Kisah antara Mamori dan Akaba. Semoga pembaca menyukainya.

Warning! Akaba POV, OOC (bila ada), dan jika ada kekurangan lainnya.


Eyeshield 21

Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata

Bersamamu

Neary Lan


Seseorang telah menarik perhatianku bahkan hatiku. Ia memiliki wajah yang cantik, rambut merah kecokelatan yang halus, mata biru yang indah, hidung mungil serta bibir merah. Suaranya yang menenangkan saat berbicara serta tubuh mungilnya membuatku ingin memeluknya. Ia adalah sosok yang hangat dan pengertian bahkan juga bisa terlihat menggemaskan.

Dia adalah Mamori Anezaki, si cantik yang telah mencuri hatiku. Sosok cantiknya bagaikan mawar merah yang memikat. Tampaknya surga mungkin terguncang karena telah kehilangan salah satu malaikatnya yang yang indah. Sosok malaikat itu pun kini berada disekitarku.

Entah kapan tepatnya aku tertarik padanya. Awalnya aku hanya merasa kagum dan tentunya terpesona. Namun, lambat laun ketika sudah mengenalnya membuatku semakin tertarik padanya. Hal itu tidak hanya sebatas teman, aku tertarik padanya secara romansa dan menginginkannya selalu berada di sisiku. Bisa dikatakan jika aku telah jatuh cinta padanya.

Aku tahu jika banyak orang yang tertarik padanya. Bahkan kini aku menjadi salah satu dari orang yang menginginkan hatinya untukku. Persaingan yang terjadi memang merepotkan, namun aku sama sekali tidak berniat untuk menyerah. Aku tidak bisa melihatnya bersama orang lain selain diriku.

"Ah, inikah cinta? Aku sangat mencintaimu dan hal ini membuatku gila karenamu," batinku saat menyadari betapa besarnya perasaan yang kumiliki terhadap Mamori.

Saat ini si cantik tengah berada di sampingku sambil bermain dengan keponakanku. Aku hanya memperhatikan interaksi menggemaskan mereka dimana si cantik tengah memainkan rambut keponakan imutku yang bagai anak anjing lucu. Keduanya saling tersenyum dan tertawa akan obrolan mereka.

"Kamu benar-benar imut, Akira," ujar Mamori yang kini sedang memeluk keponakanku yang berusia enam tahun.

Akira hanya semakin melebarkan senyumannya dan wajahnya terlihat malu ketika Mamori mulai mengecup pipinya. Aku tahu Akira memang sangat imut, namun entah kenapa aku merasa iri padanya karena berhasil mendapat perhatian si cantik. Aku juga ingin dipeluk dan dicium seperti itu olehnya. Entah sejak kapan pula keduanya begitu terlihat akrab.

"Baiklah, silakan tertawa karena aku cemburu dengan keponakanku sendiri," batinnya.

"Kenapa dari tadi menatapku?" Tegur Mamori yang mulai menyadari tatapanku yang terus tertuju padanya.

"Kalian berdua menggemaskan," jawabku sambil tersenyum. "Rasanya senang melihat interaksi kalian, seperti ibu yang tengah memanjakan anaknya."

"Apa yang kamu katakan?" Ia terlihat salah tingkah karena ucapanku.

"Aku sungguh-sungguh. Sepertinya kamu sudah siap untuk menjadi ibu dari anak-anakku kelak," godaku yang membuatnya terkejut.

"Hei, jangan bicara begitu di depan anak kecil! Lihat, ada Akira di sini," tegurnya sambil menutup telinga Akira yang hanya berkedip polos menatap kedua orang itu.

"Kenapa telingaku ditutup, Kak?" Tanya Akira polos.

"Maaf, kakak hanya tidak ingin kamu mendengar hal yang tidak seharusnya didengar," ujarnya memberi pengertian pada Akira. "Kamu mengerti kan?"

Akira menganggukan kepalanya mematuhi ucapan si cantik. Aku hanya tersenyum melihat matanya yang kini memberikan pelototan padaku. Tampak ada pesan tersirat yang ingin disampaikannya melalui tatapan itu. Aku sama sekali tidak takut melihatnya, ia justru terlihat semakin menggemaskan ketika sedang kesal sekalipun.

"Akira, kamu mau pergi jalan-jalan bersama kakak?" Tanya Mamori lembut.

"Aku mau, Kak," sahut Akira bersemangat.

"Aku tidak diajak?" Tanyaku.

"Tidak mau, aku hanya khusus mengajak Akira saja," jawabnya.

"Aku ini pamannya, masa kamu tidak mengajakku juga? Akira kan dititipkan padaku, jadi aku mesti ikut juga," kataku yang membuatnya tampak mempertimbangkannya.

"Ya, kamu benar juga. Paman Hayato juga boleh ikut, Akira?" Tanya Mamori pada Akira yang kembali mengangguk.

Kami pun setuju untuk mengajak Akira jalan-jalan. Sebelum bersiap-siap Akira terlihat pergi ke toilet dulu. Aku mengamati Mamori yang tampak sibuk merapikan barang-barang Akira.

"Aku jadi iri, Akira sangat dimanja olehmu," ujarku berpura-pura kecewa. "Benar-benar ibu yang perhatian. Aku tidak salah sudah jatuh cinta padamu. Berniat jadi ibu dari anak-anakku?" Godaku lagi

Si cantik kembali melotot padaku, wajahnya terlihat cemberut. Tapi aku bisa melihat rona merah menghiasi pipinya, ia malu. Ia berniat untuk mengabaikanku dan pergi, namun dengan cepat aku menarik tangannya hingga membuatnya jatuh di pangkuanku.

"Apa yang kamu lakukan? Bagaimana kalau yang lain lihat?" Protesnya sambil memberontak untuk lepas.

Aku menikmati kegelisahannya dan membiarkannya memukul dadaku. Menjinakkan kucing yang sedang mengamuk itu memang merepotkan apalagi kalau sampai digigit dan dicakar. Tapi kalau sosok kucingnya berupa Mamori Anezaki aku rela ia melakukan apa pun padaku. Suatu saat aku tinggal menuntut balas darinya dengan imbalan kenikmatan.

"Oh, ini bukan saatnya berimajinasi tinggi," batinku. "Kalau diam akan kulepaskan," kataku yang kini mulai menahan kedua tangannya.

"Sungguh?" Tanyanya dan aku mengangguk.

Si cantik berhenti memberontak di pangkuanku. Kutatap wajah cemberutnya yang tampak enggan melihatku. Tanganku perlahan mendekati wajahnya, jariku menelusuri matanya yang sangat cantik itu. Hal itu membuatnya seketika menoleh padaku.

"Aku merasa selalu tertarik ke dalam mata cantik ini. Apakah ini adalah mata malaikat?" Tanyaku yang kembali menelusuri jariku melewati pipi yang kini semerah apel lalu hidung dan berakhir di bibirnya. "Bibir yang indah, merah merekah seperti mawar."

"Jangan menggodaku," ujarnya berusaha menyingkirkan tanganku di wajahnya. "Lepaskan aku!"

"Tersenyumlah untukku. Aku lebih suka melihat bibir cantik yang cemberut ini tersenyum," godaku lagi.

"Aku cemberut karenamu," balasnya.

Aku tahu hal yang kulakukan ini sudah membuatnya kesal. Kurasa sudah cukup menggodanya hingga aku melepaskannya dari pangkuanku. Aku masih cukup waras untuk tidak membiarkan Akira melihat Mamori kutahan seperti ini. Bisa repot juga menjelaskannya pada anak kecil.

Tak lama kami pun telah bersiap-siap untuk pergi. Aku merasa kami seperti orangtua yang ingin mengajak anak kami jalan-jalan. Membayangkan hal itu saja rasanya sangat indah. Kuharap masa depanku dengannya dapat segera terwujud.

"Kalian sudah siap?" Tanyaku sebelum kami pergi.

Keduanya hanya mengangguk. Tak lama kami pun keluar untuk menikmati waktu bersenang-senang. Anggap saja sebagai latihan untuk menjadi orangtua di masa depan.

Aku memperhatikan interaksi Mamori dan Akira yang terlihat bahagia. Aku dapat melihat senyuman manis di wajahnya, ia memang sering tersenyum semanis itu baik padaku maupun orang lain. Siapa pun pasti ingin mendapatkan senyuman darinya yang berkilau bagai embun pagi.

Aku selalu berpikir jika pertemuanku dengan Mamori adalah sebuah takdir yang telah direncanakan Tuhan. Aku meyakini hal tersebut dan mulai menganggapnya sebagai pasangan takdirku. Mungkin dia bukanlah cinta pertamaku, tapi untuk saat ini aku telah jatuh cinta padanya. Hanya padanya perasaan ini kurasakan.

Keberadaan Mamori bagiku bagaikan sebuah keajaiban musim semi yang bermekaran di hatiku. Kelembutannya menyentuhku dan aku telah jatuh dalam pesonanya. Saat itu aku benar-benar menginginkannya. Hanya ia yang menyita perhatianku.

Saat ini aku dan dia tengah berada di supermarket. Namun, cuaca di luar tiba-tiba hujan hingga membuat kami terjebak untuk sementara. Untunglah hujan tersebut tidak berlangsung lama hingga kami pun bisa pulang. Udara semakin terasa dingin apalagi setelah hujan turun tadi.

Aku melirik padanya yang terlihat kedinginan. Aku segera menggenggam sebelah tangannya lalu kumasukan ke dalam saku jaketku. Ia menolehkan wajahnya padaku dengan ekspresi bertanya.

"Aku hanya ingin berbagi sedikit kehangatan," ujarku sambil menggenggam erat tangannya. "Jika sudah pulang aku pasti akan memelukmu."

"Tidak perlu," tolaknya halus.

"Ah, aku ditolak," kataku berpura-pura kecewa. "Padahal tubuhmu sudah menggigil seperti itu. Atau mau kupeluk sekarang?" Tanyaku dan ia hanya menggelengkan kepala.

"Tidak perlu repot-repot. Lebih baik kita segera pulang," ujarnya sambil tersenyum.

Dia curang sekali memberikanku senyuman seperti itu saat menolak kebaikanku. Mungkin menggenggam tangannya seperti ini sudah cukup bagiku. Setidaknya saat ini kami sedang menghabiskan waktu berdua.

Aku melirik sosok manisnya yang tenggelam dalam sweater kebesarannya yang dipadukan dengan jaket. Kemudian aku mendongak sesaat untuk melihat langit malam yang tampak kelam. Tidak banyak bintang yang terlihat bahkan bulan tampak bersembunyi di balik awan. Tiba-tiba sebuah pemikiran muncul dibenakku.

"Bukankah setelah hujan biasanya ada pelangi?" Tanyaku tiba-tiba. "Kenapa tidak terlihat pelangi di langit sekarang?"

"Mana mungkin ada pelangi di malam hari," sahutnya sambil ikut menatap langit.

"Tapi kudengar pelangi juga bisa muncul di malam hari," ujarku.

"Benarkah? Aku tidak pernah mendengarnya," katanya yang terdengar kagum dengan informasi yang baru diketahuinya. "Darimana kamu tahu itu?"

"Aku hanya tidak sengaja mengetahuinya saat menonton siaran tentang fenomena alam di TV. Katanya itu fenomena yang jarang terjadi dan hanya orang-orang beruntung yang bisa melihatnya," kataku terdengar antusias.

"Wah, kamu cukup tahu banyak," pujinya dan membuatku tersenyum bangga. "Aku jadi ingin melihatnya juga."

"Saat ini aku sedang melihatnya," kataku sambil tersenyum misterius.

"Jangan bohong. Tidak ada pelangi sekarang dan langit pun tak begitu berbintang," sahutnya sambil menunjuk ke langit.

"Pelanginya memang tidak ada di langit, dia ada di sampingku," kataku sambil menunjuk dirinya.

Wajah cantiknya terlihat terkejut dan perlahan merona. Ia lalu memukul ringan lenganku dan aku berpura-pura kesakitan. Aku senang bisa menggodanya.

"Masih sempatnya menggodaku," gumamnya dengan wajah tersipu.

"Aku sungguh-sungguh. Dirimu sama indahnya dengan pelangi," kataku lagi.

Ia hanya terdiam saat mendengar ucapanku. Wajahnya kini tertunduk malu. Aku semakin mengeratkan genggaman tangannya ketika ia mencoba kabur dariku. Aku tidak akan melewatkan ekspresi manisnya setiap kali kugoda. Mamori yang tengah merona adalah pemandangan yang terbaik.

Pelangi itu memang indah, namun sosok di sampingku juga tak kalah indahnya. Meskipun pelangi di malam hari setelah hujan tadi tidak terlihat aku tetap dapat melihat pelangi lainnya. Mungkin suatu saat kami bisa melihatnya bersama. Aku ingin bisa melihat keindahan dunia ini bersama dirinya.

Bagiku kebersamaan bersama Mamori selalu membuatku nyaman, ada kehangatan yang melingkupi diriku. Diri ini sangat menginginkannya, baik hati maupun tubuhku yang seakan meluap karena perasaan ini. Aku hanya ingin Tuhan mengabulkan keinginanku akan dirinya. Kuyakini kebahagiaanku hanyalah bersamanya begitupun sebaliknya.

"Tuhan, kabulkanlah permintaanku. Aku hanya menginginkannya seorang, biarkan kami bersama dalam restumu," doaku pada suatu malam.