GHODUL BASHAR

Summary: Pelajaran yang didapat Trio Pembuat Masalah hari ini: menundukkan pandangan! [islamic-fic]

Disclaimer: BoBoiBoy © Monsta Studio. Tidak mengambil keuntungan apapun dari pembuatan fanfiksi ini.

Warning: islamic-contect, Typo(s), OOC akut, dll

SELAMAT MEMBACA!


.

.

.

"Ah, burger di Burgeriak memang terbaik!" seru Blaze sambil melahap burger pesanannya.

Hari ini Blaze, Taufan, dan Duri memutuskan untuk makan siang di Burgeriak. Mereka bertiga duduk santai di meja yang disediakan, yang kebetulan memghadap langsung ke jalan. Mereka memakan pesanan mereka sambil mengobrol ria.

Sambil memandang ke arah jalan raya, Taufan tiba-tiba menangkap sosok seorang gadis berwajah oriental lewat di depan Burgeriak. Berkuncir dua, berkacamata bulat, dan memakai seragam sekolah berwarna kuning.

"Wah, lihat, ada cewek lewat!" seru Taufan. Blaze dan Duri langsung melihat ke arah yang Taufan tunjuk dengan mata berbinar. Ketiganya pun mengeluarkan seringai jahil.

"Hai kakak cantik~" panggil Duri.

"Mau ke mana, cantik? Ayo mampir dulu~" goda Taufan.

"Suit! Suit! Ayo lihat sini, cantik!" seru Blaze sambil bersiul.

Gadis itu seketika membuang muka lalu mempercepat langkahnya. Mereka masih asyik menggodanya hingga sosoknya hilang dari pandangan.

"Yah... dia kabur. Hahaha! Dasar–"

BRAK!

"EH AYAM AYAM!"

Kata-kata Taufan terpotong seketika saat sebuah tangan muncul. Dengan satu ayunan saja, tangan itu mampu membuat meja yang mereka tempati terbelah menjadi dua.

Pemilik tangan itu tidak lain dan tidak bukan adalah kakak sulung mereka, Halilintar. Dia menatap ketiga adiknya dengan penuh kemarahan.

"Alamak... meja restoranku!" teriak kakek Burgeriak.

Masalah mengenai hal itu sebaiknya dikesampingkan dulu untuk sementara.

.

.

.

"KALIAN TADI NGAPAIN HAH?!" teriak Halilintar.

Mereka bertiga saling merapat dengan tubuh gemetar ketakutan. Wajah mereka pucat pasi melihat kemarahan kakak sulung mereka.

"S-sabar Kak Hali... k-kami c-cuma... bercanda kok... SUMPAH!" ujar Taufan mencoba bicara.

"BERCANDA DARI HONG KONG! Jelas-jelas aku melihat kalian menggoda cewek tadi! Itu perbuatan rendah!" seru Halilintar.

"Eh... Kak Hali... j-jangan salahkan kami... s-salah dia sendiri... tidak menutup auratnya..." kata Blaze memberi alasan.

Wajah Halilintar justru makin memerah saking marahnya. "Yang kalian goda tadi itu Ying! Teman sekelasku yang non-muslim! Jelas-jelas dia tidak punya kewajiban menjalankan syariat islam!"

"M-maaf Kak Hali... k-kami tidak tahu... k-kalau dia teman Kak Hali..." lirih Duri gemetar.

"LALU KALAU BUKAN TEMANKU LANTAS BOLEH DIGODA HAH?! KALIAN MAU KUHAJAR?!"

Mereka bertiga menundukkan kepala ngeri saat mendengar teriakannya. Mereka semakin ciut di hadapan Halilintar.

"Kalian ini... dengar, mau kenal atau tidak, mau menutup aurat atau tidak, kita tidak boleh seenaknya mengganggu atau menggoda seperti itu! Kita kan sebagai laki-laki punya kewajiban menundukkan pandangan! Ghodul Bashar! Ini kan materi khutbah Jumat kemarin! Masa kalian lupa?!" jelas Halilintar panjang lebar.

Mereka bertiga hanya menunduk mendengar kata-kata Halilintar.

"Iya, maaf Kak Hali. Kami tidak mencatat materi khutbah Jumat kemarin..." lirih Duri.

"Ooh... jadi kalian sengaja lupa ya? Bukannya kita sudah sepakat untuk selalu mencatat materi khutbah Jumat?" ujar Halilintar sambil mengepalkan tangan seolah siap menghajar mereka.

Mereka bertiga seketika berkeringat dingin. Duri barusan mengatakan hal yang sangat fatal.

"T-Tunggu kak! Kami tidak sengaja! Kami ketiduran!" seru Taufan gelagapan.

"I-iya kak! Kami nanti mau pinjam catatan Solar kok!" sambung Blaze.

"Jangan banyak alasan!" seru Halilintar. "Ayo ikut aku! Aku tahu siapa orang yang pantas memberi hukuman sekaligus mengajari kalian sopan santun!"

Si Trio Pembuat Masalah meneguk ludah. Mereka tahu siapa orang yang Halilintar maksud. Wajah mereka pucat pasi.

"Habislah kita..."

.

.

.

"YA AMPUN GEM! MASA BEGINI HUKUMANNYA?!"

"MANA MUNGKIN KAMI MENGHABISKAN CABE SEBANYAK INI CUMA DIBANTU GORENGAN SEBIJI KAAAAAAKKK!"

Mereka kini tersengal-sengal dengan lidah yang terjulur keluar dari bibir mereka yang membengkak. Wajah mereka memerah disertai cucuran keringat.

Masing-masing dari mereka memegang cabe yang tinggal setengah dan gorengan yang tinggal secuil. Sepiring besar penuh cabe tersaji di hadapan mereka.

Mata mereka menatap nanar segelas es teh yang ditaruh di samping piring itu. Sayangnya minuman segar itu tidak boleh diminum. Pelengkap derita, katanya.

Gempa sang eksekutor, berdiri di depan mereka dengan tatapan yang tak ada bedanya dengan harimau bergigi pedang.

"Sudah tidak mencatat ilmu, lalu menggoda anak gadis orang, kalian masih berani protes hah?" kata Gempa tanpa belas kasihan. "Ini hukuman untuk mulut kalian! Pokoknya semua cabe di piring ini harus habis dimakan! Titik!"

"Hweee... Kak Gem, maafkan kami..." ujar Duri dengan air mata yang bercampur dengan ingus. "Kami... kami janji tidak akan mengganggu perempuan lagi..."

Tidak jaih dari tempat penyiksaan tersebut, Halilintar dengan Ying di sampingnya menyaksikan hukuman tersebut.

"Lihat, Ying. Orang-orang yang menggodamu tadi sudah mendapat hukumannya," kata Halilintar sambil menunjuk mereka. "Jadi kau mau kan, memaafkan adik-adikku?"

Ying tertawa geli melihat penderitaan mereka. "Ya ampun... tidak kusangka Gempa bisa sekejam itu... tapi oke, mereka kumaafkan!"


TAMAT


Apa iniiii? Gaje sekali pemirsa! Maaf akhir-akhir ini gak bisa seaktif dulu. Kombinasi antara kesibukan dan kemalasan membuat jiwa penulis dalam ini pingsan /heh

Buat yang belum tahu, IFA 2021 sudah dimulai! Siapkan fanfiksi yang mau kalian nominasikan ya! XD

Terima kasih sudah membaca fic ini!

REVIEW! REVIEW! REVIEW!