Chanyeol melangkah sendirian di lobiK-Tower, gedung manajemen pusat dari agensi tempat lahirnya bintang-bintang berbakat milik Killian Wang, K Entertainment.
Sepanjang jalan menuju lift di ujung sana, Chanyeol dapat melihat kanvas-kanvas raksasa yang menampilkan foto-foto artis di bawah naungan agensi ini yang baru saja merilis lagu atau album baru. Saat netranya menangkap foto orang yang sama dengan yang menjadi alasannya berada di tempatnya berdiri sekarang, Chanyeol menghentikan gerak kakinya. Ia menoleh pada kanvas di samping kirinya tersebut.
Byun Baekhyun.
Chanyeol mengulangi nama dari pemilik paras dalam foto tersebut dalam hati, sebelum melanjutkan langkahnya yang dengan yakin berjalan menuju lift untuk bisa sampai ke lantai teratas gedung.
Baru kemarin Chanyeol melihat lelaki itu di panggung, tetapi keinginannya untuk memiliki Byun Baekhyun di bawah naungan agensinya sungguh besar. Dan tidak sekalipun Chanyeol ragu akan niat itu. Mungkin itu pula yang membuatnya mau repot-repot mengunjungi K-Tower di hari Minggu musim dingin ini.
Ia perlu sesegera mungkin menuntaskan keinginannya.
Tombol lift ditekan untuk menuju lantai 12. Chanyeol tahu pasti lantai itu hanya berisi ruangan milik Killian, serta ruangan bagi beberapa divisi lain yang memiliki peran penting—tidak jauh beda dengan konsep gedung manajemen miliknya.
Selang beberapa waktu, lift berhenti di lantai tujuan. Dentingan menandai akan terbukanya pintu lift. Belum sempurna membuka, Chanyeol telah lebih dulu melangkah keluar. Namun pijakannya langsung terhenti saat satu sosok yang ia kenali keluar dari pintu megah di seberang lift dan berjalan ke arahnya.
Itu si penyanyi solo yang menjadi alasan kedatangan Chanyeol ke K-Tower.
Pagi ini, sosok itu tampak cukup berbeda dengan tampilan santainya. Rambut merahnya jatuh menutupi dahi, lurus alami tanpa sentuhan hairspray. Wajahnya tak tesapu riasan apapun, kecuali fakta bahwa bibir kecil lelaki itu masih tampak segar dengan warna merah muda. Tubuh yang semalam berbalut kostum panggung kini berganti dengan oversized sweater berwarna putih dan celana jins.
Byun Baekhyun. Tinggi 174 sentimeter. Usia 22 tahun. Kelahiran Bucheon. Debut satu bulan yang lalu sebagai penyanyi solo setelah enam bulan masa training. Tidak ada riwayat operasi plastik. Latar belakang pendidikan baik. Mini album pertama laris dengan penjualan tinggi.
Chanyeol sudah tahu semua tentang Byun Baekhyun. Seolah memaksa dirinya untuk semakin tertarik, data-data itu dibawa Junmyeon kepadanya pagi tadi. Dan satu lagi poin penting setelah fakta-fakta tersebut, Chanyeol amat percaya dengan penilaiannya atas penyanyi itu. Ia belum pernah salah membaca potensi dari seseorang.
Saat yang berambut merah akhirnya tiba di hadapan Chanyeol, matanya yang sipit tampak sedikit membola—terkejut, dan berhenti melangkah dalam jarak tiga kaki dari tempat Chanyeol berdiri. Namun tak lama lelaki berambut merah itu segera memberi salam sebelum berlalu menuju lift.
Tak kuasa menahan senyum, Chanyeol menarik satu sudut bibirnya. Ia sungguh harus segera menemui Killian Wang.
Chanyeol melangkah lurus-lurus ke arah bilah pintu megah yang hanya berjarak tujuh meter dari pintu lift. Seorang pria kurus nan mungil yang Chanyeol kenali sebagai sekretaris Killian menyambutnya dengan membungkuk hormat sebelum Chanyeol mencapai pintu.
"Selamat datang, Tuan Park. Wang-sajangnim sudah menunggu di dalam."
Pintu megah di hadapan Chanyeol dibukakan oleh Sekretaris Han. Ruangan megah dengan meja-sofa serta bilik kerja di sisi ujung itu terlihat.
Saat pandangan kedua pria tinggi di ruangan tersebut bertemu, keduanya saling melempar senyum formal penuh arti.
"Selamat datang," sambut pria tinggi yang tengah menduduki singgasananya di ruangan tersebut. Senyum tipis masih ada pada wajahnya, menatap pria tinggi bersurai platinum ash blonde di hadapannya.
Chanyeol merespon dengan nada sopan sambil menyunggingkan senyum miring, "Terima kasih." Ia bergerak maju satu langkah lagi mendekati meja kerja si pria Wang.
"Maaf karena datang tanpa basa-basi. Tapi aku hanya ingin mengatakan bahwa aku menginginkan salah satu artismu."
Senyum Killian Wang menghilang, tergantikan dengan wajah masam yang nyaris tak kasat mata.
"Apa maksud Anda, Tuan Park?" tanyanya.
Chanyeol bergerak menuju salah satu sofa. Ia mendudukkan dirinya di sana, menyilangkan kedua kaki panjangnya tanpa mengurangi intensitas senyum tipis di wajah.
"Byun Baekhyun." Chanyeol menyebut. Dan rupanya nama itu berhasil membuat kerutan di dahi Killian Wang semakin dalam.
Killian terdiam. Ia menatap Chanyeol yang berada di sofa dari kursi kerjanya. Selama beberapa waktu ia terdiam, sampai otaknya mulai mengerti alasan permintaan rivalnya itu. Tabiat pemilik LOEY-Music tersebut yang sedikitnya Killian ketahui, membuat permintaan tersebut menjadi masuk akal keluar dari mulut seorang Park Chanyeol. Killian berdiri, mengitari meja kerja dan berhenti di depannya.
"Dan apa yang membuatmu berpikir aku akan memberikan dia padamu?" tanyanya congkak. Kedua telapak tangan ia tempatkan ke saku celana.
Masih nyaman bersandar pada sofa, Chanyeol melebarkan seringaiannya.
"Tentu saja aku tidak datang tanpa kesepakatan bagus." Ia kemudian bangun dan menatap Killian lurus-lurus.
Killian tidak berpikir kalau dirinya akan menyetujui apapun kesepakatan yang ditawarkan Park Chanyeol. Dia tidak terlalu berminat menukar aset berharganya dengan apapun. Terutama, dengan sesuatu yang ditawarkan oleh saingannya di dunia hiburan.
Tetapi, pada akhirnya Killian melontarkan pertanyaan juga, "Apa itu?"
.
oOo
.
.
Masih kayak prolog ya? Tapi ini memang bukan fic panjang yang menguras jiwa dan raga/? kok. Mungkin memang setiap chapternya akan sepanjang ini saja.
Oke, thank you, next!
