DHOAM
DHOAM
DHUAGH
Terdengar suara bangunan yang hancur serta reruntuhan yang berjatuhan dari arah rumah Fai, itu adalah Alice beserta Kanaria yang sedang menyerang Aya dibantu oleh beberapa hantu di bawah perintah Kanaria sebagai penyihir level A. Dari arah sebelah barat daya terlihat pakaian Aya berlumuran darah sedang tergeletak di atas reruntuhan dinding sepertinya ia telah kehabisan energi, dengan senyuman manis di bibirnya Alice berjalan mendatangi Aya yang lemah tak berdaya.
TAP
"Kenapa kau datang ke kehidupan pak guru, kenapa?!" Teriak Alice yang sedang berjongkok di depan Aya
"..." Aya hanya tersenyum sambil berbaring di atas reruntuhan kelihatannya ia tak dapat bergerak lagi
"Yang satunya lagi bermimpi terlalu tinggi dan yang ini tak tahu diri merebut kekasih penyihir lain." Ejek Kanaria duduk di atas dinding yang hancur
"Aku tidak pernah merebut pak guru dari nona Alice..uhukk uhukkk.." Kata Aya sambil mengeluarkan batuk darah. "Nona Aya sendirilah yang meninggalkan pak guru."
"Kau...!"
GRAB
Kata Alice bernada marah sambil mengayunkan belati miliknya ke punggung Aya, namun sayangnya tiba-tiba saja tangannya terikat oleh mantra sihir dari atas langit, itu adalah Fai yang sedang menaiki sapu terbangnya.
SYUNG
"P1 putuslah..." Alice membacakan mantra perintah di pergelangan tangannya kemudian berdiri melihat ke arah Fai yang sudah mendarat di tanah
Alice berjalan mendatangi Fai yang sedang berdiri beberapa meter di depannya, sedangkan Kanaria menonton drama cinta segitiga penyihir dari atas reruntuhan dinding sambil tersenyum dan memakai kaca mata milik Seishirou.
"Dia juga seperti budak cinta..." Ucap Aya bernada pelan melihat Kanaria
TAP
"Pak guru terlambat..." Alice tersenyum manis.
BRUGH
Fai berlutut di depan Alice hingga membuat Alice tersenyum bahagia, inilah yang diinginkan oleh Alice selama ini ketidakberdayaan Fai melawan dirinya.
"Aku akan kembali padamu.." Kata Fai menunduk. "Tapi ku mohon jangan lukai Aya, dia tidak bersalah."
"Cup cup cup..." Alice berjongkok di depan Fai. "Lihat..apa yang terjadi pada penyihir level A kita..Fai D Flowright berlutut di depan muridnya sendiri, Alice Alicia."
"..." Fai hanya memalingkan wajah
"Dasar penyihir mulut berbisa." Kanaria tersenyum menonton adegan percintaan di depannya dari tempat duduknya
"Baiklah pak guru..kau boleh kembali padaku jika itu kemauan hatimu yang paling dalam."
"Lebih baik pak guru mencari gadis penyihir lain saja.." Sambung Aya
"Diam Kau!" Alice mengayunkan pecahan-pecahan kaca ke tubuh Aya melalu tangannya
"Akhhh!" Teriak Aya kesakitan
"Aya!" Fai spontan berdiri dan berlari ke arah Aya
GRAB
"Mau kemana?!" Tanya Alice menatap sinis Fai sambil menahan tangan Fai
"Kau kejam sekali Alice." Keluh Fai memandang Alice dengan kesalnya.
"Tentu saja..." Jawab Alice tersenyum sambil menyetuh bibir Fai dengan jemarinya. "Aku menyelingkuhimu di dunia dimensi lain dengan pria bernama Kaname serta Zero, tapi kau masih memaafkanku..kemudian aku berselingkuh lagi dengan diri mereka yang lain di dimensi lainnya dan kau masih saja tetap memaafkanku pak guru sampai-sampai aku merasa sangat kasihan padamu."
"Dan kau memutuskanku?"
"Yuppp...tepat sekali. Hanya saja..aku menyesal telah memutuskanmu..tak ada pria sebaik dirimu di dunia ini. Ah ya..ada...Subaru Sumeragi si kembaran vampir...ckckckck tapi aku tidak tertarik padanya..dia bukan tipe pria seperti dirimu selain itu dia milik si penyihir terkutut itu, aku tak punya hobi sesrta nafsu mengambil milik orang lain." Jelas Alice tersenyum kepada Fai
"Syukurlah kalau begitu..." Fai membalas senyum Alice
Selanjutnya Fai melingkarkan tangannya di tubuh Alice, ia mendorong tubuh Alice agar lebih dekat dengan tubuhnya kemudian ia pun memegang kepala Alice bagian belakang dan mencium bibir Alice dengan mesranya disaat yang bersamaan Aya yang melihat Fai berciuman dengan Alice di depan matanya merasa dadanya seperti terkena sayatan pecahan kaca, ia pun segera memalingkan wajahnya tak ingin berlama-lama melihat pemandangan di depan matanya sedangkan Kanaria hanya tersenyum menonton mereka bertiga.
"Maaf Alice..."
Ucap Fai dalam hati kemudian membacakan mantra sihir penghilang ingatan di dalam hati, Alice yang menyadari hal itu langsung mendorong tubuh Fai menjauh darinya, tetapi Fai tetap berusaha memeluknya dengan erat sambil mencengkram kedua tangan Alice ke belakang tubunya agar Alice tak dapat menggunakan kekuatan sihirnya untuk mematahkan mantra sihir Fai.
"Lepaskan aku...!" Teriak Alice sambil meronta-ronta
"Maaf...tapi kau sudah keterlaluan, Alice." Jawab Fai beraut wajah sedih. "Maafkan aku..."
"Arghhh...lepaskan aku!"
Teriak Alice merasakan ingatan mengenai Fai ditarik keluar satu persatu dari kepalanya, ingatan-ingatan itupun masuk satu persatu ke dalam salah satu bola mata Fai sampai pada akhirnya seluruh ingatan Alice mengenai Fai terhapus dari kepalanya dan ia jatuh pingsan dalam pelukan Fai.
"Maafkan aku, Alice..." Kata Fai sambil menggendong Alice
SYUNG
"Apakah kalian sudah selesai?" Tanya Kamui yang telah berada di belakang Fai dengan Emillie dalam gendongan Subaru di sebelahnya
"Sepertinya aku harus pergi." Ucap Kanaria sambil mengeluarkan kaca penghisap miliknya
Lalu terhisaplah Kanaria oleh kaca penghisap miliknya sendiri, hilang dari tempat itu berpindah ke tempat lain, sedangkan di sudut lainnya Aya mencoba sekuat tenaga untuk berdiri. Disana Kamui menceritakan kronologi pertarungan antara mereka dengan Fuuma juga tiruan Emillie di kastil hingga membuat Emillie tak sadarkan diri, selain itu Kamui juga meminta Fai memberitahukan mereka cara untuk membangunkan Emillie sebelum kedua kembaran vampir merubah Emillie menjadi seorang vampir.
"Ikutlah denganku..." Pinta Fai kepada vampir kembar
Mendengar hal itu, Kamui-Subaru berjalan mengikuti Fai dari belakang termasuk Aya yang berjalan tertatih-tatih sambil menuangkan ramuan pemulihan luka di tubuhnya. Sesampainya mereka semua di sebuah kamar yang masih utuh tidak terkena serangan, Fai meminta Subaru membaringkan Emillie di atas ranjang.
"Baiklah..." Jawab Subaru yang kemudian membaringkan Emillie di atas ranjang
"Salah satu dari kalian yang menghancurkan jantung tiruannya harus mengoleskan darahnya di bibir kalian lalu mencium bibirnya. Dengan begitu kalian akan masuk ke dunia antara hidup dan matinya. Temukan dia dan bawa dia kembali pulang." Jelas Fai.
"Kalau kami tidak bisa membawanya pulang, maka kami harus merubanya menjadi vampir." Sambung Subaru
"Cara penyihir ataupun vampir tidak masalah bagiku...aku hanya ingin dia kembali ke dunia ini." Kata Kamui beranjak duduk di pinggir ranjang
Selanjutnya Kamui mengeluarkan kuku panjang tajam di jari telunjuknya lalu menggoreskan kukunya di telapak tangan Emillie hingga berdarah, darah itu kemudian dioleskannya di bibirnya dan Aya menuangkan ramuan pemulihan luka di telapak tangan Emillie agar luka akibat goresan kuku Kamui menghilang. Sesudah Kamui mengoleskan darah Emillie di bibirnya, ia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Emillie dan menciumnya sambil menutup kedua matanya, maka masuklah Kamui ke dalam alam bawah sadar Emillie. Sesudah ia masuk dan tiba di alam bawah sadar Emillie, ia melihat padang bunga yang begitu luas, matanya menerawang kesegala arah mencari Emillie.
"Emillie...!
"Emilliee...!"
"Emillie...!" Teriak Kamui memangil-manggil nama Emillie sambil berjalan menelusuri padang bunga
"Dimana gadis penyihir itu?" Tanya Kamui bernada pelan
"Hoi gadis penyihir...! Emillie Berdine apakah kau mendengarku?!"
"Emillie Berdine...!" Panggil Kamui berulang kali
Lantas tak berapa lama kemudian Kamui akhirnya menemukan Emillie yang sedang duduk di bawah sebuah pohon apel sambil memetik bunga–bunga tulip lalu Kamui berlari secepat kilat menghampiri Emillie, sesampainya ia disana ia pun memanggil nama Emillie dan memintanya agar ikut pulang dengannya.
"Kau siapa?"
"Aku Kamui...kembaran vampir. Apakah kau lupa denganku?"
"Kamui? Kembaran vampir?"
"Iya..ayo kita pulang!" Ajak Kamui meraih tangan Emillie, akan tetapi tangannya menembus tangan Emillie. "Ini?!"
"Maaf...aku tidak mengenal nama itu."
"Emillie?!" Mata Kamui seperti mau copot mendengar perkataan Emillie barusan. "Kalau begini terus..."
"Apakah kau menyukai bunga tulip?"
"Aku tidak terlalu menyukai bunga..mungkin Subaru akan menyukainya jika kau memberikannya."
"Subaru? siapa Subaru?"
"Dia Kembaranku...kau sangat menyukainya dan selalu mencuri-curi kesempatan untuk dekat dengannya, tapi ku selalu menghalangimu...itu karena kau terlihat sangat lucu kalau sedang kesal juga marah." Jelas Kamui tersenyum memandang Emillie di depannya
"Subaru? Kamui? Kembaran vampir?"
Ucap Emillie sambil mencoba mengingat nama-nama itu di kepalanya kemudian dia beranjak berdiri dan menanyakan dimana tepatnya Kamui sedang berada lalu Kamui pun menjawab kalau dia tepat berada di samping Emillie selanjutnya Emillie menghadap ke samping dan mencoba menyentuh Kamui, perlahan-lahan tapi pasti akhirnya Emillie dapat menyentuh tubuh Kamui diikuti munculnya wujud Kamui di depan mata Emillie mulai dari ujung kaki hingga kepala dan bersamaan dengan itu ingatan Emillie juga kembali.
"Kamui?"
"Ayo pulang..." Ajak Kamui sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya
"Kamuiii...!" Kata Emillie memeluk Kamui
"Syukurlah..dengan begini kami tidak perlu merubahmu menjadi seorang vampir..." Ucap Kamui dalam hati sambil membalas pelukan Emillie
Seusai memeluk Kamui mereka pun kembali ke dunia mereka melalui sebuah pintu yang mendadak muncul di belakang mereka berdua. Tak berapa lama kemudian Kamui membuka matanya dan menyudahi ciumannya di bibir Emillie.
"..." Emillie membuka matanya , ia melihat Subaru-Kamui sedang berdiri di samping ranjang
"Selamat datang kembali, Emillie." Sapa Subaru dengan senyuman di bibirnya
"Huaaa Subaruuuuuu!" Teriak Emillie langsung bangkit dari tidurnya dan memeluk Subaru dari atas rajang
"Syukurlah..kau kembali." Kata Subaru membalas pelukan Emillie
"Hehehehe... di dalam mimpi aku berpelukan dengan Kamui.. kini di luar mimpi berpelukan dengan Subaru...oh ya ampun hehehehe..." Ucap Emillie dalam hati sambil cengengesan
"Kamui..." Subaru melihat ke arah Kamui yang ada di sebelahnya
"Tidak apa-apa.." Kata Kamui tersenyum kepada Subaru
"Ayo..." Ajak Subaru sambil mengurkan tangannya kepada Kamui sambil tersenyum
"Subaru...?" Wajah Kamui memerah
"Ayo..."
"Baiklah.." Jawab Kamui menggenggam tangan Subaru lalu memeluk Subaru
"Bagini lebih baikkan?" Tanya Fai tersenyum kepada Aya yang ada di sebelahnya sambil menggendong Alice yang masih pingsan
"Iya..."
Jawab Aya tersenyum kepada Fai lalu ia pun merangkul lengan Fai serta menyandarkan kepalanya sambil memandang Emillie serta kedua vampir kembar.
... FIN ...
