"BLACK ROSE"

-= Sherry Dark Jewel Present =-

Disclaimer: Yang pasti bukan Yuki…Yuki Cuma nulis Fic ni doang.. Yuki Cuma minjem nama doang... Jangan marah ya Oppadeul...

Author : Yuki

Rate : T

Pairing : akan muncul nanti seiring bertiupnya angin#plakk.. tenang pasti YUNJAE dooonnggg... tapi mereka akan melewati berbagai rintangan untuk bisa bersatu.

Genre : Crime/Friendship/Romance(bakal lama)/Family.

Warning : OOC, OC, AU, Mungkin ada Typo(s) , dan disini pakek POV JaeUmma dan YunAppa..eh juga sudut pandang ke tiga. Slash, Shonen-ai, Yaoi, MaleXMale..

Summary : Sama seperti Mawar Hitam.. aku berusaha menghapus dirimu dari ingatanku dan memulai kehidupan yang baru... tapi saat aku mulai nyaman dan melupakanmu.. kau kembali muncul dikehidupanku..

.

Cerita ini hanya Fiksi belaka

.

Gak Suka..?

Ya...

Jangan Baca...

Gampangkan..

.

Buat yang tetep mau Baca...

.

Happy Reading..

.

Chapter 3 : Kebulatan tekat

.

Aku syok saat melihat semua ini. Darah bertebaran dimana-mana aku hanya bisa berdiri memandang pemandangan mengerikan ini dari belakang Appa. Appa hanya memasang tampang datar saja ia duduk dengan angkuh di sebuah kursi coklat sedangkan diriku hanya bisa mengigit bibir bawahku meremas talapak tanganku agar tak bergetar.

Di depan kami terlihat berberapa mayat yang tergeletak dan ditengah-tengah ruangan ini berdiri seorang pria dengan katana ditangannya. Pria itu memandang dingin mayat mayat yang ia bunuh, darah yang menetes dari katana yang dipegang.

"Kau sudah selesai Andy?" pria itu melangkah mendekati Appa. Katananya telat ia sarungkan lagi. Wajahnya dingin. Ayah mengatakan namanya Andy itu jika di organisasi mereka. Dia adalah tangan kanan Appa.

Aku lihat orang yang bernama Andy itu hanya mengangguk. "Baiklah ayo kita kembali Joongie.." lalu aku dan Appa pun keluar dari gudang itu menuju mobil Appa yang terparkir di halaman gudang tak terpakai ini. Appa juga menyuruh Andy untuk membereskan mayat-mayat itu.

Inikah pekerjaan Appa..

inikah Dunia Appa yang sesungguhnya..

Aku meneguk Ludah saat memikirkannya. Apa aku siap..?

Siap untuk masuk ke dunia hitam.. dunia Harabeoji dan Appa..

Aku..

"Joongie.." Appa menyadarkanku dari lamunanku. Saat ini kami dalam perjalanan pulang.

"Ne Appa.." Appa diam.. masih memandang jalan.

Tunggu..

Mengapa Mobil berjalan terus. Harusnya kita belok ke kanan kan. Aku menyergit bingung.

"Appa.. kita mau kemana."

"Kesuatu tempat.." lama kami menempuh pejalanan. Kami sampai di daerah dekat hutan. Tempat ini sepi tak ada kendaraan yang lewat. Lalu mobil Appa masuk ke dalam hutan, disini ada jalan kecil yang bisa digunakan Mobil masuk. Sepertinya sering dilewati.

Lalu terlihat sebuah tanah lapang di sana ada danau kecil dan sebuah pohon sakura besar namun tidak tinggi yang tengah berbunga indah.

Tempat yang indah..

Appa mengajakku duduk di bangku yang ada di bawah pohon Sakura itu. Apa lagi hari yang mulai malam ini menambah keindahan tempat ini. Aku bahkan bisa melihat Matahari terbenam sekarang.

Oh indahnya... membuatku tersenyum tanpa sadar.

"Indah Bukan..Apa kau suka Joongie?"

"Appa.. disini indah sekali..Joongie suka"

Appa membelai rambutku, aku menyukai perlakuan Appa. Sudah lama Appa tak memamperlakukanku seperti ini. Lalu kami diam menikmati pemandangan matahari terbenam itu.

"Joongie sudah tahu buka.. apa yang Appa kerjakan di organisasi?"

Aku terdiam. Lalu mengangguk.

"Tak hanya membunuh Joongie, tapi narkoba dan penyelundupan lainnya. Bahkan prostitusi dan Human traffiking."

Aku lalu memandang tak percaya. "Human Traffiking?"

"Ya.. Itulah dunia Appa. Dunia Hitam yang jika kau masuk maka akan sulit untuk keluar."

"Tapi mengapa Appa mau mengantikan Harabeoji sebagai Oyabun selanjutnya?.."

"Karena Halmeoni mu.."

"Halmeoni?"

"Ya..Harabeoji sangat berterima kasih pada Appa Halmeoni karena menyelamatkan keluarga Harabeoji. Dari kejaran para Triad yang mengejar keluarga Harabeoji. Maka sejak kecil Harabeoji diasuh oleh organisasi dan menjadi orang keparcayaan organisasi. Hingga ia pun menikah dengan Halmeoni."

"Dan Appa juga Harabeoji telah bersumpah pada Halmeoni, kami akan selalu melindungi Organisasi. Peninggalan satu-satunya dari Appa halmeonimu. Dan kami akan selalu menepati sumpah kami."

Aku terdiam.

"Karena itu Appa ingin kau memutuskan apa kau benar-benar ingin masuk ke dunia kami ini Joongie..? Appa tak ingin memaksamu."

"Aku.." aku masih bimbang.. jika aku masuk aku akan melumuri tanganku dengan darah. Seperti Appa.

"A-apa Appa.. tak merasa bersalah saat membunuh..?" tanyaku. Aku tak berani memandang wajahnya. Aku hanya bisa memandang gengaman tanganku yang mengeras di atas pahaku.

Appa membelaiku lagi. "Appa sejak kecil memang telah di ajari untuk melakukan ini. Menjadi calon Oyabun setelah Haraboejimu. Tapi Appa sebenarnya tak ingin anak Appa melanjutkan apa yang Appa lakukan. Kalian adalah anak-anak apa yang manis. Tapi Harabeoji tak mungkin mau jika Appa tak menurutinya."

"Maka Appa harus mau memberikan satu anak Appa untuk menjadi muridnya. Dan Harabeoji menyukaimu Joongie."

Aku kembali terdiam..

"Pikirkanlah Joongie.. Appa akan menunggu jawabanmu besok. Sekarang ayo pulang."

Kami pun pulang. Tapi di persimpangan jalan aku turun dan berjalan kaki. Tak ingin Umma curiga dengan datangnya aku dan Appa bersama. Kami masih mau merahasiakannya. Dari Umma dan Junsu.

.

.: Yuki Jeje :.

.

Skip time

.

Tangan ku meraba undangan ditanganku. Undangan beasiswa, ingin rasanya ku menangis sekarang. Inikah yang dimaksud Appa..

Aku sudah memiliki Tiket ke Jepang. Beasiswa ke ToDai University, universitas nomor satu jepang. Universitas yang sudah lama ku impikan.

"I-ini benar Songsengnim?" aku sadar suaraku bergetar sekarang. Sedang Songsengnim hanya tersenyum padaku dan mengangguk. Semua pengajar disini tak heran jika aku mendapat Beasiswa di jepang. Menginggat aku selalu berada di pringkat pertama paralel di sekolah.

Tapi..

Beasiswa ini murni aku peroleh dari hasil kerja kerasku? Atau karena Harabeoji.

Aku terdiam..

Semua berkecamuk diotakku.

Dari Haraboeji..

Appa...

Umma..

dan Junsu.

Ku pandang Songsengnim. "Bolehkah aku bertanya terlebih dahulu kepada keluargaku Songsengnim?" tanyaku takut.

"Tentu.. tapi kau harus memberi jawaban secepatnya" Aku mengangguk lalu berpamitan kembali kekelas.

Aku akan ke tempat Harabeoji saat pulang nanti.

.

.: Yuki Jeje :.

.

Saatnya aku pergi ke tempat Harabouji. Junsu juga tadi menelfon jika ia mau pergi ke Game Center benrsama Changmin. Oh tuhan.. terimakasih. Jadi aku bisa pergi ke tempat Harabeoji dengan aman.

Ku cari kotak nama Raito-san. Meminta jemputan darinya. Saat kuangkat ponselku tanpa sengaja mataku menangkap pemandangan yang tak pernah kubayangkan.

Kugertakkan gigiku dan mengepalkan tangan kananku yang tak memegang apa-apa.

Jung Yunho.. Dia mencium Go Ahra di tempat umum seperti ini.

Aku menyesal memberikan cintaku padannya.

[Moshi moshi.. Jaejoong-Sama..]

Aku tersadar dari lamunanku dan menjawab panggilan Raito-san sambil berjalan keluar Gerbang. Aku tak perduli jika akan melewati dua sejoli yang sangat kubenci. "Raito-san.. Bisa kau antar jemputan untukku? Aku ingin ke tempat Harabeoji."

[Baik Jaejoong-Sama.. dimana kami bisa menjemput Anda, Jaejoong-Sama? Apa di sekolah Jaejoong-Sama?]

"Tidak.. aku tunggu ditaman dekat sekolah saja. Tolong jangan mengunakan mobil yang mencolok seperti pertama kau menjemputku"

[Baik Jaejoong-Sama.. saya sendiri yang akan menjemput Bocchan.]

Tentu saja.. di jemput dengan sebuah Limausin mewah pasti akan menarik perhatian.

.

.: Yuki Jeje :.

.

"Di Taman..? Jemput aku?" Yunho tanpa sengaja mendengar percakapan Jaejoong di telefon saat dia berjalan didekatnya.

'Joongie..' tatapan Yunho sendu.

"Oppa.. Ayo pulang" Go Ahra langsung menarik Yunho menuju Mobil.

'Mian..'

.

.: Yuki Jeje :.

.

Aku menunggu Raito-san di sebuah bangku di sisi Taman yang berdekatan dengan Jalan Raya.

Tiba-tiba sebuah Ferari Merah berhenti dihadapanku. Siapa? Karena mengunakan Kaca Film membuat bagian dalam Mobil itu tak terlihat.

Lalu pengemudi Ferari itu turun.

Astaga..

"Raito-san.."

"Jaejoong-Sama.. Mari kita pergi." Aku hanya menghelang nafas. Bahkan sebuah Ferari pasti akan menarik perhatian orang-orang. Ku tenggok ke arah taman, benarkan.. para pengunjung taman memandang ke arah kami.

Lebih baik kami pergi segera. Aku langsung masuk kedalam mobil Ferari menyamankan Diri. Raito-san mengikutiku masuk.

"Anda sepertinya tidak sabaran Jaejoong-Sama." Ucapnya dengan sedikit nada tertarik.

"dasar.. aku bilang jangan pakai mobil yang mencolok. Tapi lihat orang-orang menatap kita penasaran. Disini daerah menengah. Tak ada yang memiliki Ferari di daerah ini"

"Oh.. Gemennasai Jaejoong-Sama.." Hanya itu. Hanya itu jawabannya. Dasar ia benar-benar irit bicara.

Lalu kami pun melanjutkan perjalanan kami ke tempat Harabeoji.

.

.: Yuki Jeje :.

.

Aku telah ada dihadapan Harabeoji sekarang. Hanya berdua saja..

"Harabeoji.."

"Ya..Joongie..? Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Apa Beasiswa ini adalah perbuatan Harabeoji?" tanyaku sambil menunjukkan undangan Beasiswaku.

Aku akan sedikit kecewa jika jawabannya iya.

"Tidak.."

Apa.. Tidak? Aku langsung tersenyum senang.

"Ja-jadi ini memang asli Joongie dapat dari usaha Joongie?" Oh bahagianya diriku. Harabeoji hanya tersenyum melihat tingkahku.

"Jadi kau benar-benar akan ke jepang Joongie.."

"Ya..Harabeoji.. aku akan ke jepang. Aku memeng sangat ingin masuk ke universitas ini dari dulu. Jadi aku selalu belajar untuk bisa masuk. Dan akhirnya harapanku tercapai."

"Tapi ingat. Kau disana tak hanya kuliah tapi juga akan melakukan pelatihan dengan Harabeoji"

"Aku tak akan lupa Harabeoji. Karena aku telah memutuskan akan masuk kedunia Appa dan Harabeoji.."

Harabeoji menyeringai senang.

.

.: Yuki Jeje :.

.

Skip Time

.

Kim's House

Aku telah di depan keluargaku. Kami berkumpul diruang keluarga.

"Ada apa Joongie? Apa ada masalah." Tanya Umma khawatir.

"Tidak umma.. Joongie hanya mau menunjukkan sesuatu pada kalian"

"Apa itu Hyung?" tanya Junsu antusias. Aku hanya tersenyum misterius mencoba membuat Junsu dan Umma penasaran.

"Lihat.. aku mendapat Beasiswa di ToDai..Kyaaaa..." aku berteriak senang sambil menunjukkan undangan yang tadi Songsengnim berikan.

"ToDai Hyung..? Benarkah.. Kau tak bercanda kan?" aku mengangguk angguk kecil menangapi pertanyaan Junsu.

Grebbb

"Selamat Hyung.. Aku senang kau bisa mewujudkan impianmu."

"Terima Kasih Junsu."

"Appa juga senang dan mendukungmu Joongie.." Aku langsung memeluk Appa.. dan berterima kasih padanya. Ia tahu jika aku ke jepang artinya aku telah memutuskan.

Lalu aku memandang Umma "Apa..Apa Umma tak mau Joongie ke jepang?" tanya Joongie takut.

"Jepang ya.." Umma memandang Appa sejenak. "Tidak bisakah kau di Korea saja."

Aku menunduk. Melihat undangan ditanganku.

"Jika Umma tak mengizinkan Joongie. Joongie akan mengembalikan Undangan ini. Joongie ke kamar dulu." Aku pun langsung pergi ke kamar.

"Joongie.."

.

.: Yuki Jeje :.

.

"Umma..Kenapa sih? Kan Hyungie sudah lama ingin melanjutkan ke Todai?" tanya Junsu langsung. Ia tahu jika Joongie pasti sedih.

"Itu.." Heechul terdiam sejenak "Umma hanya tak ingin berpisah dengan Joongie"

"Tapi.. Umma tahu Hyung selalu menuruti Umma. Jadi pasti Hyung sangat sedih harus membuang keinginannya. Aku ke kamar." Lalu Junsu pun ke kamarnya. Ia pun merasa sedih.

"Hannie.." Heechul langsung memeluk Hangeng. Hangeng hanya membalas pelukan sang istri dan mengelus punggung Heechul.

"Biarkan Joongie pergi Chagi.."

"Tapi.."

"Aku tahu khawatiranmu Chagi. Tapi apa kau tega melihat senyum Joongie menghilang? Meski ia akan tersenyum. Senyum itu pasti terasa berbeda"

"..."

"Ayo kekamar, kau perlu istirahat"

.

.: Yuki Jeje :.

.

Pagi ini Aku bangun lebih pagi. Mungkin hanya Umma dan Appa yang bangun Pagi. Biasanya..

Sedangkan Junsu masih tidur dikamarnya dengan lelapnya.

Aku memandang cermin, aku mencoba memasang senyum tapi senyum yang berbeda dari biasanya.

Aku harus bisa membuat Umma menyetujui aku ke jepang. Dan hanya ini cara yang kupikirkan. Jika tak berhasil.. aku akan kabur saja. Mudahkan..

"Pagi Umma.." aku menyapa Umma dengan senyum kecut, tak ingin lama-lama memandangnya.

"Joongie..Kau sudah bangun?" tanya Umma ia sedikit tak enak saat melihatku.

"Ya.. Joongie akan berangkat dulu." Lalu aku melangkah pergi dengan sepotong roti ditanganku.

"Joongie.."

Drap Drap Drap..

Aku yang akan membuka pintu pagar berhenti saat seseorang memelukku.

"Umma.." panggilku Lirih.

"Joongie..maafkan Umma.. Maafkan Umma Chagi..Umma akan mengizinkan kau ke Jepang. Jadi jangan bersedih dan tersenyum seperti tadi. Umma tak suka saat kau memaksa tersenyum seperti tadi."

"Umma..Benarkah Joongie boleh pergi?" Aku membalas pelukan Umma.

"Ya Chagi..Kau Umma Izinkan.."

"Aku..Terima kasih Umma.. terima kasih.." aku menangis dipelukannya.

Maaf Umma.. aku membohongimu.. aku memang tahu kau tak akan tega melihat anak-anakmu bersedih. Maafkan Joongie yang memanfaatkan kelemahan Umma.

Maaf..

Aku melihat Appa melihat kami dari balik jendela dan hanya mengelengkan kepala saat kulihat dia.

"Joongie sarapan dulu ya.. Ayo kita masuk.."

"Ya.." aku pun kembali ke rumah.

.

.: Yuki Jeje :.

.

Upacara Kelulusan.

Aku kembali menjadi peringkat satu di peringkat pararel. Seruan selamat dan tepuk tangan menyambutku yang naik ke atas podium. Untuk mengucapkan kata-kata sambutan.

Aku memang ditugaskan sebagai wakil siswa yang akan lulus.

Aku tidak menyiapkan kata-kata yang bagus untuk perpisahan ini. Aku harap kata-kataku bisa mengena ke semuanya. Aku tertawa dalam hati.. membuatnya saja tidak.

"Selamat pagi.. salam hormat saya kepada kepala yayasan, kepala sekolah dan setaf pengajar di SM High School.. saya sebagai perwakilan siswa siswi yang akan lulus tahun ini. Sangat berterima kasih kerena anda semua bersedia dengan sabar membimbing kami dengan sabar. Kami pun tahu jika kami memiliki banyak kesalahan pada songsengnim dan staf SM High School semua."

"Dan terima kasih pula telah bersedia memberi kami ilmu, tak hanya ilmu umum saja yang kami terima dari songsengnim semua. Tapi juga pelajaran hidup, karena saya selalu ingat ucapan songsengnim yang selalu mengingatkan kami agar menata masa depan kami. Selalu bersosialisasi dengan baik dengan masyarakat. Kami berharap dimasa depan kami akan sukses seperti keinginan songsengnim sekalian."

"SM High School.. sebagai murid yang tiga tahun lamanya saya bersekolah disini. Saya benar-benar sangat bersyukur bisa bersekolah di sekolah ini. Tak ada lagi kata-kata yang bisa Saya ucapkan lagi. Jongmal Gomawo.."

Lalu akupun turun dari podium dan tersenyum.

Hahhhh.. kata-kata seadanya.. aku benar-benar tak memikirkan kata-kata perpisahan itu, katena yang kupikirkan hanyalah, dunia baruku.. yang akan ku jalani.

"Kami juga mengucapkan selamat pada Kim Jaejoong yang telah menerima Beasiswa di Todai University." Suara tepuk tangan riuh. Mengema di Aula Utama tempat digelarnya acara perpisahan. "Semoga Kim Jaejoong bisa menjadi apa yang ia inginkan dan sukses dengan apa yang dikerjakannya setelah keluar dari sekolah ini. Memiliki masa depan yang baik seperti kata-katanya tadi."

"Tak hanya Kim Jaejoong. Kami selaku pengajar juga mendoakan kalian semua agar sukses dengan masa depan kalian"

Sukses..

Aku sedikit menyerngit. Masa depan yang baik. Bahkan aku akan menjadi yakuza sebentar lagi. Menjadi seorang Yakuza sama artinya menjadi penjahat bukan.

Sepertinya Masa depanku akan Hitam.. bukan Masa depan yang Baik.

Tapi itu tak masalah

Karena aku lah yang memilih jalan ini.

Dan besok adalah hari aku mulai memasuki kehidupan baru yang telah aku pilih.

Pergi ke Jepang.

.

.

.

TBC

Yuki's Note

So... Bagaimana minna? Inilah hasil yuki ngetik seharian. #mumpung lagi libur#

Yuki harap kalian suka..

Dan.. apa masih ada Typo[s]? Jika ada maafkan Yuki ne.. maklum gak di edit. Dan Yuki gak punya Beta.. hahhhhh...

Oke makasih buat semuannya yang baca.. dan buat semua yang Review...

Yuki pamit..

Dan tak lupa..

Yuki tunggu Review minna..

Bye Bye...