Naruto belongs to Masashi Kishimoto. Story written by angelichoco.
Kendati hujan menampar jendela, Sasuke melenggang menuju dapur. Memilih untuk menyeduh dua gelas cokelat panas seraya menyusun biskuit kismis dalam piring kecil. Televisi menyala dengan volume sedang, angin meniup gorden yang nampak mulai lusuh.
Padahal sudah nyaris pukul tujuh malam, namun, Sakura masih tertidur pulas. Ah, tak apa. Lagipula, Minggu adalah hari libur langka, bagi pekerja yang harus siap dua puluh empat jam, tentu saja. Ketimbang kembali memikirkan kerja sengkarut yang dapat membuat gila, setidaknya, membiarkan tubuh tentram dalam buai mimpi akan menjadi pelapur lelah.
Kaki melangkah pelan, senyum terbentuk eksplisit. Dua gelas cokelat panas serta piring berisi cemilan telah di atas nakas. Sasuke bergeser, mendaratkan bokong pada sudut ranjang. "Sakura, kamu belum makan sejak pagi, lho. Bangun dulu."
Helaian merah muda diusap, aroma hidangan mengeksploitasi olfaktori. Astaga, mungkin proyek kantor kemarin amat melelahkan bagi sang kekasih yang tak kunjung membuka kelopak mata. Sasuke lantas membuang napas pasrah, memilih ikut merebahkan tubuh sembari bergeming menatap langit-langit.
Gorden masih bergoyang. Selagi kepala menyamping, lengan mengusap tiap inci wajah Sakura bersama tatapan lamat. Bulu mata lentik, bibir ranum yang tak bosan untuk dikecup. Satu, dua—Sasuke lupa, telah berapa banyak pujian penuh kasih terlontar sejak pertama jumpa.
Hujan samar-samar mereda. Entah mengapa, kepala terputar kilasan nostalgia. Jika diingat lagi, tak menahu kapan perasaan penuh kupu-kupu imajiner terhadap Sakura mengimplikasi sudut hati. Lama—tiga tahun, lima, enam?
Ah, hari pertama masuk sekolah menengah. Sakura yang dahulu menjadi primadona bagi tiap insan—cerdas, kebanggan jajaran guru, luminositas melebihi Sirius di angkasa. Sedangkan Sasuke, berandalan yang setiap hari datang terlambat, sengaja mencari cara konyol hanya untuk bertegur sapa.
Lucu sekali, siapa yang menyangka, pertengakaran dalam setiap temu, kini justru berakhir menjadi kisah kasih begitu candu.
Seraya menggenggam lengan yang lemas tanpa reaksi, kekehan mengabrasi hening. "Kau masih sangat cantik."—pelan, mengalun tepat di samping telinga.
Tentu Sasuke enggan hipokrit, mau seberapa lama waktu berpendar, Sakura tetap menjadi satu-satunya pelita sekalipun singularitas penuh nestapa menjerumuskan. Layak sihir membuat buta, tak sudi untuk sekadar tersadar akan dunia penuh eksekusi.
Helaan napas terhembus. Malam mulai larut, cokelat mendingin. Tiga, empat—mantel hangat membungkus tubuh, helaian merah muda selembut sutra masih diusap sayang. Dewi Yunani pun akan iri, mau dalam keadaan bagaimana, Sakura selalu nampak elok bahkan meski tengah menutup netra. "Tidur yang nyenyak, ya."
Guntur menjamah langit, kilat cahaya terang bergantian memantul lewat jendela. Senyuman tak lekas memudar mana kala pintu depan diketuk—keras, seperti nyaris merobohkan—seiringan samar suara sirine menghapus hening. Tubuh lantas tegak begitu cepat, jelaga memicing kesal—terinterupsi. Astaga, pengacau mana yang berani mengganggu saat-saat penuh belaian mesra?
Sasuke terpogoh keluar kamar, meninggalkan televisi menyala yang tengah menyiarkan berita topik utama. Hanya butuh sepuluh detik, untuk begitu lihai membopong—menyembunyikan kembali mayat penuh darah Sakura menuju freezer besar tepat di lantai terbawah.
"... Penculikan terhadap aktris Sakura Haruno masih belum menemukan titik terang. Dugaan sementara, selama dua tahun, korban disekap oleh seorang penguntit yang sering mengirim teror sejak sekolah menengah—"
Siaran dimatikan. Sasuke membuka pintu dengan senyuman tipis—begitu ramah, mengelabui—menghadap santai dua polisi gendut seraya menyembunyikan sebilah pisau di balik punggung. "Ada yang bisa saya bantu?"
END.
Kalopsia (n.) —the delusion of things being more beautiful than they really are.
A/N: halo! semoga suka ya.
