Musim dingin.

Dengan suhu yang mendekati nol, kehangatan jadi hal yang paling dicari orang-orang. Kebanyakan memilih tetap di rumah demi merasakan hangatnya selimut dan cokelat panas.

Tetapi, Park Chanyeol tetap harus berada di luar untuk memenuhi jadwalnya. Hari Sabtu pukul 8 malam, Chanyeol ada di acara penghargaan musik yang digelar oleh salah satu saluran televisi besar. Dia tidak akan tampil, hanya cukup berada di sana sebagai tamu undangan setidaknya sampai pertengahan acara.

Beberapa artis dari manajemen miliknya sedang mempersiapkan album baru. Chanyeol yang merupakan seorang musisi sekaligus pemilik manajemen artis sibuk bukan main dalam kondisi seperti ini. Maka, pukul 10, Chanyeol beranjak dan mulai undur diri pada rekan sesama musisi di kiri dan kanannya. Ia melangkah menuju belakang panggung untuk menemui sekretaris yang sudah menunggunya. Di depan salah satu ruangan di lorong belakang panggung, Chanyeol menemukan sekretarisnya.

"Jun?" Chanyeol memanggil sang sekretaris yang tampak membicarakan sesuatu dengan seorang manajer.

"Ah, sajangnim," Jun menoleh dan segera membungkuk. "Kita kembali ke kantor sekarang?" tanyanya.

Tidak langsung menjawab, Chanyeol justru mengedarkan pandangannya. Dengan kedua tangan di saku celana, ia berdiri mengamati beberapa penyanyi binaannya dalam ruangan tersebut melalui pintu yang terbuka. Kesibukan masih terlihat jelas di sana, sebab beberapa dari mereka belum tampil di atas panggung.

"Tidak ada masalah, kan?" tanyanya pada sang sekretaris yang ia panggil Jun.

"Tidak. Semua persiapan berjalan lancar," jawab Jun. Intonasinya tenang sekaligus tegas. Bahasanya tertata tanpa terkesan kaku.

Chanyeol mengangguk. Pria tinggi dengan stelan jas berwarna marun serta rambut pirang yang tertata rapi ke belakang itu kemudian beranjak, diikuti sekretarisnya, menuju pintu keluar.

Beberapa stafdi belakang panggung menyapa dan membungkuk pada Chanyeol, termasuk artis-artis yang baru kembali atau hendak menuju panggung.

Langkah Chanyeol melambat saat pandangannya menangkap seorang lelaki dengan kostum panggung yang tampak asing sedang berjalan melalui koridor dari arah berlawanan. Jarak lima meter, Chanyeol bisa memastikan dari penampilannya kalau orang asing itu termasuk salah seorang bintang pengisi acara. Tapi Chanyeol sama sekali belum pernah melihatnya.

Laki-laki itu mengenakan stelan jas bermodel dengan warna putih. Jasnya tampak sengaja dibuat lebih longgar dari ukuran yang seharusnya sehingga bagian dada lelaki tersebut yang tidak tertutup apapun bisa terekspos meski jas terkancing, menampakkan dengan jelas untaian kalung rantai yang dikenakannya. Rambut merah berponinya ditata sedemikian rupa hingga tampak agak berantakan. Saat Chanyeol berpapasan dengannya dan mendapat salam sapaan hormat, ia bisa melihat mata sipit lelaki itu yang diberi sentuhan eyeliner tebal dan shading merah gelap yang terlihat cocok dengan tampilan wajahnya.

Chanyeol menghentikan langkah, sedikit membalikkan badan demi menoleh pada laki-laki tersebut yang kini sudah berlalu. Ia menaikkan sebelah alisnya. Fakta bahwa ada seorang pendatang baru yang tidak diketahuinya membuat Chanyeol cukup penasaran.

"Jun?"

"Ya, sajangnim?"

"Kau tahu siapa laki-laki itu?"

"Ah. Ya, dia penyanyi solo. Pendatang baru. Kalau saya tidak salah ingat, dia debut bulan lalu di bawah manajemen milik Killian Wang," jawab Sekretaris Jun setelah sebelumnya mengikuti arah pandang tuannya kepada laki-laki di ujung lorong yang baru saja berpapasan dengan mereka.

"Killian Wang?" tanya Chanyeol sekali lagi, teringat kepada seorang pria Cina jangkung yang memiliki agensi cukup besar itu. Saingannya.

"Ya, sajangnim." Jun menunduk sekilas, mengiyakan.

Chanyeol diam sejenak. Masih mengikuti punggung berbalut jas putih yang sebentar lagi menghilang di tikungan lorong.

"Namanya?"

Kim Junmyeon, sang sekretaris, menjawab dengan segera. "Byun Baekhyun."

.

oOo

.

Chanyeol tidak tahu pasti apa alasan ia ada di tempatnya berdiri sekarang. Yang jelas, ia hanya merasa perlu kembali ke samping panggung untuk melihat penampilan penyanyi pendatang baru itu.

Dari tempatnya berdiri, Chanyeol dapat melihat tampak samping sosok tersebut yang tengah berdiri di atas panggung bersama sebuah standing microphone.

It won't look perfect to you

Just in this moment let everything

flow naturally to where the wind blows

When I whisper love, I yearn for

when your indifferent eyes

tell me that you love me

Chanyeol tidak sekalipun melepaskan pandangannya dari sosok di atas panggung. Ia masih berdiri tegak dengan menyilangkan tangan, mendongak ke atas panggung dengan lampu sorot yang mengarah pada si penyanyi berambut merah.

Hannam-dong UN Village hill

Looking at the moon from this hill

You and me

UN Village hill

Side by side looking at the moon

You and me relax and chillin'

Bagi Chanyeol, aksi panggung itu terlalu baik untuk ukuran seorang pendatang baru. Sosok itu seolah mampu menyatukan kostum, suara, musik, tarian, bahkan lighting panggung menjadi kombinasi yang menakjubkan.

Rolling rolling rolling hills

Along the curves of the hill

Rolling rolling rolling hills

As we climb there's a broken streetlight

When I see one, I turn off the lights under it

Cause you're bright enough to light it up

Chanyeol menarik sudut bibirnya, menciptakan senyum miring yang nyaris tak kentara. Sementara sosok itu masih menari di atas panggung sebelum mengakhiri lagunya, Chanyeol belum melepaskan tatapan darinya. Tepat saat musik berhenti, ia berbalik meninggalkan venue.

"Jun," panggil Chanyeol kepada sang sekretaris yang mengikuti langkahnya melalui koridor menuju parkiran mobil.

"Ya, sajangnim."

"Hubungi Killian Wang. Katakan aku punya penawaran bagus yang perlu didiskusikan secara langsung. Biarkan dia yang putuskan tempatnya." Katanya, sembari tetap menatap lurus ke lorong dengan orang-orang yang berlalu-lalang. Senyuman yang amat tipis dari bibirnya tidak berhenti terukir, meski kebanyakan orang tidak akan menyadarinya.

Tetapi, Kim Junmyeon mengenal baik gurat wajah tuannya. Dan senyuman itu tampak jelas bagi sang sekretaris.

"Saya mengerti," jawabnya.

.

oOo

.

.

I'm back. Hihi.

Sampai di sini dulu ya, ceritanya /wink/