"BLACK ROSE"
-= Sherry Dark Jewel Present =-
Disclaimer: Yang pasti bukan Yuki…Yuki Cuma nulis Fic ni doang.. Yuki Cuma minjem nama doang... Jangan marah ya Oppadeul...
Author : Yuki-Jeje
Rate : T
Pairing : akan muncul nanti seiring bertiupnya angin#plakk.. tenang pasti YUNJAE dooonnggg... tapi mereka akan melewati berbagai rintangan untuk bisa bersatu.
Genre : Crime/Friendship/Romance(bakal lama)/Family.
Warning : OOC, OC, AU, Mungkin ada Typo(s) , dan disini pakek POV JaeUmma dan YunAppa..eh juga sudut pandang ke tiga. Slash, Shonen-ai, Yaoi, MaleXMale..
Summary : Sama seperti Mawar Hitam.. aku berusaha menghapus dirimu dari ingatanku dan memulai kehidupan yang baru... tapi saat aku mulai nyaman dan melupakanmu.. kau kembali muncul dikehidupanku..
.
Cerita ini hanya Fiksi belaka
.
Gak Suka..?
Ya...
Jangan Baca...
Gampangkan..
.
Buat yang tetep mau Baca...
.
Happy Reading..
.
Chapter 10 : Ehime
.
Matsuyama Airport in Matsuyama, Ehime, Japan.
Satu jam setengah waktu tempuh dari Incheon ke Matsuyama, ini kali pertama Jaejoong pergi ke Jepang, ia mengira mereka akan ke Tokyo, tapi Matsuyama? Bukankah itu sangat jauh dari Tokyo, bahkan Pulau nya pun berbeda. Jika Tokyo ada di Pulau Honshu, maka Matsuyama ada di Pulau Shikoku. Mungkin disini kakeknya tinggal, itu yang ada di pikiran Jaejoong saat ini.
Dari dulu Jaejoong tidak tau mengapa ia sangat ingin ke negara ini, negara yang benyak menyimpan sejarah kelam dengan Korea. Jaejoong pikir jika ini lebih kerena firasat kuatnya, dia memang ditakdirkan untuk ke negara ini. Demi takdir yang akan dia jalani, Jaejoong menerima takdir itu, meski itu artinya ia akan mulai berhubungan dengan dunia sang Appa, dunianya yang sebenarnya.
Saat pertama menginjakkan kaki di Jepang dia sempat ragu untuk meneruskan, tidakkah semuanya terlalu terburu-buru, ia tidak yakin jika masih bisa melanjutkan kuliahnya setelah ini, pelatihannya tentu bukan suatu yang mudah dan pasti akan memakan banyak waktunya setelah ini. Sekarang dia sangat ragu.
Bukankah terlambat untuk merasa seperti itu Kim Jaejoong?. Kau sudah terlanjur datang kesini, dan kakekmu sangat menyukaimu. Tidak mungkin kau bisa kabur. Monolog itu terus berputar di kepala Jaejoong.
Sedikit helaan nafas untuk menenangkan dirinya sendiri, ya.. hal itu sedikit membantu untuk menghilangkan perasaan ragunya saat ini.
Hanya sedikit.
Dengan langkah tenang-setelah akhirnya menenangkan dirinya sendiri-Jaejoong berjalan bersama sang Appa dan Harabeojinya diikuti Raiga-san di belakang sang Harabeoji dan beberapa anak buah sang kakek berjalan di belakang Raiga-san. Mereka berjalan di suatu gate yang sepi di Matsuyama Airport. Jaejoong berjalan di tengah diapit oleh Appa dan Harabeojinya, ia tak lupa untuk mengunakan kaca mata hitam dan masker hitam untuk menutupi wajahnya, tidak ingin menarik perhatian orang lain tentunya.
Jaejoong bisa melihat beberapa mobil sudah menunggu mereka, jantungnya bergemuruh bahkan rasanya perutnya melilit saat memikirkan jika ini akhir dari kebebasannya. Tanpa sadar Jaejoong menelan ludahnya sendiri saat melihat sang kakek lebih dahulu menaiki mobil sedan hitam-mobil jemputan-bersama Raiga-san. Sedangkan Jaejoong akan bersama sang Appa di satu mobil yang lainnya nanti.
Sang Appa yang melihat raut wajahnya yang gelisah hanya bisa meremas pundaknya pelan, untuk menenangkan kegelisahannya itu. Dengan senyum tipis ia mengajaknya masuk ke dalam mobil jemputan mereka.
Jaejoong pun memasuki mobil jemputannya, dia tidak tahu jika Andy-asisten ayahnya-sudah tiba lebih dulu di Jepang. Jadi sekarang Andy lah yang menjemputnya dan sang Appa. Dengan Sedan Hitam yang identik dengan mobil yang menjemput kakeknya. Jaejoong pun duduk di kursi penumpang bersama sang Appa. Dan Andy duduk di kursi pengemudi.
"Andy.. Apa semua sudah disiapkan?" Tanya Hangeng pada tangan kanannya yang masih mengemudi mobil. Jaejoong masih tidak terbiasa dengan suara datar sang Appa, dia yang selalu mendengar suara Appanya yang serat akan kasih sayang dan ramah, membuatnya asing dengan pribadi sang ayah saat ini.
"Sudah Tuan. Takano-san sudah menyiapkan Apartemen di Kanda Ogawamachi di Chiyoda-ku Tokyo" jawaban Andy yang jelas tentu menumbuhkan sedikit senyuman disudut bibir Hangeng.
"Dan dokumen lainnya?"
"Sudah Tuan, keperluan study juga telah saya urus."
"Baiklah"
Jaejoong hanya memandang ke luar kaca mobil, tidak terlalu tertarik dengan percakapan sang Appa, kehidupannya sudah disiapkan disini, dia hanya harus menuruti semua perintah dari Appa dan Kakeknya.
'Selamat tinggal kebebasanku' batin Jaejoong menyuarakan perasaannya, sedikit mendengus pelan lalu mulai menutup matanya, mungkin tidur sejenak tak akan masalah.
.
\( ̅ ꙍ ̅ \) Yuki-Jeje(/ ̅ ꙍ ̅ )/
.
"Joongie..Bangun"
"Hemm.."
"Kita sudah sampai"
Jaejoong mengerjapkan kedua kelopak matanya lalu memperlihatkan kedua bola mata hitam indah miliknya, ia melihat Appanya yang barusan membangunkannya telah keluar dari mobil yang mereka kendarai. Jaejoong pun keluar dari mobil tanpa banyak berkata-kata, saat melihat sekelilingnya ia sadar jika ia tengah ada di parkiran besar karena banyak kendaraan disini. Berbagai macam jenisnya, bahkan Jaejoong bisa melihat sebuah Porsche Abu dan Bugatti Veyron Hitam.
Bola mata Jaejoong berkilat saat ia melihat Pagani Merah terparkir apik di garasi besar itu, itu mobil yang sangat ia inginkan dengan warnanya yang merah sangat cantik di mata Jaejoong. Mata bulatnya terpaku beberapa detik saat melihat Pagani itu.
"Ayo.." lamunan Jaejoong terhenti saat sang Appa mengajaknya
"Koperku" ucap Jaejoong.
"Tidak apa, seseorang akan membawanya ke dalam" Sang Appa berucap sembari melihat laki-laki parubaya yang berjas abu-abu tua dan sedikit botak dikepalanya membungkuk pada Jaejoong memberi salam. Jaejoong membalas membungkuk pada orang yang tidak ia tahu namanya itu, tak masalah nanti juga dia akan tahu siapa pria itu.
Sang Appa mengajaknya berjalan menuju pintu coklat besar, saat Andy membuka pintu itu Jaejoong bisa melihat ruangan dengan arsitektur yang indah didepannya, nuansa tradisional bercampur gaya eropa sangat memanjakan matanya, arsitek merancang bangunan dengan sangat indah.
Jaejoong berjalan mengikuti sang Appa memasuki ruang itu, dia juga bisa melihat banyak orang berjas hitam berbaris dan membungkuk pada mereka, mungkin lebih tepat kepada Appanya saat berjalan melewati mereka.
Ia telah masuk ke markas Sakamoto-kai, itu yang Jaejoong pikir saat melirik ke luar jendela, markas yang ada di atas gunung, itu membuatnya bisa melihat pemandangan yang asri di luar sana.
"Ini markas cabang yang ada di Ehime." Jaejoong hanya diam menangapi ucapan sang Appa, ia rasa sang Appa hanya ingin memberitahunya, bukan menuntut jawaban atas perkataanya, jadi dia hanya dia dan mengangguk mengerti.
Jaejoong sempat berfikir jika markas yakuza akan seperti rumah tradisional jepang dengan sedikit udara suram didalamnya, tapi yang di lihatnya sekarang tidak seperti itu. Rumah ini sangat luas, ia yakin. Dengan gaya eropa moderen dipadukan dengan gaya tradisional jepang. Indah, bahkan tidak ada kesan suram di rumah ini. Lebih mirip sebuah mension mewah yang terletak jauh di atas gunung dan di tengah hutan.
Sekarang Jaejoong bisa melihat shoji-seingat Jaejoong- pintu geser yang sering ada di rumah-rumah jepang. Andy yang sedari tadi mengikuti Jaejoong dan Appanya dar belakang langsung maju untuk membukakan pintu itu, mempersilahkan Jaejoong dan Appanya untuk masuk ke dalam. Terlihat sang kakek telah duduk di kursi kerja di belakang meja, di dampingi Raiga-san yang berdiri di belakang sebelah kiri sang kakek. Saat Jaejoong dan Appanya telah memasuki ruangan. Andy menutup kembali shoji dan menjaga di depan ruangan-tidak ikut masuk.
Appanya membungkuk untuk menyapa sang Kakek, Jaejoong pun mengikuti teladan sang Appa, lalu mereka mendudukkan diri di sofa hitam yang ada di depan meja sang kakek.
Sakamoto Taka adalah nama Kakek Jaejoong-yang baru Jaejoong tau sehari sebelum keberangkatannya, itu juga karena ia bertanya kepada Raiga-san, tentu saja langung mendapat tangapan tawa dari tangan kanan kakeknya itu, Raiga-san tidak mengira berminggu minggu bertemu dengan kakeknya dia tak tahu nama sang kakek. Tentu jaejoong merengut sebal saat Raiga menertawakannya.
Kakek Jaejoong tersenyum senang saat melihat Jaejoong dan Appa Jaejoong. "Harabeoji-"
"Ojii-sama" ucap sang Appa. "Panggil Harabeoji, Ojii-sama" lanjutnya. Jaejoong sedikit terkesiap saat mendengar suara datar yang teramat datar milik sang Appa. Sang Appa tidak pernah sekalipun berbicara sedatar itu dengannya. Jaejoong mulai memikirkan apa ini sosok sang Appanya yang sebenarnya?.
"Hahaha.. Tak apa Eiji, biarkan Joongie memanggil sesuka dia"
"Eiji?" Jaejoong bertanya.
"Itu nama Jepang Appa. Sakamoto Eiji" Aku Hangeng.
Jaejoong hanya mengangguk mengerti. Lalu ia mendapat beberapa lembar kertas dari Raiga untuk dia lihat.
Di dalamnya terdapat identitas baru Jaejoong, nama Jepangnya, alamat barunya dan beberapa informasi yang harus Jaejoong hafalkan.
"Jadi saat di sini aku akan menjadi Sakamoto Jun?"
"Ya.. karena Kim Jaejoong akan ada di Tokyo untuk mulai sekolah Bahasa Jepang, dan mempersiapkan masuk Tokyo University pada awal tahun depan." Ucap sang Kakek. "Kamu akan mulai pelatihan disini, markas cabang ini memang tersembunyi dari publik, jadi akan susah untukmu keluar dari kawasan ini. Setelah pelatihan setahun kita akan kembali ke markas pusat di Tokyo, dan Kamu akan mulai masuk kuliah"
"Aku mengerti" Jaejoong membaca lagi dokumen yang ada di tangannya, 'Jun..' Sedikit tersenyum tipis.
"Baiklah, sekarang istirahatlah Jun, Ayahmu akan banyak menjelaskan aturan-aturan disini kepadamu." Appanya mengangguk mengerti , lalu Appanya berdiri-diikuti Jaejoong, tak lupa berpamitan kepada sang Kakek untuk keluar dari ruang itu
.
\( ̅ ꙍ ̅ \) Yuki-Jeje(/ ̅ ꙍ ̅ )/
.
Ranjang King Size dengan seprai putih, lemari baju besar dengan 3 pintu yang juga berwarna putih, lalu sebuah sofa putih juga ada di sana, di sudut lain kamarnya ia bisa lihat sebuah meja kerja dengan tiga layar komputer keluaran terbaru terpasang disana. Jaejoong tersenyum senang melihat ketiga komputer itu, Appanya memang tau kesukaannya. Bahkan koper-koper Jaejoong sudah ada didalam kamar itu, seperti kata sang Appa.
Ia suka kamar barunya.
Tok Tok
Jaejoong membuka pintu putih yang mengubungkan kamarnya dengan lorong untuk melihat siapa yang ada di luar pintunya. "Andy-san"
"Jun-sama, Ayah anda ingin bertemu dengan Anda. Mohon ikuti saya" ucap Andy, Jaejoong kurang mengenal baik sosok tangan kanan Ayahnya ini, dia baru beberapa kali saja bertemu dengan Andy. Yang Jaejoong tahu dia adalah tangan kanan kepercayaan Appanya dan juga pengurus HG Corps di Korea cabang Gwangju karena kantor Pusat HG ada di Seoul. Jadi Jaejoong yakin yang selalu bentrok dengan Jung Corp dalam mengambil tender pasti Andy ini.
Jaejoong berjalan mengikuti Andy menuju kamar Ayahnya. Andy membuka pintu coklat itu lalu mempersilahkan Jaejoong masuk, saat Jaejoong telah masuk, Andy ikut masuk lalu menutup pintu kamar itu.
Appa Jaejoong tengah duduk di kursi kerjanya, kamar sang Appa lebih besar dari miliknya, dengan lemari penuh buku di belakang meja kerja sang Appa dan ranjang disisi lain kamar itu. Jaejoong membungkuk menyapa sang Ayah. "Appa"
"Biasakan untuk berbicara bahasa Jepang disini." Ucap Appanya.
"Baik Otousama"
"Duduklah.. Aku akan menjelaskan semuanya padamu." Saat Jaejoong mendudukkan diri di sofa hitam di ruang itu. Hangeng-ayahnya-berjalan mendekatinya dengan beberapa dokumen di tangannya. Hangeng mendudukan dirinya di hadapan sang Anak dan menyerahkan dokumen-dokumen itu.
"Kamu telah melihat Identitas baru mu, Identitas itu akan kamu gunakan selama di sini, untuk urusan yang berhubungan dengan klan. Tapi untuk study mu nanti kamu akan tetap mengunakan identitas asli sebagai Kim Jaejoong."
"Joongie mengerti"
"Lalu selama satu tahun kedepan, Kamu akan mulai pelatihan yang kakekmu ingin kamu lalui sebagai Sakamoto Jun. Otousan akan membantu pelatihanmu untuk sebulan kedepan, lalu Otousan akan kembali ke Korea." Lanjut Hangeng menerangkan.
"..."
"Tapi Kim Jaejoong akan mulai pelatihan bahasanya di Tokyo untuk setahun kedepan, Andy telah menyiapkan dokumen yang diperlukan, di lembaga pelatihan bahasa yang teman Otousan miliki, Namamu telah terdaftar disana, tidak perlu datang untuk pelatihan, cukup nanti saat akan melakukan ujian saat akan mendaftar ke perguruan tinggi" Jelas Ayahnya.
"Jadi Joongie hanya akan di sini selama satu tahun kan? Lalu jika Eomma datang kemari bagaimana?" tanya Jaejoong.
"Appa telah menyiapkan 1 apartemen di Tokyo, jika Appa dan Eomma akan kesini, Appa akan memberi kabar padamu. Jadi kamu bisa ke Tokyo untuk bertemu dengan Eommamu."
"Baik.. Joongie mengerti" Jaejoong tersenyum sambil melihat dokumen-dokumen itu.
"Maafkan aku, kamu harus terseret dengan semua ini"
"Tidak apa-apa Otousan. Aku yang menginginkan ini" ucap Jaejoong tenang meski ia menyembunyikan rasa kalutnya didalam hatinya rapat-rapat. Tapi Hangeng masih memasang raut sedih, menganti raut datar yang sedari tadi dipasang sejak memasuki markas ini. "Aku akan mempelajari semua ini" sambil menggangkat dokumen di tangannya "Aku ingin kembali ke kamarku Otousan"
"Ya.. kembalikah.. pelatihanmu akan dimulai besok pagi. Aku harap, kamu akan bangun besok pukul 7 pagi. Ayah akan menunggumu di tempat pelatihan."
"Baik.." Lalu Jaejoong keluar dari ruang sang Ayah, kembali ke ruangannya.
.
\( ̅ ꙍ ̅ \) Yuki-Jeje(/ ̅ ꙍ ̅ )/
.
TBC
Yuki's Note :
I'm Back..
Adakah yang rindu? hahaha.. kayaknya gak ada..
Semoga suka ceritanya..
Jangan lupa review.. ^w^
