambung.